Anda di halaman 1dari 40

Pemahaman Adat Minangkabau Terhadap Nilai-Nilai

ABSSBK.
Nilai-nilai Adat Basandi Syarak di kelompokkan menjadi enam
kelompok yaitu:
1) Nilai ketuhanan Yang Maha Esa,
2) Nilai kemanusiaan,
3) Nilai persatuan dan kesatuan,
4) Nilai demokrasi dan musyawarah,
5) Nilai budi pekerti dan raso pareso,
6) Nilai sosial kemasyarakatan.
Dasar pikiran yang berhubungan dengan nilai-nilai, yaitu nilai
ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan dan persatuan, musyawarah dan
demokrasi, serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan di antaranya
adalah :
1. NILAI-NILAI KETUHANAN YANG MAHA ESA
Nilai-nilai ketuhanan dalam adat dikategorikan dalam bidal yang
meliputi:
a. Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga
kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah,
sanda manyanda kaduonyo.
“ menjaga adat yang Islami”
b. Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak,
manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.
“ pembagian tugas yang baik, sesuai fungsi masing-
masing, mesti bekerja dengan professional.”
c. Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku,
indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.
“selalu berusaha, dinamis, tidak berputus asa,
(rencana di tangan manusia keputusan di
tangan Allah SWT).”
d. Limbago jalan batampuah, itu nan hutang ninik mamak,
sarugo dek iman taguah, narako dek laku awak.
“kuat beramal karya yang baik, jauhi maksiyat.”
e. Jiko bilal alah maimbau, sado karajo dibarantian, sumbahyang
bakaum kito daulu.
“menghidupkan surau, menjaga ibadah
masyarakat, jamaah yang kuat dan
memajukan pendidikan agama dengan baik,”
f. Jiko urang Islam indak bazakat, harato kumuah diri sansaro.
“zakat kekuatan membangun umat, menghindar dari
harta yang kotor, menjauhi korupsi.”
g. Kasudahan adat ka balairung, kasudahan dunia ka akhirat,
salah ka Tuhan minta taubat, salah ka manusia minta maaf.
“(menyesali kesahalan, mohon ampunan atas
kesahalan, dan berjanji tidak akan melakukan lagi)”
h. Tadorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. Adat jo
syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.
“ menjaga pelaksanaan adat dan agama selalu
berjalan seiring”.
Nilai-nilai Adat dalam Syarak
Nilai-nilai ketuhanan dalam syarak meliputi beberapa aspek
nilai di antaranya ;
a. Mengabdi hanya kepada Allah
Allah Swt. berfirman:
(57 :‫وما خلقت الجن والنس ال ليعبدون )الذريت‬
“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan
supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Zariyat: 56)
‫وما امر الليعبدوا ال مخلصين له الدين حنفاء ويقموا الصلوة ويؤتوا الذكوة وذلك دين القيمة‬
(5 :‫)البينة‬
“Pada hal tidak diperintahkan mereka, melainkan supaya
mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karena-Nya
dengan menjauhi kesesatan, dan (supaya) mereka mendirikan shalat
dan memberi zakat, karena yang demikian itulah agama yang lurus”.
(al-Bayinah: 5)
b. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah.
Allah berfirman:
(20 :‫يايها الذين امنوا اطيعوا ال ورسوله ولتولوا عنه وانتم تسمعون )النفال‬
“Wahai ummat yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-
Nya dan janganlah kamu berpaling dari padanya, padahal kamu
mendengar”. (al-Anfal: 20)
‫ومن يطع ال والرسول فاولئك مع الذين انعم ال عليهم من النبيين والصديقين والشهداء‬
(6 :‫والصالحين وحسن اولئك رفيقا )الناس‬
“Karena siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu
adalah beserta ummat yang Allah beri nikmat atasnya, dari Nabi-Nabi,
Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin dan alangkah baiknya mereka ini
sebagai sahabat karib”. (an-Nisa: 69)
c. Berserah diri kepada ketentuan Allah.
Allah berfirman:
‫وعسى ان تكرهوا شيئا خيرلكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شر لكم وال يعلم وانتم لتعلمون‬
(216 :‫)البقرة‬
“ Mungkin kamu benci kepada sesuatu, padahal ia itu satu kebaikan
bagi kamu, dan mungkin kamu suka akan sesuatu tapi ia tidak baik
kamu, dan Allah itu Maha Mengetahui dan kamu tidak
mengetahuinya”. (al-Baqarah: 216)
(157 :‫)البقرة‬ ‫الذين إذا اصابتهم مصيبة قالوا انا ال وانا اليه راجعون‬
“Yang apabila terjadi terhadap mereka suatu kesusahan, mereka
berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kami akan kembali”. (al-Baqarah: 156)
d. Bersyukur kepada Allah
Allah berfirman
(7 :‫واذا تأذن ربكم لئن شكرتم لزيدنكم ولئن كفرتم ان عذابى لشديد )ابراهيم‬
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan kamu memberi tahu jika kamu berterima
kasih niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, bila kamu tidak
bersyukur akan nikmat maka azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim: 6-7)
e. Ikhlas menerima keputusan Allah.
‫ولو انهم رضوا ما اتهم ال ورسوله وقالوا حسبنا ال سيؤتينا ال من فضله ورسوله انا إلى ال‬
(59 :‫راغبون )التوبة‬
“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan
Rasul-Nya berikan kepada mereka, sambil mereka berkata: cukuplah
Allah bagi kami, sesungguhnya Allah dan rasul-Nya akan beri kepada
kamu karunia-Nya, sesungguhnya kami mencintai Allah”. (al-Taubah:
59)
(‫كتب ال مقاد ير الخل ئق قبل ان يخلق السموات والرض بخمسين الف سنه )رواه مسلم‬
“Allah telah menentukan kepastian/ketetapan terhadap semua
makhluk-Nya sebelum Allah menciptakan langit dan bumi 50.000
tahun”. (HR. Muslim)
f. Penuh harap kepada Allah
Allah berfirman:
:‫)بني اسرائيل‬ ‫وا ما تعرضن عنهم ابتعاء رحمة من ربك ترجوها فقل لهم قولميسورا‬
(28
“Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena mengharapkan
(menunggu) rahmat dari Tuhanmu, yang engkau harapkan, maka
berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang lemah lembut”. (bani
Isra’il: 28)
(5 :‫من كان يرجوا لقاء ال فان اجل ال رات وهو السميع عليم )العنكبوت‬
“Siapa saja yang mengharapkan pertemuan (dengan) Allah, maka
sesungguhnya waktu (perjanjian) Allah akan datang, dan Dia yang
Mendengar, yang Mengetahui”. (al-Ankabut: 5)
‫ان الذين امنوا والذين هاجروا وجاهدوا فى سبيل ال اولئك يرجون رحمت ال وال غفور‬
(218 :‫رحيم )البقرة‬
“Sesungguhnya ummat yang beriman dan berhijrah serta bekerja
keras (berjihad) di jalan Allah, mereka itu (ummat yang) berharap
rahmat Allah dan Allah itu Pengampun, Penyayang”. (al-Baqarah: 218)
g. Takut dengan rasa tunduk dan patuh
‫انما يعمر مساجد ال من أ من بال واليوم ال خر واقام الصلوة واتى الزكوة ولم يخسى ال‬
(18 :‫)التوبة‬ ‫ال فعسى اولئك ان يكونوا من المهتدين‬
“Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid Allah ummat
yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mendirikan shalat
dan membayarkan zakat. Maka Allahlah yang lebih berhak kamu
takuti, jika memang kamu ummat yang beriman”. (al-Taubah: 13
(44 :‫فل تخشوا الناس واخشون ولتشتروا بأ يا تي ثمنا قليل )المائدة‬
“Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku
(Allah) dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang
murah (sedikit)”. (al-Maidah: 44)
(28 :‫امنا يخشى ال من عباده العلماؤا … )فاطر‬
“Tidak ada yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya kecuali
ulama (berilmu)”. (Fathir: 28)
h. Takut terhadap siksaan Allah
Allah Berfirman:
:‫ان في ذلك لية لمن خاف عذاب الخرة ذلك يوم تجموع له الناس وذلك يوم مشهود … )هود‬
(103
“Sesungguhnya di dalam itu ada tanda bagi orang yang takut kepada
azab akhirat: ialah hari yang dikumpulkan padanya manusia dan ialah
hari yang akan disaksikan”. (Hud: 103)
‫كمثل الشيطن اذ قال لل نسان اكفر فلما كفر قال اني بريء منك انى اخاف ال رب‬
