Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM VIII

Topik : Penentuan Parameter Faktor Lingkungan Suatu Komunitas


Tujuan : Untuk mengukur parameter faktor lingkungan suatu komunitas
Hari / tanggal : Selasa, 22 Desember 2009
Tempat : Laboratorium Biologi FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


Alat
Alat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Altimeter
2. Termometer
3. Hygrometer
4. Soil Tester PH tanah
5. Luxmeter
6. Anemometer.
7. DO meter

Bahan
Bahan-bahanyang dipergunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Botol sampel/plastik

II. CARA KERJA


Cara kerja dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengelompokkan tiap praktikan yang tiap kelompok terdiri atas 5-6 orang.
Kemudian menentukan lokasi (komunitas) tempat melakukan pengukuran.
2. Melakukan pengukuran faktor-faktor lingkungan, seperti:
a. Suhu udara, air atau tanah dengan Termometer.
• Mencari tempat yang suhunya agak tinggi.
• Memegang termometer pada tempat tersebut sambil
memperhatikan kenaikan suuhunya pada skala termometer.
• Menggambar dan menuliskan hasil pengamatan.
a. Ketinggian suatu tempat dengan Altimeter.
• Menstabilkan jarum penunjuk pada skala.
• Meletakkan altimeter di atas tanah.
• Memperhatikan perubahan jarum penunjuk skala yang
menunjukkan besarnya ketinggian.
• Menggambar altimeter dan menuliskan hasil pengamatan.
a. pH tanah dan kelembaban tanah dengan soil tester.
• Menstabilkan skala soil tester.
• Menancapkan soil tester sampai pori-pori tenggelam ke dalam
tanah.
• Memperhatikan perubahan jarum penunjuk yang menunjukkan
besarnya perubahan pH tanah pada skala atas.
• Memencet tombol pada soil tester untuk mengetahui kelembaban
tanah.
• Memperhatikan perubahan jarum pada skala bawah.
• Menggambar soil tester dan menggambarkan hasil pengamatan
berupa pH dan kelembaban tanah.
a. Kelembaban udara pada Hygrometer.
• Menstabilkan jarum penunjuk pada skala.
• Meletakkan hygrometer di atas permukaan tanah yang lembab.
• Memperhatikan perubahan jarum penunjuk pada skala yang
menyatakan besarnya kelembaban tanah.
• Menggambar hygrometer dan menuliskan hasil pengamatan.
a. Kecepatan angin dengan Anemometer.
• Menstabilkan skala anemometer dengan menggantng atau
memegangnya langsung pada tempat yang kecepatan anginnya cukup
besar.
• Memencet tombol di atas anemometer sesuai waktu yang diinginkan.
• Memperhatikan perubahan skalanya, jika menggunakan skala kecil,
nilai dikali 100 % namun kalau menggunakan skala besar dikali 1 %.
• Menggambar anemometer dan menuliskan hasil pengamatan.
a. Kadar oksigen dalam air dengan DO Meter.
• Menggeser tombol keoksigen
• Memasukkan ujung DO Meter yang berbentuk meruncing dalam
air.
• Memperhatikan laju perubahan nilai pada layar, sampai akhirnya
berhenti.
• Menggambar DO Meter dan menuliskan hasil pengamatan.
a. Intensitas udara dengan Lux Meter.
• Menutup sebagian dari layar pada Lux Meter, baik setengahnya atau
seperempatnya, apabila jarum skala tidak bergerak atau tidak cukup
udara.
• Memperhatikan jarum pada skala, nilai yang tertera dikalikan dengan
10 dan 2 jika menutup layar setengahnya atau dengan 4 jika menutup
layar seperempatnya.
• Menggambar Lux Meter dan menuliskan hasil pengamatan.
1. Mentabulasikan seluruh data yang diperoleh dari hasil pengamatan semua
kelompok/kelas, mendiskusikannya dan membuat bahasannya.
III. TEORI DASAR
Salah satu diantara pokok bahasan dalam mempelajari dasar-dasar ekologi
adalah masalah populasi dan komunitas, yang di dalamnya akan membahas masalah
cirri, struktur, dinamika, dan interaksi populasi. Untuk dapat membuat deskripsi dan
mengungkapkan informasi yang penting dalam suatu komunitas (misalnya suatu
vegetasi) yang dikaji, maka harus diakukan analisis vegetasi.
Ekologi berasal dari bahasa Yunani “OIKOS” yang berarti rumah tangga dan
“LOGOS” yang berarti ilmu. Menurut Odum (1971) menulis ekologi sebagai suatu
kajian makhluk di tempat hidupnya. Selanjutnya dituliskan bahwa ekologi seperti
diartikan dalam kamus Webster’s Unabriged Dictionary sebagai totalitas atau pola
hubungan antara makhluk dan lingkungan mereka. Krebs (1978) menuliskan bahwa
Ernest Haeckel pada tahun 1869 memberi tarif ekologi sebagai suatu hubungan
keseluruhan antara makhluk hidup, dalam hal ini hewan dengan lingkungan organik
dan anorganik.
Synekologi adalah kajian komunitas, aetokologi adalah kajian spesies. Begon
(1986) menuliskan bahwa pengaruh berbagai suhu terhadap hewan ektoderm
mengikuti suatu pola yang tipikal, walaupun ada perbedaan dari spesies ke spesies
yang lain. Pada intinya ada 3 kisaran suhu yang menarik perhatian adalah: suhu
rendah berbahaya, suhu tinggi berbahaya, dan suhu diantara suhu rendah berbahaya
dan suhu tinggi berbahaya. Suatu kondisi diberi takrif sebagai suatu faktor
lingkungan abiotik yang berbeda dalam ruang dan waktu, dan terhadap kondisi ini
makhluk memberi tanggapan secara berbeda-beda. Contohnya meliputi suhu, lengas
nisbi, pH, salinitas, kecepatan arus air dan sungai dan kadar pencemar. Kendeigh
(1980) menyebutkan bahwa semua makhluk hewan memberi reaksi terhadap habitat
dengan cara memberi masing-masing dan bilamana makhluk tersebut dalam cacah
yang banyak maka reaksi tersebut akan menghasilkan pengaruh yang nyata.
Air dikondisikan secara homotipik bilamana perubahan dihasilkan sebelumnya
oleh individu yang sama spesies dengan spesies yang sedang dikaji dan air disebut
sebagai dikondisikan secara heterotipik bila perubahan dihasilkan oleh spesies yang
berbeda. Miller (1982) menulis bahwa sumber daya adalah

