Anda di halaman 1dari 28

RESUME BAB 2 GRIFFIN

BERBICARA TENTANG TEORI


Berbicara mengenai teori, Griffin, pada bab dua dalam bukunya A First
Look at Communication Science membagi dua perspektif utama dalam memahami
fenomena - fenomena sosial yang dilakukan lewat sebuah penelitian khususnya
dalam kajian ilmu komunikasi. Yakni perspektif obyektif dan perspektif
interpretif.
Meskipun sama-sama diterapkan dalam penelitian komunikasi, namun
kedua pendekatan ini memiliki beberapa perbedaan yang mendasar. Perspektif
obyektif meyakini bahwa kebenaran hanya bersifat tunggal dan menunggu untuk
ditemukan dengan menggunakan panca indra sang peneliti. Sementara itu, para
penganut aliran interpretif meyakini bahwa kebenaran bersifat subjektif dan
makna dari pesan dapat dipahami dari hasil interpretasi subyektif, serta meyakini
bahwa teks memiliki makna yang beragam tergantung dari subyek yang
menginterpretasikannya.
Pembedaan sudut pandang antara sarjana interpretif dan ilmuwan akan
memberikan perbandingan mendasar tentang cara memperoleh pengetahuan, inti
dari sifat alami manusia, pertanyaan-pertanyaan tentang nilai, dan tujuan dari
teori.
1. Cara memperoleh pengetahuan : Menemukan Kebenaran VS
Menciptakan multiple realities
Bagaimana kita mengetahui apa yang kita tahu ? ini ada pertanyaan
yang bisa dijawab lewat epistemology, yakni ilmu tentang asal, cara
dan batas dari pengetahuan.
Penganut Perspektif obyektif beranggapan kebenaran bersifdat
tunggal, bersifat universal untuk kondisi yang relative sama.
Kebenaran itu menunggu untuk ditemukan oleh sang peneliti dengan
menggunakan kelima panca indranya dan bukti yang konkret adalah
segalanya.

Teori yang baik adalah yang mendasari terjadinya realitas. Mereka


yakin bahwa setelah prinsip ditemukan dan divalidasi, akan terus
berlaku selama kondisi tetap relatif sama.
Sedangkan para ilmuwan dengan perspektif interpretif beranggapan
bahwa kebenaran adalah kontruksi social yang terbentuk melalui
proses komunikasi. Mereka percaya bahwa bahasa membentuk
realitas sosial yang selalu bersifat dinamis. Kebenaran selalu bersifat
subyektif karena pemaknaan akan pesan bisa beragam.
2. Sifat dasar Manusia : Determinisme VS kehendak bebas
Penganut aliran determinis garis keras atau dalam hal ini kaum
obyektifis beranggapan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh factor
keturunan dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan ilmuwan
behavioral yang menggambarkan prilaku manusia sebagai akbiat dari
tekanan di luar kesadaran individu dan merupakan tanggapan atas
stimulus. Sebaliknya, aliran interpretif berasumsi bahwa manusia
berperilaku atas kehendaknya sendiri tanpa paksaan dari luar dan
merupakan pilihan yang dilakukan dengan penuh kesadaran oleh
individu tersebut.
3. Nilai Tertinggi : Obyektifitas atau emansipasi
Nilai adalah pedoman atas apa yang kita pikirkan, kita rasakan dan
kita lakukan. Ilmuwan behavioral senantiasa bekerja keras agar nilainilai

personal

yang

dimilikinya

tidak

mempengaruhi

topic

penelitiannya (obyektifitas tinggi). Sedangkan pendekatan interpretif


tidak takut untuk menyertakan nilai-nilai personalnya ke dalam
studinya. Nilai-nilai ini relevan dengan topic penelitian yang
berkaitan dengan emansipasi, yakni pembebasan dari segala bentuk
penindasan politik, ekonomi, ras dan seksual. Mereka berasumsi
bahwa pengetahuan tidak pernah bersifat netral.
Prof. Stan Deetz mengatakan bahwa pada umumnya teori komunikasi
memiliki dua nilai prioritas efektivitas dan partisipasi. Efektivitas
berkaitan dengan kesuksesan dalam mengkomunikasikan informasi,
ide-ide, makna dan persuasi. Sedangkan partisipasi berkaitan dengan

bagaimana meningkatkan kemungkinan dari berbagai sudut pandang


yang akan mempengaruhi keputusan bersama, dan setiap orang akan
terbuka terhadap ide-ide baru. Partisipasi juga mendukung adanya
perbedaan, oposisi dan independensi. Para obyektifis biasanya akan
lebih mementingkan efektivitas, dan kaum interpretif sebaliknya.
4. Tujuan teori : Hukum yang bersifat universal atau pedoman
interpretif
Ilmuwan behavioral bekerja dengan menerapkan sebuah teori yang
berlaku untk semua prilaku manusia pada situasi yang beragam.
Sebaliknya,

retoris

akan

memaknai

komunikasi

semata

menggambarkan kekhasan pengalaman suatu kelompok manusia


dalam konteks tertentu. Jika kedua penganut aliran obyektifitis dan
interpretif digambarkan sebagai seorang desainer baju, maka
Objectifis mungkin akan menjahit suatu mantel yang pantas untuk
semua orang pada berbagai kesempatan dengan baik, satu ukuran
cocok untuk semua. Di pihak lain maka kaum interpretif/humanis
mungkin mengaplikasikan prinsip dari desain fashion-nya ke gaya
suatu mantel yang dibuat untuk perorangan, untuk klien tunggal satu orang satu tipe pakaian, kreasi tertentu yang khas untuk
seseorang. Yang perlu diingat adalah bahwa pendekatan interpretif
tidak berusaha untuk membuktikan teori, dan sebaliknya dengan
obyektifis.
Para Obyektifis berusaha untuk menarik kesimpulan dari hal-hal yang
bersifat khusus kepada teori yang bersifat umum, dan sebaliknya
interpretif menghasilkan teori dari hal-hal yang bersifat umum,
menjadi lebih spesifik.

Obyektif atau Interpretif : Apa Pentingnya ?


Pertama, karena kita tidak akan sepenuhnya paham tentang teori jika
kita tidak mengetahui tentang kebenaran, sifat dasar manusia, tujuan
adanya teori dan nilainya.

Alasan lain untuk menguasai perbedaan metateoritikal (Teori tentang


teori; asumsi yang melekat dibuat saat membuat teori) ini adalah
untuk menghindari kebingungan ketika mempelajari berbagai macam
teori. Perbedaan mendasar di atas akan memudahkan kita untuk
membandingkan antara satu teori dengan teori yang lain berdasarkan
asumsi-asumsi dasarnya. Dan ini lebih mudah daripada harus
menghapalkan teori satu per satu.

