Anda di halaman 1dari 18

EVALUASI PRODUKTIVITAS BATUBARA

PADA UNIT CRUSHING PLANT


DI PT. SAPTA INDRA SEJATI

PROPOSAL PENELITIAN

MELISA MARDINA
H1C111610

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
BANJARBARU
2013

PROPOSAL TAHAP AKHIR

EVALUASI PRODUKTIVITAS BATUBARA


PADA UNIT CRUSHING PLANT
DI PT. SAPTA INDRA SEJATI
DI KECAMATAN TANTA, KABUPATEN TABALONG
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Disusun oleh :

MELISA MARDINA
(H1C111610)

Mengetahui :
Ketua Program Studi Teknik Pertambangan

RISWAN, MT
NIP. 19730615 200003 1 002

1.1.

LATAR BELAKANG
Di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan merupakan
salah satu daerah yang memiliki banyak sumber daya batubara. Batubara
merupakan salah satu sumber energi alternatif di Indonesia yang cukup besar
cadangannya. Produksi dan kebutuhan pasar batubara di Indonesia akan terus
meningkat seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan akan
energi. Industri pertambangan batubara di Kalimantan Selatan berkembang
dengan pesat sejalan dengan bertambahnya permintaan pasar, baik untuk
mengatasi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor.
Tingginya permintaan pasar ini disebabkan karena batubara
digunakan sebagai salah satu bahan baku dalam suatu industri, namun agar
dapat dimanfaatkan tentunya harus memenuhi persyaratan yang diminta oleh
konsumen/pasar. Salah satunya adalah ukuran butir batubara. Untuk itulah
pada umumnya batubara sebelum dimanfaatkan (hasil dari tambang)
dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Kegiatan pengolahan batubara perlu dilakukan sebaik-baiknya agar
usaha peningkatan kualitas batubara dapat berjalan lancar dan diperoleh hasil
yang optimal sesuai target yang ditetapkan. Pentingnya kegiatan pengolahan
inilah yang membuat kami mengajukan judul tugas akhir Evaluasi
Produktivitas Batubara pada unit Crushing Plant Di PT. SAPTA INDRA
SEJATI Di Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan
Selatan.

1.2.

PERUMUSAN MASALAH
Masalah yang diuraikan dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui tahapan pada Crushing Plant.
2. Menghitung Produktivitas pada Crushing Plant.
3. Menghitung ketercapaian target produksi batubara yang dihasilkan.
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas batubara pada
unit Crushing Plant.

1.3.

BATASAN MASALAH
Dalam penelitian ini masalah yang akan dipaparkan dalam laporan Tahap
Akhir ini dibatasi dalam ruang lingkup pengolahan batubara pasca kegiatan
penggalian

yakni

proses

pengolahan

batubara berhubungan dengan

produktivitas batubara pada Crushing Plant.

1.4.

Tujuan dari Penelitian Tahap Akhir (TA) ini adalah :


1. Mengetahui tahapan pada Crushing Plant.
2. Mengetahui metode yang digunakan pada Crushing Plant.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas batubara pada
Crushing Plant.
4. Menghitung ketercapaian target produksi batubara yang dihasilkan.

1.5.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat penelitian bagi perusahaan adalah memberikan suatu evaluasi
terhadap produktivitas batubara pada unit Crushing Plant.
2. Manfaat penelitian bagi mahasiswa adalah dapat menerapkan ilmu yang
diperoleh dari mata kuliah Pengolahan Bahan Galian.
3. Manfaat penelitian ini bagi ilmu pengetahuan adalah menyediakan
dokumen studi kasus mengenai produktivitas Crushing Plant.

1.6.

Kerangka Laporan
Bagian isi laporan tugas akhir terdiri atas Enam bab :
1. Bab I Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, mengupas
secara garis besar mengenai produktivitas batubara pada unit Crushing
Plant. Dilanjutkan dengan

rumusan dan

batasan masalah

yang

menguraikan tentang permasalahan yang akan dibahas dan aspek-aspek


yang tidak dibahas. Tujuan penelitian berisi tujuan yang hendak dicapai
dengan adanya penelitian ini. Manfaat penelitian menjelaskan tentang
manfaat penelitian ini terhadap beberapa pihak yang terkait. Kerangka
laporan merupakan uraian isi laporan mengacu pada pedoman yang
dikeluarkan oleh Program Studi Teknik Pertambangan Universitas
Lambung Mangkurat.
2. Bab II Tinjauan Umum berisi tentang keadaan daerah penelitian, meliputi
kondisi umum perusahaan, lokasi dan kesampaian daerah, iklim dan curah
hujan, serta keadaan geologi lokal.
3. Bab III Kajian Pustaka berisi aspek-aspek yang berkenaan dengan tahapan
Crushing Plant dan produktivitas batubara pada unit Crushing Plant.
4. Bab IV Metode Penelitian berisi diagram alir penelitian, insrumentasi dan
teknik pengambilan data, serta teknik analisis data.
5. Bab V Hasil Penelitian dan Pembahasan berisi semua data yang diperoleh
dari hasil penelitian beserta analisisnya.
6. Bab VI Kesimpulan dan Saran merupakan simpulan dari keseluruhan yang
telah dibahas dalam penelitian ini dan saran yang diberikan kepada
perusahaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori


Pada awalnya, batubara merupakan tumbuh-tumbuhan pada zaman
prasejarah, yang berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Kemudian, karena
adanya pergeseran pada kerak bumi (tektonik), rawa dan lahan gambut
tersebut lalu terkubur hingga mencapai kedalaman ratusan meter.
Selanjutnya, material tumbuh-tumbuhan yang terkubur tersebut mengalami
proses fisika dan kimiawi, sebagai akibat adanya tekanan dan suhu yang
tinggi. Proses perubahan tersebut, kemudian menghasilkan batubara yang kita
kenal sekarang ini.
Ada dua teori yang menerangkan terjadinya batubara yaitu teori insitu
dan teori drift :
1. Teori Insitu dimana batubara ini terbentuk dari tumbuhan atau pohon
yang berasal dari hutan dimana batubara tersebut terbentuk. Batubara
yang terbentuk sesuai dengan teori in-situ biasanya terjadi di hutan basah
dan berawa, sehingga pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati dan
roboh, langsung tenggelam ke dalam rawa tersebut, dan sisa tumbuhan
tersebut tidak mengalami pembusukan secara sempurna, dan akhirnya
menjadi fosil tumbuhan yang membentuk sedimen organik.
2. Teori Drift, dimana Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang
berasal dari hutan yang bukan di tempat dimana batubara tersebut
terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori drift, bisa berasal
dari hutan basah atau kering. Tumbuhan atau pohon yang sudah mati dan
roboh diatas tanah kemudian terbawa oleh banjir atau aliran sungai
sehingga sisa-sisa tumbuhan tersebut akhirnya mengendap di delta-delta
sungai purba atau terkumpul dan tersedimentasi didasar danau purba.

Seperti bahan mentah lainnya, batubara mentah terdiri dari satu


campuran produk yang diperlukan seperti serpihan batupasir dan sebagainya.
Batubara juga mengandung berbagai macam komponen yang disebut
lithotypes, micro-lithotypes, dan maseral yang kejadiannya bergantung pada
sifat dasar bahan asal batubara dibentuk (Sukandarrumidi, 1995).
Ada dua sifat fisik batubara yang menyangkut dalam preparasi
batubara adalah ukuran butir dan berat jenis. Ukuran partikel adalah submirometer. Bagaimanapun bentuk rekahan menunjukkan tingkat dan jenis
batubara tergantung pada peralatan crushing dan merupakan suatu standar
yang dapat diprediksi sesuai dengan proses crushing.
Setiap batubara yang dihasilkan, memiliki kualitas (dilihat dari tingkat
kelembaban, kandungan karbon, dan energi yang dihasilkan) yang berbedabeda. Pengaruh suhu, tekanan, dan lama waktu pembentukan (disebut
maturitas organik), menjadi faktor penting bagi mutu batubara yang
dihasilkan.
Selain kualitas diatas, batubara

memiliki kualitas yang cukup

berpengaruh yaitu Hardgrove Grindability Index (HGI). HGI merupakan


suatu bilangan yang menunjukkan mudah atau sukarnya batubara
digiling/digerus menjadi bahan bakar serbuk. Di dalam praktek sebelum
batubara dipergunakan sebagai bahan bakar, ukuran butirnya dibuat seragam,
dengan ukuran < 3 mm, sedang ukuran paling kasar sampai 50 mm. Butir
paling halus perlu dibatasi dengan sifat dustness (ukuran terkecil agar tidak
diterbangkan oleh angin, dengan harapan tidak mengotori lingkungan),
sedangkan dustness dan tingkat kemudahan untuk diterbangkan angin
dipengaruhi pula oleh kandungan lengas (moisture content). Makin kecil nilai
HGI, maka makin keras keadaan batubaranya. Sebagai catatan, harga HGI
batubara Indonesia berkisar antara 35-60.
Setelah dilakukan penambangan, batubara kemudian diolah untuk
memisahkannya

dari

kandungan

yang

tidak

diinginkan,

sehingga

mendapatkan mutu yang baik dan konsisten. Biasanya pengolahan ini terdiri
dari coal crushing dan coal washing. Proses pengolahannya sendiri bisa

berbagai macam, tergantung dari tingkat campuran dan tujuan penggunaan


batubara (Sukandarrumidi, 1995).
2.2.

