Anda di halaman 1dari 9

Laporan pendahuluan hemaptoe

HEMAPTOE

A. Definisi
Hemoptoe adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan batuk darah atau sputum yang
berdarah. Batuk darah adalah batuk yang disertai pengeluaran darah dari paru atau saluran
pernapasan.
Hemoptoe atau batuk darah adalah ekspektorasi darah atau dahak mengandung darah, berasal dari
saluran napas di bawah pita suara
B. Perbedaan hemoptoe dengan hematemesis

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk membedakan antara muntah darah (hematemesis) dan batuk darah (hemoptoe) bila dokter
tidak hadir pada waktu pasien batuk darah, maka pada batuk darah (hemoptoe) akan didapatkan
tanda-tanda sebagai berikut :
Tanda-tanda batuk darah:
Didahului batuk keras yang tidak tertahankan
Terdengar adanya gelembung-gelembung udara bercampur darah di dalam saluran napas
Terasa asin / darah dan gatal di tenggorokan
Warna darah yang dibatukkan merah segar bercampur buih, beberapa hari kemudian warna
menjadi lebih tua atau kehitaman
pH alkalis
Bisa berlangsung beberapa hari
Penyebabnya : kelainan paru
Tanda-tanda muntah darah :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
C.

Tanpa batuk, tetapi keluar darah waktu muntah


Suara napas tidak ada gangguan
Didahului rasa mual / tidak enak di epigastrium
Darah berwarna merah kehitaman, bergumpal-gumpal bercampur sisa makanan
pH asam
Frekuensi muntah darah tidak sekerap hemoptoe
Penyebabnya : sirosis hati, gastritis
Etiologi
Penyebab hemoptoe banyak, tapi secara sederhana dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu : infeksi,
tumor dan kelainan kardiovaskular.
Infeksi merupakan penyebab yang sering didapatkan antara lain : tuberkulosis, bronkiektasis dan
abses paru. Pada dewasa muda, tuberkulosis paru, stenosis mitral, dan bronkiektasis merupakan
penyebab yang sering didapat. Pada usia diatas 40 tahun karsinoma bronkus merupakan penyebab
yang sering didapatkan, diikuti tuberkulsosis dan bronkiektasis.
Penyebab dari batuk darah (hemoptoe) dapat dibagi atas :
1. Infeksi, terutama tuberkulosis, abses paru, pneumonia, dan kaverne oleh karena jamur dan
sebagainya.
2. Kardiovaskuler, stenosis mitralis dan aneurisma aorta.
3. Neoplasma, terutama karsinoma bronkogenik dan poliposis bronkus.
4. Gangguan pada pembekuan darah (sistemik).
5. Benda asing di saluran pernapasan.
6. Faktor-faktor ekstrahepatik dan abses amuba.
Penyebab terpenting dari hemoptisis masif adalah :
1. Tumor :
a. Karsinoma.
b. Adenoma.
c. Metastasis endobronkial dari massa tumor ekstratorakal.
2. Infeksi
a. Aspergilloma.
b. Bronkhiektasis (terutama pada lobus atas).
c. Tuberkulosis paru.
3. Infark Paru
4. Udem paru, terutama disebabkan oleh mitral stenosis
5. Perdarahan paru
a. Sistemic Lupus Eritematosus
b. Goodpastures syndrome.
c. Idiopthic pulmonary haemosiderosis.
d. Bechets syndrome.
6. Cedera pada dada/trauma
a. Kontusio pulmonal.
b. Transbronkial biopsi.
c. Transtorakal biopsi memakai jarum.
7. Kelainan pembuluh darah
a. Malformasi arteriovena.
b. Hereditary haemorrhagic teleangiectasis.
8. Bleeding diathesis
.
D. Patofisiologi
Setiap proses yang terjadi pada paru akan mengakibatkan hipervaskularisasi dari cabang-cabang
arteri bronkialis yang berperanan untuk memberikan nutrisi pada jaringan paru bila terjadi
kegagalan arteri pulmonalis dalam melaksanakan fungsinya untuk pertukaran gas. Terdapatnya
aneurisma Rasmussen pada kaverna tuberkulosis yang merupakan asal dari perdarahan pada
hemoptoe masih diragukan. Teori terjadinya perdarahan akibat pecahnya aneurisma dari Ramussen
ini telah lama dianut, akan tetapi beberapa laporan autopsi membuktikan bahwa terdapatnya

