Anda di halaman 1dari 22

Minggu, 31 Agustus 2014

Tinjauan-Tinjauan terhadap Kasus FS


Latar Belakang
Florence Sihombing (FS) adalah mahasiswa S2 Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah
Mada. Pada tanggal 28 Agustus 2014, beliau mencoba menyerobot antrian pertamax di SPBU
Lempuyangan tetapi tindakannya dihentikan aparat. FS kemudian melampiaskan kekesalannya di
Path dengan menyebut bahwa orang Jogjakarta 'tolol, miskin dan tidak berbudaya'. Keluhannya ini
kemudian tersebar dan memicu berbagai reaksi.
Tulisan ini mencoba untuk membeberkan fakta, tinjauan psikologis, tinjauan sosiologis dan tinjauan
hukum atas kasus FS dan perkembangannya.
Isu-isu yang Berkembang
Kasus FS adalah kasus Path ofensif kedua yang tersebar. Sebelum FS, seorang wanita bernama
Dinda juga mengalami hal yang sama akibat mengeluhkan tindakan seorang ibu hamil yang meminta
tempat duduknya. Dalam kasus FS, selain gelombang bully ada juga gelombang anti-bully yang
memperluas konteks wacana. Beberapa isu yang kemudian berkembang dari kasus FS adalah,
1. FS dan kebebasan berpendapat
2. FS dan repulsi masyarakat Jogjakarta terhadap pendatang
3. FS dan keluhan pendatang Jakarta atas kemacetan
4. FS dan proses hukum yang berjalan
Dalam tulisan ini, keempat isu akan dibahas secara singkat.
Tinjauan Psikologis
Florence Sihombing is a rich pretentious fuck. Dalam beberapa tulisannya yang tersebar kemudian,
terlihat bahwa dia memiliki kejenuhan akut terhadap Jogjakarta dan perspektif yang sangat miring
terhadap masyarakat Jogjakarta. Hal ini bisa disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah
kebiasaannya menjadi manja dan menjadi gaul di kota asal yang tidak bisa berlanjut di Jogjakarta.
Fenomena ini memang umum terlihat di mahasiswa pendatang meskipun derajatnya bervariasi dan
biasanya hilang setelah si pendatang beradaptasi.
Tinjauan Sosiologis
Dari pengamatan penulis, ada perbedaan antara kasus FS dan kasus Dinda dalam hal kemunculan
gelombang anti-bully. Dalam kasus Dinda, gelombang anti-bully baru muncul pada sekitar h+3
meledaknya isu. Itupun jumlahnya kecil dan karakternya spesifik. Sebaliknya dalam kasus FS
gelombang anti-bully hampir muncul seketika setelah isu meledak. Argumentasi gelombang anti-bully
berkisar pada 'dia kan cuma curhat' atau 'dia kan engga fitnah, orang Jogja emang banyak kok yang
sesuai perkataan dia'.
Dari kecepatan munculnya gelombang anty-bully ini, kita bisa menyimpulkan bahwa arus utama lini
masa media sosial beranggapan bahwa pelanggaran nilai moral Dinda lebih besar dari FS. Dalam
kata lain, tidak memberikan tempat duduk pada ibu hamil dianggap lebih buruk daripada menghina
satu provinsi sebagai 'tolol, miskin dan tidak berbudaya'. Ini menunjukan toleransi terhadap nilai-nilai
'pretentiousness' lebih besar dibanding toleransi terhadap 'selfishness'.
Seiring waktu, argumentasi yang dikembangkan oleh kelompok anti-bully semakin melebar. Ini terlihat
dari lahirnya antitesis berupa 'hati masyarakat jogja sudah keras' dan 'masyarakat jogja keras
terhadap pendatang' yang menggeser paradigma victim dari 'masyarakat jogja' ke 'Florence
Sihombing'. Secara pribadi, penulis tidak menyetujui antitesis ini karena secara tidak langsung
pemikiran tersebut mentoleransi nilai-nilai pretentiousness, mengabaikan masyarakat luar Jogja yang
juga marah terhadap FS dan mendegradasi karakter masyarakat Jogjakarta secara tidak adil. Apabila
ada badut yang masuk ke kamar Anda, mengencingi kasur Anda lalu Anda memarahinya, apakah
adil bila Anda dikatakan 'tidak memiliki hati' dan 'keras terhadap badut'?