semua saja yang diperlukan oleh makhluk atau kelompok makhluk. Jadi sumber daya
adalah sesuatu yang berguna.
Dalam memberi deskripsi hubungan ekologis makhluk-makhluk sangat penting
dapat membedakan antara tempat suatu makhluk hidup dan apa yang dilakukan
(peran) sebagai bagian dari ekosistemnya. Istilah habitat dan relung ekologi (ecology
niche) berkenaan dengan dua konsep yang paling penting dalam ekologi. Habitat
suatu makhluk adalah tempat makhluk hidup. Ini adalah tempat spesifik di
permukaan bumi, udara, tanah atau air. Habitat suatu makhluk dapat seluas samudera
atau suatu padang rumput yang luas (prairi) atau mungkin hanya sesempit dan
seterbatas tempat di bawah pokok kayu yang telah roboh. Yang perlu diingat adalah
bahwa suatu habitat selalu berupa daerah fisik dengan batas jelas. Lebih dari satu
hewan atau tumbuhan dapat tinggal di suatu habitat.
Relung ekologi adalah status atau peran suatu makhluk di dalam komunitas atau
ekosistem. Relung ekologi tergantung pada adaptasi struktural makhluk, respons
fisiologis dan perilakunya. Suatu spesies dapat menempati relung ekologi sangat
berbeda di daerah yang berbeda, tergantung pada suplai makanan yang tersedia dan
pada jumlah dan macam pesaing-pesaingnya. Beberapa makhluk, misalnya hewan
yang dalam daur hidupnya terdapat fase kehidupan yang berbeda, mempunyai relung
ekologi berbeda dalam suksesi.
Tiap bagian dari permukaan bumi ini – laut, danau, hutan, padang rumput
(prairi), tundra, padang pasir – dihuni oleh sekelompok tertentu hewan dan tumbuhan
yang satu sama lain berhubungan secara timbal balik dalam berbagai macam bentuk
hubungan seperti persaingan, kommensalisme, pemangsa dan sebagainya. Anggota
makhluk dalam tiap kelompok itu bukanlah terjadi secara kebetulan tetapi ditentukan
efek keseluruhan faktor-faktor fisik dan biotik yang saling berinteraksi di dalam
lingkungan para ilmuwan ekologi umumnya menyebut makhluk yang hidup di suatu
daerah tertentu tersebut sebagai komunitas biotik: ini terdiri dari berbagai populasi,
yaitu kelompok-kelompok individu dari berbagai jenis makhluk. Akan tetapi kadang-
kadang suatu komunitas berbentuk tanpa adanya satu atau beberapa komponen
penyusunnya, misalnya dalam komunitas gua, biasa tidak dijumpai adanya tumbuhan
hijau.
Bentuk suatu komunitas (Fisionomi) biasanya tergantung pada komposisi
struktural dari tumbuhan penyusunnya, termasuk pepohonan, semak, golongan epifit,
herba, dan tumbuhan tingkat rendahnya. Misalnya apakah pepohonannya berdaun
lebar atau berdaun sempit, dan lain-lain. Dengan demikian masing komunitas akan
memiliki ciri-ciri komposisi sendiri-sendiri. Adanya pengaruh timbal-balik antar
anggota komunitas serta antara anggota komunitas dengan keadaan lingkungannya
(faktor-faktor abiotik) menyebabkan struktur komunitas bersifat dinamis. Secara
perlahan-lahan tetapi pasti struktur komunitas akan mengalami perubahan dengan
bertambahnya wakru.
Dalam ekologi tumbuhan kita mengenal struktur vegetasi atau struktur
komunitas. Berbicara tentang struktur vegetasi kita dapat memilih satu dari lima
struktur dari level atas ke bawah, yaitu :
1. Fisiognomi
2. Struktur biomas
3. Struktur lifeform
4. Struktur floristic
5. Struktur tegakkan
Selanjutnya dalan analisis vegetasi umumnya kita berkepentingan dengan
struktur floristic atau struktur tegakkan, dengan penentuan parameter vegetasi.
Penentuan parameter vegetasi melibatkan metode tertentu yang sesuia dengan tujuan
praktikum atau penelitian dengan berbagai kondisi setempat. Salah satu diantaranya
metode tersebut adalah metode kuadrat.

