Anda di halaman 1dari 14

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori
2.1

Konsentrasi Belajar

2.1.1. Definisi Konsentrasi Belajar


Konsentrasi belajar merupakan suatu prilaku dan fokus perhatian siswa untuk dapat
memperhatikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran, serta dapat memahami setiap
materi pelajaran yang telah diberikan. (Sumartno, : 2004).
Konsentrasi

belajar

merupakan

tingkatan

pemahaman

siswa

yang

dapat

memperhatikan dengan baik dalam setiap pelaksanaan pembelajaran. Berbagai upaya terus
dilakukan oleh pemerintah, misalnya dengan penataran, pembekalan, seminar, diskusi,
sampai penelitian yang intinya bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan. (Republika,
24 Desember 2008).
Konsentrasi bagi seseorang PrP (Pineal re Programming) adalah kesadaran yang
mampu mengintepretasi dan menyimpan segala informasi tanpa pilih - pilih yang dianggap
berguna atau tidak, yang meliputi :
1. Intepretasi dari setiap individual indra yang diproses oleh masing - masing panca indra
yang memiliki output sendiri sendiri, seperti :
a. Mata menerima input secara visual dan kemudian otak mengintepretasikannya.
b. Telinga menerima input getaran suara dan kemudian otak menginterpretasikannya
c. Hidung menerima input penciuman bau dari lingkungan sekitar dan kemudian otak
menginterpretasikannya.
d. Kulit menerima input peraba udara, kasar, halus, yang dirasakan dan kemudian
7

disampaikan ke otak lalu menginterpretasikannya.


e. Lidah menerima input perasa dan kemudian otak menginterpretasikannya.
Dari tiap output interpretasi tiap individual panca indera, lalu terbentuk general
language (bahasa lintas indera) yang memberikan informasi detail dalam satu jenis bahasa
tentang hal yang diterima semua indera secara merata.
2. Tiap individual object information yang masih dalam jangkauan, dapat diterima oleh
kelima indera dalam radius tertentu,kemudian diinterpretasikan oleh tiap masing - masing
indera secara individual sebagai individual objek tanpa tereduksi oleh individual object
information lain. Kemudian tiap individual object information juga diinterpretasikan
mengenai sebab akibat satu dengan yang lainnya.

2.1.2. Indikator Konsentrasi Belajar


Indikator merupakan alat untuk mengukur realisasi dari standar permasalahan
dalam penelitian yang muncul serta membimbing penerapan berbagai perbaikan dan
perubahan yang diperlukan. Dalam penelitian permasalahan yang akan dibahas mengenai
tingkat konsentrasi belajar siawa yang merupakan suatu perasaan atau sikap yang timbul
dari pengalaman subjektif, keberadaan dan fokus perhatian yang dapat diketahui melalui
suatu pengukuran dengan menggunakan alat ukur tertentu.
Menurut Super dan Crites, yang dikutip oleh Karnoto (1986:16) bahwa cara untuk
mengukur konsentrasi belajar adalah sebagai berikut :
1. Memperhatikan setiap materi pelajaran yang disampaikan guru
2. Dapat merespon dan memahami setiap materi pelajaran yang diberikan
3. Selalu bersikap aktif dengan bertanya dan memberikan argumentasi mengenai
materi pelajaran yang disampaikan guru
8

4. Menjawab dengan baik dan benar setiap pertanyaan yang diberikan guru
5.

Kondisi kelas tenang dan tidak gaduh saat menerima materi pelajaran
Untuk mengukur tingkat konsentrasi belajar siswa, yang terpenting adalah mengetahui

seberapa jauh individu tersebut menerima, menolak atau menghindari setiap pelaksanaan
pembelajaran yang menjadi kecenderungannya.