Pemikiran 'masyarakat Jogja keras terhadap pendatang' secara khusus memiliki dampak sistemik
yang buruk. Pemikiran ini mengaburkan identitas Florence dari 'penyerobot antrian yang pretentious'
menjadi 'seorang pendatang'. Masyarakat Jogja kemudian dianggap entitas rasis yang memarahi
Florence karena dia 'orang luar', bukan karena dia menghina Jogjakarta. Pemikiran seperti ini bisa
memecah keharmonisan Jogjakarta dan menumbuhkan prasangka tidak adil di hati para pendatang.
Antitesis lain yang relatif unik muncul adalah 'Apabila Florence dibully, bukankah pendatang Jakarta
yang mengeluh atas kemacetan juga bisa dibully'. Pengikut pemikiran ini, menurut penulis, memiliki
kesalahan deduksi akibat kegagalan membaca data. Florence melakukan kesalahan dengan
menyerobot antrian spbu (x) lalu menghina masyarakat Jogjakarta secara pribadi dengan
menggunakan kata tolol, miskin dan tidak berbudaya (y) maka dia dibully (z). Dalam kasus pendatang
Jakarta yang mengeluh atas kemacetan, unsur kesalahan (x) dan hinaan pribadi (y) sama-sama tidak
muncul sehigga bully (z) tentu tidak mungkin terlaksana.
Tinjauan Hukum
Perkembangan hukum kasus FS terhitung cepat dan mengejutkan. Dimulai ketika sebuah LSM
(Jatisura) mengadukan FS dengan dasar hukum UU ITE. FS merespon dengan menyewa kuasa
hukum tanpa mencoba upaya damai. Pihak kepolisian kemudian membawa kasus ini ke tahap
penyidikan. Pada awalnya, banyak pihak yang menganggap FS tidak akan terkena hukuman pidana
karena kesalahannya tidak diatur oleh UU ITE. Kenyataannya, polisi menetapkan status FS sebagai
tersangka dan langsung menahan FS. Pihak kepolisian menyatakan bahwa FS ditahan karena tidak
kooperatif serta kekhawatiran melarikan diri, mengulangi pidana dan menghilangkan barang bukti.
Ini berarti sifat pretentious FS sekali lagi menjerumuskannya. Seharusnya bila FS bertindak baik
selama pemeriksaan, polisi tidak perlu menahannya karena yang berhak menentukan putusan dan
hukuman adalah hakim saat pengadilan. Kenyataannya, FS berlaku sedemikian buruknya saat
pemeriksaan hingga kepolisian terpaksa menahannya.
Menyambut keputusan ini, reaksi lini masa tercampur aduk. Meskipun secara teknis tindakan
kepolisian tidak salah, ada kelompok arus utama lini masa yang menentang penahanan FS. Argumen
kelompok penentang ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga grup dimana ketiganya tidak memiliki
bobot logis yang cukup, yaitu:
1. 'Tidak seharusnya FS ditahan atas dasar UU ITE' - argumen ini salah karena FS ditahan karena
dikhawatirkan mengganggu proses hukum dengan cara melarikan diri atau menghilangkan barang
bukti, serta kekhawatiran FS akan mengulangi hinaannya terhadap masyarakat Jogjakarta dengan
dampak sosial yang lebih buruk. Penahanan FS saat ini tidak ada kaitannya dengan UU ITE.
2. 'Banyak kasus lain yang lebih parah mengapa mengusut kasus FS' - argumen ini salah karena
besar kecilnya kasus tidak berkaitan dengan kekebalan di muka hukum. Apa karena banyak
pembunuhan, kasus pencurian tidak perlu diusut?
3. 'Kepolisian hanya sigap di kasus yang ngehits seperti ini' - menurut penulis argumen ini muncul
karena beberapa golongan netizen hanya mengikuti kasus yang hits tapi tidak mengakses informasi
kasus-kasus yang tidak ngehits. Sehingga generalisasi yang salah akibat tidak cukupnya data
diambil.
Kesimpulan
Menurut hemat penulis, kemarahan masyarakat Jogjakarta terhadap FS dapat dijustifikasi dan
penahanan FS telah sesuai dengan proses hukum. Penulis tidak membenci FS secara pribadi tetapi
FS perlu mendapatkan konsekuensi agar nilai-nilai 'pretentiousness' tidak menyebar lebih jauh.

HUKUM PENCEMARAN NAMA BAIK


(STUDI KASUS FLORENCE
SIHOMBING)
SEPTEMBER 1, 2014 JEMPOL TINGGALKAN KOMENTAR

Akhir-akhir ini kita diresahkan dengan informasi bahwa seorang mahasiswa Pascasarjana
UGM Fakultas Hukum, memposting sebuah tulisan yang menjelek-jelekkan suatu kelompok
masyarakat dengan kata-kata yang sangat tidak sopan sehingga banyak pihak yang berusaha
menuntut beliau dengan tuduhan pencemaran nama baik, provokasi, dan sebagainya. Tidak
sedikit juga kalangan masyarakat yang merasa iba dan kemudian beranggapan bahwa masa
sih, hanya dengan kicauan seperti itu, seseorang dapat di tuntut, bahkan denda hingga 1
Milliar rupiah. Sebelum kita memvonis dia (Florence Sihombing) itu bersalah, ada baiknya
kita mengetahui hukum yang berlaku atas perbuatannya tersebut, agar informasi yang
diterima masyarakat tidak simpang siur terkait dengan hukum tersebut.

Sebelumnya, perlu dibedakan antara diseminasi informasi yang bermuatan pencemaran nama
baik, serta yang berkaitan dengan SARA. Dalam UU ITE, ketentuan penghinaan dan
pencemaran nama baik diatur dalam Pasal 27 ayat (3), sedangkan ketentuan SARA diatur

dalam Pasal 28 ayat (2). Berdasarkan Pasal 43 ayat (1) UU ITE, delik-delik tersebut dapat
dilaporkan kepada Penyidik POLRI atau kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil Informasi
dan Transaksi Elektronik (PPNS ITE) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Laporan
kepada PPNS ITE juga dapat disampaikan melalui emailcybercrimes@mail.kominfo.go.id.
Sanksi dapat dijatuhkan apabila pelaku memenuhi seluruh unsur dan telah melalui proses
peradilan pidana.
Bunyi Pasal 27 ayat (3) UU ITE adalah sebagai berikut:
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan
dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Sedangkan bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut:
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk
menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat
tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Penerapan ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE telah dibahas pada topik Legalitas Hasil
Cetak Tweet Sebagai Alat Bukti Penghinaan.Sedangkan, penerapan ketentuan Pasal 28
ayat (2) UU ITE mengenai SARA telah dibahas pada topik Pasal untuk Menjerat Penyebar
Kebencian SARA di Jejaring Sosial.
Perlu dibahas pada topik ini bahwa banyak pihak menganggap Pasal 27 ayat (3) UU ITE
merupakan delik biasa. Pemahaman ini keliru dari dua hal, yaitu dari segi esensi delik
penghinaan dan dari sisi historis.
Pertama, Secara esensi penghinaan, pencemaran nama baik merupakan perbuatan menyerang
kehormatan atau nama baik seseorang, sehingga nama baik orang tersebut tercemar atau
rusak.
Dalam menentukan adanya penghinaan atau pencemaran nama baik, konten dan
konteks menjadi bagian yang sangat penting untuk dipahami. Tercemarnya atau rusaknya
nama baik seseorang secara hakiki hanya dapat dinilai oleh orang yang bersangkutan. Dengan
kata lain, korbanlah yang dapat menilai secara subyektif tentang konten atau bagian mana
dari Informasi atau Dokumen Elektronik yang ia rasa telah menyerang kehormatan atau nama
baiknya. Konstitusi memberikan perlindungan terhadap harkat dan martabat seseorang
sebagai salah satu hak asasi manusia. Oleh karena itu, perlindungan hukum diberikan kepada
korban, dan bukan kepada orang lain. Orang lain tidak dapat menilai sama seperti penilaian
korban.
Sedangkan, konteks berperan untuk memberikan nilai obyektif terhadap konten. Pemahaman
akan konteks mencakup gambaran mengenai suasana hati korban dan pelaku, maksud dan

tujuan pelaku dalam mendiseminasi informasi, serta kepentingan-kepentingan yang ada di