(16 :‫العالمين … )الحشر‬
Mereka adalah) seperti syetan tatkala berkata kepada mereka: )“
kufurlah setelah manusia itu kufur, ia berkata: Aku berlepas diri
dari padamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah
(Tuhan bagi alam semesta”. (al-Hasyr: 16
i. Berdo’a memohon pertolongan Allah.
Allah berfirman:
‫واذا سألك عبادي عنى فانى قريب أ جيب دعوة الداع إذا دعان فليستجبوا لى وليؤمنوا بي‬
(186 :‫)البقرة‬ ‫لعلهم يرشدون‬
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku,
maka katakanlah bahwa Aku dekat (hampir), Aku akan …
(60 :‫)المؤمن‬ ‫وقال ربكم ادعونى استجب لكم‬
“Dan telah berkata Tuhan kamu: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku
kabulkan doa untukmu”. (al-mukmin: 60)
(180 :‫)العراف‬ ‫ول السماء الحسنى فادعوه بها‬
“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, oleh karena itu berdo’alah
kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu”. (al-A’raf: 180)
(106 :‫)يونس‬ ‫ول تدع من دون ال مال ينفعك ول يضرك‬
“Jangan kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak bisa memberi
manfaat kepadamu dan tidak bisa memudarakan (membahayakan)”.
(Yunus: 106)
j. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.
Allah berfirman:
(8-7 :‫)النشراح‬ ‫وإ لى ربك فارغب‬ ‫فإ ذا فرغت فانصب‬
“Lantaran itu, apabila kamu telah selesai mengerjakan sesuatu tugas
maka kerjakanlah tugas baru dengan baik. Dan kepada Tuhanmu
maka hendaklah kamu berharap dengan rasa cinta”. (al-Insyirah: 7-8)
(32 :‫)القلم‬ ‫عسى ربنا أ ن يبدلنا خيرا منها إ نا إلى ربنا راغبون‬
“Mudah-mudahan Tuhan kita mengganti untuk kita (kebun) yang lebih
baik dari pada itu. Sesungguhnya kepada Tuhan kitalah kita berpegang
baik”. (al-Qarim: 32)
Dalam adat diungkapkan “indak dapek salendang pagi, ambiak
galah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah juo nan
balaku”.
Bahwa bimbingan syarak berlaku dalam adat, disebutkan:
“kasudahan dunia ka akhirat, kasudahan adat ka balairung, syarak ka
ganti nyawa, adat ka ganti tubuah”.
2. NILAI-NILAI KEMANUSIAAN
Nilai-nilai kemanusiaan ini dinyatakan dalam adat meliputi:
a) Duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak sahamparan,
tagak sapamatang.
“menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat.”
b) Sasakik sasanang, sahino samalu, sabarek sapikua.
”peduli dan solidaritas mesti dipelihara.”
c) Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.
“setia kawan, dengan pengertian membagi
berita baik kepada semua orang.”
d) Nan ketek dikasihi, nan samo gadang lawan baiyo, nan tuo
dihormati. Nan bungkuak ka tangkai bajak, nan luruih ka tangkai
sapu, satampok ka papan tuai, nan ketek ka pasak suntiang,
panarahan ka kayu api.
“santun dan hormat terhadap orang yang lebih
tua, memungsikan semua elemen masyarakat
yang ada.”
e) Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih, cadiak jan
manjua.
“berbuat sesuai dengan aturan yang
berlaku, cerdik tidak memakan lawan.”
f) Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan
lumpuah pangajuik ayam, nan binguang pangakok karajo, nan
cadiak lawan baiyo, nan pandai tampek batanyo, nan tahu
tampek baguru, nan kayo tampek batenggang, nan bagak ka
parik paga dalam nagari.
“memberikan tugas sesuai dengan kemampuan,
menghargai sesama.”
Nilai-nilai kemanusiaan dinyatakan dalam syarak :
a. Kewajiban untuk menghargai persamaan (egaliter)
Allah berfirman:
‫يايها الناس إ نا خلفناكم من ذكر وأ نثى وجعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا إ ن أ كرمكم عند ال أ‬
(13 :‫الحجرات‬ .‫ إ ن ال عليم خبير‬،‫تقاكم‬
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-
suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi
Maha mengenal”. (al-Hujurat: 12)
b. Menghormati persamaan manusia lain.
Sabda rasulullah
(‫)رواه الترمذي‬ ‫ليس المسلم بالطعان ول اللعان ول الفاحش ول البذئ‬
Tidaklah termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap
kejam dan pencaci (HR. Tirmidzi)
c. Mencintai sesama saudara muslim
(‫ل يؤمن أ حدكم حتى يحب ل خيه ما يحب لنفسه )رواه البخارى ومسلم‬
Tidaklah dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa
yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa
yang disenanginya (HR. Bukari Muslim)
d. Pandai berterima kasih
Sabda rasulullah
(‫)ابو داود واحمد‬ ‫ل يشكر ال من ل يشكر الناس‬
Tidak dapat bersukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima
kasih atas kebaikan orang lain (HR. Abu Daud dan Ahmad
e. Memenuhi janji
Allah berfirman
‫وأ فوا بعهد ال إذا عاهدتم ول تنقضوا اليمان بعد توكيدها وقد جعلتم ال عليكم كفيل إ ن ال‬
(91 :‫)النحل‬ ‫يعلم ما تفعلون‬
Dan penuhilah janji-janji tatkala kamu berjanji, dan janganlah kamu
mengingkari itu sebab kamu telah menjadikan Allah sebagai
pemelihara. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan (al-Nahl: 91).
f. Tidak boleh mengejek dan meremehkan orang lain
Firman Allah:
(11 :‫)الحجرات‬ ‫يأ يها الذين أ منوا ل يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم‬
Janganlah kamu mengejek atau merendahkan diri orang lain, saudara
atau teman dekatmu dengan membicarakan kekurangan atau
membuka aib dan cacatnya, atau menjulukinya sampai menyakitkan
hatinya, sesungguhnya perbuatan demikian adalah sikap yang tercela.
g. Tidak mencari kesalahan
Allah berfirman:
(12 :‫ول يغتب بعضكم بعضا أيحب أ حدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه )الحجرات‬
Dan janganlah mengumpat atau menceritakan kesalahan sebagian
dari kamu terhadap sebagian yang lain, sukakah kamu memakan
daging saudaramu yang sudah menjadi bangkai, sedangkan kamu
membencinya (al-Hujurat: 12)
h. Bergaul baik dengan menjaga persaudaraan dan
persatuan
Allah berfirman
.(10 :‫)الحجرات‬ ‫إ نما المؤمنون إ خوة فأ صلحوا بين أخويكم واتقوا ال لعلكم ترحمون‬
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujurat: 10).
i. Tidak boleh sombong
(19 :‫ول تمشى في ال رض مرحا … )لقمان‬
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong
(Lukman: 18)
3. NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KESATUAN
Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam adat
a. Tagak kampuang paga kampuang, tagak suku paga suku,
tagak banagari paga nagari
“ menjaga persatuan dan bersama
membangun nagari, sesuatu itu harus
dimunculkan dari bawah. “
b. Satinggi-tinggi tabang bangau, kumbalinyo ka kubangan juo,
hujan ameh di rantau urang, hujan batu di kampuang awak,
kampuang halaman tatap dikana juo
“ ada tempat kembali, semua akan kembali ke asal ”
c. Jauh bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak dirasoi
“ cari pengalaman yang baik “
d. Malu tak dapek dibagi, suku tak dapek diasak, raso ayia ka
pamatang, raso minyak ka kuali
“ suku tidak dapat ditukar “
e. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba
buruak bahambauwan
“ selalu berbuat baik menyatu dengan lingkungan di
mana berada “
f. Banabu-nabu bak cubadak, baruang-ruang bak durian, nan
tangkainyo hanya sabuah, nan batangnyo hanyo satu, saikek
umpamo lidi, sarumpun umpamo sarai, satandan umpamo
pinang, sakabek umpamo siriah.
“ tidak boleh berpecah belah, jauhi silang sengketa “
g. elok di ambiak jo mupakat, buruak di buang jo etongan
“ utamakan musyawarah “
h. randah tak dapek dilangkahi tinggi tak dapek dipanjek.
“ keputusan musyawarah mengikat “
i. bersilang kayu dalam tungku sinan nasi mangko masak,
dengan tepat dan benar.
“ perbedaan pendapat tidak boleh membawa
perpecahan “

