Anda di halaman 1dari 24

A. PENDAHULUAN.

Sebagaimana diketahui bahwa secara umum ada tiga tahapan atau tingkatan
pembangunan yang dialami oleh suatu negara mulai dari negara berkembang sampai menjadi
negara maju, yaitu tahap pertama unifikasi (unification) dengan titik berat bagaimana
mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional, tahap kedua
industrialisasi (industrialization) dengan fokus perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan
modernisasi politik, dan tahap ketiga negara kesejahteraan (social welfare) dimana tugas
negara terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan
kesalahan pada tahap sebelumnya, dengan fokus utama kesejahteraan rakyat.

Negara-negara maju telah berhasil melalui ketiga tahapan atau tingkatan


pembangunan tersebut satu demi satu dengan baik dan memerlukan waktu yang cukup lama.
Sedangkan negara-negara yang sedang berkembang ingin mencapai ketiga tahapan atau
tingkatan pembangunan tersebut secara sekaligus dan bersamaan.

Untuk itu pembangunan yang baik dalam suatu negara adalah pembangunan yang
dilakukan secara komprehensif. Artinya, pembangunan selain mengejar pertumbuhan
ekonomi semata, juga harus memperhatikan pelaksanaan jaminan perlindungan hak-hak asasi
manusia warga negaranya yang telah diatur dalam konstitusi negara yang bersangkutan, baik
hak-hak sipil, maupun hak ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pembangunan ekonomi tidak akan berhasil tanpa pembaharuan hukum terlebih lagi adanya
globalisasi ekonomi diikuti globalisasi hukum, sehingga materi muatan berbagai Undang-
undang dan perjanjian-perjanjian sebagai sumber hukum positif harus mengadopsi kaedah-
kaedah dan diharmonisasikan dengan ketentuan-ketentuan internasional yang bersifat lintas
dan melewati batas-batas negara, yang dilakukan melalui ratifikasi perjanjian-perjanian dan
konvensi-konvensi serta kovenan-kovenan internasional, maupun hubungan-hubungan dan
perjanjian privat serta institusi-institusi ekonomibaru.

Selanjutnya globalisasi hukum tersebut disertai pula oleh dan dengan globalisasi
praktek hukum, dimana antara lain konsultan hukum suatu negara dari suatu sistem hukum,
dapat bekerja menjalankan praktek hukum secara profesional di negara lain yang mempunyai
sistem hukum yang berbeda.

Dinamika kemajuan di era globalisasi dan perdagangan bebas telah membawa


dampak yang signifikan terhadap aktivitas di seluruh negara di dunia pada umumnya,
khususnya negara berkembang. Perkembangan ekonomi pada umumnya dan penanaman
modal asing pada khususnya telah menjadi perhatian bukan hanya di kalangan pemerintah
saja, tetapi juga di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pembicaraan berkenaan
dengan penanaman modal asing tidak bisa dilepaskan dari peranannya dalam pembangunan
ekonomi.

Perkembangan perekonomian suatu negara, khususnya negara berkembang seperti


Indonesia sangat ditentukan dari tingkat pertumbuhan penanaman modal asing. Penanaman
modal asing atau foreign direct investment sangat diharapkan untuk menggerakkan dan
meningkatkan perputaran roda perekonomian di Indonesia.

Posisi Indonesia sebagai negara berkembang dituntut untuk mengejar ketinggalan di


bidang teknologi, ilmu pengetahuan, pembangunan ekonomi, serta menciptakan masyaratkat
yang demokratis. Sebagai negara berkembang, Indonesia berada pada posisi yang sangat
berkepentingan dalam mengundang investor asing untuk memacu pertumbuhan ekonomi
nasional. Selain itu, pelaksanaan penanaman modal asing di Indonesia juga mengharapkan
manfaat lainnya, seperti alih teknologi (transfer of technology) dan penciptaan lapangan
kerja. Kegiatan penanaman modal asing tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari
berkembangnya kegiatan di bidang ekonomi dan perdagangan.

Perkembangan penanaman modal di Indonesia khususnya penanaman modal asing


dapat dilihat sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Akan tetapi Indonesia baru
mempromosikan dan membuka diri terhadap arus penanaman modal asing secara signifikan
mulai tahun 1967 Masalah penanaman modal asing bukan hal yang baru, tapi sudah ada sejak
jaman penjajahan. Pada jaman penjajahan, karena kegiatan perdagangan cukup maju maka,
masalah penanaman modal ini dirasa belum diperlukan. Hal ini dikarenakan pemerintah
penjajah telah mengatur sturktur kegiatan perdagangan sehingga kegiatan penanaman modal
dikuasai oleh mereka.
Pada tahun 1966 timbul suatu perubahan pokok dalam kebijaksanaan pemerintah Republik
Indonesia di bidang keuangan dan ekonomi. Perubahan tersebut dituangkan dalam bentuk
ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (untuk selanjutnya akan disebut TAP
MPRS) No. XXIII/1966/MPRS. Dalam TAP MPRS tersebut khususnya Bab VIII mengatur
mengenai hubungan ekonomi yang menentukan bahwa karena kebutuhan perkembangan
nasional maka penanaman modal asing perlu diikutsertakan.

Kegiatan penanaman modal merupakan salah satu bentuk transaksi bisnis, yang
keberlangsungan dapat dikategorikan sebagai suatu transaksi bisnis internasional
(international business transactions) atau hukum perdagangan internasional (international
trade law) yang dilangsungkan oleh dan antar warga negara atau badan usaha (business
organization) lintas batas negara (cross border), misalnya antara pelaku usaha Indonesia baik
badan hukum Indonesia ataupun perorangan warga negara Indonesia dengan pelaku usaha
asing baik badan hukum hukum asing ataupun perorangan warga negara asing.

Dalam transaksi bisnis bisnis pada umumnya, ditinjau dari segi hukum kontrak, juga
mengikuti tiga tahap yaitu tahap persiapan (preparation phase), tahap pelaksanaan
(performance phase), dan tahap penegakan hukum konrak (enforcement phase), dimana
dalam setiap tahapan kontrak tersebut senantiasa diiringi oleh tiga aspek yaitu budaya
(cultural), hukum (legal) dan praktis (practical).

Demikian juga kegiatan penanaman modal asing yang diawali dengan perjanjian joint
venture (Joint Venture Agreement) sampai dengan realisasi kegiatan usaha dan produksi, dan
pendirian perusahaan joint venture tiga tahapan kontrak dan tiga aspek dalam transaksi bisnis
tersebut, secara mutatis mutandis, berlaku efektif dengan penyesuaian-peyesuaian seperlunya
sesuai dengan bidang usaha dilakukannya penanaman modal oleh investor yang
bersangkutan.

