Anda di halaman 1dari 5

RESUME BAB 18 MANAJEMEN MODAL KERJA DAN

PEMBIAYAAN JANGKA PENDEK


A. MENGELOLA ASET DAN KEWAJIBAN LANCAR
Masalah pembiayaan jangka pendek muncul dalam pengelolaan investasi aset lancar dan
penggunaan utang jangka pendeknya. Sedangkan modal kerja bersih [net working capital atau NWC]
adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar yang berguna dalam menentukan kebijakan
pembiayaan jangka pendek. Jika NWC menurun maka laba cenderung meningkat. Tetapi pada saat
yang sama risiko likuiditas juga meningkat. Dengan demikian kebijakan pembiayaan jangka pendek
akan berdampak pada NWC yang akhirnya melibatkan perimbangan antara risiko dan pengembalian
[risk-return trade off]. Dalam pengelolaan modal kerja terjadi dilema antara tuntutan likuiditas dan
profitabilitas [risk-return trade off].
Investasi pada sekuritas jangka pendek dan inventory:
Profitability: lebih rendah, Liquidity: lebih tinggi.
Meningkatkan penggunaan sumber pembiayaan jangka pendek dibanding jangka panjang:
Profitability: lebih tinggi, Liquidity: lebih rendah.
NWC dapat ditingkatkan melalui: menambah Current Assets relatif terhadap Current Liability
(menyimpan lebih banyak inventory atau surat berharga jangka pendek) atau dengan mengurangi
Current Liability relatif terhadap Current Assets (menambah penggunaan sumber pembiayaan jangka
panjang dibandingkan dengan jangka pendek). Peningkatan modal kerja melalui penambahan
Current Assets akan menghindari risiko terhentinya produksi dan kegagalan penjualan karena
kurangnya persediaan. Namun profitabilitas pada Current Assets ini rendah, maka profitabilitas
perusahaan akan menurun. Dengan meningkatkan sumber pembiayaan jangka pendek (misalnya
notes payable) dibandingkan dengan sumber jangka panjang (long-term debt), akan dapat
meningkatkan profitabilitas perusahaan karena biaya bunga sumber jangka pendek lebih murah
(masa penggunaan lebih pendek). Sedangkan sumber pembiayaan jangka panjang mempunyai
beban bunga lebih mahal, karena jangka waktu lebih lama. Namun penggunaan sumber pembiayaan
jangka pendek akan menghadapi risiko likuiditas di mana kemungkinan perusahaan tidak mampu
membayar kewajiban-kewajibannya yang segera jatuh tempo (kewajiban jangka pendek).
B. MEMBIAYAI MODAL KERJA DENGAN KEWAJIBAN LANCAR
Keuntungan dari kewajiban lancar adalah tingkat pengembalian. Kewajiban lancar menyediakan
sumber pembiayaan yang lebih fleksibel bagi perusahaan dibandingkan kewajiban jangka panjang
atau ekuitas. Sumber ini bisa dipakai tepat saat perusahaan membutuhkan tambahan dana. Sebagai
contoh, jika perusahaan memerlukan dana selama periode 3 bulan setiap tahunnya untuk
membiayai tambahan kebutuhan persediaan yang sifatnya musiman, maka pinjaman berjangka 3
bulanan bisa menurunkan biaya pinjaman dalam jumlah yang cukup signifikan dibanding pinjaman
jangka panjang. Hal ini akan membawa keuntungan dari sumber pembiayaan jangka pendek, yaitu
biaya bunga. Secara umum, tingkat bunga dari utang jangka panjang pendek lebih rendah daripada
utang jangka panjang.
Kerugian dari kewajiban lancar adalah adanya risiko. Penggunaan kewajiban lancar perusahaan pada
risiko likuiditas karena dua alasan. Pertama, utang jangka pendek, karena sifatnya, harus lebih sering

