Anda di halaman 1dari 25

Obat Antibiotik

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang


mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme,
khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan
dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika
juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja
seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja
targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya.
Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi
kuman untuk hidup.
Tidak seperti perawatan infeksi sebelumnya, yang menggunakan racun seperti
strychnine, antibiotika dijuluki "peluru ajaib": obat yang membidik penyakit tanpa melukai
tuannya. Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri
lainnya, dan Setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai
jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada
pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan
kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.
Antibiotik oral (yang dimakan) mudah digunakan bila efektif, dan antibiotika
intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadangkala
dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.
Antibiotik termasuk jenis obat yang cukup sering diresepkan dalam pengobatan
modern. Antibiotik adalah zat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri.
Sebelum penemuan antibiotik yang pertama, penisilin, pada tahun 1928, jutaan
orang di seluruh dunia tak terselamatkan jiwanya karena infeksi-infeksi yang saat ini
mudah diobati.
Ketika influenza mewabah pada tahun 1918, diperkirakan 30 juta orang meninggal,
lebih banyak daripada yang terbunuh pada Perang Dunia I.

Pencarian antibiotik telah dimulai sejak penghujung abad ke 18 seiring dengan


meningkatnya pemahaman teori kuman penyakit, suatu teori yang berhubungan dengan
bakteri dan mikroba yang menyebabkan penyakit.
Saat itu para ilmuwan mulai mencari obat yang dapat membunuh bakteri penyebab
sakit. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menemukan apa yang disebut "peluru
ajaib", yaitu obat yang dapat membidik/menghancurkan mikroba tanpa menimbulkan
keracunan.
Penemuan Penisilin
Pada permulaan tahun 1920, ilmuwan Inggris Alexander Fleming melaporkan
bahwa suatu produk dalam airmata manusia dapat melisiskan (menghancurkan) sel bakteri.
Zat ini disebut lysozyme, yang merupakan contoh pertama antibakteri yang ditemukan
pada manusia.
Seperti pyocyanase, lysozyme juga menemukan jalan buntu dalam usaha pencarian
antibiotik yang efektif, karena sifatnya yang merusak sel-sel bakteri non-patogen.
Namun pada tahun 1928 Fleming secara kebetulan menemukan antibakteri lain.
Sekembali liburan akhir pekan, Fleming memperhatikan satu set cawan petri lama yang ia
tinggalkan. Ia menemukan bahwa koloni Staphylococcus aureus yang ia goreskan pada
cawan petri tersebut telah lisis.
Lisis sel bakteri terjadi pada daerah yang berdekatan dengan cendawan pencemar
yang tumbuh pada cawan petri. Ia menghipotesa bahwa suatu produk dari cendawan
tersebut menyebabkan lisis sel stafilokokus. Produk tersebut kemudian dinamai penisilin
karena cendawan pencemar tersebut dikenali sebagai Penicillium notatum.
Walaupun secara umum Fleming menerima pujian karena menemukan penisilin,
namun pada kenyataannya secara tehnik Fleming "menemukan kembali" zat tersebut.
Semula Ernest Duchesne, seorang mahasiswa kedokteran Perancis, yang
menemukan sifat-sifat penisilium pada tahun 1896, namun gagal dalam melaporkan
hubungan antara cendawan dan zat yang memiliki sifat-sifat antibakteri, sehingga
Penisilium dilupakan dalam komunitas ilmiah sampai penemuan kembali oleh Fleming.

Jenis Antibiotik
Meskipun ada lebih dari 100 macam antibiotik, namun umumnya mereka berasal
dari beberapa jenis antibiotik saja, sehingga mudah untuk dikelompokkan. Ada banyak
cara untuk menggolongkan antibiotik, salah satunya berdasarkan struktur kimianya.
Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:
a. Golongan Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin,
paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
b. Golongan Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan
sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan
beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).
c. Golongan Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
d. Golongan Poliketida
Diantaranya

golongan

makrolida

(eritromisin,

azitromisin,

klaritromisin,

roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin,


oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
e. Golongan Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
f. Golongan Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya

asam

nalidiksat,

siprofloksasin,

ofloksasin,

norfloksasin,

levofloksasin, dan trovafloksasin.


g. Golongan Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
h. Golongan Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.
i. Golongan Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
j. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.

Berdasarkan mekanisme aksinya, yaitu mekanisme bagaimana antibiotik secara


selektif meracuni sel bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:
1.

Mengganggu sintesa dinding sel, seperti penisilin, sefalosporin, imipenem,

2.

vankomisin, basitrasin.
Mengganggu sintesa protein bakteri, seperti klindamisin, linkomisin,

3.
4.
5.
6.

kloramfenikol, makrolida, tetrasiklin, gentamisin.


Menghambat sintesa folat, seperti sulfonamida dan trimetoprim.
Mengganggu sintesa DNA, seperti metronidasol, kinolon, novobiosin.
Mengganggu sintesa RNA, seperti rifampisin.
Mengganggu fungsi membran sel, seperti polimiksin B, gramisidin.

Antibiotik dapat pula digolongkan berdasarkan organisme yang dilawan dan jenis
infeksi. Berdasarkan keefektifannya dalam melawan jenis bakteri, dapat dibedakan
antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif saja, dan antibiotik yang
berspektrum luas, yaitu yang dapat membidik bakteri gram positif dan negatif.
Sebagian besar antibiotik mempunyai dua nama, nama dagang yang diciptakan
oleh pabrik obat, dan nama generik yang berdasarkan struktur kimia antibiotik atau
golongan kimianya. Contoh nama dagang dari amoksilin, sefaleksin, siprofloksasin,
kotrimoksazol, tetrasiklin dan doksisiklin, berturut-turut adalah Amoxan, Keflex, Cipro,
Bactrim, Sumycin, dan Vibramycin.
Setiap antibiotik hanya efektif untuk jenis infeksi tertentu. Misalnya untuk pasien
yang didiagnosa menderita radang paru-paru, maka dipilih antibiotik yang dapat
membunuh bakteri penyebab radang paru-paru ini. Keefektifan masing-masing antibiotik
bervariasi tergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi
tersebut.
Antibiotik oral adalah cara yang paling mudah dan efektif, dibandingkan dengan
antibiotik intravena (suntikan melalui pembuluh darah) yang biasanya diberikan untuk
kasus yang lebih serius. Beberapa antibiotik juga dipakai secara topikal seperti dalam
bentuk salep, krim, tetes mata, dan tetes telinga.
Penentuan jenis bakteri patogen ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium.
Tehnik khusus seperti pewarnaan gram cukup membantu mempersempit jenis bakteri