Salah satu hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam suatu perjanjian joint venture
adalah tahap penegakan hukum kontrak (enforcement phase) bilamana timbul dan terjadi
sengketa sehubungan dan berkaitan dengan pelaksanaan dan realisasi dari perjanjian joint
venture tersebut, yakni hukum yang berlaku (applicable law/governing law) dan penyelesaian
sengketa (settlement of disputes).

Bilamana timbul dan terjadi sengketa sehubungan dan berkaitan dengan pelaksanaan
dan realisasi dari perjanjian joint venture dan perusahaan joint venture tersebut, maka acuan
pertama adalah hukum yang berlaku (applicable law/governing law) dan penyelesaian
sengketa (settlement of disputes) yang telah disepakati dipilih oleh para pihak dalam joint
venture agreement baik menyangkut pilihan hukum (choice of law) maupun pilihan forum
(choice of forum) yakni hukum mana dan lembaga mana yang akan dipilih dan disepakati
para pihak sebelumnya dalam joint venture agreement dimaksud tersebut, yang berwenang
dan digunakan dalam menilai dan menyelesaikan sengketa yang timbul berkenaan dengan
penanaman modal tersebut, baik sengketa antara investor asing dengan partner lokal maupun
antara investor asing dengan pemerintah lokal (local government, host country).

Dalam penyelesaian sengketa berkenaan dengan penanaman modal asing di Indoneisa


terdapat kecenderungan bahwa pilihan forum penyelesaian sengketa yang disepakati dipilih
sebagai forum penyelesaian sengketa adalah arbitrase, bahkan negara-negara masyarakat
hukum internasional telah membentuk arbitrase khusus mengenai penyelesaian sengketa
penanaman modal, denga adanya konvensi MIGA maupun ICSID demikian juga terdapat
pengakuan dan penerimaan putusan badan/dewan arbitrase internasional yang dapat di
eksekusi di negara lain sesama peserta ratifikasi yang bersangkutan, misalnya konvensi New
York 1958.
Berkaitan dengan itu penulis memilih judul makalah ini “ARBITRASE SEBAGAI
PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PENANAMAN MODAL ASING”
B. POKOK PERMASALAHAN.

Bertolak dari uraian diatas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan pokok yang
akan diteliti dan diungkapkan lebih lanjut dalam penulisan ini adalah bagaimanakah
penyelesaian sengketa dalam penanaman modal asing pada umumnya, sengketa antara
investor asing dengan partner lokal?.

Kajian penulisan makalah ini akan terfokus dan difokuskan pada pembahasan
penyelesaian sengketa dalam penanaman modal asing pada umumnya, khususnya arbitrase
sebagai lembaga penyelesaian sengketa penanaman modal. Oleh karenanya, dalam penulisan
ini tidak termasuk di dalamnya segi analisa ekonomi, maupun statistik dari penanaman modal
langsung (foreign direct investment, FDI) di Indonesia, maupun statistik sengketa yang
berkaitan dengan investor asing berlawanan dengan partner lokal maupun dengan pemerintah
Republik Indonesia serta lembaga dan pola arbitrase sebagai penyelesaian sengketa yang
bersangkutan.
Meskipun adakalanya penyebutan istilah tersebut tidak dapat dihindari, akan tetapi
hal tersebut tidak diperdalam lebih lanjut, penyebutan tersebut agar mendapatkan gambaran
yang utuh dalam teks yang bersangkutan.
C. PEMBAHASAN.

1. Pengertian, Maksud dan Tujuan Penanaman Modal Asing

Ada 2 (dua) sifat khas penanaman modal asing, menurut Robert Gilpin, yaitu:

a. perusahaan multi/trans nasional (PMN/PTN) melakukan penanaman modal langsung di


negara- negara asing (foreign direct investment, “FDI”), melalui pendirian anak atau
cabang perusahaan atau pengambilalihan sebuah perusahaan asing, dengan sasaran
melakukan pengawasan manajemen terhadap suatu unit produksi di suatu negara asing, yang
berbeda dengan penanaman modal fortofolio pembelian saham dalam suatu perusahaan.
b. suatu PMN ditandai dengan adanya perusahaan induk dan sekelompok anak perusahaan
atau cabang perusahaan di berbagai negara dengan satu penampung bersama sumber-sumber
manajemen, keuangan dan teknik dengan integrasi vertikal dan sentralisai pengambilan
keputusan.

Dengan demikian esensi suatu PMN/PTN adalah sebagai berikut:


1. perusahaan yang beroperasi di beberapa negara, oleh karenanya lintas batas negara;
2. mempunyai perusahaan indul di nagara asal sebagai pusat organisasinya
3. berupa gabungan perusahaan nasional di suatu negara atau antar negara.
4. sistem manajemen terpusat dan beroierntasi pada perusahaan induk.

Ditinjau dari negara yang terkait dalam PMN, maka ada 2 (dua) negara yang terkait
yaitu negara asal investasi (home state) dengan negara tuan rumah (host state) atau negara
yang merupakan pusat PMN (home country) dengan negara lain yang merupakan tempat
perusahaan tersebut melakukan operasi atau kegiatanya (host country).

Berkaitan dengan hubungan antara PMN dengan negara penerima modal (host contry,
host state), setidaknya ada 2 (dua) golongan aliran pemikiran atau perspektif ideologi sebagai
berikut:
1. Kelompok Yang setuju PMN:
(1) business school of how to approach (dengan tokoh: Robin dan Stobough).
(2) aliran ekonomi Tradisional (economic traditionalism): menekankan pada dukungan modal
dan teknis dari peranan PMN (dengan tokoh: Vernon dan Kindleberger).
(3) aliran ekonomi Neo-tradisional (Neo economic traditionalism): mendorong pemamfaatan
modal PMN dalam dunia usaha internasional secara terbatas (dengan tokoh: Vernon dan
Kindleberger).
2. Kelompok Yang setuju PMN dengan syarat atau menolak:
(1) aliran nasionalis (Nationalism dan populism): dampak negatif PMN tak perlu timbul, asal
pengendalian pengelolaan PMN dilakukan secara ketat oleh negara penerima modal (dengan
tokoh: Streeten dan Lall).
(2) aliran ketergantungan (dependency): dilema antara mamfaat PMN dan sikap
ketidaktergantungan pada PMN (dengan tokoh: Sunkle dan Hymer).
(3) aliran Marksis (Marxists): mutlak menentang PMN (dengan tokoh: Magdaft, Sweenny,
Frank dan Weiskopf).

