Anda di halaman 1dari 29

BAB I

STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. M

Umur

: 32 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pedagang

Alamat

: Pringsewu

Tanggal Masuk

: 22 Desember 2014

Tanggal Anamnesis

: 28 Desember 2014

ANAMNESIS (Autoanamnesis)
a. Keluhan Utama

: Nyeri pada pinggang kiri, saat kencing terasa


panas dan sedikit nyeri

b. Keluhan Tambahan

: Rasa tidak nyaman pada perut

c. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke poliklinik bedah RSAM dengan keluhan sakit
pinggang di sebelah kiri, saat kencing terasa panas dan sedikit nyeri serta
rasa tidak nyaman pada perut.
Sembilan bulan sebelum masuk RSMS, pasien mulai merasakan
sakit pinggang yang hilang timbul, sakit pinggang di sebelah kiri ini
dirasakan seperti ditusuktusuk, kumat-kumatan dan timbulnya tiba-tiba,
tetapi pasien menganggap sakit pinggangnya timbul bila terlalu lelah
beraktivitas. Nyeri ini timbul 4 sampai 5 kali sehari dan berlangsung
sekitar sepuluh hingga lima belas menit dan dirasakan memberat di
malam hari saat berbaring. Sakit pinggang kiri ini terkadang menjalar
keperut kiri. Keluhan berkurang bila sudah dipijat, tapi dapat muncul
lagi, begitu seterusnya, sehingga pasien sudah terbiasa dengan keadaan
ini dan pasien tidak memeriksakan diri ke dokter.
1

Enam bulan sebelum masuk rumah sakit pasien merasa sakit


pinggang kiri ini hanya berupa pegel-pegel pada pinggang kiri. Keluhan
ini dirasakan ketika pasien bekerja dilapangan yang menurutnya sangat
melelahkan. Pegel-pegel pada pinggang ini dirasakan pada saat aktifitas
maupun istirahat, tapi terutama dirasakan pada malam hari ketika pasien
istirahat (berbaring). Dan keluhan berkurang bila sudah dipijat, tapi
keluhan ini dapat muncul lagi, begitu seterusnya, sehingga pasien sudah
terbiasa dengan keadaan ini.
Pasien juga mengeluhkan saat kencing terasa panas dan anyanganyangan serta sedikit terasa nyeri. Kencingnya sering tapi sedikitsedikit, pada siang hari sekitar delapan sampai sepuluh kali, sehingga
mengganggu pekerjaan pasien sedangkan pada malam hari kencing dapat
sampai dua sampai tiga kali, warnanya kuning jernih. Ketika kencing
tidak pernah tiba-tiba macet.
Pasien mengaku jarang minum air putih, dalam satu hari hanya
minum 4 gelas belimbing. Satu bulan terakhir, keluhan dirasakan
semakin sering terjadi / hampir setiap hari dengan durasi nyeri yang lebih
lama. Bahkan disertai rasa tidak nyaman pada perut pasien. Hingga
akhirnya pasien memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Saat datang
kerumah sakit, pasien tidak demam, tidak merasa mual dan tidak muntah.
-

Pasien tidak pernah mengeluarkan butiran kecil seperti pasir saat


kencing, tidak pernah merasa mengeluarkan darah pada saat buang air
kecil serta tidak pernah berhenti tiba-tiba sewaktu berkemih. Pasien
buang air besar dengan lancar dan tidak ada keluhan.

d. Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat keluhan serupa

: disangkal.

Riwayat tekanan darah tinggi

: disangkal

Riwayat kencing manis

: disangkal.

Riwayat penyakit ginjal

: disangkal.

Riwayat batu saluran kencing

: disangkal.

Riwayat asam urat

: diterima.
2

Riwayat kencing nanah dan darah

Riwayat trauma di daerah pinggang, perut bagian atas: disangkal.

Riwayat operasi di daerah pinggang, perut bagian atas: disangkal.

: disangkal.

e. Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat penyakit serupa

: disangkal.

Riwayat tekanan darah tinggi

: disangkal.

Riwayat kencing manis

: disangkal.

Riwayat asam urat

: disangkal.

Riwayat penyakit ginjal

: disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan umum : Sedang.
Kesadaran

: Compos mentis.

Vital sign

:T
N

: 120/80 mmHg
: 84 x/mnt

RR : 24 x/mnt
S

: 36,1 C

1. Kulit

: Warna kulit sawo matang, turgor cukup.

2. Kepala

: Mesochepal, rambut hitam, distribusi merata, tidak


mudah dicabut.

3. Mata

Conjungtiva merah, sclera putih, pupil bulat, isokor,


diameter 3 mm, reflek cahaya (+/+).

4. Telinga

: Simetris, serumen (+/+) dalam batas normal.

5. Hidung

: bentuk biasa, septum di tengah, selaput mucosa basah.

6. Mulut

: gigi lengkap, bibir tidak pucat, tonsil dbn.

7. Leher

: trachea di tengah, kelenjar lymphoid tidak membesar,


kelenjar tiroid tidak membesar, tekanan vena jugularis
tidak meningkat.

8. Thorax
Jantung

:
: Ictus cordis tidak tampak dan tidak kuat angkat, batas
jantung dalam batas normal, S1>S2, regular, tidak ada
suara tambahan.

Paru-paru

: Tidak ada ketinggalan gerak, vokal fremitus kanan =


kiri, nyeri tekan tidak ada, sonor seluruh lapangan
paru, suara dasar vesikuler seluruh lapang paru, tidak
ada suara tambahan.

9. Abdomen

inspeksi

: datar

auskultasi

: peristaltik usus (+)

palpasi

: nyeri tekan (+) pada kuadran kiri atas,


Hepar dan Lien tidak teraba, ballotement (+),
murphy sign (-)

Perkusi

: tympani, tes pekak beralih (-)

10. Ekstremitas
Superior

: tidak ada deformitas, tidak ada oedema, tonus otot


cukup.

