Anda di halaman 1dari 14

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap Praktikum Biologi Dasar unit 8 dengan judul Pengaruh


Suhu Terhadap Aktivitas Organisme disusun oleh :
Nama

: Andi Riska

Nim

: 1212141001

Kelas

: C ( Fisika Sains )

Kelompok

: IV

telah dikoreksi dan diperiksa oleh asisten dosen dan koordinator asisten maka
dinyatakan di terima.

Makassar,
Koordintor asisten

Syamsu Rijal, S.Pd

Januari 2013

Asisten

Akhmad Faqih Dzulkarnain


NIM: 101404003
Mengetahui
Dosen penanggung jawab

Faisal Sudrajat S.Pd M.Pd


NIP: 19840619 200804 2 002

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Biologi merupakan salah satu cabang

ilmu pengetahuan yang

mempelajari mengenai makhluk hidup.Ada berbagai jenis makhluk hidup di


dunia ini di seluruh belahan dunia.Setiap spesies memiliki bentuk dan
karakteristik yang sangat beragam.
Makhluk hidup memiliki ciri-ciri tertentu, salah satunya yaitu menerima
dan menanggapi rangsang. Ketika terjadi perubahan terhadap kondisi
lingkungan, maka makhluk hidup akan melakukan penyesuaian diri (adaptasi)
untuk merasa lebih nyaman dan bisa beraktivitas dengan normal. Ketika
makhluk hidup tersebut tak mampu untuk menyesuaikan diri, maka ia akan
mengalami kematian atau terkena seleksi alam.
Salah satu perubahan yang sering terjadi pada lingkungan adalah
perubahan

suhu/temperatur.

Pada

manusia

misalnya,

ketika

merasa

kedinginan menggunakan pakaian yang tebal sedangkan ketika suhunya panas,


maka pakaian yang dipakai yaitu pakaian yang tipis.Ini merupakan salah satu
contoh bentuk penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya. Akan
tetapi, di sebuah tempat yang gersang akibat kemarau panjang, satu per satu
tumbuhannya akan mati karena kekurangan air dalam tanah dan suhu
lingkungan yang tinggi. Sementara itu, tumbuhan seperti kaktus dapat bertahan
hidup.Hal inilah yang disebut seleksi alam.
Perilaku setiap hewan atau tumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal
seperti rasa lapar (kebutuhan akan makan/nutrisi), atau karena faktor eksternal
seperti perubahan kondisi lingkungan. Pola perilaku hewan atau tumbuhan
berkaitan erat dengan alam tempat organisme itu berada, seperti banyaknya jenis
organisme, jumlah populasi masing-masing organisme, ketersediaan akan sumber
makanan, dan kondisi fisik maupun kimia pada lingkungan hidupnya.

Apabila suatu saat kondisi lingkungannya berubah maka beberapa jenis


hewan ataupun tumbuhan mungkin akan tetap dapat bertahan hidup dan
berkembang biak. Jenis yang lainnya mungkin akan mati atau berpindah ke
tempat yang baru. Salah satu faktor lingkungun tersebut adalah suhu. Suhu
merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas, mudah diukur
dan sangat beragam. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan suhu
terhadap aktivitas suatu organisme, maka pada kesempatan ini kami melakukan
percobaan dengan judul pengaruh suhu terhadap aktifitas organisme.
Sesuai dengan uraian tersebut di atas, maka penulis mencoba melakukan
penelitian untuk mengenai pengaruh suhu temperatur terhadap aktivitas
makhluk

hidup

dengan

judul

"Pengaruh

Suhu

terhadap

Aktivitas

Organisme".Adapun dalam percobaan ini yang menjadi objek percobaan adalah


ikan mas koki yang rata-rata kehidupannya berada pada suhu yang tidak terlalu
panas ataupun tidak terlalu dingin dengan kata lain berada pada suhu yang relatif
normal atau suhu yang berkisar + 270C.
B. Tujuan
Melalui percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat membandingkan
kecepatan penggunaan oksigen oleh organisme pada suhu yang berbeda.
C. Manfaat
Memberikan wawasan kepada mahasiswa, masyarakat, dan umum
sebagai pengantar dan dijadikan dasar bagi mereka yang mempelajari mengenai
pengaruh suatu suhu terhadap aktifitas suatu organisme.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas, mudah
diukur dan sangat beragam.Suhu tersebut mempunyai peranan yang penting dalam
mengatur aktivitas biologis organisme, baik hewan maupun tumbuhan.Ini terutama
disebabkan karena suhu mempengaruhi kecepatan reaksi kimiawi dalam tubuh dan
sekaligus

menentukan

kegiatan

metabolik,

misalnya

dalam

hal

respirasi

(Tim Pengajar, 2012).