hipervaskularisasi bronkus yang merupakan percabangan dari arteri bronkialis lebih banyak
merupakan asal dari perdarahan pada hemoptoe.
Mekanisma terjadinya batuk darah adalah sebagai berikut :
1. Radang mukosa
Pada trakeobronkitis akut atau kronis, mukosa yang kaya pembuluh darah menjadi rapuh, sehingga
trauma yang ringan sekalipun sudah cukup untuk menimbulkan batuk darah.
2. Infark paru
Biasanya disebabkan oleh emboli paru atau invasi mikroorganisme pada pembuluh darah, seperti
infeksi coccus, virus, dan infeksi oleh jamur.
3. Pecahnya pembuluh darah vena atau kapiler
Distensi pembuluh darah akibat kenaikan tekanan darah intraluminar seperti pada dekompensasi
cordis kiri akut dan mitral stenosis.
4. Kelainan membran alveolokapiler
Akibat adanya reaksi antibodi terhadap membran, seperti pada Goodpastures syndrome.
5. Perdarahan kavitas tuberkulosa
Pecahnya pembuluh darah dinding kavitas tuberkulosis yang dikenal dengan aneurisma Rasmussen;
pemekaran pembuluh darah ini berasal dari cabang pembuluh darah bronkial. Perdarahan pada
bronkiektasis disebabkan pemekaran pembuluh darah cabang bronkial. Diduga hal ini terjadi
disebabkan adanya anastomosis pembuluh darah bronkial dan pulmonal. Pecahnya pembuluh darah
pulmonal dapat menimbulkan hemoptisis masif.
6. Invasi tumor ganas
7. Cedera dada
Akibat benturan dinding dada, maka jaringan paru akan mengalami transudasi ke dalam alveoli dan
keadaan ini akan memacu terjadinya batuk darah.
E. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya dikenal berbagai macam batuk darah :
1. Batuk darah idiopatik atau esensial dimana penyebabnya tidak diketahui
Angka kejadian batuk darah idiopatik sekitar 15% tergantung fasilitas penegakan diagnosis.
Pria terdapat dua kali lebih banyak daripada wanita, berumur sekitar 30 tahun, biasanya perdarahan
dapat berhenti sendiri sehingga prognosis baik. Teori perdarahan ini adalah sebagai berikut :
a. Adanya ulserasi mukosa yang tidak dapat dicapai oleh bronkoskopi.
b. Bronkiektasis yang tidak dapat ditemukan.
c. Infark paru yang minimal.
d. Menstruasi vikariensis.
e. Hipertensi pulmonal.
2. Batuk darah sekunder, yang penyebabnya dapat di pastikan
Pada prinsipnya berasal dari :
a. Saluran napas
Yang sering ialah tuberkulosis, bronkiektasis, tumor paru, pneumonia dan abses paru.
Menurut Bannet, 82 86% batuk darah disebabkan oleh tuberkulosis paru, karsinoma paru dan
bronkiektasis.
Yang jarang dijumpai adalah penyakit jamur (aspergilosis), silikosis, penyakit oleh karena cacing.
b. Sistem kardiovaskuler
Yang sering adalah stenosis mitral, hipertensi.
Yang jarang adalah kegagalan jantung, infark paru, aneurisma aorta.
c. Lain-lain
Disebabkan oleh benda asing, ruda paksa, penyakit darah seperti hemofilia, hemosiderosis, sindrom
Goodpasture, eritematosus lupus sistemik, diatesis hemoragik dan pengobatan dengan obat-obat
antikoagulan.
Berdasarkan jumlah darah yang dikeluarkan maka hemoptisis dapat dibagi atas :
1. Hemoptisis masif
Bila darah yang dikeluarkan adalah 100-160 cc dalam 24 jam.
2. Kriteria yang digunakan di rumah sakit Persahabatan Jakarta :
- Bila perdarahan lebih dari 600 cc / 24 jam

