Anda di halaman 1dari 18

A.

DEFINISI PSIKOFARMAKA
Psikofarmaka adalah obat-obatan kimia yang digunakan untuk klien dengan
gangguan mental. Psikofarmaka termasuk obat-obatan psikotropik yang bersifat
neuroleptika (bekerja pada sistem saraf pusat) karena obat-obatan tersebut dapat
mempengaruhi bagian bagian otak tertentu dan menekan atau mengurangi atau
menghilangkan gejala gejala tertentu pada penderita. Gejala tersebut meliputi : yang
berhubungan dengan proses pikir, berhubungan dengan alam perasaan dan emosi, dan
perilaku (behaviour), penghayatan pribadi manusia.,Pengobatan pada gangguan mental
bersifat komprehensif, yang meliputi:
1. Teori biologis (somatik), mencakup: pemberian obat psikofarmaka, lobektomi
dan electro convulsi therapy (ECT)
2. Psikoterapeutik
3. Terapi modalitas
Psikofarmakologi adalah komponen kedua dari management psikoterapi. Perawat
perlu mamahami konsep umum psikofarmaka. Beberapa hal

yang termasuk

Neurotransmiter adalah Dopamin,Neuroeprineprin, Serotonin dan GABA (Gama Amino


Buteric Acid),dll. Meningkatnya dan menurunnya kadar / konsentrasi neurotransmiter
akan menimbulkan kekacauan atau gangguan mental. Obat obatan psikofarmaka efektif
untuk mengatur keseimbangan Neurotransmiter.

B. EFEK PSIKOFARMAKA
Ada dua macam efek dari psikofarmaka yaitu sebagai berikut:
1. Efek Primer
a. Merupakan efek klinis terhadap target
b. Timbul lebih lambat (dibanding efek sekunder)
c. Digunakan untuk tujuan terapi, disesuaikan dengan gejala yang mjd sasaran terapi
2. Efek Sekunder
a. Merupakan efek samping penggunaan psikofarmaka
b. Muncul lebih dahulu dibanding efek primer
c. Digunakan untuk tujuan terapi, disesuaikan dengan gejala yang mjd sasaran terapi.

C. PRINSIP PENATALAKSANAAN PSIKOFARMAKA


Penatalaksanaan psikofarmaka menggunakan prinsip titrasi dosis. Respon terhadap
obat psikotropika bersifat individual dan perlu pengaturan secara empirik. Pengaturan
dosis dilakukan :
1) Dosis awal (dosis anjuran)
2) Dosis efektif (dosis yg mulai berefek supresi gejala sasaran)
3) Dosis optimal (dosis yg mampu mengendalikan gejala sasaran)
4) Dosis pemeliharaan (dosis terkecil yg masih mampu mencegah kambuhnya
gejala)
Bila sampai jangka waktu tertentu dinilai sudah cukup mantap hasil terapinya,
dosis diturunkan secara gradual sampai berhenti pemakaian obat.
D. ASAS PSIKOFARMAKA
Dalam penggunaan klinis obat psikotropik selalu mempertimbangkan asas manfaat
dan resiko. Asas manfaat dan resiko dari psikofarmaka adlah sebagai berikut:
1. Penggunaan obat psikofarmaka yg rasional gejala sasaran dapat diredam memberi
peluang untuk integrasi bio-psiko-sosial (dengan terapi psikososial) pemulihan dari
keadaan sakit.
2. Penggunaan obat psikotropika tidak rasional Ketergantungan obat desintegrasi
bio-psiko-sosial hendaya/disabilitas/cacat yang makin lama makin berat.