dalam pendiseminasian (penyebarluasan, ed.) konten. Oleh karena itu, untuk memahami
konteks, mungkin diperlukan pendapat ahli, seperti ahli bahasa, ahli psikologi, dan ahli
komunikasi.
Kedua, secara historis ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE mengacu pada ketentuan
penghinaan atau pencemaran nama baik yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP), khususnyaPasal 310 dan Pasal 311 KUHP. Dalam KUHP diatur dengan
tegas bahwa penghinaan merupakan delik aduan. Tidak adanya ketentuan yang tegas bahwa
Pasal 27 ayat (3) UU ITE merupakan delik aduan kerap dipermasalahkan dalam menerapkan
ketentuan ini. Akan tetapi, dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PUUVI/2008 mengenai konstitusionalitas Pasal 27 ayat (3) UU ITE telah ada penegasan bahwa
Pasal 27 ayat (3) UU ITE merupakan delik aduan. Dalam pertimbangan Mahkamah
Konstitusi Butir [3.17.1] dijelaskan
Bahwa terlepas dari pertimbangan Mahkamah yang telah diuraikan dalam paragraf
terdahulu, keberlakuan dan tafsir atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak dapat dipisahkan dari
norma hukum pokok dalam Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP sebagai genus delict yang
mensyaratkan adanya pengaduan (klacht) untuk dapat dituntut, harus juga diperlakukan
terhadap perbuatan yang dilarang dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE, sehingga Pasal a quo
juga harus ditafsirkan sebagai delik yang mensyaratkan pengaduan (klacht) untuk dapat
dituntut di depan Pengadilan.
Pasal 28 ayat (2) UU ITE juga sudah pernah diuji konstitusionalitasnya terhadap UUD NRI
1945 dalam perkara Nomor 52 PUU-XI/2013. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan
bahwa Pasal 28 ayat (2) UU ITE tidak bertentangan dengan Konstitusi. Namun, dalam
putusan MK sebagaimana dimaksud, tidak memberikan penjelasan mengenai apakah
ketentuan ini merupakan delik laporan atau delik aduan, sehingga hal ini masih terbuka untuk
didiskusikan.
Nah, sekarang kita bisa belajar memutuskan perkaranya sendiri tanpa harus terprovokasi oleh
orang lain. Cerdas dalam bersikap.

Harianjogja.com, JOGJAKasus Florence Sihombing dengan sangkaan penghinaan lewat


media sosial dinilai menjadi semacam kelinci percobaan penerapan Undang-undang Informasi
dan Transaksi Elektronik (ITE).
Saat ini, kasus itu tetap berlanjut karena pelapor tak mencabut laporan kepolisiannya, meski
telah menerima maaf dari Flo.
Ini menjadi test case bagaimana menerapkan Pasal 28 ayat (2) UU ITE, apakah memang layak
diterapkan untuk kasus ini, atau kasus yang lebih parah lagi, ujar Dekan Fakultas Hukum UGM
Paripurna di Kraton Kilen, Kamis (5/9/2014).
Dalam persidangan, menurut dia, akan terdapat berbagai macam fakta menarik yang dapat
menjadi bahan kajian akademik ataupun untuk memberikan masukan pada kelembagaan DPR
tentang pelaksanaan UU ITE itu.
Ia mengaku belum memiliki rencana untuk melakukan judicial review (uji materi) terhadap UU
ITE itu. Sebab, berdasarkan laporan dari Iwan Piliang ahli Informasi Teknologi (IT), uji materi
pernah dilakukan bahkan sampai dua kali tapi ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.
Baginya, kasus Flo itu semestinya dapat berhenti ketika penegak hukum melihat ranah pidana
sebagai ultimum remedium atau aspek manfaatnya.
Ketika masyarakat sendiri bisa menyelesaikan perkara sosial itu, menurut dia, itu merupakan
kemenangan dari rakyat sendiri sehingga bukan ranah pidana yang dikedepankan.
Ia mengatakan telah menyerahkan kasus Flo itu kepada Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum
Fakultas UGM untuk mengadvokasinya.
Aktivitasnya sebagai dekan tak memungkin dia terus mendampingi kasus Flo itu secara intens.
Secara resmi Flo baru menyerahkan kuasa hukumnya pada PKBH Kamis(5/9/2014) siang,
ujarnya.
Oleh karenanya, katanya, tak benar jika semenjak diperiksa dan ditahan polisi pada Sabtu
(30/9/2014) malam lalu, Flo telah didampingi kuasa hukum profesional. Ia berujar, Wibowo Malik
yang disebut- sebut sebagai kuasa hukum Flo sebenarnya hanyalah teman dekat Flo.
Keberaan Wibowo ini diungkit oleh Relawan Jogja Damai (RJD) saat Flo menyampaikan
permintaan maafnya dihadapan elemen masyarakat di kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono
X pada Kamis (5/9/2014) malam.
Karena tak ada konfirmasi balik Wibowo terkait tawaran damai dari pelapor, RJD urung
mencabut laporannya. Jalur damai yang dibuat RJD itu dengan menuntut Flo meminta maaf di
hadapan massa di Tugu.

Erry Supriyono Dwi Saputro, Kuasa Hukum LSM Jati Sura mengatakan alasan tidak mencabut
laporan karena mengaku memiliki konsep menjaga Jogja sebagai kota budaya, ramah tamah
dan pariwisata. Namun kami mengharapkan juga Jogja taat hukum, katanya.
Menurut dia, biarkan peristiwa tersebut justru menjadi pijakan kelembagaan DPR untuk mengkaji
UU ITE. Mengkaji masih relevan tidak UU ITE dalam masyarakat modern saat ini, ujarnya.

