Anda di halaman 1dari 18

Penyakit Demam Berdarah Dengue serta

Penatalaksaannya pada Anak


Gladys Juane Patulak
102013175
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email : gladysjuane@yahoo.com

Pendahuluan
Demam merupakan suatu keadaan dimana suhu badan seseorang melebihi 37 C yang
disebabkan oleh beberapa faktor. Demam sendiri terklasifikasikan menjadi beberapa diantara
nya adalah demam tifoid, demam berdarah dengue, malaria, dan lain lain. Demam berdarah
dengue sendiri merupakan penyakit menular yang biasanya menyerang anak-anak. Penyakit
DBD mempunyai perjalan yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien
yang meninggal akibat penanganan yang terlambat.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk megetahui mengenai demam
berdarah dengue, demam tifoid, demam cikunguya dan campak, serta meliputi gejala klinis,
pemeriksaan, penyebab, penyebaran, perjalanan penyakit dan penatalaksaannya.

Demam Berdarah Dengue


Tabel 1. Klasifikasi Derajat Penyakit Virus Dengue.1

DD/DBD Derajat*

Gejala

DD

Demam disertai 2 atau lebih tanda: sakit Leukopenia


kepala,

Laboratorium

nyeri

retro-orbital,

mialgia,

artralgia.

Trombositopenia,
tidak ditemukan bukti
kebocoran plasma

DBD

Gejala di atas ditambah uji bendung positif

Trombositopenia
(<100.000/l),

bukti

ada kebocoran plasma


DBD

II

Gejala

di

atas

ditambah

perdarahan Trombositopenia

spontan

(<100.000/l),

bukti

ada kebocoran plasma


DBD

III

Gejala di atas ditambah kegagalan sirkulasi Trombositopenia


(kulit dingin dan lembab serta gelisah)

(<100.000/l),

bukti

ada kebocoran plasma


DBD

IV

Syok berat disertai dengan tekanan darah Trombositopenia


dan nadi tidak terukur

(<100.000/l),

bukti

ada kebocoran plasma

DBD derajat III dan IV juga disebut sindrom syok dengue (SSD)

Berdasarkan skenario yang ada, disimpulakan bahwa pasien menderita DBD derajat II.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan setelah sebelumnya melakukan anamnesis.Pemeriksaan
fisik merupakan pemeriksaan tahap awal yang dilakukan terhadap pasien yang selanjutnya
dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui lebih lanjut mengenai diagnosis
dari penyakit yang diderita pasien. Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah pemeriksaan
denyut nadi pasien. Nadi pada awalnya akan cepat dan kemudian kembali normal,

selanjutnya akan melambat pada hari 4 dan 5. Pada mata pasien dapat juga dijumpai infeksi
konjungtiva, lakrimasi, fotophobia, serta pembengkakan.Dapat juga dijumpai bradikardi yang
menetap selama beberapa hari dalam masa penyembuhan.Selain itu pada pasien juga
dijumpai kesulitan dalam buang air besar dan lidah yang kotor.Terdapat juga gejala
perdarahan pada hari 3 dan 5 berupa ptekiae, purpura, ekimosis, hematemesis, melena, dan
epitaksis.Terdapat juga pembesaran hati dan nyeri tekan yang tak sesuai dengan beratnya
penyakit. Penekanan pada ulu hati (epigastrium). Adanya rasa sakit / nyeri pada ulu hati dapat
disebabkan karena adanya perdarahan di lambung.2
Dalam kasus , dilakukan pemeriksaan tanda tanda vital, seperti tekanan darah, frekuensi
pernapasan, frekuensi nadi, dan suhu tubuh .
Pemeriksaan

Normal

Makna

Tekanan darah

100/70

120/80

Hipotensi

Frekuensi pernapasan

24 kali/menit

14-20 kali/menit

Tidak normal

Frekuensi nadi

110 kali/menit

80-100 kali/menit

Cepat

Suhu Tubuh

39 C

37 C

Panas

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk melengkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendekatkan ke arah diagnosis penyakit demam
berdarah ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit serta hapusan
darah tepi untuk melihat gambaran limfosit serta untuk menghitung jumlah leukosit.3
Selain pemeriksaan darah juga dapat dilakukan pemeriksaan serologis. Deteksi pastinya
ialah menggunakan teknik deteksi antigen virus RNA dengue menggunakan teknik PCR,
namun teknik ini cukup rumit. Teknik lain yang dapat digunakan ialah mendeteksi antobodi
total, IgG maupun IgM. Selain pemeriksaan darah, dapat pula dilakukan rontgen untuk
melihat adanya kemungkinan dilatasi pada pembuluh darah paru, efusi pleura, kardiomegali,
serta efusi perikard. Cairan dalam rongga peritonium yang timbul sebagai akibat bocornya
plasma juga dapat dilihat dengan menggunakan USG.4
1. Uji Tourniquet

