Anda di halaman 1dari 23

PRAKTIKUM V.

Topik : Pengenalan Tumbuhan Lumut dan Tumbuhan Paku


Tujuan : Untuk mengenal ciri-ciri pokok tumbuhan lumut (Bryophyta)
dan tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta)
Hari / tanggal : Sabtu, 12 Desember 2009
Tempat : Laboratorium Biologi FKIP UNLAM

I. ALAT DAN BAHAN


Alat
Alat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Loupe dan pinset
2. Cutter / silet
3. Mikroskop cahaya dan binokuler
4. Kaca arloji
Bahan
Bahan-bahan yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Lumut daun (Pogonatum sp)
2. Lumut hati (Marchantia sp)
3. Neprolepis sp
4. Suplir (Adiantum cuneatum)
5. Gametofit tumbuhan paku

II. CARA KERJA


Cara kerja dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Menuliskan nama dan Klasifikasi masing-masing spesies yang digunakan.
2. Menggambar bentuk umum dan memberi keterangannya.

134
a. Untuk lumut
- Thallus dan percabangannya ( gametofit )
- Sporofit
- Rizhoid
- Kapsul spora ( bentuknya apa )
- Letak anteridium dan arkhegonium
- Badan eram ( gemma cup )
b. Untuk paku-pakuan
- Akar
- Batang ( berupa apakah batangnya )
- Daun ( letak, bentuk, dan lainnya dari trofofil dan sporofilnya )
- Sorus ( bagaimana letak dan bentuknya )
- Inducium

III. TEORI DASAR


Makhluk hidup di dunia sangat beraneka ragam disebabkan : pertama,
spesies berevolusi melalui proses adaptasi terhadap lingkungan yang dikenal
dengan seleksi alam. Dan kedua, bahwa perbedaan organisme dikendalikan oleh
faktor genetik yang diturunkan.
Proses evolusi berlangsung secara gradual, sehingga dapat terjadi
pembentukan spesies-spesies baru (proses spesiasi) yang paling cocok denagn
kondisi lingkungan dimana mereka hidup. Proses spesiasi ini dapat terjadi secara
alopatrik (berbeda tempat), yaitu satu spesies yang sama kemudian dipisahkan
tempat hidupnya. Atau cara simpatrik (sama tempat), yaitu suatu spsies yang sama
di daerah yang sama karena sesuatu hal terjadi reproduksi yang terpisah, misalnya
terjadi poloploidi pada tanaman yang menghasilkan individu dengan jumlah
kromosom lebih besar dari 24 (diploid).
Dengan bertambahnya spesies dari masa ke masa, maka untuk lebih
mudah mempelajarinya perlu dilakukan pengelompokkan/penggolongan

135
organisme. Untuk tujuan itu diperlukan suatu system klasifikasi yang mempunyai
dasar sama untuk setiap penggolongan.
Oleh karena proses evolusi berlangsung secara gradual dan dalam jangka
waktu yang lama, maka perbedaan atau persamaan morfologi dapat dijadikan
dasar untuk penggolongan organisme. Hubungan kekerabatan antara satu spesies
dengan spesies yang lain (filogeni) dinyatakan oleh banyak sedikitnya kesamaan
secara bertahap (takson) disebut hirarki katagori. Prinsip hirarki kategori yang
umumnya dipakai adalah :
Hewan Tumbuhan

Kingdom (Kerajaan) Kingdom (Kerajaan)

Phylum (Filum) Divisio (Divisi)

Class (Kelas) Class (Kelas)

Ordo (Ordo) Ordo (Ordo)

Familia (Famili) Familia (Famili)

Genus (Genus) Genus (Genus)

Species (Spesies) Species (Spesies)

135
System pengelompokkan yang klasik menggunakan suatu sifat kebiasaan
dan tempat hidup. Kemudian berkembang dengan memperhatikan juga sifat
struktur dan fungsi sebagai criteria spesies.
Pada tahun 1969, R.H, Whittaker membuat klasifikasi baru yang
membagi makhluk hidup menjadi lima kingdom. Pembagian golongan oragnisme
yaitu :
1. Monera
2. Protista
3. Fungi
4. Plantae (tumbuhan)
5. Animalia (hewan)
dan ini terus dipakai hingga sekarang.

