Anda di halaman 1dari 33

Kehamilan Ektopik Terganggu

Definisi
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/ nidasi/ melekatnya buah
kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang disebut
sebagai kehamilan ektopik terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus
ruptur pada dinding tuba.
Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar
penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa
faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu :
1. Faktor mekanis
Hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang dibuahi ke dalam
kavum uteri, antara lain:
Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan mukosa
tuba

dengan

penyempitan

saluran

atau

pembentukan

kantong-kantong

buntu.Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan


implantasi hasil zigot pada tuba falopii.
Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca nifas, apendisitis, atau
endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan lumen
Kelainan

pertumbuhan

tuba,

terutama

divertikulum,

ostium

asesorius

dan

hipoplasi.Namun ini jarang terjadi.


Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha untuk
memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi
Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada adneksia
Penggunaan IUD

2. Faktor Fungsional
Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus perkembangan duktus mulleri yang
abnormal

Refluks menstruasi
Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan progesterone
3. Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.
4. Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya .

Klasifikasi
Sarwono Prawirohardjo dan Cuningham masing-masing dalam bukunya
mengklasifikasikan kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain:

1. Tuba Fallopii
a) Pars-interstisialis
b) Isthmus
c) Ampula
d) Infundibulum
e) Fimbrae

2. Uterus
a.Kanalis servikalis
b) Divertikulum
c) Kornu
d) Tanduk rudimenter
3. Ovarium
4. Intraligamenter
5. Abdominal
a) Primer
b) Sekunder

6. Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus.

Gambar 2. 2 Gambar lokasi Kehamilan Ektopik.

Epidemiologi

Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun
dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 20-30
tahun dengan sosio-ekonomi rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan
prevalensi tuberkulosa yang tinggi. Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul dapat
meningkatkan kejadian kehamilan ektopik terganggu.
Diantara kehamilan-kehamilan ektopik terganggu, yang banyak terjadi ialah pada daerah
tuba (90%). Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi tetapi
perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba terganggu sehingga menghambat
perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke rahim dan berimplantasi ke tuba.Penelitian
Cunningham Di Amerika Serikat melaporkan bahwa kehamilan etopik terganggu lebih sering
dijumpai pada wanita kulit hitam dari pada kulit putih karena prevalensi penyakit peradangan
pelvis lebih banyak pada wanita kulit hitam.
Frekuensi kehamilan ektopik terganggu yang berulang adalah 1-14,6%. Di negara-negara
berkembang, khususnya di Indonesia, pada RSUP Pringadi Medan (1979-1981) frekuensi 1:139,

dan di RSUPN Cipto Magunkusumo Jakarta (1971-1975) frekuensi 1:24, sedangkan di RSUP.
DR. M. Djamil Padang (1997-1999) dilaporkan frekuensi 1:110.Kontrasepsi IUD juga dapat
mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadappersalinan di rumah sakit.
Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa faktor predisposisi untukkehamilan ektopik
membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah persalinan turun,dan frekuensi
kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relatif meningkat. Selain itu IUDdapat mencegah
secara

efektif

kehamilan

intrauterin,

tetapi

tidak

mempengaruhi

kejadiankehamilan

ektopik.Menurut penelitian Abdullah dan kawan-kawan (1995-1997) ternyata paritas 0-3


ditemukanpeningkatan kehamilan ektopik terganggu. Pada paritas >3-6 terdapat penurunan kasus
kehamilan ektopik terganggu.Cunningham dalam bukunya menyatakan bahwa lokasi kehamilan
ektopik terganggu palingbanyak terjadi di tuba (90-95%), khususnya di ampula tuba (78%) dan
isthmus (2%). Pada daerah fimbrae (5%), intersisial (2-3%), abdominal (1-2%), ovarium (1%),
servikal (0,5%).

Patogenesis

Proses implantasi ovum di tuba pada dasarnya sama dengan yang terjadi di kavum uteri.
Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara kolumnar telur
bernidasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh
kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan direabsorbsi. Pada nidasi
interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka
ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan
pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba malahan kadang-kadang sulit dilihat vili
khorealis menembus endosalping dan masuk kedalam otot-otot tuba dengan merusak jaringan
dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya tergantung dari beberapa faktor, yaitu;
tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi
trofoblas. Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari korpus luteum graviditi
dan tropoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua.
Beberapa perubahan pada endometrium yaitu; sel epitel membesar, nukleus hipertrofi,
hiperkromasi, lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang abnormal

mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi seperti buih dan
dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium secara keseluruhan disebut
sebagai reaksi Arias-Stella. Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi
kemudian dikeluarkan secara utuh atau berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada
kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degeneratif.
Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu.
Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh
seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah :

1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi


Pada implantasi secara kolumna, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi yang
kurang dan dengan mudah diresobsi total.
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena terbukanya dinding pembuluh darah oleh vili korialis
pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut
bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Segera setelah perdarahan, hubungan antara
plasenta serta membran terhadap dinding tuba terpisah bila pemisahan sempurna, seluruh hasil
konsepsi dikeluarkan melalui ujung fimbrae tuba ke dalam kavum peritonium. Dalam keadaan
tersebut perdarahan berhenti dan gejala-gejala menghilang.
3.Ruptur dinding tuba
Penyebab utama dari ruptur tuba adalah penembusan dinding vili korialis ke dalam lapisan
muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur tuba sering terjadi bila ovum yang dibuahi
berimplantasi pada isthmus dan biasanya terjadi pada kehamilan muda. Sebaliknya rupture yang
terjadi pada pars-intersisialis pada kehamilan lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi secara spontan,
atau yang disebabkan trauma ringan seperti pada koitus dan pemeriksaan vagina.