RESUME BAB 2 LITTLE JOHN


IDE TENTANG TEORI
Stephen Littlejohn mendefinisikan teori lebih teknis sebagai kesatuan, atau
keseluruhan, dari tubuh yang memberikan filosofi gambaran tetap suatu subyek.
Teori-teori adalah abstrak. Mereka mengelompokkan pengalaman pada beberapa
kategori bidang, sebagai hasilnya, selalu memeberikan jalan keluar. Teori
memfokuskan perhatian kita pada suatu pola khusus, hubungan, variabel-variabel
dan mengabaikan yang lain.
Abraham Kaplan menulis, Teori tidak hanya merupakan penemuan fakta
tersembunyi; teori adalah cara untuk melihat fakta, mengorganisasi dan
menampilkan mereka. Stanley Deetz menambahkan bahwa sebuah teori adalah
cara untuk melihat dan memikirkan tentang dunia. Lebih baik teori difungsikan
sebagai lensa yang digunakan dalam penelitian daripada difungsikan sebagai
cermin.

DIMENSI DIMENSI TEORI

Asumsi Filosofi atau dasar pemahaman yang menggarisbawahi teori. Point


awal untuk semua teori adalah asumsi filosofi yang mendasarinya. Dimana
asumsi yang mendasari teori menentukan bagaimana hasil dari teori
tersebut. Asumsi filosofis sering dibagi dalam 3 tipe; asumsi tentang
Epistemologi, atau pertanyaan pengetahuan, asumsi tentang Ontologi, atau
pertanyaan tentang keberadaan dan asumsi tentang Axiologi, pertanyaan
tentang nilai.

Epistemologi. Adalah cabang dari filosofi yang mempelajari pengetahuan,


atau bagaimana orang mengetahui apa yang mereka ingin ketahui.
Pertanyaan di bawah ini adalah pertanyaan paling umum mengenai
epistemologi oleh para ilmuwan komunikasi.

Sejauh mana pengetahuan ada sebelum pengalaman? Banyak


orang percaya bahwa semua pengetahuan berawal dari
pengalaman. Kita mengamati dunia dan dengan cara demikian
kita menjadi tahu tentang dunia. Tetapi mungkin disana ada
sesuatu dalam sifat dasar kita yang memberikan semacam
pengetahuan bahkan sebelum kita mengalaminya. Kemampuan
untuk berpikir dan merasakan disebut sebagai bukti untuk
mekanisme yang melekat.

Sejauh mana pengetahuan bisa diyakini? Apakah keberadaan


pengetahuan di dunia adalah mutlak tidak ada masalah
siapapun yang bisa menemukannya? Atau pengetahuan bersifat
relatih dan selalu berubah? Mereka yang mengambil pendirian
universal yang mempercayai mereka mencari pengetahuan
yang absolut dan tidak dapat berubah akan mengakui
kesalahan-kesalahan dalam teori mereka, tetapi mereka percaya
bahwa kesalahan-kesalahan ini adalah hanya hasil sementara
sebelum menemukan kebenaran yang lengkap. Kaum relativis
percaya bahwa pengetahuan tidak akan menjadi pasti karena
tidak ada fakta universal yang sederhana. Justru, apa yang
dapat kita ketahui disaring melalui pengalaman dan persepsi,
dengan demikian, teori berevolusi dan berubah sebagaimana
mestinya.

Melalui proses apa pengetahuan muncul? Ada setidaknya 4


posisi dalam masalah ini. Rasionalisme menyarankan bahwa
pengetahuan timbul semata-mata dari kekuatan pikiran manusia
untuk mengetahui Empirisme menyatakan bahwa pengetahuan
muncul dalam persepsi. Konstruktivisme berpendapat bahwa
pengetahuan adalah apa yang orang buat pada dunia (mereka
bukan

apa-apa

sampai

saya

menyebutnya).

Akhirnya,

konstruktivisme mengambil satu langkah lebih jauh, konstruksi


sosial mengajarkan bahwa pengetahuan adalah produk interaksi
simbolis dalam kelompok sosial. Dengan kata lain. Fakta /

realita adalah konstruksi sosial, hasil dari kelompok dan


kebudayaan.
-

Apakah pengertian terbaik pengetahuan adalah dalam bagianbagian atau keseluruhan? mereka yang mengambil pendekatan
holistik percaya bahwa fenomena sangat saling terkait dan
beroperasi sebagai sistem. Pengetahuan yang benar dapat
dipisah-pisahkan menjadi bagian-bagian tetapi merupakan
pemahaman yang utuh, pemahaman gestalt. Analis, di sisi lain,
percaya bahwa pengetahuan terdiri dari pemahaman bagaimana
bagian beroperasi secara terpisah. mereka tertarik untuk
mengisolasi, mengkategorikan dan menganalisis berbagai
komponen yang bersama-sama membentuk apa yang dapat
dianggap sebagai pengetahuan.

Seberapa

jelaskah

pengetahuan?

Beberapa

pendapat

menyatakan bahwa pengetahuan adalah apa yang dapat


diartikulasikan secara eksplisit. Yang lain berpendapat bahwa
banyak pengetahuan yang tersembunyi.

Ontologi adalah cabang dari filosofi yang berhubungan dengan sifat


dasar. Dalam komunikasi, ontologi berpusat pada sifat interaksi manusia
karena cara ahli teori melihat interaksi terkonsep ini sangat tergantung
pada bagaimana pandangan komunikator. Setidaknya ada 4 masalah
penting :
1. Sejauh apakah manusia membuat pilihan nyata? Orang
dikatakan aktif jika merek merencanakan perilaku mereka
untuk mencapai tujuan di masa depan.
2. Apakah perilaku manusia adalah pemahaman terbaik dari
keadaan dan sifat? Tinjauan sifat meyakini bahwa manusia
pada umumnya bisa diprediksi karena mereka menunjukkan
kurang lebih konsistensi karakteristik sepanjang waktu. Sifat,
kemudian, tidak dapat dengan mudah berubah; perspektif ini
melihat bahwa manusia adalah statis. Tentu saja ada, posisi
diantara keduanya, dan banyak teori yang meyakini bahwa

keduanya baik sifat maupun keadaan adalah kerakteristik


perilaku manusia.
3. Apakah pengalaman manusia yang utama individu atau sosial?
Pengetahuan sosial ini meyakini bahwa manusia tidak dapat
dipahami secara terpisah dari hubungan mereka dengan yang
lain dalam kelompok maupun budaya. Pertanyaan-pertanyaan
ontologi dari individu atau sosial adalah sangat penting bagi
ilmuwan komunikasi karena fokus mereka pada interaksi.
4.