Pakar: Kepolisian perlu manfaatkan kewenangan


diskresi
Senin, 6 Oktober 2014 18:07 WIB

Oleh Luqman Hakim

Ilustrasi (Foto antaranews.com)

Berita Terkait

Mensos: pengungsi korban longsor Banjarnegara bertambah


Tim SAR temukan 12 jenazah korban longsor Banjarnegara
Pemerintah didorong dukung revisi UU Perkawinan
Pakar: pembukaan hutan untuk sawit sebaiknya dihentikan
Menteri DPDTT: anak transmigrasi banyak yang sukses

Jogja (Antara Jogja)- Kepolisian serta Kejaksaan dinilai perlu memanfaatkan kewenangan "diskresi" terhadap
penanganan kasus yang tidak memiliki nilai kemanfaatan secara moral ketika dilakukan penindakan secara
hukum.
Pendapat itu dikatakan pakar hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII), Arief Setiawan dalam diskusi
"Tinjauan Hukum Pidana Terhadap Pencemaran Nama Baik di Media Sosial; Studi Kasus Florence Sihombing"
di Yogyakarta, Senin.
"Ketika suatu kasus dibawa ke ranah hukum tidak ada manfaatnya, maka sesungguhnya Kepolisian atau
Kejaksaan punya wewenang diskresi guna menghentikan penindakan," kata Arief.
Diskresi, kata dia, merupakan kewenangan yang diberikan kepada aparat penegak hukum untuk menggunakan
akal budi atau hati nuraninya dalam memutuskan menghentikan atau meneruskan penanganan kasus tertentu
yang tidak memiliki kemanfaatan secara moral dan hukum apabila diteruskan ke Pengadilan.
"Diskresi merupakan upaya mencapai keadilan, selain terpaku untuk membawa suatu kasus ke ranah hukum,"
kata dia.
Mengacu kasus penghinaan di media sosial yang dilakukan oleh Florence Sihombing beberapa waktu lalu,
menurut Arief, Kepolisian layak menggunakan kewenangan tersebut. Sebab, ia menilai kasus penghinaan yang
dilakukan Florence patut untuk ditindak sebatas untuk memberikan pembelajaran pada yang bersangkutan serta
masyarakat, namun tidak harus diteruskan ke ranah hukum lebih lanjut.
"Tersangka cukup dipanggil untuk diperkisa, diberikan sanksi untuk pembelajaran namun tidak harus
dihubungkan dengan upaya-upaya hukum pidana lebih lanjut," kata Arief.
Kewenangan itu, menurut dia, sebetulnya pernah dilakukan oleh Kepolisian saat menangani kasus perang
antarsuku di Mimika, Papua. Kepolisian, kata dia, tidak menindak para pelaku kejahatan perang ke ranah hukum,
namun lebih memilih berinisiatif mendorong diselenggarakannya upacara bakar batu, sebagai upaya perdamaian
sekaligus mengakhiri peperangan tersebut. "Upacara bakar batu yang dinisiasi kepolisian itu merupakan bagian
dari upaya diskresi," kata dia.

Menurut dia, upaya diskresi terhadap perkara tertentu, akan membawa dampak pada perbaikan citra penegakan
hukum di Indonesia, khususnya di tubuh Polri.
Meski demikian, kewenangan tersebut juga perlu mendapatkan pertimbangan dan dasar yang matang sebelum
diterapkan. "Bukan berarti kasus korupsi, serta kasus kriminal lainnya bisa didiskresikan dengan suap," kata dia.

TEMPO.CO, Jakarta - Beraktivitas di dunia media sosial sepatutnya berhati-hati. Kecerobohan


yang dilakukan di ruang virtual itulah yang memicu munculnya aksi perisakan (bullying) kepada
seseorang.
Hal tersebut disampaikan oleh praktikus media sosial, Nukman Luthfi, dalam diskusi Trial by
Social Media yang digelar di Restoran Merah Delima, Jakarta Selatan, Selasa malam, 23
September 2014. (Baca: Hina Kota Bandung, Emil Laporkan Pemilik Akun Ini)
Pemilik akun Twitter @nukman ini menyarankan agar setiap kata yang hendak ditulis atau foto
yang ingin diunggah, sebaiknya dipertimbangkan konsekuensinya.
"Kuncinya media sosial adalah media publik yang sifatnya terbuka, bukan lagi sebagai ruang
privat. Dengan konsep ruang publik, siapa pun yang bertindak memiliki dua konsekuensi, yakni
sosial dan hukum," jelasnya.
Ia melanjutkan, seseorang mudah menghakimi orang dari teks. "Kultur kita itu lisan," kata
Nukman. Dan di media sosial, jarak menjadi lebih pendek.
Konsekuensi sosial, kata Nukman, berkaitan dengan hal-hal sanksi sosial seperti di dunia nyata.
Ia pun menyebut, kasus Florence yang mengumpat warga Yogyakarta di akun Path. Sedangkan
konsekuensi hukum, ia mengatakan, adanya Undang-Undang Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE) menjadi payung hukum untuk menyeret seseorang ke meja hijau.
(Baca: Florence Sihombing Diskors Satu Semester)
"Kuncinya, usahakan untuk tidak melakukan sesuatu yang berpotensi ceroboh. Tak hanya
memajang foto telanjang saja tapi juga kita harus bisa menjaga ucapan serta jangan terlalu
banyak mengumbar kelemahan diri kita di media sosial," katanya.
Mengenai perilaku perisakan, Nukman menjelaskan, kondisi ini terjadi karena perilaku ceroboh.
Ia mendefinisikan perisakan di media sosial itu lebih disebabkan karena suatu perkataan yang
bisa menjatuhkan seseorang secara psikologis.
Jadi bagaimana caranya agar terhindar dari perisakan? "Pertama, jangan pernah telanjang di
depan kamera. Lalu anak-anak di bawah usia 13 tahun, jangan biarkan mereka masuksocial
media. Haram hukumnya. Mereka ini biasanya masih sangat labil," jelasnya.
Wicaksono, pemilik akun @ndorokakung, mengatakan terkadang banyak pihak yang merasa tak
sadar telah melakukan perisakan di media sosial. "Tapi saya yakin kok, praktekbullying di
jagat social media ini akan bisa menemukan keseimbangannya sendiri seperti halnya kehidupan
yang selalu menemukan keseimbangan baru,'' ujarnya.
Sementara itu, Ayu Rachmat mengaku pernah menjadi korban perisakan di jagat media sosial.
Sebagai orang tua yang anaknya bersekolah di Jakarta International School (JIS), ia kerap
diserang dengan hal-hal yang melecehkan.
"Saya pernah dibilang sebagai ibu-ibu yang suka sodomi, ibu-ibu bayaran. Semua itu karena
kami percaya pada sekolah anak-anak kami. Tapi itulah yang terjadi ketika kami menyampaikan
kebaikan dari JIS, yang terjadi kami malah diserang dengan kata-kata yang menyakitkan seperti
itu,'' katanya.