Uji ini merupakan manisfestasi pendarahan kulit paling ringan dan dapat dinilai
sebagai uji presumtif oleh karena uji ini positif pada hari-hari pertama demam.Di daerah
endemis DBD, uji tourniquet dilakukan kepada yang menderita demam lebih dari 2 hari
tanpa alasan yang jelas.Pemeriksaan ini harus dilakukan sesuai standar yang ditetapkan
oleh WHO.Pemeriksaan dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan tekanan darah
pasien. Selanjutnya diberikan tekanan antara sistolik dan diastolic pada alat pengukur
yang diletakan dilengan atas siku, tekanan ini diusahakan menetap selama percobaan.
Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit, perhatikan timbulnya petekie di bagain volar
lengan bawah.Uji dinyatakan positif apabila pada satu inci persegi didapatkan 10 atau
lebih petekie (WHO1997).Pada DBD uji ini biasanya menunjukan hasil positif.Namun
dapat berhasil negative atau positif lemah pada keadaan syok.
Uji tourniquet dilakukan sebagai berikut:
1. Periksa tekanan darah pasien
2. Berikan tekanan di antara sistolik dan diastolik pada alat pengukur yang dipasang
pada lengan di atas siku; tekanan ini diusahakan menetap selama
percobaan.
3. Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit perhatikan timbulnya petekiae di
kulit lengan bawah bagian medial pada sepertiga bagian proksimal.
4. Uji dinyatakan positif bila pada satu inci persegi (2,8 x 2,8 cm) didapat lebih
dari 20 petekiae.
Pada penderita DBD, umumnya uji tourniquet memberikan hasil positif.Pemeriksaan itu
dapat memberikan hasil negatif atau positif lemah selama masa syok. Bila pemeriksaan
diulangi setelah syok ditanggulangi, biasanya akan didapat hasil positif bahkan positif
kuat.2 Sesuai dengan skenario didapatkan hasil uji tourniquet postif (+).

1. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah, meliputi :
o Pemeriksaan hematokrit
Infeksi sekunder pada kasus demam berdarah dengue dapat menyebabkan terjadinya
perubahan yang sangat kompleks dalam tubuh manusia. Kompleks antibodivirus yang
terjadi dapat mengaktifkan sistem koagulasi yang akan menghasilkan benang-benang
fibrin, namun pada saat yang bersamaan akan mengaktifkan sistem fibrinolisis yang
menyebabkan pemcehan benang fibrin menjadi FDP. Hal ini dapat memicu terjadinya
4

pendarahan dan dapat menyebabkan terjadinya tingkatan lanjutan dari demam


berdarah yaitu demam berdarah dengan renjatan (shock). Hal ini akan berpengaruh
pada peningkatan hematokrit darah. Sebenarnya yang meningkat bukanlah jumlah sel
darah merah melainkan terjadi penurunan plasma. Dan hal ini ternyata menyebabkan
peningkatan hematokrit dalam kadar yang cukup signifikan, yang dapat menjadi 20%
dari keadaan normal.5
Pemeriksaan hematokrit menggunakan prinsip sentrifugasi untuk mendapatkan endapan
sel darah merah dalam jumlah yang besar. Pemeriksaan ini dapat menggunakan cara
makro dan cara mikro. Pada cara makro tinggi kolom sel darah merah dibaca dengan
menggunakan skala yang tertera pada tabung pengukur yang disebut dengan tabung
Wintrobe. Tinggi kolom sel darah merah tersebut menyatakan persentasi dari eritrosit.
Sedangkan cara mikro menggunakan tabung yang lebih kecil yang tidak memiliki skala.
Pembacaan skala menggunakan skala tersendiri yang dicocokan dengan tinggi kolom
eritrosit dalam darah.3,5
Nilai normal hematokrit ialah 40-48 volume % bagi pria dan 37-43 volume % bagi
wanita. Pada demam berdarah dapat terjadi peningkatan hematokrit dalam jumlah yang
cukup berarti (60-70 volume %).
o Leukosit
Leukosit secara normal terdapat dalam jumlah 5.000 10.000/L darah. Penderita
demam berdarah dapat mengalami leukopenia ringan, namun hal ini umumnya dijumpai
pada hari pertama hingga hari ketiga dan bila dilakukan hitung jenis masih bisa
digolongkan dalam batas yang normal. Akan tetapi, pada dengue shock fever dapat
dijumpai neutropenia yang absolut.4
Lalu bagaimana cara menghitung jumlah leukosit tersebut? Ada cara yang dapat
digunakan dalam perhitungan sel darah tepi dengan cara mengambil sampel darah. Pada
perhitungan ini alat bantu yang disebut dengan pipet Thoma. Prinsipnya ialah sel darah
diambil dalam jumlah tertentu kemudian diambil cairan pengencer, dalam hal ini ialah
larutan Turk. Larutan ini dapat melisiskan sel darah merah sehingga yang terlihat pada
mikroskop hanya sel darah putih/leukosit. Cairan pengencer ini dicampur dengan darah.
Bila darah diambil hingga skala 1 sedangkan pengencer diisi hingga angka 11, maka
pengenceran yang terjadi ialah sebesar 10 kali. Sedangkan bila darah yang terambil
jumlahnya hanya mencapai skala 0,5 sedangkan pengencer diisi hingga angka 11, maka
5