Briophyta
Hingga saat ini tumbuhan nonvaskuler ( lumut daun, lumut hati)
dikelompokkan bersama dalam satu divisi tunggal, Bryophyta ( bahasa Yunani
brion, “lumut” ).
Briophyta adalah sebuah divisi tumbuhan darat yang jelas batasannya dan
tidak Kelompok ini mencakup lumut daun (Musci) dan lumut hati (Hepaticae).
Sebagian besar briophyta berukuran kecil; yang terkecil hampir tidak tampak
tanpa bantuan lensa, sedangkan yang terbesar tidak pernah lebih dari 50 cm
tingginya atau panjangnya. Lumut ini lazim terdapat pada pohon, batu, kayu
gelondongan dan di tanah pada setiap bagian di dunia dan pada hamper setiap
habitat kecuali di laut. Tumbuhan ini hidup subur pada lingkungan yang lembab
dan banyak sekali dijumpai, khususnya di hutan-hutan tropik dan di tanah hutan
daerah iklim sedang yang lembab. Meskipun menyukai habitat yang lembab,
Briopyhta terutama merupakan tumbuhan darat, dan yang tumbuh di air tawar
hamya merupakan adaptasi sekunder terhadap kehidupan air. Sifat ini tercermin
dari kenyataan bahwa Briopyhta air tetap mempertahankan sifat yang khas bagi
tumbuhan terlarut. Perbedaan sifat dalam jaringan-jaringannya sederhana saja jika
dibandingkan dengan sistem jaringan tumbuhan darat lebih tinggi. Beberapa jenis

135
Briophyta memiliki sistem pembuluh terpusat yang sederhana pada batangnya,
tetapi sama sekali tidak ada unsur penghantar yang berlignin (trakeid dan
pembuluh) dan jaringan pembuluh sejati (xilem dan floem). Pada kenyataannya,
kebanyakan Briophyta selama sebagian besar usianya hidup bergantung pada
penyaluran air secara kapiler dalam ruang sempit di antara perdaunannya yang
tumpang-tindih. Perkembangan jaringan pembuluh yang sangat sederhana ini
merupakan alas an mengapa Briophyta hanya dapat subur pada habitat yang
lembab.
Walaupun Briophyta selalu dapat dikenali dari strukturnya, mereka juga
mudah dibedakan dari tumbuhan darat lain menurut daur hidupnya. Daur hidup
Briophyta,seperti halnya kebanyakan tumbuhan, mengalami pergiliran turunan
antara generasi seksual dan generasi gametofit yang berbiak secara seksual (dan
kadang-kadang juga secara vegetatif), dan generasi aseksual atau generasi sporofit
yang berbiak dengan spora. Sel-sel gametofit memiliki jumlah kromosom haploid
(n), sedangkan sel-sel sporofit adalah diploid (2n). sifat yang khas dari Briophyta
ialah bahwa gametofitnya hidup lebih lama, keadaan fisiknya lebih besar dan
lebih jelas penampilannya, kebutuhan nutrisinya bebas, dan pada umumnya
mewakili ‘tumbuhan’ lumut daun atau lumut hati. Sebaliknya, sporofitnya berupa
kapsul spora, biasanya bertangkai,tanpa daun dan cabang dan tetap terikat kepada
gametofit yang dalam batas tertentu merupakan sumber nutrisinya. Pergiliran
antara gametofit yang dominan serta bebas dan sporofit yang terikat serta tak
bebas itu merupakan ciri yang konstan dari Briophyta, sehingga tidak dapat
dibedakan sebagai sifat yang benar-benar diagnostik bagi kelompok ini.
Briophyta mungkin telah menghuni bumi ini lama sekali, tetapi lumut ini
jarang terawetkan sebagai fosil, kecuali pada endapan yang relatif baru. Hal ini
mungkin disebabkan oleh kecilnya ukuran tumbuhan ini serta strukturnya
(terutama tidak adanya jaringan lignin), sehingga tak membantu dalam proses
pengawetannya. Secara evolusi asal-usul Briophyta tidak diketahui, walaupun
begitu ada alasan yang cukup untuk menganggap bahwa lumutt daun dan lumut
hati yang kini masih hidup merupakan contoh yang mampu bertahan hidup dari