diperpanjang (roll over) atau dibayar, sehingga akan meningkatkan kemungkinan kondisi keuangan
perusahaan justru semakin buruk (tidak tersedia dana). Yang kedua adalah ketidakpastian biaya
bunga dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, perusahaan yang mengambil utang dengan periode
enam bulan setiap tahun untuk membiayai ekspansi asset lancar musimannya akan menghadapi
tingkat bunga yang berbeda-beda setiap tahun. Jika memakai utang jangka panjang dengan bunga
tetap, biaya bunga selama periode kesepakatan pembiayaan akan diketahui.
C. TINGKAT MODAL KERJA YANG TEPAT
Mengelola modal kerja neto perusahaan (sisi likuiditasnya) melibatkan keputusan tentang investasi
pada Current Assets dan Current Liability secara simultan dan saling berhubungan. Untuk
menentukan berapa besarnya kebutuhan modal kerja [likuiditas] tersebut bisa digunakan prinsip
hedging atau self-liquidating debt. Prinsip hedging yaitu mencocokkan antara karakteristik suatu
aset dalam menghasilkan uang dengan jangka waktu pengembalian dari sumber keuangan yang
dipakai untuk membiayai aset tersebut. Logikanya adalah: dana hanya diperlukan untuk jangka
waktu tertentu dan jika masa itu telah lewat, uang yang dipakai untuk membayar pinjaman akan
dihasilkan dari penjualan tambahan persediaan itu. Bila pembiayaan tersebut dari sumber jangka
panjang, maka perusahaan masih memiliki dana sampai sesudah tambahan persediaan itu terjual,
akibatnya perusahaan akan kelebihan likuiditas yang akan disimpan dalam surat berharga dengan
tingkat return rendah sampai saat musim itu datang dan perusahaan membutuhkan dana lagi,
akibatnya kondisi ini akan menurunkan profitabilitas perusahaan.
D. ASET PERMANEN DAN ASET TEMPORER
Aset permanen : investasi pada aset yang dipertahankan dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun,
misalnya adalah investasi pada saldo minimum dari aset lancar di samping investasi pada aset tetap.
Aset temporer : bagian dari aset lancar yang akan dijual dalam periode berjalan.
Dari total aset yang dimiliki perusahaan akan dibiayai dari sumber-sumber yang meliputi sumber
pembiayaan temporer, permanen, dan spontan. Sumber pembiayaan temporer : terdiri dari
kewajiban lancar berupa short-term notes payable [hutang bank jangka pendek] tanpa jaminan,
commercial paper, dan pinjaman yang dijamin oleh persediaan atau piutang (factoring). Sumber
pembiayaan permanen : meliputi intermediate-term loan, long-term debt, preferred stock dan
common stock. Sumber pembiayaan spontan : terdiri dari utang dagang (account payable) dan
utang-utang lain yang timbul dari operasi perusahaan sehari-hari, misal: utang gaji, bunga, dan pajak
yang diakui di muka [accrued].
Prinsip hedging dapat digambarkan sebagai berikut: Kebutuhan aset yang tidak dibiayai oleh sumber
spontan harus dibiayai sesuai dengan aturan sebagai berikut: investasi aset permanen harus dibiayai
dengan sumber-sumber permanen dan investasi termporer dibiayai dengan sumber-sumber
temporer.
Siklus Konversi Kas
Prinsip yang umum dalam pengelolaan modal kerja adalah meminimalkan modal kerja dengan syarat
modal kerja tersebut harus cukup untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan. Meminimalkan
modal kerja bisa dicapai dengan mempercepat penagihan, meningkatkan perputaran persediaan,
dan mengurangi pembelanjaan dengan kas.
MengukurEfisiensi Modal Kerja

CCC (Cash Conversion Cycle) = DSO + DSI - DPO


DSO (Days of Sales Outstanding)

= [Receivables/(Sales/365)]

DSI (Days of Sales in Inventory)

= [Inventory/(COGS/365)]

DPO (Days of Payables Outstanding)

= [Accounts Payable/(COGS/365)]