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam syarat meliputi:


a. Bersatu tidak boleh bercerai-cerai
‫ واعتصموا بحيبل ال جميعا‬.‫يأ يها الذين أمنوا إ تقوا ال حق تقاته ول تموتن إل وأنتم مسلمون‬
‫ وكنتم‬،‫ واذكروا نعمت ال عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا‬،‫ول تفرقوا‬
:‫)ال عمران‬ ‫ كذلك يبين ال لكم أ ياته لعلكم تهتدون‬،‫على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها‬
.(103-102
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati
melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah dan berpegang
teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu
bercerai-cerai dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika
kamu dulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati
kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang
bersaudara (QS. Ali Imran; 102-103).
b. Orang yang beriman ibarat sebuat bangunan
Sabda Rasulullah saw
(‫)رواه البخارى ومسلم‬ ‫أ لمؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا‬
Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, bagi suatu bangunan yang
menopang satu bagian terhadap bagian lainnya (HR. Bukhri dan
Muslim.
Firman Allah SWT
‫ضربت عليهم الذلة أ ين ما ثقفوا إل بحبل من ال وحبل من الناس وبأؤ بغضب من ال‬
‫ ذلك بما‬،‫ ذلك بأ انهم كانوا يكفرون بأ يات ال ويقتلون ال ابياء بغير حق‬،‫وضربت عليهم المسكنة‬
.(112 :‫عصوا وكانوا يعتدون )ال عمران‬
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika
mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tlai (perjanjian)
dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah
dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka
kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan
yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan
melampaui batas (QS. Ali Imran: 112).
4. Nilai-nilai Demokrasi dan Musyawarah
Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam adat
meliputi beberapa aspek
Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakek,
a.
bulek dapek digolongkan, pipiah buliah dilayangkan.
“Taat pada kesepakatan hasil musyawarah”
b.Kato nan banyak dari bawah, banyak indak buliah
dibuang, saketek indak buliah disimpan.
“ Peranan masyarakat berpatisipasi, mulai
dari lapisan terendah, kedudukannya sama
dalam hukum “
d. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu,
pangulu barajo ka mufakek, mufakek barajo ka nan bana,
bana badiri sandirinya, manuruik alua jo patuik.
” taati hukum dan aturan yang berlaku “
e. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro, aniang saribu aka, dek
saba bana mandating
“ sebelum berbuat lakukan penelitian dan
kaji segala kemungkinan, sebab dan akibat
dari satu perbuatan “
f. Suri tagantuang batanuni, luak taganang nan basawuak,
kayu batakuak barabahkan, janji babuek batapati.
“tetapi janji, lakukan sesuatu menurut patut dan
pantas “
g. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-
sampik, kato surang babulati, kato basamo dipaiyokan
“ bina kerukunan bersama “
h. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, elok diambiak jo
mufakek, buruak dibuang jo etongan.
“ teguhkan persaudaraan, kembangkan dialog “
i. Sabalik bapaga kawek, randah tak dapek dilangkahi, tinggi
tak dapek dipanjek.
“ hidup mesti berperaturan, tidak boleh berbuat
seenak diri sendiri “
j. Galugua buah galugua, tumbuah sarumpun jo puluik-puluik,
badampiang jo batang jarak, basilang kayu dalam tungku,
sinan nasi nasi mangko masak.
“tidak perlu cemas untuk berbeda pendapat,
perbedaan tidak menimbulkan perselisihan,
di sini terdapat dinamika hidup”
k. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana, nan bana
kato saiyo, nan rajo kato mufakek
“ permusyawaratan perwakilan, teguh melaksanakan
kesepakatan “
Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah di dalam syarak meliputi
beberapa aspek yang jelas dalam tata cara melaksanakan
musyawarah serta perilaku ini, akan menguatkan pelaksanaan ABS-
SBK, di antaranya ;
Firman Allah SWT
‫ فاعف عنهم‬،‫ ولو كنت فظا غليظ القلب لنفضوا من حولك‬،‫فبما رحمة من ال لنت لهم‬
‫)ال‬ ‫ إن ال يحب المتوكلين‬،‫واستغفرلهم وشاورهم فى المر فإذاعزمت فتوكل على ال‬
.(159 :‫عمران‬
Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah ia menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali
Imran: 159).
Firman Allah SWT
.(38 :‫… وأمرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون )الشورى‬
“…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara
mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
berikan kepada mereka” (QS. Al-Syura: 38).
Sabda Rasulullah SAW
‫ما خاب من اتخار ول ندم من اشتشار‬
Tidak akan gagal orang yang mengerjakan istikharah dan tidak pula
menyesal orang yang melakukan musyawarah
Sabda Rasulullah
‫المستشار مؤتمن‬
“Orang-orang yang melakukan musyawarah akan tentram (aman)”

5. NILAI-NILAI AKHLAK / BUDI PEKERTI


Nilai-nilai budi pekerti / akhlak dalam adat meliputi:
a. Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan bayiak budi, nan indah
baso
“Budi pekerti dan bahasa sopan santun diperlukan “
b. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali
lancuang ka ujian, salamo hiduik urang tak picayo
“jangan pernah berbuat salah, selalu menjaga diri”
c. Batanyo lapeh arak, barundiang sudah makan
d. Raso dibaok nayiak, pareso dibaok turun
“memikirkan akibat sebelum berbuat”
e. Sulaman manjalo todak, naiak sampan turun parahu, punyo
padoman ambo tidak, angin bakisa ambo tau
“ selalu mempergunakan akal sehat sebelum berbuat

f. Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah
“hati-hati selalu”
g. Pisang ameh baok balayia, masak sabuah di dalam peti, utang
ameh dapek dibayia, utang budi dibaok mati.
“selalu berbuat baik, hidup dengan berjasa
dan pandai membalas jasa“
h. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang, jikok
hiduik indak babudi, duduak tagak ka mari tangguang.
“ tidak melupakan tata kerama bergaul menurut adat
dan agama “
Nilai-nilai budi pekerti dan akhlak dalam syarak sangat
banyak ditemukan:
Firman Allah SWT
‫ فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بال فقد إ ستمسك‬،‫ قد تبين الرشد من الغي‬،‫ل إ كراه في الدين‬
(256 :‫)البقرة‬ ‫ وال سميع عليم‬،‫بالعروة الوثقى ل انفصام لها‬
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya
telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu
barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali tali yang
amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 256)
Firman Allah SWT
(2 :‫)التغابون‬ ‫هو الذي خلقكم فمنكم كا فر ومنكم مؤمن وال بما تعملون بصير‬
Dialah yang menciptakan kamu, maka diantara kamu ada yang kafir
dan diantaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan (QS. Al-Taghabun: 2)
Firman Allah SWT
‫ ربنا ل تؤخذنا إ ن نسينا أو‬،‫ لها ما كسبت وعليها ما ا كتسبت‬،‫ل يكلف ال نفسا إ ل وسعها‬
،‫ ربنا ول تحملنا ما ل طقة لنا به‬،‫ ربنا ول تحمل علينا إ صرا كما حملته على الذين من قبلنا‬،‫اخطأنا‬
.(286 :‫ انت مولنا فانصرنا على القوم الكفرين )البقرة‬،‫ وارحمنا‬،‫ واغفرلنا‬،‫واعف عنا‬
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya, (mereka berdoa): ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum
kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa
yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah
kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah
kami terhadap kaum kafir (QS. Al-Baqarah: 286).
Sabda Rasulullah SAW
(‫)رواه البخارى‬ ‫يسروا ول تعسروا وبشروا ول تنفروا‬
Permudahlah jangan mempersulit dan gembirakanlah jangan menakut-
nakuti (HR. Bukari).