135
kelompok lumut air yang menghuni daratan yang sangat terpencil pada beberapa
periode geologi.
Walaupun ukurannya kecil dan sturkturnya relative sederhana, Briophyta tak
disangsikan lagi merupakan kelompok tumbuhan yang berhasil, dibuktikan oleh
jumlahnya yang besar (sekurang-kurangnya 20.000 jenis) yang dikenal. Meskipun
demikian, karena keturunan pembuluhnya tidak pernah berkembang secara
efisien, lumut ini tak mampu mencapai ukuran basar atau merupakan tumbuhan
dominan di daratatn. Jadi Briophyta ini, walaupun telah berhasil menghuni
berbagai relung (niche) di daratan, tampaknya merupakan jalan buntu pada
evolusi tumbuhan.

Pteridophyta
Tumbuhan yang termasuk ke dalam tingkat organisasi Pteridophyta
memperlihatkan pergiliran turunan yang tidak sama, tetapi berbeda dengan
Briophyta. Diploid atau generasi sporofitlah menonjol dan merupakan ‘tumbuhan’
seperti pengertian umunya. Sporofitnya memliki sistem pembuluh yang
berkembang baik dengan jaringan xilem dan floem yang berbeda, dank arena itu
secara potensial mampu mencapai ukuran yang jauh lebih besar daripada
gametofit Briophyta. Pteridophyta berbeda dengan tumbuhan pada tingkat evolusi
berikutnya (yaitu tumbuhan berbiji) dalam hal perkembangbiakannya, yaitu
dengan spora, bukan dengan biji.
Pteridophyta mencakup tiga kelompok utama, paku (subdivisi Pteropsida,
kelas Filicinae), ekor kuda (subdivisi Sphenopsida) dan lumut gada (subdivisi
Lycopsida). Kekerabatan antara tiga kelompok ini tidak begitu dekat, bahkan
bukti fosilnya pun ternyata telah dibedakan sejak lama sekali.
Tumbuhan yang fase haploidnya menonjol seperti Briophyta yang telah
diuraikan sebelumnya, perkembangbiakannya bergantung pada keadaan
kelembapan, oleh karena itu kemampuannya untuk menghuni lahan kering amat
terbatas. Sebuah daur hidup yang fase diploidnya dominan mampu bermodifikasi
menjadi suatu tipe tumbuhan dengan kebutuhan akan air dari luar unutk
pembuahannya sangat terbatas. Langkah pertama pada evolusi tumbuhan yang

135
beradaptasi sepenuhnya untuk hidup di daratan ialah memendekkan fase hapoid
dari daur hidupnya, dan hal ini telah di capai melalui dua jalur perubahan.
Pertama, fase haploid itu tidak bebas melainkan diberi bahan makanan dari fase
dipoid tetuannya, sehingga mampu berkembang dengan cepat tanpa perlu
menyusun sendiri makanan cadangannya melalui fotosintesis. Hal ini berarti
bahwa banyak bagian yang bukan alat pembiakan pada fase haploidnya
merupakan kelebihan, jadi memungkinkan adanya penyederhanaan secara besar-
besaran. Kedua, fase hapoidnya berkelamin tunggal, bukan terdiri atas anteridium
dan arkegonium; keadaan kelaminnya diatur oleh fase diploi yang terjadi
sebelumnya. Hal ini memungkinkan terjadinya diferensiasi seksual, sehingga
tumbuhan haploid demikian yang berkembang menjadi arkegonium memperoleh
sejumlah besar makanan cadangan ynag diperlukan untuk memelihara zigot
sampai menjadi mapan dan berdiri sendiri sebagai sporofit bebas, sedangkan yang
berkembang menjadi anteridium hanya memperoleh relatif sedikit bahan makanan
cadangan.
Ciri khas tumbuhan yang mengalami kedua perubahan ini ialah adanaya dua
macam spora yang berada dalam sporangium berbeda. Beberapa sporangim berisi
sejumlah kecil spora besar, ynag tumbuh menjadi tumbuhan betina yang haploid,
sedangkan sporangium lainnya berisi sejumlah besar spora kecil yang
berkembang menjadi tumbuhan jantan yang haploid. Terbentuknya spora dengan
dua macam ukuran oleh tumbuhan ini disebut heterospori.
Tumbuhan berbiji merupakan bentuk dominan dari kehidupan tumbuhan di
daratan selama 250 juta tahun terakhir, dan pembentukan sifat heterospori ini tak
disangsikan lagi merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan
keberhasilan tumbuhan berbiji itu. Namun, sifat heterospori itu telah berevolusi
secara indevenden pada beberapa anggota dari ketiga kelompok tumbuhan pada
tingkat organisasi Pteridophyta itu. Kecuali sebagian kecil tumbuhan air yang
tidak lazim, yang bersifat heterospori, paku adalah homospori. Tumbuhan berbiji
telah berevolusi dari nenek-moyang yang homospori dan untuk memahami daur
hidup angiospermae diperlukan pengetahuan mengenai persamaan dan perbedaan