Seberapa kontekstual kah komunikasi? Fokus dari pertanyaan


ini berkaitan dengan apakah perilaku diatur oleh prinsip-prinsip
universal atau tergantung pada faktor-faktor yang situasional.

Axiologi adalah cabang dari filosofi yang memperhatikan tentang nilai.


Apa nilai yang menjadi pedoman dalam penelitian, dan apa implikasi
dari nilai tersebut dalam hasil penelitian? Bagi ilmuwan komunikasi,
ada 3 masalah penting dalam Axiologi:
-

Bisakah teori bebas nilai?

sejauh mana proses penyelidikan sendiri mempengaruhi apa


yang sedang dilihat?

Haruskah pendidikan dirancang untuk mencapai perubahan,


atau

fungsi

pendidikan

hanya

untuk

menghasilkan

pengetahuan? Secara keseluruhan, ada 2 posisi umum pada


masalah Axiologi. Pertama, pengetahuan adalah bebas nilai
dimana peneliti meyakini bahwa mereka bisa melihat secara
obyektif tanpa nilai pribadi yang mempengaruhi pengetahuan.
Posisi kedua adalah sadar nilai di mana peneliti mengakui
pentingnya nilai-nilai untuk penelitian dan teori, berhati-hati
untuk menyatakan sudut pandangnya, dan membuat upaya
bersama-sama untuk menunjukkan nilai-nilai itu dengan cara
yang positif.
1. Konsep atau bangunan pemikiran

Salah satu tujan dari teori adalah untuk merumuskan dan mengungkapkan
serangkaian konsep. Untuk menetukan konsep, teori komunikasi mengamati
beberapa variabel dalam interaksi manusia,

mengklasifikasikan dan memberi

label kepada mereka sesuai dengan polanya. Dalam rangka untuk menyoroti
relevansi, teori harus menunjukkan bagaimana satu konsep berhubungan dengan
atau menyebabkan konsep lainnya.
2. Penjelasan, atau hubungan dinamis yang terbentuk dari teori-teori
Penjelasan

mengidentifikasi

"kekuatan

Logis"

antara

variabel

yang

menghubungkan mereka dalam beberapa cara. Ada beberapa tipe dari penjelasan,
tetapi pada umumnya ada 2 yaitu kausal dan praktis. Dalam penjelasan kausal,
konsekuensi ditentukan oleh beberapa peristiwa pendahuluan. dalam penjelasan
praktis, hasil yang terjadi dibuat oleh tindakan yang dipilih.
3. Prinsip-prinsip, petunjuk untuk bertindak
Prinsip adalah pedoman yang memungkinkan kita untuk menafsirkan sebuah
peristiwa, membuat penilaian tentang apa yang terjadi, dan memutuskan
bagaimana bertindak pada situasi tersebut. Ada tiga bagian dalam prinsip teori :

1. Mengidentifikasi situasi
2. Meliputi serangkaian norma dan nilai
3. Ini menegaskan hubungan antara berbagai tindakan dan konsekuensi yang
mungkin terjadi.
untuk lebih memperjelas bagaimana berbagai kombinasi elemen teoritis
menghasilkan berbagai jenis teori, kita akan menggunakan 2 contoh yaitu
Nomothetik Teori dan Practical Teori. Kedua jenis teori ini mewakili
rangkaian poin penting teori dan penelitian, meskipun tidak selalu sesuai
dengan kenyataan dengan yang kita tampilkan di sini, ini berguna untuk
menunjukkan bagaimana berbagai dimensi yang berbeda dalam teori
membantu membangun perspektif dan pendekatan penelitian.
NOMOTETIK TEORI

Didefinisikan sebagai yang mencari hukum umum atau universal. Pendekatan


ini, dominan dalam ilmu pengetahuan alam, eksperimen telah menjadi model
untuk banyak penelitian dalam ilmu sosial juga. Teori teori dalam tradisi
nomotetik tidak membuat penilaian atau memberikan masukan. ilmuwan
hanya membuat gambaran tentang bagaimana sesuatu dan menyerahkan
kepada orang lain untuk memutuskan bagaimana menggunakan pengetahuan
ini.
4 dasar ilmu pengetahuan tradisional
1. Membuat pertanyaan
2. Membentuk hipotesa
3. Menguji hipotesa
4. Merumuskan teori
Pendekatan ini dikenal sebagai metode deduktif- hipotetik, dan ini
berdasarkan pada asumsi bahwa kita dapat sangat memahami sesuatu hal yang
kompleks dengan menganalisa seluruh bagian atau elemen yang ada di
dalamnya. Dengan demikian, pendekatan ini kadang disebut sebagai tradisi
analitik- variabel.
Proses penelitian dalam tradisi ini disusun dengan baik. Pertama peneliti
membentuk hipotesa, atau pemikiran yang benar tentang hubungan antara
variabel. Pengujian hipotesa, kemudian, merupakan proses pencarian
pengecualian. Pengujian hipotesa adalah prosedur dalam teori yang sulit dan
lambat dalam teori yang telah ditemukan melalui berbagai tes. 4 langkah
pertanyaan, hipotesa, pengujian, dan teori merupakan proses yang terus
diulang-ulang dalam pengembangan bangunan pengetahuan. Kontrol dan
manipulasi dapat dicoba langsung, seperti dalam eksperimen, atau melalui
jenis statistik tertentu.
ASUMSI FILOSOFIS
Epistemologi : cenderung mendukung ide/gagasan empiris dan rasional. Fakta,
adalah sesuatu yang ditemukan manusia diluar dirinya. Peneliti dalam tradisi

ini berasumsi pada fisik, fakta yang dapat ditemukan adalah bukti diri bagi
peneliti yang terlatih. Nomotetik teori mencari untuk menemukan apa yang
disebut dengan penampilan yang diterima. Obyektifitas sangat diperlukan.
Axiologi : beberapa teori memilih untuk berpendirian netral, meyakini bahwa
pengetahuan diatas masalah nilai, nilai tidak berpern dalam pengetahuan.
Ontologi : teori ilmu pengetahuan cenderung beranggapan bahwa perilaku
pada dasarnya ditentukan oleh dan merupakan respon terhadap faktor biologi
dan lingkungan. Ilmuwan dalam tradisi ini mencoba mengungkapkan
bagaimana sesuatu muncul dan bekerja.
KONSEP
Semua variabel dalam hipotesa harus nyata yang menjelaskan dengan tepat
bagaimana mengobservasi mereka. Ukuran dapat dievaluasi melalui dua kriteria :
validitas dan reliabilitas. Validitas adalah standar observasi terukur apa yang
seharusnya digunakan untuk mengukur.
Reliabilitas adalah standar dimana konstruk diukur secara akurat, dan paling
sering diperkirakan oleh konsistensi.
Konsep dalam teori dalam tradisi nomotetik adalah bersifat operasional, sangat
tepat dan terukur. Konsep yang dinyatakan dalam cara ini mengarah ke jenis
penjelasan tertentu.
PENJELASAN
Penjelasan kausal mengarah pada dalil- pernyataan teoritis dari sebab dan akibat
relevan untuk sebagian rangkaian variabel untuk semua situasi.
Dalil juga memungkinkan peneliti untuk membuat prediksi tentang kejadian masa
depan untuk menentukan apa yang akan terjadi jika variabel penyebabnya
terjadi. Prediksi adalah hasil yang penting dari penelitian karena ini memberikan
kekuatan kepada manusia atas lingkungan mereka.