Gambaran Klinik
Gambaran klinik dari kehamilan ektopik terganggu tergantung pada lokasinya. Tanda dan
gejalanya sangat bervariasi tergantung pada ruptur atau tidaknya kehamilan tersebut. Adapun
gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium antara lain :

a. Keluhan gastrointestinal

Keluhan yang paling sering dikemukakan oleh pasien kehamilan ektopik terganggu
adalah nyeri pelvis. Dorfman menekankan pentingnya keluhan gastrointestinal dan vertigo atau
rasa pening. Semua keluhan tersebut mempunyai keragaman dalam hal insiden terjadinya akibat
kecepatan dan taraf perdarahannya di samping keterlambatan diagnosis.

b. Nyeri tekan abdomen dan pelvis

Nyeri tekan yang timbul pada palpasi abdomen dan pemeriksaan, khususnya dengan
menggerakkan servik, dijumpai pada lebih dari tiga per empat kasus kehamilan ektopik sudah
atau sedang mengalami ruptur, tetapi kadang-kadang tidak terlihat sebelum rupture terjadinya.

c. Amenore

Riwayat amenore tidak ditemukan pada seperempat kasus atau lebih. Salah satu sebabnya
adalah karena pasien menganggap perdarahan pervaginam yang lazim pada kehamilan ektopik
sebagai periode haid yang normal, dengan demikian memberikan tanggal haid terakhir yang
keliru.

d. Spotting atau perdarahan vaginal

Selama fungsi endokrin plasenta masih bertahan, perdarahan uterus biasanya tidak
ditemukan, namun bila dukungan endokrin dari endometrium sudah tidak memadai lagi, mukosa

uterus akan mengalami perdarahan. Perdarahan tersebut biasanya sedikit-sedikit, bewarna


cokelat gelap dan dapat terputus-putus atau terus-menerus.

e. Perubahan Uterus

Uterus pada kehamilan etopik dapat terdorong ke salah satu sisi oleh masa ektopik
tersebut. Pada kehamilan ligamentum latum atau ligamentum latum terisi darah, uterus dapat
mengalami pergeseran hebat. Uterine cast akan dieksresikan oleh sebagian kecil pasien,mungkin
5% atau 10% pasien. Eksresi uterine cast ini dapat disertai oleh gejala kram yang serupa dengan
peristiwa ekspulsi spontan jaringan abortus dari kavum uteri.

f. Tekanan darah dan denyut nadi


Reaksi awal pada perdarahan sedang tidak menunjukkan perubahan pada denyut nadi dan
tekanan darah, atau reaksinya kadang-kadang sama seperti yang terlihat pada tindakan flebotomi
untuk menjadi donor darah yaitu kenaikan ringan tekanan darah atau respon vasovagal disertai
bradikardi serta hipotensi.
g. Hipovolemi
Penurunan nyata tekanan darah dan kenaikan denyut nadi dalam posisi duduk merupakan
tanda yang paling sering menunjukkan adanya penurunan volume darah yang cukup banyak.
Semua perubahan tersebut mungkin baru terjadi setelah timbul hipovolemi yang serius.
h. Suhu tubuh

Setelah terjadi perdarahan akut, suhu tubuh dapat tetap normal atau bahkan menurun.
Suhu yang lebih tinggi jarang dijumpai dalam keadaan tanpa adanya infeksi. Karena itu panas
merupakan gambaran yang penting untuk membedakan antara kehamilan tuba yang mengalami
ruptura dengan salpingitis akut, dimana pada keadaan ini suhu tubuh umumnya diatas 38oC.

i. Masa pelvis

Masa pelvis dapat teraba pada 20% pasien. Masa tersebut mempunyai ukuran,
konsistensi serta posisi yang bervariasi. Biasanya masa ini berukuran 5-15 cm, sering teraba
lunak dan elastis. Akan tetapi dengan terjadinya infiltrasi dinding tuba yang luas oleh darah masa
tersebut dapat teraba keras. Hampir selalu masa pelvis ditemukan di sebelah posterior atau lateral
uterus. Keluhan nyeri dan nyeri tekan kerap kali mendahului terabanya masa pelvis dalam
tindakan palpasi.

j. Hematokel pelvic

Pada kehamilan tuba, kerusakan dinding tuba yang terjadi bertahap akan diukuti oleh
perembesan darah secara perlahan-lahan ke dalam lumen tuba, kavum peritonium atau keduanya.
Gejala perdarahan aktif tidak terdapat dan bahkan keluhan yang ringan dapat mereda, namun
darah yang terus merembes akan berkumpul dalam panggul, kurang lebih terbungkus dengan
adanya perlekatan dan akhirnya membentuk hematokel pelvis.

Gejala-gejala kehamilan ektopik terganggu beraneka ragam, sehingga pembuatan


diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesulitan, khususnya pada kasus-kasus kehamilan
ektopik yang belum mengalami atau ruptur pada dinding tuba sulit untuk dibuat diagnosis.
Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis kehamilan ektopik :
1. HCG-
Pengukuran subunit beta dari HCG- (Human Chorionic GonadotropinBeta) merupakan tes laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini
dapat membedakan antara kehamilan intrauterin dengan kehamilan ektopik.
2. Kuldosintesis
Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya darah yang diisap
berwarna hitam(darah tua) biar pun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum
Douglasi.
3. Dilatasi dan Kuretase

Biasanya kuretase dilakukan apabila sesudah amenore terjadi perdarahan


yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping uterus.
4. Laparaskopi
Laparaskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis terakhir apabila
hasil-hasil penilaian prosedur diagnostik lain untuk kehamilan ektopik terganggu
meragukan. Namun beberapa dekade terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi.
5. Ultrasonografi
Keunggulan cara pemerikssan ini terhadap laparoskopi ialah tidak invasif,
artinya tidak perlu memasukkan rongga dalam rongga perut. Dapat dinilai kavum
uteri, kosong atau berisi, tebal endometrium, adanya massa di kanan kiri uterus
dan apakah kavum Douglas berisi cairan.