135
antara tipe daur hidup yang homospori, seperti yang diperlihatkan oleh praktis
semua paku.

IV. HASIL PENGAMATAN


1. Lumut daun (Pogonatum sp)
a. Menurut literatur

(Sumber : Syamsuri, Istamar. 2004 ; 235)


b. Menurut Penelitian

135
2. Lumut hati (Marchantia sp)
a. Menurut literatur

Sumber: (http://amadeo.blog.com)
b. Menurut Penelitian

135
3. Neprolepis sp
a. Menurut literatur

Keterangan :
1. daun
2. batang

Sumber : (http://www2.hawaii.edu/)
b. Menurut penelitian

135
4. Suplir (Adiantum cuneatum)
a. Menurut literatur

Keterangan :
1. daun
2. sorus
3. batang
4. rimpang
5. akar

Sumber: (http://upload.wikimedia.org/)
b. Menurut penelitian

135
5. Gametofit tumbuhan paku
a. Menurut literatur

Sumber : (www. Scribd.com)


b. Menurut penelitian

135
V. ANALISIS DATA
1. Lumut daun (Pogonatum sp)
Klasifikasi menurut Cronquist :
Divisio : Bryophyta
Class : Bryopsida
Ordo : Pogonatales
Famili : Pogonataceae
Genus : Pogonatum
Species : Pogonatum sp.
Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu
tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena
tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat
menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber
hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya. Lumut daun
berukuran sangat kecil, terdiri dari batang yang kurang lebih tegak, yang
mendukung daun-daun kecil.
Pada tumbuhan lumut ini, kapsul sporanya telah mencapai diferensiasi
yang paling mendalam. Sporangiumnya mempunyai suatu tangkai yang
elastis, yang tertanam dalam jaringan tumbuhan gametofitnya, tangkai
tersebut dinamakan seta.
Pada ujung tangkai terdapat kapsul sporanya yang bersifat radial atau
dorsiventral dan mula-mula diselubungi oleh kaliptra. Kaliptra ini berasal
dari bagian atas dinding arkegonium. Dengan membentangnya
sporangium, dinding arkegonium akhirnya terpisah pada bagian perut
arkegonium yang memanjang itu. Kotak sporanya tidak mempunyai
kolumela dan mempunyai strukur khusus yang membentuk periuk dengan

135
suatu cincin yang melingkar sepanjang tepi atasnya, tempat terletak tutup
kotak spora (operculum).
Spora pada lumut merupakan hasil dari suatu pembentukan reduksi,
oleh karena itu haploid. Pada gamet terbentuk alat-alat kelamin jantan dan
betina yang kecil. Protonema merupakan benang dan pada kebanyakannya
tipe lumut daun bercabang-cabang, pada protonema berkembang kuncup-
kuncup samping yang tumbuh menjadi gametofit berdaun dan yang
terpenting lumut daun juga berkembang dengan gemma dan
memperbanyak diri dengan fregmentasi.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan tubuh pada lumut daun
mempunyai bagian rizoid, batang, dan daun. Rizoid berfungsi untuk
melekat pada tempat tumbuh serta menyerap air dan unsur hara. Batang
sederhana yang dimilikinya mempunyai pembuluh angkut tunggal. Daun
berfungsi untuk fotosintesis. Sporofit tumbuh pada gametofitnya atau pada
tumbuhan lumut itu sendiri.