Tradisi penelitian nomotetik kurang lebih hampir mendekati apa yang disebut
Charles Pavitt sebagai realitas pengetahuan, filosofi yang mempercayai bahwa
sesuatu yang nyata dalam dunia yang sebenarnya dengan karakteristik sebenarnya
dan efek kausal. Teori mungkin tidak dengan sangat lengkap dan akurat
mereleksikan sesuatu di dalam dunia, tetapi teori yang baik dan berhasil dapat
memperkirakan fakta, dan konsep dari teori mampu dan akhirnya bisa
menampilkan dan menjelaskan secara akurat obyek di dunia.
Teori harus menghindari penambahan konsep baru dan konsep yang tidak perlu.
Lebih jauh, teori harus menggunakan penjelasan kausal dan mencoba untuk
menangkap kausal yang benar di antara varibel-variabel di dunia. Akhirnya, teori
komunikasi harus berkomitmen pada reliabilitas makna dan keyakinan bahwa
para pembaca akan cukup memahami istilah-istilah komunikasi yang akurat.
Pendekatan ini untuk penelitian dan teori adalah tegas ditanamkan dalam tradisi
pengetahuan sebagai penemuan ilmiah, tetapi para ilmuwan dalam tradisi
lainnya sering menolak metode ini dan mendukung pendekatan yang mereka
yakini menghasilkan teori yang lebih bermanfaat.
Teori Praktikal
Teori ini dibuat untuk memperkaya perbedaan-perbedaan yang ada diantara
situasi yang beragam dan memberikan pengertian yang membuat peneliti mampu
mengembangkan berbagai ide dan alternatif tindakan untuk mencapai hasil yang
diinginkan. Pertama, mereka bisa memetakan masalah dan tantangan, teknik dan
strategi, dan tindakan-tindakan nyata. Kedua, teori praktikal mampu memberikan
kesempatan untuk merefleksikan masalah dan prinsip-prinsip yang dianut
komunikator dalam berbagai situasi. Ketiga, teori praktikal mampu memberikan
cara baru dalam mengintrepretasikan situasi, merubah pola-pola lama dan
menghasilkan pemahaman serta tindakan baru yang efektif.
Robyn Penman telah menggariskan lima prinsip dari pendekatan praktikal-aksi
yang menggambarkan betapa berbedanya teori ini dibandingkan dengan teori-teori
tradisional. Pertama, aksi dilakukan secara sukarela. Manusia selalu mampu
memotivasi dirinya sendiri, dan memprediksi perilaku manusia berdasarkan
stimulus dari luar adalah sangat tidak memungkinkan. Jika ini benar, maka akan

sangat sulit untuk meramalkan perilaku manusia berdasarkan penghargaan yang


akan mereka peroleh. Sebagai contoh, beberapa orang pada dasarnya lebih suka
menonton televis dibanding belajar, tapi bagaimanapun mereka akan tetap belajar
dikarenakan adanya keuntungan jangka panjang dan konsekuensi-konsekuensi
tertentu. Jadi, peneliti tidak akan bisa menyingkirkan motivasi tunggal, ataupun
universal yang berlaku untuk semua orang.
Kedua, pengetahuan terbentuk secara social, artinya teori komunikasi terbentuk
melalui interaksi. Artinya, teori-teori komunikasi diciptakan oleh proses interaksi
dan komunikasi proses yang didesain untuk menjelaskan. Pada hakikatnya
hipotesis adalah ciptaan dari para teoris; itu adalah salah satu cara untuk
memahami prilaku, bukan mencerminkan alasan sebenarnya kenapa manusia
berprilaku tertentu.
Ketiga, teori bernilai historis, merefleksikan waktu dan kondisi dimana teori itu
tercipta, dan berubah mengikuti waktu. Hipotesis tentang intrinsic-reward yang
tercipta mungkin akan sangat masuk akal untuk saat ini, namun di lain era atau di
lain budaya, hipotesis tersebut mungkin bukan menjadi penjelasan yang masuk
akal untuk menjelaskan perilaku tertentu. Staenly deetz menulis: Yang ada
hanyalah manusia mencoba untuk menciptakan teori yang bermanfaat dalam
menanggapi masalah-masalah yang saat itu sedang berkembang. Kita sedang
berusaha untuk menemukan pemikiran yang menarik dan berguna serta mampu
menjelaskan kondisi yang sedang terjadi dan membantu membangun masa depan
yang kita inginkan.
Elemen yang keempat adalah teori berdampak pada kenyataan yang membentuk
teori tersebut pada awalnya. Teori menjadi bagian dari dunia yang mereka
ciptakan. Jika hipotesismu tentang intrinsic-reward mu terpercaya, mereka akan
menawarkan reward (penghargaan) saat mereka meningnginkan terselesainya
sesuatu dan sebaliknya. Segera, orang-orang akan menjalankan lingkungan yang
tercipta oleh ide-ide yang dikemukakan oleh para teoris.
Kelima, teori memuat nilai-nilai tertentu, tidak pernah netral, terutama nilai yang
menguntungkan bagi teori tersebut.
Asumsi Filosofis