Inferior

: deformitas (-), jari tabuh (-), pucat (-), sianois (-)


oedema (-), tonus otot cukup.

B. Status Urologis
1.

Regio Costovertebrae

Inspeksi
Palpasi

Perkusi
2.

Kanan
Bulging (-)
Ginjal tidak teraba

Kiri
Bulging (+)
Ginjal tidak teraba

Nyeri tekan (-)

nyeri tekan (+)

Ballotement (-)
Nyeri ketok (-)

Ballotement (+)
Nyeri ketok (+)

Regio Suprasymphisis
Inspeksi

: Datar, tidak terdapat sikatrik.

Auskultasi

: Bising usus (+) normal.

Perkusi

: Timpani.

Palpasi

: Nyeri tekan kuadran kiri atas (+), ballotement (+).

3.

Regio Genitalia Eksterna


Inspeksi

: tidak merah, tidak bengkak.

Palpasi

: tidak ada darah, nanah dan batu yang ke luar dari


OUE, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Pemeriksaan Laboratorium:
a.

Darah Lengkap: Hb, lekosit, LED, eritrosit, hitung jenis lekosit,


ureum, kreatinin, GDS, SGOT, SGPT, PT, APTT

b.

Kultur urin

2.

Pemeriksaan radiologis :
a.

USG.

b.

BNO-IVP.

RESUME
Anamnesis :
5

Pasien pria usia 32 tahun.

Pasien mengeluh nyeri pada pinggang kiri berupa pegal-pegal pada


pinggang kiri sejak 9 bulan yang lalu dan semakin memberat sejak 1
bulan terakhir

Sakit pinggang disertai rasa tidak nyaman pada perut.

Sakit pinggang seperti ditusuk tusuk, kumat-kumatan, timbulnya tibatiba dan dapat hilang dengan sendirinya.

Sakit pinggang terkadang menjalar ke perut kiri.

Sakit pinggang terkadang berupa pegel-pegel pada pinggang kiri, sejak


enam bulan yang lalu.

Pasien juga mengeluhkan saat kencing terasa panas dan anyanganyangan serta sedikit terasa nyeri.

Pasien jarang minum air putih, satu hari hanya minum 4 gelas
belimbing.

Pasien tidak demam, tidak mual dan muntah.

Pasien merasa sedikit nyeri saat kencing, terasa panas dan merasa tidak
nyaman pada perut.saat buang air kecil.

Saat pasien buang air kecil, alirannya tidak pernah berhenti tiba-tiba.

Pasien tidak pernah mengeluarkan butiran kecil seperti pasir saat


berkemih.

Pasien tidak pernah mengeluarkan darah saat buang air kecil.

Pasien buang air besar dengan lancar tidak ada keluhan.

Pasien tidak ada riwayat operasi batu saluran kencing.

Pasien tidak ada riwayat trauma abomen bagian atas, dada dan
punggung.

DIAGNOSIS BANDING
1. Kolik renal e.c Urolithiasis sinistra
6

2. Upper tractus urinarius infection (UTI)


DIAGNOSIS KERJA
Kolik renal e.c Urolithiasis sinistra
TERAPI
Terapi Konservatif:
1.

Non farmakologis
a.

Pemasangan kateter urin trans uretra

b.

Diet rendah garam

c.

program latihan terencana (aktifitas/olah raga)

2.

Farmakologis
a.

Antibiotik broad spectrum: Cefotaxime 1 gr IV

b.

Analgesik: Asam mefenamat 500mg bila perlu

Terapi Operatif.

PROGNOSIS :
Dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kolik Renal


Kolik renal adalah nyeri yang disebabkan oleh obstruksi akut di ginjal,
pelvis renal atau ureter oleh batu. Nyeri ini timbul akibat peregangan,
hiperperitalsis, dan spasme otot polos pada sistem pelviokalises ginjal dan ureter
sebagai usaha untuk mengatasi obstruksi. Istilah kolik sebetulnya mengacu kepada
sifat nyeri yang hilang timbul (intermittent) dan bergelombang seperti pada kolik
bilier dan kolik intestinal namun pada kolik renal nyeri biasanya konstan. Nyeri
dirasakan di flank area yaitu daerah sudut kostovertebra kemudian dapat menjalar
ke dinding depan abdomen, ke regio inguinal, hingga ke daerah kemaluan. Nyeri
muncul tiba-tiba dan bisa sangat berat sehingga digambarkan sebagai nyeri
terberat yang dirasakan manusia seumur hidup. Kolik renal sering disertai mual
dan muntah, hematuria, dan demam, bila disertai infeksi.1
2.2. Faktor Penyebab Kolik Renal
Faktor yang menyebabkan terjadinya kolik renal adalah batu ginjal
(nephrolithiasis). Batu ginjal umumnya tanpa gejala kecuali batu tersebut sudah
berada di kaliks, pelvis renal, atau ureter. Pembentukan batu ginjal diduga
berhubungan dengan gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran
kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya
batu ginjal pada seseorang yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor
intrinsik, yaitu faktor yang berasal dari tubuh manusia itu sendiri, terdiri dari
faktor genetik, keturunan, usia, ras dan jenis kelamin. Faktor ekstrinsik, yaitu

faktor yang berasal dari lingkungan sekitar, antara lain adalah faktor geografi,
iklim, asupan air, diet dan pekerjaan.
2.3. Nefrolitiasis
Batu ginjal adalah massa keras seperti batu yang berada di ginjal dan
salurannya dan dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih,
atau infeksi.

Gambar 1. Salah satu letak Batu Ginjal


2.3.1 Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara
epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu
keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh
yang berasal dari lingkungan sekitarnya.5
Faktor intrinsik itu antara lain adalah :5
1.

Herediter (keturunan)
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.

2.

Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.

3.

Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan
pasien perempuan.

Beberapa faktor ekstrinsik diantaranya adalah:


1.

