Anda di halaman 1dari 35

Kertas Kerja Kelompok

Overview
HUKUM ALIH TEKNOLOGI

Koordinator Penyusun: Ozy Juliendra


Sekretaris
: Rospianti
Anggota
Andalan 1
: Daniel
Andalan 2
: Samuel Purba
Andalan 3
: Nia Balina Ginting
Andalan 4
: Prengki
Andalan 5
: Verani Brenisya
Andalan 6
: Eki Prayogi
Andalan 7
: Remon
Andalan 8
: Dita Ariyani Arzil
Andalan 9
: Heni Pintasari
Andalan 10
: Najrah
Andalan 11
: Saadha Rahmillah
Andalan 12
: Muhammad Caca Rasky
Andalan 13
: Miranti Agustini
Andalan 14
: Rosmini
Andalan 15
: Ferry Sandria Kelana. P
Andalan 16
: Masitoh
Andalan 17
: Riska Rahmadini

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2014 / 2015

Lembar Pembimbingan Akademik


Nama MK

: Hukum Alih Teknologi

Bobot SKS

: 2 SKS

Koordinator Penyusun : Ozy Juliendra


Sekretaris
: Rospianti
Anggota
Andalan 1
: Daniel
Andalan 2
: Samuel Purba
Andalan 3
: Nia Balina Ginting
Andalan 4
: Prengki
Andalan 5
: Verani Brenisya
Andalan 6
: Eki Prayogi
Andalan 7
: Remon
Andalan 8
: Dita Ariyani Arzil
Andalan 9
: Heni Pintasari
Andalan 10
: Najrah
Andalan 11
: Saadha Rahmillah
Andalan 12
: Muhammad Caca Rasky
Andalan 13
: Miranti Agustini
Andalan 14
: Rosmini
Andalan 15
: Ferry Sandria Kelana. P
Andalan 16
: Masitoh
Andalan 17
: Riska Rahmadini

Tanggal Gelar Bedah : 17 November 2014


Hukum
Balunijuk, 10 November 2014
Dosen P.A

I.C.Siregar, SH.M.AP

Mengetahui,
Ketua Prodi Ilmu Hukum
FH-UBB

Toni, SH.MH

LEMBAR PENILAIAN

TTD

Nilai

Koordinator Penyusun : Ozy Juliendra


Sekretaris
: Rospianti
Anggota
Andalan 1
: Daniel
Andalan 2
: Samuel Purba
Andalan 3
: Nia Balina Ginting
Andalan 4
: Prengki
Andalan 5
: Verani Brenisya
Andalan 6
: Eki Prayogi
Andalan 7
: Remon
Andalan 8
: Dita Ariyani Arzil
Andalan 9
: Heni Pintasari
Andalan 10
: Najrah
Andalan 11
: Saadha Rahmillah
Andalan 12
: Muhammad Caca Rasky
Andalan 13
: Miranti Agustini
Andalan 14
: Rosmini
Andalan 15
: Ferry Sandria Kelana. P
Andalan 16
: Masitoh
Andalan 17
: Riska Rahmadini

(
(

)
)

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

)
)
)
)
)
)
)
)
)
)
)
)
)
)
)
)

Dosen P.A

I.C.Siregar, SH.M.AP

BAB I
PENDAHULUAN
A. Peristilahan dan Pengertian
Istilah alih teknologi harus dipahami dari pihak yang memiliki teknologi kepada
pihak lain yang membutuhkan teknologi tersebut, yang dalam hal ini dapat dilakukan
dengan sell; share ataupun transfer . Di Indonesia alih teknologi lazimnya dipahami
dari pihak asing, sebagaimana ungkapan Pameo Satirikal Technology was invented
in Europe and developed in USA but produced as made in Japan.
Istilah alih teknologi (transfer of technology) didefinisikan United Nation Centre on
Transnational Corporation (UNTC)
Menurut Marzuki, Tentang istilah alih atau pengalihan merupakan terjemahan
dari kata transfer. Sedang kata transfer berasal dari bahasa latin transfere yang berarti
jarak lintas (trans, accross) dan ferre yang berarti memuat (besar). Kata alih atau
pengalihan banyak dipakai para ahli dalam berbagai tulisan, walaupun adapula yang
menggunakan istilah lain seperti pemindahan yang diartikan sebagai pemindahan
sesuatu dari satu tangan ke tangan yang lain, sama halnya dengan pengoperan atau
penyerahan. Pendapat inilah yang menekankan makna harfiahnya, pendapat lain
dengan istilah pelimpahan sedangkan para ahli menghendaki makna esensinya
dengan memperhatikan insir adaptasi, asimilasi, desiminasi atau difusikannya obyek
yang ditransfer (teknologi).
Apa yang dikemukakan Marzuki pada definisi teknologi di atas memang tepat
karena technical know-how merupakan sesuatu yang menentukan bagi terciptanya
peralatan guna memproduksi barang dan jasa. Dapat dikemukakan bahwa technical
know how itulah yang memungkinkan terciptanya alat-alat itu. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan berdasarkan apa yang dikemukakan Marzuki tersebut bahwa alih
teknologi sebenarnya alih mengenai technical know-how, yaitu rahasia dibalik
peralatan untuk memproduksi barang dan jasa.

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 2005 definisi alih teknologi


dikemukakan sebagai berikut:

Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu


pengetahuan dan teknologi antar lembaga, badan atau orang, baik yang berada dalam
lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri atau
sebaliknya.1

B. Tujuan Alih Teknologi


Negara mempunyai keinginan untuk dapat mensejahterahkan masyarakatnya.
Pencapaian

hal demikian tidak mudah melainkan harus melewati proses yang relatif

memerlukan waktu yang tidak singkat. Namun, tidak menjadikan negara untuk santai
dalam menjalani proses melainkan harus mampu terus berkarya guna mencapai
kesejahterahan. Keadaan itu tidak hanya diperhadapkan dengan proses, akan tetapi
dengan tingkat persaingan antar masing-masing negara. Rahardi Ramelan selaku
wakil ketua badan perencanaan pembangunan nasional yang disampaikan pada temu
ilmiah fakultas hukum mengatakan Kiranya sulit dipungkiri, bahwa tanpa penerapan,
pengembangan, dan penguasaan teknologi, pembangunan nasional tidak akan berjalan
dengan laju kecepatan yang cukup untuk dapat menempatkan diri sejajar dengan
bangsa-bangsa maju lainnya.Untuk itu, guna mencapai hal tersebut dibutuhkan
sebuah solusi yang tepat yakni menggunakan teknologi.
Mengutip dari wikipedia, teknologi merupakan keseluruhan sarana untuk
menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan
hidup manusia. Dari pengertian tersebut, menegaskan bahwa teknologi ditujukan pada
pemenuhan akan barang-barang yang dibutuhkan manusia sehingga manusia dalam
menjalani kehidupannya merasa nyaman. Selain sebagai penemu, manusia juga
berperan sebagai pengguna dari teknologi. Pada umumnya, tiap manusia memiliki
rasa kurang puas terhadap hal-hal yang telah ditemui dan dinikmati.
Keadaan demikian, menjadikan teknologi yang ada perlu untuk dilakukan
pembaharuan. Pembaharuan dilaksanakan seiring dengan perkembangan peradaban
manusia yang seiring dengan perkembangan kemajuan berpikir dan berkreasi. Adapun
maksud dari pembaharuan teknologi mengarah pada modifikasi berguna untuk
semakin memudahkan dan menghasilkan manfaat yang besar bagi penggunanya.
1

Arisandi 21.wordpress.com//peristilahan dan pengertian teknologi.

Namun, dengan adanya keterbatasan dari sumber daya manusia yang dapat
menemukan dalam suatu wilayah menuntut adanya pengalihan teknologi atau dikenal
dengan alih teknologi. Adapun pengertian alih teknologi mengutip dari pasal 1 angka 1
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 ialah pengalihan kemampuan
memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga, badan
atau orang, baik yang berada dalam lingkungan dalam negeri maupun yang berasal
dari luar negeri ke dalam negeri maupun sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut dapat
menegaskan bahwa suatu kemampuan yang dimiliki dengan memanfaatkan dan
menguasai teknologi dapat dialihkan kepada pihak lain baik yang berasal dari dalam
maupun luar negeri ataupun sebaliknya.
Pengembangan akan teknologi dalam suatu negara sangat diperlukan, teristimewa
bagi negara yang sedang berkembang. Hal demikian demi mendukung percepatan
pembagunan negara yang bersangkutan dan berdampak terhadap kemajuan
perekonomian dalam negara tersebut. Untuk itu, masing-masing negara diminta
mampu dalam menguasai dan mengembangkan kemampuan teknologinya. Langkah
yang umumnya dilakukan oleh negara-negara asia dengan cara membawa masuk
teknologi dari luar.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di tengah zaman modernisasi
yang cenderung semakin membutuhkan kemajuan teknologi, tanpa disadari posisi
kemampuan teknologi yang dimiliki indonesia masih sangat terbatas dan belum
menunjukkan peningkatan yang berarti. Untuk mengatasi hal demikian hendaklah
dilakukan upaya teknologi yang dapat mendukung kemajuan pengembangan teknologi
guna mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.
Dalam penerapan alih teknologi tidak seluruhnya dapat berjalan dengan mulus.
Akan tetapi, mengalami hambatan dari berbagai pihak. Adapun pihak yang berkaitan
dengan alih teknologi diantaranya : Pertama, kubu yang memiliki perkembangan
teknologi yang demikian pesat, yang biasanya disebut dengan negara maju (developed
countries). Kedua,