Pada ranah epistemology, teori praktikal berasumsi bahwa manusia


berperan aktif dalam menciptakan pengetahuan. Pengetahun diperoleh melalui
interaksi bukan ditemukan begitu saja. Lebih jauh, teori tidak berusaha untuk
menjadi hokum yang universal, namun, untuk menggambarkan kekayaan makna
dalam setiap perilaku yang dilakukan individu.
Pada konteks ontology, teori praktikal berasumsi bahwa setiap orang
adalah agen pencapai tujuan yang memproduksi makna, memperhatikan,
membuat pilihan nyata, dan bertindak dengan bebas. Para teoris enggan untuk
mencari kebenaran universal Karena mereka berpendapat bahwa manusia akan
bertindak secara berbeda-beda tergantung pada peraturan dan tujuan yang ingin
dicapai.
Kebanyakan teori-teori pada paradigm praktikal cenderung memiliki
nilai-nilai yang tercipta secara sadar, meskipun ada poin-poin nilai yang berbeda
antar teori. Mayoritas praktikal teori bersifat deskriptif, menggambarkan
bagaimana manusia beriterpretasi dan bertindak di beragam lingkungan social
budaya. Sedangkan sebagian praktikal teori yang lain bersifat mengevaluasi,
membuat penilaian yang kuat tentang pemahaman dan perilaku budaya yang
terjadi. Umumnya, teori yang melawan kenormalan-kenormalan dalam hidup
biasa disebut kritikal teori.
Konsep
Konsep pada praktikal teori cenderung tidak universal namun lebih bersifat
abstrak yang bisa diaplikasikan secara berbeda di setiap kondisi.
Penjelasan
Praktikal teori cenderung berorientasi pada pencapaian tujuan. Komunikator
dipandu untuk mencapai tujuan dengan mengikuti aturan dan norma social yang
memungkinkan mereka untuk berpikir berdasar kondisi yang ada dan mengambil
keputusan dari serangkaian pilihan yang ada.
Prinsip
Robert Craig dan Karen Tracy menulis bahwa praktikal teori mengandung
beberapa prinsip yang memungkinkan komunikator untuk membangun model
teori komunikasi yang normative, bersifat sementara, dapat diperbaiki, namun

masih rasional yang sesuai dengan kondisi yang terjadi. Beberapa teori dapat
membentuk tiga level kombinasi :
a.

Level 1 : teknikal, dimana strategi dan tidakan secara spesifik tersedia

untuk komunikator.
b.

Level 2 : tingkatan masalah, dimana masalah dan hambatan tersebut dapat

diatasi
c.

Level 3 : Filosofis, terdiri atas ide-ide, nilai dan prinsip umumyang dapat

digunakan oleh komunikator.


Praktikal teori dikatakan berfungsi maksimal saat komunikator mampu mengatasi
situasi sulit (level 2) dengan menggunakan prinsip-prinsip umum (level 3) dan
menerapkannya di dunia nyata (level 1).
Menurut Craig dan Tracy ada tiga bagian dari praktikal teori :
a. Level 1 : Manusia memiliki ide atas tujuan apa yang ingin dicapai dan
bagaimana cara mencapainya.
b. Level 2 : Manusia mulai mengenal hambatan-hambatan yang kira-kira
mampu menghalangi tujuannya.
c. Level 3 : manusia memiliki prinsip prinsip yang bisa digunakan oleh
komunikator untuk merefleksikan dan membuat keputusan.
Praktikal teori tidak berusaha untuk mengatur tindakan apa yang harus dilakukan
oleh peneliti, namun membuat peneliti untuk bertindak secara masuk akal agar
peneliti mampu mengerti kemungkinan untuk mengambil tindakan- tiindakan
yang berbeda sesuai dengan realitas yang ada.
Syarat praktikal teori yang baik dapat membuat peneliti untuk : (1)Fokus atas
realitas yang diahadapi peneliti (2) Mengeksplorasi keunikan dari realitas yang
ada (3)mempertimbangkan antara kemampuan dan batas-batas tindakan yang
harus diambil (4) Mengambil tindakan yang mencerahkan hidup dan meraih hasil
yang positif (5) Belajar dari pengalaman atas realitas yang terjadi dan membantu
peneliti untuk menerapkan pengetahuan dalam menghadapi situasi yang baru.

Mengevaluasi Teori Komunikasi


Di bawah ini adalah beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
teori-teori :

1. Jangkauan teori
Luas atau terbatas. Berdasarkan pada prinsip-prinsip generalitas atau ide
bahwa teori harus mampu menjelaskan secara luas atas setiap penelitian.
Ada dua tipe generalitas, (1) yang pertama berfokus pada keluasan
cakupan. Teori yang mampu menggambarkan wilayah penelitan yang
cukup luas dapat dikatakan sebagai teori yang baik. (2) Teori yang
cakupannya tidak terlalu luas namun mampu menggambarkan secara
mendalam atas sebuah fenomena, ini juga dapat dikategorikan sebagai
teori yang baik.
2. Kelayakan
Apakah klaim yang diajukan oleh teori tersebut konsisten atau sejalan
dengan asumsinya. Kelayakan adalah konsistensi yang masuk akal antara
sebuah teori dan asumsinya.
3. Nilai heuristic
Apakah teori yang tercipta mampu memberikan ide-ide baru dalam
penelitian selanjutnya dan menggantikan teori yang lama.
4. Validitas
Adalah nilai kebenaran atas teori, minimal memiliki tiga arti : (1)
Kegunaan atas teori (2) Kecocokan yang bisa diteliti anatara konsep
dengan realitas realitas (3) generalisasi.
5. Kesederhanaan
Berkaitan dengan cara berpikir logis yang sederhana. Diantara dua teori
yang baik, maka teori dengan penjelasan paling simple dan logis adalah
yang terbaik.
6. Keterbukaan
TeoEri

terbuka

untuk

kontekstual dan teruji.

segala

kemungkinan.

Bersifat

sementara,

TUJUH TRADISI DALAM RANAH TEORI KOMUNIKASI


Untuk memudahkan pemetaan dalam bidang kajian komunikasi, Little John pada
Bab III bukunya Theories of Human Communication dan Bab IV buku First Look
at Communication Theory milik E.M. Griffin, mencoba untuk mendekati
komunikasi dengan berbagai tradisi.
E.M. Griffin membagi menjadi 7 tradisi, antara lain
1.

Social-psychological Tradition

2.

Cybernetic Tradition

3.

Rhetorical Tradition

4.

Semiotic Tradition

5.

Social-cultural Tradition

6.

Critical Tradition

7.

Phenomenological Tradition

Sementara Little John membagi komunikasi berdasar pendekatan 7 tradisi, yaitu


1.

Rhetorical Tradition

2.

Semiotic Tradition

3.

Phenomenological Tradition

4.

Cybernetic Tradition

5.

Social-psichological Tradition

6.

Social-cultural Tradition

7.

Critical Tradition

Disini terjadi perbedaan penempatan antara John dengan Griffin. Ini


dikarenakan basic dari keduanya berbeda satu sama lain. Griffin adalah ahli
psikologi sosial, dia berpendapat, perkembangan ilmu komunikasi dipengaruhi
faktor psikologi, dia memasukkan Social-psichological Tradition pada urutan
pertama. Sedangkan John melihat komunikasi berasal dari perspektif sejarah,
maka John menempatkan Rhetorical Tradition pada urutan pertama.