Geografi
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih
yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagi daerah
stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan
hampir tidak dijumpai penyakit batu sauran kemih.

2.

Iklim dan temperatur

3.

Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air
yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.

4.

Diet
Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih.

5.

Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas atau sedentary life.

2.3.2 Patofisiologi
Proses pembentukan batu saluran kemih. Secara batu dapat terbentuk
di seluruh saluran kemih terutama pada tempat-tempat yang sering mengalami
hambatan aliran urin (stasis urin), yaitu pada sistem kalises ginjal atau buli-buli.
Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis utero-pelvis), divertikel,
obstruksi infravasika kronis seperti pada hiperplasia prostat benigna, striktura dan
buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya
pemnbentukan batu.5
Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik
maupun anorganik yang terlarut di dalam urin. Kristal-kristal tersebut tetap berada
dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urin jika tidak ada keadaankeadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal

10

yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang


kemudian akan mengadakan agregasi dan menarik bahan-bahan lain sehingga
menjadi kristal yang lebih besar. Meskipun ukurannya cukup besar, gregasi kristal
masih rapuh dan belum cukup mampu membuntu saluan kemih. Untuk itu agregat
kristal menempel pada epitel saluran kemih (membentuk retensi kristal) dan dari
sini bahan-bahan lain diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang
cukup besar untuk menyumbat saluran kemih.5
Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah dari jenis
urat, asam urat, oksalat, fosfat, sistin dan xantin. 6 Lebih dari 80% batu saluran
kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupun
dengan fosfat, menmbentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat.5
Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang
jelas. Faktor predisposisi berupa stasis, infeksi, dan benda asing. Infeksi, stasis,
dan litiasis merupakan faktor yang saling memperkuat sehingga terbentuk
lingkaran setan atau sirkulus visiosus.6
stasis

Batu

Radang

Gambar 2. Lingkaran setan pada Nefrolitiasis


2.3.3 Nefrolitiasis dan kolik renal
Rasa nyeri akibat batu ginjal dan saluran kemih pada umumnya bersifat
kolik dimulai pada bagian tengah dari bagian belakang tubuh kita. Rasa nyeri
yang dihasilkan oleh batu ginjal dan saluran kemih disebabkan oleh pelebaran,
peregangan dan kejang otot dari ginjal dan saluran kemih yang disebabkan oleh
osbtruksi/sumbatan pada saluran ginjal dan saluran kemih. Pada ureter,
peningkatan gerak peristaltik dan kejang otot dapat berkontribusi dalam timbulnya
nyeri akibat batu.

11

Peradangan lokal, iritasi dan edema yang disebabkan oleh adanya batu di
lokasi obtruksi/sumbatan juga berkontribusi dalam timbulnya nyeri kolik melalui
aktivitas resptor kimia dan peregangan submukosa ginjal dan saluran kemih.
Nyeri kolik tergantung pada ambang nyeri individu, persepsi, kecepatan, dan
derajat perubahan tekanan hidrostatik dalam ureter proksimal dan renal pelvis.
Gerakan peristaltik dari saluran kemih dan saluran ginjal serta migrasi dari batu
menyebab perubahan posisi batu sehingga dapat menimbulkan kembuhnya nyeri
kolik dan perubahan posisi dari nyeri kolik.
Tingkat

keparahan

nyeri

tergantung

pada

derajat

dan

lokasi

obstruksi/sumbatan, bukan pada ukuran batu. Pembengkakan dalam struktur ginjal


menyenbabkan peregangan kapsul ginjal, memperbesar ukuran ginjal dan
meningkatan permeabilitas kapiler ginjal. Dalam 24 jam setelah osbtruksi ureter
lengkap, tekanan hisdrostatis ginjal menurun karena pengurangan peristaltik
ureter,

penurunan aliran darah afrteri ginjal, yang menyebabkan penurunan

produksi urin yang sesuai pada sisi yang terkena pada penimbunan cairan serta
pembengkakan ginjal.
2.4. Kolik Renal Pada Pekerja
Kolik renal yang diakibatkan oleh nefrolitiasis pada pekerja banyak
disebabkan oleh pekerja yang bekerja di lingkungan panas, pekerja yang terpapar
zat toxic, dan pekerja yang kerja nya banyak duduk.5,7,8
2.4.1. Faktor suhu lingkungan yang panas8
Tekanan panas atau heat stress adalah batasan kemampuan penerimaan
panas yang diterima pekerja dari konstribusi kombinasi metabolisme tubuh akilbat
melakukan pekerjaan dan faktor lingkungan (seperti temperatur udara,
kelembaban, pergerakan udara dan radiasi perpindahan panas) dan pakaian yang
digunakan. Keadaan heat stress ringan ataupun sedang dapat menyebabkan rasa
tidak nyaman dan berakibat buruk terhadap penampilan kerja dan keselamatan,
meskipun hal ini tidak menimbullkan kerugian dalam hal kesehatan pekerja. Pada
saat heat stress mendekati batas toleransi tubuh, risiko terjadinya kelainan
kesehatan menyangkut panas akan meningkat.
Banyak variabel yang berkontribusi terhadap heat stress menyangkut:8

12

Lingkungan yang terdiri atas temperatur udara, pergerakan udara


kelembaban dan radiasi panas;

Pekerja, termasuk terjadinya aklimatisasi, jumlah cairan tubuh, pakaian,


dan keadaan kesehatan pekerja;

Pekerjaan, berupa beban keja dan waktu kerja. Untuk mencegah terjadinya
heat stress, pekerja dan majikan harus mampu mengidentifikasi semua
sumber panas dan memahami bagaimana tubuh memindahkan panas.
Pengukuran Heat Stress. Sesuai Keputusan Menteri Tenaga

Kerja No 51, tahun 1999 tentang NAB faktor fisika di tempat kerja
menggunakan parameter ISBB (Indeks Suhu Basah dan Bola)
dengan terminasi Inggris WBGT (Wet Bulb Globe Temperature Index)
atas ketentuan sebagai berikut:

Iklim kerja : hasil perpaduan antara suhu, kelembaban,


kecepatan gerakan udara, dan panas radiasi dengan
tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai
akibat pekerjaannya.