adalah kubu yang dalam banyak hal disebut dengan negara

terbelakang (under developed atau developing countries) atau yang sering disebut juga
dengan negara dunia ketiga (third world countries). Permasalahan pengalihan
teknologi yang terjadi tidak terlepas dari sudut pandang

makroekonomi dan

mikroekonomi. Dari sudut makroekonomi, alih teknologi merupakan suatu hal yang

sangat efektif bagi negara berkembang untuk mengejar negara maju (effective means
for developing countries to catch up technology transfer is extremely the developed
countries). Keberhasilan alih teknologi dari sudut pandang ini didorong oleh (1)
globalisasi aktivitas bisnis dan (2) makin meningkatnya perhatian dunia terhadap hak
milik intelektual. Dari sudut mikro ekonomi, yakni dari kacamata perusahaan yang
berhubungan dengan manajemen bisnisnya melalui lisensi. Dalam tubuh perusahaan
(enterpriser), keberhasilan alih teknolgi melalui lisensi didorong oleh (1) R&D,
department dan (2) business department.
Pengalihan teknologi sudah diberikan peluang untuk dapat menyentuh ke berbagai negara-negara yang lain. Meskipun
demikian, setiap terjadinya alih teknologi harus disesuaikan dengan

preferensi budaya, keadaan sosial, dan

kondisi-kondisi lingkungan lainnya. Selanjutnya, teknologi yang kita pilih haruslah


sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat kita serta diselaraskan dengan tujuan
Pembangunan Nasional secara luas. Hal tersebut dikarenakan tidak menutup
kemungkinan bahwa suatu negara mau memberikan teknologinya kepada kita dengan
tujuan eksperimen dari pengembangan teknologinya. Untuk itu dengan berjalannya
pengalihan teknologi dengan baik dan sebagaimana mestinya maka akan
meningkatkan kesejahterahan mayarakat. Oleh karenanya adapun yang menjadi tujuan
dari alih teknologi dikutip dari Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005,
antara lain :
a. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
b. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan dan menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi guna kepentingan masyarakat dan negara.

C. Hubungan Hukum dengan Teknologi


Hukum adalah bagian dari teknologi karena teknologi terkait dengan masalah
konstitusi dan fungsinya sebagai legal structure yang fundamental. Didalam konstitusi
suatu negara tercakup berbagai pertimbangan dan keputusan manusia yang berposisi
sebagai teknokat, birokrat dan politikus. Hukum menentukan teknologi canggih,
teknologi menengah atau teknologi merakyat. Dalam Undang-Undang Dasar 1945
diletakkan dasar dan arah pembangunan ekonomi yang tentu didalamnya tercakup
masalah alih teknologi. Dalam Pasal 33 ditetapkan bahwa : Perekonomian Indonesia di

susun oleh Cabang-cabang produksi Bumi, air dan kekayaan alamdipergunakan


sebesar-sebesar kemakmuran rakyat. Pembangunan ekonomi dimaksudkan untuk
mencapai Tujuan Nasional, disadari bahwa bangsa Indonesia memiliki kekurangan dari
segi modal, keahlian dan teknologi. Untuk itu diperlukan serangkaian kebijakan dan
aturan yang dapat memenuhi kebutuhan itu, antara lain, melalui kebijakan alih
teknologi.
Dalam Background Reading Material on Intellectual Property yang diterbitkan oleh
World Intellectual Property Organization ( WIPO), tiga macam format hukum dasar
yang dapat ditempuh untuk melaksanakan alih teknologi :
1. Dalam bentuk penjualan dan pengalihan teknologi
2. Melalui pemberian lisensi
3. Dengan know-how agreements
Suatu perlindungan hukum seharusnya diberikan untuk memacu kreativitas
menciptakan suatu invensi. Tanpa adanya perlindungan , maka kegiatan dalam bidang
penelitian dan pengembangan dibidang apapun akan tidak bergairah. Diperlukan insentif
dari pemerintah serta jaminan perlindungan hukumnya agar setiap hasil kreativitas
intelektual tidak mudah ditiru oleh pihak lain.memang dari sudut pandang negara
berkembang , HAKI dan perlindungannya mungkin belum begitu berperan dalam
pembangunan.

namun

demikian,

mengingat

kepentingan

baik

individu,

masyarakat,maupun nasional dan internasional sangatlah perlu untuk memberi


perlindungan ,meskipun hanya minimal sesuai standar TRIPS.
Bentuk hukum alih teknologi dibagi menjadi dua yaitu : ( Direct invesment dan
indirect invesment )
1. Direct invesment
Undang-undang no 1/1967 mengatur masalah direct invesment dimana investor
harus menanamkan modalnya dalam bentuk pendirian perusahaan ( perseroan
terbatas, mengelola dan melakukan kontrol langsung atas usahanya serta langsung
menanggung resiko atas investasinya (pasal 1). Umumnya investor berasal dari

perusahaan transnational atau multinasional dari negara maju. Motivasi mereka mau
menanamkan modal diluar negaranya :
1. Adanya kejenuhan pasar dinegaranya,sehingga menimbulkan iklim kompetisi
yang ketat dan cenderung tidak sehat
2. Adanya peluang pasar dinegara tujuan investasi atau sekitarnya dan hal itu
dilakukan untuk ekspansi pasar
3. Adanya cost of production yang tinggi disebabkan oleh mahalnya faktor-faktor
produksi.
4. Pendayagunaan kembali mesin-mesin atau teknologi yang dinegaranya sendiri
mungkin sudah usang dan dilarang untuk dipakai
Dalam kaitan dengan alih teknologi pasal 2 UU No.1/1967 menetapkan bahwa :
alat-alat perusahaan dan penemuan baru milik orang asing termasuk kategori modal
asing dalam arti bahwaalat-alat dan penemuan tersebut dapat dianggap sebagai
inbreng.untuk itu perlu diwaspadai agar tidak terjadi mark up harga dan penilaian
teknologi secara berlebihan. Pada prinsipnya pemegang paten wajib membuat
produk atau menggunakan proses yang diberi paten di indonesia. Kecuali jika hal itu
hanya layak dilakukan secara regional, asalkan disertai permohonan tertulis kepada
yang berwenang( pasal 17 UU No.14/2001).ketentuan ini dimaksudkan agar terjadi
alih teknologi ( lebih-lebih jika pemegan paten adalah inventor asing).
Perjanjian lisensi merupakan hal yang krusial untuk dikaji. Dalam pasal 71 UU
No.14/2001 dinyatakan bahwa perjanjian lisensi yang dilarang :
a. Memuat ketentuan yang baik langsung maupun tidak langsung dapat merugikan
perekonomian indonesia
b. Memuat pembatasan-pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa
indonesia menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang
berkaitan dengan inovasi yang diberi paten pada khususnya.

BAB II
Sejarah Perkembangan Teknologi
A. Perkembangan Teknologi Tradisional atau Konvensonal
Sejarah awal mula munculnya teknologi sudah dimulai sejak lama, mulai jaman
peradaban manusia mulai mengenal alat-alat sifatnya masih manual, dari situlah mulai
muncul sebuah gagasan perkembangan teknologi, berarti secara tidak langsung
peradaban manusia pada saat itu sudah mulai mengalami perubahan dari sedikit demi
sedikit. Misalnya manusia jaman prasejarah sudah mengenal alat yang namanya
senjata berburu, senjatanya pun masih sangat sederhana hanya sebuah mata tombak
dan kayu dengan ujung yang terbuat dari batu atau kayu. Pada saat itu manusia sudah
mampu menciptakan sebuah senjata walau sangat sederhana dan manual.2
Pada masa prasejarah, teknologi informasi dan komunikasi yang dilakukan oleh
manusia berfungsi sebagai sistem untuk pengenalan bentuk-bentuk yang manusia
kenal. Untuk menggambarkan informasi yang diperoleh, mereka menggambarkannya
pada dinding-dinding gua tentang berburu dan binatang buruannya. Pada masa ini,
manusia mulai mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar lingkungan tempat
tinggal mereka, kemudian melukiskannya pada dinding gua tempat tinggalnya. Awal
komunikasi mereka pada zaman ini hanya berkisar pada bentuk suara dengusan dan
menggunakan isyarat tangan.3

- http://www.g-excess.com/id/sejarah-perke

-http://kaltimfree.com/blog/2009/07/infor..