 Teknik samling menurut metode kuadrat (plot hitung)


Ukuran kuadrat yang dipakai harus bersifat praktis dalam pelaksanaan untuk
menghitung jumlah individu tiap spesies secara akurat. Berdasarkan atas pengalaman,
ukuran kuadrat yang dipakai merupakan ukuran standar, yaitu :
1. Lapisan pohon : 10 x 10 m
2. Lapisan semak : 4 x 4 m
3. Lapisan herba : 1 x 1 m
(Oosting, 1956). Kuadarat sedemikian sering disebut juga kuadrat densitas.
Karena ada kuadrat yang digunakan untuk menentukan frekuensi, wlaupun dalam
prakteknya densitas juga merupakan kuadrat frekuensi.
Seleksi sampling dapat dilakukan secara : selektif, acak, teratur dan acak
terbatas.
1. Selektif
Kuadrat diletakkan secara subjektif untuk memasukkan area yang
representative atau area yang mempunyai beberapa sifat spesifik/special. Cara ini
ditempuh dengan pertimbangan khusus, misalkan jalan masuk ke area sangant sulit
dan berbahaya. Data yang diperoleh sesungguhnya tidak dapat dipakai untuk
analisis statistic seperti uji t (t-test), uji f (f-test) dan korelasi regresi.
2. Acak (random)
Cara ini sangat ideal karena tiap sample menurut definisi ini mempunyai
kesempatan yang sama untuk dipilih. Titik sample ditentukan dengan dua kali lotre
untuk menentukan koordinat x dan y atau dengan dua set tabel acak dari buku
statistic. Pengambilan sample secara acak selain cara diatas tidak menjamin bahwa
cara tersebut bersifat random.
3. Teratur (regular) atau sistematik
Tempat sample yang akan diambil merupakan titik teratur dengan interval
jarak sama satu dengan yang lainnya. System ini juga sering disebut dengan grid
system.
4. Acak terbatas atau acak sebagian
Cara sampling ini merupakan kompromi antara sampling secara sistematik
dan acak. Daerah yang diteliti pertama-tama dibagi dulu menjadi sub bagian, baru
kemudian masing-masing bagian disampling secara acak.
Dalam sampling komunitas ada tiga parameter kuantitatif yang dapat diukur,
yaitu :
1) Kerapatan/kepadatan = densitas
Densitas adalah jumlah individu suatu spesies dalam satuan luas. Satuan
luas dapat berupa M2 atau Ha dalam penetuan densitas pada ploting dapat
menggunakan rumus densitas berikut :
Densitas =
jumlahindividu
areacuplikan

2) Frekuensi
Frekuensi adalah jumlah plot yang terdapat suatu spesies dibagi jumlah
totsl plot yang disampel, dinyatakan dalam satuan persen(%) atau pecahan dan
dapat ditulis dengan persamaan :