Dan kemudian saat ini, setidaknya ada dua perspektif baru yang muncul, yaitu sebagai
berikut:

(1) perspektif lingkungan (environmental perspective) Pada masa kini, suatu dimensi yang
lebih jauh telah muncul dalam perdebatan tentang PMN, yang mengkonsentrasikan diri pada
dampak lingkungan. PMN dikritik karena kurang memperhatikan kerusakan lingkungan yang
ditimbulkan, serta strategi mereka yang merelokasi pabriknya ke negara tuan rumah yang
lebih longgar pengawasan lingkungannya. Peranan PMN dalam mengendalikan polusi dan
limbah menjadi isu utama. Hal tersebut menjadi pemicu bagi tumbuhnya kelompok-
kelompok yang peduli lingkungan khususnya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh
PMN. Bagaimanapun, hal ini berpotensi bagi pengembangan suatu kerangka kerja yang baru
bagi pengawasan aktivitas bisnis. Dan ini mungkin menjadi ideologi penting yang
mempengaruhi kebijakan dimasa datang (dengan tokoh: Leslie Sklair).

(2) konsumerisme global (global consumerism): berusaha mengidentifikasi dampak sosial


dan budaya yang muncul atas ekspansi global PMN, yang menjadi suatu kebudayaan baru
yang didasarkan pada barang dan jasa yang ditawarkan oleh PMN, yang cenderung
membentuk gaya hidup baru yang berbeda dengan nilai tradisional di negara lokal, melalui
peranan media transnasional dan perusahaan periklanan sebagai pencipta image yang
mendorong pembentukan selera pasar (dengan tokoh: Leslie Sklair).

Pengertian penanaman modal asing menurut Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1967


adalah :
“Pengertian penanaman modal asing di dalam Undang-undang ini hanyalah meliputi modal
asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan
Undang-undang ini dan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, dalam
arti pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanam modal tersebut.”

Dalam rangka menarik penanaman modal asing ke Indonesia pada umumnya


menyangkut tiga hal yaitu adanya peluang di bidang ekonomi, kepastian hukum, dan
stabilitas politik.
Adapun syarat-syarat untuk menarik modal asing adalah:
a. Syarat keuntungan ekonomi (economic opportunity)
Yaitu adanya kesempatan ekonomi bagi investor, seperti dekat dengan sumber daya alam,
tersedianya bahan baku, tersedianya lokasi untuk mendirikan pabrik, tersedianya tenaga kerja
dan pasar yang prospektif.

b. Syarat Kepastian Hukum (legal certainity)


Pemerintah harus mampu menegakkan hukum dan memberikan jaminan keamanan.
Penerapan peraturan dan kebijakan, terutama konsistensi penegakan hukum dan keamanan
serta memperbaiki sistem peradilan dan hukum merupakan suatu syarat yang sangat penting
dalam rangka menarik investor.

c. Syarat stabilitas politik (political stability)


Penanaman modal asing pada suatu negara sangat dipengaruhi oleh faktor stabilitas politik
(political stability). Konflik yang terjadi di antara elit politik atau dalam masyaratkat akan
berpengaruh terhadap iklim penanaman modal. Selain itu, belum mantapnya kondisi sosial
politik mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap arus penanaman modal.

Masalah penanaman modal di Indonesia saat ini menghadapi masalah yang sangat
kompleks diantaranya permasalahan buruh, ketidakpastian hukum, keamanan dan
pelaksanaan otonomi daerah. Pemerintah menyadari bahwa dalam usaha melaksanakan
pembangunan ekonomi, kemampuan sumber-sumber dalam negeri belum memadai, oleh
karena itu perlu dimanfaatkan sumber-sumber lain berupa bantuan luar negeri dan
penanaman modal asing.

Penananman modal memberikan keuntungan kepada semua pihak, tidak hanya bagi
investor saja, tetapi juga bagi perekonomian negara tempat modal itu ditanamkan serta bagi
negara asal para investor. Pemerintah menetapkan bidang-bidang usaha yang memerlukan
penanaman modal dengan berbagai peraturan. Selain itu, pemerintah juga menentukan
besarnya modal dan perbandingan antara modal nasional dan modal asing. Hal ini dilakukan
agar penanaman modal tersebut dapat diarahkan pada suatu tujuan yang hendak dicapai.
Bukan haya itu seringkali suatu negara tidak dapat menentukan politik ekonominya secara
bebas, karena adanya pengaruh serta campur tangan dari pemerintah asing.

Hal ini mengingat karena terbatasnya modal, skill dan teknologi yang dimiliki negara
kita, serta banyaknya negara yang memerlukan kehadiran investor asing untuk menanamkan
modal di negaranya. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan penerimaan pajak, hasil
ekspor migas dan non migas, tabungan dalam negeri dan bantuan luar negeri. Apabila hanya
mengandalkan sumber-sumber tersebut maka angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak
akan meningkat, untuk itulah diperlukan adanya penanaman modal asing. Indonesia
memerlukan modal asing karena:
a. Untuk menyediakan lapangan kerja;
b. Melaksanakan substitusi import untuk meningkatkan devisa;
c. Mendorong ekspor untuk mendapatkan devisa;
d. Membangun daerah-daerah tertinggal dan sarana prasarana;
e. Untuk industrialisasi atau alih teknologi.

Penanaman modal asing diharapkan sebagai salah satu sumber pembiayaan dalam
pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, telekomunikasi, perhubungan udara, air
minum, listrik, air bersih, jalan, rel kereta api. Penanaman modal asing diperlukan untuk
mengembangkan teknologi dan peningkatan ilmu pengetahuan, oleh karena itu diperlukan
dana yang cukup besar.
Investor asing datang ke Indonesia karena memperoleh berbagai keuntungan, yaitu:

a. Upah buruh murah;


Indonesia mempunyai jumlah buruh yang melimpah dengan upah yang relatif murah.
b. Dekat dengan sumber bahan mentah;
Indonesia memiliki bahan mentah yang belum di eksploitasi.
c. Menemukan pasar baru;
Indonesia merupakan pasar yang sangat efektif untuk memasarkan hasil produksi dari negara-
negara maju dan ini akan membawa keuntungan tersendiri bagi negara asal investor asing.
d. Royalti dari alih teknologi;
Negara asal investor akan mendapatkan keuntungan dari proses alih teknologi melalui
penjualan hak merek, paten, rahasia dagang, desain industri. Dari alih teknologi inilah
investor akan memperoleh kompensasi.
e. Menjual bahan baku untuk dijadikan barang jadi;
Negara berkembang belum memiliki bahan baku yang memadai.
f. Insentif lain;
Misalnya tax holiday untuk menarik investor agar menanamkan modalnya di Indonesia.
g. Status khusus negara-negara tertentu dalam perdagangan Internasional.