Gambar 2.3 Ultrasonografi Pada KET

6. Tes Oksitosin
Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan
adanya kehamilan ektopik lanjut. Dengan pemeriksaan bimanual, di luar kantong
janin dapat diraba suatu tumor.
7. Foto Rontgen
Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak
paksa. Pada foto lateral tampak bagian-bagian janin menutupi vertebra Ibu.
8. Histerosalpingografi
Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa,
dengan janin diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis kehamilan
ektopik terganngu sudah dipastikan dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI
(Magnetic Resonance Imagine) Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri
abdomen, perdarahan vagina abnormal, dan amenore.

Diagnosis Diferensial
Yang perlu dipikirkan sebagai diagnosis diferensial adalah :

1. Infeksi pelvis
Gejala yang menyertai infeksi pelvik biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah
mengenai amenore. Nyeri perut bagian bawah dan tahanan yang dapat diraba pada pemeriksaaan
vaginal pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvik perbedaan suhu rektal dan ketiak melebihi
0,5 0C, selain itu leukositosis lebih tinggi daripada kehamilan ektopik terganggu dan tes
kehamilan menunjukkan hasil negatif.
2. Abortus iminens/ Abortus inkomplit
Dibandingkan dengan kehamilan ektopik terganggu perdarahan lebih merah sesudah
amenore, rasa nyeri yang sering berlokasi di daerah median dan adanya perasaan subjektif
penderita yang merasakan rasa tidak enak di perut lebih menunjukkan ke arah abortus imminens

10

atau permulaan abortus incipiens. Pada abortus tidak dapat diraba tahanan di samping atau di
belakang uterus, dan gerakan servik uteri tidak menimbulkan rasa nyeri.
3. Tumor/ Kista ovarium
Gejala dan tanda kehamilan muda, amenore, dan perdarahan pervaginam biasanya tidak ada.
Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat dibanding kehamilan ektopik terganggu.
4. Appendisitis
Pada apendisitis tidak ditemukan tumor dan nyeri pada gerakan servik uteri seperti yang
ditemukan pada kehamilan ektopik terganggu. Nyeri perut bagian bawah pada apendisitis
terletak pada titik McBurney.

Terapi

Pada kehamilan ektopik terganggu, walaupun tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa
penderita, dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi sebaiknya tetap dilakukan tindakan operasi.
Kekurangan dari terapi konservatif (non-operatif) yaitu walaupun darah berkumpul di rongga
abdomen lambat laun dapat diresorbsi atau untuk sebagian dapat dikeluarkan dengan kolpotomi
(pengeluaran melalui vagina dari darah di kavum Douglas), sisa darah dapat menyebabkan
perlekatan-perlekatan dengan bahaya ileus. Operasi terdiri dari salpingektomi ataupun
salpingoooforektomi.
Jika penderita sudah memiliki anak cukup dan terdapat kelainan pada tuba tersebut dapat
dipertimbangkan untuk mengangkat tuba. Namun jika penderita belum mempunyai anak, maka
kelainan tuba dapat dipertimbangkan untuk dikoreksi supaya tuba berfungsi.
Tindakan laparatomi dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan dalam divertikulum
uterus, kehamilan abdominal dan kehamilan tanduk rudimenter. Perdarahan sedini mungkin
dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksia yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan
umum penderita terus diperbaiki dan darah dari rongga abdomen sebanyak mungkin dikeluarkan.
Serta memberikan transfusi darah.
Untuk kehamilan ektopik terganggu dini yang berlokasi di ovarium bila dimungkinkan
dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan maka dapat dilakukan tindakan sistektomi
ataupun oovorektomi. Sedangkan kehamilan ektopik terganggu berlokasi di servik uteri yang

11

sering mengakibatkan perdarahan dapat dilakukan histerektomi, tetapi pada nulipara yang ingin
sekali mempertahankan fertilitasnya diusahakan melakukan terapi konservatif.

.
Prognosis

Angka kematian ibu yang disebabkan oleh kehamilan ektopik terganggu turun sejalan
dengan ditegakkannya diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Kehamilan ektopik
terganggu yang berlokasi di tuba pada umumnya bersifat bilateral. Sebagian ibu menjadi steril
(tidak dapat mempunyai keturunan) setelah mengalami keadaan tersebut diatas, namun dapat
juga mengalami kehamilan ektopik terganggu lagi pada tuba yang lain.
Ibu yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu, mempunyai resiko 10% untuk
terjadinya kehamilan ektopik terganggu berulang. Ibu yang sudah mengalami kehamilan ektopik
terganggu sebanyak dua kali terdapat kemungkinan 50% mengalami kehamilan ektopik
terganggu berulang. Ruptur dengan perdarahan intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas
wanita. Dalam kasus-kasus kehamilan ektopik terganggu terdapat 50-60% kemungkinan wanita
steril. Dari sebanyak itu yang menjadi hamil kurang lebih 10% mengalami kehamilan ektopik
berulang.

Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi


perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi
sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut
sebanyak mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus
dipertimbangkan yaitu : kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi
reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan
salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan
pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif). Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus
menandakan masih adanya jaringan ektopik yang belum terangkat.

12

Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen, atau
kalau dicurigai ada infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi. Sisa-sisa darah
dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus
dirawat inap di rumah sakit.

Komplikasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :


-

Pada pengobatan konservatif, yaitu bila kehamilan ektopik terganggu telah lama berlangsung
(4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, Ini merupakan indikasi operasi.

Infeksi

Sterilitas

Pecahnya tuba falopi

Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya embrio.

Diagnosa Banding Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

Diagnosa banding :
-

Infeksi pelvic,

Kista folikel,

Abortus biasa,

Radang panggul,

Torsi kita ovarium,dan

Endometriosis.