Pada zaman prasejarah mulai diciptakan dan digunakan alat-alat yang


menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang, terompet yang terbuat dari tanduk
binatang, dan isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap bahaya.
Teknologi yang paling awal ditemukan berbentuk perkakas dari batu (tombak, pisau).
Dalam perkembangan selanjutnya ditemukan teknologi besi (pisau logam). Sampai
akhirnya ditemukan pula teknologi mesin yang mengolah tenaga dari alam (air dan
angin) untuk menggerakkan dirinya.
Masa-masa Sejarah Perkembangan Teknologi:
-

3000 SM
Untuk yang pertama kali, tulisan digunakan oleh bangsa Sumeria dengan

menggunakan simbol-simbol yang dibentuk dari piktografi sebagai huruf. Simbol atau
huruf-huruf ini juga mempunyai bentuk bunyi (penyebutan) yang berbeda sehingga
mampu menjadi kata, kalimat, dan bahasa.
-

2900 SM
Pada 2900 SM, bangsa Mesir Kuno menggunakan huruf hieroglif. Hieroglif

merupakan bahasa simbol, dimana setiap ungkapan diwakili oleh simbol yang
berbeda. Jika simbol-simbol tersebut digabungkan menjadi satu rangkaian, maka akan
menghasilkan sebuah arti yang berbeda. Bentuk tulisan dan bahasa hieroglif ini lebih
maju dibandingkan dengan tulisan bangsa Sumeria.
-

500 SM
Pada 500 SM, manusia sudah mengenal cara membuat serat dari pohon

papyrus yang tumbuh di sekitar sungai Nil. Serat papyrus dapat digunakan sebagai
kertas. Kertas yang terbuat dari serat pohon papyrus menjadi media untuk menulis
atau media untuk menyampaikan informasi yang lebih kuat dan fleksibel
dibandingkan dengan lempengan tanah liat yang sebelumnya juga digunakan sebagai
media informasi.

105 M
Pada masa ini, bangsa Cina berhasil menemukan kertas. Kertas yang

ditemukan oleh bangsa Cina pada masa ini adalah kertas yang kita kenal sekarang.
Kertas ini dibuat dari serat bambu yang dihaluskan, disaring, dicuci, kemudian
diratakan dan dikeringkan. Penemuan ini juga memungkinkan sistem pencetakan yang
dilakukan dengan menggunakan blok kayu yang ditoreh dan dilumuri oleh tinta atau
yang kita kenal sekarang dengan sistem cap.
Teknologi yang paling awal ditemukan berbentuk perkakas dari batu (tombak,
pisau). Dalam perkembangan selanjutnya ditemukan teknologi besi (pisau logam).
Sampai akhirnya ditemukan pula teknologi mesin yang mengolah tenaga dari alam
(air dan angin) untuk menggerakkan dirinya. 4

B. Perkembangan Teknologi Modern


Pada jaman modern ini, semua hal telah berkembang dengan pesat. Termasuk
teknologi dan komunikasi. Teknologi untuk mempermudah komunikasi orang pun
semakin lama semakin berkembang. Namun sebenarnya, bentuk komunikasi modern
saat ini merupakan revolusi dari bentuk komunikasi di masa lalu. Seperti video call,
video conference lewat internet, pengiriman data melalui bluetooth, itu semua
merupakan bentuk komunikasi yang kelihatan tidak realistis di masa lalu, namun
berkat perkembangan teknologi, kita bisa merasakan kemudahan itu semua saat ini.
Hal ini menunjukkan adanya revolusi di dalam teknologi komunikasi saat ini.
Revolusi komunikasi ini membentuk industri komunikasi dan masyarakat yang ada di
dalamnya. Revolusi ini merupakan pengembangan dari konsep konsep dasar.
Konsep yang pertama adalah sistem komunikasi. Konsep ini beranggapan bahwa
informasi dapat dikodekan, lalu kemudian dipertukarkan. Sistem komunikasi dalam
konsep ini mencakup alat komunikasi dan aplikasinya. Dampak dari penggunaan alat
tersebut adalah bentuk manipulasi, serta kemungkinan bentuk pertukaran informasi.
Konsep yang kedua adalah informasi. Informasi disini diartikan sebagai koleksi
simbol simbol yang dapat dikombinasikan untuk menyampaikan pesan. Informasi

-Buku Sekolah Elektronik Kementerian Pendidikan Nasional

terbagi menjadi dua, yaitu sebagai sinyal yang cocok digunakan dengan peralatan
seperti sistem bluetooth contohnya, dimana gelombang radiolah yang berperan
sebagai informasi, dan informasi sebagai definisi yang diperluas.
Perkembangan teknologi komunikasi telah memberikan pengaruh pada struktur
sosial masyarakat yang telah melahirkan kelas sosial secara global. Dulu, kelompok
sosial seseorang dipengaruhi faktor ekonomi, politik dan pendidikan. Namun pada
saat ini, perbedaan tersebut menjadi nyata ketika seseorang mempunyai informasi
atau tidak, karena orang yang memiliki jaringan informasi akan jauh lebih
menguntungkan dibandingkan orang yang tidak memiliki jaringan informasi. Selain
itu, faktor lain yang membentuk kelas sosial adalah konvergensi teknologi, implikasi
ekonomi, demokratisasi informasi, intelektual properti dan privasi.5

https://titis putri.wordpress.com/perkem....

BAB III
DIMENSI-DIMENSI HUKUM ALIH TEKNOLOGI
A. Lisensi Sebagai Salah Satu Mekanisme Alih Teknologi
Pengaturan tentang alih teknologi perlu diperhatikan dalam kerangka untuk
masuknya teknologi baru di Indonesia, apakah melalui kerjasama lisensi, pemegang
hak cipta berhak memberikan lisensi kepada pihak lain berdasarkan surat perjanjian
lisensi. Pembangunan industri untuk Indonesia sangat diperlukan terutama dalam
kaitan dengan penemuan baru. Suatu penemuan baru harus dapat direaksir segera
dimana paten atau penemuan tersebut didaftarkan.Pihak-pihak dapat memulainya
pada pengadilan negeri untuk menggunakan paten tersebut dan kepada pihak yang
menggunakan lisensi wajib tersebut harus memberikan royalti yang wajar kepada
pihak pemegang paten tersebut.
Berdasarkan kategori di atas jelas terlihat bahwa penggunaan teknologi baru atau
alih teknologi harus mendapat pengaturan yang memadai sehingga dunia usaha akan
terhindar dari peniruan teknologi lain, dan hal ini sejalan dengan persetujuan
Pemindahan Teknologi Dalam Aspek-aspek Hukum Dari Pengaruh Teknologi,
umumnya tentang tarif dan perdagangan yang merupakan perjanjian perdagangan
yang pada dasarnya bertujuan menciptakan perdagangan bebas.yang diharapkan
membantu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan guna mewujudkan
kesejahteraan manusia.
Persetujuan TRIPs memuat norma-norma dan standard perlindungan bagi
kekayaan intelektual manusia dan menempatkan perjanjian Internasional di bidang
hak atas kekayaan intelektual sebagai dasar pengaturan hukum dalam bidang alih
teknologi baik yang berkaitan dengan lisensi .Untuk itu perlu menjabarkan dengan
tegas dan harus bagaimana mekanisme pengalihan teknologi dari pemilik teknologi
asing kepada teknologi Indonesia,sehinga produksi suatu teknologi akan lebih meluas
ke negera-negara berkembang.

Mekanisme Alih Teknologi yang Berlaku


Alih teknologi dari suatu negara kenegara lain, umumnya dari negara maju
berkembang dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada macamnya
bantuan teknologi yang dibutuhkan. Teknologi dapat dipindahkan melalui cara
sebagai berikut.
1. Memperkerjakan tenaga-tenaga ahli perorangan.
Dengan cara ini negara berkembang bisa dengan mudah mendapatkan
teknologi,yang berupa teknik dan proses manufacturing yang tidak dipatenkan.
Cara ini hanya cocok untuk industri kecil dan menenqah.
2. Menyelenggarakan suplai dari mesin-mesin dan alat equipment lainnya. Suplai ini
dapat dilakukan dengan kontrak tersendiri.
3. Perjanjian lisensi dalam teknologi si pemilik teknologi dapat memudahkan
teknologi

dengan

memberikan

hak

kepada

setiap

orang/badan

untuk

melaksanakan teknologi dengan suatu lisensi.