6. NILAI-NILAI SOSIAL KEMASYARAKATAN


Nilai-nilai sosial kemasyarakatan adat dan syarak meliputi antara
lain
a. Nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah pengajuik ayam,
nan pakak palatuih badia
“ fungsi ham asasi manusia “
b. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, nan barek
makanan bahu, nan ringan makanan jinjiang.
“ suka bergotong royong, memelihara kerja sama “
c. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba
buruak bahambauan.
“sifat tolong menolong “
d. Bungka ameh manahan asah, ameh batua manahan uji, kato
batua manahan sudi, hukum batuah manahan bandiang.
“ kualitas, ekonomi, professional, menegakkan nilai-
nilai keadilan “
e. Nan tak untuak jan diambiak, nan bakeh yo diunyi, turuik
alua nan luruih, tampuah jalan nan pasa
“menjaga keseimbangn antara hak dan kewajiban “
f. Sawahlah diagiah pamatang, ladanglah diagiah bamintalak,
lah tantu hinggo jo batehnya, lah tahu rueh jo buku
“mematuhi aturan yang ada “
g. Ketek taraja-raja, gadang tarubah tidak, lah tuo jadi
parangai.
“ Pendidikan di rumah tangga tentang
perilaku dan budi pekerti
sangat penting. Menanamkan perilaku bertanggung
jawab
sejak kecil ”
h. Kato sapatah dipikiri, jalan salangkah ma adok suruik
“ Hati-hati dalam berucap dan bertindak
memikirkan hal yang akan disampaikan
sebelum berbicara “
i. Syarakmangato, adat mamakai, syarak mandaki, adat
manurun
“ Ketetapan syarak dipakai dalam adat,
perjalanan adat penghulu seiring dengan
ulama “
j. Sasakik sasanang, sahino samalu, nan ado samo dimakan,
kok indak samo ditahan, barek samo dipikua, ringan samo
dijinjiang. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun,
tatilungkuik samo makan tanah, talilantang samo makan
angin.
“ Rasa kebersamaan, gotong royong wajib
ditumbuhkan di tengah masyarakat Minangkabau
(Sumbar), menggerakkan potensi moril materil,
untuk membangun nagari, dan menghapus
kemiskinan”
Nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam syarak sebagai
berikut:
a. Saling tolong menolong
Firman Allah SWT
(2 :‫تعاونوا على البر واتقوا ول تعاونوا على الثم والعدوان )المائدة‬
Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan
janganlah kamu tolong menolong berbuat dosa dan permusuhan (QS.
Al-Maidah: 2).
Sabda Rasulullah SAW
(‫)رواه البخارى‬ ‫انصر اخاك ظالما أو مظلوما‬
Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR.
Bukari)
Sabda Rasulullah
(‫ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا )رواه ابو داود وترمذى‬
Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda
dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi).
Sabda Rasulullah
‫تحجزة من ظلمه فذلك نصره‬
“Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara
menolongnya”
b. Tidak boleh memisahkan diri dari masyarakat
(jama’ah)
(‫)رواه ترميذ‬ ‫وعليكم بالجمعة فمن شذ شذ في النار‬
Kamu harus hidup dalam jama’ah siapa saja yang mengasingkan diri
dari jama’ah, dia akan menyendiri masuk ke dalam api neraka (HR.
Tirmizi).
c. Waspada dan menjaga keselamatan bersama
Allah berfirman
.(25 :‫)النفال‬ ‫وتقوا فتنة ل تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة‬
Takutlah kamu kepada fitnah yang tidak hanya menimpa kepada
orang yang zalim saja (QS. al-Anfal: 25)
Allah SWT berfirman
(3 :‫)العصر‬ ‫وتواصوا بالحق وتواصو بالصبر‬
Saling menasehatilah tentang kebenaran dan saling menasehatilah
dengan kesabaran (al-Ashr: 3)
Sabda Rasulullah SAW
(‫)رواه البخارى‬ ‫إذا استنصح احدكم اخاه فالينصح له‬
Jika kamu dimintai nasehat oleh salah seorang saudaramu, maka
berikanlah nasehatmu kepadanya (HR. Bukhari)
Sabda Rasulullah SAW:
‫ ل ولكتابه ولرسوله ولمة المسلمين عامتهم‬:‫ فقال‬:‫الدين النصيحة سئل لمن؟ فقال‬
Agama itu nasehat, kemudian ditanyakan kepada beliau, bagi siapa
nasehat itu? Rasulullah menjawab: bagi Allah, bagi kitab-kitabnya, bagi
rasulnya, bagi para pemimpin muslim, dan jama’ah pada umumnya
(HR. Muslim)
d. Berlomba mencapai kebaikan
Allah SWT berfirman
(146 :‫فاستبقوا الخيرات … )البقرة‬
Dan saling berlombalah kamu untuk berbuat kebaikan di mana kamu
berada (QS. al-Baqarah: 146)
Sabda Rasulullah SAW
‫اتق ال حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن )رواه الحاكم‬
(‫والترمذي‬
Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan
iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat
terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu
bersikap ikhlas (terpuji). (HR. Hakim dan Tarmizi).
e. Tidak boleh mencela dan menghina
Allah SWT berfirman
‫يايها الذين امنوا ل يسخر قوم من قوم عسى ان يكونوا خيرا منهم‬
‫ول نساء من نساء عسى ان يكن خيرا منهن ول تلمزوا انفسكم ول تنابزوا باللقاب بئس السم‬
.(11 :‫)الحجرات‬ ‫الفسوق بعد اليمان ومن لم يتب فاولئك هم الظلمون‬
Wahai umat yang beriman, janganlah hendaknya terjadi suatu kaum
menghina kaum yang lainnya, boleh jadi yang dihina ternyata lebih
baik keadaannya daripada yang menghina. Demikian juga janganlah
para wanita itu menghina kelompok wanita yang lainnya, karena boleh
jadi wanita yang dicela itu lebih baik dari yang mencela. Janganlah
saling mencerca dan janganlah berolok-olok dengan sebutan-sebutan
yang jelek. Seburuk-buruk sebutan fasik sesudah orang itu beriman (al-
Hujurat: 11).
f. Menepati janji
Firman Allah SWT:
(1 :‫)المائدة‬ ‫يايها الذين امنوا اوفوا بالعقود‬
Wahai umat yang beriman, penuhilah selalu janji-janjimu (QS. al-
Maidah: 1)
Firman Allah SWT:
(177 :‫البقرة‬ ‫والموفون بعهدهم إذا عاهدوا‬
Dan orang-orang yang selalu menyempurnakan janji-janjinya, jika ia
membuat perjanjian (QS. al-Baqarah: 177)
g. Bersikap adil
Allah SWT berfirman:
(29 :‫)البقرة‬ ‫قل امر ربي بالقسط‬
Katakanlah: telah memerintahkan Tuhanku agar berbuat adil (QS. al-
A’raf: 29)
Allah SWT berfirman:
‫يايها الذين امنوا كونوا قوامين ل شهداء بالقسط ول يجرمنكم شنان قوم على ال تعدلوا اعدلوا‬
.(8 :‫هو اقرب للتقوى ان ال خبير بما تعملون )المائدة‬
Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang
lurus karena Allah dan menjadi saksi, dan janganlah kebencian atas
suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adilah kamu,
karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah
kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui
terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).
Allah SWT berfirman:
(199 :‫خذ العفو وأمر بالمعرف واعرض عن الجاهلين )العراف‬
Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah
pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik
mereka). (QS. al-A’raf: 199)
Sabda Rasulullah SAW:
‫)رواه الحاكم‬ ‫اتق ال حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن‬
(‫والترمذي‬
Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan
iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat
terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu
bersikap ikhlas (terpuji) (HR. al-Hakim dan Tirmizi).
h. Tidak boleh bermusuh-musuhan
Rasulullah SAW bersabda:
‫ ل تحاسدوا ول‬:‫ قال رسول ال صلى ال عليه وسلم‬:‫عن ابى هريرة رضى ال عنه قال‬
.(‫تباغضوا ول تجسسوا ول تسسو ول تناجشوا وكونوا عبد ال اخوانا )متفق عليه‬
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda; janganlah
kamu saling mendengki, saling membenci, saling mencari kesalahan
yang lain, saling mengumpat dan jangan pula saling menipu. Tetapi
jadilah kam hamba-hamba Allah penuh persaudaraan (HR. Bukhari dan
Muslim).
Sabda Rasulullah SAW
(‫)رواه بخارى ومسلم‬ ‫سباب المسلم لسوق وقتاله كفر‬
Mencerca seorang muslim adalah fasiq, dan membunuh seorang
muslim adalah kufur (HR. Bukhri dan Muslim)
Sabda Rasulullah SAW:
(‫)رواه البخارى‬ ‫انصر اخاك ظالما أو مظلوما‬
Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR.
Bukhari).
Sabda Rasulullah:
.(‫)رواه ابو داود وترميذي‬ ‫ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا‬
Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda
dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
Sabda Rasulullah:
‫تحجزه من ظلمه فذلك نصره‬
Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara
menolongnya.
Sabda Rasulullah:
(‫المسلم اخو المسلم ل يظلمه ول يخذ له )رواه ابو داود‬
Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, karena itu tidak
menganiaya saudaranya, tidak merendahkan derajatnya dan tidak
menanggapinya sepele dan hina (HR. Abu Daud).
i. Tidak boleh bermarahan.
Rasulullah SAW bersabda:
‫ل يحل لمسلم ان يهجر اخاه فوق ثلث‬
Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya (sesama
muslim) lebih dari tiga hari (HR. Bukari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi,
Muwatha’ dan Ahmad).