Perekonomian Indonesia sampai saat ini belum menunjukkan perbaikan yang


menggembirakan, meskipun demikian Indonesia tetap menjadi pilihan investor karena adanya
pasar yang prospektif .
Adapun faktor-faktor yang menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di
Indonesia adalah:
a. Adanya peraturan dan kebijaksanaan yang mendukung investor asing untuk menanamkan
modalnya di Indonesia.
b. Tenaga kerja yang besar dengan upah yang relatif rendah.
c. Pasar produksi yang luas karena jumlah penduduk Indonesia yang besar.
d. Sumber-sumber kekayaan alam yang tersedia.
e. Stabilitas politik Indonesia yang mantap.

Selain faktor-faktor tersebut diatas, ada beberapa faktor yang secara umum
mendorong investor asing menanamkan modalnya di Indonesia yaitu:
a. Alasan politik, dimana pelaksanaan penanaman modal asing bukan hanya dilatarbelakangi
oleh pertimbangan ekonomi “murni” belaka.
b. Banyaknya investor yang ingin mengadu nasib dengan menanamkan modalnya di negara
berkembang.
c. Negara-negara industri sedang menghadapi bahaya kelebihan produksi yang menyebabkan
kesempatan untuk menanamkan modalnya di dalam negeri menjadi lebih kecil.

Dewasa ini hampir di semua negara, khususnya negara berkembang membutuhkan


modal asing. Modal asing itu merupakan suatu hal yang semakin penting bagi pembangunan
suatu negara. Sehingga kehadiran investor asing nampaknya tidak mungkin dihindari. Yang
menjadi permasalahan bahwa kehadiran investor asing ini sangat dipengaruhi oleh kondisi
internal suatu negara, sepert stabilitas ekonomi, politik negara, penegakan hukum.

Berbagai strategi untuk mengundang investor asing telah dilakukan. Hal ini didukung
oleh arah kebijakan ekonomi dalam TAP MPR RI Nomor IV/MPR/1999 salah satu kebijakan
ekonomi tersebut adalah :
“mengoptimalkan peranan pemerintah dalam mengoreksi ketidaksempurnaan pasar dengan
menghilangkan seluruh hambatan yang mengganggu mekanisme pasar, melalui regulasi,
layanan publik, subsidi dan insentif yang dilakukan secara transparan dan diatur dengan
undang-undang.”

Kebijakan mengundang modal asing adalah untuk meningkatkan potensi ekspor dan
substitusi impor, sehingga Indonesia dapat meningkatkan penghasilan devisa dan mampu
menghemat devisa, oleh karena itu usaha-usaha di bidang tersebut diberi prioritas dan
fasilitas. Alasan kebijakan yang lain yaitu agar terjadi alih teknologi yang dapat mempercepat
laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional Indonesia.

Upaya pemerintah untuk mencari modal asing agar mau kembali menanamkan
modalnya di Indoensia sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ditambah
lagi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998, penanaman modal di Indonesia
semakin menurun. Jangan menarik investor, menjaga investor yang sudah ada saja belum
maksimal, misalnya dengan tutupnya perusahaan asing seperti PT. Sony Electornics
Indonesia pada 27 Nopember 2002. Terlebih lagi pada tahun 2003 yang lalu, hal ini
dikarenakan adanya invasi Amerika ke Irak serta mewabahnya penyakit sindrom pernafasan
akut. Hal ini menimbulkan ketidak pastian perekonomian dunia dan berdampak buruk bagi
perekonomian Indonesia terutama terhadap penanam modal, padahal pemerintah telah
mencanangkan tahun 2003 ini sebagai tahun investasi.
Untuk bisa memenuhi harapan tersebut, pemerintah, aparat hukum dan komponen
masyarakat dituntut untuk segara menciptakan iklim yang kondusif untuk investasi.
Menyadari pentingnya penanaman modal asing, pemerintah Indonesia menciptakan suatu
iklim penanaman modal yang dapat menarik modal asing masuk ke Indonesia. Usaha-usaha
tersebut antara lain adalah dengan mengeluarkan peraturan-peraturan tentang penanaman
modal asing dan kebijaksanaan pemerintah yang pada dasarnya tidak akan merugikan
kepentingan nasional dan kepentingan investor.

Usaha pemerintah untuk selalu memperbaiki ketentuan yang berkaitan dengan


penanaman modal asing antara lain dilakukan dengan memperbaiki peraturan dan pemberian
paket yang menarik bagi investor asing. Pada akhirnya harus tetap diingat bahwa maksud
diadakannya penanaman modal asing hanyalah sebagai pelengkap atau penunjang
pembangunan ekonomi Indonesia. Pada hakekatnya pembangunan tersebut harus
dilaksanakan dengan ketentuan swadaya masyarakat, oleh karena itu pemerintah harus
bijaksana dan hati-hati dalam memberikan persetujuan dalam penanaman modal asing agar
tidak menibulkan ketergantungan pada pihak asing yang akan menimbulkan dampak buruk
bagi negara ini dikemudian hari.

2. Perkembangan Penanaman Modal Asing Di Indonesia Ditinjau Dari Segi Hukum.

Sebenarnya perkembangan penanaman modal asing di Indonesia telah dimulai sejak


Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Rancangan Undang-undang penanaman
modal asing pertama kali diajukan pada tahun 1952 pada masa kabinet Alisastroamidjojo,
tetapi belum sempat diajukan ke parlemen karena jatuhnya kabinet ini. Kemudian pada tahun
1953 rancangan tersebut diajukan kembali tetapi ditolak oleh pemerintah.

Secara resmi undang-undang yang mengatur mengenai penanaman modal asing untuk
pertama kalinya adalah UU Nomor 78 Tahun 1958, akan tetapi karena pelaksanaan Undang-
undang ini banyak mengalami hambatan, UU Nomor 78 Tahun 1958 tersebut pada tahun
1960 diperbaharui dengan UU Nomor 15 Tahun 1960 .

Pada perkembangan selanjutnya, karena adanya anggapan bahwa penanaman modal


asing merupakan penghisapan kepada rakyat serta menghambat jalannya revolusi Indonesia,
maka UU Nomor 15 Tahun1960 ini dicabut dengan UU Nomor 16 Tahun 1965 . Sehingga
mulai tahun 1965 sampai dengan tahun 1967 terdapat kekosongan hukum (rechts vacuum)
dalam bidang penanaman modal asing.