13

MOLA HIDATIDOSA

DEFINISI
Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dimana seluruh villi korialisnya mengalami
perubahan hidrofobik. Mola hidatidosa juga dihubungkan dengan edema vesikular dari vili
khorialis plasenta dan biasanya tidak disertai fetus yang intak. Secara histologist, ditemukan
proliferasi trofoblast dengan berbagai tingkatan hiperplasia dan displasia. Vili khorialis terisi
cairan, membengkak, dan hanya terdapat sedikit pembuluh darah.
Mola hidatidosa dapat dibagi menjadi dua kategori, antara lain mola hidatidosa komplit
dan mola hidatidosa parsial. Mola hidatidosa komplit tidak berisi jaringan fetus, di mana 90%
biasanya terdiri dari kariotipe 46,XX dan 10% terdiri dari kariotipe 46,XY. Semua kromosomnya
berasal dari sisi paternal. Ovum yang tidak bernukleus akan mengalami fertilisasi oleh sperma
haploid yang kemudian berduplikasi sendiri, atau satu telur dibuahi oleh dua sperma. Pada mola
yang komplit, vili khoriales memiliki ciri seperti buah angur,dan terdapat hiperplasia
tropoblastik. Sedangkan, pada mola hidatidosa parsial, terdapat jaringan fetus. Eritrosit fetus dan
pembuluh darah di vili khorialis masih sering didapatkan. Vili khorialis terdiri dari berbagai
ukuran dan bentuk dengan stroma tropoblastik yang menonjol dan berkelok-kelok .
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi mola hidatidosa lebih tinggi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin jika
dibandingkan dengan negara-negara barat. Di negara-negara barat dilaporkan 1:200 atau 2000
kehamilan, sedangkan di negara-negara berkembang sebesar 1:100 atau 600 kehamilan. Insidensi
di Indonesia dilaporkan mencapai 1:85 kehamilan (Soejonoes) dan di RS Dr. Cipto
Mangunkusumo, Jakarta sebesar 1:31 persalinan dan 1:49 kehamilan.
Pada pasien dengan mola hidatidosa, 20% kasus berkembang menjadi keganasan
trophoblastik. Setelah mola sempurna berkembang, invasi uterus terjadi pada 15% pasien dan

14

metastasis terjadi pada 4% kasus. Tidak ada kasus koriokarsinoma yang dilaporkan berasal dari
mola parsial, walaupun pada 4% pasien, mola parsial dapat berkembang menjadi penyakit
trofoblastik gestasional persisten nonmetastatik yang membutuhkan kemoterapi.
Insiden kehamilan mola beragam diantara kelompok-kelompok etnis dan biasanya
tertinggi pada negara-negara Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Timur. Mola hidatidosa
biasanya lebih sering dijumpai pada wanita usia reproduksi, yakni usia 15 hingga 45 tahun, di
mana wanita pada umur remaja muda atau premenopausal yang paling beresiko. Wanita dengan
umur 35 tahun keatas memiliki peningkatan resiko 3 kali lipat. Wanita dengan usia lebih dari 40
tahun mengalami peningkatan sebanyak 7 kali lipat jika dibandingkan dengan wanita yang lebih
muda. Peran graviditas, paritas, faktor reproduksi lain, status estrogen, kontrasepsi oral, dan
faktor makanan dalam resiko penyakit trofoblastik gestasional masih belum jelas. Kekambuhan
mola hidatidosa dijumpai pada sekitar 1 2% kasus. Dalam suatu kajian terhadap 12 penelitian
yang total mencakup hampir 5.000 persalinan, frekuensi mola rekuren adalah 1,3% (Lorret de
mola dan Goldfarb).

ETIOLOGI
Penyebab pasti mola hidatidosa tidak diketahui, tetapi faktor-faktor yang mungkin dapat
menyebabkan dan mendukung terjadinya mola, antara lain:
1. Faktor ovum, di mana ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi
terlambat dikeluarkan
2. Imunoselektif dari trofoblast
3. Keadaan sosioekonomi yang rendah
4. Paritas tinggi
5. Kekurangan protein
6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

15

PATOFISIOLOGI
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum, sesudah
keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal
terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu,
uterus bertambah besar, tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar
sampai

keluar

pelvis,

masuk

ke

dalam

rongga

abdomen

pada

masa

fetus.

Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Tetapi dalam
kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.
Demikian pula dengan penyakit trofoblast, yang merupakan kegagalan reproduksi. Di sini
kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang menjadi
keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan, berupa degenerasi
hidrofik dari jonjot karion, sehingga menyerupai gelembung yang disebut mola hidatidosa.
Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung gelembung berisi cairan jernih merupakan kista
kista kecil seperti anggur dan dapat mengisi seluruh cavum uteri. Secara histopatologik
kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi
kehamilan ganda mola, yaitu satu jenis tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa.
Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter lebih dari 1
cm 5. Pada ummnya penderita mola hidatidosa akan menjadi baik kembali, tetapi ada
diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma.
Teori terjadinya penyakit trofoblas ada 2, yaitu teori missed abortion dan teori
neoplasma. Teori missed abortion menyatakan bahwa mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu
(missed abortion) karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan
cairan dalam jaringan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
Teori neoplasma menyatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas dan juga fungsinya
dimana terjadi resorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung. Hal ini
menyebabkan

gangguan

peredaran

darah

dan

kematian

mudigah.