penyebab infeksi. Spesies bakteri tertentu akan berwarna dengan pewarnaan gram,
sementara bakteri lainnya tidak.
Tehnik kultur bakteri juga dapat dilakukan, dengan cara mengambil bakteri dari
infeksi pasien dan kemudian dibiarkan tumbuh. Dari cara bakteri ini tumbuh dan
penampakannya dapat membantu mengidentifikasi spesies bakteri. Dengan kultur bakteri,
sensitivitas antibiotik juga dapat diuji.
Penting bagi pasien atau keluarganya untuk mempelajari pemakaian antibiotik yang
benar, seperti aturan dan jangka waktu pemakaian. Aturan pakai mencakup dosis obat,
jarak waktu antar pemakaian, kondisi lambung (berisi atau kosong) dan interaksi dengan
makanan dan obat lain.
Pemakaian yang kurang tepat akan mempengaruhi penyerapannya, yang pada
akhirnya akan mengurangi atau menghilangkan keefektifannya.
Bila pemakaian antibiotik dibarengi dengan obat lain, yang perlu diperhatikan
adalah interaksi obat, baik dengan obat bebas maupun obat yang diresepkan dokter.
Sebagai contoh, Biaxin (klaritromisin, antibiotik) seharusnya tidak dipakai bersama-sama
dengan Theo-Dur (teofilin, obat asma).
Berikan informasi kepada dokter dan apoteker tentang semua obat-obatan yang
sedang dipakai sewaktu menerima pengobatan dengan antibiotik.
Jangka waktu pemakaian antibiotik adalah satu periode yang ditetapkan dokter.
Sekalipun sudah merasa sembuh sebelum antibiotik yang diberikan habis, pemakaian
antibiotik seharusnya dituntaskan dalam satu periode pengobatan.
Bila pemakaian antibiotik terhenti di tengah jalan, maka mungkin tidak seluruh
bakteri mati, sehingga menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut.
Hal ini dapat menimbulkan masalah serius bila bakteri yang resisten berkembang sehingga
menyebabkan infeksi ulang.

Efek Samping

Disamping banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dalam pengobatan infeksi,


antibiotik juga memiliki efek samping pemakaian, walaupun pasien tidak selalu
mengalami efek samping ini. Efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala ringan,
diare ringan, dan mual.
Dokter perlu diberitahu bila terjadi efek samping seperti muntah, diare hebat dan
kejang perut, reaksi alergi (seperti sesak nafas, gatal dan bilur merah pada kulit,
pembengkakan pada bibir, muka atau lidah, hilang kesadaran), bercak putih pada lidah,
dan gatal dan bilur merah pada vagina.
Resistensi Antibiotik
Salah satu perhatian terdepan dalam pengobatan modern adalah terjadinya
resistensi antibiotik. Bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap antibiotik,
misalnya bakteri yang awalnya sensitif terhadap antibiotik, kemudian menjadi resisten.
Resistensi ini menghasilkan perubahan bentuk pada gen bakteri yang disebabkan
oleh dua proses genetik dalam bakteri:
1. Mutasi dan seleksi (atau evolusi vertikal)
Evolusi vertikal didorong oleh prinsip seleksi alam. Mutasi spontan pada
kromosom bakteri memberikan resistensi terhadap satu populasi bakteri. Pada
lingkungan tertentu antibiotika yang tidak termutasi (non-mutan) mati, sedangkan
antibiotika yang termutasi (mutan) menjadi resisten yang kemudian tumbuh dan
berkembang biak.
2. Perubahan gen antar strain dan spesies (atau evolusi horisontal)
Evolusi horisontal yaitu pengambil-alihan gen resistensi dari organisme lain.
Contohnya, streptomises mempunyai gen resistensi terhadap streptomisin
(antibiotik yang dihasilkannya sendiri), tetapi kemudian gen ini lepas dan masuk ke
dalam E. coli atau Shigella sp.

Beberapa bakteri mengembangkan resistensi genetik melalui proses mutasi dan


seleksi, kemudian memberikan gen ini kepada beberapa bakteri lain melalui salah satu
proses untuk perubahan genetik yang ada pada bakteri.
Ketika bakteri yang menyebabkan infeksi menunjukkan resistensi terhadap
antibiotik yang sebelumnya sensitif, maka perlu ditemukan antibiotik lain sebagai
gantinya. Sekarang penisilin alami menjadi tidak efektif melawan bakteri stafilokokus dan
harus diganti dengan antibiotik lain.
Tetrasiklin, yang pernah dijuluki sebagai "obat ajaib", kini menjadi kurang
bermanfaat untuk berbagai infeksi, mengingat penggunaannya yang luas dan kurang
terkontrol selama beberapa dasawarsa terakhir.
Keberadaan bakteri yang resisten antibiotik akan berbahaya bila antibiotik menjadi
tidak efektif lagi dalam melawan infeksi-infeksi yang mengancam jiwa.
Hal ini dapat menimbulkan masalah untuk segera menemukan antibiotik baru
untuk melawan penyakit-penyakit lama (karena strain resisten dari bakteri telah muncul),
bersamaan dengan usaha menemukan antibiotik baru untuk melawan penyakit-penyakit
baru.
Berkembangnya bakteri yang resisten antibiotik disebabkan oleh beberapa hal.
Salah satunya adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan. Ini mencakup seringnya
antibiotik diresepkan untuk pasien demam biasa atau flu.
Meskipun antibiotik tidak efektif melawan virus, banyak pasien berharap
mendapatkan resep mengandung antibiotik ketika mengunjungi dokter.
Setiap orang dapat membantu mengurangi perkembangan bakteri yang resisten
antibiotik dengan cara tidak meminta antibiotik untuk demam biasa atau flu.