pengenceran terjadi sebanyak 20 kali. Setelah itu darah akan diteteskan pada alat bantu
pembaca yang disebut sebagai kamar hitung Improved Neubauer.5
Pada kamar Hitung yang digunakan adalah empat kotak besar 1 x 1 mm yang terdapat
pada keempat sudut kamar hitung. Setelah meletakkan sampel darah, maka dapat dibaca
jumlah leukosit di bawah mikroskop. Hasil pembacaan pada keempat kamar hitung
dijumlahkan. Jumlah leukosit dalam tiap mikroliter darah ialah jumlah leukosit pada
keempat kamar hitung dikalikan dengan faktor. Yang disebut dengan faktor ialah
1/volume kamar hitung x jumlah pengenceran.5Selain menggunakan pipet thoma, dapat
pula digunakan pipet sahli yang memiliki prinsip yang hampir mirip dengan pipet
thoma.3,6
Gambaran yang khas pada demam berdarah lainnya adalah secara mikroskopis
ditemukan cukup banyak limfosit yang mengalami transformasi / limfosit atipik (20-50%
total limfosit). Limfosit ini berinti sel satu, dengan struktur kromatin inti halus dan padat
serta sitoplasma yang berwarna biru tua. Oleh karena itu, gambaran ini disebut sebagai
limfosit plasma biru.7

o Trombosit
Seperti yang telah dibahas di awal, terjadinya koagulasi merupakan salah satu akibat dari
aktivitas kompleks virus antibodi demam berdarah. Hal ini tentu saja menyebabkan
penurunan kadar trombosit / trombositopenia. Pada tiga hari pertama umumnya jumlah
trombosit masih dalam kadar yang normal. Trombositopenia mulai tampak beberapa hari
setelah panas, dan mencapai titik terendah pada fase renjatan / shock. Kadar trombosit
normal dalam darah ialah 200.000-300.000/l. Penderita DBD umumnya mengalami
penurunan hingga angka 100.000/l. Bahkan DBD dengan renjatan bisa mengalami
trombositopenia lebih parah dari angka tadi.
Perhitungan kadar trombosit dapat dilakukan dengan pipet thoma maupun pipet sahli.
Namun perhitungan ini memerlukan ketelitian yang lebih tinggi. hal ini disebabkan oleh
sifat trombosit yang mudah rusak. Oleh karena itu sebelum pemeriksaan, pipet harus
dibilas dengan larutan pengencer. Dalam pemeriksaan ini digunakan larutan amonium
oksalat yang dapat melisis eritrosit ataupun larutan Rees Ecker yang tidak melisis
eritrosit. Cara pengisian pada kamar hitung juga sama. Akan tetapi pada perhitungan
trombosit yang digunakan hanya 1 kotak besar 1 x 1 mm yang terletak tepat di tengah
kamar hitung.5
6

2. Pemeriksaan Serologi
Pemeriksaan yang dilakukan bisa meliputi uji HI, uji pengikatan komplemen, uji
neutralisasi, uji Mac. Elisa dan uji IgG Elisa Indirek. Dari kelima jenis, uji HI
(hemagglutination inhibition test) merupakan uji serologi yang paling banyak dipakai
secara rutin karena lebih sederhana, mudah, murah serta sensitif. Antibodi HI ini dapat
berada dalam kurun waktu yang sangat lama hingga lebih dari 50 tahun begitu seseorang
mendapatkan infeksi demam berdarah.6
Antibodi ini timbal pada kadar yang terdeteksi yaitu titer 10 pada hari kelima hingga hari
keenam dari jalannya penyakit. Kadarnya akan meningkat bila demam berdarah terus
berlanjut (dapat mencapai 640 pada infeksi primer dan 10240 pada infeksi sekunder).
Pada infeksi akut, kadar titer yang mencapai 1280 dapat mengarahkan diagnosis pada
dugaan adanya infeksi baru. Titer HI yang tinggi ini akan bertahan hingga tiga bulan
sesudah infeksi dengan gejala penurunan yang tampak mulai pada hari ke 30.

3. Radiologi
Kebocoran plasma dapat diamati melalui radiologi. Dengan pemeriksaan rontgen, bisa
terlihat dilatasi pada pembuluh darah paru di daerah sekitar hilus pulmonis. Biasanya hal
ini akan terlihat jelas. Selain itu kemungkinan lainnya ialah terisi pleura oleh cairan yang
disebut sebagai efusi pleura.3,6
Selain itu organ yang kemungkinan terkena dampak ialah jantung. Perbesaran jantung
dapat diukur dengan cardio thoraxic ratio pada hasil rontgen. Hasil CTR yang lebih dari
0,5 dianggap sebagai perbesaran jantung. Efusi perikardium juga mungkin terjadi. Di
dalam gambaran hasil rontgen biasanya terlihat daerah hitam yang disertai bercak.1
Hepatomegali dapat dilihat dengan menggunakan USG. Umumnya dianggap
hepatomegali bila pada USG didapati posisi hepar yang melewati arcus costae. Dilatasi
v. hepatika juga kemungkinan dapat mengikuti hepatomegali. Pada USG juga bisa
terlihat cairan dalam rongga peritonium yang ditandai dengan gambaran usus yang
terkumpul pada daerah medial abdomen. Kemungkinan terlihatnya asites ialah diantara
hati dan ginjal kanan.