16

KLASIFIKASI
MOLA HIDATIDOSA SEMPURNA
Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel vesikel jernih. Ukuran vesikel
bervariasi dari yang sulit dilihat, berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering
berkelompok-kelompok menggantung pada tangkai kecil. Temuan Histologik ditandai oleh
adanya, antara lain:

Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan stroma vilus

Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak

Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi

Tidak adanya janin dan amnion


Mola sempurna tidak memiliki jaringan fetus. 90% merupakan genotip 46XX dan sisanya

46XY. Vili korionik berubah menjadi suatu massa vesikel-vesikel jernih. Mola sempurna dapat
dibagi atas 2 jenis, yaitu :
Mola Sempurna Androgenetic
Homozygous
Merupakan 80% dari kejadian mola sempurna. Dua komplemen kromosom paternal
identik, didapatkan dari duplikasi kromosom haploid seluruhnya dari ayah. Selalu perempuan;
46,YY tidak pernah ditemukan

Heterozygous
Merupakan 20% dari kejadian mola sempurna. Dapat laki-laki atau perempuan. Semua
kromosom berasal dari kedua orang tua, kemungkinan besar terjadi karena pembuahan dua
sperma.

17

Mola Sempurna Biparental


Genotip ayah dan ibu terlihat, tetapi gen maternal gagal mempengaruhi janin sehingga
hanya gen paternal yang terekspresi. Mola sempurna biparental jarang ditemukan. Bentuk
rekuren mola biparental (yang merupakan familial dan sepertinya diturunkan sebagai autosomal
resesif) pernah ditemukan. Telah ditemukan daerah kromosom yang menjadi calon yaitu 19q13.
Presentasi klinis yang tipikal pada kehamilan mola sempurna dapat didiagnosis pada trimester
pertama sebelum onset gejala dan tanda muncul. Gejala yang paling sering terjadi pada mola
sempurna yaitu perdarahan vagina. Jaringan mola terpisah dari desidua dan menyebabkan
perdarahan. Uterus dapat menjadi membesar akibat darah yang jumlahnya besar dan cairan
merah gelap dapat keluar dari vagina. Gejala ini terjadi pada 97% kasus mola hidatidosa. Pasien
juga melaporkan mual dan muntah yang hebat. Ini diakibatkan peningkatan kadar human
chorionic gonadotropin (HCG). Sekitar 7% pasien juga datang dengan takikardia, tremor, dan
kulit hangat.

MOLA HIDATIDOSA PARSIAL


Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang berkembang, dan mungkin
tampak sebagai jaringan janin. Terjadi perkembangan hidatidosa yang berlangsung lambat pada
sebagian villi yang biasanya avaskular, sementara villi-villi berpembuluh lainnya dengan
sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena. Pasien dengan mola parsial tidak
memiliki manifestasi klinis yang sama pada mola sempurna. Pasien ini biasanya datang dengan
tanda dan gejala yang mirip dengan aborsi inkomplit atau missed abortion yakni Perdarahan
vagina dan hilangnya denyut jantung janin, Pada mola parsial, jaringan fetus biasanya
didapatkan, eritrosit dan pembuluh darah fetus pada villi merupakan penemuan yang seringkali
ada. Komplemen kromosomnya yaitu 69,XXX atau 69,XXY. Ini diakibatkan dari fertilisasi
ovum haploid dan duplikasi kromosom haploid paternal atau akibat pembuahan dua sperma.
Tetraploidi juga biasa didapatkan. Seperti pada mola sempurna, ditemukan jaringan trofoblastik
hyperplasia dan pembengkakan villi chorionic.

18

MANIFESTASI KLINIS
a. Amenorrhoe dan tanda-tanda kehamilan.
b. Perdarahan

pervaginam

dari

bercak

sampai

perdarahan

berat.

merupakan

gejala utama dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama
berapa

minggu

sampai

beberapa

bulan

sehingga

dapat

menyebabkan

anemia defisiensi besi.


c. Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia
kehamilan.
d. Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan janin maupun ballottement.
e. Hiperemesis, pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat.
f. Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke-24
g. Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
h. Gejala Tirotoksikosis

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium, USG dan histologis. Pada mola hidatidosa yang komplet terdapat tanda dan gejala
klasik yakni:
a. Perdarahan vaginal. Gejala klasik yang paling sering pada mola komplet adalah
perdarahan vaginal. Jaringan mola terpisah dari desidua, menyebabkan perdarahan.
Uterus membesar (distensi) oleh karena jumlah darah yang banyak, dan cairan gelap bisa
mengalir melalui vagina. Gejala ini terdapat dalam 97% kasus.
b. Hiperemesis. Penderita juga mengeluhkan mual dan muntah yang berat. Hal ini
merupakan akibat dari peningkatan secara tajam hormon -HCG.
c. Hipertiroid. Setidaknya 7% penderita memiliki gejala seperti takikardi, tremor dan kulit
yang hangat.