Allah SWT berfirman:


‫يايها الذين امنوا كونوا قوامين ل شهداء بالقسط ول تجر منكم شنان قوم على ال تعدلوا اعدلوا‬
(8 :‫)المائدة‬ ‫هو اقرب للتقوى ان ال خير بما تعملون‬
Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang
lurus karena Allah dan menjadi saksi dan janganlah kebencian atas
suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adillah kamu,
karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah
kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui
terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).
Allah SWT berfirman:
.(199 :‫)العراف‬ ‫خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين‬
Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah
pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik
mereka).

Karena itu masyarakat Minangkabau yang beradat dan beragama


selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum
mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu. Sesuai dengan
peringatan Ilahi.
çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒ yƒ tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼
¼çmtRqÝàxÿøtsƒ ô`ÏB ̃ øBr& «!$# 3 ƒ cÎ) ©!$# ƒ w çƒ Éiƒ tóム$tB
BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçƒÉiƒtóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sƒ Î)ur
yƒ # uƒ r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþq߃ ƒxsù ¨ƒtƒtB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9
`ÏiB ¾ÏmÏRr߃ `ÏB @A#ur
“ bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah
Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang
dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain
Dia.” (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam "iklim adat
basandi syara' syara' basandi Kitabullah", dalam rangka pembinan
negara dan bangsa keseluruhannya, semata untuk melaksanakan
Firman Ilahi;

Æ÷tGö/$#ur !$yJ ƒ Ïù ƒ ƒ 9 t?#uä ª!$# uƒ#¤$!$# notƒÅzFy$# ( ƒwur


ƒ[Ys? y7t7ƒ ÅÁtR ƒÆÏB $uƒ÷Rƒ ƒ9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJƒ2 z`|¡ômr&
ª!$# ƒƒøƒs9Î) ( ƒwur Æ÷ö7s? yƒ$|¡xÿø9$# ƒ Îû ÇÚöƒF{$# ( ¨bÎ) ©!$#
ƒw ƒ =Ïtäƒ tûïσšøÿßJø9$#
"Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat
baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al
Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam


diri anak nagari,
“Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.”

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak.


bÎ)ur (#rƒƒãès? spyJ÷èÏR «!$# ƒw !$ydqÝÁøtéB 3 ƒcÎ) ©!$#
ƒ§Öƒqàÿtós9 ÒOƒÏm
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).
Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara perkembangan
hidup rohani dan perkembangan jasmani ; "Sesungguhnya jiwamu
(rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu
(jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist).
Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah
ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak
dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik
kanyang.
Hal ini seiring dengan bimbingan hadist Rasul SAW, "Berbuatlah
untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan
berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-
lamanya" (Hadist).
Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang
kecil.1
Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk
digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari
rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.
rãƒÏ±tFR$$sù ƒÎû ÇÚöƒF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$##)
?(#rãƒä.øƒ$#ur ©!$# #ZƒƒÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè
"Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di
samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan".
(QS.62, Al Jumu'ah : 10).
Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang
dahulu dirumah paguno balun. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian
“Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga”.
Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu
(space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan
matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan
pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.
Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi. Maka,
kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.2
uZù=yèy_ur ƒ@øƒ©9$# $Uƒ$t7Ï9 -- $uZù=yèy_ur uƒ$pk¨]9$#$
$V©$yètB
” dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk
mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba' : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap


menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.
ûÓÍ_t6»tƒ tPyƒ#uä (#räƒè{ ö/ä3tGt^ ƒÎƒ yƒZÏã Èe@ä.
7ƒÉfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uƒõ°$#ur ƒwur (#þqèù΃ô£è@ 4 ¼çm¯RÎ)
ƒw ƒ=Ïtäƒ tûüÏù΃ô£ßJø9$#
"Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid
(melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas;
sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". (QS..7, Al
A'raf : 31)
Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras
otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam
sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan
syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada
Ilahi.
A. PENGERTIAN ‘URF DAN ‘ADAT

Ahli fiqh telah lama merangkum di dalam kajian mereka, pembahasan


tentang tradisi manusia dan posisinya dalam syari’at Islam. Istilah yang mereka
pergunakan untuk itu berkisar anatara ‘urf dan ‘adat. Dua term itu dianggap
memiliki makna yang sama dalam pemahaman sebagian fuqaha’, namun ada yang
melihatnya sebagai dua kata yang berbeda.
Terlepas dari perbedaan pendapat dalam melihat makna kata ‘urf dan ‘adat,
Ahli fiqh telah merumuskan definisi ‘urf dalam posisinya sebagai suatu alternatif
dalil dalam melahirkan hukum Islam. Majlis Majma’ al-Fiqh al-Islamiy mendefinisikan
‘urf

Segala yang dibiasakan oleh manusia dan mereka jadikan sebagai cara kehidupan
baik dalam bentuk ucapan, tindakan maupun sesuatu yang mesti ditinggalkan,
dimana adakalanya dipandang benar oleh syara’ dan adakalanya dipandang tidak
benar.

Dari definisi di atas, dapat difahami bahwa ‘urf atau yang dikenal oleh
masyarakat sebagai adat bukan hanya sekedar pepatah atau peribahasa. Dalam
tinjauan hukum Islam, adat yang dipandang sebagai adat bukan hanya dalam
tataran filosofis. Namun Fiqh Islam melihatnya dalam suatu keutuhan tradisi baik
dari sisi falsafah maupun dari sisi penerapan falsafah itu.

Klasifikasi mu’tabar dan ghairu mu’tabar atau shahih dan fasid yang telah
digariskan oleh fuqaha` berdasarkan petunjuk Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah
saw, menjadi landasan kuat dalam menilai adat apapun yang ditemukan dalam
masyarakat muslim tanpa mempersoalkan apakah kemunculan adat itu setelah
diterimanya hidayah Islam atau belum.

Adat yang dipandang tidak benar dalam syari’at Islam merupakan sesuatu
yang harus ditinggalkan seorang muslim sebagai konsekwensi kebenaran
syahadatnya. Apabila seorang muslim berkeberatan meninggikan ketentuan Allah
swt dari segala ciptaan nenek moyang yang diwarisinya secara turun temurun,
tentu keyakinannya akan kesempurnaan Allah swt dan kesempurnaan syari’at yang
diturunkannya menjadi ternoda.

B. ADAT MINANGKABAU

Masyarakat Minangkabau dengan segala kelapangan berfikirnya, sangat


sangat mengerti dengan adat sebagaimana penjelasan di atas. Suatu langkah awal
telah dicanangkan melalui semboyan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi
Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai. Ini merupakan pernyataan tulus
masyarakat Minang untuk menerima Islam secara utuh(Kaffah).

Langkah awal yang baik apabila tidak dilanjutkan, tentu hanya akan menjadi
kebanggaan kenangan. Dan tidak jarang dijumpai langkah awal dianggap sebagai
langkah akhir. Pencanangan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’
Mangato Adat Mamakai merupakan landasan perjuangan bersama masyarakat
Minang dalam memasuki Islam secara kaffah. Kenyataan seperti di atas perlu
disadari dan tidak ada lagi dari masyarakat minang yang menganggap ini
merupakan akhir dari suatu proses ketundukan kepada Allah.

Kata adat berasal dari bahasa Sangskerta, dibentuk dari kata “a” dan “dato”.
“A” artinya tidak. “Dato” artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. Jadi “adat” pada
hakikatnya adalah segala sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Hal ini merupakan
lanjutan dari kesempurnaan hidup, di mana nilai kehidupan tidak terpaku kepada
nilai-nilai benda atau kekayaan yang dimiliki.