Mengambil hikmah dari kasus Florence Sihombing


Lembaga pemantau percakapan di media sosial serta pemberitaan di
media massa secara realtime, Awesometrics, mengamati respon media
sosial terhadap Florence Sihombing. Ia jadi buah bibir karena statusnya di
Path dianggap menyinggung warga Yogyakarta. Kasus ini dipicu antrean
BBM di sebuah SPBU di daerah Lempuyangan.
Hingga tanggal 29 Agustus (siang), Awesometrics mencatat lebih dari
6.600 kicauan yang memuat pesan terkait topik ini. Topik inipun masuk
jajaran trending topics Indonesia, kemarin (28/8).
Pada awalnya percakapan didominasi kecaman, terutama berasal dari
wilayah Jogja. Belakangan terlihat linimasa mulai mencoba bijak dengan
memaafkan, terlebih setelah mahasiswa S2 notariat Fakultas Hukum UGM
itu menyampaikan permohonan maaf. Awesometrics juga
mencatat, tweeps dari berbagai daerah mengambil hikmah dan
membagikan pesan positif terkait kasus ini (gambar 2).
Technopreneur Nukman Luthfie mengunggah tulisan berjudul Tak Ada
Yang Tertutup Di Media Sosial di situs pribadinya. Nukman menyarankan
untuk menghindari media sosial jika dalam keadaan marah. Di sisi lain,
penyebaran screen capture yang berisi status negatif dinilainya turut
menebar kebencian.
Adapun permintaan maaf Florence kembali ditegaskan oleh pengacaranya,
Wibowo Malik dalam konferensi pers di Kalui Cafe, Jogja, Jumat (29/8).
Dilansir Detikcom, Wibowo menyebutkan bahwa kliennya tidak bermaksud
menghina Jogja. Status tersebut hanyalah luapan emosi sesaat.

Fakultas Hukum UGM gelar Dialog Etika


Sosial Media
akultas Hukum UGM melaksanakan dialog yang bertujuan untuk mengeksplorasi seluk
beluk etika di dunia maya. Dialog dengan judul Etika Sosial Media ini menghadirkan
pakar

Komunikasi Wimar

Witoelar sebagai

narasumber

dari

perspektif

media

komunikasi, sedang analisis dari sisi hukum disampaikan olehProf. Edward O.S.
Hiariej. Seminar yang disertai dengan perlombaan live tweetramai dihadiri oleh
civitas akademika UGM.
Moderator acara ini, Linda Yanti Sulistiawati, PhD, memulai acara dengan
menanyakan seberapa persen dari peserta dialog yang akrab dengan Facebook,
Twitter, Path, Line, dan media social lainnya. Hampir 100% peserta dialog mengaku
aktif ber-sosmed. Dengan menyitir kasus lampau yang dialaminya Wimar menyatakan
bahwa dunia maya/social media adalah jauh lebih sensitive dibandingkan dengan
dunia nyata, karena kita tidak tahu berhadapan dengan siapa saja sebagai audience
kita.
Beberapa hal yang dipetik dari dialog ini adalah: Pertama, bahwa etika sosial media
tidak jauh berbeda dengan etika di dunia nyata, dan kebanyakan norma-norma yang
berlaku dalam sosialisasi sehari-hari harus juga diterapkan dalam dunia maya. Sebagai
pengguna sosial media, kita selayaknya harus dapat menjaga perasaan orang lain.
Jikalau konflik terpaksa muncul, lawan bicara tetap harus dihadapi dengan hormat.
Kejujuran harus selalu dijunjung tinggi.
Kedua, kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan utama kita adalah kehidupan di dunia
nyata. Jangan sampai sosial media dianggap kehidupan seluruhnya, apalagi dijadikan
sarana satu-satunya untuk mengekspresikan persona kita masing-masing. Sosial media
sebaiknya digunakan sebagai pendukung aktivitas keseharian dan bukan sebagai media
substitusi.
Ketiga, pada dasarnya ketentuan dalam Pasal 27 dan 28 Undang Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU No. 11/2008) yang antara lain mengatur tentang penghinaan
dan pencemaran nama baik, serta berita bohong, menyesatkan maupun menyebarkan
kebencian, sebenarnya sudah terkandung dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana.
Walaupun kontruksi pasalnya tidak spesifik layaknya dalam UU ITE, pasal-pasal dalam
KUH Pidana sudah cukup untuk dapat menangani penyalahgunaan sosial media.
Sehingga, meskipun UU ITE dicabut/tidak berlaku lagi, apabila KUHPidana masih
berlaku, hal-hal yang ada di dunia maya masih tetap bisa dikenakan pidana.
Walaupun, melihat dan belajar dari kasus-kasus yang lampau (Kasus Prita Mulyasari

2011, Kasus Florence 2014) kita dapat mengerti bahwa tidak setiap pelanggaran pidana
harus dipidana penjara.
Sebagai individu yang sewajarnya sudah mengerti norma-norma pergaulan sehari-hari,
kita semua seharusnya dapat menerjemahkan etika sosialisasi dunia riil ke dalam
dunia maya. Ilusi bahwa dunia maya adalah dunia tanpa aturan dan tanpa etika sama
sekali tidak benar. Anonimitas yang ditawarkan oleh berbagai sosial media bukanlah
sebuah izin untuk bertingkah tanpa etika. Tetapi di akhir hari, permasalahan ini
kembali

pada

diri

kita

masing-masing,

bagaimana

memilah

antara

batasan private dan public sphere. Khususnya ketika sepak terjang kita terbuka untuk
seluruh dunia.

---

Di balik kasus Florence,


ada ancaman untuk kita
semua?
Setiap hari, saya membaca keluh kesah teman-teman saya soal kemacetan Jakarta,
soal banjir ibukota dan soal perilaku masyarakatnya yang menyebalkan. Apakah
mereka juga harus ditangkap karena telah menyebar kebencian?

Tasa Nugraza Barley


Published 5:45 PM, Sep 04, 2014
Updated 2:59 PM, Sep 15, 2014

Drama kasus hukum pencemaran nama baik yang melibatkan


mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Florence Sihombing, harus menjadi
pengingat bagi kita untuk senantiasa berhati-hati dalam mengutarakan pendapat, baik di
dunia maya maupun dunia nyata. Potensi kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi
masih ada, terutama sejak pengesahan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik
(UU ITE) pada 2008.

Florence ditangkap oleh polisi setelah tulisannya pada akun Path miliknya dianggap
menyebarkan kebencian. Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman
Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja, tulisnya.
Walau mungkin sepele untuk sebagian orang, namun menurut saya kasus ini
menarik untuk dibahas karena ini sebetulnya menyangkut kepentingan kita semua.
Seberapa jauh kita dapat dipidanakan hanya karena tulisan kita di internet? Siapa
yang jadi penentu baik atau buruknya tulisan kita di dunia maya?
Reaksi warga Yogya berlebihan?

Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah soal sebagian elemen masyarakat
Yogyakarta yang bereaksi berlebihan atas kasus ini. Caci-maki bertubi-tubi
dilancarkan kepada Florence, tanpa ampun. Bukankah hal tersebut justru sedikit
membenarkan tulisan yang dibuat oleh Florence di akun Path miliknya?
Patut pula disayangkan bahwa polisi tetap melanjutkan kasus ini saya. Padahal,
Florence sudah meminta maaf atas perbuatannya kepada seluruh masyarakat
Yogyakarta.
Fakultas Hukum UGM juga sudah bersedia membina Florence. Dalam waktu dekat,
UGM akan menjalankan proses penyelidikan etis terhadap Florence. Saya kira
usaha-usaha tersebut sudah lebih dari cukup. Kita tidak perlu membakar dendam
dan mengumbar kecaman lebih jauh.
Semangat Yogyakarta sebagai kota yang berbudaya dan sarat akan nilai-nilai luhur
justru diuji ketika menghadapi situasi seperti ini. Alangkah eloknya jika pendapat
Florence dibalas dengan pendapat lainnya. Opini dibalas dengan opini. Biarkanlah
masyarakat yang menilainya.
Lunturnya hak berekspresi di dunia maya
Kita semua sepakat bahwa ucapan Florence tidak pantas. Oleh karenanya ia juga
pantas mendapatkan sanksi sosial. Namun apakah ia juga layak untuk mendapatkan
sanksi hukum?
Setiap hari, saya membaca keluh kesah teman-teman saya soal kemacetan Jakarta,
soal banjir ibukota dan soal perilaku masyarakatnya yang menyebalkan. Tidak
jarang sebagian dari mereka bahkan mencaci, menuliskan kata-kata yang cukup
keras.
Apakah mereka juga harus ditangkap karena telah menyebar kebencian?
Apabila Florence dianggap telah melanggar hukum karena menyebarkan kebencian
di dunia maya, lalu kenapa polisi tidak pernah menangkap orang-orang yang selama
sebulan penuh memasang status-status bernada penghinaan bahkan fitnah selama
masa pemilihan presiden yang lalu? Bukankah hal ini adalah sebuah ironi?

SOCIAL MEDIA SAVVY. Indonesia has 69 million Facebook users and more than 15 million
Twitter users. Photo by Bay Ismoyo/AFP

UU ITE yang kontroversial


Kita tidak bisa membahas masalah Florence tanpa mengupas peran dari UU ITE
yang menjadi senjata utama bagi pihak kepolisian dalam menangani kasus ini.
Florence bukanlah korban pertama dari undang-undang kontroversial ini, dan saya
yakin dia bukan yang terakhir.
Di tahun 2008, seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari menjadi salah
satu korban pertama dari undang-undang ini. Ia harus berhadapan dengan proses
hukum yang panjang dan amat melelahkan, ia bahkan sempat dipenjara selama
beberapa waktu, akibat emailnya yang memprotes kualitas pelayanan sebuah rumah
sakit swasta.
UU ITE bertentangan dengan semangat reformasi dan demokrasi. Peraturan ini
melemahkan setiap anggota masyarakat untuk berekspresi dan mengeluarkan
pendapat, termasuk di dunia maya. Padahal konstitusi secara jelas mengakui dan
melindungi hak ini. Pasal 28-E ayat 2 UUD 1945 secara jelas menyatakan bahwa
setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan
sikap sesuai dengan hati nuraninya. Hal ini dikuatkan oleh ayat 3 di pasal yang
sama yang menyatakan kalau setiap orang berhak atas kebebasan berserikat,
berkumpul dan mengeluarkan pendapat.
Seperti yang diungkapkan oleh berbagai kalangan ahli hukum, ada beberapa pasal
yang berpotensi menciptakan banyak tafsir, atau yang biasa disebut pasal karet, di
dalam undang-undang ini. Pasal-pasal tersebut berpotensi menimbulkan berbagai
interpretasi sesuai pandangan yang membacanya, alias subjektif.
Dua pasal yang digunakan oleh polisi untuk menjerat Florence adalah contoh pasal
karet tersebut, yaitu pasal 27 ayat 3 jo pasal 45 ayat 1 dan pasal 28 ayat 2 jo pasal
45 ayat 2, yang keduanya terkait dengan penyebaran informasi yang mengandung
penghinaan atau kebencian atas dasar SARA. Seseorang bisa saja mengganggap
suatu informasi mengandung fitnah atau kebencian, sementara orang lain sama
sekali tidak mengganggap seperti itu. Kemungkinan terciptanya multitafsir tidak
diakomodasi oleh UU ITE ini.

Selain itu, undang-undang ini juga terkesan tumpang tindih apabila dibandingkan
dengan peraturan lainnya. Terkait masalah penghinaan dan pencemaran nama baik,
misalnya, hal tersebut sudah ada di KUHP. Perbedaannya hanya saja hukuman
yang tercantum di UU ITE lebih berat.
Usaha untuk menguji beberapa pasal di dalam UU ITE sudah pernah dilakukan di
Mahkamah Konstitusi (MK), namun gagal. Mudah-mudahan kasus Florence
mendorong publik untuk kembali mengangkat diskusi mengenai apakah UU ITE
telah membantu meningkatkan kualitas iklim demokrasi kita atau malah sebaliknya.
Ini penting karena kebebasan berpendapat adalah hak yang harus diperjuangkan.
Rappler.com
Tasa Nugraza Barley adalah seorang konsultan komunikasi yang pernah menjadi
jurnalis selama dua tahun di sebuah koran berbahasa Inggris di Indonesia. Ia suka
membaca buku dan berpetualang, dan ia sangat menikmati cita rasa kopi tubruk
yang bersahaja. Silakan follow akun Twitter-nya, @barleybanget
Negeri 1/2 Gila

Pras
31 Aug 2014 | 10:42
Disela-sela hiruk pikuk pemberitaan soal kenaikan BBM, sebagian publik tersita
perhatiannya atas pernyataan seorang mahasiswi S2 di jejaring sosialnya. Lewat
akun path miliknya, Florence Sihombing melampiaskan kemarahannya karena
anterian BBM di salah satu SPBU di Yogyakarta.
Pelampiasan Florence berbuntut panjang. Status pathnya tersebar ke jejaring sosial lainnya.
Dari twitter, facebook hingga kemudian jadi pemberitaan media. Warga Yogyakarta marah,
terusik karena apa yang dikatakan Florence sudah keterlaluan dan menghina kota dan
masyarakat Yogyakarta.
Ramai-ramai masyarakat lewat dunia maya melampiaskan kemarahan kepada Florence.
Pemilihan kata untuk melampiaskan dari masyarakat ini pun tidak jauh berbeda dengan status
path Florence. Kasar, sarkas bahkan ada juga yang mengancam. Universitas Gajah Mada
(UGM) tempat Florence melaksanakan studi S2nya pun tidak mau ketinggalan untuk
mengomentari hal ini. Katanya, Florence akan disidang kode etik UGM.

