Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN HALUSINASI
I. KAJIAN TEORI
A. Pengertian
Gangguan Orientasi adalah Ketidakmampuan pasien menilai dan berespon
terhadap realitas, Ketidakmampuan membedakan rangsangan internal dan
eksternal, Ketidakmampuan membedakan lamunan dan kenyataan muncul
perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan.
Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan pasien menilai dan
berespon pada realitas. Pasien tidak dapat membedakan rangsang internal dan
eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Pasien tidak
mampu memberi respon secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar
dimengerti dan mungkin menakutkan.
Gangguan orientasi realitas disebabkan oleh fungsi otak yang terganggu
yaitu fungsi kogntif dan proses pikir ; fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi
motorik, dan fungsi sosial.
Halusinasi merupakan salah satu gangguan persepsi, dimana terjadi
pengalaman panca indra tanpa adanya rangsangan sensorik (persepsi indera
yang salah). Menurut Cook dan Fotaine (1987), halusinasi adalah persepsi
sensorik tentang suatu objek, gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan
(pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan pengecap), sedangkan
menurut Wilson (1983), halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi
panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada
system penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu baik.
B. Etiologi
Menurut Thomas (1991), halusinasi dapat terjadi pada pasien dengan
gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, dimensia
dan kondisi yang berhubunngan dengan penggunaan alcohol dan substansi
lainnya.

Halusinasi dapat juga terjadi pada pasien dengan epilepsy, kondisi infeksi
sistemik dengan gangguan metabolic. Halusinasi juga dapat dialami sebagai
efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti
kilonergik,

anti

inflamasi

dan

anti

biotic,

sedangkan

obat-obatan

halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian


obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal
yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti
kebutaan,

kurangnya

pendengaran

atau

adanya

permasalahan

pada

pembicaraan.
Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun
banyak factor yang mempengaruhinya seperti factor biologis, psikologis,
sosial budaya, dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan, biologis,
pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.
C. Jenis Jenis halusinasi
Ada beberapa jenis halusinasi, Stuart dan Larara (1908) membagi halusinasi
menjadi 7 jenis yaitu :
1.

Halusinasi Pendengaran (auditory)


Karakteristinya meliputi mendengar suara-suara atau kebisingan, paling
sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas
sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang pasien bahkan sampai ke
percakapan

lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang

mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana pasien mendengar


perkataan bahwa pasien disuruh melakukan sesuatu yang kadang-kadang
dapat membahayakan.
2.

Halusinasi Penglihatan (visual)


Karakteristiknya meliputi stimulus visual dalam bentuk kuatan cahaya,
gambar geometrik, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks,
bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.

3.

Halusinasi Penghidu (olfactory)


Karakteristiknya meliputi membaui bau tertentu seperti bau darah,
kemenyan atau faeces yang umumnya tidak menyenangkan.

4.

Halusinasi Pengecapan (gustatory)


Merasa mengecap, seperti rasa darah, urine, dan faeces

5.

Halusinasi Perabaan (tactile)


Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan berupa stimulus yang jelas, rasa
tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang.

6.

Halusinasi Cenesthehe
Dimana pasien merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau
arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

7.

Halusinasi Kinestetic
Merasakan pergerakan sementara, berdiri tanpa bergerak

D. Fase-Fase Halusinasi
Halusinasi berkembang menjadi 4 fase (Habes, dkk, 1902):
1.

Fase pertama (comforting)


Pada fase ini pasien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang
terpisah, kesepian pasien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran
pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan
stres. Cara ini menolong untuk sementara.

2.

Fase kedua (condeming)


Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal
dan eksternal. Pasien berada pada tingkat Listening pada halusinasi.
Pemikian internal menjadi menonjol. Gambaran suara dan sensasi
halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Pasien takut apabila
orang lain mendengar dan pasien tidak mampu mengontrolnya. Pasien
membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan
seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.

3.

Fase Ketiga (controlling)


Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol pasien menjadi terbiasa
dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan
dan rasa aman yang sementara.

4.