Kebijaksanaan pemerintah menerbitkan ketentuan perundang-undangan
tentang penanaman modal asing merupakan langkah awal bagi Indonesia untuk
melakukan kerjasama dengan pihak asing yang termasuk didalamnya pengalihan
teknologi.
Alih teknologi pada kenyataannya harus dibeli dengan harga tinggi. Teknologi
pada hakekatnya telah menjadi komoditi yang mahal dan langka karena banyak
diminta, keadaan tersebut makin tertampilkan karena alih teknologi Penanaman
Modal Asing selalu dikaitkan dengan bidang yang menjadi otoritas IPR (Intelektual
Property Right). IPR telah larut dalam tahap pemilihan teknologi yang digunakan,
pada tahap produksi dan begitu pula pada saat produk dipasarkan. Bahkan disinyalir
IPR telah menjadi komoditi dagang itu sendiri.
dapat dilihat bahwa alih teknologi bukan merupakan hal yang mudah dan
murah tapi sesuatu yang mahal. Membutuhkan perhitungan yang matang dalam
kerangka memajukan teknologi dalam era globalisasi. Indonesia dalam menghadapi
era globalisasi mau tidak mau harus berani menerapkan perjanjian alih teknologi

dalam kerangka menghindarkan ketertinggalan dengan negara lain pada era


globalisasi.
Globalisasi akan merupakan peluang bila mana kita siap dan dapat
memanfaatkannya dengan baik serta berusaha mengatasi bahaya-bahayanya bagi
kehidupan nasional. Sebaiknya akan menimbulkan musabab apabila kita tidak siap
dengan global vision dan hanyut bersama sisi-sisi berbahaya bagi kehidupan nasional
tersebut antara lain adalah saling ketergantungan antara bangsa semakin meningkat
berlakunya

standar-standar

baku

antara

nasional

di

berbagai

kehidupan

kecenderungan melemahnya ikatan-ikatan etponosentrik dan ikatan-ikatan nasional,


dominasi modal asing dan peran serta yang paling kuat, berkembangnya konsep
kesejahteraan regional dan global serta perobahan sosial yang sangat cepat.Untuk itu
perlu diperhatikan pengembangan peraturan akhir teknologi dengan memperhatikan
peringkat hukum nasional, regional dan internasional.
Penerapan peraturan,tersebut sangat penting artinya dalam usaha memajukan
produksi negara berkembang yang akan di pasarkan kepasar regional dan global untuk
itu maka Indonesia harus segera menerapkan ahli teknologi dalam bidang penerimaan
modal asing, paten dan merek. Lisensi merupakan cara untuk ahli teknologi perjanjian
lisensi merupakan perjanjian antara pemilik teknologi dengan negara berkembang
dalam memproduksi suatu produk.
Perjanjian Lisensi Dalam Alih Teknologi.
Pada umumnya bagi negara-negara yang telah memiliki perundangan yang
mengatur tentang perjanjian lisensi yaitu lisensi wajib, lisensi karena permufakatan
dan lisensi karena berlakunya hukum.Lisensi wajib adalah lisensi yang didasarkan
pada pengaturan pejabat pemerintah bentuk lisensi ini jarang dipergunakan.Lisensi
karena permupakatan yaitu seorang atau badan hukum menerima lisensi boleh
memberi suatu lisensi dibawah penemuan patennya kepada orang lain melalui suatu
kontrak.
Berdasarkan pada pernyataan di atas seseorang atau badan hukum dapat
menggunakan teknologi orang lain untuk diproduksi, asalkan teknologi itu sudah
melewati jangka waktu tertentu dan belum dilaksanakan di Indonesia dimana paten

tersebut didaftarkan.Lisensi wajib ini diberikan tidak lain karena keperluan. Pasar dan
penerima lisensi wajib untuk membayar royalti kepada pemegang paten dengan harga
yang mereka sepakati bersama.Pasal 21 UU paten; Dalam suatu hal produk diimpor
ke Indonesia dan proses untuk pemegang paten berhak untuk melindungi paten
tersebut.Dengan demikian maka paten tidak dapat begitu saja ditiru dan dilisensi
tanpa persetujuan pemegang paten asing pemegang paten asing masih dapat
melakukan perlindungan hukum atas patennya di Indonesia.
Untuk itu kalau terjadi pejanjian lisensi antara pihak asing dan Indonesia dapat
didaftarkan perjanjian tersebut kepada kantor paten. Bagaimana kalau para pihak
mamakai asas konsensualitas dalam berkontrak dan mereka tidak mendaftarkan
kontrak mereka ke kontor paten. Untuk itu diminta kepada investor asing untuk
mendaftarkan lisensi tersebut kepada kantor paten agar kepentingan dapat
terlindungi.6

B. Hukum Alih Teknologi di Indonesia


Pengertian
Istilah alih teknologi harus dipahami dari pihak yang memiliki teknologi kepada
pihak lain yang membutuhkan teknologi tersebut, yang dalam hal ini dapat dilakukan
dengan sell; share ataupun transfer . Di Indonesia alih teknologi lazimnya dipahami
dari pihak asing, sebagaimana ungkapan Pameo SatirikalTechnology was invented in
Europe and developed in USA but produced as made in Japan.
Istilah alih teknologi (transfer of technology) didefinisikan United Nation Centre on
Transnational Corporation (UNTC)
Hukum adalah bagian dari teknologi karena teknologi terkait dengan masalah
konstitusi dan fungsinya sebagai legal structure yang fundamental. Didalam
konstitusi suatu negara tercakup berbagai pertimbangan dan keputusan manusia yang
berposisi sebagai teknokat, birokrat dan politikus. Hukum menentukan teknologi
canggih, teknologi menengah atau teknologi merakyat.7

http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/lisensi-sebagai-salah-satu-mekanisme-alih-teknologi/

Erman Raja guk-guk, hukum Investasi, UI, Jakarta : 1995

Peranan Hukum Dalam Alih Teknologi


Teknologi jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan mencakup (a)Produk ;
(b)Proses dan (c) Paradigma Etika. Teknologi sebagai The application of science
berinduk pada ilmu pengetahuan (science) yang merupakan the enlarging
international pool of knowledge equally valid every where Ilmu pengetahuan semula
berawal dari pengetahuan (knowledge) yang lambat laun menjadi disiplin ilmu yang
mandiri manakala cabang-cabang ilmu melepaskan diri dari batang filsafatnya dan
berkembang sesuai metodologinya.

Pengaturan Hukum Tentang Alih Teknologi di Indonesia


Pengaturan tentang alih teknologi perlu diperhatikan dalam kerangka untuk
masuknya teknologi baru di Indonesia, apakah melalui kerjasama lisensi, pemegang
hak cipta berhak memberikan lisensi kepada pihak lain berdasarkan surat perjanjian
lisensi. Pembangunan industri untuk Indonesia sangat diperlukan terutama dalam
kaitan dengan penemuan baru. Suatu penemuan baru harus dapat direaksir segera
dimana paten atau penemuan tersebut didaftarkan.Pihak-pihak dapat memulainya
pada pengadilan negeri untuk menggunakan paten tersebut dan kepada pihak yang
menggunakan lisensi wajib tersebut harus memberikan royalti yang wajar kepada
pihak pemegang paten tersebut.
Hukum sebagai sarana pembaharuan sosial harus mampu untuk memberikan
pengaturan terhadap perkembangan baru, untuk itu alih teknologi harus dapat diatur
secara hukum Indonesia, sebagai negara berkembang menyadari bahwa ilmu
pengetahuan dan teknologi mempunyai peranan penting dalam mempercepat
pembangunan sosio ekonomi nasional dan khususnya dalam memperlancar
peningkatan produksi dari barang dan jasa dalam sektor industri dan memasukkarl
teknologi asing yang cocok yang tepat dari luar negeri kedalam negeri dengan
ketentuan-ketentuan, syarat-syarat dan harga yang menguntungkan bagi kepentingan
nasional berarti akan memperbesar peranan tersebut
Pengaturan tentang alih teknologi perlu diperhatikan dalam kerangka untuk
masuknya teknologi baru di Indonesia, apakah melalui kerjasama lisensi atau melalui
penanaman modal asing, pemegang hak cipta berhak memberikan lisensi kepada
pihak lain berdasarkan surat perjanjian lisensi
.

Bentuk Hukum Alih Teknologi


Dalam kaitan ini UNCTC menetapkan ada 9 (sembilan) bentuk perjanjian yang
terkait dengan alih teknologi yakni :
(1) Foreign direct invesment
(2) Joint venture
(3) Licensing
(4) Franchising
(5) Management contracts
(6) Marketing contacts
(7) Technical services contracts
(8) Turn key contracts
(9) International sub contracting8

C. Alih Teknologi Pada Investasi Asing Langsung


Alih teknologi merupakan salah satu masalah dalam investasi asing langsung.
Masalah ini biasanya menjadi konflik sejak terjadi perbedaan pandangan mengenai
alih teknologi antara negara pemilik teknologi dengan negara penerima teknologi.
Negara pemilik teknologi bermaksud mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin
dengan sumber yang terbatas yang dimilikinya (Purnawan, 1995: 75).
Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Invesment)
Investasi asing langsung adalah arus modal kewiraswastaan dalam bentuk ramuan
ketrampilan manajerial dan pinjaman keuangan. Dalam definisi neraca pembayaran
yang lebih spesifik, hal itu berarti setiap arus pinjaman kepada, atau pembelian hak
milik dari perusahaan asing yang sebagian besar dimiliki oleh neraga sumber
pendapatan yang diperoleh oleh para pemodal langsung merupakan gabungan dari
bunga, deviden, ongkos lisensi dan biaya manajerila sebagian IAL terdiri dari
investasi di cabang perusahaan asing oleh suatu perusahaan induk yang berpusat di
suatu negara sumber tertentu. Dalam kasus lainnya, perusahaan yang melakukan
investasi tersebut benar-benar merupakan perusahaan multi-nasional yang negara
asalnya tidak jelas.
8

Hal Hill, Investasi Asing dan Industrialisasi di indonesia, cetakan pertama,LP3ES, Jakarta : 1995

Peraturan hukum di bidang investasi asing merupakan instrument yang sangat


penting untuk mendorong investasi modal asing dalam pembangunan ekonomi
domestik. Pada tahun 1960-an hampir seluruh negara ASEAN mulai membuat
peraturan hukum untuk mendorong investasi asing karena modal domestik yang
dimilikinya tidak mencukupi.