Baru pada tahun 1967, pemerintah Indonesia mempunyai undang-undang penanaman


modal asing dengan diundangkannya UU Nomor 1 Tahun 1967, yang disahkan oleh Presiden
Republik Indonesia pada tanggal 10 Januari 1967 dan kemudian mengalami perubahan dan
penambahan yang diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 1970 .

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1986, Pemerintah mengeluarkan PP Nomor 24


Tahun 1986 yang diikuti dengan dikeluarkannya SK Ketua BKPM Nomor 12 Tahun 1986
disusul dengan dikeluarkan Keppres Nomor 17 Tahun 1986 .

Kemudian pada tahun 1987, Pemerintah merubah Keppres Nomor 17 Tahun 1986
tersebut, diubah dengan Keppres Nomor 50 Tahun 1987 demikian pula Ketua BKPM
mencabut SK Ketua BKPM Nomor 12 Tahun 1986 dicabut dan diganti dengan SK Ketua
BKPM Nomor 5 Tahun 1987, yang pada prinsipnya sama dengan Keppres Nomor 50 Tahun
1987 yaitu memberikan kelonggaran-kelonggaran terhadap syarat-syarat yang telah
ditentukan dalam keputusan sebelumnya.Selanjutnya, Ketua BKPM sebagai pelaksana teknis
penanaman modal asing di Indonesia, mengeluarkan Keputusan sebagaiman ternyata dalam
Surat Keputusan Ketua BKPM Nomor 09/SK/1989
Perkembangan selanjutnya dapat dilihat dengan dikeluarkannya PP Nomor 17 Tahun 1992
yang antara lain mengatur mengenai penanaman modal asing di kawasan Indonesia Bagian
Timur.

Perkembangan terakhir dalam bidang penanaman modal ini adalah dengan


dikeluarkannya PP Nomor 24 Tahun 1994 . PP Nomor 20 Tahun 1994 ini memberikan
kemungkinan bagi investor asing untuk memiliki 100% saham dari perusahaan asing serta
membuka peluang untuk berusaha pada bidang-bidang yang sebelumnya tertutup
sebagaimana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1967.

Perkembangan penanaman modal asing yang lain adalah mengenai Daftar Negatif
Investasi (untuk selanjutnya disebut DNI), dahulu disebut Daftar skala Prioritas (DSP)
pemerintah telah melakukan perubahan dan menyederhanakan dengan mengatur bidang-
bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal dalam rangka penanaman modal asing.
DNI berlaku selama 3 (tiga) tahun dan setiap tahun dilakukan peninjauan untuk disesuaikan
dengan perkembangan.

Pada tahun 1998, DNI ini diatur dalam Keppres Nomor 96 Tahun 1998 dan Keppres
Nomor 99 Tahun 1998 . Kedua peraturan tersebut diubah dengan Keppres Nomor 96 Tahun
2000 . Keppres Nomor 96 Tahun 2000 ini terakhir diubah dengan Keppres Nomor 118 Tahun
2000 .
Upaya pemerintah untuk menarik investor, agar menanamkan modalnya di Indonesia, bahkan
melipatgandakan tingkat penanaman modal dari tahun ke tahun salah satu langkah yang
ditempuh adalah dengan memberi kelonggaran dan kemudahan bagi para investor.

Peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal asing selama kurun


waktu terakhir ini belum mampu mencerminkan aspek kepastian hukum. Hal ini disebabkan
munculnya peraturan yang cenderung memberatkan para investor. Ketidakpastian hukum dan
politik dalam negeri merupakan bagian dari masalah-masalah yang menyebabkan ikilm
penanaman modal tidak kondusif. Iklim yang kondusif tentu akan sangat mempengaruhi
tingkat penanaman modal di Indonesia.

Selain itu juga ketentuan hukum dan peraturan mengenai penanaman modal asing
yang harus tetap disesuaikan dengan perkembangan di era globalisasi dan tidak adanya
perlakuan diskriminasi dari negara penerima terhadap modal asing (equal treatment).
Sehingga partisipasi masyarakat dan aparatur hukum sangat diperlukan dalam menarik
investor yaitu dengan cara menciptakan iklim yang kondusif untuk menanamkan modalnya.

3. Analisis Arbitrase Sebagai Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal Asing

Sengketa-sengketa di bidang penanaman modal asing yang melibatkan Indonesia


salah satu pihak, antara lain adalah mengenai:

a. Breach of contract (pelanggaran perjanjian).


Pelanggaran perjanjian adalah suatu perbuatan dimana salah satu pihak tidak memenuhi
prestasi yang telah disepakati atau dengan perkataan lain telah melakukan perbuatan
wanprestasi. Pelanggaran Perjanjian dalam bidang penanaman modal asing, misalnya adalah
pemutusan perjanjian secara sepihak.

b. Nationalization atau Expropriation (nasionalisasi atau pengambilalihan).


Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1967 pemerintah tidak akan melakukan tindakan
nasionalisasi/pencabutan hak milik secara menyeluruh atas perusahaan-perusahaan modal
asing atau tindakan-tindakan yang mengurangi hak menguasai dan atau mengurus perusahaan
perusahaan yang bersangkutan, kecuali jika dengan Undang-undang dinyatakan kepentingan
negara menghendaki tindakan demikian. Akan tetapi pada kenyataannya pemerintah
melakukan tindakan pencabutan izin pembangunan Hotel Kartika Plaza dengan alasan
melakukan tindakan nasionalisasi.

Selain sengketa tersebut di atas ada beberapa jenis sengketa lainnya yang termasuk
dan merupakan sengketa dalam bidang penanaman modal asing, yaitu:
1. Curency transfer yaitu resiko kerugian sebagai akaibat pembatasan terhadap konversi mata
uang oleh negara penerima modal;
2. Expropriation and similar measure yaitu resiko kerugian sebagai akibat adanya tindakan-
tindakan legislatif dan administratif atau karena terjadinya pengambilalihan hak milik
investor;
3. Breach of contract yaitu resiko kerugian karena penolakan atau pelanggaran hukum oleh
negara penerima;
4. War and civil disturbance yaitu resiko kerugian sebagai akibat terjadinya konflik senjata
atau gangguan-gangguan lainnya oleh kaum sipil.