Nilai Ambang Batas (NAB) : standar faktor tempat kerja


yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan
penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan
sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40
jam seminggu.

Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) : parameter untuk menilai


tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan
antara suhu udara kering, suhu basah alami, dan suhu
bola.

Suhu udara kering (dry bulb temperature) : suhu yang


ditunjukkan oleh termometer suhu kering.

Suhu Basah Alami (natural wet bulb temperature) : suhu yang


ditunjukkan oleh termometer bola basah alami. Merupakan
suhu

penguapan

air

yang

13

pada

suhu

yang

sama

menyebabkan terjadinya keseimbangan uap air di udara,


suhu ini biasanya lebih rendah dari suhu kering.

Suhu Bola (globe temperature) : suhu yang ditunjukkan oleh


termometer bola. Suhu ini sebagai indikator tingkat radiasi.

ISBB untuk pekerjaan diluar ruangan dengan panas radiasi


adalah :
ISBB = 0,7 Suhu Basah Alami + 0,2 Suhu Bola + 0,1
Suhu Kering
ISBB untuk pekerjaan didalam ruangan tanpa panas radiasi
adalah :
ISBB = 0,7 Suhu Basah Alami + 0,3 Suhu Bola
NAB iklim kerja yang menggunakan parameter ISBB dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. NAB Iklim Kerja
Pengaturan Waktu Kerja

ISBB (0C)

Setiap jam
Waktu Kerja
Kerja

Waktu Istirahat

terus

menerus
jam sehari)
75%
50%
25%

Ringan
30.0

Beban Kerja
Sedang
Berat
26.7
25.0

30.6
31.4
32.2

28.0
29.4
31.1

(8
25%
50%
75%

25.9
27.9
30.0

Sumber: KepMenaker 51/1999 pasal 2

OSHA (Occupational Safety and Health Administration) dalam Technical


Manual nya mengatakan pekerjaan yang menyangkut temperatur udara yang
tinggi, radiasi sumber panasa atau aktivitas fisik yang berat memiliki potensi
tinggi dalam menimbulkan heat stress pada pekerja yang terlibat dalam kegiatan
kerja tersebut, seperti pada pekerjaan pengecoran besi, pengecoran logam lain,
pembakaran batu bata dan pabrik keramik, pabrik gelas atau kaca, pabrik
pengolahan bahan karet, perlengkapa listrik (terutama ruang ketel uap), dapur

14

(bakeries), pabrik gula-gula, dapur komersil, binatu, pengalengan makanan,


pabrik kimia, pertambangan, peleburan, dan terowongan uap.9
Heat strain merefleksikan perpanjangan seseorang dalam melindungi diri
untuk mempertahankan panas tubuh total dan temperatur tubuh inti dalam batasan
yang dapat bekerja dan hidup. Hal ini berupa karakteristik yang unik pada setiap
manusia, dan bahkan nantinya dapat merubah keadaan dalam berjalannya waktu.
Heat strain adalah sebagai akibat dari penyesuaian terhadap heat stress. Hal ini
bukanlah pengukuran atas keberhasilan penyesuaian yang terjadi. Pengukuran
kotor atas heat strain menyangkut temperatur tubuh inti, denyut jantung, dan
pengeluaran keringat. Respon penting lainnya adalah alokasi dari volume cairan
tubuh, konsentrasi elektrolit dalam ruang intra dan ekstra sellulea, tingkatan
hormon dan tekanan darah. Heat strain tidak dapat diprediksi dengan nyata dari
heat stress. Hal ini menunjukkan bahwa perhitungan keadaan lingkungan tidak
dapat secara akurat memprediksi heat strain, tingkat ketidaknyamanan, ataupun
derajat bahaya yang tejadi atas individu pada waktu tertentu. Jarak yang dapat
dipediksi secara luas dapat diterangkan oleh faktor risiko masing-masing orang.
Hal ini merupakan kekuatan unik masing-masing manusia dan kelemahannya
dalam mendistribusi panas tubuh dan menyebarkan panas tersebut ke
lingkungannya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengaturan panas tubuh yaitu
kesehatan, umur dan ukuran kerja;10

Ukuran kerja (work rate). merupakan faktor utama yang


menunjukkan berapa banyak panas yang dihasilkan pada
temperatur inti tubuh. Semakin kita menggunakan otot, maka
semakin banyak panas yang terjadi. Pada saat kita berhenti untuk
istirahat, kekuatan produksi panas akan turun secara drastis.
Namun begitu menyingkirkan panas yang telah tercipta yang
tersimpan di temperatur inti bergantung pada beberapa faktor dan
memerlukan beberapa waktu. Hal penting yang harus diingat
bahwa jalan tercepat untuk mnurunkan kecepatan produksi panas
adalah dengan mengurangi lama bekerja. Pengaturan waktu

15

istirahat adalah strategi penting dalam pengontrolan potential heat


stress.

Umur, secara umum pekerja yang berumur 40 tahun ke atas dalam


ketidakberuntungan dibanding pekerja yang lebih muda dalam
bekerja

rutin

di

lingkungan

panas.

Kekuatan

maksimum

pemompaan jantung menurun dengan pertambahan umur, yang


akan membatasi kemampuan tubuh untuk menyalurkan panas dari
inti tubuh ke permukaan kulit. Efisiensi mekanisme pengeluaran
keringat yang biasanya penting dalam banyaknya panas yang
berpindah dari kulit selama bekerja berat juga berkuang dengan
bertambahnya umur. Pekerja yang lebih tua umumnya berkeringat
lebih lama dan berkeringat dengan kecepatan yang lambat
dibanding pekerja muda. Konsekuensinya, pekerja tua cenderung
meningkatkan panas inti tubuh selama bekerja di tempat panas dan
membutuhkan waktu istirahat yang lebih.