Semakin besar CCC, semakin tinggi kebutuhan Modal Kerja. Untuk menurunkan CCC dapat dilakukan
dengan cara: mempercepat ICP, mempercepat DSO, dan menunda DPO.
Rumus Biaya Kredit Berdasar Perkiraan
Prosedur untuk mengestimasi biaya kredit jangka pendek adalah sangat sederhana, yaitu
berdasarkan persamaan penghitung bunga.
Bunga = pokok utang x tingkat bunga x jangka waktu
Kita menggunakan hubungan dasar ini untuk menghitung biaya dari sumber pembiayaan jangka
pendek atau yang disebut tingkat persentase tahunan atau annual percentage rate (APR), dimana
jumlah bunga, jumlah pokok, dan periode pembiayaan diketahui. Jadi, rumus bunga untuk adalah:
APR = bunga / (pokok x jangka waktu)
Atau
APR = (bunga/pokok) x (1/jangka waktu)
Rumus Persentase Hasil Tahunan Atau Annual Percentage Yield (APY)
APY = (1+ i/m) - 1
Keterangan:
APY
= persentase profit (yield) tahunan
i
= suku bunga nominal pertahun (12% untuk contoh sebelumnya
m
= jumlah periode yang dihitung(compound) dalam 1 tahun
Karena selisih APR dan APY relatif kecil,kita menggunakan versi yang lebih sederhana yaitu APR
untuk menghitung biaya kredit jangka pendek.
E. SUMBER-SUMBER PINJAMAN JANGKA PENDEK
Kategori sumber keuangan ada dua jenis: pinjaman tanpa jaminan (unsecured loans) dan pinjaman
dengan jaminan (secured loans). Pinjaman tanpa jaminan (unsecured) meliputi semua jenis
pinjaman yang jaminannya hanya keyakinan dari pemilik modal pada kemampuan pengutang untuk
melakukan pembayaran saat jatuh tempo. Sumber utama dari pinjaman jenis ini termasuk gaji dan
pajak yang diakui dimuka, hutang dagang, pinjaman bank tanpa jaminan, dan commercial paper.
Pinjaman dengan jaminan (secured) mensyaratkan suatu aset spesifik sebagai jaminan jika
pengutang mengalami gagal bayar, baik pokok maupun bunganya.
Sumber-Sumber Pinjaman Tanpa Jaminan:
1. Utang Gaji Dan Pajak (Accrued)
Karena perusahaan biasanya membayar gaji pegawai secara periode, maka perusahaan mengakui
adanya utang gaji yang artinya pinjaman dari pegawai. Semakin lama perusahaan menahan
pembayaran pajaknya semakin besar dana yang mereka peroleh. Perhatikan bahwa sumber-sumber

ini akan naik turun secara spontan mengikuti tingkat penjualan. Artinya ,jika penjualan meningkat
maka biaya gaji, pajak penjualan, dan pajak pendapatan juga meningkat. Sehingga biaya-biaya yang
diakui dimuka ini menyediakan sumber pembiayaan spontan bagi perusahaan.
2. Utang Dagang (Trade Credit)
Trade credit adalah sumber pembiayaan jangka pendek yang paling fleksibel bagi perusahaan dan
sumber utama pembiayaan spontan. Artinya, trade credit muncul secara spontan ketika perusahaan
melakukan pembelian. Sering terjadi term (jangka waktu) kredit dan diskon kas yang ditawarkan
perusahaan jika pembayaran dilakukan lebih awal. Misalnya kredit dengan term 2/10, net 30; artinya
pemasok menawarkan diskon sebesar 2% jika pembayaran dilakukan dalam 19 hari, jika tidak maka
harus dibayar penuh dan jatuh tempo dalam waktu 30 hari. Menunda (streching) trade credit adalah
menunda pembayaran sampai melewati jangka waktu periode kredit. Sebagai contoh, perusahaan
membeli material dengan kredit yang term-nya 3/10, net 60; tetapi jika perusahaanya kekurangan
kas, perusahaan mungkin menunda pembayaran sampai hari ke 80. Pelanggaran yang terus
berlanjut pada term kredit bisa berakibat hilangnya kredit. Tetapi, ini terjadi dalam periode singkat
dan frekuensinya kecil, penundaan in bisa menjadi sumber kredit jangka pendek darurat bagi
perusahaan. Keuntungan trade credit Sebagai sumber pembiayaan jangka pendek:
a. trade credit bisa diperoleh sebagai bagian dari operasi normal perusahaan.
b. perusahaan tidak memerlukan perjanjian formal jika ingin memperpanjang/menunda
pembayaran kredit.
c. jumlah kredit yang diperpanjang tergantung dari kebutuhan perusahaan.
3. Kredit Bank
Bank komersial menyediakan sumber kredit tanpa jaminan dalam dua bentuk dasar: line of credit
dan pinjaman transaksi (notes payable). Jatuh tempo dari kedua kredit itu biasanya 1 tahun atau
kurang, dengan tingkat suku bunga tergantung dari kelayakan kredit (creditworthy) dari perusahaan
dan tingkat suku bunga ekonomi secara keseluruhan.
Line of Credit Perjanjian line of credit adalah perjanjian pinjaman antara bank dan peminjam dimana
bank akan menyediakan sejumlah dana maksimum selama periode tertentu. Pinjama yang aktual
adalah tergantung pada kebijakan perusahaan dan bank biasanya mensyaratkan balance nol pada
periode tertentu, misalnya satu bulan per tahun. Syarat ini dirancang untuk meyakinkan bahwa
peminjam memakai kredit ini untuk membiayai modal kerja dan bukan untuk aset permanen.
Pinjaman transaksi merupakan pinjaman yang paling banyak dipakai dan diperoleh dengan
menandatangani surat kesanggupan (promissory note). Pinjaman transaksi tanpa jaminan memiliki
kesamaan dengan line of credit dalam hal biaya, jangka waktu jatuh tempo, dan syarat simpanan
minimal. Dalam dua hal tersebut, bank komersial biasanya meminta peminjam untuk membersihkan
pinjaman jangka pendeknya dalam periode 30-45 hari selama tahun tersebut. Peminjam harus bebas
dari segala pinjaman bank dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa
peminjam tidak memakai pinjaman jangka pendek untuk membayar pinjaman jangka panjang.
4. Surat Berharga
Hanya perusahaan besar dan kelayakan kreditnya paling bagus yang bisa menggunakan surat
berharga yaitu kesanggupan untuk membayar jangka pendek yang dijual di pasar sekuritas utang
jangka pendek. Jangka waktu sumber kredit ini biasanya 6 bulan atau kurang, walaupun beberapa