Preparasi Batubara
Tujuan utama preparasi batubara adalah untuk meningkatkan kualitas
batubara agar siap jual, di antaranya menyiapkan kondisi batubara sesuai
dengan keinginan pengguna, misalnya menyesuaikan ukuran butir, membuat
agar batubara lebih homogen, mengurangi kadar sulfur, mengurangi kadar
abu.
Dalam beberapa operasi penanganan material, proses pengolahan
merupakan sebuah sumber utama pemakaian energi yang paling besar. Di
samping sifat termal batubara, kemurnian dan kelembaban serta kualitas
produk juga mencakup distribusi ukuran batubara seperti yang telah
ditetapkan oleh pelanggan. Hanya dengan kominusi yang baik pada crushing
plant yang memungkinkan untuk menghasilkan saleable coal sesuai dengan
spesifikasi pelanggan.

2.3.

Tahapan Pada Crushing Plant


Unit pengolahan (crushing plant) merupakan rangkaian peralatan
mekanis yang digunakan untuk mereduksi ukuran hasil penambangan.
Pengolahan batubara hasil penambangan perlu dilakukan terutama untuk
memenuhi atau menyesuaikan dengan permintaan konsumen akan kualitas
dan ukuran butiran.
Secara umum peralatan yang digunakan didalam proses pengolahan
ialah semua peralatan yang dipakai dan diperlukan didalam siklus kegiatan
pengolahan bahan galian.
Adapun peralatan yang dipakai pada siklus pengolahan bahan galian
antara lain terdiri dari :
1. Hopper, Grizzly dan Dust Supression
Hopper adalah tempat penumpahan barang atau dengan kata lain
sebagai mulut crusher. Hopper kebanyakan dibuat posisi tinggi, akan
tetapi karena posisi tinggi membuat waktu kurang efisien, saat ini hopper

yang efisien dan cepat umpan adalah hopper model bunker. Hopper wadah
penyimpan yang terbuat dari baja dan mencakup sebuah tempat
pemberhentian truk, grizzly, side wings, wear plates dan sistem
penyemprot debu spinkler.
Fungsi hopper dan grizzly adalah untuk :
a.

Menyediakan ruangan bagi batubara untuk diumpan ke feeder


breaker.

b.

Bertindak sebagai surge bin, sehingga pasokan batubara yang


dijatuhkan oleh dump truck dapat diatur secara konstan menuju feeder
breaker.

c.

Agar keluaran bin tidak terhalang oleh batubara oversize.

Gambar 1.
Hopper, Grizzly, dan Dust Supression
2. Feeder dan Feeder breaker
Fungsi utama feeder adalah mengatur aliran bahan batuan yang masuk
ke dalam pemecah batu (crusher). Terdapat dua jenis feeder, yaitu apron
feeder dan mechanical atau reciprocating plate feeder. Apron feeder
umumnya digunakan untuk memasok batuan ke primary crusher, dan
merupakan heavy duty construction untuk menahan beban kejut batuan
yang ditumpahkan.
Feeder Stamler breaker digunakan untuk menghancurkan material
yang cukup keras. Rotating drum dilapisi dengan sejumlah besi karbit,

berfungsi untuk memecahkan batu, dan membawa umpan ke konveyor


bagian bawah.

Contoh penggunaan feeder breaker :

Gambar 2.
Cara Kerja Feeder Breaker
a.

Material dimasukkan ke dalam hopper oleh truk atau loader Material


berjalan sepanjang feeder di bawah rotating drum.

b.

Gerigi besi pada rotating drum memecahkan bahan apa pun yang
lebih besar daripada gap/celah antara drum dan feeder.

c.

Sebuah elektromagnet mendeteksi serpihan baja yang ikut terambil


saat proses pengangkutan.

d.

Material diangkut menuju conveyor utama.

3. Crusher
Crusher adalah sebuah mesin yang dirancang untuk mengurangi
ukuran batu-batu besar ke batu kecil, kerikil, atau serpihan batu. Crusher
dapat digunakan untuk mengurangi ukuran, atau mengubah bentuk, untuk
material pengotor sehingga mereka dapat lebih mudah dibuang atau
didaur-ulang, atau untuk mengurangi ukuran yang solid campuran bahan
baku (seperti di batu bijih), sehingga potongan-potongan komposisi yang
berbeda dapat dibedakan.