Pada kasus, dilaporkan hasil pemeriksaan laboratorium :


Pemeriksaan

Normal

Makna

HB

14 gr / ml darah

13-16 gr / ml darah ()

Normal

HT

42%

40-48 % ()

Normal

Leukosit

3000

5000-10.000

Leukopenia

Trombosit

90.000

150.000-450.000

Trombopenia

Etiologi
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan
diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106.
Terdapat empat serotipe virus, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang
semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat
serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat
reaksi silang anatara serotipe dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow fever, Japanese
encehphalitis, dan West Nile virus.8

Epidemiologi
Demam berdarah dengue banyak terjadi pada daerah endemik di Asia tropik, dimana
pada daerah tersebut suhu panas dan banyak ditemukan penyimpanan air di rumah sehhingga
menyebabkan populasi dari nyamuk Aedes aegypti besar dan permanen. (nelson)
Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan
tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air
jernih.Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu:
1. Vektor: perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di
lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain.
2.

Pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan atau keluarga, mobilisasi dan paparan


terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin.

3.

Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.9

Patofisiologi
Hal utama yang terjadi pada patofisiologis DBD adalah meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia,
dan diatesis hemoragik.Plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari permulaan
masa demam dan mencapai puncaknya pada masa renjatan atau syok.Nilai hematokrit
meningkat bersamaan dengan menghilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh
darah.Nilai hematokrit yang meningkat menimbulkan dugaan bahwa renjatan pada pasien
DBD terjadi sebagai akibat dari kebocoran plasma ke ekstravaskuler melalui kapiler yang
rusak.Trombositopenia

merupakan

kelainan

hematologis

yang

sering

ditemukan.Trombositopenia yang timbul diduga akibat meningkatnya destruksi trombosit dan


depresi dari fungsi megakaryosit.Trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit dianggap
sebagai penyebab utama terjadinya pendarahan pada DBD. Gangguan fungsi trombosit
terjadi melalui mekanisme gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin
dan PF4 yang merupakan pertanda degranulasi trombosit. Selain trombositopenia, kelainan
sistem koagulasi darah juga berperan dalam pendarahan yang dialami penderita DBD.
Aktivasi koagulasi pada dengue terjadi melalui jalur ekstrinsik atau tissue factor pathway.10
Pada infeksi dengue terbentuk antibodi yang terdiri atas imunoglobulin G atau IgG
yang berfungsi menghambat peningkatan replikasi virus dalam monosit, yaitu enhancing
antibody dan neutralising antibody.Dikenal 2 tipe antibodi berdasarkan virion determinant
specificity yaitu kelompok monoklonal reaktif yang mempunyai sifat menetralisasi tetapi
memacu replikasi virus. Antibodi non-netralisasi yang dibentuk pada infeksi primer akan
menyebabkan terbentuknya kompleks imun pada infeksi sekunder dengan akibat memacu
replikasi virus. Limfosit T memegang peran penting dalam patogenesis DBD.10,11 Oleh
rangsang monosit yang telah terinfeksi virus dengue atau antigen virus dengue, limfosit
manusia dapat mengeluarkan interferon (IFN) alfa dan gamma. Padainfeksi sekunder oleh
virus dengue serotipe berbeda (DEN-1,2,3,4) dengan infeksi pertama, limfosit T CD4
berproliferasi dan menghasilkan IFN alfa. IFN alfa itu merangsang sel yang terinfeksi virus
dengue dan mengakibatkan monosit memproduksi mediator yang menyebabkan kebocoran
plasma.10

Gejala Klinis
Masa inkubasi demam berdarah dengue diduga merupakan masa inkubasi demam
dengue. Perjalanannya sangat khas pada anak. Fase pertama biasanya dengan relatif ringan
dengan demam yang mulai mendadak, malaise, muntah, nyeri kepala, anoreksia dan batuk
sesudah 2-5 hari.11
Pada fase kedua, biasanya pasien menderita ekstremitasnya terasa dingin, lembab,
badan panas, muka merah, keringat banyak, gelisah iritabel, dan nyeri mid-epigastrium.
Seringkali juga ditemukan adanya petekie tersebar pada dahi dan tungkai; ekimosis spontan
mungkin tampak, dan menjadi mudah memar serta berdarah pada tempat pungsi vena. Selain
itu ruam makular serta mukopapular mungkin akan muncul, dan mungkin akan timbul
sianosis pada sekeliling mulut. Pernafasan menjadi cepat dan sering berat, nadi melemah,
cepat dan kecil dan suara jantung terdengar halus.sering juga terjadi pembesaran hati atau
hepatomegali sampai 4-6 cm dan biasanya keras serta terasa nyeri.11
Sesudah 24-36 jam masa krisis, diikuti masa konvalesen cukup cepat pada anak. Suhu
akan kembali normal sebelum atau selama masa syok. Brakikardi dan ekstrasistol kerap
terjadi pad masa konvalesen dan dianggap sesuatu yang lazim. Jarang terjadi cedera otak.
Strain virus dengue 3 yang bersirkulasi di daerah Asia Tenggara sejak tahun 1983 disertai
terutama sindrom klinis berat, yang ditandai oleh ensefalopati, hpoglikemia, kenaikan enzim
hati yang mencolok dan kadang-kadang ikterus.11