Ukuran tubuh, produksi panas pada inti temperatur


tubuh berhubungan dengan berat badan dan massa
tubuh. Penyebaran panas melalui kulit merupakan
fungsi yang terjadi dalam mengeliminasi panas.
Pekerja

yang

gemuk

mungkin

memiliki

risiko

terjadinya kelainan akibat panas dari pada pekerja


dengan permukaan kulit yang lebih banyak terhadap
perbandingan

berat

badan.

Meskipun

seseorang

yang sangat sehat, pekerja dengan kondisi yang fit


tetap dapat mengalami gejala heat strain apabila baru
bekerja pada kondisi heat stress. Gejala yang timbul
dapat berupa pening ringan, berdebar dan dehidrasi.
Apabila pekerja melanjutkan bekerja berhari-hari
dalam kondisi heat stress, gejala heat strain yang terjadi
akan berkurang sebagai akibat terjadinya proses
aklimatisasi panas.

16

Cairan dan Garam, oleh sebab pengeluaran keringat


merupakan proses pelepasan panas tubuh dalam
paparan panas, diperlukan penggantian cairan yang
konstan atas keluarnya keringat. Apabila pengeluaran
cairan dan garam atas proses keringat tidak terganti,
dehidrasi

yang

berat

dapat

terjadi.

Dehidrasi

merupakan keadaan yang terjadi pada tubuh apabila


masukan cairan tidak cukup untuk mengganti cairan
yang keluar melalui urin, pernafasan dan proses
keluarnya keringat. Rasa haus saja tidak dapat
menjadi patokan atas jumlah kehilangan cairan
akibat bekerja secara terus menerus pada lingkungan
panas, hal ini merupakan indikator buruk untuk
mengetahui

tingkat

dehidrasi

yang

terjadi.

Penyaluran air dingin yang banyak harus tersedia


bagi pekerja yang berada di lingkungan kerja panas.
Mereka harus diingatkan untuk minum secara teratur
dari pada menunggu hingga adanya rasa haus.
Minum segelas air setiap 15 menit hingga 20 menit
bekerja

adalah

cara

yang

baik

untuk

mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dalam


kondisi

heat

stress.

Kebutuhan

cairan

bervariasi

bergantung kepada temperatur (heat stress), pakaian


yang digunakan, tingkat aklimatisasi, dan tingkat
aktifitas

fisik

yang

dilakukan. Kebutuhan

cairan

sehari-hari bagi seorang yang beraktivitas pasif


hingga yang sangat aktif berkisar 2-4 liter per hari
pada lingkungan yang normal, dan 4-10 liter per hari
pada lingkungan yang panas.
Jika suhu terlalu tinggi, yang disebut dengan lingkungan
kerja

panas,

selain

mengganggu

kenyamanan,

juga

mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh; jika


17

jumlah cairan dan elektrolit yang masuk tidak cukup, produksi


urin akan menurun dan kepekatan urin meningkat

(hipersatu-

rasi/supersaturasi). Keadaan ini bila berlangsung cukup lama


dapat mendorong terbentuknya antara lain kristal dan batu asam
urat di saluran kemih.11
Keadaan

supersaturasi

adalah

kekuatan

energi

yang

diperlukan dalam pembentukan phase padat dalam urin, dan


jalan

praktis

untuk

menguranginya

adalah

dengan

meningkatkan volume urin. Demikian juga penelitian yang telah


dilakukan Borghi, 1993 terhadap pekerja pabrik gelas yang
terpapar panas dengan suhu 29-310C WBGT di lingkungan kerja
selama lebih dari 5 tahun menemukan batu asam urat di saluran
kemih pada sekitar 38,8 % pekerja yang mengeluh pegal atau
nyeri di daerah pinggang dan/atau rasa panas atau sakit saat
buang air kecil. Studi ini memastikan bahwa dehidrasi kronis
menciptakan faktor risiko berbahaya, terutama terhadap batu
asam urat, dan masukan cairan yang adekuat dianjurkan dalam
pekerjaan yang terpapar panas.12
Telah banyak diketahui beberapa tahun ini prevalensi batu
ginjal menunjukkan peningkatan pada daerah dengan cuaca
panas. Baru-baru ini dua studi epidemiologi memastikan bahwa
prevalensi batu ginjal di USA lebih tinggi terjadi di daerah
tenggara USA dari pada di bagian barat laut USA. Catatan
menyangkut jumlah penderita batu pada tentara ketika mereka
dipindahkan

ke

daerah

yang

beriklim

panas

jumlahnya

meningkat nyata.12
Dalam penelitian yang mempelajari insiden urinary lithiasis
(batu saluran kemih) dan perubahan metabolik pada pekerja lakilaki di industri besi yang terpapar panas pada lingkungan
kerjanya memperoleh hasil dari 10.326 pekerja, 181 (1,75 %)
telah mengalami sedikitnya sekali terjadi urinary stone. Dari yang
terkena, 103 orang yang bekerja di lingkungan panas (8,0 %) dan
18