- Bila perdarahan kurang dari 600 cc dan lebih dari 250 cc / 24 jam, akan tetapi Hb kurang dari 10
g%.
- Bila perdarahan lebih dari 600 cc / 24 jam dan Hb kurang dari 10 g%, tetapi dalam pengamatan 48
jam ternyata darah tidak berhenti.
Kesulitan dalam menegakkan diagnosis ini adalah karena pada hemoptoe selain terjadi
vasokonstriksi perifer, juga terjadi mobilisasi dari depot darah, sehingga kadar Hb tidak selalu
memberikan gambaran besarnya perdarahan yang terjadi.
Kriteria dari jumlah darah yang dikeluarkan selama hemoptoe juga mempunyai kelemahan oleh
karena :
Jumlah darah yang dikeluarkan bercampur dengan sputum dan kadang-kadang dengan cairan
lambung, sehinga sukar untuk menentukan jumlah darah yang hilang sesungguhnya.
Sebagian dari darah tertelan dan dikeluarkan bersama-sama dengan tinja, sehingga tidak ikut
terhitung
Sebagian dari darah masuk ke paru-paru akibat aspirasi.
Oleh karena itu suatu nilai kegawatan dari hemoptoe ditentukan oleh :
Apakah terjadi tanda-tanda hipotensi yang mengarah pada renjatan hipovolemik (hypovolemik
shock).
Apakah terjadi obstruksi total maupun parsial dari bronkus yang dapat dinilai dengan adanya
iskemik miokardium, baik berupa gangguan aritmia, gangguan mekanik pada jantung, maupun
aliran darah serebral. Dalam hal kedua ini dilakukan pemantauan terhadap gas darah, disamping
menentukan fungsi-fungsi vital. Oleh karena itu suatu tingkat kegawatan hemoptoe dapat terjadi
dalam dua bentuk, yaitu bentuk akut berupa asfiksia, sedangkan bentuk yang lain berupa renjatan
hipovolemik.
Bila terjadi hemoptoe, maka harus dilakukan penilaian terhadap:
Warna darah untuk membedakannya dengan hematemesis.
Lamanya perdarahan.
Terjadinya mengi (wheezing) untuk menilai besarnya obstruksi.
Keadaan umum pasien, tekanan darah, nadi, respirasi dan tingkat kesadaran.
Klasifikasi menurut Pusel :

+:

batuk dengan perdarahan yang hanya dalam bentuk garis-garis dalam sputum

++ : batuk dengan perdarahan 1 30 ml


+++ : batuk dengan perdarahan 30 150 ml
++++ : batuk dengan perdarahan > 150 ml
Positif satu dan dua dikatakan masih ringan, positif tiga hemoptisis sedang, positif empat termasuk
di dalam kriteria hemoptisis masif.
F. Diagnosis
Hal utama yang penting adalah memastikan apakah darah benar-benar bukan dari muntahan dan
tidak berlangsung saat perdarahan hidung. Hemoptisis sering mudah dilacak dari riwayat. Dapat
ditemukan bahwa pada hematemesis darah berwarna kecoklatan atau kehitaman dan sifatnya asam.
Darah dari epistaksis dapat tertelan kembali melalui faring dan terbatukkan yang disadari penderita
serta adanya darah yang memancar dari hidung.
Untuk menegakkan diagnosis, seperti halnya pada penyakit lain perlu dilakukan urutan-urutan dari
anamnesis yang teliti hingga pemeriksaan fisik maupun penunjang sehingga penanganannya dapat
disesuaikan.
1. Anamnesis
Untuk mendapatkan riwayat penyakit yang lengkap sebaiknya diusahakan untuk mendapatkan datadata :
a. Jumlah dan warna darah
b. Lamanya perdarahan
c. Batuknya produktif atau tidak
d. Batuk terjadi sebelum atau sesudah perdarahan
e. Sakit dada, substernal atau pleuritik
f. Hubungannya perdarahan dengan : istirahat, gerakan fisik, posisi badan dan batuk

g.
h.
i.
j.
k.
l.