Antibiotik yang Menghambat Sintesis Protein Mikroba


Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah golongan aminoglikosid, makrolid,
linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu
mensintesis berbagai protein. Sintesis protein berlangsung di ribosom, dengan bantuan
mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas atas dua subunit, yang berdasarkan
konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. untuk berfungsi pada
sintesis protein, kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi
ribosom 70S.
1. Aminoglikosid
Aminoglikosid adalah suatu golongan antibiotic bakterisid yang asalnya didapat
dari berbagai species Streptomyces dan memiliki sifat-sifat kimiawi antimikroba,
farmakologis, dan toksik yang karakteristik. Golongan ini meliputi Streptomycin,
neomycin, kanamycin, amikacin, gentamycin, tobramycin,
a. Sifat Kimiawi dan Fisik
Aminoglikosid

mempunyai

cincin

Hexose

yaitu

streptidine

(pada

streptomycin),atau 2-deoxystreptamine (pada aminoglikosid lain), dimana berbagai gula


amino dikaitkan oleh ikatan glikosid. Agen-agen ini larut air, stabil dalam larutan dan lebih
aktif pada pH alkali dibandingkan pH asam.
b. Mekanisme Kerja
Aminoglikosida merupakan penghambat sintesis protein irreversible, namun
mekanisme pasti bakteriosidnya tidak jelas. Begitu memasuki sel, ia akan mengikat protein
subunit-30S yang spesifik (untuk streptomycin S12).
Aminoglikosid menghambat sintesis protein dengan 3 cara:
1. Agen-agen ini mengganggu kompleks awal pembentukan peptide
2. Agen-agen ini menginduksi salah baca mRNA, yang mengakibatkan penggabungan
asam amino yang salah ke dalam peptide, sehingga menyebabkan suatu keadaan
nonfungsi atau toksik protein

3. Agen-agen ini menyebabkan terjadinya pemecahan polisom menjadi monosom


nonfungsional.
c. Mekanisme Resistensi
Telah ditentukan 3 mekanisme prinsip yaitu
1) Mikroorganisme memproduksi suatu enzim transferase atau enzim-enzim yang
menyebabkan inaktivitas aminoglikosid, melalui adenilasi, asetilasi, atau fosforilasi
2) Menghalangi masuknya aminoglikosida ke dalam sel
3) Protein reseptor sub unit ribosom 30S kemungkinan hilang atau berubah sebagai akibat
dari mutasi.
d. Farmakokinetika
Aminoglikosid diabsorbsi sangat buruk pada saluran gastrointestinal yang utuh.
Setelah suntikan intramuscular, aminoglikosid diabsorbsi dengan baik dan mencapai
konsentrasi puncak dalam darah antara 30-90 menit. Aminoglikosid biasanya diberikan
secara intravena 30-60 menit. Secara tradisional aminoglikosid diberikan dalam 2 atau 3
dosis terbagi perhari bagi pasien-pasien dengan fungsi ginjal normal.
Aminoglikosid merupakan senyawa yang sangat polar dan tidak dapat langsung
memasuki sel. Sebagian besar aminoglikosid tidak dapat masuk ke mata dan SSP.
Aminoglikosid dibersihkan di ginjal, dan ekskresinya berbanding langsung dengan klirens
kreatinin. Waktu paruh normal dalam serum adalah 2-3 jam, namun meningkat dalam 2448 jam pada pasien dengan kerusakan fungsi ginjal yang signifikan. Aminoglikosid hanya
mengalami klirens secara sebagian dan tidak beraturan melalui hemodialisis (misalnya 4060% untuk gentamicyn), dan lebih efektif jika klirens melalui dialysis peritoneal.
Penyesuaian dosis harus dilakukan untuk menghindari akumulasi obat dan
toksisitas pada pasien-pasien dengan insufisiensi fungsi ginjal. Bisa jadi dosis obat
dibiarkan konstan dan interval antar dosis dinaikkan, atau interval dibiarkan konstan
sementara dosisnya dikurangi. Berbagai monogram dan formula telah dikembangkan

untuk menghubungkan kadar serum kreatinin dalam dengan penyesuaian pada regimen
pengobatan.
Dosis harian Aminoglikosid dihitung dengan cara mengalikan dosi harian
maksimum dengan rasio perbandingan klirens kreatinin yang diperkirakan terhadap klirens
normal yaitu 120 mg/min, yang merupakan nilai tipikal untuk pria dewasa normal dengan
bobot 70 kg. Untuk wanita berusia 60 tahun dengan bobot 60 kg dan serum kreatinin 3
mg/dL, dosis tepat untuk gentamicyn adalah sekitar 50 mg/hari.
Terdapat variasi individual yang patut dipertimbangkan dalam kadar serum
Aminoglikosid diantara pasien-pasien dengan nilai klirens kreatinin yang diperkirakan
sama. Oleh sebab itu, adalah wajib untuk mengukur kadar serum obat untuk menghindari
toksisitas berat khususnya apabila dosis tinggi diberikan selama lebih dari beberapa hari
atau jika fungsi ginjal berubah dengan cepat. Untuk regimen tradisional dengan pemberian
dosis dua atau tiga kali sehari, konsentrasi serum puncak harus ditentukan dari sampel
darah yang diambil sekitar 30-60 menit setelah pemberian satu dosis dan konsentrasi
trough dari sampel yang diambil sebelum pemberian dosi berikutnya.
e. Efek-efek yang Tidak Diinginkan
Semua Aminoglikosid bersafat ototoksik dan nefrotoksik. Ototoksisitas dan
nefrotoksisitas cenderung ditemukan saat terapi dilanjutkan hingga lebih dari 5 hari, pada
dosis yang lebih tinggi, pada orang-orang lanjut usia dan dalam kondisi insufisiensi fungsi
ginjal. Penggunaan bersama diuretic loop (misalnya furosemid) atau agen antimikroba
nefrotoksik

lain

(missal

vanomicyn

atau

amphotericyn)

dapat

meningkatkan

nefrotoksisitas dan sedapat mungkin dihindarkan.