2. Tumbuhan lumut hati (Marchantia sp)


Klasifikasi menurut Cronquist :
Divisio : Bryophyta
Class : Hepaticae
Ordo : Marchantiales
Famili : Marchantiaceae
Genus : Marchantia
Species : Marchantia sp.
Pada pengamatan yang telah dilakukan tubuh tumbuhan lumut hati
berupa talus dan berbentuk lembaran berwarna hijau dengan percabangan
menggarpu. Bentuk talus berlembar-lembar seperti hati. Rizoid membantu
melekatnya talus pada tempat tumbuh serta menyerap air dan unsur hara.
Sporofit selalu tumbuh dan berkembang di dalam gametofit betina,
sehingga tidak terlihat secara langsung.

135
Tebal talus terdiri atas banyak sel dan tersusun atas tiga lapisan yang
jelas kelihatan, yaitu lapisan fotosintesis di sebelah atas, lapisan
penyimpan di tengah, dan lapisan penyerap dan jangkar di sebelah bawah
(Loveless, 1989 : 61).
Tumbuhan lumut mengalami pergiliran keturunan dalam daur
hidupnya. Apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan
tahap gametofit (tumbuhan penghasil gamet) yang haploid (x = n). Dengan
demikian, terdapat tumbuhan lumut jantan dan betina karena satu
tumbuhan tidak dapat menghasilkan dua sel kelamin sekaligus.
Sel-sel kelamin jantan (sel sperma) dihasilkan dari anteridium dan sel-
sel kelamin betina (sel telur atau ovum) terletak di dalam arkegonium.
Kedua organ penghasil sel kelamin ini terletak di bagian puncak dari
tumbuhan. Anteridium yang masak akan melepas sel-sel sperma. Sel-sel
sperma berenang (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah)
menuju arkegonium untuk membuahi ovum.
Ovum yang terbuahi akan tumbuh menjadi sporofit yang tidak mandiri
karena hidupnya disokong oleh gametofit. Sporofit ini diploid (x = 2n) dan
berusia pendek (3-6 bulan untuk mencapai tahap kemasakan). Sporofit
akan membentuk kapsula yang disebut sporogonium pada bagian ujung.
Sporogonium berisi spora haploid yang dibentuk melalui meiosis.
Sporogonium masak akan melepaskan spora. Spora tumbuh menjadi suatu
berkas-berkas yang disebut protonema. Berkas-berkas ini tumbuh meluas
dan pada tahap tertentu akan menumbuhkan gametofit baru. Pada
pembelahan mitotik zigot menghasilkan generasi sporofit dewasa
(Kimball, 1994 : 339) :
1. Kaki, yang menyerap air dan mineral dari gametofit tertuanya.
2. Tangkai, yang tumbuh beberapa sentimeter ke udara.
3. Sporangium, yang terbentuk di ujung tangkai. Di dalamnya
terdapat sel-sel induk spora. Operkulum berfungsi sebagai penutup ujung
sporangium.

135
Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia
oksigen, penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons), dan
sebagai penyerap polutan.
Pada lumut ini gametofit serupa dengan yang terdapat pada lumut
daun. Sporofit dapat tumbuh lama dan hidup terus. Semua spesiesnya
berwujud tumbuhan pipih hijau sepert pita yang bercabang-cabang
dichotom. Tumbuhnya lekat pada permukaan tanah yang lembab dengan
ratusan rhizoid yang panjang dan halus. Permukaan atasnya terbagi-bagi
menjadi petak-petak yang berbentuk segi enam.
Masing-masing petak menunjukkan letak satu kamar, tepat dibawah
permukaannya. Kamar-kamar ini disusun oleh jaringan yang melakukan
fotosintesis. Tiap kamar memiliki porus untuk melangsungkan pertukaran
karbondioksida dan oksigen dengan lingkungannya. Lapisan-lapisan di
bawah kamar ialah yang letaknya dekat tanah , tidak berwarna. Disini
disimpan cadangan makanan yang dibuat di bagian atas.