Wheezing
Riwayat penyakit paru atau jantung terdahulu.
Perdarahan di tempat lain serempak dengan batuk darah
Perokok berat dan telah berlangsung lama
Sakit pada tungkai atau adanya pembengkakan serta sakit dada
Hematuria yang disertai dengan batuk darah.
Untuk membedakan antara batuk darah dengan muntah darah
berikut :
KEADAAN
HEMAPTOE
Prodromal
Rasa
tidak
enak
di
tenggorokan, ingin batuk
Onset
Darah dibatukkan, dapat
disertai batuk
Penampilan darah
Berbuih
Warna
Merah segar
Isi
Lekosit, mikroorganisme,
makrofag, hemosiderin
Reaksi
Alkalis (pH tinggi)
Riwayat Penyakit Dahulu
Menderita kelainan paru

Anemi
Tinja

Kadang-kadang
Warna tinja normal
Guaiac test (-)

dapat digunakan petunjuk sebagai

HEMATOMESIS
Mual, stomach distress
Darah dimuntahkan dapat
disertai batuk
Tidak berbuih
Merah tua
Sisa makanan
Asam (pH rendah)
Gangguan lambung,
kelainan hepar
Selalu
hitam, Guaiac test (-)

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dicari gejala/tanda lain di luar paru yang dapat mendasari terjadinya batuk
darah, antara lain : jari tabuh, bising sistolik dan opening snap, pembesaran kelenjar limfe, ulserasi
septum nasalis, teleangiektasi.
3. Pemeriksaan penunjang
Foto toraks dalam posisi AP dan lateral hendaklah dibuat pada setiap penderita hemoptisis masif.
Gambaran opasitas dapat menunjukkan tempat perdarahannya.
4. Pemeriksaan bronkoskopi
Sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti, karena dengan demikian sumber perdarahan
dapat diketahui.
Adapun indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :
a. Bila radiologik tidak didapatkan kelainan
b. Batuk darah yang berulang ulang
c. Batuk darah masif : sebagai tindakan terapeutik
Tindakan bronkoskopi merupakan sarana untuk menentukan diagnosis, lokasi perdarahan, maupun
persiapan operasi, namun waktu yang tepat untuk melakukannya merupakan pendapat yang masih
kontroversial, mengingat bahwa selama masa perdarahan, bronkoskopi akan menimbulkan batuk
yang lebih impulsif, sehingga dapat memperhebat perdarahan disamping memperburuk fungsi
pernapasan. Lavase dengan bronkoskop fiberoptic dapat menilai bronkoskopi merupakan hal yang
mutlak untuk menentukan lokasi perdarahan.
Dalam mencari sumber perdarahan pada lobus superior, bronkoskop serat optik jauh lebih unggul,
sedangkan bronkoskop metal sangat bermanfaat dalam membersihkan jalan napas dari bekuan
darah serta mengambil benda asing, disamping itu dapat melakukan penamponan dengan balon
khusus di tempat terjadinya perdarahan.
G. Penatalaksanaan
Pada umumnya hemoptoe ringan tidak diperlukan perawatan khusus dan biasanya berhenti sendiri.
Yang perlu mendapat perhatian yaitu hemoptisis yang masif.
Tujuan pokok terapi ialah :
1. Mencegah tersumbatnya saluran napas oleh darah yang beku