f. Penggunaan Klinis
Aminoglikosid paling sering digunakan melawan bakteri enteric gram-negatif,
khusunya ketika isolatnya resisten obat dan ketika dicurigai sepsis. hampir selalu
digunakan dalam kombinasi dengan antibiotic beta-laktam dalam upaya untuk memperluas
cakupan meliputi patogen-patogen gram positif yang potensial dan untuk mendapatkan
keuntungan sinergisme kedua klas obat ini. Pemilihan aminoglikosid dan dosisnya

sebaiknya tergantung pada infeksi yang sedang dihadapi dan kerentanan dari isolate
tersebut.
2. Makrolid
Macrolide merupakan suatu kelompok senyawa yang berhubungan erat, dengan ciri suatu
cincin lakton (biasanya terdiri dari 14 atau 16 atom) di mana terkait gula-gula deoksi. Obat
prototipnya adalah Eritromycin, yang terdiri dari dua belahan gula yang terkait pada cincin
lakton 14-atom, diambil dari Streptomyces erytheus pada tahun 1952. Clartromycin dan
artitromycin merupakan turunan semisintesis eritromycin.
A. Eritromicyn
a. Kimia
Struktur umum dari ertromycin ditunjukkan diatas cincin makrolida dan gula-gula
desosamin dan kladinose. Obat ini sulit larut dalam air (0,1%) namun dapat langsung larut
pada zat-zat pelarut organik. Larutan ini cukup satabil pada suhu 4oC, namun dapat
kehilangan aktivitas dengan cepat pada suhu 20oC dan pada suhu asam. Ertromycin
biasanya tersedia dalam bentuk berbagai ester dan garam.
b. Aktivitas Antimikroba
Eritromycin efektif terhadap organisme-oragnisme gram positif, terutama
pneumokokkus, sterptokokkus, dan corynebacteria, dalam konsentrasi plasma sebesar 0,02
mg/mL. Selain itu mycoplasma, legionella, Chlamydia trachomatis, C psittaci, C
pneumonia, helicobacter, listeria, dan mycobacteria tertentu, juga rentan terhadap
ertromycin. Demikian pula organism-organisme gram negative, seperti spesies neisseria,
Bordetella pertussis, Batonella henselae, dan B quintana (agen-agen penyebab pada
penyakit catscratch dan angiomatosis basiler), beberapa spesies rickettise, Tropenome
pallidum, serta spesies campylobacter. Sekalipun demikian, Haemophilus influenza agak
kurang rentan. Hambatan sintesis protein terjadi melalui ikatan ke RNA ribosom 50S.
Sintesis protein terhambat karena reaksi-reaksi translokasi aminoasil dan hambatan
pembentuk awal.

c. Resistensi
Resistensi terhadap ertromycin biasanya dikode oleh plasmid.
Terdapat 3 mekanisme yang telah dikenal :
1) Penurunan permeabilitas membrane sel atau pengaliran keluar (efflux) yang aktif
2) Produksi esterase (oleh enterobacteriaceae) yang menghidrolisi makrolida
3) Modifikasi situs ikatan ribosom (disebut juga preoteksi ribosom) oleh mutasi
kromosom atau oleh metilase pengganti atau penginduksi makrolida.
d. Farmakokinetika
Ertromycin basa dihancurkan oleh asam lambung dan harus diberikan dengan salut
enteric. Stearat dan ester cukup tahan pada keadaan asam dan diabsorbsi lebih baik. Garam
lauryl dan ester propionil ertromycin merupakan preprata oral yang paling baik diabsorbsi.
Dosis oral sebesar 2 g/hari menghasilkan konsentrasi basa ertromycin serum dan
konsentrasi ester sekitar 2 mg/mL. Akan tetapi, yang aktif secara mikrobiologis adalah
basanya, sementara konsentrasinya cenderung sama tanpa memperhitungkan formulasi.
Waktu paruh serum adalah 1,5 jam dalam kondisi normal dan 5 jam pada pasien dengan
anuria. Penyesuaian untuk gagal ginjal tidak diperlukan. Ertromycin tidak dapat
dibersihkan melalui dialysis. Jumlah besar dari dosis yang diberikan diekskresikan dalam
empedu dan hilang dalam fases, hanya 5% yang diekskresikan dalam urine. Obat yang
telah diabsorbsi didistribusikan secara luas, kecuali dalam otak dan cairan serebrospinal.
Ertromycin diangkut oleh leukosit polimorfonukleus dan makrofag. Oabt ini melintasi
sawar plasenta dan mencapai janin.
e. Penggunaan Klinis
Eritromycin merupakan obat pilihan dalam:
1.
2.
3.
4.

Infeksi-infeksi corynebacterial (diphtheria, corynebacterial sepsis, erythasma)


Infeksi kuman Chlamydia pada pernafasan, neonates, okuler, atau genital
Mengobati pneumonia dalam komunitas.
Sebagai penggenti untuk individu yang alergi terhadap Penisiln, dalam infeksi
yang disebabkan oleh stapilokokkus, streptokokkus, dan pneumokokkus.

5. Sebagai profilaksis terhadap endokarditis dalam prosedur-prosedur dental pada


individu penyakit jantung valvular, sekalipun Clindamycin yang ditoleransi
dengan baik telah banyak menggantikannya.
f. Efek Samping
a) Efek-efek gastrointestinal : Anoreksia, mual, muntah dan diare sesekali
menyertai pemberian oral.
b) Intoleransi ini disebabkan oleh stimulitas langsung pada motilitas usus.
c) Toksisitas hati : dapat menimbulkan hepatitis kolestasis akut (demam, ikterus,
kerusakan fungsi hati),
d) kemungkinan sebagai reaksi hepersensitivitas.
e) Interaksi-interaksi obat : menghambat enzim-enzim sitokrom P450 dan
meningkatkan
antikoagulan

konsentarsi
oral,

serum

siklosporin,

sejumlah
dan

obat,

termasuk

metilprednisolon.

teofilin,

Meningkatkan

konsentrasi serum digoxin oral dengan jalan meningkatkan bioavailabilitas.