19

Kebanyakan mola sudah dapat dideteksi lebih awal pada trimester awal sebelum terjadi
onset gejala klasik tersebut, akibat terdapatnya alat penunjang USG yang beresolusi tinggi.
Gejala mola parsial tidak sama seperti komplet mola. Penderita biasanya hanya mengeluhkan
gejala seperti terjadinya abortus inkomplet atau missed abortion, seperti adanya perdarahan
vaginal dan tidak adanya denyut jantung janin. Dari pemeriksaan fisik pada kehamilan mola
komplet didapatkan umur kehamilan yang tidak sesuai dengan besarnya uterus (tinggi fundus
uteri). Pembesaran uterus yang tidak konsisten ini disebabkan oleh pertumbuhan trofoblastik
yang eksesif dan tertahannya darah dalam uterus. Didapatkan pula adanya gejala preeklamsia
yang terjadi pada 27% kasus dengan karakteristik hipertensi ( TD > 140/90 mmHg), protenuria
(> 300 mg.dl), dan edema dengan hiperefleksia. Kejadian kejang jarang didapatkan. Kista theca
lutein, yakni kista ovarii yang diameternya berukuran > 6 cm yang diikuti oleh pembesaran
ovarium. Kista ini tidak selalu dapat teraba pada pemeriksaan bimanual melainkan hanya dapat
diidentifikasi dengan USG. Kista ini berkembang sebagai respon terhadap tingginya kadar beta
HCG dan akan langsung regresi bila mola telah dievakuasi.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain kadar beta HCG yang normal. Bila
didapatkan > 100.000 mIU/mL merupakan indikasi dari pertumbuhan trofoblastik yang banyak
sekali dan kecurigaan terhadap kehamilan mola harus disingkirkan. Anemia merupakan
komplikasi yang sering terjadi disertai dengan kecenderungan terjadinya koagulopati.sehingga
pemeriksaan darah lengkap dan tes koagulasi dilakukan. Dilakukan juga pemeriksaan tes fungsi
hati, BUN dan kreatinin serta thyroxin dan serum inhibin A dan activin.
Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan standar untuk mengidentifikasi
kehamilan mola. Dari gambaran USG tampak gambaran badai salju (snowstorm) yang
mengindikasikan vili khoriales yang hidropik. Dengan resolusi yang tinggi didapatkan massa
intra uterin yang kompleks dengan banyak kista yang kecil-kecil. Bila telah ditegakkan diagnosis
mola hidatidosa, maka pemeriksaan rontgen pulmo harus dilakukan karena paru - paru
merupakan tempat metastasis pertama bagi PTG.
Pemeriksaan histologis memperlihatkan pada mola komplet tidak terdapat jaringan fetus,
terdapat proliferasi trofoblastik, vili yang hidropik, serta kromosom 46,XX atau 46,XY. Sebagai

20

tambahan pada mola komplet memperlihatkan peningkatan faktor pertumbuhan, termasuk cmyc, epidermal growth factor, dan c-erb B-2, dibandingkan pada plasenta yang normal. Pada
mola parsial terdapat jaringan fetus beserta amnion dan eritrosit fetus.

KLINIS
Anamnesis
Ada

kehamilan

berlebihan,

disertai

perdarahan

gejala

pervaginam

dan

tanda

berulang

kehamilan
cenderung

muda
berwarna

yang
coklat

dan kadang bergelembung seperti busa.


Pemeriksaan Fisik

Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan yang disebut muka mola
(mola face)

Palpasi : uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek Tidak
teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.

Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin.

Pemeriksaam Dalam : memastikan besarnya uterus, uterus terasa lembek, terdapat


perdarahan dalam kanalis servikalis

Hasil Penemuan Fisik


Mola Sempurna

Ukuran yang tidak sesuai dengan umur gestasi. Pembesaran uterus lebih besar daripada
biasanya pada usia gestasi tertentu merupakan tanda yang klasik dari mola sempurna.
Pembesaran tidak diharapkan disebabkan oleh pertumbuhan trofoblastik berlebih dan
darah yang tertampung. Namun, pasien yang datang dengan ukuran sesuai dengan umur
kehamilan bahkan lebih kecil tidak jarang ditemukan.

21

Preeklampsia. Sekitar 27% pasien dengan mola sempurna mengalami toxemia ditandai
oleh adanya hipertensi (BP >140/90 mm Hg), proteinuria (> 300 mg/d), dan edema
dengan hiperreflexia. Kejang jarang terjadi.

Kista teca lutein: Merupakan kista ovarium dengan diameter lebih besar dari 6cm dan
diikuti dengan pembesaran ovarium. Kista ini biasanya tidak dapat dipalpasi pada
pemeriksaan bimanual namun dapat teridentifikasi dengan USG. Pasien biasanya
mengeluhkan nyeri pelvis. Karena adanya peningkatan ukuran ovarium, terdapat resiko
torsi. Kista ini berkembang akibat adanya kadar beta-HCG yang tinggi dan kadarnya
biasanya menurun setelah mola.

Mola Parsial

Lebih sering tidak memperlihatkan tanda fisik. Paling sering ditemukan dengan USG.

Pembesaran uterus dan preeklampsia dilaporkan terjadi hanya pada 3% kasus

Kista Theca lutein, hiperemesis, and hiperthyroidism jarang terjadi.

Mola Kembar

Gestasi kembar dengan mola sempurna dan janin dengan plasenta normal telah
dilaporkan. Kasus bayi lahir dengan sehat (dengan kembar mola) pada keadaan seperti ini
juga pernah dilaporkan.

Wanita dengan gestasi normal dan mola beresiko untuk menjadi persisten dan cenderung
dapat bermetastasis. Mengakhiri kehamilan merupakan pilihan yang direkomendasikan.

Kehamilan dapat dilanjutkan selama status maternal stabil, tanpa perdarahan,


thyrotoxikosis, atau hipertensi berat. Pasien sebaiknya diberi tahu mengenai resiko dari
morbiditas maternal akibat komplikasi mola kembar.

Diagnosis genetik prenatal melalui sampling chorionic villus atau amniosentesis


direkomendasikan untuk mengevaluasi kariotype fetus.

22

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi maka uji biologik
dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan positif setelah titrasi (pengeceran) : Galli
Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa.
Radiologik

Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin

USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.

Uji Sonde
Tidak rutin dikerjakan, biasanya dilakukan sebagai tindakan awal kuretase
Histopatologik
Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke laboratorium PA.
TATA LAKSANA
Evakuasi
1. Perbaiki keadaan umum.
2. Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap. Bila Kanalis servikalis
belum terbuka dipasang laminaria dan 12 jam kemudian dilakukan kuret.
3. Memberikan obat-obatan antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan umum penderita.
4. 7 10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk membersihkan sisasisa jaringan.
5. Histerektomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30 tahun, paritas 4
atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih.