Penatalaksanaan
Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi
suportif. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga
kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling
penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama
cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan
suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara
bermakna. Pemantuan dekat sangat penting sekurang-kurangnya 48 jam karena syok dapat
terjadi atau kumat dengan sangat cepat pada awal penyakit.11
Penderita dengan sianosis atau mengalami nafas berat harus diberi oksigen. Selain itu
penggantian cepat cairan dan elektrolit intravena sering dapat mempertahankan penderta
10

sampai terjadi penyembuhan spontan. Bila terjadi kenaikan kadar hemotokrit yang spontan
setelah pemberian cairan, maka dapat diberikan pemberian plasma, tetapi harus dilakukan
dengan berhati-hati agar tidak terjadi overdehidrasi, yang mungkin turut menyebabkan gagal
jantung. Selain itu transfusi darah segar atau suspensi trombosit dalam plasma mungkin
diperlukan untuk mengendalikan

pendarahan, tetapi transfusi ini tidak boleh diberikan

selama hemokonsentrasi.11
Pemberian paradehid aau kloralhidrat mungkin diperlukan pada anak yang gelisah.
Penggunaan pressor amin, agen penyekat alfa adregenik dan aldosteron tidak akan
menyebabkan penurunan mortalitas yang bermakna. Pemberian streroid tidak memperpendek
lamanya penyaki atau memperbaiki prognosis pada anak yang mendapat terapi suportif.11
Mengingat pada saat awal pasien datang, belum selalu dapat ditegakkan diagnosisi DBD
dengan tepat, maka sebagai pedoman dalam penatalaksaan DBD pada anak dibagi menjadi
beberapa bagan, yaitu; tatalaksana tersangka DBD (bagan 2 dan bagan 3), tatalaksana
penderita DBD derajat I dan II (bagan 3 dan 4) dan yang terakhir tatalaksana penderita DBD
derajat III dan derajat IV yang terkait syndrom syok dengue (bagan 4).12

Bagan 2
Pada awal perjalanan penyakit tanda/gejalanya tidak spesifik. Oleh karena itu orang tua
atau keluarga atau kerabat diharapkan untuk waspada jika melihat tanda/gejala yang
mungkin merupakan gejala awal DBD. Gejala awal berupa demam tinggi 2-7 hari
mendadak tanpa sebab yang jelas, terus-menerus, badan terasa lemah/anak tampak lesu.
Pertama-tama ditentukan terlebih dahulu:
1. Adakah tanda kedaruratan yaitu tanda syok (gelisah, nafas cepat, bibir biru, tangan
dan kaki dingin, kulit lembab) muntah terus menerus, kejang, kesadaran menurun,
muntah darah, berak darah, maka pasien perlu dirawat/dirujuk.
2. Apabla tidak dijumpai tanda kedaruratan, periksa uji Tourniquet (Rumple Leede/uji
bendung) dan hitung jumlah trombosit.
Bila uji torniquet positif dan trombosit < 100.000/ ul, atau normal, pasien boleh
pulang dengan pasien untuk datang kembali setiap hari sampai suhu turun. Pasien
dianjurkan minum banyak seperti air teh, susu, sirup, oralit, jus buah dan lain-lain.
Sebaiknya hindari cairan yang berwarna coklat dan merah. Berikan obat antipiretik
golongan parasetamol jangan golongan salisilat atau ibuprofen karena dapat
menyebabkan gastritis atau pendarahan. Apabila selama di rumah demam tidak turunturun pada hari sakit ketiga, evaluasi tanda klinis adakah tanda-tanda syok, yaitu anak
menjadi glisah, ujung kaki/tangan dingin, sakit perut, berak hitam, kencing berkurang;
11

bila perlu periksa Hb, Ht dan trombosit. Apabila terdapat syok atau terdapat
peningkatan Hb/Ht dan/ atau penurunan trombosit, segera kembali ke rumah sakit.

Bagan 3
Pasien dengan keluhan demam 2-7 hari, disertai uji Torniquet positif atau disertai
pendarahan spontan tanpa peningkatan Ht, dan trombositopena ringan dapat dikelola
seperti tertera pada bagan 3.
Apabila pasien masih dapat minum, berikan minum sebanyak 1-2 liter/hari atau 1 sendok
makan setiap 5 menit. Jenis minuman yang dapat diberikan adalah air putih, teh manus,
sirup, jus buah, susu, oralit. Obat antipiretik (parasetamol) diberikan bila suhu > 38oC.
Pada anak dengan riwayat kejang dapat diberikan obat anti konvulsif.
Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus-menerus, sebaiknya diberikan infus
NaCl 0.9% : dekstrosa 5% (1:3) dipasang dengan tetesan rumatan sesuai berat badan.
Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan Hb, Ht setiap 6 jam dan trombosit
setiap 6-12 jam.
Apabila pada tindak lanjut telah terjadi perbaikan klins dan laboratoris anak dapat
dipulangkan, tetapi bila kadar Ht cenderung naik dan trombosit menurun, maka infus
cairan diganti dengan ringer laktat dan tetesan disesuaikan pada bagan 4.