Keempat jenis sengketa tersebut di atas mendapat jaminan dari Convention


Establising the Multilateral Investment Guarantee Agency. Dalam Konvensi MIGA sengketa
secara umum dibagi menjadi dua yaitu sengketa komersial dan sengketa non kemersial.
Sengketa yang bersifat komersial pada umumnya telah dicover oleh perusahaan-perusahaan
asuransi. Sedangkan yang mendapat jaminan dari Konvensi MIGA ini adalah sengketa yang
bersifat non komersial.

Ditinjau dari subjek yang bersengketa, maka sengketa dalam penanaman modal dapat
dibedakan atas 2 (dua) bagian, yaitu:
a. Sengketa antara investor asing dengan partner lokal, dan;
b. Sengketa antara investor asing dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Setiap sengketa hukum yang terjadi dalam bidang penanaman modal asing pada
dasarnya dapat diselesaikan oleh lembaga-lembaga penyelesaian sengketa, misalnya
peradilan nasional atau lembaga arbitrase. Dunia perekonomian yang berkembang secara
universal dan global mulai mengenal bentuk-bentuk lembaga penyelesaian sengketa yang
memberikan rasa aman dan keadilan bagi para pihak yang bersengketa. Salah satu cara
penyelesaian sengketa yang cukup populer dan diminati saat ini adalah Arbitrase dengan
segala jenisnya baik arbitrase institusional maupun Arbitrase ad hoc.

Secara khusus ada satu lembaga Arbitrase Internasional yang hanya menyelesaikan
sengketa penanaman modal asing, yaitu ICSID. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa
sengketa yang terjadi dapat dibawa kepada lembaga-lembaga penyelesaian sengketa yang
ada, sesuai dengan klausula yang ada, sesuai dengan klausula Arbitrase yang telah disepakati
oleh kedua belah pihak.
Setiap hubungan perjanjian Internasional baik di bidang perdagangan dan penanaman modal
asing atau joint vanture pihak asing selalu menuntut adanya klausula Arbitrase yang bercorak
Internasional. Misalnya dalam hubungan perjanjian penanaman modal kedua belah pihak
sepakat untuk membuat klausula Arbitrase yang tunduk pada ICSID. Dengan demikian kedua
belah pihak menginginkan agar penyelesaian yang timbul dalam perjanjian penanaman modal
melalui ICSID.

Selain ICSID, ada beberapa lembaga Arbitrase Internasional yang menangani


sengketa penanaman modal asing, yaitu:

1. Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce (untuk selanjutnya akan


disebut ICC).
ICC merupakan suatu lembaga Arbitrase Internasional yang tertua. Badan ini didirikan di
Paris pada tahun 1919. ICC pada dasarnya adalah badan arbitrase yang menyelesaikan
sengketa dalam bidang perdagangan pada umumnya antara para pihak yang berlainan
kewarganegaraan.
2. Asia-Africa Legal Consultative Commitee (untuk selanjutnya akan disebut AALCC).
AALCC didirikan pada tanggal 15 Desember 1956, berkantor pusat di New Delhi, India.
Organisasi ini dibentuk oleh ahli-ahli dari dunia ketiga yang bertujuan untuk melepaskan diri
dari dominasi ICC. Organisasi ini pada tahun 1978 melebarkan sayab dengan mendirikan
kantor di kawasan Asia, dengan memilih tempat kedudukan di Kuala Lumpur. Pada
pertemuan yang ke-40 yang diadakan di New Delhi, AALCC diganti menjadi Asian-African
Legal Consultative Organization (untuk selanjutnya akan disebut ALLCO). Secara tegas
ALLCO menyatakan tunduk dalam ketentuan yang dibuat oleh United Nations Commision
On International Trade Law (untuk selanjutnya akan disebut UNCITRAL) yaitu UNCITRAL
Arbitration Rules (untuk selanjutnya disebut UAR). Tujuan dibentuknya UAR adalah untuk
mengglobalisasikan serta menginternasionalisasikan nilai-nilai dan tata cara Arbitrase dalam
menyelesaikan sengketa yang terjadi dalam hubungan perdagangan. Perjanjian arbitrase
menurut UNCITRAL ini harus dilakukan dalam bentuktertulis (agreed in writing), yang
menyatakan bahwa para pihak menundukkan diri kepada ketentuan arbitrase yang diatur
dalam UAR.

Selain lembaga-lembaga Arbitrase yang bersifat Internasional tersebut, masih banyak


lembaga-lembaga Arbitrase yang bersifat nasional yang dimiliki oleh beberapa negara,
misalnya:
1. Nederlands Arbitrage Institute merupakan pusat Arbitrase nasional di Belanda;
2. The Japan Commercial Association merupakan pusat Arbitrase nasional di Jepang;
3. The American Commercial Association merupakan pusat Arbitrase nasional di Amerika
Serikat. Didirikan oleh Kamar Dagang Amerika pada tahun 1926;
4. The London Court of International Commercial Arbitration yang didirikan pada tahun
1892;
5. Australian Centre for International Commerce Arbitration (ACICA) merupakan lembaga
arbitrase di Australia.
6. Thai Arbitration Board.
7. Hongkong International Arbitration Centre, didirikan pada tahun 1985;
8. Singapore International Arbitration Centre (SIAC), yang didirikan pada tahun 1991;
9. China International Economic and Trade Arbitration Commission (CIETAC);
10. Korean Commercial Arbitration Board (KCAB);
11. Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) merupakan Arbitrase Nasional di Indonesia
yang didirikan oleh kamar dagang dan industri Indonesia pada tanggal 3 Desember 1977.

Selain lembaga-lembaga yang disebutkan di atas masih banyak lagi lembaga-lembaga


Arbitrase baik yang bersifat nasional maupun Internasional yang dimiliki oleh tiap-tiap
negara. Begitu juga halnya dengan Indonesia yang telah mempunyai Lembaga Arbitrase
Nasional sejak tahun 1977 yang kemudian dilengkapi dengan diundangkannya UU Nomor 30
Tahun 1999 .

Seperti telah dikemukakan bahwa perjanjian penanaman modal asing di Indonesia


dibuat berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata yang disebut juga sebagai asas kebebasan
berkontrak . Kebebasan yang dimaksud dalam hal ini adalah kebebasan untuk menentukan
pilihan hukum (choice of law) dan pilihan forum (choice of jurisdiction). Selain itu juga
untuk menentukan pilihan domisili (choice of domisili).