Menurut latar belakang sejarahnya, kesadaran tentang adat muncul


semasa masyarakat hidup makmur, penduduk sedikit sedangkan kekayaan
alam berlimpah ruah. Pada saat itu manusia sampai kepada kesadaran akan
adat, yakni kesadaran bahwa nilai sesuatu bukan diukur dengan benda.
Selagi manusia masih diperhamba harta-benda, pada saat itu pula manusia
dapat dikatakan belum beradat.

Adat Minangkabau terbentuk sejak orang Minang mengenal pandangan


hidup yang berpangkal pada budi. Budi dihayati berdasarkan pengamatan
yang berguru kepada alam takambang, artinya berdasarkan ketentuan-
ketentuan yang nyata yang terlihat pada alam semesta. Alam memberi
contoh dan inspirasi kepada umat manusia tentang budi, yang ikhlas
memberi tanpa mengharap balas. Matahari dan bulan misalnya, memberi
contoh dalam menerangi alam, tanpa mengharap balasan dari manusia atas
nikmat terang yang diberikannya.
Bagi orang Minangkabau, adat adalah sebagian dari jiwanya. Segala
perbuatan baik harus disertai dengan kata-kata adat; berkata beradat,
duduk beradat, berjalan beradat, makan-minum beradat dan bergaul
beradat. Mereka yang tidak mengindahkannya, dikatakan tidak beradat.

Di Minangkabau, adat itu awalnya tunggal. Tetapi mengingat terjadi


perkembangan di tengah masyarakat, maka untuk meresponi
perkembangan tersebut adat yang tunggal itu dikembangkan menjadi
empat, yakni : Adat Nan Sabana Adat, Adat nan Diadatkan, Adat nan
Teradat, dan Adat-istiadat.

Pertama, Adat Nan Sabana Adat, adalah aturan pokok dan falsafah yang
mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa terpengaruh
tempat, waktu dan keadaan sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat: Nan tak
lakang oleh panas, Nan tak lapuk oleh hujan. Di antara Adat nan sabana Adat
tersebut adalah aturan Syara’ (agama Islam), berdasarkan al-Qur’an al Karim dan
hadits Nabi saw., serta hukum adat yang dilegitimasi oleh hukum Islam atau hukum
Islam yang dalam pelaksanaannya mengikuti keadaan dan perkembangan
kehidupan masyarakat. Dari sumber-sumber inilah diambil prinsip adat, yang
dikenal dengan ungkapan Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah.

Dalam perkembangan pengamalan prinsip tersebut, muncul pepatah


mengiringinya: Syara’ mengata, adat memakai, artinya landasan suatu pekerjaan
itu diambilkan dari syara’, dari Al-Qur’an dan Sunnah. Lalu dipakai atau
dibudayakan di tengah masyarakat menurut ketentuan adat. Dalam pemaparan
Syara’ dan Adat kepada masyarakat, dikenal ungkapan, Syara’ bertelanjang, adat
bersesamping, maksudnya: apa yang dikatakan oleh Syara’ bersifat tegas dan
terang, akan tetapi setelah diamalkan dalam bentuk adat, ia diatur dalam prosedur
sebaik-baiknya. Sedangkan dalam upaya pembudayaannya dikenal pepatah, Adat
yang kawi, Syara’ yang lazim, maksudnya, adat tidaklah berdiri kokoh kalau tidak
di-kawi-kan (berasal dari kata qawwiyun = kuat). Syara’ tidak akan berjalan kalau
tidak dilazimkan (diwajibkan).

Perlu dicatat bahwa Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah ini
adalah merupakan periode ketiga dalam hubungan adat dan agama Islam di
Minangkabau, yakni setelah terjadi Perjanjian Bukit Marapalam (sekitar l833)
mengakhiri perseteruan antara kaum Paderi dengan kaum Adat.

Pada periode pertama, menurut Amir Syarifuddin, adat dan hukum Islam
berjalan sendiri-sendiri dalam batasan yang tidak saling mempengaruhi, yang
dimunculkan dalam pepatah adat, Adat bersendi Alur dan Patut, dan Syara’
bersendi Dalil. Hal ini terjadi pada masa awal Islam di Minangkabau, di mana
dominasi adat begitu kuat dan Islam belum lagi masuk dalam sistem masyarakat.

Periode Kedua, adalah periode adat dan Islam telah masuk dalam sistem
sosial masyarakat, namun pengaruh Islam belum kuat. Pada waktu ini nilai-nilai
moral yang dibawa Islam sejalan dengan adat Minangkabau, sehingga melahirkan
pepatah adat, Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Adat. Baru pada Periode
Ketiga, setelah perjanjian Bukit Marapalam, ditetapkan Adat bersendi Syara’,
Syarak bersendi Kitabullah.

Kedua, Adat nan Diadatkan, adalah hukum-hukum adat yang diterima


dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang, yang pokoknya
adalah : Cupak nan dua, Kato nan empat, Nagari nan empat dan Undang-undang
nan empat. Adapun yang dimaksud Cupak nan dua, adalah cupak usali dan cupak
buatan, (lebih lanjut tentang Cupak nan duo, lihat entri Cupak).

Kato Nan Empat disebut juga Kato Adat, yaitu: Kato Pusako, Kato Mufakat,
Kato Dahulu ditepati dan Kato Kemudian Kato dicari. Yang dikatakan Kato Pusako,
adalah : Kato Rajo malimpahkan, kato panghulu manyalasaikan, kato malim kato
hakekat, kato manti kato manghubung, kato dubalang kato mandareh, kato rang
banyak kato babaluak (Kata raja Kata mendelegasikan, Kata penghulu Kata untuk
menyelesaikan masalah, Kata alim-ulama Kata hikmah, Kata manti Kata
menghubungkan, Kata dubalang bernada keras, Kata orang banyak beragam
pendapat).

Selanjutnya Kato Dahulu ditepati, artinya suatu kata yang sudah disepakati
harus ditepati. Kato kemudian Kato dicari, adalah sesuatu yang belum ada
permufakatannya, atau telah ada kemufakatannya, tapi tidak cocok lagi dengan
kondisi yang berkembang, lalu dicarikan kemufakatan baru.

Nagari nan Empat : pertama dusun, kedua taratak, ketiga koto, keempat
nagari. Sedangkan Undang-ndang nan Empat adalah ; Undang-Undang Nagari,
Undang-Undang dalam Nagari, Undang-Undang Orang Luhak dan Undang-Undang
nan Dua Puluh.

Undang-Undang Nagari, pada prinsipnya memuat dasar-dasar kekeluargaan


dan persyaratan suatu nagari sehingga dianggap syah ia menjadi nagari. Menurut
Datuk Sangguno Dirajo, nagari sekurang-kurangnya harus memiliki lima syarat:

1.Balabuah, jalan tempat orang keluar masuk dalam negari,

2.Batapian, tempat penduduk mengambil air, mandi dan buang air,

3.Babalai, tempat penghulu duduk dan memperkatakan adat,

4.Bamusajik, tempat orang bersidang Jumat dalam negari menurut


syara’,

5.Bagalanggang, suatu tanah lapang pamedanan yang dijadikan oleh


anak negari, tempat berkumpul pagi dan petang.

Undang-Undang dalam nagari, merupakan etika perhubungan anak dalam


nagari, yang terangkum dalam untaian kata-kata adat berikut:

Salah cencang memberi pampas, salah bunuh memberi diat, salah makan
memuntahkan, Salah ambil mengembalikan, salah kepada Allah minta taubat, gawa
mengubah, cabul membuang, adil yang dipakai, berbenturan berbayaran,
bersalahan yang berpatut, gaib berkalam Allah, berebut diketengahkan, suarang
diagih sekutu dibelah, mengambil mengembalikan, meminjam mengantarkan,
utang dibayar piutang diteriama, jauh berhimbauan dekat bertarikan.