Frekuensi =
jumlahplotdim anasuatuspeisesterdapat
jumlahtotalplotyangdisampel

3) Penutupan atau dominansi


Dominansi adalah persentase penutupan suatu spesies per satuan luas area
4) Nilai penting ( important value )
Jika tiap parameter terdahulu diubah menjadi harga relative, seperti :
Densitas relative = x 100%
densitassuatuspesies
totaldensitassuatuspesies

Frekuensi relative = x 100%


frekuensisuatuspesies
totalfrekuensisuatuspesies

Dominansi relative = x 100%


do min ansisuatuspesies
totaldomin ansiseluruhspesies

Maka nilai penting ( NP ) merupakan penjumlahan nilai :


Densitas relative + frekuensi relative + dominansi relative

IV. HASIL PENGAMATAN


Berdasarkan pada praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan mengenai
penentuan parameter faktor lingkungan suatu komunitas, maka didapatkan hasil
gambar sebagai berikut:

1. Termometer
keterangan :
1. skala
2. air raksa

 Menurut Literatur:
keterangan :
1. skala
2. air raksa

Sumber: http// northernbrewer.com/ lab-thermometer.jpg

2. Altimeter
keterangan :
1. skala
2. jarum
 Menurut Literatur:
keterangan :
1. skala
2. jarum

Sumber: http:// eric.brasseur/cessna_altimeter.jpg

3. Soil Tester pH Tanah


keterangan :
1. pori-pori
2. tombol
3. skala
4. jarum penunjuk
5. ujung soil tester

 Menurut Literatur:
keterangan :
1. pori-pori
2. tombol
3. skala
4. jarum penunjuk
5. ujung soil tester

Sumber: http://www.petmountain.com/ terrarium

4. Hygrometer
keterangan :
1. skala
2. jarum penunjuk

 Menurut Literatur:
keterangan :
1. skala
2. jarum penunjuk

Sumber: http://www.-hygrometer-thermometer.jpg
5. Anemometer
keterangan :
1. jarum penunjuk
2. skala kecil
3. skala besar
4. kipas
 Menurut Literatur:
keterangan :
1. jarum penunjuk
2. skala kecil
3. skala besar
kipas

6. DO Meter
keterangan :
1. kabel
2. skala
3. layar
4. probe
skala = 19,00

 Menurut Literatur:
keterangan :
1. kabel
2. skala
3. layar
4. probe
skala = 19,00
7. Luxmeter
keterangan :
1. layar penerima cahaya
2. tombol pengali
3. jarum penunjuk

 Menurut Literatur:
keterangan :
1. layar penerima cahaya
2. tombol pengali
3. jarum penunjuk

V. ANALISIS DATA
1. Termometer
Termometer digunakan untuk mengukur suhu, alat ini memanfaatkan sifat fisik
suatu materi yang dapat berubah secara teratur mengikuti perubahan suhu. Yang
paling lazim adalah memanfaatkan sifat pemuaian air raksa di dalam sebuah tabung
yang memanfaatkan zat cair lainnya sebagai pengganti air raksa, misalnya alkohol.
Skala celcius, skala 100 derajat diantara titik tetap bawah ( 0 ºC ) dan titik tetap atas
( 100 ºC ). Bagian-bagannya adalah bagian bawah yang berwarna merah itu adalah
berisis cairan raksa, dan terdapat skala-skala. Cara penggunaannya adalah dengan
cara meletakkan pada bagian yang akan diukur suhunya.