Alih Teknologi dalam Investasi Asing Langsung di Indonesia


Data mengenai investasi asing langsung dipergunakan secara luas sebagai
indikator aktivitas perusahaan multi nasional. Dalam konsep, investasi asing langsung
berhubungan dengan aliran dana yang menyertai keterlibatan manajerial dan
pengawasan yang efektif. International Monetary Fund (IMF) memberikan batasan
investasi asing langsung yaitu bahwa investasi itu dibuat dalam rangka memenuhi
kepentingan abadi (selamanya) dalam operasi ekonomi perusahaan dengan tujuan
dapat mengefektifkan suara dalam manajemen perusahaan.
Teori investasi langsung pada dasarnya adalah untuk mencari jawaban atas
pertanyaan mengapa perusahaan-perusahaan melakukan investasi luar negeri
langsung sebagai suatu bentuk keterlibatan internasional. Investasi luar negeri
langsung biasanya dianggap bentuk lain pemindahan modal yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan ataupun orang-orang dalam satu negara dalam aktivitas
ekonomi negara lain yang melibatkan beberapa bentuk partisipasi modal di bidang
usaha yang mereka investasikan. Investasi luar negeri langsung dapat dibandingkan
dengan investasi portofolio yang tidak melibatkan partisipasi manajemen.
Stephen Hymer menganggap bahwa investasi luar negeri langsung sebagai
arus modal dalam kerangka teori neoklasik mengenai investasi riil yang sesungguhnya
belum memuaskan. Ia mengajukan pendekatan organisasi industri yang menekankan
peranan

keunggulan-keunggulan

(Advantages)

khas

perusahaan

dan

ketidaksempurnaan pasar (Imperfection market).Keberhasilan perdagangan barangbarang ke luar negeri, sering diikuti dengan alih teknologi terhadap produsen asing
(lokal), hal ini mendorong keyakinan pengusaha Amerika untuk mendirikan
perusahaan atau melakukan investasi ke luar negeri.
Sifat dasar dan ruang lingkup mengenai masalah-masalah yang timbul dalam
alih teknologi di negara berkembang tergantung pada bentuk, luas dan metode yang

diambil atau dipakai untuk mengalihkan seperti masalah teknologi, ekonomi dan
sistem hukum yang berlaku di negara penerima alih teknologi tersebut.
Perusahaan-perusahaan modal asing (investasi asing langsung) di Indonesia
dalam mengoperasikan perusahaannya menggunakan teknologi mulai dari teknologi
ringan, menengah maupun tinggi. Jepang, Taiwan dan Korea sebagai contoh,
mempergunakan teknologi rendah di bidang tekstil, tetapi di bidang produk-produk
elektronik, kimia atau mesin, mereka menggunakan teknologi tinggi industri.
B.N. Bhattasali menggambarkan, bahwa secara garis besar, teknologi dapat
dialihkan melalui saluran-saluran sebagai berikut:
1. Kerjasama antara dua negara atau lebih yaitu baik berupa pinjaman (kredit) atau
bantuan.
2. Kerjasama antara dua perusahaan. Melalui saluran ini, alih teknologi didasarkan
atas kontrak; technical assistance contract, franchice, joint venture, license contract,
management contract, technical services, turn key contract, international sub
contracting.
3. Kerjasama antara lembaga-lembaga international
Setiap negara memerlukan alih teknologi yang tepat guna, agar dapat
membawa kemajuan dan menyerap tenaga kerja. Ada beberapa cara yang dapat
dilakukan dalam alih teknologi:
1. Mempekerjakan tenaga-tenaga ahli asing
Dengan cara ini, teknologi relatif mudah didapatkan, teknologi disini berupa teknik
dan proses manufakturing yang tidak dipatenkan. Umumnya cara ini cocok untuk
industri kecil dan menengah, seperti berbagai macam industri engineering, makanan
dan costumer good lainnya.
2. Menyelenggarakan suplai dari mesin-mesin dan sarana lainnya. Suplai ini
dilaksanakan dengan kontrak tersendiri dan biasanya untuk peralihan operasional
teknologi. Ada kalanya dalam kontrak ini dicantumkan ketentuan-ketentuan khusus
seperti training yang ekstensif untuk tenaga-tenaga lokal atau bantuan suplier dalam
plant operation.
3. Perjanjian lisensi atau kontrak lisensi
Dengan cara ini pemilik teknologi mengalihkan teknologinya dengan jalan
memberikan lisensi kepada pihak lain dalam ikatan perjanjian untuk melaksanakan
teknologinya seperti lisensi paten, disain produk industri maupun merek.

Berdasarkan kontrak teknologi atau cara-cara pengalihan teknologi yang disebut


di atas, kontrak lisensi merupakan cara yang terpenting dan terefektif. Sebagai
buktinya dapat dilihat pada investasi asing langsung Jepang ke Indonesia dari tahun
1981-1991 yaitu terdapat 157.25 alih teknologi dengan cara lisensi.9

D. Implementasi Hukum Alih Teknologi


Presiden Nyrere pernah mengungkapkan, alih teknologi merupakan kewajiban
hukum dari negara maju ke negara berkembang; jadi bukan atas dasar belas kasihan.
Namun demikian dalam kenyataan mekanisme alih teknologi terkesan hanya sebagai
sesuatu yang rutin saja. Sebab begitu penerima teknologi mendapatkan teknologi
sesuai yang diperjanjikan, pada saat itu pemberi teknologi sudah mempunyai teknologi
yang baru lagi. Jadi walaupun ditekankan pada kewajiban hukum, posisi penerima
teknologi tetap saja di belakang pemberi teknologi. Itulah sebabnya ada pendapat yang
menyatakan bahwa jika ingin maju suatu negara tidak dapat hanya bergantung pada
mekanisme alih teknologi yang normatif.

Cara Alih Tehnologi


Alih teknologi dari suatu negara kenegara lain, umumnya dari negara

maju

berkembang dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada macamnya


bantuan teknologi yang dibutuhkan untuk suatu proyek. Teknologi dapat dipindahkan
melalui cara sebagai berikut.
1. Memperkerjakan tenaga-tenaga ahli aging perorangan. Dengan cara ini negara
berkembang bisa dengan mudah mendapatkan teknologi, yang berupa teknik dan
proses manufacturing yang tidak dipatenkan. Cara ini hanya cocok untuk industri
kecil dan menengah.
2. Menyelenggarakan suplai dari mesin-mesin dan alat equipment lainnya. Suplai ini
dapat dilakukan dengan kontrak tersendiri.
3. Perjanjian lisensi dalam teknologi sipemilik teknologi dapat memudahkan
teknologi

dengan

memeberikan

hak

kepada

melaksanakan teknologi dengan suatu lisensi.


9

Solusi Computerums.blogspot. com// investasi....

setiap

orang/badan

untuk

4. Expertisi dan bantuan, teknologi. Keahlian dan bantuan dapat berupa:


o

Studi pre-investasi.

Basic pre-ingeenering.

Spesifikasi masin-mesin.

Pemasangan dan menja1ankan mesin-mesin.

Manajemen.