3. Suplir (Adiantum cuneatum)


Klasifikasi menurut Cronquist :
Divisio : Pteridophyta
Class : Filicinae
Subclass : Filices
Ordo : Marattirales
Famili : Pteridoceae
Genus : Adiantum
Species : Adiantum cuneatum
- Akar
Akar dari tumbuhan ini merupakan rimpang tegak, yang akar sejati,
semakin menaik atau memanjat. Pada ujung akar dilindungi oleh
kaliptra atau tudung akar. Dibelakang kaliptra terdapat titik tumbuh
berupa sebuah sel yang berbentuk bidang empat, yang kearah luar

135
membentuk sel-sel kaliptra, sedangkan jika menuju kearah dalam
membentuk sel-sel akar.
- Daun.
Daunnya majemuk, yang besar menyirip rangkap antara 3-4, rapat dan
pendek. Tangkai daun gundul sekitar 10-20 cm. Anak daun
penempatannya bersaing sepanjang poros sirip. Pada ujung daun
terdapat kotak spora sebagai alat reproduksinya. Daun memiliki
mesofil (daging buah), jaringan bunga karang, jaringan tiang dan
jaringan daun.
- Batang.
Tinggi batang sekitar 0,25-1,3 m. susunan anatoli batang terdiri dari
epidermis, korteks dan stele. Pada ujung batang terdapat jaringan
meristematik yang membentuk akar dan batang.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, paku suplir mempunyai
daun yang ukurannya lebih besar dibandingkan jenis paku golongan yang
lain. Duduk daunnya pada batang membentuk sayap. Tubuhan dewasa
menghasilkan spora yang tersusun dalam sporangium. Sporangium
tersusun dalam bentuk sorus di permukaan daun. Posisi sorus pada daun
beraneka ragam, sedangkan dari hasil pengamatan menunjukkan terletak
di tepi daun (atas, bawah).

4. Neprolepis sp
Klasifikasi menurut Gembong:
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Neprotales
Familia : Neprotalepiceae
Genus : Neprolepis
Spesies : Neprolepis sp
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang tubuhnya telah berupa
kormus, yang artinya sudah jelas akar, batang, dan daunnya. Tumbuhan

135
daun digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi yang mempunyai ciri
susunan daunnya seperti bulu ayam dan tumbuh mulai menggulung pada
ujung daun yang masih muda serta tidak berbuah dan berbunga.
Tumbuhan paku memiliki klorofil dan jaringan pembuluh, berkembang
biak dengan spora dan memiliki sporofit yang dominan.
Organ tubuh tumbuhan paku-pakuan terdiri dari:
a. Akar, berupa akar serabut. Pada ujung terdapat kaliptra yang
melindungi permukaannya, kaliptra terdiri atas sel-sel yang
dapat dibedakan dari sel akarnya sendiri.
b. Batang, batang tumbuhan paku pada umumnya berupa akar tongkat
(rhizome). Dalam penampang melintang batang tampak bagian-
bagian sebagai berikut:
o Epidermis; terdapat jaringan penguat yang terdiri atas
sklerenkim.
o Korteks; banyak mengandung ruang antar sel.
o Silinder pusat; terdiri atas xilem dan floem yang membentuk
berkas pengangkut yang konsetris.

5. Gametofit tumbuhan paku


Gametofit tumbuhan paku merupakan calon atau bakal batang
paku. Biasanya tumbuhan ini tumbuh disela-sela tanaman paku dewasa.
Bentuk gametofit ini berbentuk melingkar dibagian atasnya yang terdiri
dari bakal daun tanaman paku dan dibagian bawahnya terdapat batang
yang masih muda dan umumnya batang muda ini mudah patah.

135
HASIL DISKUSI
a. Perbedaan antara lumut daun dan lumut hati.

No Perbedaan Hasil
o Langsung melekat pada tanah atau batu
yang lembab.
o Lumut daun tumbuh tegak, daun berupa
1 Lumut daun
sisik yang rapat, padat, pipih, dan menumpuk.
o Sporofit bersifat persisten atau berumur
lama.
o Hidup menempel di atas permukaan tanah
yang lembab atau terapung di atas air.
2 Lumut hati
o Lumut hati tumbuh secara mendatar.
o Sporofitnya berumur pendek

b. Persamaan dan perbedaan antara lumut dan paku-pakuan.

No Uraian Persamaan Perbedaan


1 Lumut o Mempunyai o Mempunyai ukuran
pergiliran keturunan yang sangat kecil.
dari fase sporofit ke o Memiliki rizoid
fase gametofit. (seperti akar), berdaun
o Bereproduksi sisik, dan tidak
secara seksual. memiliki batang sejati.
o Mempunyai o Tidak memiliki
kesamaan hidup di jaringan pengangkut.