Pilihan hukum atau istilahnya partij autonomie adalah suatu keadaan dimana para
pihak dalam suatu kontrak bebas untuk melakukan pilihan, mereka dapat memilih sendiri
hukum yang harus dipakai untuk kontrak mereka. Pilihan hukum adalah hukum yang dipilih
para pihak dalam kaitan timbulnya sengketa sebagai akibat pelaksanaan hubungan
hukumnya.
Ada empat macam pilihan hukum yang dikenal dalam Hukum Perdata Internasional, yaitu:
1. Secara Tegas (uitdrukkelijk met zovele woorden);
2. Secara diam-diam (stilzwijgend);
3. Secara dianggap (vermoedelijk);
4. Secara Hipotesis (hypothetische partijwil).

Penentuan suatu klausula pilihan hukum dalam suatu perjanjian mempunyai arti
penting karena:
1. Sebagai sarana untuk menghindari ketentuan hukum memaksa yang tidak efisien;
2. Untuk meningkatkan persaingan yurisdiksi;
3. Memecahkan masalah peraturan berbagai negara.

Pilihan hukum yang dilakukan oleh para pihak dalam perjanjian harus memperhatikan
batas-batas sebagai berikut :
1. Tidak melanggar ketertiban umum (ordre public, public policy);
2. Pilihan Hukum hanya boleh dilangsungkan mengenai hukum kontrak;
3. Pilihan hukum tidak boleh menjelmah menjadi penyelundupan hukum;
4. Persoalan yang mempunyai hubungan dengan kaidah super memaksa.
Tujuan diadakannya pilihan hukum, adalah untuk:
1. Membebaskan pengadilan atau Dewan Arbitrase dari beban menemukan solusi mengatasi
conlict of law;
2. Adanya pilihan hukum juga akan memberikan kepastian, manfaat, efisiensi, penghematan
waktu dan memuaskan para pihak yang menyelesaikan sengketa yang mungkin timbul dalam
penafsiran dan pelaksanaan perjanjian sengketa.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar dilakukannya pilihan hukum, pertama
karena bersifat falsafah, kedua bersifat praktis, dan ketiga karena bersifat kebutuhan dalam
melakukan transaksi internasional. Pilihan hukum yang akan dilakukan oleh para pihak
sangat dihormati, karena alasan:
1. Sebagai kebebasan akhir individu adalah dasar murni dari hukum;
2. Memberikan kepastian hukum;
3. Memberikan efisiensi, manfaat dan keuntungan;
4. Memberikan insentif kepada negara.

Masalah pilihan hukum ini juga ditegaskan kembali dalam Konvensi Washington
Pasal 42 ayat 1 dengan menyatakan bahwa para pihak memberikan kebebasan untuk
menentukan hukum yang akan diterapkan, baik hukum nasional maupun hukum
Internasional.

Apabila dalam perjanjian tidak mencantumkan pilihan hukum, maka pengadilan atau
lembaga arbitrase harus mempertimbangkan faktor-faktor untuk menentukan negara mana
yang paling signifikan (the country most significantly connected), yaitu:
1. Lex loci contractus;
2. Lex loci solutionis;
3. The proper law of the contract;
4. The most characteristic connection.

Selain harus menentukan pilihan hukum, dalam perjanjian penanaman modal asing
juga harus ditentukan mengenai pilihan hukum. Pilihan forum adalah lembaga atau badan
yang dipilih para pihak sebagai badan atau lembaga yang berwenang untuk menyelesaikan
perselisihan yang terjadi.
Menurut Yansen Darmanto Latip pilihan yurisdiksi (forum) adalah mengenai badan mana
yang berwenang memeriksa atau mengadili perselisihan yang terjadi.

Pilihan yurisdiksi (forum) di suatu negara tidak berarti hukum yang berlaku adalah
hukum dari yurisdiksi (forum) yang dipilih tersebut atau sebaliknya, dimana pilihan hukum
suatu negara tidak berarti pengadilan negara tersebut yang mempunyai kompetensi
memeriksa dan mengadili perselisihan.

Pilihan forum ini dituangkan dalam bentuk klausula arbitrase dalam perjanjian
penanaman modal asing. Klausula arbitrase ini merupakan perjanjian tambahan yang disebut
dengan perjanjian accesoir.

Adanya klausula tambahan ini tidak menghalangi pemenuhan pelaksanaan perjanjian


pokok, karenanya batal atau cacatnya perjanjian ini tidak menyebabkan batal atau cacatnya
perjanjian pokok.
Perbedaannya perjanjian pokok dapat berdiri sendiri tanpa adanya perjanjian tambahan,
sedangkan tanpa adanya perjanjian pokok para pihak tidak mungkin mengadakan perjanjian
arbitrase. Hal ini berlaku sebelum diundangkannya UU Nomor 30 Tahun 1999. Setelah
diundangkannya UU Nomor 30 Tahun 1999, suatu perjanjian arbitrase tidak akan menjadi
batal karena disebabkan berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok, oleh karena itu
perjanjian arbitrase ini dapat berdiri sendiri tanpa adanya perjanjian pokok.

Pada saat ini hampir semua transaksi dan perjanjian joint vanture (penanaman modal)
selalu memasukkan klausula arbitrase. Akan tetapi tetap harus diingat bahwa kalusula
arbitrase tersebut dilakukan harus berdasarkan kesepakatan bersama (mutual consent) dan
memenuhi ketentuan Pasal 1320 BW. Selain itu juga harus dibuat secara tertulis. Ada dua
bentuk klausula arbitrase, yaitu:
1. Pactum De Compromittendo;
Sebelum berlakunya UU Nomor 30 Tahun 1999, bentuk klausula ini diatur dalam Pasal 615
ayat (3) RV dan Pasal II Konvensi New York 1958. klausula ini dibuat oleh para pihak
sebelum terjadinya sengketa. Dalam UU Nomor 30 Tahun 1999 dibentuk klausula ini diatur
dalam Pasal 7, yang berbunyi sebagai berikut:
“Para pihak dapat menyetujui suatu sengketa yang terjadi atau yang akan terjadi antara
mereka untuk diselesaikan melalui arbitrase”.
Klausula Pactum De Compromittendo dapat dibuat dengan dua cara , yaitu:
a. Dengan mencantumkan klausula arbitrase yang bersangkutan dalam perjanjian pokok;
b. Klausula Pactum De Compromittendo dibuat terpisah dalam akta tersebut.
2. Akta Kompromis
Bentuk klausula ini diatur dalam Pasal 618 RV dan Pasal II ayat (1) Konvensi New York
1958. klausula ini dibuat setelah timbulnya sengketa antara para pihak. Dalam UU Nomor 30
Tahun 1999 bentuk klausula ini diatur dalam Pasal 9 ayat (1) yang berbunyi:
“ (1) Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah sengketa
terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang
ditandatangani oleh para pihak.
(2) Dalam hal para pihak tidak dapat menandatangani perjanjian tertulis sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), perjanjian tertulis tersebut harus dibuat dalam bentuk akta notaris.
(3) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memuat:
a. masalah yang dipersengketakan;
b. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak;
c. nama lengkap dan tempat tinggal arbiter atau majelis arbitrase;
d. tempat arbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan;
e. nama lengkap sekretaris;
f. jangka waktu penyelesaian sengketa;
g. pernyataan kesediaan dari arbiter; dan
h. pernyataan kesediaan dari pihak yang bersengketa untuk menanggung segala biaya yang
diperlukan untuk penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
(4) Perjanjian tertulis yang tidak memuat hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) batal
demi hukum.