2. Altimeter
Altimete digunakan untuk mengukur ketinggian suatu tempat, dengan cara
mengukur perubahan tekanan atmosfer akibat perubahan ketinggian. Cara
menggunakannya adalah menstabilkan jarum penunjuk pada skala terlebih dahulu dan
meletakkan pada bagian yang akan diukur ketinggiannya. Kemudian lihat skalanya
yang ditunjukkan oleh jarumnya.
3. Soil Tester pH Tanah
Alat ini digunakan untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah. Bagin-
bagiannya terdiri atas pori-pori untuk mengetahui pH tanah, tombol, jarum untuk
menunjukkan skala, dan skala untuk menunjukkan pH tanah. Cara penggunaannya
adalah menstabilkan skala soil tester terlebih dahulu menancapkan bagian ujungnya
ke tanah hingga pori-porinya tenggelam. Kemudian melihat skalanya, skala bagian
atas adalah skala yang menunjukkan pH dari angka 4-7. Sedangkan skala bagian
bawah adalah skala untuk menunjukkan kelembaban. Untuk mengetahui
kekembapan tanah kita perlu memencet tombol yang ada pada soil tester sampai
menunjukkan angka atau perubahan jarum pada skalanya..
4. Hygrometer
Alat ini digunakan untuk mengukur kelembaban udara di sekitar kita. Bagian-
bagian dari hygrometer adalah jarum yang berfungsi untuk menunjukkan skala pada
hygrometer dan skala yang menunjukkan angka dari kelembaban udara. Dalam
penggunaannya kita harus menstabilkan jarum penunjuk pada skala dahulu, kemudian
menggantungkannya di dahan pohon atau di tempat yang akan ditentukan
kelembaban udaranya. Jarum skala akan menunjukkan angka dari 0-100 %.
5. Anemometer
Anemometer digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Bagian-bagiannya
terdiri dari jarum yang berfungsi untuk menunjukkan angka pada skala, skala kecil
dan skala besar yang berfungsi untuk menunjukkan kecepatan angin, dan kipas untuk
menangkap angin. Cara menggunakannya yaitu : pertama-tama mencari asal angin
atau tempat yang kecepatan anginnya cukup besar sehingga kincir dapat bergerak,
membuka penutupnya yang terletak didekat tangkai dan menggantungnya dipohon
atau dipegang oleh salah satu praktikan. Melihat angka yang ditunjukkan oleh skala,
misalnya asisten menentukan waktu yang telah ditentukan adalah 5 menit maka
setelah 5 menit penutup ditutup kembali. Dalam skala ada yang menunjukkan angka
kecil dan besar, misalnya angka kecil menunjukkan angka 3 maka skalanya 300.
sedangkan bila skala besar menunjukkan angka 60 maka nilainya tetap 60. kemudian
angka tersebut ditambahkan sehingga menjadi 360 m/s.
6. DO Meter
Alat ini digunakan untuk mengukur kadar oksigen dalam air . Bagian-
bagiannya adalah kabel, layar dan skala. Cara penggunannya adalah pertama-tama
kita menancapkan kabel yang diujungnya agak lancip ke dalam air yang akan kita
ukur kadar oksigennya, setelah itu kita dapat melihat skala yang ditunjukkan oleh DO
meter tersebut yang terdapat di layar.
7. Lux Meter
Alat ini digunakan untuk mengukur intensitas cahaya, alat ini terdiri atas layar
penerima cahaya yang berfungsi untuk menyerap cahaya, tombol pengali, jarum
untuk menunjukkan intensitas cahaya yang diukur. Cara penggunaannya adalah bila
cahaya cukup terang maka memencet tombol ke arah x1, sedangkan bila keadaan
cahaya kurang maka tombol dipencet ke arah x10. Kemudian arahkan cermin pada
cahaya hingga jarum skala bergerak dan menunjukkan angka tertentu. Jika setelah
tombol di arahkan ke x10 tidak terjadi gerakan pada jarum skala maka dapat
dilakukan penutupan pada cermin. Misalnya ditutup seperempatnya atau setengahnya
hingga jarum bergerak dan hasilnya yang didapat dikali dengan seberapa kita
menutup bagian kacanya. Jika kita menutup cerminnya seperempatnya maka hasilnya
dikalikan dengan 4, jika kita menutup cermin setengahnya maka hasilnya dikalikan 2
dan jika cerminnya tidak ditutup seperempat atau setengahnya maka hasilnya
dikalikan 10.
VI. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan diatas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikit:
1. Untuk mengukur parameter faktor lingkungan suatu komunitas dapat
menggunakan alat seperti Termometer, Altimeter, Soil tester pH Tanah,
Hygrometer, Anemometer, DO meter, dan Lux Meter.
2. Termometer digunakan untuk mengukur suhu udara air atau tanah dalam satuan
°C.
3. Altimeter adalah alat yang berfungsi untuk mengukur ketinggian suatu tempat.
4. Soil Tester pH Tanah digunakan untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah.
5. Hygrometer adalah alat untuk mengukur kelembaban udara.
6. Anemometer adalah alat yang berfungsi untuk mengukur kecepatan angin.
7. DO Meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen dalam air.
8. Luxmeter digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Arief, A. 1989. Biologi Umum. IKIP Malang: Malang

Noorhidayati dan Siti Wahidah Arsyad. 2009. Penuntun Praktikum Biologi Umum.
FKIP UNLAM: Banjarmasin.

Campbell, Neil A. dan Reece, Jane B. 2000. Biologi jilid I edisi lima. Penerbit
Erlangga: Jakarta

Godman, A. 1996. Kamus Sains Bergambar. PT Gramedia Pustaka : Jakarta

Nasir, Mochamad. 1993. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Fakultas BIologi-


UGM: Yogyakarta