78 bekerja pada temperatur ruang (0,9 %; P<0,001). Sehingga


kesimpulannya bahwa pekerja pada temperatur panas sembilan
kali kemungkinan memiliki risiko terjadinya lithiasis.
Perihal kristalisasi urin,

kecuali kristal jenis cystine dan

beberapa yang lain, hampir semua kristal yang ditemui pada


sedimen urin adalah melampaui nilai klinis. Hal ini cenderung
menghubungkan kristal urin dengan risiko terjadinya batu
saluran kemih, namun mayoritas pasien dengan kristalisasi urin
tidak memiliki dan tidak akan membentuk batu saluran kemih.
Kristal yang berhubungan dengan batu saluran kemih (urolithiasis)
adalah terkecuali cystine, sering dan mudah ditandai. Kalsium
ditemui pada 80 hingga 95% batu ginjal, kebanyakan sebagai
Oksalat atau kristal Phosphate. Banyak batu yang tidak terdiri dari
satu jenis bahan (homogeneous). Beberapa memiliki inti yang terdiri
dari komposisi berbeda dari lingkungannya.
Hal yang tidak mungkin adalah melarutkan jumlah Kalsium,
Phosphate, dan Oksalat dalam spesimen urin 24 jam dengan 1
hingga 2 liter air. Oleh karena itu dipastikan bahwa ada zat
inhibitor (penghambat) pada saat kristalisasi terjadi. Diketahui
inhibitor kristalisasi urin adalah pyrophosphate, citrate, magnesium, dan
beberapa makromolekul tertentu. Protein Tamm-Horsfall dipercaya
sebagai inhibitor penting pada Kalsium Oksalat.
Terbentuknya kristal dapat terjadi oleh :

Penambahan konsentrasi diluar kapasitas supersaturasi.


Situasi ini sebagai hasil penurunan kekentalan urin seperti
pada kasus kurangnya masukan cairan. Keadaan ini juga
dapat

disebabkan

oleh

pengeluaran

cairan

yang

berlebihan.

Penurunan

kapasitas

supersaturasi.

Situasi

ini

dapat

disebabkan oleh turunnya kepekatan (konsentrasi) inhibitor


(zat penghambat), netralisasi dari zat inhibitor oleh adanya
elektrolit ataupun perubahan pH urin.
19

Adanya jenis kristal sebagai promotor akan timbulnya


kristalisasi jenis lain. Kristalisasi Kalsium Oksalat dapat
didukung oleh asam urat bentuk amorphous merupakan
contoh atas penomena ini. Situasi ini dianggap sebagai
hasil dari kompetisi inhibitor Tamm-Horsfall protein. Asam urat
dan Kalsium Oksalat yang melekat pada mucus adalah hal
yang sering terlihat.

2.4.2. Faktor paparan Zat Toxic


Beberapa penelitian di negara barat menunjukkan ada bukti pembentukan
batu ginjal pada pekerja baterai akibat tepapapr kadmium. Penyakit batu ginjal
merupakan penyebab penting di kalangan pekerja baterai di negara barat cuti dari
pekerjaan mereka. Sebuah survei kesehatan Swedia memberikan angka kejadian
kumulatif batu ginjal dari 8-9% pada pria dan 3-2% di wanita. Insiden tahunan
meningkat selama tahun 1960-an dan 70-an dan telah diperkirakan sekitar 1% di
pada laki-laki dan 0 - 4% pada wanita. Serupa angka prevalensi dan insiden telah
dilaporkan dari investigasi yang dilakukan di Norwegia, Denmark, dan Amerika
Serikat faktor usia, keluarga dan faktor gizi telah diperkirakan sebagai faktor
etiologi dan beberapa peneliti telah mencatat bahwa hiperkalsiuria merupakan
faktor risiko lain untuk penyakit batu ginjal. Studi eksposur pekerja yang mungkin
terkait dengan peningkatan prevalensi batu ginjal masih sedikit. Sebuah penelitian
di Jepang melaporkan lebih tinggi pada rata-rata kejadian batu saluran kemih
antara penambang dan penambang batu, namun tidak ada upaya lebih lanjut yang
dilakukan untuk membentuk tim yang bertanggung jawab terhadap paparan yang
dialami oleh pekerja. Sebuah penelitian di Swedia melaporkan bahwa riwayat
batu ginjal lebih umum terjadi pada pekerja dengan konsesntrasi cadimum yang
tinggi pada urin.7
Kesimpulan salah satu studi menegaskan laporan sebelumnya bahwa
terdapat prevalensi batu ginjal yang lebih tinggi pada pekerja yang terpapar
kadmium. Selain itu, Hasil yang ditemukan memperkuat temuan sebelumnya
dalam menunjukkan besarnya paparan cadmium dengan risiko urolitiasis. Hasil

20

demikian menunjukkan bahwa batu ginjal merupakan kondisi yang dapat terjadi
pada pekerja yang sering terpapar dengan cadmium.7
2.4.3. Faktor posisi kerja (posisi duduk)
Faktor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu, mencakup infeksi,
statis urin, periode immobilisasi (drainase renal yang lambat dan perubahan
metabolisme kalsium). Salah satu faktor pembentukan batu ginjal yang berkaitan
dapat menimbulkan danya kolik renal adalah posisi kerja. Posisi duduk sering
dikaitkan dengan pembentukan batu pada ginjal.5 Posisi duduk membuat
terjadinya pembentukan batu akibat stasis urin semakin cepat. Pembentukan batu
ini juga dipercepat dengan dehidrasi akibat pekerja yang sedikit minum dan
terpapar suhu panas akibat mesin, misalnya pekerjaan pengendara (supir) mobil
dan pilot.
Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan rendah dan
juga peningkatan bahan-bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau urin
statis, menyediakan sarang untuk pembentukan batu.
2.5. Penanganan Kolik renal Pada Pekerja
Penanganan

kolik renal pada pekerja yang paling efektif adalah

pencegahan dan pengobatan terhadap batu ginjal sebagai pencetus terjadinya


gejala kolik renal.
Pemasukan cairan yang tinggi adalah pengobatan tertua
dalam perawatan batu ginjal, dan sejak beberapa dekade yang
lalu, hal ini merupakan pencegahan yang dilakukan para klinisi
dalam penyembuhan kasus batu.
Volume urin yang rendah harus dianggap sebagai faktor
risiko yang sesungguhnya, menyangkut kedua hal terbentuknya
batu ginjal dan pengulangan batu. Peningkatan volume urin
disebabkan masukan cairan yang tinggi menghasilkan pengaruh
menguntungkan dalam terjadinya kristalisasi kalsium oksalat dan
tidak menurunkan aktifitas zat inhibitor (penghambat) alami.
Masukan air yang mencukupi dan mungkin cairan lain seperti