Penerapan peraturan, sangat penting artinya dalam usaha memajukan produksi


negara berkembang yang akan di pasarkan kepasar regional dan global untuk itu maka
Indonesia harus segera menerapkan ahli teknologi dalam bidang penerimaan modal
asing, paten dan merek. Lisensi merupakan cara untuk ahli teknologi perjanjian lisensi
merupakan perjanjian antara pemilik teknologi dengan negara berkembang dalam
memproduksi suatu produk.10

E. Kontrak Alih Teknologi


Jenis Kontrak Alih Teknologi
Kontrak alih teknologi dapat dibedakan atas dua jenis, antara lain :
1. Kontrak dengan akibat terjadinya alih teknologi
Dalam kontrak ini alih teknologi terjadi hanya sekedar untuk menunjukkan
sesuatu (show-how)teknologi saja, atau cara bekerja suatu teknologi dan kontrak
tersebut tidak ditujukan terutama untukmenguasai atau mengambil alih pengetahuan
atas teknologi tersebut.Misalnya : kontrak jual beli mesin, kontrak jasa instalasi,
kontrak jasa tehnik, dan lain-lain. Dalam hal ini penjual barang/pemberi jasa cukup
memperlihatkan saja suatu teknologi yang terkait dengan pelaksanaan kewajibannya
dalam perjanjian tersebut dan tidak wajib mengalihkan teknologi yang bersangkutan
sampai dikuasai oleh pihak lain dalam kontrak.
2. Kontrak dengan tujuan terjadinya alih teknologi
Dalam kontrak semacam ini alih teknologi, penguasaan teknologi dan
pengetahuan adalah tujuan utama kontrak bukan sebagai akibat sampingan dari
perbuatan lain dalam kontrak. Dalam kontrak ini pemmberi teknologi tidak saja hanya
menunjukkan suatu teknologi (show how) saja, tetapi wajib mengalihkan teknologi
tersebut pada pembeli sampai pihak pembeli menguasai sepenuhnya teknologi yang
10

Arief Hercahyanto 35 blogspot. Com//, imple...

bersangkutan.Misalnya : Kontrak Bantuan Tehnik, Kontrak Pelatihan, Kontrak


Penelitian, dll.
OECD (Organization for Economic and Development) membedakan
Alih teknologi menjadi 2 jenis, yakni :
1. Kontrak alih teknologi satu kali operasi
Misalnya

kontrak

pembangunan

proyek

turnkey

project,

kontrak

lisensi

paten,kontrak pelatihan personil, kontrak bantuan tehnik manajemen,


2. Kontrak alih teknologi yang menciptakan hubungan permanen. Misalnya kontrak
pemeliharaan instalasi, kontrak bantuan teknis berkesinambungan, kontrak beli
kembali hasil produksi (buyback),
Klasula-Klausula Penting
1. Klausula pelatihan dan asistensi teknis
Dalam klausula ini diatur tentang pelatihan atau bantuan teknis yang wajib
diberikan oleh pemberi teknologi kepada penerima teknologi selama perjanjian alih
teknologi berlangsung. Melalui klausula ini penerima teknologi untuk jangka waktu
tertentu diberi kesempatan untuk memanfaatkan keahlian dan keterampilan teknisi
dari pihak pemberi teknologi dengan imbalan upah yang disepakati.
Teknisi yang bersangkutan umumnya dipekerjakan sebagai staff asing pada
perusahaan penerima teknologi meskipun secara faktual dan yuridis teknisi tersebut
statusnya adalah pekerja dari pemberi teknologi.
Penerima teknologi berhak untuk menerima instruksi dan informasi khusus dari
teknisi yang bersangkutan mengenai pengoperasian peralatan, operasionalisasi
kegiatanpabrik, perawatan dan pemeliharaan mesin, dan sebagainya ;Juga sering
diatur dalam klausula ini hak penerima teknologi untuk mendapatkan pasokan
komponen peralatan jika diperlukan dan hak untuk mendapatkan informasi mengenai
komponen-komponen tersebut.
2. Klausula improvisasi
Klausula ini penting bagi pemberi teknologi karena membebankan kewajiban
terhadap penerima teknologi untuk memberitahukan segala perbaikan (improvement)
teknologi yang dilakukannya selama masa berlakunya Perjanjian Alih Teknologi.
Tanpa adanya klausula ini bisa timbul kesulitan dalam alih teknologi. Di satu pihak
penerima teknologi dalam menggunakan teknologi hanya bisa memanfaatkan

informasi yang diterimanya pada saat dibuatnya kontrak sehingga harus bersusah
payah sendiri untuk melakukan improvisasi.
Apabila kontrak diperpanjang atau diperbaharui barulah mungkin diterima
informasi/teknologi yang lebih baru dari penerima teknologi. Dilain pihak pemberi
taknologi tidak mengetahui kekurangan dari teknologinya dan tidak mendapat umpan
balik dari penerima teknologi tentang tata cara mengatasi kesulitan selama
menggunakan teknologi yang bersangkutan. Mengingat penerima teknologi mungkin
menemukan sendiri perbaikan dalam penggunaan teknologi maka adakalanya klausula
ini diperinci lebih tegas untuk mewajibkan penerima teknologi memberikan kembali
informasi yang dimilikinya kepada pemberi teknologi (grantbackclause).
3. Klausula konfidentialitas
Klausula ini mengatur tentang kewajiban menjaga kerahasiaan informasi dan
teknologi yang telah diberikan oleh pemberi teknologi atas dasar kepercayaan kepada
penerima teknologi. Untuk itu penerima teknologi dilarang mengungkap (disclose)
informasi teknis yang diterimanya pada saat berlakunya atau beberapa saat setelah
tidak berlakunya Perjanjian Alih Teknologi kepada pihak ketiga.
Informasi teknis yang bisa disampaikan adalah informasi yang bersifat
publik,atau apabila bisa dibuktikan informasi tersebut telah terdahulu publik,atau
apabila bisa dibuktikan informasi tersebut telah terdahulu dimiliki oleh penerima
teknologi sebelum terjadi perjanjian alih teknologi,atau informasi tersebut diterima
dari pihak ketiga baik secara langsung maupun tidak langsung yang menerima
informasi tersebut dari pemberi teknologi. Pengungkapan informasi tersebut harus
dilakukan tanpa melanggar hak dan kewajiban penerima informasi yang ditetapkan
dalam kontrak alih teknologi.
4. Klausula eksklusifitas
Dengan klausula ini dapat ditentukan sifat alih teknologi yang diperjanjikan.
Alih teknologi bersifat non-ekslusif jika pemberi teknologi menunjuk beberapa
penerima teknologi. Alih teknologi bersifat tunggal jika pemberi teknologi hanya
menunjuk satu pihak tertentu sebagai penerima teknologi.Sedangkan alih teknologi
bersifat ekslusif dalam pengertian yang berbeda-beda, misalnya dalam perjanjian
lisensi teknologi memberikan hak kepadapemberi lisensi untuk mengesampingkan
pihak manapun selain penerima lisensi dalam penggunaan teknologi yang
dilisensikan.
5. Klausula pembayaran fee, lumpsumdan royalty

Dalam klausula ini diatur tentang besar dan cara pembayaran


imbalan yang harus diberikan kepada pemberi teknologi. Bentuk pembayaran imbalan
(sesuai kesepakatan para pihak) :
1. Upah atas jasa pengalihan teknologi
Upah besarnya tidak pasti, karena sangat tergantung pada jasa yang diberikan dan
lamanya jasa diberikan
2. Lumpsum
Lumpsum jumlah sudah ditetapkan secara pasti dan dapat dibayar di
depan oleh penerima teknologi ;
Umumnya teknologi yang dialihkan adalah teknologi yang mudah diserap oleh
penerima teknologi
3. Royalti
Dibayarkan berdasarkan nilai persentase tertentu dari produksi yang dihasilkan oleh
penerima teknologi yang mempergunakan teknologi yang diberikan
6. Klausula jaminan kebenaran
Klausula ini mengatur tentang ada tidaknya jaminan kebenaran (
warranty) bahwa teknologi yang dialihkan manfaat komersial atau bahwa hak patenya
masih berlaku, atau bahwa tidak ada pelanggaran terhadap paten pihak lain. Pemberi
teknologi pada umumnya enggan untuk menjamin keabsahan paten dan ketiadaan
pelanggaran terhadap paten di negaranya sendiri.Sebaliknya penerima teknologi pada
umumnya menghendaki jaminan tentang kecocokan teknologi untukmemperoduksi
sesuatu. Padahal cocok tidaknya penggunaan teknologi tersebut sangat tergantung
pada keterampilan personil yang menanganinya
7. Klausula pengendalian mutu dan tanggungjawab produk
Dengan klausula ini pemberi teknologi mengharapkan dapat menerapkan
suatu standar kualitas tertentu yang harus dipatuhi oleh penerima teknologi dalam
upaya untuk melindungi reputasi pemberi teknologi dan mencegah terjadinya klaim
atas pertanggujawaban produk.Kontrol kualitas ini juga penting dalam hal
digunakannya suatu merek dagang. Perlu diingat bahwa pemberi teknologi mungkin
terpaksa harus menanggung resiko yang besar akibat penggunaan teknologi oleh
penerima teknologi yang merugikan pihak ketiga. Oleh sebab itu pemberi teknologi
perlu untuk mengatur tentang kemungkinan ganti kerugian dari penerima lisensi
dalam hal demikian dan bilama mungkin mewajibkan kepada penerima teknologi

untuk mengasuransikan resiko penggunaan teknologi yang diberikannya dalam proses


produksi.
8. Klausula pelanggaran hak
Klausula ini mengatur tentang pihak mana yang harus menggugat jika ada
pelanggaran hak (infringement)yang dilisensikan oleh pihak ketiga.Dengan mengingat
sifat eksklusifitas Perjanjian Alih Teknologi,
maka pihak pemberi atau penerima teknologi atau kedua pihak secara bersama-sama
dapat diberihak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan. Adanya pelanggaran hak
tersebut harus bisa dibuktikan disamping adanya kerugian sebagai akibat yang timbul
dari pelanggaran tersebut.