2.1.3. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar


Menurut (Tonie Nase :2007) Konsentrasi belajar siswa, dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor, yaitu :
1. Lingkungan
Lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan dalam berkonsentrasi, kita akan dapat
memaksimalkan kemampuan konsentrasi. Jika kita dapat mengetahui faktor apa saja yang
berpengaruh terhadap konsentrasi, kita mampu menggunakan kemampuan kita pada saat
dan suasana yang tepat. Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah
suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar.
a. Suara
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap suara, ada yang menyukai
belajar sambil mendengarkan musik, belajar ditempat ramai, dan bersama teman. Tetapi
ada yang hanya dapat belajar ditempat yang tenang tanpa suara, atau ada juga yang dapat
belajar ditempat dalam keadaan apapun.
b. Pencahayaan
Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan
dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat
terang, atau senang belajar ditempat yang gelap, tetapi kenyamanan visual dapat juga
9

digolongkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam
ruangan maupun bangunan.
c. Temperatur
Temperatur sama seperti faktor pencahayaan, merupakan faktor yang pengaruhnya
kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang
senang belajar ditempat dingin, atau senang belajar ditempat yang hangat, dan juga senang
belajar ditempat dingin maupun hangat.
d. Desain Belajar
Desain belajar merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh juga, yaitu
sebagai media atau sarana dalam belajar, seperti halnya terdapat seseorang yang senang
belajar ditempat santai sambil duduk di kursi, sofa, tempat tidur, maupun di karpet. Cara
tersebut merupakan salah satu cara yang dapat membuat kita lebih dapat berkonsentrasi.

2. Modalitas Belajar
Modalitas belajar yang menentukan siswa dapat memproses setiap informasi yang
diterima. Konsentrasi dalam belajar dan kreativitas guru dalam mengembangkan strategi
dan metode pembelajaran di kelas akan meningkatkan konsentrasi belajar siswa sehingga
hasil belajarnya pun akan meningkat pula.
Semakin banyak informasi yang diterima dan diserap oleh siswa, maka kemampuan
berkonsentrasi pun harus semakin baik dan fokus dalam mengikuti setiap proses
pembelajaran. Banyak cara yang ditawarkan oleh para ahli dalam meningkatkan
konsentrasi belajar siswa, misalnya dengan cara meningkatkan gelombang alfa agar setiap
siswa dapat berkonsentrasi dengan baik (Depoter,dkk; 2000), kemudian dapat juga dengan

10

mengatur posisi tubuh pada saat belajar, dan mempelajari materi (informasi) sesuai dengan
karakteristik siswa itu sendiri.

3. Pergaulan
Pergaulan juga dapat mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran, perilaku dan
pergaulan mereka, dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yang dipengaruhi juga oleh
beberapa faktor, seperti faktor teknologi yang berkembang saat ini contohnya televisi,
internet, dll hal ini sangat berpengaruh pada sikap dan prilaku siswa.

4. Psikologi
Faktor psikologi juga dapat mempengaruhi bagaimana sikap dan perilaku siswa dalam
berkonsentrasi, misalnya karena adanya masalah dalam lingkungan sekitar dan keluarga,
hal ini tentunya akan mempengaruhi psikologi siswa, karena siswa akan kehilangan
semangat dan motivasi belajar mereka, tentunya akan berpengaruh juga terhadap tingkat
konsentrasi siswa yang akan semakin menurun.

2.2

Temperatur dan Pecahayaan Ruang

2.2.1. Definisi Temperatur Ruang


Temperatur ruang bila dihubungkan dengan temperatur ruang kelas, kata temperatur
ruang yang nyaman memiliki pengertian ruangan yang memiliki suhu udara sejuk, santai
dan nyaman, sebagai sarana pendidikan ( kamus ilmiah.com ). Dalam mendeskripsikan
kondisi itu sendiri ada yang berupa Kondisi temperatur, dimana kondisi temperatur adalah
suatu kondisi thermal yang dirasakan oleh psikologi sikap dan perilaku manusia bukan