Belum cukup sampai disitu, pemberitaan menyebutkan sejumlah masyarakat juga menggelar
aksi demo untuk mengusir Florence dari Yogyakarta, bahkan ada LSM yang kemudian
melaporkan Florence ke kepolisian.
Florence hancur. Meski sudah menyadari kesalahannya dan mengatakan permohonan maaf
secara terbuka, laporan di kepolisian sudah di proses dan dengan kerja yang sangat cepat,
Florence harus masuk ke hotel prodeo. Dari situasi sosial ini, ada banyak hal menarik yang
bisa dikedepankan dan mungkin jadi bahan tertawaan kepada diri kita sendiri.
Pertama, apa yang tertulis di status path Florence memang keterlaluan. Menyandang
mahasiswi magister S2 hukum UGM, pemilihan kata Florence untuk melampiaskan
kekesalan terhadap situasi yang ia hadapi sangat tidak elok. Mungkin jika Florence hanyalah
anak SMA yang masih labil, hal itu bisa termaafkan dan dimaklumi.
Kedua, reaksi berlebihan -menurut pendapat penulis. Dari segelintir masyarakat Yogyakarta
atas hal ini. Florence menjadi target cyber bullying yang dilakukan secara berjamaah. Tidak
tanggung-tanggung cacian, hinaan, hujatan sampai ancaman terhampar di jejaring sosial. Di
facebook bahkan ada segelintr akun yang membuat fanpage untuk mengusir Florence dari
Yogyakarta.
Sejak kapan masyrakat Yogyakarta menjadi masyarakat yang 'beringas'? Sejak kapan
Yogyakarta menjadi kota yang intoleran? Sebagai masyarakat di luar Yogyakarta, penulis
menganggap kota ini penuh dengan kedamaian, diisi oleh masyrakat yang paham arti
perbedaan, masyarakat yang memandang masalah dari pelbagai sudut.
Fenomena apa yang sedang terjadi di Yogyakarta saat ini? Hal apa juga yang mendorong
masyarakat Yogyakarta menjadi sangat pemarah karena kasus ini? Yang terakhir, apakah
yang dilakukan Florence ialah cermin bobroknya kualitas orang berpendidikan di negeri ini?
Tiga pertanyaan yang saling berkaitan jika ingin menalaah secara jernih kasus Florence. Kota
Yogyakarta ialah kota yang diisi pelbagai macam suku dari negeri ini. Menyandang sebagai
kota pelajar, tidak heran jika banyak orang dari macam-macam suku tinggal dan menuntut
ilmu disini.
Keberagaman dan akulturasi budaya pun tercipta di Yogyakarta. Sepengetahuan penulis
gesekan karena perbedaan budaya antar masyaraka pendatang dan masyarakat asli jarang
terjadi di Yogyakarta. Jika terjadi pun tidak sampai menjadi perhatiaan nasional.

Mungkin baru dua atau tiga tahun kebelakang, gesekan sosial di Yogyakarta menjadi sorotan
nasional. Pelbagai kasus muncul. Yogyakarta seperti kota yang penuh dengan percikan
masalah sosial yang sewaktu-waktu bisa meledak. Mengapa itu terjadi? Apa yang
menyebabkan? Tentu itu menjadi kajian sosiologi tersendiri.
Apakah bisa disebut masalah sosial ini karena didorong faktor kemiskinan? Kemiskinan,
khususnya kemiskinan di kota erat kaitannya dengan langkanya peluang kerja yang produktif.
Namun bukankah masarakat Yogyakarta ialah masyarakat dengan tingkat kreatifitas tinggi.
Banyak hal yang bisa mereka ciptakan dari segala keterbatasan dan mendatangkan materi.
Lantas apa yang mendasari ini semua? Menurut penulis, hal ini erat kaitannya dengan
fenomena secara nasional. Ketidakberdayaan, ketidakadilan, tindakan bodoh dan tak
manusiawi pejabat yang terpelajar, praktek diskriminasi, praktek curang dan banyak hal
buruk lainnya menjadi santapan sehari-sehari masyarakat di negeri ini, menjalar cepat ke
sudut-sudut kota dan desa di negeri ini. Pemberitaan di media mengenai kondisi sosial ini
menjadi sekam dalam masyarakat.
Saat mereka sudah memupuk kebencian terhadap hal ini namun tidak berdaya melakukan
kritik dan perlawanan, pengalihan kebencian itu tersalurkan saat kasus Florence menyeruak
ke permukaan. Florence jadi 'tumbal'.
Ini fenomena sosial yang marak terjadi di negeri 1/2 gila, negeri ngeri yang sewaktu-waktu
menjadi negeri yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. Apa yang dialami Florence
tidak jauh berbeda dengan yang dialami para pencuri ayam, penjambret, pencopet yang jadi
bulan-bulanan massa yang beringas dan pemarah, namun nasibnya sedikit lebih 'baik'.
Dibaca : 17 kali

Media Sosial dan Kebudayaan


Kita
SATUHARAPAN.COM Seorang mahasiswi S2 di UGM, Yogyakarta, Florence
Sihombing kena demo dan ancaman diusir dari kota itu. Ini gara-gara ia menulis
status di situs jejaring sosial, Path, yang oleh sekelompok orang (di) Yogyakarta dan
pengguna media sosial lainnya menganggap apa yang dia tulis itu adalah hinaan
bagi Yogyakarta.
Si mahasiswi itu tidak menyebut nama orang, lalu mengapa ia kena marah? Ia tidak
merusak sesuatu, misalnya tembok kelas kuliahnya atau andong di Malioboro,
namun kenapa orang-orang memarahi dia?
Tapi ia menyebut nama Yogyakarta. Nah, di sini ternyata soalnya. Ternyata, nama
Yogyakarta adalah sakral. Bagi banyak orang yang (pernah) akrab dengan
Yogyakarta, menyebut nama itu sama dengan mengingatkan sebuah kenangan,
mengingatkan makna ruang hidup, dan bahkan menyinggung kewibawaan diri.
Yogyakarta, bagi banyak orang adalah sesuatu yang melampaui sekadar daerah
tujuan wisata atau tempat belajar. Nama itu bukan artefak. Nama itu adalah
identitas. Dengan begitu, ketika nama itu dihina, orang-orang akan bereaksi.
Padahal, entah apanya dari nama itu yang dihina. Kita mendapati hal yang hampir
sama pada kasus reaksi orang-orang ketika salah unsur dalam agamanya, meski itu
hanya berbentuk simbol, dihina.