Fase Keempat (conquering)


Pasien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah
menjadi mengancam, memerintah dan memarahi pasien tidak dapat
berhubungan

dengan

orang

lain

karena

terlalu

sibuk

dengan

halusinasinya. Pasien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan


dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini
menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.
E. Rentang Respon Neurobiologis
Menurut Stuart & Sundeen (1998; 302) Halusinasi merupakan salah satu
respon

maladaptive

individu

yang

berada

dalam

rentang

respon

neurobiologist. Rentang respon neurobiologist dari keadaan respon persepsi


adaptif hingga persepsi maladaptive, dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Respon Adaptif
Pikiran Logis

Respon Maladaptif
Pikiran kadang

Kelainan pikiran/

menyimpang

delusi

Persepsi akurat

Ilusi

Halusinasi

Emosi konsisten

Reaksi emosional

Ketidakmampuan

dengan pengalaman

berlebihan atau

untuk mengalami

kurang

emosi

Perilaku ganjil

Ketidakberaturan

Perilaku sesuai

atau tak lazim


Hubungan social

Menarik diri

Isolasi social

Seorang individu yang memiliki suatu persepsi yang akurat, memiliki


kemampuan dalam mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus
berdasarkan informasi yang diterima melalui penginderaan, sedangkan

seseorang yang mengalami gangguan persepsi sensori memiliki persepsi yang


salah terhadap stimulus penginderaan, walaupun stimulus tersebut tidak ada.
F. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi pada halusinasi antara lain :
1. Faktor genetis
2. Faktor neurobiologi
3. Faktor neurotranmiter
4. Teori virus
5. Psikologi
G. Faktor Presipitasi
Kaji gejala-gejala pencetus neurobiologis meliputi :
1. Kesehatan: nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi, obat ssp,
hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2. Lingkungan: lingkungan yang memasuki, masalah di rumah tangga,
sosial, tekanan kerja, kurangnya dukungan sosial, kehilangan kebebasan
hidup.
3. Sikap/ prilaku merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa merasa
gagal, kehilangan rendah diri, merasa malang, perilaku agresif, perilaku
kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan
H. POHON MASALAH
Risiko mencederai diri sendiri dan
orang lain

Akibat

Perubahan sensori persepsi :


halusinasi dengar

Core problem

Penyebab
II. KONSEP DASAR
HALUSINASI
A. Pengkajian

ASUHAN

Isolasi sosial : menarik diri


KEPERAWATAN PASIEN DENGAN

Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan pasien


dengan perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar data yang didapatkan
diantaranya : bicara, senyum, tertawa sendiri, mendengar suara-suara yang
tidak jelas, merusak diri, orang lain, tidak dapat membedakan hal nyata dan
tidak nyata, sulit membuat keputusan, menyalahkan diri sendiri dan orang lain
dan tidak mampu melakukan asuhan sendiri.
1.

Gangguan sensori persepsi


a. Data subjektif
1) Pasien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan
dengan stimulus nyata
2)

Pasien mengatakan melihat gambar tanpa ada stimulus yang


nyata

3)

Pasien mengatakan mencium bau tanpa stimulus

4)

Pasien merasa makan sesuatu

5)

Pasien merasa ada sesuatu pada kulitnya

6)

Pasien takut pada suara/ bunya/ gambar yang dilihat dan didengar

7)

Pasien ingin memukul atau melempar barang-barang

b. Data objektif
1) Pasien berbicara dan tertawa sendiri
2) Pasien bersikap seperti mendengar dan melihat sesuatu
3) Pasien berhenti bicara di tengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
4) disorientasi
2.

Isolasi sosial : menarik diri


a. Data Subjektif
1) Pasien mengucapkan kata tidak mau saat berkenalan
2) Pasien tidak mau mengungkapkan perasaannya
3) Pasien mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain
4) Pasien menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat yaitu Ya
atau Tidak
b. Data objektif
1) Pasien sering duduk sendiri

2) Pasien hanya diam ketika diajak berbicara


3) Pasien hanya bicara jika ditanya
4) Pasien menarik diri dari hubungan social
5) Pasien tampak mudah tersinggung
6) Ekspresi wajah kosong
7) Tidak ada kontak mata ketika di ajak bicara
8) Suara pelan dan tidak jelas
3.

Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan


a. Data subjektif
1) Pasien mengatakan benci atau kesal kepada orang
2) Pasien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal
3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya
b. Data objektif
1) Mata merah, wajah agak merah
2) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri atau orang lain
3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam
4) Merusak dan melempar barang-barang

B. Daftar Masalah
Masalah yang lazim muncul pada pasien dengan halusinasi :
1. Risiko mencedarai diri sendiri dan orang lain
2. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
3. Isolasi sosial : menarik diri
4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Risiko mencedarai diri sendiri dan orang lain
2. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
3. Isolasi sosial : menarik diri
C. Perencanaan
Prioritas Diagnosa
1. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
2. Risiko mencedarai diri sendiri dan orang lain
3. Isolasi sosial : menarik diri
Tujuan