RESUME BAB IV GRIFFIN

MEMETAKAN WILAYAH
( Tujuh Tradisi Di Ranah Teori Komunikasi )

Pada bab ini, Griffin sepakat dengan Craig yang menyarankan, bahwa
bagaimanapun teori komunikasi adalah bidang yang koheren ketika kita
memahami

komunikasi

sebagai

disiplin

praktikal.

Dia

berpendapat,

membicarakan tentang ranah teori komunikasi akan lebih masuk akal jika kita
melihat pendekatan yang biasa dipakai para peneliti untuk mempelajari masalah
dan praktek dalam komunikasi. Craig berhasil mengidentifikasi tujuh tradisi
dalam teori komunikasi yang dipakai sebagai besar peneliti dalam menciptakan
teori.

TRADISI SOCIO-PSYCHOLOGICAL
Komunikasi sebagai interaksi dan pengaruh interpersonal
Peneliti pada tradisi ini percaya bahwa kebenaran-kebenaran dalam komunikasi
dapat ditemukan lewat observasi yang sistematik dan penuh kehati-hatian. Saat
peneliti berupaya mencari hukum komunikasi yang sifatnya universal, mereka
akan mencoba untuk tetap focus pada apa tanpa dikacaukan oleh pandangan
personal mereka tentang seharusnya.
Peneliti pada tradisi ini akan berupaya untuk mengawal hasil penelitan mereka
dengan menggunakan metode survey atau eksperimen yang terkontrol dengan
menggunakan alat ukur yang valid.

TRADISI SIBERNETIKA
Komunikasi sebagai sistem pengolahan informasi
Griffin menulis bahwa sibernetika adalah studi tentang pengolahan informasi,
umpan balik, dan kontrol dalam sistem komunikasi. Teoretisi dalam tradisi
sibernetika berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti Bagaimana
cara kerja sistem? Apa yang bisa mengubahnya? dan Bagaimana kita bisa
menyingkirkan gangguan.

TRADISI RETORIKA
(Komunikasi sebagai Seni berbicara di depan umum)
Retorika adalah seni menggunakan cara-cara persuasi yang ada, berfokus pada
kekuatan argumen, pengorganisasian gagasan, penggunaan bahasa, dan cara
penyampaiannya di depan umum (public speaking).

TRADISI SEMIOTIK

(Komunikasi sebagai Proses pertukaran Makna Melalui Tanda)


Griffin sejalan dengan Little john mengatakan bahwa semiotika adalah studi
tentang tanda, baik itu verbal maupun non verbal, dan bagaimana dampak dari
interpretasi atas tanda tersebut. Kata-kata juga tanda-tanda, tapi dari jenis khusus.
Mereka adalah simbol. Kata memiliki makna yang bebas/ tidak melekat dan tidak
ada hubungan yang alami dengan hal-hal yang mereka gambarkan. Dalam hal ini
budaya memberikan pemaknaan atas kata-kata.
Bagi para semiologists, makna tidak melekat di kata-kata atau simbol-simbol lain;
makna didasarkan pada interpretasi masing-masing orang. Sebagian besar teori
yang didasarkan pada tradisi semiotik berusaha untuk menjelaskan dan
mengurangi kesalahpahaman yang diciptakan oleh penggunaan simbol-simbol nan
ambigu.

TRADISI SOSIAL BUDAYA


(Komunikasi sebagai Penciptaan dan Pengesahan Realitas Sosial)
Sebagaimana ditulis oleh Griffin, dasar dari tradisi ini ada pada premis saat
manusia bicara mereka memproduksi dan mereproduksi budaya. Sebagian besar
dari kita menganggap bahwa kata-kata mencerminkan apa yang sebenarnya ada.
Namun, teori dalam tradisi ini menunjukkan bahwa Pandangan kita tentang
realitas sangat dibentuk oleh bahasa yang telah diajarkan dan digunakan sejak kita
masih bayi.
Hipotesis relativitas linguistik Saphir-Whorf menyatakan bahwa struktur dari
bahasa membentuk apa yang orang pikirkan dan lakukan. Hipotesis ini sekaligus
menepis anggapan bahwa bahasa adalah alat yang netral untuk mengantarkan
makna-makana tertentu. Melalui proses komunikasi, realitas diproduksi,
dipertahankan, diperbaiki dan diubah.

TRADISI KRITIS
(Komunikasi sebagai tantangan reflektif dari wacana ketidakadilan)
Tradisi Kritis berlawanan dengan banyak asumsi dasar dari tradisi lainnya.
Sangat dipengaruhi oleh karya-karya di Eropa, feminisme Amerika, dan kajiankajian post-modernisme dan post-kolonialisme. Tradisi ini berkembang pesat dan

berpengaruh pada teori komunikasi. Tradisi kritik mencoba memahami sistem


yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan, dan keyakinan atau ideologi
yang mendominasi masyarakat, dengan pandangan tertentu di mana minat-minat
disajikan oleh struktur kekuatan tersebut. Para ahli teori kritik pada umumnya
tertarik dengan membuka kondisi-kondisi sosial yang menindas dan rangkaian
kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas
dan lebih berkecukupan.
Griffin menulis tipe komunikasi dan penelitian yang dilawan oleh tradisi ini :
1. Pengendalian

bahasa

untuk

mempertahankan

ketidakseimbangan

kekuatan. Teori Kritis mengutuk penggunaan kata-kata yang menghambat


emansipasi.
2. Media massa berperan dalam menumpulkan kepekaan terhadap tekanan.
Teori Kritis melihat "Budaya Industri" Bahasa dari Televisi, film, MP3,
dan media cetak sebagai reproduksi ideologi dominan Budaya
3. Ketergantungan yang berlebihan terhadap metode ilmiah dan kepasrahan
untuk menerima hasil temuan empiris tanpa kritik. Tradisi kritis
mencurigai temuan para ilmuwan yang menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan bebas dari ideology apapun, karena pada dasarnya ilmu
pengetahuan tidak pernah bebas nilai.

TRADISI FENOMENOLOGI
(Komunikasi sebagai Pengalaman Diri dan Lainnya Melalui Dialog)
Fenomenologi adalah analisa yang mendalam tentang kehidupan sehari-hari dari
sudut pandang orang yang menjalani kehidupan itu. tradisi fenomenologi
memberikan penekanan besar pada persepsi masyarakat dan interpretasi mereka
pengalaman mereka sendiri. Bagi para fenomenolog, cerita individu lebih penting,
dan lebih berwibawa, daripada hipotesis penelitian atau aksioma komunikasi.
Tradisi fenomenologis berusaha untuk menjawab dua pertanyaan: Mengapa begitu
sulit untuk membangun dan mempertahankan hubungan manusia yang otentik?
dan Bagaimana masalah ini diatasi?