Adapun Undang-undang luhak adalah merupakan pakai segala raja dan


penghulu di alam Minangkabau, yang terangkum dalam kata-kata adat
berikut:
Luhak yang perpenghulu, rantau yang mempunyai raja, tegak yang tidak
tersundak,
Melenggang yang tidak terpampas, terbujur lalu terbelintang patah, begitu
per-

mainan segala penghulu

Sedangkan Undang-Undang nan Dua Puluh, diklasifikasikan atas dua


bagian, yakni: Undang-Undang nan Delapan untuk menyatakan
perbuatan kejahatan, dan Undang-Undang nan Dua Belas untuk
menyatakan tanda bukti melanggar undang-undang. Yang termasuk
Undang-undang yang delapan adalah:

l. Tikam–bunuh (menikam dengan senjata tajam hingga melukai,


bunuh mengakibatkan korban mati)
2. Upas–racun (upas memberi racun tapi tidak mati, racun mengakibatkan
mati).

3. Samun–sakar (samun mengambil barang orang dengan kekerasan, tapi


tidak membunuh. Sakar, merampas dengan membunuh korban)

4. Siar–bakar (membakar ladang, rumah tidak hangus semua, bakar sampai


hangus semua)

5. Maling–curi (maling, mengambil barang di rumah orang malam hari, curi


mengambil barang orang siang hari)

6. Rebut–rampas (rebut mengambil barang orang dengan menariknya secara


kekerasan. Rampas mengambil barang orang dengan menodong / bahkan
membunuhnya)

7. Dago–dagi (dago membantah adat yang biasa, dagi membatah adat


yang kawi sampai membuat kekacauan)
8. Sumbang–salah (Sumbang, perbuatan yang menyalahi pandangan umum,
umpanya berduaan perempuan dengan laki-laki. Salah, perbuatan
berduaan dengan perempuan yang melangar adat / agama, umpamanya
tertangkap berzina).

Selanjutnya Undang-undang Dua Belas dibagi dua. Undang-undang Pertama,


Menjadi induk bagi yang kedua. Bagian pertama ialah: (1) Terlelah terkejar, (2)
Tercencang teretas, (3) Terlecut terpukul, (4) Putus tali, (5) Tambang ciak, (6)
Enggang lalu antah jatuh, itulah tanda bukti namanya.
Bagian kedua ialah: (1) Siang bersuluh matahari, Bergelanggang mata orang
banyak, (2) Berjalan bergegas-gegas, (3) Pulang-pergi berbasah-basah, (4)
Menjual murah-murah, (5) Dibawa pikat dibawa langau (lalat), (6) Terbayang
tertebar, cenderung mata orang dalam negeri, semuanya adalah tanda bukti.

Barang siapa melalui atau melanggar pekerjaan demikian; “aniaya” namanya.


Sedangkan yang dilalui atau yang terlanggar “teraniaya” namanya. Orang
yang menganiaya itu menjadi lawan orang banyak dalam negeri.

Ketiga, Adat nan Teradatkan, Adalah kebiasaan yang boleh ditambah atau
dikurangi, dan boleh juga ditinggalkan, jadi dapat berubah-ubah berdasarkan
permufakatan para penghulu dalam suatu suku atau nagari atau suatu luhak.
Karena itu bisa terjadi lain nagari lain adatnya, lain padang lain belalangnya,
lain lubuk lain ikannya. Di sinilah berlaku ungkapan, cupak nan sapanjang
batuang, adat nan salingka nagari. Bagi mereka yang pindah nagari atau
merantau, berlaku ketentuan : di mana sumur digali di situ ranting dipatahkan,
di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, di mana negeri dihuni di sana
adat dipakai

Contoh lain nagari lain adatnya : ada beberapa suku yang anggotanya tidak
boleh kawin-mengawini, seperti suku Jambak, Patapang, Sumpu dan Kuti
Anyie, tidak boleh kawin dengan salah satu suku yang empat itu. Jika orang-
orang suku itu akan kawin, harus di luar suku yang empat tersebut. Sebaliknya
ada pula orang dalam satu suku boleh saling kawin-mengawini, seperti orang
suku Sumagek, boleh kawin dengan orang sama-sama suku Sumagek. Namun
dalam hal-hal yang menyangkut dengan penghulu dan pewarisan, berlaku nan
sabana adat. Oleh sebab itu Adat nan Teradatkan tidak boleh berlawanan
dengan Nan sabana Adat.

Keempat, Adat Istiadat, adalah suatu kelaziman dalam suatu nagari, baik
antara sesama masyarakat, antara orang perorang, di mana orang yang
berhak meminta akan haknya, seperti : alam diperintah raja, Agama diperintah
malin, nagari di perintah penghulu. Kampung diperintah tua kampung, rumah
diperintah mamak, isteri seperintah suami. Tegasnya, memberikan legitimasi
kepada orang sesuai dengan fungsi dan keberadaannya masing-masing.

Semua harus sesuai prosudur dan pembahagian kerjanya, namun


tetap dalam suatu kerangka kerjasama yang utuh. Inilah suatu prinsip
yang sangat membantu orang Minang bisa menerima keadaan sosial
politik yang berkembang, karena adat-istiadat yang sudah menjadi
kultur baginya telah menempatkan orang sesuai fungsi dan posisinya
masing.

Adat istiadat merupakan satu sistem sosial kemasyarakatan yang


dikembangkan sesuai dengan masa, tempat dan aturan sosial yang berlaku di
zamannya, ia tidak tetap seperti itu saja dari masa ke masa. Sebagaimana
kata pepatah: “Sekali aie gadang, sekali tapian baralih. Sakali musim batuka,
sakali caro baganti” ( Sekali air besar/banjir/meluap, sekali tepian beranjak/
bergeser. Sekali musim bertukar, sekali cara berganti). Dapat juga dikatakan
Adat Istiadat itu adalah kreasi budaya masyarakat Minang yang dapat berubah
sesuai keadaan dan tempat serta perkembangan yang terjadi, namun
semuanya dalam batasan Adat nan Sabana Adat.

A. ADAT BASANDI SYARAK


Adat bagi masyarakat telah terbentuk sejak orang Minang
mengenal dirinya dalam bentukan masyarakat, yang dimulai dari
Taratak, Koto dan Nagari. Adat pada tahap awal ini disandarkan
atau didasarkan pada apa yang disebut “adat berdasarkan alur dan
patut”, alur bersandarkan patut dan mungkin”. “Alur” artinya jalan
yang benar, “Patut dan mungkin” artinya yang layak, senonoh,
baik, pantas, selaras. “Patut” merupakan perkiraan keadaan
( etimasi ) pertimbangan rasa dan daya pikir atau nalar.

Berkelindannya adat dengan agama Islam telah berlangsung sejak


Islam itu menjadi pegangan hidup bagi orang minang disamping
adatnya sendiri. Sejalannya dua pandangan hidup ini sangat
munkin sekali terjadi, karena Islam sebagi ajaran yang sempurna
membawa tatanan tentang apa yang harus diyakini oleh
pemeluknya yang disebut aqidah dan tatanan yang harus dilakukan
(diamalkan) yang disebut dengan syari’ah atau syara’. Yang
berhubungan dengan aqidah, khususnya masalah ketuhanan tidak
jelas ujudnya dalam adat Minangkabau, hanya sekadar falsafah
alam nyata saja. Tidak ditemukan bagaimana ajaran adat minang
tentang kehidupan setelah kematian atau kehidupan alam akhirat.
Maka dalam pepatah adat disebutkan: Si Amat mandi ke luhak,Luak
perigi paga bilah, Bilah bapilah kasadonyo,Adat basandi syara’
Syara’ basandi kitabulallah,Sanda manyanda kaduonyo. Pinang
masak bungo bakarang, Timpo-batimpo saleronyo, Jatuh baserak
daun sungkai,Tiang tagak sandi datang, Kokoh mangokoh
kaduonyo, Adat jo syara’ takkan bacarai.

Prinsipnya ajaran adat lebih memberikan panduan pada tatanan


bagaimana orang harus menjalani kehidupan dialam nyata ini.
Ajaran adat Minangkabau lebih memberikan bimbingan tentang
moralitas bagi masyarakatnya. Seperti yang dapat dipahami dari
pepatah adat: Gajah mati meninggakan gading, Harimau mati
maninggakan balang, Manusia mati maninggakan jaso.

Disamping itu ajaran Islam yang bersifat kemasyarakatan banyak


sekali sesuai dengan semangat adat Minang, maka tidak perlu
adanya perseteruan antara adat dan agama sebagai contoh dapat
ditemukan pada pepatah adat : Ado kato mandaki, koto manurun,
kato malereang, kato mandata. Artinya ada kata yang mesti
ditempatkan pada kondisi siapa lawan bicara, jika dengan anak
kecil disebut kata menurun, mestilah dengan cara lemah lembut,
sedangkan dengan orang lebih besar kato mandaki haruslah
dengan penuh hormat dan sopan santun, dengan orang yang sama
besar mak disebut kata mendatar artinya saling menghargai, kata
melereng adalah bahasa sindiran bagi orang yang hubungan
kekerabatan dalam bentuk ipar-bisan.