Lebih dari Sekadar Cara Berkomunikasi


Media sosial adalah ruang publik di dunia maya bagi orang-orang untuk saling
berinteraksi. Orang-orang menjalin persahabatan, saling berbagi informasi, ide dan
gagasan terkini dengan media sosial. Media sosial, akhirnya juga jadi media protes,
media saling hina, dan media untuk menyebarkan kebencian. Kemarahan dibalas
kemarahan, terjadi di media sosial. Semua itu terjadi ketika orang-orang justru
diisolir oleh media sosial itu sendiri ke sebuah dunia keramaian semu, yang sama
dengan kesendirian sesungguhnya. Sementara dunia nyata semakin kering dengan
objektifitas dan kebijaksanaan, yang perlahan diganti dengan subjektifitas dan sikap
cepat marah.
Situs jejaring sosial, macam Facebook, Twitter, Path telah mengubah cara orangorang berkomunikasi. Ini soal bagaimana seorang memberadakan diri dan
bagaimana ia menanggapi keberadaan orang lain, lingkungan serta dinamikanya.
Ketika kemarahan dan kebencian telah berbentuk semacam deklarasi di ruang
publik, maka dengan segera dapat menyulut kemarahan dan kebencian lagi pada
banyak orang.
Tapi, mengapa kasus si mahasiswi itu berbeda dengan perang status waktu Pilpres
lalu? Waktu itu, tidak ada pengguna situs jejaring sosial yang didemo atau kena
ancam diusir, padahal hinaan dan makian yang jelas-jelas diarahkan kepada orangorang tertentu berseliweran tak karuan. Justru yang terjadi saling balas komentar,
saling hina dan paling sial, pertemanan diputuskan.
Sebenarnya, media sosial punya mekanismenya untuk hal itu. Yaitu, biarlah urusan
di dunia maya selesaikan di dunia maya. Pelajaran dari perang status dan komentar
waktu kampanye Pilpres lalu, orang-orang akhirnya bosan dengan sendirinya. Media
sosial bikin orang kelelahan sendiri. Tidak ada yang dihukum, tidak ada yang kena
kekerasan.
Saya kira ini terkait bagaimana cara pandang orang terhadap sesuatu yang dirasa
memiliki ikatan, baik secara historis, sosio-kultural, politis-ideologis maupus
psikologis. Mengikatkan diri secara kuat terhadap sesuatu bahkan dapat berujung
pada klaim kepemilikan yang kemudian berkembang memunculkan semacam
tanggung jawab penuh untuk menjaganya agar tetap baik, dan suci adanya. Jadi
menyingung sesuatu yang disakralkan itu, yang kadang entah apa itu, sama dengan
menyinggung kewibawaan dan kenyaman diri, seolah-olah kehidupan sedang
direngut.
Di tambah pula, ketika apa yang dianggap menghina, mengejek dan merendahkan
itu semakin mudah menyebar, maka sesuatu yang mungkin saja dulu (sebelum era
digital) sebagai hal biasa, di era ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Ia bahkan
dengan segera bisa menyulut kemarahan besar sebagai balasan.

Ini Persoalan Kebudayaan juga


Jadinya, gejala ini sesungguhnya lebih dari sekadar cara atau teknik orang-orang
berkomunikasi di era digital ini. Ia terutama tidak dibentuk oleh perangkat-perangkat

digital yang belum lama menjadi bagian dari masyarakat kita, semacam situs jejaring
sosial. Ia dibentuk oleh situasi sosial dan politik serta kondisi ekonomi masyarakat
yang rentan. Situasi ini membuat masyarakat kita lebih menyukai pembedaan
ketimbang merayakan perbedaan secara bijaksana. Perbedaan agama, suku, ras
dan termasuk pemikiran sepertinya lebih mudah diselesaikan secara emosional dan
pada banyak kasus bahkan berujung kekerasan, ketimbang dengan penalaran dan
hati yang jernih.
Mengapa? Ini rupanya karena identitas kultural sedang dihayati secara ideologis:
menjadi simbol pembeda dengan orang lain. Sementara cara kerja situs jejaring
sosial sangatlah datar dan kering emosi. Ia tidak akan pernah mau tahu bagaimana
kondisi psikologis manusia-manusia yang menggunakannya dan kondisi sosiokultural masyarakat atau subjek yang diperbincangkan di dalamnya.
Situs jejaring sosial bekerja dengan kode-kode digital yang matematis, sementara
manusia adalah makhluk simbolik yang selalu melibatkan emosi/perasaan dalam
memproduksi maupun menanggapi simbol-simbol yang hadir di hadapannya.
Konteks di mana seseorang hidup sangat memengaruhi dalam dia memahami,
memaknai serta merespon kode-kode digital yang tidak pernah utuh menyampaikan
pesan itu. Kepingan-kepingan realitas yang disampaikan melalui situs jejaring sosial
berhadapan dengan kerentanan psikologis masyarakat, dengan mudah dapat
membuahkan kebencian dan kemarahan bahkan kekerasan (fisik dan verbal).
Maka, ini sesungguhnya adalah persoalan kebudayaan di era digital ini. Yaitu
bagaimana strategi kultural kita untuk mensiasati zaman. Caranya adalah
mentransformasi emosi personal yang subjektif menjadi kesadaran kultural yang
lebih terbuka, dan mampu menggunakan kode-kode digital media sosial yang
matematis untuk pesan-pesan kemanusiaan bagi keadilan dan perdamaian.
Penulis adalah Dosen Fakultas Teologi UKIT, Tomohon, dan aktivis di Mawale
Cultural Center