11

oleh benda, tetapi yang dikondisikan dan disebabkan oleh lingkungan sekitar dan bendabenda lainnya yang terdapat di sekitar. (Fanger, :1997).
Temperatur ruangan merupakan suatu suhu pada ruangan tersebut yang nyaman atau
tidaknya suhu suatu ruangan atau lingkungan thermal akan tergantung pada menyala dan
matinya signal syaraf reseptor temperatur yang terdapat pada kulit dan otak manusia, maka
kenyamanan temperatur merupakan kondisi pikiran yang dapat mengekspresikan tingkat
kepuasan seseorang terhadap suhu ruangan serta lingkungan thermal disekitarnya. (Peter
Hoppe, : 1997).
Temperatur merupakan tingkatan suhu suatu benda yang berhubungan dengan energi
dalam berbagai skala, di kehidupan sehari - hari biasanya ukuran suhu udara dapat
dinyatakan derajat celcius (kamus ilmiah.com). Manusia dapat menginderakan suhu udara
disekitarnya, kondisi suhu udara di lingkungan sekitar manusiaatau di atmosfer dinamakan
dengan ambient temperature (suhu lingkungan).
Penginderaan temperatur lingkungan itu sendiri bersumber ada dua komponen, yaitu
komponen fisik dan komponen psikis. Komponen fisik adalah kadar suhu udara
lingkungan yang diukur dengan skala Celcius (C) atau Fahrenheit (F). Sedangkan
komponen psikis lebih majemuk, bagian komponen psikis yang pertama adalah suhu tubuh
kita sendiri yang dinamakan dengan temperatur internal (body temperature). Bagian lain
yang peka terhadap suhu udara pada tubuh kita yaitu pada kulit yang merupakan reseptor
yang peka terhadap perubahan suhu udara lingkungan sekitar.
Reaksi tubuh sangat dipengaruhi oleh suhu udara lingkungan. Untuk ukuran suhu
tubuh manusia normalnya memiliki suhu tubuh sekitar 37C, jika suhu tubuh manusia
kurang dari 25C atau lebih dari 55C, maka akan mati. Oleh karena itu didalam tubuh
manusia terdapat organ tertentu yang mempertahankan suhu tubuh agar tetap normal.
12

Organ tersebut adalah hypothalamus. Jika temperatur udara lingkungan meningkat, maka
fungsi hypothalamus untuk merangsang pembesaran pori-pori kulit, percepatan peredaran
darah, pengeluaran keringat dan reaksi-reaksi tubuh lainnya yang bertujuan untuk dapat
mengurangi panas tubuh yang berlebihan.
Gejala yang akan terjadi, ketika hypothalamus tidak dapat mempertahankan suhu
tubuh manusia pada suhu normal, maka gejala yang akan terjadi :
a. Heat exhaustion : akan menimbulkan rasa lelah akibat panas yang berlebihan, disertai
rasa mual, sakit kepala dan gelisah.
b. Heat stroke : akan mengakibatkan delerium (mengigau), pingsan (tidak sadar), dan
dapat mengakibatkan meninggal dunia akibat panas yang berlebihan.
c. Heat aesthenia : akan mengakibatkan kejenuhan, sakit kepala, gelisah, susah untuk
tidur insomnia dan mudah tersinggung.
d. Mengakibatkan serangan jantung, karena suhu lingkungan yang tinggi daya kerja
jantung lebih cepat mengalirkan darah keseluruh tubuh untuk menurunkan suhu.
Reaksi penyesuaian diri dari suhu lingkungan yang satu dengan suhu lingkungan yang
Lainnya yang memiliki suhu berbeda-beda disebut acclimatization (aklimatisasi).