21

kopi, teh, bir, dan anggur memiliki efek pencegahan terhadap


terjadinya batu ginjal dan kejadian ulangan. Namun masukan
cairan yang banyak terutama air putih, adalah masih merupakan
hal terkuat dan terekonomis dalam pencegahan terjadinya batu
ginjal, dan hal ini selalu tidak digunakan oleh pasien-pasien yang
pernah mengidap batu ginjal.
Pada

penelitiannya

Borghi

menemukan

peningkatan

volume urin menjadi 1 sampai 2 liter per hari memperlihatkan


keadaan tingkat kalsium urin pada 400mg/hari, oksalat pada 25
mg/hari, dan asam urat urin pada 700 mg/hari dan pH 5,8;
menghasilkan beberapa variasi sebagai berikut : CaOx Relative
Saturation (RS) dari 12,87 menjadi 6,58, CaP RS dari 2,37 menjadi
0,86, Asam urat RS dari 4,02 menjadi 2,06.
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih secepatnya
harus dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi
untuk melakukan tindakan atau terapi pada batu saluran kemih adalah jika batu
telah menimbulkan obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena suatu indikasi
sosial. Obstruksi karena batu saluran kemih yang telah menimbulkan hidroureter
atau hidronefrosis dan batu yang sudah menimbulkan infeksi saluran kemih, harus
segera dikeluarkan.5
Kadang kala batu saluran kemih tidak menimbulkan penyulit seperti
diatas, namun diderita oleh seorang yang karena pekerjaannya (misalkan batu
yang diderita oleh seorang pilot pesawat terbang) memiliki resiko tinggi dapat
menimbulkan sumbatan saluran kemih pada saat yang bersangkutan sedang
menjalankan profesinya dalam hal ini batu harus dikeluarkan dari saluran kemih.5
Pilihan terapi konservatif antara lain untuk batu ureter mempunyai
diameter <5 mm. Seperti disebutkan sebelumnya, batu ureter <5 mm bisa keluar
spontan. Terapi bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin
dengan pemberian diuretikum, berupa NSAID. Batas lama terapi konservatif
adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat lain untuk observasi adalah berat
ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik
berulang atau ISK menyebabkan observasi bukan merupakan pilihan. Begitu juga

22

dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal


tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap
obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan intervensi.
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy). Berbagai tipe mesin
ESWL bisa didapatkan saat ini. Walau prinsip kerjanya semua sama, terdapat
perbedaan yang nyata antara mesin generasi lama dan baru, dalam terapi batu
ureter. Pada generasi baru titik fokusnya lebih sempit dan sudah dilengkapi
dengan flouroskopi, sehingga memudahkan dalam pengaturan target/posisi
tembak untuk batu ureter. Hal ini yang tidak terdapat pada mesin generasi lama,
sehingga pemanfaatannya untuk terapi batu ureter sangat terbatas. Meskipun
demikian mesin generasi baru ini juga punya kelemahan yaitu kekuatan
tembaknya tidak sekuat yang lama, sehingga untuk batu yang keras perlu
beberapa kali tindakan.

Gambar 3. Proses ESWL


Dengan ESWL sebagian besar pasien tidak perlu dibius, hanya diberi obat
penangkal nyeri. Pasien akan berbaring di suatu alat dan akan dikenakan
gelombang kejut untuk memecahkan batunya Bahkan pada ESWL generasi
terakhir pasien bisa dioperasi dari ruangan terpisah. Jadi, begitu lokasi ginjal
sudah ditemukan, dokter hanya menekan tombol dan ESWL di ruang operasi akan
bergerak. Posisi pasien sendiri bisa telentang atau telungkup sesuai posisi batu
ginjal. Batu ginjal yang sudah pecah akan keluar bersama air seni. Biasanya
pasien tidak perlu dirawat dan dapat langsung pulang.
ESWL ditemukan di Jerman dan dikembangkan di Perancis. Pada Tahun
1971, Haeusler dan Kiefer memulai uji coba secara in-vitro penghancuran batu
ginjal menggunakan gelombang kejut. Tahun 1974, secara resmi pemerintah
Jerman memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL. Kemudian pada awal
23

tahun 1980, pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich
menggunakan mesin Dornier Lithotripter HMI. Kemudian berbagai penelitian
lanjutan dilakukan secara intensif dengan in-vivo maupun in-vitro. Barulah mulai
tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di Rumah Sakit di Jerman. Di
Indonesia, sejarah ESWL dimulai tahun 1987 oleh Prof.Djoko Raharjo di Rumah
Sakit Pertamina, Jakarta. Sekarang, alat generasi terbaru Perancis ini sudah
dimiliki beberapa rumah sakit besar di Indonesia seperti Rumah Sakit Advent
Bandung dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan anakanak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada kemungkinan terjadi
kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang valid, untuk wanita di
bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya
Endourologi.Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal
untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan
kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan
langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui
insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara
mekanik, dengan memakai energi hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan
energi laser. Beberapa tindakan endourologi antara lain:

PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) yaitu mengeluarkan batu yang


berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke
sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau
dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. PNL yang
berkembang sejak dekade 1980-an secara teoritis dapat digunakan sebagai
terapi semua batu ureter. Tapi dalam prakteknya sebagian besar telah
diambil alih oleh URS dan ESWL. Meskipun demikian untuk batu ureter
proksimal yang besar dan melekat masih ada tempat untuk PNL. Prinsip
dari PNL adalah membuat akses ke kalik atau pielum secara perkutan.
Kemudian melalui akses tersebut kita masukkan nefroskop rigid atau
fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil secara
utuh atau dipecah dulu. Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir
pasti dapat diambil atau dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena

24

ureter bisa dilihat dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan
segera dapat diketahui berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL
perlu keterampilan khusus bagi ahli urologi. Sebagian besar pusat
pendidikan lebih banyak menekankan pada URS dan ESWL dibanding
PNL.