23

Pengawasan Lanjutan
1. Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi oral pil.
2. Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun, yaitu setiap minggu pada Triwulan
pertama, setiap 2 minggu pada Triwulan kedua, setiap bulan pada 6 bulan berikutnya,
setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.
3. Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :
a. Gejala klinis : keadaan umum, perdarahan
b. Pemeriksaan dalam : keadaan serviks, uterus bertambah kecil atau tidak
c. Laboratorium : Reaksi biologis dan imunologis : 1x seminggu sampai hasil
negatif, 1x per 2 minggu selama Triwulan selanjutnya, 1x sebulan dalam 6 bulan
selanjutnya, 1x per 3 bulan selama tahun berikutnya. Kalau hasil reaksi titer masih
(+) maka harus dicurigai adanya keganasan
4. Sitostatika Profilaksis : Metoreksat 3x 5mg selama 5 hari
ABORTUS
DEFINISI
Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu
hidup di luar rahim ( belum viable ) dengan criteria usia kehamilan kurang 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram.
Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus, antara lain :
EASTMAN

: Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum


sanggup hidup sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu
beratnya terletak antara 400-1000 gr, atau usia kehamilan kurang dari 28
minggu.

JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28
minggu, yaitu fetus belum viable by law.

24

HOLMER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana

proses

plasentasi belum selesai.

ETIOLOGI
Factor-faktor yang menyebabkan kematian fetus adalah factor ovum sendiri, factor ibu, dan
factor bapak, antara lain :
1. Kelainan Ovum
Menurut HERTIG dkk pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus
spontan . Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili. Abortus
spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang kemungkinan kalau
kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya makin muda kehamilan saat terjadinya
abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum (50-80%).
2. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi :
a. Kelainan kromosom, trisomi, ,monosomi X, triploidi, polisomi, kromosom sex.
b. Lingkungan kurang sempurna.
c. Pengaruh dari luar : radiasi, virus, obat obatan.
3. Kelainan Sirkulasi plasenta :
Dijumpai pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum,
anomali plasenta, dan end ateritis villi korialis karena hipertensi menahun.
4. Penyakit pada ibu :
o Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid,
rubeola, demam malta, dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan karena
toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus disebabkan karena toksin
dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus.
o Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol, dan lain-lain
o Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasio kordis, penyakit paru berat, anemi
gravis.

25

o Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan


vitamin A, C atau E, diabetes melitus
o Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi
-

Sangat terkejut karena obat-obat uterotonika, ketakutan, dsb

Bisa karena operasi laparotomy. Contohnya terkena appendicitis, lalu


dioperasi bahayanya bisa terjadi abortus. Operasi apapun di daerah
abdominal bisa risiko abortus

Trauma langsung terhadap fetus, antara lain: selaput janin rusak langsung
karena instrument, benda, dan obat-obatan.

5. Kelainan pada traktus genitalia :


a. Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis, dll)
b. Retroversia utei gravidi inkarserato
c. Perlengketan intra uteri ASAERMAN SYNDROME
d. Mioma uteri sub mukosa
e. Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
f. Distorsia uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis
g. Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah
dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, dan endometriris.
6. Inkompetensi cervix
Cervix longgar (tidak sempit lagi) sehingga mudah janin jatuh/ tidak tertahan di dalam.
Penyebabnyan curettage (krn perlukaan, infeksi) dan operasi konisasi (cervix diangkat)
7. Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga
terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
8. Penyakit bapak : Umur lanjut, penyakit kronis seperti TBC, anemi, dekompensasi cordis,
malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, Pb, dll) sinar rontgen,
avitaminosis.

26

FREKUENSI
Diperkirakan frekuensi keguguran spontan berkisar antara 10-15%. Namun demikian,
frekuensi seluruh keguguran sukar ditentukan karena abortus buatan buatan banyak yang
tidak dilaporkan, kecuali jika terjadi komplikasi. Juga karena sebagian keguguran spontan
hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak datang ke dokter atau Rumah
Sakit.
Makin tua umur, abortus makin sering terjadi. Demikian juga dengan semakin banyak
anak, abortus juga akan semakin sering terjadi. Semakin tua umur kehamilan,
kemungkinan abortus makin kecil
Wanita < 20 tahun abortus 12%
Wanita > 40 tahun abortus 26%
PATOLOGI
Pada permulaan, terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan
sekitar, kemudian sebagian atau seluruh hasik konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing
maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu hasil
konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu dalam
sedangkan pada kehamilan 8-14 minngu telah masuk agak dalam sehingga sebagian keluar dan
sebagian lagi akan tertingga karena itu akan terjadi banyak perdarahan.
KLASIFIKASI
Abortus dapat dibagi atas dua golongan :
1. Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului factor-faktor mekanis ataupun
medisinalis, semata-mata disebabkan oleh factor-faktor alamiah.

2. Abortus Provakatus (induced abortion)

27

Adalah abortus yang disengaja, baik dengan mengunakan obat-obatan ataupun alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi :
a) Abortus Medisinalis
Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).
b) Abortus Kriminalis atau tidak aman
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau
tidak berdasarkan indikasi medis.
KLINIS ABORTUS SPONTAN
Dapat di bagi atas :
1. Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam )
Adalah ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
Proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan :
a) Perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin
masih dalam intrauterine timbul pada pertengahan trimester pertama
b) Perdarahan biasanya sedikit, hal ini dapat terjadi beberapa hari.
c) Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai perdarahan.
d) Tidak ditemukan kelainan pada serviks dan serviks tertutup
Penatalaksanaan
a) Tirah baring
b) Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau tokolitik (salbutamol
atau indometasin) karena obat ini tidak dapat mencegah abortus.
c) Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau melakukan
hubungan seksual
d) Bila reaksi kehamilan 2x berturut-turut negative, maka sebaiknya uterus
dikosongkan (kuret)
2. Abortus Incipien (Inevitable abortion, Abortus sedang berlangsung)