2.2.2. Definisi Pencahayaan Ruang


Pencahayaan ruang adalah faktor pencahayaan pada ruangan sehingga intensitas
cahaya dari luar yang masuk pada masing-masing ruang dapat terpenuhi sesuai dengan
fungsi dan kebutuhannya. Satuan intensitas cahaya adalah candela (disingkat cd) dan
lumen/lux. Satu candela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan
radiasi monokromatik pada frekuensi 540 1012 hertz dengan intensitas radiasi sebesar
1/683 watt per steradian dalam arah tersebut (CGPM ke-16, 1979)
13

Pencahayaan merupakan kestabilan sirkulasi Pencahayaan yang masuk ke dalam


ruangan dan sebagai salah satu faktor yang sebenarnya pengaruhnya kurang begitu
dirasakan dibandingkan pengaruh suara, karena terdapat juga seseorang yang senang
belajar ditempat terang, atau senang belajar ditempat yang gelap, tetapi pencahayaan dapat
juga digolongkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di
dalam ruangan maupun bangunan.

2.2.3. Reaksi Fisiologis Terhadap Kondisi Temperatur dan Pencahayaan


Penjelasan bagaimana manusia dapat mengerti dan memahami lingkungan serta
fisiologis yang dapat mempengaruhi kenyamanan, seperti :
a. Pendekatan Konvensional
Bermula dari adanya rangsangan luar dari diri individual (stimulus), individu menjadi
sadar akan adanya stimulus ini melalui sel - sel syaraf reseptor (penginderaan) yang peka
terhadap bentuk-bentuk energi tertentu cahaya maupun suara yang dapat mempengaruhi
tingkat kenyamanan. Menurut Wirawan (1992), bila sumber energi itu cukup kuat, maka
akan berpengaruh terhadap penginderaan manusia dan akan disatukan kemudian
dikoordinasikan di dalam sel - sel syaraf dan otak, sehingga manusia bisa mengenali objek
dan kenyamanan di lingkungan sekitar, maka keadaan ini dinamakan persepsi.
Pandangan konvensional ini menganggap persepsi sebagai kumpulan penginderaan
(sensation). Jadi kalau kita melihat benda yang terbuat dari kayu dan berkaki empat, maka
indera kita akan mengkoordinasikan secara tertentu, yang dikaitkan dengan ingatan dan
pemahaman kita, yang diberi makna tertentu sehingga kita bisa mengenal, misalnya benda
tersebut adalah kursi. Cara pandang seperti ini dinamakan juga sebagai pendekatan

14

kontruktivisme. Karena sebetulnya kerja otak kita tidak secara pasif mengkumulasikan
pengalaman dan memori kita, melainkan aktif untuk menilai dan memberikan makna.

b. Pendekatan Ekologik
Pendekatan ini dikemukakan oleh (Gibson, ;1997), individu tidak menciptakan maknamakna dari apa yang di inderakannya, karena sesungguhnya makna itu telah terkandung
dalam stimulus itu sendiri dan tersedia untuk organisme yang siap menyerapnya.Ia
berpendapat bahwa persepsi terjadi secara spontan dan langsung. Spontanitas ini terjadi
karena organisme selalu menjajaki (eksplorasi) lingkungannya dan dalam penjajakan itu
melibatkan setiap objek yang ada di lingkungannya dan setiap objek menonjolkan sifatsifatnya yang khas untuk organisme bersangkutan.

2.2.4. Dampak Kondisi Temperatur dan Pencahayaan Terhadap Perilaku


Menurut Bell dkk (Wirawan,: 1992) menuturkan bahwa kondisi temperatur dan
pencahayaan sampai batas tertentu dapat menimbulkan arousal yang dapat mempengaruhi
dan merangsang prestasi, tetapi setelah sudah melewati batas kenyamanan tertentu, akan
mengakibatkan terganggunya pula tingkat konsentrasi dan prestasi belajar.
Kondisi temperatur lingkungan, dan sirkulasi cahaya yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan meningkatnya beban psikis (stress) sehingga akhirnya akan menurunkan
attention. Teori behavioral constraint, suhu lingkungan yang terlalu tinggi akan
meyebabkan menurunnya persepsi kontrol terhadap lingkungan sehingga dapat
mempengaruhi kosentrasi dan perilaku individu.
Di lingkungan industri maupun di lingkungan sekolah, kondisi temperatur dan
pencahayaan yang kurang baik, menimbulkan kejenuhan, kelelahan dan berkurangnya
15

konsentrasi. Serta pengaruhnya kondisi temperatur dan pencahayaan yang kurang baik,
akan mempengaruhi terhadap tingkah laku sosial, misalnya peningkatan agresivitas dan
perubahan perilaku sosial yang signifikan dari sebelumnya.
a.