Kriteria Evaluasi

Intervensi

TUM: pasien tidak

Ekspresi wajah

Bina hubungan saling percaya

mengalami halusinasi

bersahabat, menunjukan

dengan menggunakan prinsip

rasa senang, ada kontak

komunikasi

TUK 1 : pasien dapat

mata, mau berjabat

1. Sapa pasien dengan nama

membina hubungan saling

tangan, mau menjawab

baik verbal maupun non

percaya

salam, mau duduk

verbal ramah

berdampingan dengan
perawat, mau
mengutarakan masalah
yang dihadapi

2. Perkenalkan diri dengan


sopan
3. Tanyakan nama lengkap
pasien dan nama panggilan
yang disukai pasien
4. Jelaskan tujuan pertemuan
5. Jujur dan menepati janji
6. Tunjukan sikap empati dan
menerima pasien apa adanya
7. Berikan perhatian kepada
pasien dan perhatikan

TUK 2: Pasien mengenal

Pasien dapat menyebutkan

halusinasinya

waktu, isi, frekuensi,


timbulnya halusinasi

kebutuhan dasar
1. Adakah kontak yang sering dan
singkat secara bertahap
2. Observasi tingkah laku pasien
terkait dengan halusinasinya

Pasien dapat mengungkapkan 3. Bantu pasien mengenal


perasaan terhadap

halusinasinya

halusinasinya

a. Tanyakan apakah ada suara


yang didengar
b. Jika ada, apa yang
dikatakan
c. Katakan bahwa perawat
percaya pasien mendengar
suara itu, namun perawat
sendiri tidak
mendengarnya (dengan

nada bersahabat tanpa


menuduh atau
menghakimi)
d. Katakana bahwa perawat
akan membantu pasien
4. Diskusikan dengan pasien
situasi yang menimbulkan
halusinasi dan waktu
frekuensi terjadinya
halusinasi.
5. Diskusikan dengan pasien apa
yang dirasakan jika terjadi
halusinasi dan beri
kesempatan mengungkapkan
perasaan
1. Identifikasi bersama pasien

TUK 3: Pasien dapat

Pasien dapat menyebutkan

mengontrol halusinasinya

tindakan yang biasanya

cara tindakan yang dilakukan

dilakukan untuk

jika terjadi halusinasi

mengendalikan halusinasinya 2. Diskusikan manfaat dan cara


yang digunakan pasien
Pasien dapat menyebut cara
baru

3. Diskusikan cara baru untuk


memutuskan atau mengontrol
timbulnya halusinasi

Pasien dapat memilih cara

4. Bantu pasien memilih dan

mengatasi halusinasi seperti

melatih cara memutus

yang telah didiskusikan

halusinasi secara bertahap

dengan pasien
5. Beri kesempatan untuk
Pasien dapat melaksanakan

melakukan cara yang telah

cara yang telah dipilih untuk

dilatih

mengendalikan halusinasinya 6. Anjurkan pasien mengikuti


terapi aktivitas kelompok,
Pasien dapat mengikuti terapi

orientasi realita, stimulasi

aktivitas kelompok

persepsi

TUK 4: Pasien dapat

Keluarga dapat membina

dukungan dari keluarga

hubungan saling percya

memberitahu keluarga jika

dalam mengontrol

dengan perawat

mengalami halusinasi

halusinasinya

1. Anjurkan pasien untuk

2. Diskusikan dengan keluarga:


Keluarga dapat menyebutkan

gejala halusinasi pasien, cara

pengertian, tanda dan

yang dapat dilakukan pasien

tindakan untuk

dan keluarga untuk memutus

mengendalikan halusinasi

halusinasi, cara merawat

TUK 5: Pasien dapat

Pasien dapat menyebutkan

pasien di rumah
1. Diskusikan dengan pasien

memanfaatkan obat dengan

manfaat, dosis dan efek

tentang dosis frekuensi dan

baik

samping obat

manfaat obat
2. Anjurkan pasien minta sendiri

Pasien dapat

obat pada perawat dan

mendemonstrasikan cara

merasakan manfaatnya

penggunaan obat yang benar 3. Jeniskan cara penggunaan


obat yang benar
Pasien dapat informasi
tentang penggunaan obat

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito , Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan . Jakarta : EGC
Hasim.2012.

Gangguan

Orientasi

Realitas.

(Dalam

http://hasimupdate.blogspot.com/2012/12/gangguan-orientasi-realitas.html)
diakses tanggal 15 Oktober 2014 (09.45 wita)
Keliat, Anna Budi. (2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Maramis, W. F. (2004). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga
University Press.
Stuart, Gail Wiscarz, Sandra J Sundeen. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa
Edisi 5. Jakarta : EGC.
Yosep, Iyus. (2009). Keperwatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung: Refika Aditama.