F. Pengalihan dan Penguasaan Alih Teknologi


PENGALIHAN TEKNOLOGI : Sebuah Kriteria
Sebagai diuraikan dimuka terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan oleh
pencari dan pengguna teknologi, untuk mendapatkan teknologi sesuai dengan
keinginannya. Hanya saja seiring dengan semakin canggih dan rumitnya teknologiteknologi yang tersedia, serta semakin dominannya rezim hak milik intelektual di
dalam melindungi teknologi-teknologi yang terkandung di dalam suatu produk, maka
mau tidak mau, bagi mereka yang ingin mendapatkan teknologi yang dibutuhkan,
seringkali merasa lebih aman, untuk memperolehnya melalui cara-cara yang legal.
Sehubungan dengan hal tersebut, WIPO mengklasifikasikan beberapa macam cara
hukum pengalihan teknologi ke dalam tiga metode utama, yaitu: (a) Sale or
Assignment ; (b) License ; (c) Know how agreement. Selain itu WIPO menyebutkan
cara hukum lain untuk mengalihkan teknologi, yaitu : (a) Pembelian dan impor barangbarang modal ; (b) Franchising danDistributorship; (c) Consultancy Agreement ; (d)
Turnkey Project ; (e) Joint Venture
Akan tetapi kedua peraturan perudang-undangan tidak mengatur lebih lanjut
tentang subtansi dari franchise. Oleh karena itulah sebagaimana lazimnya lembagalembaga perjanjian baru, maka untuk hal-hal yang berkaitan substansi dari perjanjian
franchise ini dapat dipergunakan ketentuan umum dari buku ke-III Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata), yang mengatur tentang perikatan

(Verbintenis). Ketentuan-ketentuan di dalam Buku ke-III KUH Pardata ini dapat


dipergunakan, karena disamping menganut sistem terbuka juga mengandung asas
kebebasan berkontrak, sebagaimana yang disebutkan di dalam Pasal 1338 ayat (1)
KUH Pardata. Dengan adanya kedua hal tersebut, maka di samping mereka dapat
menciptakan lembaga hukum baru, juga mempunyai kebebasan untuk menentukan isi
dari perjanjian yang mereka buat, sepanjang tidak bertentangan dengan undangundang, kesusilaan dan ketertiban umum.
Dengan demikian bila hal ini dikaitkan dengan franchise, maka dapatlah
diketahui, bahwa segala sesuatu yang terdapat didalam sistem franchise, seperti hak
paten, hak paten sederhana, hak merk, Juga hal-hal yang berupa know how, dapat
dijadikan sebagai objek dari perjanjianfranchise, yang kemudian akan terimplikasi di
dalam bagaimana hak dan kewajiban darifranchisor dan franchisee terhadap masingmasing item tersebut.
PENGUASAAN KEMAMPUAN TEKNOLOGI : Sebuah Kriteria
Menurut Ernst, Mytelka dan Ganiatsos (Wie : 1997), terdapat enam katagori
kemampuan teknologi, yaitu :
1. Kemampuan investasi (investment capabilities) yang mengacu pada pengetahuan
dan keterampilan yang diperlukan untuk mengidentifikasikan, mempersiapkan,
mendesain, menyusun dan melaksanakan proyek-proyek industri baru atau
memperluas atau memodernisasikan proyek-proyek yang sudah berjalan.
Kemampuan investasi ini terdiri dari : 1) kemampuan dalam kegiatan pra
investasi (pra-investment capabilities) yang meliputi : (a) kemampuan untuk
melakukan studi kelayakan ; (b) evaluasi temuan-temuan dari studi ini serta ; (c)
pengambilan keputusan berdasarkan studi ini, 2) kemampuan dalam pelaksanaan
proyek (project executian), yang meliputi : (a) kemampuan untuk melakukan
identifikasi sumber-sumber pemasok teknologi yang paling tepat guna ; (b)
mengadakan negoisasi dengan sumber-sumber pemasok ini agar teknologi dapat
dibeli dengan syarat yang paling menguntungkan bagi si pembeli ; (c) membuat
desain pabrik ; (d) pembangunan atau perluasan pabrik ; (e) memulai dengan
produksi.

2. Kemampuan produksi (production capabilities) yang meliputi segala pengetahuan


dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan (mengoperasionalkan suatu
pabrik). Kemampuan produksi ini meliputi : (1) Pengelolaan produksi, yang
meliputi : (a) organisasi dan pengendalian proses produksi interaksi kegiatan ini
dengan kegiatan-kegiatan hulu, hilir dan penunjang ; (2) Rekayasa produksi, yang
meliputi : (a) pengendalian bahan baku ; (b) penjadwalan proses produksi ; (c)
pengendalian mutu ; (d) memecahkan masalah produksi ; (3) Perbaikan dan
pemeliharaan perlengkapan modal
3. Kemampuan untuk mengadakan perubahan kecil (minor change capabilities) yang
meliputi rekayasa adaptif dan penyesuaian organisatoris yang perlu diadakan untuk
mengadakan

penyesuaian

kecil

atau

perbaikan

inkremental

secara

berkesinambungan baik dalam desain dan kinerja produk maupun dalam teknologi
proses produksi
4. Kemampuan pemasaran (marketing capabilities) adalah pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan untuk mengumpulkan informasi yang memadai
mengenai pola permintaan, trend pasar dan selera konsumen baik dipasar dalam
maupun luar negeri, maupun untuk menciptakan saluran distribusi dan jasa-jasa
konsumen (termasuk jasa purna jual) yang efisien dan efektif
5. Kemampuan

menciptakan

kaitan

(linkage

capabilities)

mengacu

pada

pengetahuan, keterampilan dan kemampuan organisatoris yang diperlukan untuk


memperlancar arus informasi dan teknologi antara : (1) berbagai bagian
perusahaan-perusahaan itu sendiri, misalnya antara bagian desain dan produksi dari
perusahaan yang bersangkutan ; (2) berbagai perusahaan manufaktur, misalnya
antara perusahaan perakit dan perusahaan sub-kontraktor yang memasok kompnen
untuk perusahaan perakit ; (3) perusahaan manufaktur tersebut dengan prasarana
ilmu pengetahuan dan teknologi domestik yang terdapat di negara tersebut
6. Kemampuan untuk mengadakan perubahan besar (mayor change capabilities)
mengacu pada pengetahuan dan keterampilan yang terdapat pada perusahaan
tersebut untuk mengadakan terobosan besar atau untuk menciptakan teknologi
baru, baik teknologi proses maupun teknologi produk.
Menurut Kindra G.Ss dan Alan M Rugman (Wie : 1988), ada empat tahap dalam alih
teknologi, yakni

1. Pertama, tahap Do How, yakni tenaga-tenaga lokal akan menguasai berbagai


pengolahan logam dan proses manufaktur lainnya, dan secara mendasar
menyalurkan kapabilitas operasional yang bersifat umum untuk menghasilkan
produk. Pada tahap ini secara relatif muncul kesulitan bagi perusahaan lokal dalam
mengekspor produk-produknya.
2. kedua, tahap Do Why, yakni perusahaan lokal, melalui proses learnin by doing
mencoba meningkatkan keterampilan dalam mengatur masukan-masukan kritis,
pemasaran, dan berusaha mengurangi ketergantungan, baik pada teknologi impor
maupun dalam mencari supplier lokal. Pada tahap ini, perusahaan lokal berusaha
untuk menerapkan teknologi yang lebih tinggi, yang dimilikinya. Promosi ekspor
ke luar negeri mulai dilakukan. pelatihan diselenggarakan oleh tenaga lokal yang
terlatih, pada tenaga lokal lainnya.
3. Ketiga, tahap Know How. Pada tahap ini, perusahaan lokal akan tetap memerlukan
kapabilitas dalam desain produk dasar dari liar negeri. Bagaimanapun perusahaan
tetap memiliki kapabilitas untuk merubah, dan jika perlu meningkatkan ta,pilan
produk untuk memuaskan kebutuhan konsumen.
4. Keempat, tahap Know Why. Pada tahap ini perusahaan dapat melakukan learning
by doing di dalam penelitian dan menerjmahkan berbagai konsep produk
Sedangkan menurut B.J. Habibie (1995), proses alih teknologi pada dasarnya
melalui tahapan-tahapan sebagai berikut, yaitu : (a) tahap pertama, dan yang paling
mendasar adalah tahap penggunaan teknologiteknologi yang sudah ada untuk proses
nilai tambah dalam menghasilkan barang produksi yang memang sudah tersedia di
pasaran ; (b) tahap kedua, adalah tahap integrasi teknologi yang telah ada ke dalam
desain dan produksi barang-barang yang baru sama sekali, artinya belum ada di
pasaran ; (c) tahap ketiga, adalah tahap pengembangan teknologi itu sendiri. Dalam
tahap ini teknologi yang telah ada disempurnakan dan teknologi yang serba baru
tersebut dikembangkan dalam upaya mendesain dan menghasilkan barang produksi
untuk keperluan masa mendatang ; (d) tahap keempat, terwujud dalam tranformasi
teknologi dan industri, yang berwujud investasi baru dalam penelitian dasar.