Reaksi Terhadap Panas


Menurut Bell dkk (Wirawan, 1992), mengemukakan kenaikan suhu sampai batas

tertentu menimbulkan arousal yang merangsang prestasi, tetapi setelah melebihi batas
tertentu, kenaikan suhu yang melebihi batas suhu normal ini sudah mulai mempengaruhi
suhu tubuh manusia yang mengakibatkan terganggunya pula prestasi kerja. Ditinjau dari
teori overload, suhu lingkungan yang berlebihan dan terlalu tinggi menyebabkan
meningkatnya beban psikis (stress) pada manusia sehingga akan menurunkan attention. Di
tinjau dari teori behavioral constraint, suhu lingkungan yang terlalu tinggi akan
menyebabkan menurunnya persepsi kontrol manusia terhadap lingkungan sehingga bisa
menurunkan tingkat konsentrasi.
b. Reaksi Terhadap Dingin
Reaksi fisiologis terhadap suhu udara yang dingin (dibawah 68F atau 20C) dalam
beberapa hal berbeda dengan reaksi fisiologis terhadap suhu panas. Dampak suhu udara
yang dingin terhadap perilaku manusia sangat kompleks karena beberapa hal, yaitu :
1. Manusia jarang sekali melakukan aktifitas pada suhu udara dingin, tanpa memakai
pelindung misalnya pakaian yang tebal atau memakai jaket.
2. Dikarenakan reaksi fisiologis dan perilaku manusia berbeda-beda terhadap suhu udara
dingin, hal inilah yang menyebabkan perbedaan dan menjadi kompleks. Hal ini
disebabkan juga kekebalan suhu tubuh manusia itu berbeda-beda

16

2.3. Suhu Udara Efektif


Kombinasi suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin tidak pernah
mempunyai besaran yang tetap, karena keadaannya selalu mengalami perubahan dan
Keadaan saling mempengaruhi tersebut akan membentuk suhu udara efektif yang nyaman
bagi manusia untuk beraktifitas. Meskipun perasaan nyaman tersebut bersifat subjektif
tetapi dapat ditentukan daerah kenyamanan dan berlaku umum bagi orang-orang yang
tinggal di daerah yang sama. kondisi kenyamanan thermal sampai batas efektif dengan
suhu udara berkisar 25C dan dapat menimbulkan arousal yang mempengaruhi dan
merangsang kenyamanan serta prestasi kerja, tetapi setelah melewati batas kenyamanan
tertentu, akan mengakibatkan terganggunya pula tingkat konsentrasi dan prestasi belajar.
Pada daerah yang memiliki iklim tropis, zona kenyamanan thermal suatu ruangan
berkisar pada tingkatan suhu udara efektif antara 22C sampai 27C, lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 2.1
Suhu Udara Efektif Daerah Tropis
(Sumber Direja, 1999: 3)
Suhu Udara Efektif
(ET)(C)