Bagan 4
Pasien DBD apabila dijumapi demam tinggi mendadak terus menerus selama 2-7 hari
tanpa sebab yang jelas, disertai tanda pendarahan spontan (tersering pendarahan kuliy
dan mukosa yaitu petekie atau mimisan) disertai penurunan jumlah trombosit<100.000/ul
dan peningkatan nilai Ht (>20%).
Pada saat pasien datang, berikan cairan kristaloid ringer laktat/NaCl 0,9% atau dekstrosa
5% dalam ringer laktat/NaCl 0,9% 6-7 ml/KgBB/jam. Monitor tanda vital dan Ht serta
jumlah trombosit tiap 6 jam. Selanjutnya evaluasi 12-24 jam.
1.

Apabila selama observasi keadaan umum membaik yaitu anak nampak tenang,
tekanan nadi kuat, tekana darah stabil, diuresis cukup, dan kadar Ht cenderung turun
minimal dalam 2 kali pemeriksaan berturut-turut, maka tetesan dikurangi menjadi
5ml/KgBB/jam. Apabila observasi selanjutnya randa vital tetap stabil, tetesan
dikurangi menjadi 3ml/KgBB/jam dan akhirnya cairan dihentikan setelah 24-48 jam.

12

2.

Perlu diingat bahwa sepertiga kasus akan jatuh ke dlam syok. Maka apabila keadaan
klinis pasien tidak ada perbaikan, anak tampak gelisah, nafas cepar (distres
pernafasan), frekuensi nadi meningkat, Ht tetap tinggi/naik, tekanan nadi <
20mmHg,

diuresis

kurang/tidak

ada,

maka

tetesan

dinaikan

menjadi

10ml/KgBB/jam, setelah 1 jam tidak ada perbaikan tetesan dinaikkan menjad


15ml/KgBB/jam. Apabila tanda vital tidka stabil serta terjadi distres pernafasan, Ht
naik dan tekanan nadi -20mmHg, maka berikan cairan koloid 20-30 ml/KgBB.
Tetapi apabila Ht turun berati terdapat pendarahan, berikan tranfusi darah segar
10ml/KgBB/jam. Bila keadaan klinis membaik, maka cairan disesuaikan. Indikasi
tranfusu pada danak, yaitu syok yang belum teratasi dan pendarahan masif.

Bagan 5

Syndrom Syok Dengue (SSD)


Syndrom syok dengue (SSD) ialah DBD dengan gejala gelisah, nafas cepat, nadi teraba
kecil, lembut atau tak teraba, tekanan nadi menyempit (misalnya sistolik 90 dan
diastol8ik 80 mmHh, jadi tekanan nadi<20 mmHg), bibir biru, tangan kaki dingin, tidak
ada produksi urin.
1.

Segera beri infus kristaloid (ringer laktat atau NaCl 0,9%) 10-20ml/KgBB
secepatnya (diberikan dalam bolus selama 30 menit) dan oksigen 2-4 liter/menit.
Untuk SSD berat (DBD derajat IV, nadi tidak teraba dan tensi tidak teratur)
diberikan ringer laktat 20ml/KgBB/jam bersama koloid. Observasi tensi dan nadi
setiap 15 menit, Ht dan trombosit tiap 4-6 jam. Periksa elektrolit dan gula darah.

2.

Apabila dalam waktu kurang dari 30 menit syok belum teratasi, tetesan ringer laktat
tetap dilanjutkan 15-2- ml/KgBB/jam, ditambah plasma (fresh froxen plasma) atau
koloid sebanyak 10-20 m/KgBB, maksimal 30 ml/KgBB (koloid diberika pada lajur
infus yang sama dengan kristaloid, diberikan secepatnya). Observasi keadaan umum,
tekanan darah, keadaan nadi tiap 15 menit, dan periksa Ht tiap 4-6 jam. Koreksi
asidosis, elektrolit dan gula darah.
Apabila syok telah teratasi disertai penururnan kadar Hb/Ht, tekanan nadi>20
mmHg, nadi kuat, maka tetesan cairan dikurangi menjadi 10ml/KgBB/jam dapat
dipertahankan selama 25 jam atau sampai klinis stabil dan Ht menurun <40%.
Selanjutnya cairan diturunkan menjadi 7ml/KgBB sampai keadaan klinis dann Ht
stabil kemudian secara bertahap cairan diturunkan 5ml/KgBB/jamm dan seterusnya
3ml/KgBB/jam. Dianjurkan pemberian cairan tidak melebihi 48 jam setelah syok
13

teratasi. Observasi klinis, tekanan darah, nadi, jumlah urin dikerjakan tiap jam
(usahakan urin>1 ml/KgBB/jam, BD urin < 1.020) serta pemeriksaan hematokrit dan
trombosit tiap 4-6 jam sampai keadaan umum baik.
Apabila syok belum dapat teratasi, sedangkan kadar hematokrt menurun, tetapi
masih>40 vol% berikan darah segar dalam volume kecil (10ml/KgBB). Apabila
tampak pendarahan masif, berikan darah segar 20ml/KgBB dan lanjutkan cairan
kristaloid 10ml/KgBB/jam. Pemasangan CVP (dipertahankan 5-8 cmH2O) pada
syok berat kadang-kadang diperlukan, sedangkan pemasangan sonde lambung tidak
dianjutkan.
Apabila syok masih belum teratasi, pasang CVP untuk mengetahui kebutuhan cairan
dan pasang kateter urin untuk mengetahui jumlah urin. Apabila CVP normal (>10
mmH2O), maka berikan dopamin.