Litotripsi (untuk memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan


memasukkan alat pemecah batu/litotriptor ke dalam buli-buli),

Ureteroskopi atau uretero-renoskopi. Keterbatasan URS adalah tidak bisa


untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga perlu alat
pemecah batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan
jenis pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masing-masing
operator dan ketersediaan alat tersebut. Pengembangan ureteroskopi sejak
tahun 1980 an telah mengubah secara dramatis terapi batu ureter.
Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu ultrasound, EHL, laser dan
pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter. Juga batu ureter dapat
diekstraksi langsung dengan tuntunan URS. Dikembangkannya semirigid
URS dan fleksibel URS telah menambah cakupan penggunaan URS untuk
terapi batu ureter.
Bedah Terbuka. Beberapa variasi operasi terbuka untuk batu ureter

mungkin masih dilakukan. Tergantung pada anatomi dan posisi batu,


ureterolitotomi bisa dilakukan lewat insisi pada flank, dorsal atau anterior.
Meskipun demikian dewasa ini operasi terbuka pada batu ureter kurang lebih
tinggal 1 -2 persen saja, terutama pada penderita-penderita dengan kelainan
anatomi atau ukuran batu ureter yang besar.
Pencegahan. Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan
selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya
kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% per tahun atau
kurang lebih 50% dalam 10 tahun. Pencegahan yang dilakukan adalah
berdasarkan atas kandungan unsur yang menyusun batu saluran kemih yang
diperoleh dari analisis batu. Pada umunya pencegahan itu berupa: (1) menghindari
dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakan produksi urine sebanhyak 2-3 liter
perhari, (2) diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu, (3)

25

aktivitas harian yang cukup dan (4) pemberian medikamentosa. Beberapa diet
yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah: (1) rendah protein karena
protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan suasana urin
menjadi lebih asam, (2) rendah oksalat, (3) rendah garam karena natriuresis akan
memacu timbulnya hiperkalsiuri dan (4) rendah purin. Diet rendah kalsium tidak
dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperkalsiuri absorbtif tipe II.5
Dampak dan Komplikasi. Dibedakan komplikasi akut dan komplikasi
jangka panjang. Komplikasi akut yang sangat diperhatikan oleh penderita adalah
kematian, kehilangan ginjal, kebutuhan transfusi dan tambahan intervensi
sekunder yang tidak direncanakan. Obstruksi adalah komplikasi dari batu ginjal
yang dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis dan kemudian berlanjut dengan
atau tanpa pionefrosis yang berakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena.
Data kematian, kehilangan ginjal dan kebutuhan transfusi pada tindakan batu
ureter memiliki risiko sangat rendah. Komplikasi akut dapat dibagi menjadi yang
signifikan dan kurang signifikan. Yang termasuk komplikasi signifikan adalah
avulsi ureter, trauma organ pencernaan, sepsis, trauma vaskuler, hidro atau
pneumotorak, emboli paru dan urinoma. Sedang yang termasuk kurang signifikan
perforasi ureter, hematom perirenal, ileus, stein strasse, infeksi luka operasi, ISK
dan migrasi stent.

26

BAB III
KESIMPULAN
Kolik renal adalah nyeri yang disebabkan oleh obstruksi akut di ginjal,
pelvis renal atau ureter oleh batu. Salah satu faktor risiko terjadinya batu ginjal
dan menyebabkan renal kolik adalah pekerjaan. Pekerjaan yang banyak duduk,
terpapar suhu panas, dan terpapr zat toxic seperti kadmium telah terbukti memicu
terbentuknya batu ginjal.
Penanganan

kolik renal pada pekerja yang paling efektif adalah

pencegahan dan pengobatan terhadap batu ginjal sebagai pencetus terjadinya


gejala kolik renal. Pemasukan cairan yang tinggi adalah pengobatan
tertua dalam perawatan batu ginjal, dan sejak beberapa dekade
yang lalu, hal ini merupakan pencegahan yang dilakukan para
klinisi dalam penyembuhan kasus batu. Penanganan lebih lanjut
apabila ukuran batu sdauh menyebabkan obstruksi dan infeksi
yang biasanya dialami pada pekerja yang sering duduk seperi
pilot pesawat terbang.

27

DAFTAR PUSTAKA

Bahdarsyam. Spektrum bakteriologik pada berbagai jenis batu saluran


kemih bagian atas. [online] 2003 [cited on Mei 14 2010]. Available from: URL:
http://www.USUdigitallibrary/patologiklinik/FKUSU.pdf
Cupisti A, Pasquali E, Lusso S, Carlino F, Orsitto E, Melandri R. Renal
colic in Pisa emergency department: epidemiology, diagnostics and treatment
patterns. [online] 2008 Apr 24 [cited on Mei 14 2010]. Available from: URL:
http://www.ncbi.literature/pubmed.htm
Glatter RD. Renal colic and dietary recommendation. [online] 2009 Oct 15
[cited
on
Mei
14
2010].
Available
from:
URL:
http://www.medscapeemergencymedicine. htm
Leslie SW. Nephrolithiasis, acute renal colic. [online] 2010 Feb 26 [cited on
Mei
14
2010].
Avalable
from:
URL:
http://www.emedicinespecialties/urology/stone.htm
Purnomo BB. Batu saluran Kemih. Dalam: Dasar-dasar urologi. Edisi
kedua. Jakarta: Sagung Seto; 2007. p. 57-66.
Tidy C. Renal colic. [online] 2010 Apr 19 [cited on Mei 14 2010]. Available
from: URL: http://www.patientUK/home/patientplus/renalcolic.htm

28

Tanagho E.A., Mc Annich J.W., Smiths General Urology 16 [15] th ed., Mc


Graw Hill 2004, hal. 77, 613, 620-623

29