Anda di halaman 1dari 3

UJI PROTEIN PADA ALBUMIN TELUR

I Dewa Gede Agus Sudarma*, Nim: 1113031011


*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
Jln. Udayana, Singaraja. 81117 telp. (0362) 25072
ABSTRAK

Kata kunci:
ABSTRACT

Key words:

1. PENDAHULUAN
Istilah protein diperkenalkan pada tahun
1830-an oleh pakar kimia Belanda bernama
Mulder, yang merupakan salah satu dari orangorang pertama yang mempelajari kimia dalam
protein secara sistematik. Ia secara tepat
menyimpulkan peranan inti dari protein dalam
sistem hidup dengan menurunkan nama dari
bahasa Yunani proteios, yang berarti
bertingkat pertama. Protein merupakan
makromolekul yang menyusun lebih dari
separuh bagian dari sel.
Protein menentukan ukuran dan struktur
sel, komponen utama dari sistem komunikasi
antar sel serta sebagai katalis berbagai reaksi
biokimia di dalam sel. Karena itulah sebagian
besar aktivitas penelitian biokimia tertuju pada
protein khususnya hormon, antibodi dan enzim.
Semua jenis protein terdiri dari rangkaian dan
kombinasi dari 20 asam amino. Setiap jenis
protein mempunyai jumlah dan urutan asam
amino yang khas. Di dalam sel, protein terdapat
baik pada membrane plasma maupun membran
internal yang menyusun organel sel seperti
mitokondria, retikulum endoplasma, nukleus
dan badan golgi dengan fungsi yang berbedabeda tergantung pada tempatnya.
Protein-protein yang terlibat dalam reaksi
biokimia sebagian besar berupa enzim banyak
terdapat di dalam sitoplasma dan sebagian
terdapat pada kompartemen dari organel sel.
Protein merupakan kelompok biomakromolekul
yang sangat heterogen. Ketika berada di luar
makhluk hidup atau sel, protein sangat tidak
stabil. Protein merupakan komponen utama
bagi
semua
benda
hidup
termasuk
mikroorganisme, hewan dan tumbuhan. Protein
merupakan rantaian gabungan 22 jenis asam
amino. Protein ini memainkan berbagai peranan
dalam benda hidup dan bertanggungjawab
untuk fungsi dan ciri-ciri benda hidup.
Ada berbagai cara untuk mengidentifikasi
protein yang disebut dengan uji protein. Reaksi
uji protein dapat dilakukan dengan uji biuret,
pengendapan oleh logam, pengendapan oleh
garam, pengendapan dengan alcohol, uji
koagulasi dengan asam, dan denaturasi protein.
Uji biuret memiliki prinsip pembentukan
kompleks berwarna ungu dari hasil reaksi ion
Cu2+ dari pereaksi biuret dalam suasana basa

dengan ikatan-ikatan peptida yang menyusun


protein. Senyawa kompleks yang terbentuk dari
ikatan Cu2+ dengan N pada ikatan peptida.
Banyaknya asam amino yang membentuk
protein akan mempengaruhi warna dari reaksi
uji ini. Dasar reaksi pengemdapan oleh logam
adalah penetralan muatan. Logam berat yang
bermuatan positif akan menetralkan protein
sehingga protein mengendap.
Pengendapan protein dengan penambahan
garam didasari atas sifat garam yang lebih
mudah mengikat air dibandingkan dengan
protein sehingga protein akan mengendap.
Prinsip pengendapan dengan penambahan
akohol memiliki prinsip yang tidak jauh
berbeda
dengan
pengendapan
dengan
penambahan
garam.
Prinsipnya
adalah
kompetisi pembentukan ikatan Antara proteinair dengan alkohol-air.
Uji koagulasi dilakukan dengan membuat
protein mencapai pH isoelektrisnya yaitu
muatan negative dan positif protein sama. Pada
saat tersebut, protein akan terkoagulasi.
Sedangkan denaturasi protein memiiki prinsip
pemecahan
ikatan
hydrogen,
interaksi
hidrofobik, ikatan garam, dan terbukanya
lipatan dari molekul protein.
2. METODE
Metode yang digunakan adalah dengan
melakukan percobaan kualitatif di laboratorium.
Percobaan dilakukan di Laboratorium Kimia
Organik,
Jurusan
Pendidikan
Kimia,
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
Alat yang digunakan dalam percobaan
tersebut adalah pipet tetes; tabung reaksi;
batang pengaduk, corong gelas; labu
Erlenmeyer 250 mL; spatula; gelas kimia 100
mL; gelas kimia 250 mL; pemanas; kaca arloji;
cawan poeselen; dan penjepit kayu.
Bahan-bahan yang digunakan dalam
percobaan adalah larutan protein; larutan NaOH
0,1 N; larutan NaOH 0,25 N; larutan CuSO4;
larutan HgCl2 0,2 M; larutan Pb-asetat 0,2 M;
Kristal amonium sulfat; reagen Millon; buffer
asetat pH 4,7; larutan HCl 0,1 N; akuades;
larutan BaCl2; etanol 95%; larutan CH3COOH 1
M; dan larutan gelatin.
Langkah kerja praktikum diawali dengan
menyiapkan dan membersihkan alat yang akan