Prognosis
Kematian dikarenakan kasus DBD telah terjadi pada 40-50% penderita disertai syok,
tetapi dengan diberlakukannya perawatan intensif yang cukup maka angka kematian akan
kurang dari 2%.11

Pencegahan
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian vaksin dengue tipe
1,2,3 dan 4. Selain itu pencegahan lain yang dapat dilakukan per seorangan yaitu dengan
menghndari gigitan nyamuk menggunakan insektisida, penolak nyamukk, penutup tubuh
dengan pakaian, dan pemakaian kelambu serta melakukan penghancuran pada tempat-tempat
pembiakan nyamuk Aedes Aegypti.11
Hal lain yang dapat dilakukan yaitu menutup rapat tempat-tempat penyimpanan air,
dan pemberian bubuk abate dengan aman ditambahkan ke dalam air yang dikonsumsi. Dan
usaha lainnya yaitu mengubur barang bekas yang dapat menjadi tempat penyimpanan air.11
Pada saat ini pemberantasan A. aegypti merupakan cara utama yang dilakukan untuk
memberantas

demam berdarah dengue, karena vaksin untuk mencegah dan obat untuk

membasmi virusnya belum tersedia. Pemberantasan A. aegypti dapat dilakukan terhadap


nyamuk dewasa ataupun jentiknya. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan cara
penyemprotan dengan pengasapan atau fogging insektisida yaitu:

Organofosfat misalnya malation, fenotrion

14

Pinetroid sintetik, misalnya lamda sihalotrin, permetrin

Karbamat

Pemberantasan jentik A. aegypti yang yang dikenal dengan istilah Pemberantasan


Sarang Nyamuk (PSN), dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

Kimia: pemberantasan larva dilakukan dengan larvasida yang dikenal dengan abatisasi.
Larvasida yang biasa digunakan adalah temefos. Formulasi temefos yang digunakan
adalah granules (sandgranules). Dosis yang digunakan 1ppm atau 10gram (kurang lebih 1
sendok makan rata) untuk setiap 1 liter air. Abatisasi dengan temefos tersebut mempunyai
efek residu 3 bulan.

Biologi: dengan memelihara ikan pemakan jentik, contohnya ikan guppy, ikan cupang
dan beberapa jenis ikan lainnya.

Fisik: cara ini dikenal dengan kegiatan 3M yaitu menguras, menutup dan mengubur.
Menguras bak mandi, bak WC, menutup tempat penampungan iar, rumah tangga seperti
tempayan, drum air, dan lain-lainnya serta mengubur atau memusnahkan barang bekas
yang bisa menjadi tampungan air sementara seperti kaleng, ban, dan sebagainya.
Pengurasan tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya
satu kali dalam seminggu agar nyamuk tidak dapat berkembang biak ditempat
tersebut.13,14

Jika pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk ini dilakukan oleh seluruh


masyarakat di Indonesia, maka diharapkan nyamuk A. aegypti dapat terbasmi. Untuk itu
diperlukan usaha dan penyuluhan serta motivasi kepada masyarakat secara terus menerus
dalam jangka waktu yang lama, karena keberadaan jentik nyamuk tersebut berkaitan dengan
lingkungan juga perilaku masyarakat.

Diferential Diagnosis

Campak11
Campak merupkan suatu penyakit akut menular, ditandai oleh tiga stadium; (1) stadium
inkubasi sekitar 10-12 hari dengan sedikit gejala. (2) stadium prodomal dengan enantem
(bercak koplik) pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang,
konjungtivitis ringan dan batuk yang semakin berat, dan (3) stadium akhir dengan ruam
15

makuler yang muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki disertai
demam tinggi. Pada orang yang telah terinfeksi campak akan menjadi menular pada hari
ke 9-10 sesudah pemajaan (mulai fase prodromal), pada beberapa keadaan seawal hari
ke-7.
Campak sendiri merupakan virus RNA dari famili Paramixovidrae, genus Morbilivirus.
Selama masa prodromal dan selama waktu singkat sesuadah ruam tampak, virus
ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Dan virus ini dapat bertahan atau
tetap aktif selama kurang lebih 34 jam dalam suhu kamar.
Pengobatan pada campat yaitu dengan pemberian vitamin A secara oral (400.000 IU)
untuk mengurangi angka morbiditas dan mortilitas anak dengan campat berat di negara
berkembang, selain itu perlu juga diberikan obat antipiretik untuk demam tinggi serta
tirah baring dan cairan yang cukup.