B. Claritromycin
a. Kimia
Claritromycin diturunkan dari eritromycin dengan penambahnsatu kelompok
methyl, serta memiliki satbilitas asam dan absorbi oral yang lebih baik dibandingkan
dengan eritromycin.
b. Aktivitas Antimikroba
Mekanisme kerja claritromycin sama dengan eritromycin, kecuali bahwa
claritromycin lebih aktif terhadap kompleks mycobacterium avium. Claritromycin juga
mempunyai aktivitas terhadap M leprae dan Toxoplasma gondii. Streptokokkus dan
stapilokokkus yang resisten terhadap eritromycin juga resisten terhadap claritromycin.
c. Farmakokinetika
Dosis 500 mg menghasilkan konsentrasi serum sebesar 2-3 mg/mL. Waktu paruh
claritromycin

(6

jam)

yang

lebih

panjang

dibandingkan

dengan

eritromycin

memungkinkan pemberian dosis 2 kali sehari. Claritromycin dimetabolisme dalam hati.


Metabolit utamanya adalah 14-hidroksiclaritromycin, yang juga mempunyai aktivitas
antibakteri. Sebagian dari obat aktif dan metabolit utama ini dieliminsai dalam urine, dan

pengurangan dosis dianjurkan bagi pasien-pasien dengan klirens kreatinin dibawah 30


mL/menit.
d. Penggunaan Klinis
Keuntungan claritromycin dibandingkan eritromycin adalah lebih rendahnya
frekuensi intoleransi gastrointestinal dan lebih jarangnya frekuensi pemberian dosis.
C. Azitromycin
a. Kimia
Azitromycin merupakan senyawa dengan cincin makrolida lakton 15-atom yang
diturunkan dari eritromycin dengan penambahan suatu nitrogen yang dimetilasi ke dalam
cincin laktone eritromycin.
b. Aktivitas Antimikroba dan Penggunaan Klinis
Spektrum aktivitas dan penggunaan klinis identik dengan claritromycin.
Azitromycin aktif terhadap kompleks M avium dan T gondii. Azitromycin sedikit kurang
aktif

dibandingkan

eritromycin

dan

claritromycin

terhadap

satpilikokkus

dan

sterptokokkus, namun sedikit lebih aktif terhadap H influenzae. Azitromycin sangat aktif
terhadap klamidia.
c. Farmakokinetika
Azitromycin berbeda dengan eritromycin dan claritromycin terutama dalam sifat
farmakokinetika. Satu dosi Azitromycin 500 mg dapat menghasilkan konsentrasi serum
yang lebih rendah, yaitu sekitar 0,4 g/mL. Akan tetapi Azitromycin dapat melakukan
penetrasi kesebagian besar jaringan dapat melebihi konsentrasi serum sepuluh hingga
seratus kali lipat. Obat dirilis perlahan dalam jaringan-jaringan (waktu paruh jaringan
adalah 2-4 hari) untuk menghasilkan waktu paruh eliminasi mendekati 3 hari. Sifat-sifat
yang unik ini memungkinkan pemberian dosis sekali sehari dan pemendekan durasi
pengobatan dalam banyak kasus.
Azitromycin diabsorbsi dengan cepat dan ditoleransi dengan baik secara oral. Obat
ini harus diberikan 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Antasida aluminium

dan magnesium tidak mengubah bioavaibilitas, namun memperlama absorbsi dan dengan
15 atom (bukan 14 atom), maka Azitromycin tidak menghentikan aktivitas enzim-enzim
sitokrom P450, dan oleh karena itu tidak mempunyai interaksi obat seperti yang
ditimbulkan oleh eritromycin dan claritmycin.
3. Tetrasiklin
Antibiotika golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin
kemudian ditemukan oksitetrasiklin. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari
klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari species Streptomyces lain. Demeklosiklin,
doksisiklin dan minosiklin juga termasuk antibiotic golongan tetrasiklin.
a. Mekanisme kerja
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protin bakteri pada ribosomnya. Paling
sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif;
pertam yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua ialah sistem transport
aktif. Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi
masuknya tRNA-asam amino pada lokasi asam amino.
b. Efek Antimikroba
Pada umumnya spektrum golongan tetrasiklin sama (sebab mekanismenya sama),
namun terdapt perbedaan kuantitatif dan aktivitas masing-masing drivat terhadap kuman
tertentu. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat ini. Golongan
tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat bakteriostatik dan bekerja dengan
jalan menghambat sintesis protein kuman. Spektrum antimikroba
Tetrasiklin memperlihatkan spektrum antibakteri luas yang meliputi kuman grampositif dan negatif, aerobik dan anaerobik. Selain itu juga aktif terhadap spiroket,
mikoplasma, riketsia, klamidia, legionela dan protozoa tertentu. Pada umunya tetrasiklin
tidak digunakan untuk pengobatan infeksi oleh streptokokus karena lebih efektif dengan
penisilin G, eritromisin, sefalosporin; kecuali doksisiklin yang digunakan untuk pengobatn
sinusitis pada orang dewasa yang disebabkan oleh Str. pneumoniae dan Str.pyogenes.
banyak strai S.aureus yang resisten terhadap tetrasiklin.