dijual dengan jangka waktu 270 hari. Suku bunga surat berharga biasanya lebih rendah prime rate
bank komersial. Surat berharga baru bisa dijual baik secara langsung atau lewat pialang (dealer).
Beberapa keuntungan dari menjual surat berharga :
a. Tingkat suku bunga. Suku bunga surat berharga biasanya lebih rendah daripada bunga bank
atau sumber pembiayaan jangka pendek lain.
b. Syarat simpanan minimal (compensating balance). Tidak ada simpanan minimal yang
diperlukan untuk surat berharga. Tetapi perusahaan biasanya merasa perlu memiliki
perjanjian lines of credit untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka pendek jika surat
berharga tidak terjual atau perusahaan tidak mampu membayar surat berharga.
c. Jumlah kredit. Surat berharga memungkinkan perusahaan bisa memenuhi berbagai jenis
kebutuhan pembiayaan jangka pendeknya dengan hanya memakai satu sumber.
d. Prestise. Karena biasanya perusahaan yang bisa mempunyai akses ke pasar surat uang adalah
perusahaan yang tingkat kelayakan kreditnya bagus.
Memakai surat berharga untuk pembiayaan jangka pendek juga ada risiko. Pasar surat berharga
sangat impersional, dan mengabaikan fleksibilitas pembayaran utang, bahkan untuk perusahaan
yang status kreditnya sangat baik. Jika perusahaan memakai kredit bank, maka perusahaan memiliki
orang yang bisa membantu perusahaan jika suatu saat mengalami kesulitan pembayaran.
Sumber-Sumber Dengan Jaminan:
1. Pinjaman Piutang
Dalam hal terjadi kegagalan atas perjanjian pinjaman, pemberi pinjaman memiliki klaim pertama
terhadap aset yang dijanjikan disamping klaim mereka sebagai kreditor pada umumnya terhadap
perusahaan. Oleh karenanya, perjanjian kredit yang aman menawarkan margin yang aman bagi
pemberi pinjaman. Dua prosedur dasar dalam mengatur pembiayaan berdasarkan piutang: pledging
dan factoring.
Menjaminkan Piutang Dagang (Pledging Account Receivables) yaitu peminjam secara sederhana
menjanjikan(pledge) piutangnya sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan. Jumlah pinjaman
merupakan persentase dari face value (FV) jumlah piutang yang di- pledgekan. Karena pemberi
pinjaman tidak memiliki kontrol atas kualitas piutang yang di-pledgekan, ia akan menentukan jumlah
maximum persentase FV piutang yang relatif rendah, biasanya sekitar 75%. Pemberi pinjaman juga
biasanya membebankan handling fee yang merupakan persentase dari FV piutang yang diproses.
Pemfaktoran Piutang Dagang (Factoring Account Receivables) yaitu factoring piutang melibatkan
penjualan piutang kepada institusi keuangan, disebut factor. Factor menanggung risiko penagihan
dan pelayanan dengan mendapat sejumlah fee tertentu. Besar fee merupakan persentase FV
piutang yang difaktorkan. Factor biasanya tidak melakukan pembayaran atas piutang yang
difaktorkan sampai piutang tersebut telah ditagih/credit terms telah dipenuhi. Selama waktu
tersebut, perusahaan bisa meminjam dari factor dengan menggunakan piutang yang difaktorkan
sebagai jaminan. Jumlah pinjaman max sama dengan FV piutang yang difaktorkan dikurangi factors
fee, reserve, dan bunga.