135
2 Paku- tempat-tempat yang o Ukuran tubuh lebih
pakuan lembab dan basah besar dari lumut.
serta hidup di daerah o Memiliki akar,
tropis & subtropis. batang, dan daun
sejati.
o Memiliki jaringan
pengangkut (xilem dan
floem).

VI. KESIMPULAN
1. Bryophyta adalah sebuah divisi tumbuhan darat yang jelas batasannya
dan tidak memiliki hubungan kekerabatan erat dengan tumbuhan lain
dari dunia tumbuhan. Kelompok ini mencakup lumut daun (Musci) dan
lumut hati (Hepaticae).
2. Sebagian besar bryophyta berukuran kecil, yang terkecil hampir tidak
tampak tanpa bantuan lensa, sedangkan yang terbesar tidak pernah
lebih dari 50 cm tingginya atau panjangnya. Lumut ini lazim terdapat
pada pohon, batu, kayu gelondongan, dan di tanah pada setiap bagian
di dunia dan pada hampir setiap habitat kecuali di laut. Tumbuhan ini
hidup subur pada lingkungan yang lembap dan banyak sekali dijumpai,
khususnya di hutan-hutan tropik dan di tanah hutan daerah iklim
sedang yang lembap (Loveless, 1989).
3. Pteridophyta terbagi atas tiga kelompok utama, paku (subdivisi
Pteropsida, kelas Filicinae), ekor kuda (subdivisi Sphenopsida), dan
lumut gada (subdivisi Lycopsida). Lumut gada dapat dibedakan dari
paku oleh dua ciri yang jelas pada penampilan umumnya. Pertama,
lumut gada berdaun kecil, tunggal, banyak dan bukannya berdaun
relatif besar dan majemuk. Kedua, sporangiumnya tidak terletak di
bagian bawah daun dan dalam jumlah besar, melainkan satu-satu di
bagian atas sporofil khusus, yang bertumpuk rapat sekitar ujung

135
cabang tertentu yang membentuk suatu struktur yang disebut runjung
atau stobilus( Loveless, 1989).
4. Ciri-ciri pokok tumbuhan lumut daun terdiri dari tangkai yang berdiri
tegak dengan alat-alat seperti benang yang keluar dari pangkalnya.
Tidak terdapat jaringan pengangkut dan alat-alatnya tersusun
terstruktur mengelilingi tangkainya yang mempunyai simetris radial.

5. Ciri-ciri tumbuhan lumut hati adalah gametofit pipih, sering suatu


massa sederhana yang terdiri dari jaringan hijau bercabang, kadang-
kadang dengan struktur menyerupai daun. Tumbuhnya pada
permukaan yang lembab dengan ratusan rhizoid yang panjang dan
halus.
6. Tumbuhan paku hidup di daratan, di air dan lainnya. Tumbuhan paku
merupakan tumbuhan berkormus (memiliki akar, batang, dan daun
yangsudah jelas). Berkembang biak dengan spora sehingga disebut
kormofita berspora berwarna hijau karena mengandung klorofil dan
memiliki vaskuler berupa pembuluh atau saluran halus, juga dapat
melakukan fotosintesis.

135
VII. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009 http://amadeo.blog.com Diakses tgl : 13 Desember 2009. Pukul 14:13.

Anonim, 2009 http://www2.hawaii.edu/ Diakses tgl : 13 Desember 2009. Pukul 14:18

Anonim, 2009 http://upload.wikimedia.org// Diakses tgl : 13 Desember 2009. Pukul

14: 25

Anonim, 2009 http:// www. Scribd.com Diakses tgl : 13 Desember 2009. Pukul 14:20

Arief, A. 1989. Biologi Umum. Malang: IKIP Malang.

Arsyad, Siti Wahidah dan Noorhidayati. 2009. Penuntun Praktikum Biologi


Umum. Banjarmasin: Fakultas Biologi FKIP Unlam.

Kimball, John W. 2000. Biologi jilid II edisi lima. Jakarta: Erlangga

Loveless, A.R.. 2008. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik.


Jakarta: PT Gramedia.

Nasir, Mochamad. 1993. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Yogyakarta:


Fakultas Biologi-UGM.

135
Sumardi, Issirep dan Agus Pudjoarianto. 1992. Struktur dan Perkembangan
Tumbuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi-UGM.

135