Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A.

konsep dasar kanker payudara


1.

Pengertian
Kanker payudara adalah suatu proliferasi neoplasma yang tumbuh dan
berkembang pada satu atau dua payudara dan dapat menyebar atau metastasis
(Long. B. C, 1996).
Kanker payudara merupakan neoplasma spesifik yang terlazim pada wanita
dan merupakan sebab utama kematian akibat kanker pada wanita berusia 4044 tahun (buku ajar bedah : Sabiston )

2. Etiologi
Penyebab kanker payudara sampai sekarang belum diketahui. Ada beberapa
faktor yang dapat menjadi predisposisi yaitu faktor genetik dan hormonal.
Perubahan genetik ini termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal dan
pengaruh protein baik yang menekan atau meningkatkan perkembangan
kanker payudara. Hormon steroid yang dihasilkan oleh ovarium mempunyai
peran penting dalam kanker payudara.

Faktor-faktor resiko yang dapat mempengaruhi kanker payudara adalah jenis


kelamin wanita, usia diatas 35 atau 40 tahun, mempunyai riwayat kanker

payudara sebelumnya pada individu atau keluarga, kelahiran pertama pada


usia lebih 30 tahun (nulipara), terapi hormonal lama, menopause pada usia
lanjut, kontrasepsi oral, menarke dini, pernah mengalami radiasi didaerah
dada, ada riwayat kanker endometrium, ovarium atau kolon, riwayat penyakit
payudara jinak
.
3. Patofisiologi
Kanker payudara berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi pada
system distal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel dengan perkembangan selsel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut manjadi karsinoma insitu dan menginvasi
stoma. Beberapa tumor yang dikenal sebagai estrogen dependent
mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe estrogen dan
pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak muncul pada
jaringan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia.

Tumor ganas biasanya tersendiri, bentuknya tidak beraturan, keras, massanya


tidak bergerak dengan kecenderungan menempel kuat pada otot-otot pektoral
dan kulit menyebabkan retraksi atau dimpling pada kulit dapat menjadi
menebal.

Skema 2.1
Patofisilogi kanker payudara
Hiperplasia sel-sel
Perkembangan sel-sel atipik
Karsinoma

Menginvasi kulit
& jaringan limfe

Menginvasi stroma
Sel-sel ganas
Menginvasi epidermis puting
Menimbulkan krus dan tampak seperti aksim
Karsinoma payudara
Bermetastasis langsung

penyebaran melalui saluran

Ke jaringan sekitar

limfe dan aliran darah

(paru, pleura, tulang dan hati)


Menimbulkan kematian
Untuk pencegah metastase
Tindakan mastektomi

Sumber : Price, S.A and Wilson L.M, 1995 Long, B.C, 1999

4.

Manifestasi klinis
Gejala

utama adanya benjolan / massa dipayudara, rasa sakit. Gejala yang

tersering adalah keluarnya cairan dari putting susu. Yang khas adalah cairan
keluar dari muara duktus satu payudara dan mungkin berdarah. Tanda-tanda lain
dapat berupa adanya perlekatan pada kulit, lekuka pada kulit (akibat distorsi
ligamentum cooper) dan rasa sedikit tidak enak atau tegang. Yang lebih jarang
adalah retraksi putting payudara, pembengkakan lokal, eritema atau nyeri.
Mungkin terjadi pembesaran kelenjar limfe regional. Jika penyakit telah
berkembang lanjut dapat terjadi pecahnya benjolan-benjolan pada kulit dan
ulserasi.

5.

Klasifikasi kanker
a.

Stadium I
Terbatas pada payudara dengan diameter kurang dari 2 cm, tidak mengenai
nodus limfe dan tidak terdeteksi adanya metastasis.

b.

Stadium II
Terbatas pada payudara dengan diameter kurang 5 meter atau tumor yang
lebih kecil dan secara klinis melibatkan kelenjar limfe aksila yang kecil dan
dapat digerakan tidak terdeteksi adanya metastasis.

c.

Stadium IIIa
Tumor dengan diameter 5 dengan pembesaran kelenjar limfe aksila, melekat
satu dengan yang lainya atau pada jaringan yang berdekatan.

d.

Stadium IIIb
Melibatkan kulit : edema, ulserasi satelit, melekat pada dinding dada,
metastasis kelenjar limfe supraklavikular atau infraklavikular edema lengan
ipsilateral, kanker mengalami inflamsi.

e.