2. Mencegah kemungkinan penyebaran infeksi


3. Menghentikan perdarahan
Sasaran-sasaran terapi yang utama adalah memberikan suport kardiopulmaner dan mengendalikan
perdarahan sambil mencegah asfiksia yang merupakan penyebab utama kematian pada para pasien
dengan hemoptisis masif.
Masalah utama dalam hemoptoe adalah terjadinya pembekuan dalam saluran napas yang
menyebabkan asfiksi. Bila terjadi afsiksi, tingkat kegawatan hemoptoe paling tinggi dan
menyebabkan kegagalan organ yang multipel. Hemoptoe dalam jumlah kecil dengan refleks batuk
yang buruk dapat menyebabkan kematian. Dalam jumlah banyak dapat menimbukan renjatan
hipovolemik.
Pada prinsipnya, terapi yang dapat dilakukan adalah :
1. Terapi konservatif
a. Pasien harus dalam keadaan posisi istirahat, yakni posisi miring ( Trendelendburg/lateral
decubitus). Kepala lebih rendah dan miring ke sisi yang sakit untuk mencegah aspirasi darah ke paru
yang sehat.
b. Melakukan suction dengan kateter setiap terjadi perdarahan.
c. Batuk secara perlahanlahan untuk mengeluarkan darah di dalam saluran saluran napas untuk
mencegah bahaya sufokasi.
d. Dada dikompres dengan es kap, hal ini biasanya menenangkan penderita.
e. Pemberian obatobat penghenti perdarahan (obatobat hemostasis), misalnya
f. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.
g. Pemberian cairan atau darah sesuai dengan banyaknya perdarahan yang terjadi.
h. Pemberian oksigen.
Tindakan selanjutnya bila mungkin :
a. Menentukan asal perdarahan dengan bronkoskopi
b. Menentukan penyebab dan mengobatinya, misal aspirasi darah dengan bronkoskopi dan pemberian
adrenalin pada sumber perdarahan.
2. Terapi pembedahan
Reseksi bedah segera pada tempat perdarahan merupakan pilihan.
Tindakan operasi ini dilakukan atas pertimbangan :
a. Terjadinya hemoptisis masif yang mengancam kehidupan pasien.
b. Pengalaman berbagai penyelidik menunjukkan bahwa angka kematian pada perdarahan yang masif
menurun dari 70% menjadi 18% dengan tindakan operasi.
c. Etiologi dapat dihilangkan sehingga faktor penyebab terjadinya hemoptoe yang berulang dapat
dicegah.
Busron (1978) menggunakan pula indikasi pembedahan sebagai berikut :
a. Apabila pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan dalam pengamatannya
perdarahan tidak berhenti.
b. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih dari 250 cc / 24
jam jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, sedangkan batuk darahnya masih terus berlangsung.
c. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih dari 250 cc / 24
jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, tetapi selama pengamatan 48 jam yang disertai dengan
perawatan konservatif batuk darah tersebut tidak berhenti.
Sebelum pembedahan dilakukan, sedapat mungkin diperiksa faal paru dan dipastikan asal
perdarahannya, sedang jenis pembedahan berkisar dari segmentektomi, lobektomi dan
pneumonektomi dengan atau tanpa torakoplasti.
Penting juga dilakukan usaha-usaha untuk menghentikan perdarahan. Metode yang mungkin
digunakan adalah :
a. Dengan memberikan cairan es garam yang dilakukan dengan bronkoskopi serat lentur dengan posisi
pada lokasi bronkus yang berdarah. Masukkan larutan NaCl fisiologis pada suhu 4C sebanyak 50 cc,
diberikan selama 30-60 detik. Cairan ini kemudian dihisap dengan suction.
b. Dengan menggunakan kateter balon yang panjangnya 20 cm penampang 8,5 mm.
H. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi merupakan kegawatan dari hemoptoe, yaitu ditentukan oleh tiga faktor :

1. Terjadinya asfiksia oleh karena terdapatnya bekuan darah dalam saluran pernapasan.
2. Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya hemoptoe dapat menimbulkan renjatan
hipovolemik.
3. Aspirasi, yaitu keadaan masuknya bekuan darah maupun sisa makanan ke dalam jaringan paru yang
sehat bersama inspirasi.
I. Prognosis
Pada hemoptoe idiopatik prognosisnya baik kecuali bila penderita mengalami hemoptoe yang
rekuren, sedangkan pada hemoptoe sekunder ada beberapa faktor :
1. Tingkatan hemoptoe : hemoptoe yang terjadi pertama kali mempunyai prognosis yang lebih baik.
2. Macam penyakit dasar yang menyebabkan hemoptoe.
3. Cepatnya kita bertindak, misalnya bronkoskopi yang segera dilakukan untuk menghisap darah yang
beku di bronkus dapat menyelamatkan penderita.
J. Asuhan Keperawatan
Data Fokus
Anamnesa / keluhan utama :
Pasien mengeluh batuk berdarah, dada terasa perih
TTV :
TD, RR, N, T .......kesadaran CM, GCS 456 , BB 40 Kg
Inspeksi :
Tampak batuk berdarah, merah segar, 300 cc, KU lemah
Palpasi :
Taktil fremitus : getaran simetris
Perkusi :
Sonor simetris
Auskultasi :
Vesikuler menurun di paru kanan
Foto thorax :
Tampak infiltrat, TB paru
Lab :
HB 10 gr%
Analisa Data