TRADISI ETIKA

(Komunikasi sebagai Karakter Manusia Berinteraksi secara Adil dan dengan


cara yang Menguntungkan)
Prinsip ini berfokus pada karakter komunikator daripada tindakan komunikasi. Ini
meminta kita untuk melihat motivasi kita dan sikap. Apakah saya berusaha untuk
menjadi orang yang berintegritas dan kebajikan? Dan dalam tradisi etika, teori
komunikasi yang menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak
teori ini keluar dari retorika atau kritis tradisi dan lainnya tersebar di wilayah
tujuan-interpretatif

Resume BAB III Littlejohn

7 TRADISI DALAM ILMU KOMUNIKASI


1. Tradisi Semiotik
Tradisi ini mengkaji mengenai konsep dasar dalam memaknai sebuah
tanda yang didefinisikan sebagai sebuah stimulus untuk menunjuk atau

menunjukkan beberapa kondisi lainnya. Tiap simbol antara masyarakat satu dan
masyarakat lain akan berbeda maknanya ketika digunakan dalam berkomunikasi.
Budaya menjadi aspek yang esensial dalam kajian tradisi ini, sebab budaya
menentukan tiap makna yang terkandung dalam sebuah simbol. Oleh sebab itu
dalam semiotik tanda memiliki sifat arbitrer. Kebanyakan pemikiran semiotik
melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti muncul dari
hubungan di antara tiga hal : benda (atau yang dituju), manusia (penafsir), dan
tanda (atau yang dituju). Manusia sebagai kunci utama dalam menafsirkan tanda
tentunya memiliki konstruksi pola pikir yang kompleks. Untuk memaknai setiap
bentuk tanda, konstruksi pemikiran itulah yang memegang peranan penting.
Budaya yang dipahami oleh manusia sebagai pedoman dalam berinteraksi di
masyarakat memiliki kekuasaan dalam melakukan konstruksi realita sosial.
Pola kajian dalam tradisi semiotik ini tidak hanya sekedar memaknai
setiap bentuk tanda, tetapi juga memiliki aspek penting dalam melakukan
persuasif terhadap orang lain. Pada titik inilah kajian semiotik memiliki segi
keunikan tersendiri, yaitu bagaimana memaknai tanda dan mempersuasif orang
lain dengan pemaknaan terhadap tanda tersebut.
Ada tiga wilayah kajian semiotic, yakni :
-

Semantik

: kajian tentang apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda

Sintatik

: kajian tentang hubungan antar tanda

Pragmatic

:bagaimana

tanda-tanda

membuat

perbedaan

dalam

secara

aktif

kehidupan manusia (penggunaan praktis)


2. Tradisi Fenomenologi
Tradisi

ini

menganggap

bahwa

orang

menginterpretasi/menafsirkan apa yang terjadi disekitar mereka dan mencoba


memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Fenomenologi adalah cara yang
dimana manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung.
Konsep pengalaman seseorang dalam memaknai sebuah fenomena
menjadikannya sebagai sebuah pedoman untuk memahami konsep fenomena lain
yang terjadi di hadapannya.
Stanley Deetz menyimpulkan tiga prinsip dasar fenomenologi. Pertama,
pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar, dalam artian

kita bisa memahami dunia ketika kita berhubungan dengannya. Kedua, makna
benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Dengan kata lain,
bagaimana Anda berhubungan dengan benda menentukan maknanya bagi Anda.
Ketiga, bahasa adalah kendaraan makna.
Konstruksi pola pikir seseorang dalam memaknai dunia di sekitarnya,
menurut tradisi ini, menentukan bagaimana dia berkomunikasi dengan masyarakat
di sekitarnya. Aspek interpretasi menjadi aspek yang menarik dalam tradisi ini.
Interpretasi seseorang terhadap sebuah fenomena yang diawali dengan proses
pemahaman melalui pengalamannya, menjadikan pola komunikasi individu
tersebut memiliki aspek keunikan tersendiri. interpretasi merupakan proses aktif
pikiran dan tindakan kreatif dalam mengklarifikasi pengalaman pribadi. Tradisi
fenomenologi memiliki tiga kajian umum,

yaitu fenomenologi

klasik,

fenomenologi persepsi dan fenomenologi hermeneutik.


Fenomenologi

klasik

mengkaji

bahwa

seorang

individu

harus

menyingkirkan frame of reference terlebih dahulu jika ingin memahami sesuatu


yang terjadi di masyarakat secara mendalam. Ranah yang kedua adalah
fenomenologi persepsi, yang mengkaji bahwa untuk memahami sesuatu secara
mendalam kita harus berhubungan langsung dengan sesuatu tersebut. Cabang
yang ketiga, yaitu fenomenologi hermeneutik Aliran ini selalu dihubungkan
dengan Martin Heidegger dengan landasan filosofis yang juga biasa disebut
dengan Hermeneutic of dasein yang berarti suatu interpretasi untuk menjadi.
Yang paling utama bagi Heidegger adalah pengalaman tak dapat terjadi dengan
memperhatikan dunia. Menurut Heidegger pengalaman sesuatu tak dapat
diketahui melalui analisa yang mendalam melainkan pengalaman seseorang yang
mana diciptakan dengan penggunaan bahasa dalam keseharian. Apa yang nyata
dan apa yang yang sekedar pengalaman melalui penggunaan bahasa.
3.Tradisi Sibernetika
Tradisi Sibernetika terbentuk dari gagasan tentang sistem. Tradisi ini menganggap
komunikasi sebagai sebuah sistem yang kompleks dimana setiap komponennya
saling berinteraksi dan bersama-sama membentuk sesuatu yang lebih dari sekadar
sejumlah bagian-bagian. Setiap bagian dari sebuah sistem selalu dibatasi oleh
ketergantungan bagian-bagian ainnya dan bentuk saling ketergantungan inilah