Stadium IV
Terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran dengan nodus limfe normal atau
kankerosa dan adanya metastasis jauh.

6.

Tipe-tipe kanker payudara


a.

Karsnioma duktus menginfltrasi


Merupakan 75% dari semua payudara. Kanker ini sangat jelas karena keras
saat dipalpasi, biasanya bermetastasis ke nodus aksila, prognosisnya lebih
buruk di banding tipe kanker lainnya.

b.

Karsinoma lobular menginfiltrasi


tumor ini biasanya terjadi pada suatu area penebalan yang tidak baik pada
payudara, lebih umum multisentris, karsinoma duktul menginfiltrasi dan
lobular menginfiltrasi mempunyai keterlibatan nodus aksilar yang serupa,
meskipun metastasisnya berbeda. Karsinoma duktal biasanya bermetastasis
kepermukaan meningkat atau tempat-tempat tidak lazim lainya.

c.

Karsinoma lobular
kanker ini tumbuh dalam kapsul didalam duktus, dapat menjadi besar tetapi
meluas dengan lambat sehingga prognosisnya lebih baik.

d.

kanker musinus
penghasil lendir dan tumbuh dengan lambat sehingga kanker ini prognosisnya
sangat baik dari kanker yang lainya

e.

kanker duktus tubular


jarang terjadi karena metastasis aksilaris secara histologis tidak lazim
sehingga prognosisnya sangat baik

f.

karsinoma inflamatori
payudar secara abnormal keras dan membesar kulit diatas tumor merah dan
agak hitam, sering terjadi edema dan retraksi putting susu. Penyakit dapat
menyebar dengan cepat pada bagian tubuh lainnya.

7.

Pemeriksaan diagnostik
a.

Mamografi
Memperlihatkan struktur internal payudara, dapat mendeteksi kanker yang
tidak teraba atau tumor yang terjadi pada tahap awal.

b.

Galaktrografi
Mamogram dengan kontras dilakukan dengan menginjeksi zat kontras
kedalam aliran duktus.

c.

Ultrasonogarafi
Membantu dalam membedakan kista yang berisi cairan dengan jenis lasi
lainnya.

d.

Xeroradiografi
Memberikan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-pembuluh darah dan
jaringan-jaringan padat.

e.

Thermografi
Mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena
peningkatan suplai darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.

f.

Aspirasi jarum
mengidentifikasi jika diduga adanya suatu kista (cyst).

g.

Biopsy payudara
suatu cara untuk menentukan secara meyakinkan apakah tumor jinak / tidak
berbahaya atau tumor ganas

h.

Asai hormon reseptor


menyatakan apakah sel tumor atau specimen biopsy mengandung reseptor
hormone ( estrogen dan progesteron).

8.

Penatalaksanaan
a.

Pembedahan
Tipe-tipe

pembedahan

yang

berbeda-beda

dapat

dilakukan

untuk

menghilangkan tumor payudara dengan atau tanpa menghilang / membuang

payudara dan jaringan yang mendasarinya. Tipe bedahnya tergantung pada


sejauh mana pertumbuhan dan penyebarannya.

Tipe-tipe pembedahan unutk membuang kanker payudara :


1)

Lumpectomy
Pembuangan sederhana benjolan tumor

2)

Mastektomi parsial
Pembuangan tumor dan 2,5 7,5 cm (1 sampai 3 inci) jaringan sekitarnya.

3)

Subcutamneosus mastectomy
Pembuangan

seluruh

jaringan

yang

mendasari

tumor

payudara,

meninggalkan / membiarkan kulit, areola dan memasukan puttingnya.


4)

Mastectomy sederhana
Menghilangkan seluruh payudara tapi tidak dengan nodus axillary

5)

Modifikasi mastectomy radikal


Menghilangkan seluruh payudara (dengan atau tanpa pectoralis minor dan
menghilangkan beberapa axilary limph nodes).

6)

Mastectomy radikal
Menghilangkan seluruh payudara, axillary lymp nodes, pectoralis muscle
(besar dan kecil) dan lemak dan fascia yang berdekatan dengan
pembedahan.

b.