E. PENGGOLONGAN OBAT-OBATAN PSIKOFARMAKA


Obat psikofarmaka/ psikotropika dibagi menjadi beberapa golongan diantaranya:
antipsikotis, anti depresi, anti mania, anti ansietas, anti insomnia, anti panik dan anti
obsesif kompulsif. Pembagian lainnya dari obat psikitropik antara lain: transquilezer,
neuroleptik, antidepressant, dan psikomimetika. Berikut adalah penjelasannya:
1. Anti Psikotik,
Anti psikotik pemberiannya sering disertai pemberian anti parkinson. Antipsikosis disebut juga neuroleptic, dahulu dinamakan major transquilizer. Salah
satunya adalah chlorpromazine (CPZ), yang diperkenalkan pertama kali tahun 1951
sebagai premedikasi dalam anastesi akibat efeknya yang membuat relaksasi tingkat
kewaspadaan seseorang. CPZ segera dicobakan pada penderita skizofrenia dan
ternyata berefek mengurangi delusi dan halusinasi tanpa efek sedatif yang berlebihan.
a) Mekanisme kerja
Semua obat anti-psikosis merupakan obat-obat potensial dalam memblokade
reseptor dopamin dan juga dapat memblokade reseptor kolinergik, adrenergik dan
histamin. Pada obat generasi pertama (fenotiazin dan butirofenon), umumnya
tidak terlalu selektif, sedangkan benzamid sangat selektif dalam memblokade
reseptordopamine D2. Anti-psikosis atypical memblokade reseptor dopamine
dan juga serotonin 5HT2 dan beberapa diantaranya juga dapat memblokade
dopamin dalam otak (di ganglia dan substansia nigra) pada sistem limbic,
terutama pada striatum dan sistem ekstrapiramidal.
b) Cara Penggunaan
Umumnya dikonsumsi secara oral, yang melewati first-pass metabolism di
hepar.

Beberapa

diantaranya

dapat

diberikan

lewat

injeksi short-acting

Intra muscular (IM) atau Intra Venous (IV), Untuk beberapa obat anti-psikosis
(seperti

haloperidol

dan

flupenthixol),

bisa

diberikan

larutan

ester

bersama vegetable oil 3 dalam bentuk depot IM yang diinjeksikan setiap 1-4
minggu. Obat-obatan depot lebih mudah untuk dimonitor. Pemilihan jenis obat
anti-psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping
obat. Penggantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalennya. Apabila obat
psikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis optimal setelah
jangka waktu memadai, dapat diganti dengan obat anti-psikosis lainnya.

Jika obat anti-psikosis tersebut sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek
sampingnya dapat ditolerir dengan baik, dapat dipilih kembali untuk pemakaian
sekarang. Dalam pemberian dosis, perlu dipertimbangkan:
a. Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu
b. Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam
c. Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari)
d. Dosis pagi dan malam berbeda untuk mengurangi dampak efek samping,
sehingga tidak menganggu kualitas hidup pasien
Mulailah dosis awal dengan dosis anjuran -> dinaikkan setiap 2-3 hari -> hingga
dosis efektif (sindroma psikosis reda) -> dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu
dinaikkan -> dosis optimal -> dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) >diturunkan setiap 2 minggu -> dosis maintenance -> dipertahankan selama 6
bulan 2 tahun (diselingi drug holiday 1-2 hari/minggu -> tapering off (dosis
diturunkan tiap 2-4 minggu) -> stop
Obat anti-psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat
walaupun diberikan dalam jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan
sangat kecil. Jika dihentikan mendadak timbul gejala cholinergic rebound, yaitu:
gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusisng, gemetar dan lain-lain dan akan
mereda jika diberikananticholinergic agents (injeksi sulfas atropine 0,25 mg IM
dan tablet trihexylfenidil 3x2 mg/hari). Obat anti-psikosis parenteral berguna
untuk pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat atau tidak efektif
dengan medikasi oral. Dosis dimulai dengan 0,5 4cc setiap bulan. Pemberiannya
hanya untuk terapi stabilisasi dan pemeliharaan terhadap skizofrenia. Penggunaan
CPZ sering menimbulkan hipotensi orthostatik pada waktu merubah posisi tubuh.
Hal ini dapat diatasi dengan injeksi nor-adrenalin (effortil IM). Haloperidol juga
dapat menimbulkan sindroma Parkinson, dan diatasi dengan tablet trihexylfenidil
3-4x2 mg/hari.
c) Efek farmakologi
sebagai penenang, menurunkan aktivitas motorik, mengurangi insomnia, sangat
efektif untuk mengatasi: delusi, halusinasi, ilusi dan gangguan proses berpikir.