Tetrasiklin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin dalam pengobatan infeksi


batang gram-positif seperti B.anthracis, Erysipel, Iothrix rhusiopathiae, Clostridium tetani
dan Listeria monocytogenes. Kebanyakan strain N.gonorrhoeae sensitif terhadap
tetrasiklin, tetapi N.gonorrhoeae penghasil penisilinase (PPNG) biasanya resisten terhadap
tetrasiklin.
Efektivitasnya tinggi terhadap infeksi batang gram-negatif seperti Brucella,
Francisella tularensis, Pseudomonas mallei, Pseudomonas pseudomallei, Vibrio cholorae,
Campylobacter fetus, Haemophyllus ducreyi, dan Calymmatobacterium granulomatis,
Yersinia pestis, Pasteurella multocida, Spirillum minor, Leptotrichia buccalis, Bordetella
pertusis, Acinetobacter dan Fusobacterium. Strain tertentu H.influenza mungkin sensitif
tetapi E.coli, Klebsella, Enterobacter, Proteus indol positif dan Pseudomonas umumnya
resisten.
Tetrasiklin merupakan obat yang sangat efektif untuk infeksi Mycoplasma
pneumoniae, Ureaplasma urealyticum, Chlamydia trachomatis, Chlamydia psittaci dan
berbagai riketsia. Selain itu juga aktif terhadap Borrelia recurrentis, Treponema pertenue,
Actinomyces israelii. dalam kadar tinggi aktif menghambat Entamoeba histolytica.
Resistensi
Beberapa spesies kuman terutama streptokokus beta hemolotikus, E.coli,
Pseudomonas aeruginosa, Str.pneumoniae, N.gonorrhoeae, Bacteroides, Shigella, dan
S.aureus makin meningkatkan resistensinya terhadap tetrasiklin. Reistensi terhadap satu
jenis tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua tetrasiklin lainnya, kecuali
minosiklin pada resistensi S.aureus dan doksiiklin pada resistensi B.fragilis.
c. Farmakokinetik
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam salura cerna. Doksisiklin dan minosiklin
iserap lebih dari 90%. Absorpsi sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus.
Adanya makanan dalam lambung menghambat penyerapan, kecuali minosiklin dan
doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat tertentu oleh pH tinggi dan pembentukan
kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar diserap seperti aluminium

hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang biasanya terdapat dalam antasida, dan juga
ferum. Tetrasiklin diberikan sebelum makan atau 2 jam sesudah makan.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah
yang bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 1020% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis.
Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Obat golongan ini ditimbun
di hati, limpa dan sumssum tulang serta di sentin dan email gigi yang belum bererupsi.
Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat dalam ASI dalam kadar yang relatif
tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin dan minosiklin daya
penetrasinya ke jaringan lebih baik.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus dan melalui
empedu. Pemberiaan per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin diekskresi melalui
urin. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10
kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini
mengalami sirkulasi enterohepatik; maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu
lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan
faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap
diekskresi melalui tinja.
d. Efek samping
Gangguan lambung. Penekanan epigastrik biasanya disebabkan iritasi ari mukosa
lambung dan sering kali terjadi pada penderita yang tidak patuh yang diobati dengan obat
ini.
Efek terhadap kalsifikasi jaringan. Deposit dalam tulang dan pada gigi timbul
selama kalsifikasi pada anak yang berkembang. Hal ini menyebabkan pewarnaan dan
hipoplasi pada gigibdan menganggu pertumbuhan sementara.

Hepatotoksisitas fatal. Efek samping ini telah diketahui timbul bila obat ini
diberikan pada perempuan hamil dengan dosis tinggi terutama bila penderita tersebut juga
pernah mengalami pielonefritis.
Fototoksisitas . Fototoksisitas, misalnya luka terbakar matahari yang berat terjadi
bila pasien menelan tetrasiklin terpajan oleh sinar matahari atau UV. Toksisitas ini sering
dijumpai dengan pemberian tetrasiklin, doksisiklin dan deklosiklin.
Gangguan keseimbangan. Efek samping ini misalnya pusing, mual, muntah terjadi
bila mendapat minosiklin yang menumpuk dalam endolimfe telinga dan mempengaruhi
fungsinya.
Pseudomotor serebri. Hipertensi intrakranial benigna ditandai dengan sakit kepala dan
pandangn kabur yang dapat terjadi pad orang dewasa. Meskipun penghentian meminum
obat membalikkan kondisi, namun tidak jelas apakah dapat terjadi sekuela permanen.
Superinfeksi. Pertumbuhan berlebihan dari kandida (misalnya dalam vagina) atau
stafilokokus resisten (dalam usus) dapat terjadi.
e. Penggunaan klinik
Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin adalah:
Riketsiosis. Perbaikan yangdramatik tampk setelah penggunaan obat golongan ini.
Demam mereda dalam 1-3 hari dan ruam kulit hilang dalam 5 hari. Perbaikan klinis
tampak 24 jam setelah terapi.
Infeksi klamidia. Limfogranuloma venereum: Golongan tetrasiklin merupakan obat
pilihan utama penyakit ini. Terapi 3-4 minggu dan 1-2 bulan untuk keadaan kronik.
Psitakosis: pemberiaan golongan tetrasiklin selama beberapa hari mengatasi gejala klinis.
Inclusion conjunctivitis: pengobatannya dengan salep mata atau tetes mata yang
mengandung golongan tetrasiklin selama 2-3 minggu. Trakoma: pengobatan dengan salep
mata golongan tetrasiklin dikombinasikan dengan doksisiklin oral selama 40 hari. Uretritis
nonspesifik. Pengobatan dengan tetrasiklin oral 4 kali sehari 500 mg selama 7 hari. Infeksi
Mycoplasma pneumoniae. Dapat diatasi dengan obat golongan tetrasiklin. Walaupun
penyembuhan cepat dicapau, bakteri ini mungkin tetap ada dalam sputum setelah obat
dihentikan.