DATA
DS :
Pasien mengeluh batuk berdarah dan dada terasa
perih
DO :
TTV :
TD..., RR..., N..., T ..., kesadaran CM, GCS 456
Inspeksi :
Tampak batuk berdarah, merah segar, 300 cc, KU
lemah
Auskultasi :
Vesikuler menurun di paru kanan
Foto thorax :
Tampak infiltrat, TB paru

ETIOLOGI
Batuk darah

Rencana Interensi
Risti terjadinya obstruksi jalan napas B/D batuk darah, ditandai dengan :
DS :
Pasien mengeluh batuk berdarah dan dada terasa perih
DO :
TTV :

PROBLEM
Risti terjadinya
obstruksi jalan napas

TD..., RR..., N..., T ..., kesadaran CM, GCS 456


Inspeksi :
Tampak batuk berdarah, merah segar, 300 cc, KU lemah
Auskultasi :
Vesikuler menurun di paru kanan
Foto thorax :
Tampak infiltrat, TB paru
Tujuan :
Dalam waktu ..x 24 jam setelah dilakukan tindakan keperawatan risti obstruksi jalan napas tidak
terjadi
Kreteria Hasil :
Pasien tidak mengeluh batuk berdarah sesak napas
Tidak ada tanda-tanda terjadinya obstuksi jalan napas
TTV dalam batas normal, kesadaran CM, GCS 456
Auskultasi : vesikuler simetris
Lab : HB > 10 gr%
Intervensi
:
1. Tenangkan pasien
2. Jelaskan penyebab batuk darah
3. Kaji status pernapasan
4. Kaji kemampuan batuk
5. Ukur TTV & observasi tingkat kesadaran
6. Observasi terjadinya tanda-tanda shok hipovolemik
7. Atur posisi
8. Anjurkan bedrest total di tempat tidur
9. Berikan kompres es
10. Bersihkan darah dari mulut, baju, sepray & lantai
11. Kolaborasi medis :
Pemberian cairan parenteral
Pemberian obat antikoagulan
Pemberian obat untuk menekan batuk
Lanjutkan pemberian OAT
Implementasi :
1. Menenangkan pasien
2. Menjelaskan penyebab batuk darah
3. Mengkaji status pernapasan : mengobservasi tanda tanda kesulitan bernapas dan kemungkinan
terjadinya obstruksi jalan napas ketika batuk : ( K/P berikan oksigen 2 lpm bila ada keluhan sesak
napas )
4. Mengkaji kemampuan batuk : ( K/P lakukan suction bila kemampuan batuk menurun/lemah )
5. Mengukur TTV & mengobservasi tingkat kesadaran
6. Mengobservasi terjadinya tanda-tanda shok hipovolemik : ( perubahan TTV, akral dingin, gelisah,
disorientasi, penurunan tingkat kesadaran ) tiap .....jam
7. Mengatur posisi : trendelendburg miring kesisi kanan ketika batuk berdarah
8. Menganjurkan bedrest total di tempat tidur dengan posisi tidur terlentang saat tidak batuk berdarah
9. Melakukankan kompres es di daerah dada
10. Membersihkan darah dari mulut, baju, sepray & lantai
11. Kolaborasi medis :

Memberian cairan parenteral : IVFD RL drip Adona 1 amp/kolp 20 tpm

Memberian obat antikoagulan : Kalnex/Asam Traxenamat 1 amp iv

Memberian obat untuk menekan batuk : Codein tab 10-20 mg oral

Memberikan OAT : H300 R450 Z750 E500


Evaluasi/catatan perkembangan
S:

Pasien mengatakan masih mengeluh batuk darah tapi darah yang keluar tidak sebanyak kemarin,
rasa perih didada sudah berkurang
O:
Pasien terlihat lebih tenang, tidak tampak sesak napas
Tampak masih mengeluarkan bercak/bekuan darah ketika batuk
TTV : TD..., RR..., N..., T...
Kesadaran CM, GCS 456
Tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas atau kesulitan bernapas
A:
Masalah risti obstruksi jalan napas teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi NO : 3, 5, 7, 8, 9, 11
12. Awasi kemungkinan terjadi batuk darah kembali
13. Lab : cek Hb
14. Rad : foto thorak