d) Indikasi pemberian
Pada semua jenis psikosa, kadang untuk gangguan maniak dan paranoid. Untuk
obat jenis konvesional biasanya hanya mampu menghilangkan gejala positif saja,
tetapi obat jenis atipkal bisa menghilangkan gejala positif dan gejala negatif.
Antipsikosik merupakan terapi medis utama dalam menangani skizofrenia untuk
mengurangi delusi, halusinasi, gangguan proses dan isi pikiran dan juga efektif
dalam mencegah kekambuhan. Major transquilizer juga efektif dalam menangani
mania, Tourettes syndrome, perilaku kekerasan dan agitasi akibat bingung dan
demensia. Juga dapat dikombinasikan dengan anti-depresan dalam penanganan
depresi

delusional. Jenis

obat

anti

psikotik

yang

sering

digunakan:

Chlorpromazine (thorazin) disingkat (CPZ), Halloperidol disingkat Haldol dan


Serenase.
e) Penggolongan antipsikotika
Antisipkotika (antipsikosis) biasanya dibagi dalam dua kelompok besar, yakni
obat typis atau klasik dan obat atypis.
a. Antipsikotika klasik, terutama efektif mengatasi simtom positif; pada
umumnya dibagi lagi dalam sejumlah kelompok kimiawi sebagai berikut :

Derivat-fenotiazin : klorpromazin, levomepromazin dan triflupromazin


(Siquil), thioridazin, dan periciazin, perfenazin dan flufenazin, perzin
(Taxilan), trifluoperazin, proklorperazin (Stemetil) dan Thietilperazin
(Torecan).

Derivat

thioxanthen:

klorprotixen

(Truxal)

dan

haloperidol,

bromperidol,

zuklopentixol

(Cisordinol)

Derivat-

butirofenon

pipamperondan

droperidol

Derivat-butilpiperidin : pimozida, fluspirilen dan penfluridol

b. Antisipsikotika atypis (sulprida, klozapin, risperidon, olanzapin, dan


quetiapin) bekerja efektif melawan simtom negatif, yang praktis kebal
terhadap obat klasik. Lagi pula efek sampingnya lebih ringan, khususnya
gangguan ekstrapiramidal dan dysnesia tarda. Bila penggunaan antipsikotika
kurang menghasilkan efek yang diinginkan adakalanya ditambahkan
adjuvansi, misalnya suatu antiansietas dan hipnotik-sedatif (contoh :
benzodiazepin), antidepresan (contoh : garam litium, antidepresiva trisiklis
misalnya amitriptilin) dan antikonvulsi (contoh : karbamzepin):
f) Efek Samping Antipsikotik
Efek samping antipsikotik yaitu sebagai berikut:
a. Efek samping pada sistem saraf (extrapyramidal side efect/EPSE)

Parkinsonisme
Efek samping ini muncul setelah 1 - 3 minggu pemberian obat. Terdapat
trias gejala parkinsonisme: Tremor: paling jelas pada saat istirahat,
Bradikinesia: muka seperti topeng, berkurang gerakan reiprokal pada saat
berjalan, dan Rigiditas: gangguan tonus otot (kaku).

Reaksi distonia: kontraksi otot singkat atau bisa juga lama


Tanda-tanda: muka menyeringai, gerakan tubuh dan anggota tubuh tidak
terkontrol

Akathisia
Ditandai oleh perasaan subyektif dan obyektif dari kegelisahan, seperti
adanya perasaan cemas, tidak mampu santai, gugup, langkah bolak-balik
dan gerakan mengguncang pada saat duduk.

Ketiga efek samping di atas bersifat akur dan bersifat reversible (bisa
ilang/kembali normal).
b. Efek samping pada sistem saraf perifer atau anti cholinergic side efect
Terjadi karena penghambatan pada reseptor asetilkolin. Yang termasuk efek
samping anti kolinergik adalah, Mulut kering, Konstipasi, Pandangan kabur:
akibat midriasis pupil dan sikloplegia (pariese otot-otot siliaris) menyebabkan
presbyopia, Hipotensi orthostatik, akibat penghambatan reseptor adrenergic,
Kongesti/sumbatan nasal

g) Kontraindikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi,
ketergantungan alkohol, penyakit SSP dan gangguan kesadaran
h) Cara pemberian obat golongan antipsikotik
Golongan Antipsikotik Klasik (Typis)
Contoh:
a. Trifluoperazin
Dosis obat : ekivalensi 5 mg
Batasan dosis rumataan : 10-80 mg/hari
Bentuk yang tersedia: Tablet (1 mg, 2 mg, 5 mg, 10 mg), Konsentrat 10 ml,
Suntikan (IM) : 0,25 ml, 1,25 ml, 5 ml, 10 ml
b. Haloperidol
Dosis obat: 2 mg
Batasan dosis rumatan: 5-100 mg
Bentuk yang tersedia: Tablet (0,5 mg, 1 mg, 2 mg, 5 mg, 10 mg, 20 mg,
Konsentrat: 2 ml dan Eliksir : 50 ml
Golongan Antipsikotik Atypis
Contoh :
a. Klozapin
Dosis obat : 100 mg
Batasan dosis rumatan : 300-600 mg
Bentuk yang tersedia : tablet 25 mg, 100 mg

2. Anti Depresi
Kelainan depresi mayor dan kelainan distimik merupakan dua tipe kelainan
depresi yang tercantum pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder.
Gambaran penting pada kelainan depresi mayor adalah keadaan klinis yang ditandai
dengan satu lebih episode depresi tanpa riwayat mania, gabungan depresi mania, atau
hipomania. Kelainan distimik adalah gangguan suasana hati (mood) kronis yang
melibatkan depresi suasana hati dan sekurangnya dua gejala lain, dan kelaianan ini
pada umumnya lebih ringan dibandingkan kelaiana depresi mayor. Untuk
mengeliminasi atau mengurangi gejala depresi dapat di gunakan terapi non
farmakologi dan terapi farmakologi, namun dalam hal ini yang akan di bahas adalah
terapi farmakologi yaitu dengan penggunaan obat anti depresan.

Hipotesis: syndroma depresi disebabkan oleh defisiensi salah satu/beberapa aminergic


neurotransmitter seperti: norepinefrin (NE), serotonin (5-HT), dopamin (DA) pada
sinaps neuron di SSP, khususnya pada sistem limbik. Sinonim antidepresan adalah
thimoleptika atau psikik energizer. Umumnya yang digunakan sekarang adalah dalam
golongan trisiklik (misalnya imipramin, amitriptilin, dothiepin dan lofepramin)
a) Mekanisme kerja obat:
a. Meningkatkan sensitivitas terhadap aminergik neurotransmitter
b. Menghambat re-uptake aminergik neurotransmitter
c. Menghambat penghancuran oleh enzim MAO (Mono Amine Oxidase)
sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergik neurotransmitter pada neuron
di SSP.
b) Cara Penggunaan
Umumnya bersifat oral, sebagian besar bisa diberikan sekali sehari dan mengalami
proses first-pass metabolism di hepar. Respon anti-depresan jarang timbul dalam
waktu kurang dari 2-6 minggu. Untuk sindroma depresi ringan dan sedang, pemilihan
obat sebaiknya mengikuti urutan:
Langkah 1 : golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
Langkah 2 : golongan tetrasiklik (TCA)
Langkah 3 :golongan tetrasiklik, atypical, MAOI (Mono Amin Oxydase Inhibitor)
reversibel.
c) Efek farmakologi dan Indikasi
Efek farmakologi : mengurangi gejala depresi, sebagi penenang
Indikasi: syndroma depresi, Obat obatan ini biasanya digunakan dalam terapi
gangguan depresif mayor, gangguan panik, dan gangguan ansietas lain, depresi
bipolar,dan depresi psikotik. Obat-obatan ini sangat bermanfaat untuk pengobatan
gejala depresi seperti mutisme , hipoaktif dan disforik. Disamping itu bisa untuk
mengobati keadaan panic, enurises, pada anak dengan gangguan perhatian, bumilia
narkolepsi dan ,obsesi kumpulsif. Anti depresan ini berinteraksi dengan dua
neurotransmiter, norepinefrin,dan serotonin yang mengatur mood, keinginan
perhatian, proses sensori, dan nafsu makan.