Ajaran adat basyandi syarak pada hakikatnya dirumuskan dalam


satu sistem yang mudah, sederhana namun memiliki makna yang
dalam mendasar. Sistem itu diungkap dalam satu konvensi
(kesepakatan umum) yang dikenal dengan tahu di Nan Ampek,
yaitu:

1. Adat terdiri atas empat jenis:

a. Adat nan sabana adat (Prinsip dasar adat, yaitu


Ajarah Islam)

b. Adat nan diadatkan (Pelaksanaan adat hasil


kesepakatan)

c. Adat nan teradat (kebiasaan yang berlaku


daaerah setempat)

d. Adat istiadat (sistim seni, budaya dan


peradaban)

2. Nagari terdiri atas empat dasar:

a. Taratak ( lingkungan yang dihuni satu keluarga


sa-paruik)

b. Dusun( lingkungan yang dihuni satu keluarga


sa-jurai)

c. Koto ( lingkungan yang dihuni satu suku)

d. Nagari ( lingkungan yang dihuni beberapa


suku)

3. Kato-kato adat sebagai dasar hukum adat ada empat macam:

a. Kato pusako (konsep dasar adat Minangkabau


yang ada dalam bahasa)
b. Kato mufakat (keputusan yang diambil dalam
satu permusyawaratan)

c. Kato dahulu patapati (janji yang sudah


disetujui harus dipenuhi)

d. Kato kamudian kato bacari (perubahan harus disepakati


bersama)

4. Undang-undang terdiri atas empat macam:

a. Undang-undang luhak (peraturan mengikat


seluruh alam Minangkabau)

b. Undang-undang nagari (perauran pokok tentang seluruh


nagari)

c. Undang-undang dalam nagari (paraturan pada nagari


tertentu)

d. Undang-undang Duo Puluah( peraturan pidana adat)

5. Hukum adat ada empat macam:

a. Hukum ilmu ( hukum berdasarkan fakta ilmiah dan


alamiah)

b. Hukum bainah (hukum yang dtegakkan berdasarkan


sumpah)

c. Hukum kurenah(hukum yang ditetapkan berdasarkan


indikasi)

d. Hukum perdamaian (hukum yang didasarkan peramaian)

6. Cupak terdiri atas empat macam:

a. Cupak asli (usali)

b. Cupak buatan

c. Cupak tiruan
d. Cupak nan piawai.

7. Asal suku di Minangkabau ada empat:

a. Bodi

b. Caniago

c. Koto

d. Piliang.

8. Hakikat ajaran adat Minangkabau ada empat macam:

a. Raso

b. Pariso

c. Malu

d. Sopan

9. Sifat seorang pimpinan dalam adat Minangkabau empat macam:

a. Bana

b. Cadiak

c. Dipercaya lahir batin

d. Pandai bicara.

10. Tugas pimpinan dalam masyarakat ada empat macam:

a. Manuruik alua nan lurui

b. Manuruik jalan nan pasa

c. Mamaliharo anak-kamanakan

d. Mempunyai tangan/memelihara harta pusaka.

11. Larangan bagi pimpinan ada empat macam:

a. Mamakai cabua sio-sio

b. Maninggakan siddiq dan tabliq


c. Mahariak mahantam tanah

d. Bataratak bakato asiang.

12. Ilmu terdiri atas empat macam:

a. Tahu pada diri

b. Tahu pada orang

c. Tahu pada alam

d. Tahu pada Allah SWT.

13. Paham terdiri atas empat macam:

a. Wakatu bungo kambang

b. Wakatu angin lunak

c. Wakatu parantaraan

d. Wakatu tampek tumbuah.

14. Asal kebenaran ada empat macam:

a. Dari dalil kato Allah

b. Dari hadits kato Nabi

c. Dari kato pusako

d. Dari kato mufakat.

15. Penerbitan kebenaran/cara berpikir ada empat macam:

a. Pikia palito hati

b. Nanang ulu bicaro

c. Aniang saribu aka

d. Sabar bana mandatang.

16. Yang menjauhkan sifat kebenaran ada empat macam:

a. Dek takuik sarato malu


b. Dek kasiah sarato sayang

c. Dek labo sarato rugi

d. Dek puji sarato sanjuang.

17. Yang menghilangkan kebenaran ada empat macam:

a. Dek banyak kato-kato

b. Dek kurenah kato-kato

c. Dek simanih kato-kato

d. Dek lengah kato-kato.

18. Jalan yang akan dilalui dalam pergaulan ada empat macam:

a. Jalan mandata

b. Jalan mandaki

c. Jalan manurun

d. Jalan malereang.

19. Jalan dunia menurut adat Minangkabau ada empat macam:

a. Ba-adat

b. Balimbago

c. Bacupak

d. Bagantang.

20. Jalan untuk mencapai akhirat yang baik ada empat macam:

a. Beriman

b. Bertauhid

c. Islam

d. Berma’rifat.

e.
D. POKOK-POKOK ADAT

1. Makna Adat
2. Nilai-Nilai dasar ABS-SBK.
3. Empirik (Alam Takambang Jadi Guru).
4. Egaliter.( Di dahulukan salangkah).
1. 5.Musyawarah.
2. (Bulek kato jo mufakat)).
5. Kekerabatan (Materilinial/garis ibu).
6. Komunal.( Duduk surang basampik).
7. Fungsional (Nan Buto Pahambuih lasung).
8. Etika Sosial (Batanyo Lapeh Arak).
9. Arif bijaksana (Alun takilek dan taraso).
10.Piawai(Kato Bajawek Gayung Basambuik).
11.Silogisme (Lantai ditembak hidung kanai).
12.Hermenutika (Membaca yang tersirat).
13.Imanjener ( Spekulasi Berfikir).
14.Inovatif ( Sekali air gadang).
15.Kreatif(Usang-usang diperbaharui).
16.Dinamis (Karatau Madang dihulu).
17. Apresiatif(Ingo basicakam,tabang basitumbu).

18. Adaptasi(Dimana langit dijunjug).

19. Merantau (Induk Samang cari dahulu).

E. STRUKTUR

DEMOGRAFI:TARATAK, DUSUN, KOTO,NAGARI DAN ALAM.

KEKERABATAN: SAPARUIK, SAJURAI, SAKAUM, SASUKU, SA


NAGARI, SA ALAM

WILAYAH BUDAYA: KALARASAN BUDI CHANIAGO, KALARASAN


KOTO PILIANG.
KEPEMIMPINAN, URANG 4 JENIS, PENGHULU, MANTI, MALIN DAN
DUBALANG. TUNGKU TIGO SAJARANGAN (NINIKMAMAK, ALIM
ULAMA CARDIK PANDAI.

URANG JENIS NAN 4, IMAM, KHATIB, BILAL DAN QADHI.

POLITIK: DAERAH ASLI(DAREK), PINGGIRAN (RANTAU)

F. PRINSIP DASAR ADAT

ADAT SA SUKU, MEMELIHARA SISTIM SOSIAL

SAKO, MEMILIKI HAK GELAR ADAT

PUSAKO, HAK PENGUASAN HARTA PUSAKA

FALSAFAH, ALAM TAKAMBANG JADI GURU

NORMA, ALUA, PATUIK, MALU JO SOPAN

BUDAYA, RUMAH GADANG, LUMBUNG, KESEJAHTERAAN

AGAMA, SURAU, AGAMA, ADAT, KEPATUTAN

TAPIAN, SARANA JALAN DAN SUMBER HIDUP.

PANDAM PAKUBURAN, KEMATIAN DAN ADATNYA.

B. Hubungan Sosial
MATRILIAL, MAMAK, ETEK, MANDE, KEMANAKAN,

PATRILINIAL, BAKO, ANAK PISANG, ANAK MAMAK, ETEK.

TALI BUDI, SA SUKU, SUKU MALAKOK,

INGOK MANCAKAM, TABANG BASITUMPU.

MENGISI ADAIK JO LIMBAGO.


DAGING DI LAPAH, DARAH DI CACAH, SAHINO, SA MULIA.
1 QS.4, An Nisak : 97.
2 QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.