yang mengatur sistem itu. System senantiasa mengambil input baru dari
lingkungan, yang kemudian diproses dan menciptakan output yang kemudian
dimasukkan kembali ke dalam lingkungan. Hal ini dilakukan agar system dapat
terus bertahan. Putaran timbal balik inilah yang disebut jaringan (network).
Meskipun teori-teori tradisi sibernetika sangat bagus untuk pemahaman terhadap
sebuah hubungan, tetapi kurang efektif dalam membantu kita memahami
perbedaan-perbedaan individu di antara bagian-bagian sistem. Sebaliknya, tradisi
berikut sangat berguna dalam membantu kita memahami individu manusia
sebagai pelaku komunikasi.
4. Tradisi Sosiopsikologis
Tradisi ini mengkaji individu sebagai makhluk sosial merupakan tujuan
dari tradisi sosiopsikologis. Teori yang terdapat dalam tradisi ini berfokus pada
perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat,
persepsi, serta kognisi. Tradisi ini memang memiliki ranah yang beririsan dengan
disiplin ilmu psikologi. Bagian paling populer dalam pendekatan sosiopsikologis
adalah teori sifat, yang mengidentifikasikan variabel kepribadian serta
kecenderungan-kecenderungan pelaku komunikasi yang memengaruhi bagaimana
individu bertindak dan berinteraksi.
Banyak dari karya dalam tradisi ini berasumsi bahwa mekanismemekanisme pemrosesan informasi manusia berada di luar kesadaran kita. Aspek
penting dalam tradisi sosiopsikologi adalah pembagiannya dalam tiga cabang
besar yaitu perilaku, kognisi dan biologis. Dalam aspek perilaku, teori-teori
komunikasi berfokus pada bagaimana seorang individu berperilaku dalam konteks
komunikasi tertentu. Kemudian pada aspek kognisi, teori-teori komunikasi
berfokus pada bagaimana seseorang memperoleh menyimpan dan memproses
informasi yang merujuk pada pola perilaku individu tersebut. Kemudian aspek
yang terakhir adalah biologis, di mana teori komunikasi berfokus pada cara
berpikir, dan perilaku individu yang diikat oleh faktor biologis.
5. Tradisi Sosiokultural
Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara
pemahaman kita terhadap makna, norma, peran dan peraturan yang dijalankan
secara interaktif dalam komunikasi. Tradisi ini memfokuskan diri pada bentuk-

bentuk interaksi antarmanusia daripada karakteristik individu atau model mental.


Interaksi merupakan proses tempat makna, peran, peraturan, serta nilai budaya
yang dijalankan. Banyak teori-teori sosiokultural juga memfokuskan pada
bagaimana identitas-identitas dibangun melalui interaksi dalam kelompok sosial
dan budaya. Identitas menjadi dorongan bagi diri kita sebagai individu dalam
peranan sosial sebagai anggota komunitas, dan sebagai makhluk berbudaya.
Layaknya semua tradisi, sosiokultural memiliki beragam sudut pandang
yang

berpengaruh

yaitu

paham

interkasi

simbolis,

konstruksionisme,

sosiolinguistik, filosofi bahasa, etnografi dan etnometodologi. Paham ini


menekankan pentingnya observasi partisipan dalam kajian komunikasi sebagai
cara

dalam

mengeksplorasi

hubungan-hubungan

sosial.

Pandangan

konstruktivisme sosial merupakan sebuah pandangan yang mengkaji bagaimana


pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi sosial.
Pengaruh yang selanjutnya dalam tradisi sosiokultural teori komunikasi
adalah sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya. Sebagaimana kita ketahui
manusia menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan
kelompok sosial yang berbeda. Sudut pandang lain yang berpengaruh dalam
pendekatan sosiokultural adalah etnografi atau observasi tentang bagaimana
kelompok sosial membangun makna melalui perilaku linguistik dan non linguistik
mereka.
6. Tradisi Kritik
Tradisi Kritis berlawanan dengan banyak asumsi dasar dari tradisi lainnya.
Sangat dipengaruhi oleh karya-karya di Eropa, feminisme Amerika, dan kajiankajian post-modernisme dan post-kolonialisme. Tradisi ini berkembang pesat dan
berpengaruh pada teori komunikasi. Tradisi kritik mencoba memahami sistem
yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan, dan keyakinan atau ideologi
yang mendominasi masyarakat, dengan pandangan tertentu di mana minat-minat
disajikan oleh struktur kekuatan tersebut. Para ahli teori kritik pada umumnya
tertarik dengan membuka kondisi-kondisi sosial yang menindas dan rangkaian
kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas
dan lebih berkecukupan.

Teori kritik khususnya milik marxis sangat berkembang, meskipun teori


ini telah bercabang dan multiteoretis. Dalam marxisme, praktik-praktik
komunikasi dilihat sebagai hasil dari tekanan antara kreativitas individu dan
desakan sosial pada kreativitas itu.
7. Tradisi Retorika
Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek proses pembuatan pesan
atau simbol. Prinsip utama disini adalah bagaimana menggunakan simbol yang
tepat dalam menyampaikan maksud. Tradisi retorika berpusat pada lima
pengaturan atau lebih dikenal dengan five canon of rhetoric yang mencakup
Penemuan, pengaturan gaya, penyerahan dan memori. (2011:61)
Ada enam masa perkembangan dari retorika yaitu:
1) Era Klasik didominasi oleh aliran seni dalam berbicara kaum sophist.
Sebagai pelopor aliran ini berkeliling mengajarkan retorika tentang
bagaimana berargumen dan memenangkan sebuah kasus pada masa awal
di mana retorika baru diperkenalkan.
2) Abad Pertengahan study tentang retorika berfokus pada pengaturan
dan gaya. Namun retorika pada abad pertengahan dicela sebab dianggap
sebagai ilmu kaum penyembah berhala dan tidak perlu dipelajari sebab
agama Kristen dapat memperlihatkan kebenarannya dengan sendiri. Pada
abad ini bisa dikata sebagai the end of retorika.
3) Renaissance masa ini dianggap sebagai kelahiran kembali retorika sebagai
suatu seni. Para sarjana humanis member perhatian dan concern pada
semua aspek untuk kemanusiaan, penelitian kembali text-text retorika
klasik dalam rangka memahami manusia.
4) Abad Pencerahan Pemisahan antara pengetahuan dan bahasa menjadi
keterbatasan dalam bentuk retorika. Retorika hanya menjadi cara untuk
menyampaikan kebenran ketika kebenaran itu diketahui. Selama masa
inilah muncul gerakan belles letters sebuah gerakan yang mengacu pada
karya sastra san segala seni murni.
5) Pada masa Retorika kontemporer diringi dengan meningkatnya minat
akan retorika, ketika jumlah, jenis dan pengaruh symbol menigkat.
Apalagi dengan kehadiran media massa maka penyampaian pesan

disampaikan secara visual dan verbal. Hal ini membuat retorika bergeser
focus dari pidato ke semua jenis penggunaan symbol.
6) Retorika Postmodern tidak lagi berpaku pada gaya retorika yang
dikembangkan oleh barat. Retorika berkembang sesuai dengan budaya
tempat di mana pesan disampaikan. Sebagai contoh, para pakar pada
tradisi ini mengistimewakan pendirian atas ras, kelas, gender dan
seksualitas. Selanjutnya, retorika jauh dari anggapan kosong dan tanpa
arti.