Infeksi basil
Bruselosis: Pengobatan yang memuaskan didapat setelah 3 minggu dengan golongan
tetrasiklin. Untuk kasus berat dikombinasi dengan streptomisin. Tularemia: Terapi dengan
tetrasiklin cukup baik meskipun streptomisin adalah obat pilah utama penakit ini. Kolera:
tetrasiklin adalah antibiotik paling efektif untuk kasus i ni. Dapat mengurangi kebutuhan
cairan infus sebanyak 50 %dari yang dibutuhkan. Sampar: stretomisin adalah pilihan
utama untuk penyakit ini . namun bila streptomisin tidak dapat digunakan maka dapat
dipakai golongan tetrasiklin Infeksi kokus. Golongan tetrasiklin tida lagi diindikasikan
untuk infeksi staphylacoccus maupun streptococcus karena seing dijumpai resistensi.
Adanya resistensi strain Str.pneumoniaemembatasi penggunaannya untk penumonieae
akibat kuman ini.
Infeksi venerik.
Gonore: penisilin merupakan obat pilihan utama namun bagi paseien yang alergi penisilin
dapat diberikan tetrasiklin oral 4 kali sehari 500 mg atau doksisiklin 2 kali sehari 100 mg
selama 7 hari. Tetrasiklin mempunyai masking effect terhadap infeksi sifilis sehingga
menyulitkn diagnosis. Sifilis: tetrasiklin merupakan obat pilihan ke dua setelah penisilin
untuk sifilis dengan dosis 4 kali sehari 500 mg per oral selama 15 hari. Juga efektif untuk
chancroid dan granuloma inguinal.
Akne vulgaris.
tetrasiklin dapat menghambat prouksi asam lemak dari sebum, dengan dosis 2 kali sehari
250 mg selama 2-3 minggu hingga beberapa bulan Infeksi lain.
Actinomycosis: Golongan tetrsiklin dapat digunakan jik penisilin G tidak dpat diberikan
pada pasien.
Frambusia: respon penderita terhadapa golongan tetrasiklin berbeda-beda. Ada yang
hasilnya baik, dapula yang tidak memuaskan. Penisilin merupakan pilihan utama untuk
penyakit ini.
Leptospirosis: walaupun tetrasiklin dan penisilin G sering digunakan untuk penyakit ini,
efektivitasnya tidak terbukti secara mantap. Infeksi saluran cerna: tetrasiklin merupakan

ajuvan yang bermanfaat pada amubiasis intestinal akut, dan infeksi Plasmodium
falciparum. Selain itu efektif untuk disentri oleh strain shigella yang peka.
Penggunaan topical
Hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata golongan tetrasiklin efektif untuk
mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh gram-positif dan gram negatif yang
sensitif. Selain itu juga untuk profilaksis oftalmianeonatorum pada neonatus.
Profilaksis pada penykit paru menahun banyak penelitian yang hasilnya kontroversial
mengenai keamanan tetrasiklin 500 mg sehari per oral pad pasien ini. Bahaya potensial
pemberiaan jangka lama ini ialah timbulnya superinfeksi bakteri atau jamur yang sulit
dikendalikan.
f. interaksi obat
Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluoran maka dapat menyebabkan nefrotoksisk.
Bila dikombinasikan dengan penisilin maka aktivitas antimikrobanya dihambat. Bila
tetrasiklin digunakan bersamaan dengan produk susu maka akan menurunkan absorpsinya
karena membentuk khelat tetrasiklin dengan ion kalsium yang tidak dapat diabsorpsi.
4. Kloramfenikol
Kloramfenikol diisolasi pertama kali dari Streptomyces venezuelae. Karena daya
anti mikrobanya yang kuat, maka penggunaannya meluas hingga tahun 1950, dan
diketahui obat ini dapt menimbulkan anemia aplastik yang fatal. Karena toksisitasnya,
penggunaan obat ini dibatasi hanya untuk mengobati infeksi yang mengancam kehidupan
dan tidak ada alternatif lain.
a.

Mekanisme kerja
kloramfenikol bekerja dengan mengikat sub unit 50S ribosom bakteri dan

menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat ialah enzim peptidil trasferase yang
merupakan katalisator untuk pembentukan ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis
protein kuman. Karena kemiripan ribosom mitokondria mamalia dengan bakteri, sintesis
protein pada organela ini dihambat dengan kadar klorafenikol tinggi yang dapat

menimbulkan toksisitas sumsum tulang. Efek toksiknya pada sel mamalia terutama terlihat
pada sistem hemopoetik dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja obat ini.
b. Spektrum antibakteri
Spektrum antibakterinya

meliputi

D.pneumoniae,

Streptomyces

pyogenes,

Streptomycesviridans, Neiserria, Haemophilus, Bacillus sp, Listeria, Bartonella, Brucella,


P.multocida, C.diphtheriae, Chlamydia, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan
kebanyakan kuman anaerob.
Bebrapa strain D.pneumoniae, H.influenzae dan N.meningitidis brsifat resisten;
S.aureus umunya sensitif, sedang Enterobactericeae banyak yang telah resisten.
Obat ini juga efektif terhadap kebanyakan strain E.coli, K.pneumoniae dan
Pr.mirabilis . Kebanyakan strain Serratia, Providencia, dan Proteus rettgerii resisten, juga
kebanyakan strain Pseudomonas aeruginosa danstrain tertentu Salmonella typhi.
c. Farmakokinetik
Setelah pemberiaan oral, kloramfenikol diserap dengan cepat. Kadar punck dalam
darah tercapai dalam 2 jam. Untuk anak diberikan ester kloramfenikol palmitat atau stearat
yang tidak pahit. Bentuk ester ini akan terhidrolisis di usus dan membebaskan
kloramfenikol. Masa paruh eliminasi pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi
umur kurang 2 minggu sekitar 24 jam. Kira-kira 50% kloramfenikol dalam darah terikat
dengan albumin. Obat ini diditribusikan secara baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk
otak, cairan cerebrospinal dan mata. Dalam hati kloramfenikol mengalami konyugasi
dengan asam glukoronat oleh enzim glukuronil transferase. Dalam waktu 24 jam, 80-90%
kloramfenikol yang diberikan per oral telah diekskresi melalui urin, hany 5-10% dalam
bentuk aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk glukuronat atau hidrolisat lain yang tidak
aktif. Bentuk aktif kloramfenikol diekskresi terutam melalui filtrat glomerulus sedangkan
metabolitnya dengan sekresi tubulus.
d. Efek samping
Reaksi hematologik. Terdapat dalam 2 bentuk. Pertama yaitu reaksi toksik dengan
manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan darah yng terlihat yaitu anemia,

retikulositopenia, peningkatan serum ion dan iron binding capacity serta vakuolisasi seri
eritrosit bentuk muda. Bentuk kedua prognosinya sangat buruk karena anemia yang timbul
bersifat irreversibel. Bentuk yang hebat bermanifestasi sebagai anemia aplastik dengan
pansitopenia.
Reaksi alergi
Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan
anafilaksis. Kelainan menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam
tifoid walaupun jarang dijumpai. Reaksi saluran cerna. Bermanifestasi dalam bentuk mual,
muntah, glositis, diare dan enterokolitis.
Gray baby sindrom. Efek ini terjadi pada neonatus bila regimen dosis
kloramfenikol tidak disesuaikan secara akurat. Neonatus memiliki kapasitas rendah dalam
mengglukuronidasi antibiotika dan fungsi ginjalnya