digunakan agar tidak mengganggu hasil


praktikum. Pengujian protein dalam albumin
telur ini menggunakan 6 prosedur berbeda yaitu
uji biuret, pengendapan dengan logam,
pengendapan dengan garam, uji koagulasi,
pengendapan dengan alcohol, dan denaturasi
protein.
1. Uji Biuret.
Sebanyak 1 mL larutan NaOH 2,5 N
ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein
kemudian diaduk. Larutan CuSO4 0,01N
dimasukkan ke dalam larutan protein kemudian
diaduk.
2. Pengendapan dengan Logam.
Sebanyak 5 tetes larutan HgCl2 0,2 M
ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein.
Sebanyak 3 mL larutan protein lain
ditambahkan dengan 5 tetes Pb-asetat 0,2 M.
3. Pengendapan dengan Garam.
Sebanyak 3 mL larutan protein dijenuhkan
dengan amonium sulfat kemudian disaring.
Filtrat diuji dengan reagen biuret sedangnkan
endapannya diuji kelarutan dalam air dan
reagen millon.
4. Uji Koagulasi
Sebanyak 2 tetes larutan asam asetat 1 M
ditambahkan ke dalam 5 mL larutan protein
kemudian diletakkan didalam air mendidih
selama 5 menit. Endapan yang terbentuk diuji
kelarutannya dalam air dan reagen millon.
5. Pengendapan dengan Alkohol
Sebanyak 5 mL larutan protein
dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi berbeda.
Tabung pertama ditambahkan dengan 1 mL
HCl 0,1 M, tabung kedua ditambahkan dengan
1 mL NaOH 0,1 M, tabung ketiga ditambahkan
dengan buffer asetat pH 4,7. Kemudian ketiga
tabung ditambahkan dengan 6 mL etil alcohol
95%.
6. Denaturasi Protein
Sebanyak 9 mL larutan protein
dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi berbeda.
Tabung pertama ditambahkan dengan 1 mL
HCl 0,1 M, tabung kedua ditambahkan dengan
1 mL NaOH 0,1 M, tabung ketiga ditambahkan

dengan buffer asetat pH 4,7. Kemudian ketiga


tabung ditempatkan dalam air mendidih selama
15 menit, selanjutnya didinginkan pada suhu
kamar.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi protein pada albumin telur
diawali preparasi sampel dari putih telur
ditambahkan air hingga 1000 mL.
Uji pertama yang dilakukan adalah uji
biuret. Sebanyak 3 mL larutan protein
ditambahkan NaOH 2,5 N dan larutan CuSO4
0,01 N tetes demi tetes. Setelah penambahan
CuSO4 terbentuk warna ungu yang menandakan
larutan protein positif terhadap uji biuret.
4. SIMPULAN
Dari hasil percobaan dan pembahasan yang
telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
5. UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih penulis sampaikan
kepada dosen pengampu mata kuliah praktikum
biokimia yaitu Dr. I Nyoman Tika, M.Si.
Kepada Kadek Dewi Wirmandiyanthi, S.Pd,
M.Si. sebagai asisten dosen mata kuliah
praktikum biokimia.Serta kepada laboran yang
telah menyiapkan segala alat dan bahan
keperluan percobaan yaitu bapak Dewa
Subamia.
6. DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden. 2010. Fundamentals of
Organik Chemistry alih bahasa Dra.
Sukmariah Maun, dkk. Jakarta: Binarupa
Aksara Publisher
Poedjiana, A., & Supriyanti, T. (2009).DasarDasar Biokimia. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia Press.
Redhana, I Wayan. 2010. Penuntun Pratikum
Biokimia.
Singaraja:
Universitas
Pendidikan Ganesha
Tika, I Nyoman. 2010. Penuntun praktikum
Biokimia.
Singaraja:
Universitas
Pendidikan Ganesha