d) Penggolongan abat antidepresan


Pada farmakoterapi digunakan obat anti depresan, dimana anti depresan dibagi dalam
beberapa golongan yaitu :
a. Golongan trisiklik, seperti : amitryptylin, imipramine, clomipramine dan
opipramol.
b. Golongan tetrasiklik, seperti : maproptiline, mianserin dan amoxapine.
c. Golongan MAOI-Reversibel (RIMA, Reversibel Inhibitor of Mono Amine
Oxsidase-A), seperti : moclobemide.
d. Golongan atipikal, seperti : trazodone, tianeptine dan mirtazepine.
e. Golongan SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor), seperti : sertraline,
paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram
Jenis obat yang sering digunakan: trisiklik (generik), MAO inhibitor, amitriptyline
(nama dagang).
e) Efek samping:
Efek samping dari obat anti depresi yaitu efek samping kolinergik (efek samping
terhadap sistem saraf perifer) yang meliputi mulut kering, penglihatan kabur,
konstipasi, hipotensi orthostatik.
SSRI : nausea, sakit kepala
MAOI : interaksi tiramin
Jika pemberian telah mencapai dosis toksik timbul atropine toxic syndrome dengan
gejala eksitasi SSP, hiperpireksia, hipertensi, konvulsi, delirium, confusion dan
disorientasi. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya:
a. Gastric lavage
b. Diazepam 10 mg IM untuk mengatasi konvulsi
c. Postigmin 0,5-1 mg IM untuk mengatasi efek antikolinergik, dapat diulangi
setiap 30-40 menit hingga gejala mereda.
d. Monitoring EKG

f) Kontraindikasi
Penyakit jantung koroner, Glaucoma, retensi urin, hipertensi prostat, gangguan fungsi
hati, epilepsy
g) Cara pemberian obat golongan antidepresi: Antidepresan Trisiklik
Nama Obat : Amitriptilin
Rentang dosis dewasa yang lazim : 50-300 mg / hari
Cara pemberian : PO, IM
Sediaan beredar: limbritol (valeant combiphar), mutabon D (Schering-Plough),
mutabon M (Schering-Plough).
3. Anti Mania
Obat anti mania mempunyai beberapa sinonim antara lain mood modulators, mood
stabilizers dan antimanik. Dalam membicarakan obat antimania yang menjadi acuan
adalah litium karbonat. Hipotesis: pada mania terjadi peluapan aksi reseptor amine.
a) Mekanisme kerja:
Mekanisme kerja obat antimania yaitu: menghambat pelepasan serotonin dan
mengurangi sensitivitas reseptor dopamin serta

meningkatkan cholinergic

muscarinic activity dan menghambat cyclic AMP (adenosine monophospat).


b) Cara Penggunaan Obat
Pada mania akut diberikan haloperidol IM atau tablet litium karbonat. Pada
gangguan afektif bipolar dengan serangan episodik mania depresi diberi litium
karbonat sebagai obat profilaks. Daapt mengurangi frekwensi, berat dan lamanya
suatu kekambuahan. Bila penggunaan obat litium karbonat tidak memungkinkaan
dapat digunakan karbamezin. Obat ini terbukti ampuh meredakan sindroma mania
akut dan profilaks serangan sindroma mania pada gangguan afektif bipolar. Pada
ganguan afektif unipolar, pencegahan kekambuhan dapat juga denagn obat
antidepresi SSRI yang lebih ampuh daripada litium karonat. Dosis awal harus
lebih rendah pada pasien usia lanjut atau pasien gangguan fisik yang
mempengaruhi fungsi ginjal. Pengukuran serum dilakukan dengan mengambil
sampeel darah pagi hari, yaitu sebelum makan obat dan sekitar 12 jam setelah
dosis petang.
c) Efek farmakologi
Mengurangi agresivitas, tidak menimbulkan efek sedatif, mengoreksi/mengontrol
pola tidur, iritabel dan adanya flight of idea

d) Indikasi
Mania dan hipomania, lebih efektif pada kondisi ringan. Pada mania dengan
kondisi berat pemberian obat anti mania dikombinasi dengan obat antipsikotik.
Obat-obat ini berguna untuk menghilangkan gejala manik seperti logorhoe,
hiperaktive euphoria
e) Efek samping:
a. Efek neurologik ringan: fatigue, lethargi, tremor di tangan terjadi pada awal
terapi dapat juga terjadi nausea, diare.
b.