Chikungunya
Chikungunya merupakan penyakit yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lainnya
oleh vektor nyamuk A. aegypti betina. Penyakit ini ditandai dengan adanya arthtritis
terutama pada sendi-sendi di ekstremitas seperti pada pergelangan-pergelangan kaki dan
tangan serta jari-jari. Gejala lainnya yaitu demam tinggi, pusing, rasa mual, muntahmuntah, terdapat maculopapular (bintik merah yang berisi cairan), ruam, nyeri otot,
menggigil, dan lymphadenopati.3 Pada penderita chikungunya, jumlah trombosit
biasanya normal.

Demam Tifoid
Demam Enterik (Tifoid) adalah penyakit sistemik yang ditandai dengan demam dan
nyeri pada abdomen yang disebabkan oleh penyebaran

Salmonella typhi atau

Salmonella paratyphi. Pada awalnya penyakit ini disebut demam tifoid karena memiliki
gejala klinis yang sama dengan typhus.
Pada anak, periode inkubasi demam tifoid antara 5-40 hari dengan rata-rata 10 14
hari.Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan dan tidak
memerlukan perawatan khusus sampai dengan berat sehingga harus dirawat. Variasi
gejala ini disebabkan faktor galur Salmonella, status nutrisi, imunologi dan lama sakit di
rumahnya.
16

Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit. Pada era
pemakaian antibiotik belum seperti saat ini, penampilan demam pada kasus demam tifoid
mempunyai istilah khusus yaitu step ladder temperature chart yang ditandai dengan
demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik
tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi dan pada
minggu ke-empat demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi fokus infeksi
seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan menetap. Banyak orang tua
pasien demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih tinggi saat sore dan malam hari
dibandingkan denga pagi harinya.Pada saat demam sudah tinggi, pada kasus demam
tifoid dapat disertai gejala sistem saraf pusat; seperti kesadaran berkabut atau delirium
atau obtundasi, atau penurunan kesadaran mulai apati sampai koma.
Gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya demam adalah nyeri kepala, malaise,
anoreksia, nausea, mialgia, nyeri perut, dan radang tenggorokan. Pada kasus yang
berpenampilan klinis berat, pada saat demam tinggi akan nampak toksik/sakit berat.
Bahkan dapat juga ijumpai penderita demam tifoid yang datang dengan syok
hipovolemik sebagai akibat kurang masukan cairan dan makanan.Gejala gastrointestinal
pada kasus demam tifoid sangat bervariasi. Pasien dapat mengeluh obstipasi, obstipasi
kemudian disusul episode diare, pada sebagian pasien lidah tampak kotor dengan putih di
tengah sedang tepi dan ujungnya kemerahan.1

Kesimpulan
Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit tropik yang disebabkan oleh
infeksi virus dengue dengan vektor nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini disertai gejala klinis
seperti sakit kepala, nyeri otot, sendi atau tulang, mual, dan nyeri tekan pada epigastrium.
Dalam kondisi yang lebih lanjut, pasien DBD dapat terkena syok yang berisiko pada
kematian. Untuk mencegah pasien DBD hingga mengalami syok perlu dilakukan penanganan
yang cepat dan intensif seperti rawat inap di rumah sakit untuk tetap mempertahankan
keseimbangan cairan tubuh. Cara yang paling efektif untuk mengindari penyakit DBD adalah
dengan melakukan pencegahan keberadaan dan perkembangbiakan vektor sedini mungkin
melalui beberapa cara diantaranya adalah fogging dan 3M.

17

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi V Jilid III.
Jakarta; Interna Publishing; 2009.
2. Satari, Hindra I., Meiliasari,Mila. Demam berdarah. Jakarta: Puspa Swara, 2004.h.28-31.
3. Davey P, editors. At a glance medicine. Jakarta: EMS; 2006.h.298-300.
4. Staf Pengajar Departemen Parasitologi FK UI Jakarta. Parasitologi Kedokteran edisi IV.
Jakarta; Balai Penerbit FK UI; 2008)
5. Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UKRIDA. Penuntun patologi klinik
hematologi. Jakarta: Biro Publikasi Fakultas Kedokteran UKRIDA; 2009.h.51-60.
6. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar ilmu penyakit
dalam. edisi 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2773-9.
7. Tumbelaka AR, Darwis D, Gatot D, dkk. Demam berdarah dengue. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2005
8. Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Demam berdarah dengue. Dalam: Sudoyo
AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam.
Edisi ke-5. Jakarta : InternaPublishing; 2009. h. 2773 9.
9. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I. Jakarta; Balai Penerbit FK UI;
2007.
10. Nimmanitya S. Dengue and dengue hemorrhagic fever. In: Cook GC. Mansons tropical
disease. London: WB Saunders Co.2000.p.721-9.
11. Alvin BK. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-5. Jakarta: EGC; 2012.h.1134-5,10689.
12. http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/123456789/828/4/BK2007G4.pdf%26prev%3Dsearch&ved=0CB4Q7gEwAA&usg=AFQjCNHNRWsCF_uJvaCjs
SjosE1RxzftxA.
13. Sudin Kesehatan Masyarakat Kotamadya Jakarta Pusat. Pencegahan dan pemberantasan
demam berdarah dengue di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2005.
14. World Health Organization. Dengue: guidelines for diagnosis, treatment, prevention and
control. France: WHO Press; 2009.h.8,15-7.

18