Gambar 3.
Roll crusher
Double roll crusher ialah jenis crusher yang memecahkan material
dengan cara menghimpitkan material tersebut di antara dua silinder logam,
dengan sumbu sejajar satu sama lain dan dipisahkan dengan spasi sama
dengan ukuran produk yang diinginkan. Menggunakan kompresi untuk
menghancurkan material.
Roll crusher memiliki teoritis rasio pengurangan maksimum 4:1. Jika 2
inci partikel diumpankan ke crusher roll ukuran terkecil yang bisa
diharapkan dari crusher adalah 1/2 inci. Roll crusher hanya akan
menghancurkan materi ke ukuran partikel minimum sekitar 10 Mesh (2
mm). Sebuah roll crusher meremukkan menggunakan gaya kompresi,
dengan dua roll berputar terhadap suatu poros. Kesenjangan antara roll
diatur ke ukuran produk yang diinginkan, dengan realisasi bahwa partikel
material terbesar hanya dapat 4 kali kesenjangan roll.

Gambar 4.
Cara Kerja Roll crusher
4. Conveyor
Conveyor loading atau conveyor muat adalah suatu alat yang terdiri
dari banyak roll yang di atasnya terdapat putaran ban/karet berjalan.
Conveyor loading banyak membantu di dalam pekerjaan pemuatan barang.
Dalam hal ini kami membicarakan conveyor loading untuk pemuatan
batubara ke stockpile.
5. Stockpile
Stockpile merupakan tempat penimbunan batubara setelah diproses
sebelum dikirim ke pembeli. Biasanya pada stockpile, batubara dipisahkan
berdasarkan karakteristik tertentu dari batubara tersebut sesuai parameter
batubaranya.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 DIAGRAM ALIR RENCANA KEGIATAN KERJA


STUDI
LITERATUR

OBSERVASI LAPANGAN
-

Prinsip dan mekanisme kerja alat


pengolahan batubara
Proses pengolahan batubara pada
unit crushing plant.

PENGAMBILAN DATA
-

Spesifikasi alat-alat pada crushing plant


(kapasitas, kualitas, rangkaian dan gambar)
Ketercapaian target produksi alat
Iklim dan curah hujan
Data Produksi Crushing Plant
Data Breakdown
Data Delay

ANALISA DATA
-

Analisa Data Produksi


Crushing Plant
Analisa Data Breakdown
Analisa Data Delay

KESIMPULAN

3.2 METODE PENGAMBILAN DATA


Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini ada tiga , yaitu :
a. Observasi (Pengamatan)
Metode ini dilakukan dengan mengamati kondisi dan kegiatan di lapangan,
kemudian dilakukan pengumpulan data yang terkait.
b. Metode Interview (Wawancara)
Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab kepada operator lapangan
yang menangani kegiatan perencanaan penambangan pada PT. Sapta Indra
Sejati.
c. Metode Pustaka
Metode ini dilakukan dengan studi literatur yang menyangkut PT. Sapta Indra
Sejati.

BAB IV
SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan laporan akhir ini memuat uraian secara garis besar dari
tiap-tiap bab dalam laporan tugas akhir, dijabarkan sebagai berikut.

KATA PENGANTAR
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Penelitian
1.3. Identifikasi Masalah
1.4. Penyelesaian Masalah
1.5. Hasil yang diharapkan

BAB II TINJAUAN UMUM


2.1

Sejarah Singkat Perusahaan

2.2

Keadaan Geologi

2.3

Keadaan Iklim dan Cuaca

2.4

Lokasi Dan Kesampaian Daerah

2.5

Keadaan Masyarakat Sekitar

2.6

Sistem Penambangan

BAB III DASAR TEORI


BAB IV METODELOGI PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN
5.1

Deskripsi Data

5.2

Perhitungan Produktivitas Crushing Plant

5.3

Evaluasi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Keterangan :
*

: ISI/PEMBAHASAN disesuaikan dengan pihak perusahaan

BAB V

JADWAL PENELITIAN

Adapun Penelitian dan Pembuatan Laporan Tugas Akhir dilaksanakan selama 2


(dua) bulan, sejak tanggal 12 Agustus 2013 hingga 12 Oktober 2013.

Tabel 5.1.
Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian Tugas Akhir

No
1
2
3
4
5

Kegiatan

Agustus
2 3 4

Waktu
September Oktober
2
1 2 3 4 1

Studi Literatur
Orientasi Lapangan
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Pembuatan Draf Laporan

5.1. Tempat Kegiatan


Penelitian Tugas Akhir dilaksanakan di PT Sapta Indra Sejati.

DAFTAR PUSTAKA

Nurhakim. 2008. Diktat Perkuliahan Batubara. UNLAM :Banjarbaru.


Sukandarrumidi. 1995. Batubara dan Gambut. Gadjah Mada University.Press :
Yogyakarta.
Sukandarrumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Gadjah Mada University Press
Yogyakarta.
Sukamto, Untung. 2001. Diktat Pengolahan Bahan Galian. UPN Veteran.
Yogyakarta.