Efek toksik: pada ginjal (poliuria, edema), pada SSP (tremor, kurang
koordinasi, nistagmus dan disorientasi; pada ginjal (meningkatkan jumlah
lithium, sehingga menambah keadaan oedema.

c. Gejala intoksikasi

Gejala dini : muntah, diare, tremor kasar, mengantuk, kosentrasi pikiran


menurun, bicara sulit, pengucapan kata tidak jelas, berjalan tidak stabil

Dengan semangkin beratnya intoksikasi terdapat gejala : kesadaran


menurun, oliguria, kejang-kejang

Penting sekali pengawasan kadar lithium dalam darah

d. Faktor predisposisi terjadinya intoksikasi lithium :

Demam (berkeringat berlebihan)

Diet rendah garam

Diare dan muntah-muntah

Diet untuk menurunkan berat badan

Pemakaian bersama diuretik, antireumatik, obat anti inflamasi non Steroid

e. Tindakan mengatasi intoksikasi lithium

Mengurangi faktor predisposisi

Diuresis paksa dengan garam fisiologis NaCl diberikan secara IV


sebanyak 10 ml

f. Tindakan pencegahan intoksikasi lithium dengan edukasi tentang factor


predisposisi, minum secukupnya, bila berkeringat dan diuresis banyak harus
diimbangi dengan minum lebih banyak, mengenali gejala dan intoksikasi dan
kontrol rutin

f) Macam-macam obat anti mania


Macam-macam obat anti mania yaitu sebagai berikut:
No

Nama generik

1.

Lithium carbonte

2.

Haloperidol

Sediaan

Dosis anjuran
250-500 mg

Tab 0,5 mg,2 mg, 5 mg

4,5-15 mg

Liq 2 mg/hr
Injk 5 mg/ml
3.

Carbamazepine

Tab 200 mg

400-600 mg/hr
2-3 x/hr

g) Kontra Indikasi
Wanita hamil
4. Anti Cemas (Anti Ansietas)
Ansietas (gangguan kecemasan) meliputi suatu kumpulan gangguan dimana
kecemasan (ansietas) dan gejala lainnya yang terkait yang tidak rasional dialami pada
suatu tingkat keparahan sehingga mengganggu aktivitas/ pekerjaan. Ciri-ciri khasnya
yaitu perasaan cemas dan sifat menghindar. Obat anti-ansietas mempunyai beberapa
sinonim, antara lain psikoleptik, transquilizer minor dan anksioliktik. Dalam
membicarakan obat antiansietas yang menjadi obat racun adalah diazepam atau
klordiazepoksid. Obat anti ansietas ini memberi khasiat menghilangkan rasa cemas
melalui penguatan inhibitor GABA (gama acid amino biturat). GABA adalah
neurotransmiter inhibitor utama di sistem saraf pusat (SSP), Sehingga obat ini akan
memberi terapi pada kasus- kasus:
a. Gangguan cemas umum (generalized anxiety disorder)
b. Cemas karena stress pascatrauma
c. Gangguan tidur/ insomnia
d. Phobia
e. Cemas karena PTS (pascatraumatic stress)
f. Cemas dengan kondisi medic
g. Cemas karena tindakan medis
h. Gangguan kejang
i. Histeria

a) Mekanisme kerja
Sindrom ansietas disebabkan hiperaktivitasndari system limbic yang terdiri dari
dopaminergic, nonadrenergic, seretonnergic yang dikendalikan oleh GABA ergic
yang

merupakan

suatu

inhibitory

neurotransmitter.

Obat

antiansietas

benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya yang akan meng-inforce the


inhibitory action of GABA neuron, sehingga hiperaktivitas tersebut mereda.
b) Cara Pengguanan

Klobazam untuk pasien dewasa dan pada usia lanjut yang ingin tetap aktif

Lorazepam untuk pasien-pasien dengan kelainan fungsi hati atau ginjal

Alprazolam efektif untuk ansietas antosipatorik, mula kerja lebih cepat dan
mempunyai komponen efek antidepresan.