Suhu merupakan kondisi yang paling penting dan berpengaruh terhadap suatu
organisme. Krebs (1978) menyatakan bahwa suhu dan kelembaban merupakan 2
faktor pembatas utama terhadap penyebaran organisme dibumi (Nono, 2001).
Menurut Nono, (2001), Krebs (1978) melaporkan bahwa suhu berpengaruh
terhadap tahapan siklus hidup dan membatasi penyebaran suatu spesies melalui
pengaruhnya :
a. Kelulushidupan
b. Reproduksi
c. Perkembangan organisme muda
d. Kompetisi dengan bentu kehidupan lain yang mendekati batas toleransi suhu.
Secara garis besar suhu mempengaruhi proses metabolisme, penyebaran dan
kelimpahan organisme. Perbedaan suhu lingkungan dipengaruhi oleh beberapa faktor:
sifat siklusnya (harian, diurnal, dan musimam, seasonal) seperti siang dan malam,
musim kemarau dan musim penghujan; garis lintang (latitudinal); ketinggian tempat
(altitudinal) ; dan kedalaman (untuk perairan). Krebs (1978) menyatakan bahwa
perbedaan suhu dimuka bumi ini disebabkan oleh dua faktor: radiasi (penyinaran)
cahaya matahari yang datang dan distribusi daratan dan perairan (Nono, 2001).
Faktor-faktor lingkungan sering berfluktuasi, baik yang bersifat harian
maupun musiman, kadang-kadang ditemukan kondisi yang ekstrim. Fluktuasi faktor
lingkungan akan mempengaruhi kehidupan organisme, proses-proses fisiologis,
tingkah lakunya dan mortalitas.

Untuk mengurangi pengaruh buruk dari

lingkungannnya maka ikan melakukan adaptasi. Adaptasi adalah suatu proses


penyesuaian diri secara bertahap yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap
kondisi baru (Anonim, 2012).
Sebagaimana halnya dengan faktor lingkungan lainnya, suhu mempunyai
rentang yang dapat ditolerir oleh setiap jenis organisme.Masalah ini dijelaskan dalam
kajian ekologi, yaitu Hukum Toleransi Shelford.Dengan alat yang relative
sederhana, percobaan tentang pengaruh suhu terhadap aktivitas organisme tidak sulit
dilakukan,

misalnya

dengan

menggunakan

respirometer

sederhana

(Tim Pengajar, 2012).


Sehingga dari percobaan itulah muncullah suatu pembuktian mengenai hukum
toleransi Shelford.Konsep hukum Shelford berasal dari hukum batas minimum yang
dicetuskan oleh Liebig.Menurut hukum minimum Liebig menyatakan bahwa jumlah
bahan utuana yang dibtuhkan apabila mendekati keadaan minimum kritis cenderung
menjadi pembatas.Ditambahkannya bahwa pengaruh cahaya, suhu, zat makanan, dan
unsur-unsur utama lainnya menyebabkan hilangnya vegetasi pada ketinggian tertentu
di pegunungan atau hilangnya beberapa tumbuhan dalm wilayah yang dinaungi.Jadi
menurut hukum minimal Liebag bahwa penyebaran tumbuhan ditentukan oleh
cahaya, suhu, dan unsur hara yang tidak cukup dan tidak memadai (Kimball, 1999).
Ikan akan melakukan mekanisme homeostasi yaitu dengan berusaha untuk
membuat keadaan stabil sebagai akibat adanya perubahan variabel lingkungan.
Mekanisme homeostasis ini terjadi pada tingkat sel yaitu dengan pengaturan
metabolisme sel, pengontrolan permeabilitas membran sel dan pembuangan sisa
metabolism (Anonim, 2012).
Suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim pencernaan. Pada proses
pencernaan yang tak sempurna akan dihasilkan banyak feses, sehingga banyak energi
yang terbuang. Tetapi jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju
pencernaan juga akan semakin meningkat, sehingga tingkat pengosongan lambung
tinggi. Tingkat pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan
nafsu makannya meningkat. Jika konsumsi pakan tinggi, nutien yang masuk kedalam
tubuh ikan juga tinggi, dengan demikian ikan memiliki energi yang cukup untuk
pertumbuhan (Anonim, 2012).