belum sempurna sehingga

kemampuannya untuk mengekskresi obat menurun, yang menumpuk sampai tingkat yang
mengganggu fungsi ribosom mitokondria. Hal ini menyebabkan masuknya makanan
terganggu, menekan pernafasan, kardiovaskular kolaps, sianosis (karena itu disebut grey
baby) dan kematian.
Reaksi neurologik. Terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium, dan sakit
kepala. Neuritis perifer atau neuropati optik dapat juga timbul terutama setelah pengobatan
lama.
e. Penggunaan klinik
Demam tifoid. Walaupun akhir-akhir ini sering dilaporkan adanya resistensi S.typhi
terhadap kloramfenikol, tapi masih tetap sebagai pilhan utama untuk penyakit ini. Untuk
pengobatannya, kloramfenikol diberikan 4 kali sehari 500 mg selama 2-3 minggu. Untuk
anak 50-100 mg/kgBB sehari selama 10 hari. Dapat pula digunakan tiamfenikol dengan
dosis 50 mg/kgBB sehari pada minggu pertama dan diteruskan 1-2 minggu lagi dengan
dosis separuhya. Meningitis purulenta. Kloramfenikol efektif untuk penyakit yang
disebabkan H.influenzae ini. Untuk terapi awal pada anak, kloramfenikol diberikan
bersama dengan suntikan penisilin G.

Riketsiosis. Tetrasiklin merupakan obat pilihan pertama untuk penyakit ini. Namun
apabil tetrasiklin tidak dapat diberikan, maka digunakan kloramfenikol dengan dosis awal
50 mg/kgBB dilanjutkan dengan pemberian 1 g tiap 8 jam. Untuk anak kloramfenikol
palmitat 100 mg/kgBB sehari. Dilanjutkan sampai 8 jam bebas demam.
Infeksi lain. Klorafenikol memliki efktivitas yang sama dengan tetrasiklin dalam
pengobatan lymphogranuloma venerum, psittcosis, infeksi mycoplasma pneumoniae dan
P.pestis. namun untuk kasus ini sebaiknya digunakan tetrasiklin yang toksisitasnya relatif
rendah. Kloramfenikol dapat digunakan untuk bruselosis dengan dosis 0,75-1 gram tiap 6
jam bila tetrasiklin tidak dapat diberikan. Kloramfenikol dapat pula digunakan untuk
mengatasi infeksi kuman anaerobik yang berasal dari lumen usus.
f. Interaksi obat
Kloramfenikol mampu menghambat fungsi penggabungan oksidase hepatik sehingga dapat
menghambat metabolisme obat seperti warfarin, fenitoin, tolbutamid dan klopropamid,
sehingga meningkatkan konsentrasi dan efeknya.
5. Klindamisin
a. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja klindamisin sama dengan eritromisin yaitu mengikat secara
ireversibel pada tempat sub unit 50S ribosom bakteri, sehingga menghambat langkah
translokasi sintesis protein.
b. Spektrum antibakteri
Spektrum antibakterinya menyeruapai linkomisisn hanya in vitro klindamisin lebih
aktif. Obat ini aktif terhadap S.aureus, D.pneumoniae, Str.pyogenes, Str.anaerobic,
Str.viridans dan Actinomyces israelli. Obat ini juga aktif terhadap Bacteroides fragilis dan
kuman anaerob lainnya.
c. Farmakokinetik
Klindamisin diserap hampir lengkap pada pemberiaan oral. Adanya makanan dalam
lambung tidak banyak mempengaruhi absorpsi obat ini. Klindamisin palmitat yang

digunakan sebagai preparat oral pediiatrik, tidak aktif secara in vitro. Tetapi setelah
mengalami hidrolisis akan dibebakan klindamisin yang aktif. Klindamisin didistribusi
dengan baik, ke berbagai cairan tubuh, jaringan dan tulang, kecuali CSS walaupun sedang
terjadi meningitis. Dapat menembus sawar uri dengan baik. Kira-kira 90% klindamisin
dalam serum terikat dengan albumin. Hanya sekitar 10% klindamisin diekskresi dalam
bentuk asal melalui urin. Sejumlah kecil klindamisin ditemukan dalam feses. Sebagian
besar obat dimetabolisme menjadi N-demetilklindamisin dan klindamisin sulfoksid untuk
selanjutnya diekskresi melalui urin dan empedu.
d. Efek samping
selain kulit kemerahan, efek samping yang paling serius yang dapat berakibat fatal
yaitu kolitis pseudomembranosa yang disebabkan pertumbuhan berlebihan Clostridium
difficile yang mengeloborasi toksin nekrotik. Reaksi lain yang jarang terjadi ialah sindrom
stevens-johnson,

peningkatan

SGPT

dan

SGOT

sementara,

granulisitopenia,

trombositopenia dan reaksi anfilaksis. Tromboflebitis dapat terjadi karena pemberian iv.
e. Penggunaan klinik
Walaupun beberapa infeksi kokus gram positif dapat diobati dengan klindamisin,
pengobatan ini harus dipertimbangkan baik-baik karena mungkin menimbulkan kolitis.
Klindamisin terutam bermanfaat untuk infeksi kuman anaerobik, terutama B.fragilis. untuk
pengobatan abses paru, pemberiaan klindamisin 3 kali 600 mg secara iv lebih efektif
daripada penisilin 1 juta unit tiap 4 jam. Peranan obat ini untuk pneumonia aspirasi,
pneumonia pasca obstruksi atau abses paru belum dipastikan, tetapi didapat kesan bahwa
klindamisin merupakan alternatif yang baik untuk penisilin.

Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Antibiotika
http://www.didiksugiarto.com/2009/04/macam-antibiotika-dan-fungsinya.html
http://www.didiksugiarto.com/2009/04/macam-macam-antibiotika-ii.html