Therapy radiasi
Terapi radiasi masih digunakan secara luas setelah mastektomi parsial terapi
radiasi ini juga bisa efektif jika dikombinasikan dengan pembedahan
chemotherapy bagi wanita yang menderita kanker payudara lanjut atau tahap
III.
1)

Terapi eksternal blam


Terapi ini biasanya dilakukan selama hampir 5 minggu. Wanita akan
mengalami perpanjangan masa kelelahan dan depresi karena katabolisme
dan hilangnya jaringan. Ia juga dapat mengalami nausea, nyeri
epigastrium karena esophagitis transient dan batuk karena pneumoniasis
transient dan lymph oedema juga bisa terjadi.

2)

Terapi interstitial
Iridium needles (jarum iridium) dapat ditanamkan kedalam payudara
pasien dibawah pengawasan anestesi umum. Pasien ditempatkan dalam
suatu ruangan tunggal dan ia akan mengalami sedikit ketidaknyamanan
setelah implantasi. Terapi internal ditindaklanjuti dengan tindakantindakan pencegahan radiasi. Kemudian jarum diambil oleh dokter setelah
tiga hari dan pasien dihentikan. Kebutuhan-kebutuhan pasien sama dengan
kebutuhan-kebutuhan pasien yang mendapatkan therapi radiasi internal
lainnya.

c.

Khemoterapi
Terapi hormonal dengan tamoxipen citrate (nolvadek) dapat digunakan
sebagai suata adjuvant treatment bagi para wanita post menopause yang
memiliki reseptor estrogen tumor positif. Pengobatan dapat diberin baik
secara tersendiri maupun dikombinasikan dengan obat thermotherapy lainnya.
Suatu CMF chemotherapeutic regimen (cylophosphamide methotrexate
flouroeral) adalah lebih efektif digunakan bagi pada wanita pra menopause.
Obat tersebut digunakan bila nodus adalah positif.

B.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Klien dengan Post Mastectomy


1.

Dasar-Dasar Pengkajian
a. Integritas ego
gejala : setelah operasi mengingkari atau menolak perubahan-perubahan
gambaran tubuh dapat terjadi dalam bentuk pasien berbicara tentang
kanker dan mastektomi tetapi tidak pernah mengatakan kehilangan atau
ketakutannya dalam tingkatan emosi tertentu, perasaan tidak berdaya,
tidak mampu, menghindari pandangan pada insisi, perasaan marah, benci
dapat terjadi dan diproyeksikan pada staf wanita atau temannya, perasaan
terisolasi dan sendiri. Setelah pasien pulang tidak menutup kemungkinan
dia mengalami depresi.

b. Nyeri / kenyamanan
gejala : nyeri pada penyakit yang luas / metastasik ( nyeri lokal jarang
terjadi pada keganasan dini). Beberapa pengalaman ketidaknyamanan
pada

jaringan

payudara.

nyeri

sebelum

menstruasi

biasanya

mengindikasikan penykit fibrotik.


c. Keamanan
tanda : perdarahan, edema, eritema pada kulit sekitar
d. Seksualitas
Masalah tentang seksualitas / keintiman
Tanda : perubahan pada kontur / masa payudara, asimetris, kulit cekung,
berkerut, perubahan pada warna / tekstur kulit, pembengkakan, kemerahan
atau panas pada payudara.

2.

Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan rasa nyaman nyeri b. d prosedur pembedahan
b) Gangguan body image b. d prosedur bedah yang mengubah gambaran
tubuh
c) Gangguan mobilitas fisik b. d nyeri / ketidaknyamanan
d) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. d intake yang tidak
adekuat
e) Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b. d kelemahan fisik
f) Resiko tinggi infeksi b. d luka operasi

g) kekurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis operasi / therapi b. d


kurang informasi

3. perencanaan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d prosedur pembedahan
Tujuan umum : nyeri klien berkurang / hilang
Kriteria hasil : wajah tampak rilek, skala nyeri hilang (o), tanda vital
dalam batas normal.
Intervensi :
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas
2) Diskusikan sensasi masih adanya payudara normal
3) Bantu pasien menemukan posisi nyaman
4) Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktivaitas terapeutik
5) Dorong mbulasi dini dan penggunaan tehnik relaksasi
6) Tekan / sokong dada saat latihan nafas dalam
7) Kolabirasi pemberian analgetik sesuai indikasi