Pertukaran gas respirasi bagi ikan berlaku dalam insang.Insang ditutup


dan dilindungi oleh operculum.Setiap insang sebenarnya terdiri dari pada dua
baris filamen yang halus dan diskong oleh satu rangkung insang yang
bertulang.Terdapat sisir insang untuk menepis benda asing.Insang tidak saja
berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai
ekskresi.Garam-garam,

penyaring

osmoregulator.Beberapa

jenis

makanan,

alat

ikan mempunyai

pertukaran

labirin

yang

ion

dan

merupakan

perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga


merupakan rongga-rongga tidak beraturan.Labirin ini berfungsi menyimpan
cadangan O2 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan O 2 .contoh ikan
yang mempunyai labirin adalah ikan gabus dan ikan lele. Untuk menyimpan
cadangan O2, selain dengan labirin ikan mempunyai gelembung renang yang
terletak di dekat punggung (Anonim, 2012).
Ikan mas koki dapat beradaptasi pada suhu kisaran 20 25 o C, yang mana
pada suhu tersebut merupakan syarat hidup dari ikan mas koki. Dan tidak
diharapkan untuk tidak melakukan perubahan atau perubahan kualitas air secara
drastis karena itu dapat membahayakan kehidupan dari ikan itu sendiri
(Anonim, 2012).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari / tanggal : Jumat / Januari 2013
Waktu

: Pukul 16.00 s.d. 17.30 WITA

Tempat

: Laboraturium Biologi Lantai III sebelah barat FMIPA UNM

B. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan yaitu:
1. Termometer batang 1 buah
2. Stopwatch Hp
3. Toples 2 buah
Bahan yang digunakan yaitu
1. Ikan mas koki (Cyprinus carpio) 2 ekor
2. Es batu
3. Air kran
4. Air panas
C. Prosedur kerja
1.

Memasukkan 3 ekor ikan mas koki yang relatif sama besarnya ke dalam
becker glass yang berisi air kran dan mengaklimasi ikan tersebut selama 15
menit.

2.

Mengambil 1 ekor ikan mas koki dan memasukkan ke dalam becker glass
yang berisi air normal yang bersuhu 270C 800 mL. Menghitung dan
mencatat frekuensi gerakan operculum (buka tutup) dalam waktu 1 menit
selama5 menit.

3.

Mengambil 1 ekor ikan mas koki dan memasukkan ke dalam becker glass
yang berisi air panas dengan suhu 380C 800 mL. Menhitung dan mencatat
frekuensi gerakan operculum pada ikan selama 5 menit dengan selang waktu
1 menit.

4.

Mengambil 1 ekor ikan mas koki dan memasukkannya ke dalam becker


glass yang telah diisi dengan air dingin dengan suhu 160C 800 mL.
Menhitung dan mencatat frekuensi gerakan operculum pada ikan selama 5
menit dengan selang waktu 1 menit.

5.

Mencatat hasil pengamatan dalam table

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
Tabel hasil pengamatan.
toples

Suhu

Waktu (menit ke...)

Rerata

Rerata

awal air

total

16C

44

40

39

45

30

198

39,6

27C

65

50

60

60

59

303

60,6

38C

71

92

50

70

70

353

70,6

B. Analisis data
1. Toples A (rerata buka tutup operculum)
menit 1 + menit 2 + menit 3 + menit 4 + menit 5
5
44 + 40 + 39 + 45 + 30
=
5

= 39,6 operculum/menit
2. Toples B (rerata buka tutup operculum)
menit 1 + menit 2 + menit 3 + menit 4 + menit 5
5
65 + 50 + 60 + 60 + 59
=
5

= 60,6 operculum/menit
3. Toples C (rerata bika tutup operculum)
menit 1 + menit 2 + menit 3 + menit 4 + menit 5
5
71 + 92 + 50 + 70 + 70
=
5

= 70,6 operculum/menit

C. Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan 3 kegiatan menggunakan toples yang berisi
air memiliki suhu yang berbeda beda, kegiatan pertama menggunakan toples A
yang berisi air kram yang memiliki suhu 16C, kegiatan kedua menggunakan
toples B yang berisi air yang memiliki suhu 27C, dan kegiatan ketiga
menggunakan toples C yang berisi air yang memiliki suhu 38C.
Kegiatan pertama yang menggunakan toples A yang berisi air yang
memilki suhu 16C, gerakan operkulum setiap menitnya yaitu pada menit
pertama 44, menit kedua 40, menit ketiga 39, menit keempat 45 dan menit
kelima 30. Rerata buka tutup operkulum pada kegiatan ini yaitu 39,6
operculum/menit. Terjadinya penurunan gerakan operculum pada ikan mas koki
yang dimasukkan ke dalam air dingin menandakan bahwa gerakan operculum
pada ikan mas koki dipengaruhi oleh suhu. Gerakan operculum ikan pada suhu
rendah akan lambat.