Kategori

27.5C

nyaman - hangat

25.8C

nyaman - optimal

22.1C

nyaman - sejuk

20.5C

nyaman - sejuk

17

2.4. Intensitas Cahaya Efektif


Dalam merancang ruangan maupun bangunan selain melihat aspek tata letak dan
morfologi bangunan, juga harus memperhatikan aspek sirkulasi pencahayaan yang masuk
pada bangunan (Sumalyo1993:9). Bangunan dan ruangan yang baik dibangun dengan
gaya dan karakteristik dengan adanya penyesuaian terhadap iklim tropis basah di
Indonesia. Penyesuaian terhadap iklim tropis basah tersebut sangat mempengaruhi corak
arsitektur memiliki ciri khas pada bukaan bangunannya. Bukaan pada bangunan seperti
pintu dan jendela merupakan suatu elemen penting pada suatu ruang. Rancangan pintu dan
jendela, serta dimensi dan tata letaknya dalam suatu ruang juga akan mempengaruhi
sirkulasi bangunan tersebut dan aktivitas di dalamnya.
Ruang terlalu terang, mata akan silau dan cepat lelah. Ruang kurang terang, mata
berakomodasi maksimal terus menerus sehingga cepat lelah juga. Ruang membaca
sedikitnya membutuhkan cahaya 250 lux ( lumen/ kuat cahaya dibagi luas ruang ), idealnya
antara 300-400 lux. Tes mudahnya, jika selama 15 menit kita tak merasa lelah maka
cahayanya sudah cukup ideal.Pintu dan jendela tidak hanya berfungsi sebagai pembatas
antar ruang, akses masuk, transisi ruang, penghubung antar ruang, dan sekaligus pengaman.
Tetapi juga berfungsi sebagai sirkulasi pencahayaan yang masuk kedalam ruangan Oleh
karena itu, rancangan desain pintu dan jendela harus disesuaikan dengan fungsinya dan
peletakannya. Karena Peranan pintu sebagai penghubung antar ruang juga mempengaruhi
visual penghuni bangunan, meskipun antar ruang memiliki keterkaitan, tetapi ada berbagai
batasan-batasan yang melingkupinya. Jendela merupakan elemen bukaan pada rumah
tinggal yang memiliki peranan penting untuk memberikan kenyamanan pergantian sirkulasi
udara, memasukkan cahaya ke dalam ruang, penghubung visual dari sisi dalam maupun
luar ruangan, dan jendela dapat mempercantik bangunan dan ruangan. Jendela pada
18

bangunan dan ruangan memiliki karakteristik yang unik dari segi fungsi, material, maupun
rancangannya mempunyai ciri khas, yaitu adaptif dengan iklim setempat. Oleh karena itu,
rancangan bukaan pada bangunan sangat penting untuk diperhatikan, karena memegang
peranan penting terhadap kenyamanan penghuni bangunan, dan desain bukaannya juga
menambah nilai estetis pada suatu bangunan.

B. Anggapan Dasar
Setiap penelitian perlu ditunjang adanya anggapan dasar untuk memperkuat landasan
penelitian. Anggapan merupakan titik tolak penelitian dalam suatu penelitian yang
kebenarannya tidak diragukan lagi. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarno Surakhmad
yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto (2002 : 58) bahwa : Anggapan dasar atau postulat
adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.
Anggapan dasar merupakan landasan teoritis yang penulis gunakan dalam melakukan
penelitian sehingga penelitian ini dapat sejalan dengan kaidah-kaidah keilmuan yang sudah
ada sebelumnya.
Berdasarkan uraian tersebut maka sebagai asumsi penulis dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Adanya kecenderungan bahwa kondisi temperatur dan pencahayaan ruang kelas
dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi belajar siswa

C. Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian. Hipotesis disimbolkan dengan (Ha) dan perlu didampingi oleh
19

pernyataan lain yang isinya berlawanan. Pernyataan ini merupakan hipotesis tandingan
dengan simbol (Ho) untuk ( Ha).
Berdasarkan pengertian diatas, hipotesis yang dirumuskan penulis pada penelitian ini
sebagai berikut :

(Ho)

: Tidak terdapat perbedaan tingkat konsentrasi belajar siswa yang signifikan

berdasarkan kondisi temperatur dan pencahayaan ruang kelas di Sekolah Menengah


Kejuruan Negeri 5 Bandung

(Ha)

: Terdapat perbedaan tingkat konsentrasi belajar siswa yang signifikan

berdasarkan kondisi temperatur dan pencahayaan ruang kelas di Sekolah Menengah


Kejuruan Negeri 5 Bandung

20