Sulpirid 50 efektif meredakan gejala somatic dari sindroma ansietas dan


paling kecil resiko ketergantungan obat.

Mulai dengan dosis awal (dosis anjuran) kemudian dinaikkan dosis setiap 3-5 hari
sampai mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan 2-3 minggu. Kemudian
diturunkan 1/8 x dosis awal setiap 2-4 minggu sehingga tercapai dosis
pemeliharan. Bila kambuh dinaikkan lagi dan tetap efektif pertahankan 4-8 mingu.
Terakhir lakukan tapering off. Pemberian obat tidak lebih dari 1-3 bulan pada
sindroma ansietas yang disebabkan factor eksternal.
c) Efek samping

Sedasi ( rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerka psikomotor


menurun, kemampuan kognitif melemah)

Relaksasi otot ( rasa lemas, cepat lelah dan lain-lain)

Potensi menimbulkan ketergntungan lebih rendah dari narkotika

Potensi ketergantungan obat disebabkan oleh efek obat yang masih dapat
dipertahankan setelah dosis trerakhir berlangsung sangat singkat.

Penghentian obat secara mendadak, akan menimbulkan gejala putus obat,


pasien menjadi iritabel, bingung, gelisah, insomania, tremor, palpitasi,
keringiat dingin, dan konvulsi.

d) Kontra Indikasi
Pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma, miastenia gravis,
insufisiensi paru kronik, penyakit ginjal dan penyakit hati kronik. Pada pasien usia
lanjut dan anak dapat terjadi reaksi yang berlawanan (paradoxal reaction) berupa
kegelisahan, iritabilitas, disinhibisi, spasitas oto meningkat dan gangguan tidur.
Ketergantungan relatif sering terjadi pada individu dengan riwayat peminum
alkohol, penyalagunaan obat atau unstable personalities. Untuk mengurangi resiko
ketergantungan obat, maksimum lama pemberian 3 bulan dalam rentang dosis
terapeutik
e. Penggolongan obat anti cemas
No.

Nama generik

Golongan

Sediaan

Dosis anjuran

1.

Diazepam

Benzodiazepin

Tab 2- 5 mg

Peroral

10-

30mg/hr,2-3
x/hari
Paenteral
IV/IM
2-10 mg/kali,
setiap 3-4 jam
2.

Klordiazepoksoid Benzodiazepin

Tab 5 mg

15-30 mg/hari

Kap 5 mg

2-3 x/sehari

3.

Lorazepam

Benzodiazepin

Tab 0,5-2 mg

2-3 x 1 mg/hr

Clobazam

Benzodiazepin

Tab 10 mg

2-3 x 10
mg/hr

5.

Brumazepin

Benzodiazepin

Tab

1,5-3-6 3 x 1,5 mg/hr

mg
6.

Oksazolom

Benzodiazepin

Tab 10 mg

2-3 x 10 mg/hr

7.

Klorazepat

Benzodiazepin

Cap 5-10mg

2-3 x 5 mg /
hr

8.

Alprazolam

Benzodiazepin

Tab 0,25-0,5-

0,25-0,5

1 mg

mg/hr

Tab 5 mg

2-3 x 5 mg/hr

9.

Prazepam

Benzodiazepin

10.

Sulpirid

NonBenzodiazepin Cap 50 mg

100-200 mg/hari

11.

Buspiron

NonBenzodiazepin Tab 10 mg

15-30 mg/hari

5. Anti-Insomnia
Sinonimnya adalah hipnotik, somnifacient, atau hipnotika. Obat acuannya adalah
fenobarbital.
a) Mekanisme kerja
Obat anti-insomnia bekerja pada reseptor BZ1 di susunan saraf pusat yang
berperan dalam memperantarai proses tidur.
b) Cara Penggunaan

Dosis anjuran untuk pemberian tunggal 15-30 menit sebelum tidur.

Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan


dipertahankan sampai 1-2 minggu, kemudian secepatnya tapering off
untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat.

Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih
perlahan-lahan untuk menghidari oversedation dan intoksikasi. Lama
pemberian tidak lebih dari 2 minggu agar risiko ketergantungan kecil.

c) Efek samping
Efek samping dari obat anti insomnia yaitu: supresi SSP pada saat tidur, Rebound
Phenomen. Disinhibiting efect yang menyebabkan perilaku penyerangan dan
ganas pada penggunaan golongan benzodiazepine dalam waktu yang lama
d) Kontra indikasi
Kontra indikasi dari obat insomnia yaitu: Sleep apnoe syndrome, Congestive heart
failure, Chronic respiratory disease dan wanita hamil dan menyusui

e) Penggolongan obat anti insomnia


No

Nama generik

Golongan

Sediaan

Dosis anjuran

1.

Nitrazepam

Benzodiazepin

Tab 5 mg

Dewasa 2 tab
Lansia 1 tab

2.

Triazolam

Benzodiazepin

Tab 0,125 mg

Dewasa 2 tab
Lansia 1 tab

Tab 0,250 mg

Dewasa 2 tab
Lansia 1 tab

3.

Estazolam

Benzodiazepin

Tab 1 mg

1-2 mg/malam

Tab 2mg

4.

Chloral hydrate

Non-

Soft cap 500 1-2 cap, 15-30

Benzodiazepin

mg

menit sebelum
tidur

F. KEWASPADAAN PERAWAT
Dalam memberikan terapi psikofarmaka sering menimbulkan efek samping yang tidak
diinginkan. Oleh sebab itu perawat harus mewaspadai setelah obat masuk kedalam tubuh
pasien , Sebagai berikut:
1. Kewaspadaan pada Obat anti psikotik;
a) Kebutuhan individu sangat bervariasi
b) Gejala akan mereda setelah diberi obat 3 hari sampai 2 minggu
c) Beberapa jenis skizofrenia butuh obat sepanjang hidupnya
d) EPS dan diskinesia Tardif bisa terjadi sebagai efek samping.
e) Terjadinya efek agranulosis
f) Obesitas

2. Kewaspadaan Obat anti depresan:


a) Obat anti depresan bisa letal pada dosis yang berlebih
b) Efek mengantuk
c) Mulut kering
3. Kewaspadaan Obat anti mania :
a) Lithium karbonat sangat toxik dan lethal oleh sebab itu perlu pemantauan ketat
setiap waktu tertentu diperiksa laborat kandungan garam litium dalam tubuh
pasien.
b) Carbamecepim dapat menimbulkan steven jhonson
4. Kewaspadaan Obat anti cemas :
a) Efek adiksi sangat kuat
b) Efek mengantuk
c) Masalah masalah memori

G. MENGATASI EFEK SAMPING OBAT


Untuk mengatasi efek samping obat ada beberapa hal yang dapat perawat lakukan yaitu
sebagi berikut:
1. Untuk adanyanya gejala EPS diberikan injeksi Diphenhydramin 2 cc dan sulfas
atropin 1ampul.
2. Untuk adanya timbul adiksi dilakukan tapering off.
3. Untuk efek sedasi diberi nasehat tidak boleh menjalankan mesin/
4. Untuk mencegah adanya diskinesia tardive dengan hati-hati pemberian dosis yang
meningkat terutama obat anti psikotik.
5. Untuk mendeteksi ambang letal di periksa laborat tiap 3 bulan

DAFTAR PUSTAKA
Elin.Prof.Dr.dkk. 2008. ISO FARMAKOTERAPI. Jakarta: PT.ISFI Penerbitan.
Isaacs, Ann.2005.Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Praktek. Edisi 3.Jakarta:EGC
http://www.scribd.com/doc/17692967/Psikofarmaka (11 oktober 2012)
http://satriadwipriangga.blogspot.com/2011/11/psikofarmaka.html (11 Oktober 2012)
http://www.peran-psikofarmaka.blogspot.com/ (11 Oktober 2012)
http://www.docstoc.com/docs/51615838/PERAN-PERAWAT-PADA-REHABILITASIKLIEN-GANGGUAN-JIWA (11 Oktober 2012)