b. Gangguan body image b.d prosedur bedah yang mengubah gambran


tubuh.
Tujuan umu : gangguan body image teratasi

Kriteria hasil : menunjukan gerakan kearah penerimaan diri dalam situasi,


menyusun tujuan yang realistic dan secara aktif berpartisipasi dalam
program terapi
Intervensi :
1) Dorong pertanyaan tetnag siatuasi saat ini dan harapan yang akan
darting
2) Identifikasi masalah peran sebagai wanita , istri, ibu dan sebaginya
3) Dorong pasien untuk mengekpresikan perasaan missal : marah,
bermusuhan dan berduka
4) Berikan penguatan diri / program pengobatan
5) Berikan prostesis yang halus bila diindikasikan

c. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri / ketidaknyamanan


Tujuan umum : gangguan mobilitas fisik teratasi
Kriteria hasil : peningkatan kekuatan bagian tubuh yang sakit, klien
mampu melakukan aktivaitas secar mandiri
Intervensi :
1) Tinggikan lengan yang sakit sesuai indikasi
2) Biarkan psien menggerakan jari, perhatiakn sensasi dan warna tangan
yang sakit
3) Dorong pasien untuk menggunakan lengan untuk kebersihan diri
4) Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan

5) Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur


6) Tingkatkan latihan sesuai indikasi
7) Evaluasi adanya / derajat latihan sehubungan dengan nyeri dan
perubahan mobilitas sendi
8) Koordinasikan program latihan kedalam perawatan diri dan aktivitas
pekerjaan rumah
9) Bantu pasien untuk mengidentifikasikan tanda dan gejala tegangan
bahu
10) Berikan analgetik sesuai indikasi

d.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. d


intake yang tidak adekuat
Tujan umum : gangguan nutrisi tidak terjadi
Kriteria hasil : nafsu makan bertambah, klien menghabiskan satu porsi
makan, konjungtifa ananemis, Hb dalam batas normal, BB ideal
Intervensi
1) Kaji status nutrisi klien
2) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga pentingnya makan bagi
kesembuhan penyakit
3) Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi seringTimbang berat badan
4) Anjurkan klien untuk oral hygiene sebelum makan
5) Anjurkan klien untuk istirahat

6) Selidiki anoreksia, mual dan muntah


7) Kolaborasi dalam pemberian vitamin dan obat antiemetik
e.

Gangguan pemenuhan ADL b. d kelemahan fisik


Tujuan umum : gangguan pemenuhan ADL terpenuhi
Kriteria hasil : klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri, tidak
terlihat lemah, kuku tampak bersih dan pendek, klien dapat melakukan
personal hygiene secara mandiri, kekuatan otot 5
Intervensi
1) Kaji kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan
diri
2) Bantu klien dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan
3) Bantu dalam ambulasi dini
4) Evaluasi adanya / derajat latihan sehubungan dengan nyeri dan
perubahan mobilisasi sendi
5) Tingkatkan latihan sesuai indikasi dengan mengkaji kekuatan otot
6) Motivasi klien untuk melakukan kebersihan diri setiap hari

f.

Resiko tinggi infeksi b. d luka operasi


Tujuan umum : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : luka kering, leukosit normal (5000-10000/ul ), suhu dalam
batas normal (36,5-37,5 C ), tidak ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor,

rubor, tumor, fungsiolasea) tidak ada pus pada luka, sudah tampak
penyatuan luka
Intervensi:
1) Kaji luka post operasi
2) Observasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu, menggigil,
peningkatan nyeri
3) Perhatikan perawatan luka dengan tehnik steril, aseptik dan antiseptik
4) Lakukan ganti balutan setiap hari
5) Lihat insisi dan balutan, catat karakteristik nyeri
6) Monitor kadar leukosit
7) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik

g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, operasi / therapi b.d


kurang informasi
Tujuan umum : klien dapat mengetahui tentang kondisi, prognosis dan
penatalaksanaan penyakit
Kriteria hasil : mengatakan permohonan proses penyakit dan pengobatan,
berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi :
1) Kaji proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan
datang
2) Tunjukan penggunaan kompres intermiten sesuai kebutuhan

3) Anjurkan pijatan lembut pada insisi yang sembuh dengan minyak


4) Dorong pemeriksaan diri teratur pada payudara yang masih ada
5) Tekankan jadwal anjuran untuk mamografi
6) Tekankan pentingnya evaluasi medis teratur
7) Demonstrasikan latihan-latihan yang akan dilakukan
8) Jelaskan akibat kelelahan setelah operasi dan bantu pasien
merencanakan hari-harinya untuk beristirahat.