Perbedaan bentuk klausula Pactum De Compromittendo dengan akta Kompromis


hanya terletak pada saat pembuatan perjanjian. Pactum De Compromittendo dibuat sebelum
perselisihan terjadi sedangkan akta Kompromis dibuat setelah terjadi sengketa.
Dalam praktek, ada beberapa bentuk standar klausula arbitrase yang dapat dipergunakan,
misalnya:
1. Standar klausula Arbitrase ICSID
”The parties here to consent to submit to the International Centre for Settlement of
Investment Disputes any dispute in realition to or arising out of this Agreetment for
Settlement by Arbitration pursuant to the Convention on the Settlement of Investment
Disputes between States and Nationals of other States”.
2. Standar klausula Arbitrase UNCITRAL
“Any dispute, controversy or claim arising out of or relating to this contract, or the breach,
termination or invalidity thereof, shall be settled by arbitration in accordance with the
UNCITRAL Arbitration Rules at the present in force”.
3. Standar Klausula Arbitrase ICC
“Any Disputes in Conection with the present contract shall be finally settled under the rules
of Consiliation and Arbitration or the International Chamber of Commerce by one more
Arbitrators appointed in accordance with the said Rules.”
4. Standar Klausula BANI
“Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini akan diselesaikan dalam tingkat pertama dan
terakhir menurut peraturan prosedur BANI oleh Arbitrase yang ditunjuk menurut peraturan
tersebut.”
5. Arbitration Clause ICSID di Indonesia
Klausula ini dirumuskan oleh BKPM dan saran dari Team Teknis Penanaman Modal.
“Bilamana dikemudian hari timbul perselisihan dan persengketaan antara perusahaan (yang
menanam modal) dan pemerintah, maka permasalahan ini akan diajukan kepada ICSID di
dalam badan mana Pemerintah Republik Indonesia dan .... (negara investor) menjadi
anggotanya. Segala keputusan yang diambil centre tersebut di atas akan mengikat pihak-
pihak yang berselisihan dan bersengketa.”

Klausula Arbitrase penting dicantumkan dalam penanaman modal asing, untuk


memudahkan dalam menentukan forum mana yang akan dipergunakan jika suatu hari timbul
sengketa, apakah forum pengadilan atau lembaga Arbitrase. Berdasarkan ketentuan Pasal 7
dan 9 UU Nomor 30 Tahun 1999 klausula Arbitrase harus dibuat secara tertulis dan
ditandatangani oleh para pihak serta dibuat dalam bentuk akta notaris.

Dengan demikian bilama terjadi sengketa antara investor asing dengan partner lokal
maupun antara investor asing dengan pemerintah Republik Indonesia, klausul yang harus
diperiksa dalam joint venture agreement adalah apakah pilihan forumnya memilih dan
menunjuk arbitrase sebagai lembaga penyelesaian sengketa. Selanjutnya diteliti klausul
pilihan hukum dalam joint venture agreement yang bersangkutan, apakah akan diperiksa dan
dinilai berdasarkan hukum Indonesia ataukah tidak.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah hukum acaranya (rules procedure), mulai dari
pendaftaran dan pengajuan, pemeriksaan sampai dengan keluarnya putusan.

Hambatan para investor untuk melakuan investasi pada suatu negara sangat
dipengaruhi budaya hukum. Faktor yang paling mendasar yang menyebabkan keraguan para
investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia adalah faktor kepercayaan terhadap
kekuatan hukum dan buruknya pengelolaan perusahaan (corporate governance).

Masalah yang paling serius dikeluhkan para investor adalah masalah penegakan
hukum. Para investor sangat membutuhkan adanya kepastian hukum yang diwujudkan
melalui kepatuhan terhadap kontrak atau kerjasama yang telah dibuat serta adanya kepastian
tentang mekanisme penyelesaian jika terjadi sengketa. Peranan hukum dalam mendorong
penanaman modal asing sangat diperlukan untuk menciptakan kepastian hukum.

Ketidakpastian hukum dapat tercermin juga dari adanya inkonsistensi pemerintah


Republik Indonesia maupun pengadilan Indonesia, terhadap penerimaan dan pengakuan
putusan dari badan/dewan atau lembaga arbitrase internasional. Inkonsistebsi tersebut terlihat
dari sikap Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menerima dan mengabulkan pembatalan
putusan arbitrase internasional, dengan alasan bertentangan dengan kepentingan dan
ketertiban umum di dan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia (perkara Pertamina
melawan Karaha Bodas Company LL.C). Tapi untunglah putusan Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat tersebut dikoreksi dan sekaligus dibatalkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia
dalam tingkat kasasi, dengan menyatakan bahwa pengadilan Indonesia tidak berwenang
memeriksa dan mengadili gugatan pembatalan putusan badan/dewan atau lembaga arbitrase
internasional, dan pengadilan yang berwernang memeriksa dan membatalkan suatu putusan
badan/dewan atau lembaga arbitrase internasional adalahpengadilan dari negara mana
putusan badan/dewan atau lembaga arbitrase internasional tersebut diperiksa dan diputuskan.
D. PENUTUP.

Dari keseluruhan uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Pertama arbitrase dapat merupakan sengketa yang efektif dalam penyelesaian sengketa
penanaman modal, baik sengketa antra investor asing dengan partner lokal, maupun antara
investor asing dengan pemerintah tuan rumah (host country).

Kedua Masalah inkonsisensi Indonesia terhadap pelaksanaan putusan arbitrase


internasional khususnya atas dasar dan alasan bahwa putusan arbitrase internsional dimaksud
tersebut bertentangan dengan Ketertiban Umum haruslah dicermati, karena dapat
menimbulkan ketidakpastian hukum di Indonesia, yang pada akhirnya akan mengakibatkan
investor asing enggan melakukan penanaman modal di Indonesia, khususnya industri yang
padat karya dan menyerap tenaga kerja lokal.