28

ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus.
Ditandai dengan adanya :
a) robeknya selaput amnion dan adanya pembukaan serviks
b) terjadi kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi
c) perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan darah.
d) nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat.
Penatalaksanaan
Bila kehamilan < 16 minggu dapat dilakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi
Vakum Manual (AVM).
Jika evakuasi tidak dapat dilakukan segera lakukan :
-

Berikan ergometrin 0,2 mg I.M yang diulangi 15 menit kemudian jika perlu
ATAU Misoprostol 400 mg per oral dan bila masih diperlukan dapat diulang
setelah 4 jam jika perlu

Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

Bila kehamilan > 16 minggu tunggu ekspulsi spontan kemudian dilakukan evakuasi
uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM).
Jika evakuasi tidak dapat dilakukan segera lakukan :
-

Induksi oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai 8 tetes sampai 40


tetes/ menit, sesuai kondisi kontraksi uterus sampai terjadi pengeluaran hasil
konsepsi

Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

Lakukan Pemantauan Pasca Abortus


3. Abortus Kompletus
ialah proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan fetus) telah keluar
melalui jalan lahir sehingga rongga rahim kosong.
Tanda dan Gejala
a) Serviks menutup.

29

b) Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.


c) Gejala kehamilan tidak ada.
d) Uji kehamilan negatif.

Penatalaksanaan
Tidak perlu evakuasi lagi
Observasi untuk melihat perdarahan banyak/tidak.
Lakukan Pemantauan Pasca Abortus
Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600mg/hari selama 2
minggu, jika anemia berat berikan tranfusi darah.
4. Abortus Inkompletus
ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan
masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Gejala Klinis :

Didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas

Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya berupa stolsel (darah beku).

Sudah ada keluar fetus atau jaringan

Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi didapati serviks
terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa jaringan pada kanalis servikalis atau kavum
uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil dari seharusnya.
Penatalaksanaan
-

Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yg disertai perdarahan, dapat


dikeluarkan secara digital, atau cunam ovum kemudian dievakuasi
i.

Bila perdarahan berhenti diberi ergometrine 0,2 mg I.M atau misoprostol


400 mg per oral

ii.

Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa konsepsi dengan kuret


vakum (KV)

Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, antibiotika prophilaksis

Bila terjadi infeksi beri Ampicillin 1 gr dan Metronidazol 500 mg setiap 8 jam

30

Bila anemia terapi dengan Fe kalau perlu transfusi darah.

5. Missed Abortion
ialah berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil konsepsi
tertahan dalam uterus 8 minggu atau lebih
Gejala Klinis
-

Ditandai dengan kehamilan yang normal dengan amenorrhea, dapat disertai mual
dan muntah

Pertumbuhan uterus mengecil dengan fundus yang tidak bertambah tinggi.

Mamae menjadi mengecil

Gejala-gejala kehamilan menghilang diiringi reaksi kehamilan menjadi negative


pada 2-3 minggu setelah fetus mati.

Pada pemeriksaan dalam serviks tertutup dan ada darah sedikit

Pasien merasa perutnya dingin dan kosong.

6. Abortus Habitualis
ialah abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab apapun.
Pemeriksaan :
a. Histerosalfingografi, untuk mengetahui adanya mioma uterus submukosa atau
anomali congenital.
b. BMR dan kadar jodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak
gangguan glandula thyroidea
c. Psiko analisis
Terapi :
o Pada serviks inkompeten terapinya operatif SHIRODKAR atau MC DONALD
(cervical cerlage).
o Merokok dan minum alcohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan.
o Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar hasilnya
jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya.
7. Abortus Infeksious
ialah suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi genital

31

Diagnosis :
-

Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di luar
rumah sakit.

Pemeriksaan : Kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan, dan


sebagainya.

tanda tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat Celcius,
kenaikan leukosit dan discharge berbau pervaginam, uterus besar dan lembek
disertai nyeri tekan.

Penatalaksanaan
-

Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup

Berikan antibiotika yang cukup dan tepat (buat pemeriksaan pembiakan da uji
kepekaan obat)
o Berikan suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
o Berikan suntikan streptomisin 500mg setiap 12 jam
o Atau antibiotika spektrum luas lainnya.

Bila tetap terjadi perdarahan banyak setelah 1-2 hari lakukan dilatasi dan kuretase
untuk mengeluarkan hasil konsepsi

8. Septic Abortion
ialah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran
darah atau peritoneum.
Diagnosis septic abortion ditegakan jika didapatkan tanda tanda sepsis, seperti nadi cepat
dan lemah, syok dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan sama dengan abortus infeksious, hanya dosis dan jenis antibiotika
ditinggikan dan dipilih jenis yang tepat sesuai dengan hasil pembiakan dan uji kepekaan
kuman. Perlu di observasi apakah ada tanda perforasi atau akut abdomen.

32

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang ini diperlukan dalam keadaan abortus imminens, abortus habitualis dan
missed abortion :
1. Pemeriksaan ultrasonographi atau Doppler untuk menentukan apakah janin masih hidup
atau tidak, serta menentukan prognosis.
2. Pemeriksaan kadar fibrinogen pada missed abortion.
3. Tes kehamilan.
4. Pemeriksaan lain sesuai dengan keadaan dan diagnosis pasien.

DIAGNOSIS BANDING
1. KET : nyeri lebih hebat dibandingkan abortus.
2. Mola Hidantidosa : uterus biasanya lebih besar daripada lamanya anmenore dan muntah
lebih sering.
3. Kehamilan dengan kelainan serviks seperti karsinoma servisi uteri, polipus uteri, dsb.

KOMPLIKASI ABORTUS
1. Perdarahan (hemorrhage)
2. Perforasi : sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang
tidak ahli seperti bidan dan dukun.
3. Infeksi dan tetanus
4. Payah ginjal akut
5. Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh:
-

Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik

Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik

33