pada suhu dingin, gerakan operculum ikan menjadi

melambat, hal itu disebabkan karena pada air dingin reaksi-reaksi kimia dalam
tubuh ikan akan berjalan lanbat, sehingga jika ikan mencapai suhu terendah ikan
akan mati.
Kegiatan kedua yang menggunakan toples B yang berisi air kram yang
memiliki suhu 27C, gerakan operculum setiap menitnya yaitu pada menit
pertama 65, menit kedua 50, menit ketiga 60, menit keempat 60 dan menit
kelima 59. Rerata buka tutup operculum yaitu 60,6 operculum/menit. Suhu ini
merupakan suhu ideal untuk ikan jadi pada kegiatan ini buka tutup operkulum
pada ikan mas koki relatif normal.
Kegiatan ketiga yang menggunakan toples C yang berisi air yang memilki
suhu 38C, gerakan operkulum setiap menitnya yaitu pada menit pertama 71,
menit kedua 92, menit ketiga 50, menit keempat 70 dan menit kelima 70. Rerata
buka tutup operkulum pada kegiatan ini yaitu 70,6 operculum/menit. Terjadi
penaikan gerakan operculum pada ikan mas koki yang dimasukkan ke dalam air
panas , pada suhu tinggi gerakan operculumnya menjadi semakin cepat. Namun
hal tersebut dibatasi oleh kemampuan ikan tersebut untuk beradaptasi pada suhu
tertentu. Menurut teori pada suhu yang tinggi gerakan operculum ikan akan

semakin cepat namun bila mencapai batas suhu yang maksimal maka ikan
tersebut akan mati. Pada suhu panas, ikan membutuhkan oksigen yang cukup
banyak karena reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada tubuh ikan berlangsung
dengan cepat, pada suhu panas kadar oksigen dalam air akan semakin sedikit,
sehingga ikan pada suhu maksimal akan mati. Matinya ikan pada suhu yang
terlalu tinggi dan terlalu rendah menandakan bahwa ikan memiliki batas ideal
tersendiri agar dapat bertahan hidup dan mampu beradaptasi dengan lingkungan
hidupnya. Batas itulah yang disebut dengan Hukum Toleransi Shelford yaitu
batas maksimum dan batas minimum suatu makhluk hidup agar dapat hidup.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat dsimpulkan
bahwa:
1. Pada suhu rendah operculum ikan menjadi lambat
2. Pada suhu tinggi operculum ikan menjadi cepat
3. Suhu mempengaruhi aktivitas suatu organisme
B. Saran
Diharapkna

kepada

praktikan

agar

tidak

terlambat

masuk

ke

laboratorium, lebih mempersiapkan segala hal yang ingin dipakai pada saat
praktikum, tidak terlalu ribut, tetap menjaga kebersihan, memperhatikan dengan
teliti agar

memperoleh hasil pengamatan yang maksimal,

meningkatkan kerja sama yang baik

dan lebih

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adaptasi Hewan Air Terhadap


Lingkungannya.http://www.google.com. Diakses pada tanggal 02 Januari 2011.
Kimball, J W. 1992. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Nono sutarno, Dkk. 2001. Biologi umum lanjutan II. Jakarta : Universitas Terbuka
Tim Pengajar. 2012. Penuntun Praktikum Biologi Dasar. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM

Lampiran

Jawaban pertanyaan
1.

Mengapa terjadi perbedan frekuensi gerakan operculun ikan pada suhu air yang
berbeda?
Jawab:
Hal tersebut disebabkan karena adanya / terjadinya perubahan suhu, sehingga
menyababkan ikan harus mampu beradaptasi pada suhu tersebut.

2.

Pada suhu berapa frekuensi gerakan (buka tutup) operculum tertinggi?


Jawab:
frekuensi gerakan (buka tutup) operculum tertinggi yaitu pada suhu air panas
yaitu 38C.

3.

Pada suhu berapa frekuensi gerakan (buka tutup) operculum terendah?


Jawab:
frekuensi gerakan (buka tutup) operculum terendah yaitupada suhu air dingin
yaitu 16C

4.

Mengapa terjadi perbedaan frekuensi gerakan (buka tutup) operculum


berdasarkan suhu air?
Jawab:
Pada suhu rendah gerakan menjadi lambat karena disebabkan karena pada air
dingin reaksi-reaksi kimia dalam tubuh ikan akan berjalan lanbat. Pada suhu
tinggi gerakan menjadi cepat karena ikan membutuhkan oksigen yang cukup
banyak karena reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada tubuh ikan berlangsung
dengan cepat.

ikan