BAB IV
PENGATURAN ALIH TEKNOLOGI
Hukum adalah bagian dari teknologi karena teknologi terkait dengan masalah
konstitusi dan fungsinya sebagai legal structure yang fundamental. Didalam
konstitusi suatu negara tercakup berbagai pertimbangan dan keputusan manusia yang
berposisi sebagai teknokat, birokrat dan politikus. Hukum menentukan teknologi
canggih, teknologi menengah atau teknologi merakyat Dalam Undang-Undang Dasar
1945 diletakkan dasar dan arah pembangunan ekonomi yang tentu didalamnya
tercakup masalah alih teknologi. Dalam Pasal 33 ditetapkan bahwa : Perekonomian
Indonesia di susun oleh Cabang-cabang produksi Bumi, air dan kekayaan
alamdipergunakan sebesar-sebesar kemakmuran rakyat. Pembangunan ekonomi
dimaksudkan untuk mencapai Tujuan Nasional, disadari bahwa bangsa Indonesia
memiliki kekurangan dari segi modal, keahlian dan teknologi. Untuk itu diperlukan
serangkaian kebijakan dan aturan yang dapat memenuhi kebutuhan itu, antara lain,
melalui kebijakan alih teknologi.
Kebijakan alih teknologi diletakkan oleh UU No. 1/1967 Tentang Penanaman
Modal Asing. Dalam Pasal 2 UU No. 1/1976 dinyatakan bahwa modal asing
meliputi penemuan-penemuan milik orang asing . Lebih lanjut dalam Pasal 12
UU No. 1/1976 ditetapkan : Perusahaan-perusahaan modal asing wajib menyediakan
fasilitas dan pendidikan bagi warga negara Indonesia. Tujuan ketentuan ini agar
berangsur-angsur tenaga kerja asing dapat digantikan oleh tenaga kerja Indonesia.
Komitmen awal Pemerintah mengundang investor asing melalui UU No. 1/1967
bahwa modal asing tersebut akan dijadikan pelengkap dalam pembiayaan
pembangunan, disamping pajak,tabungan masyarakat (public saving) dan lain-lain.
Hal ini tercermin dalam asas-asas yang terdapat dalam UU tersebut antara lain :
(a) asas manfaat yang sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat,
(b) asas ketidak-tergantungan dan
(c) asas jaminan dan insentif

Setahun berikutnya diundangkan UU No. 6/1968 tentang Penanaman Modal


Dalam Negeri (PMDN). Pasal 1 UU No. 6/1968 menetapkan : Modal dalam negeri
ialah bagian dari kekayaan masyarakat Indonesia, termasuk hak-hak benda-benda,
baik yang dimiliki Negara swasta asing. Pasal 3 menetapkan Perusahaan nasional
adalah perusahaan yang sekurang-kurangnya 51% modal dalam negeri, perusahaan
PMDN juga dimungkinkan terdapat unsur mitra asing, walaupun tidak dalam posisi
mayoritas. Selanjutnya dengan tercapainya kesepakatan Persetujuan Pembentukan
Organisasi Perdagangan Dunia (Agreement on Establishing the World Trade
Organization WTO) yang telah disahkan melalui UU No. 7/1994, maka Indonesia
berkewajiban menyempurnakan seluruh peraturan perundang-undangannya dengan
WTO.Di bidang investasi, ketentuan Trade Related Investment Measures menjadi
tolok ukurnya.
Selain UU No. 1/1967 dan UU No. 6/1968, masalah teknologi dan
pengalihannya ditetapkan dalam undang-undang Paten. Pengaturan paten di Indonesia
diawali dengan OctrooiWet 1912. Namun sebagai undang-undang produk Belanda,
terdapat kebijakan yang tidak menguntungkan bagi Indonesia bahwa pendaftaran
paten di Indonesia (Hindia Belanda) harus diteruskan ke Negeri Belanda untuk
perolehan haknya. Tentu saja pengaturan ini dirasakan bertentangan dengan prinsip
kedaulatan negara. Oleh karena itu sambil menunggu undang-undang Paten nasional
terbentuk, dikeluarkan pengumuman Menteri Kehakiman No. J-S-5/41/4 tanggal 12
Agustus 1953 yang dimuat dalam Berita Negara No. 65 tanggal 28 Agustus 1953 dan
Pengumuman Menteri Kehakiman No. J-G-1/2/17 tanggal 29 Oktober 1953 yang
dimuat dalam Berita Negara No. 91 tanggal 13 November 1953. Kedua pengumuman
tersebut mengatur penerimaan pendaftaran sementara atas permintaan paten.
Octrooi Wet digantikan dengan UU No. 6/1989 Tentang Paten sebagai
undang-undang produk nasional. Dalam masalah paten terkait ketentuan Trade
Related Aspects of Intellectual Property Rights-IPR, Including Trade in Counterfeit
goods(TRIPs) Sejalan dengan Persetujuan TRIPS dilakukan penyempurnaan UU No.
6/1989 dengan UU No.13/1997. No. 13/1997. Saat ini kedua peraturan tersebut telah
dihapus digantikan dengan UU No. 14/2001 tentang Paten.11

11

http://rjparinduri.wordpress.com/2010/08/07/alih-teknologi/

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
1. Perlindungan hukum bagi penerima lisensi alih teknologi pada dasarnya
diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten namun
ternyata undang-undang tersebut belum cukup melindungi, karena seperti
yang dimanatkan dalam Pasal 73 yang pada pokoknya menyatakan bahwa
pengaturan mengenai lisensi diatur lebih lanjut dalam peraturan
pemerintah,namun peraturan pemerintah tersebut belum kunjung disahkan.
Akibat hukumnya adalah lisensi alih teknologi belum dapat
didaftarkan di Direktorat Jenderal HKI oleh karena itu lisensi tersebut tidak
mengikat pihak ketiga. Dalam pelaksanaannya, lisensi alih teknologi terjadi
hanya sebatas hubungan keperdataan antara kedua belah pihak yaitu
pemberi lisensi dan penerima lisensi yang berlandaskan pada segi-segi
hukum perjanjian yang diatur secara umum dalam Kitab Undang-undang
Hukum Perdata. Oleh karena itu, untuk perlindungan hukum bagi penerima
lisensi mengacu pada KUH Perdata maka, penerima lisensi harus berhatihati dalam mencantumkan klausula-kalusula yang diperjanjikan.

2. Hambatan-hambatan yang terdapat dalam pelaksanaan alih teknologi


adalah dari sisi perusahaan yaitu sumber daya manusia atau tenaga kerja
yang masih kurang kompeten dalam menyerap teknologi yang masuk,
selain itu campur 132 tangan dari pihak asing karena kepemilikan
mayoritas saham di perusahaan tersebut sehingga setiap kebijakan yang
diambil lebih melindungi kepentingan pihak asing saja bukan negara
dimana penerima lisensi berada. Hambatan juga terjadi karena peraturan

pemerintah mengenai lisensi yang sudah 11 tahun belum juga disahkan


yang akibatnya alih teknologi semakin sulit diterapkan di Indonesia karena
tidak adanya peraturan hukum yang secara khusus menaungi lisensi
khususnya dalam hal lisensi paten. Cara menanggulanginya adalah bagi
tenaga kerja perusahaan tetap dilakukan pelatihan dan pengembangan agar
tenaga kerja semakin terlatih dan menguasai teknologi yang akan dialihkan,
baik dengan mendatangkan tenaga ahli dari negara asal teknologi maupun
tenaga kerja nya yang dikirim ke negara asal teknologi.
Terhadap hambatan karena saham mayoritas cara menanggulanginya
adalah membuat suatu peraturan yang mangatur bahwa tenaga ahli asing
hanya boleh menempati posisi dimana posisi tersebut tidak dapat ditempati
oleh tenaga kerja lokal. Selain itu, peraturan pemerintah tentang lisensi
harusnya dipercepat untuk disahkan

Saran
1. Penerima lisensi alih teknologi sebaiknya teliti dalam membuat perjanjian
lisensi agar dalam perjanjian tersebut tidak terdapat kalusula Restrictive
Business Practices (RBP) yang dapat merugikan penerima. Kemudian,
dalam hal kalusula penyelesaian sengketa pilihlah ketentuan hukum yang
melindungi kepentingan kedua belah pihak. Serta apabila peraturan
pemerintah tentang lisensi telah disahkan penerima lisensi sebaiknya
mendaftarkan lisensi tersebut ke Ditjen HKI.

2.Direktorat

Jenderal

HKI

sebaiknya

mendesak

tim

antar

kementerian,konsultan HKI dan dari pihak akademisi serta pihak lain yang
berperan dalam pembentukan peraturan pemerintah mengenai lisensi untuk
cepat mensahkan rancangan peraturan pemerintah tentang lisensi, karena
semakin lama semakin banyak perusahaan yang melakukan lisensi alih
teknologi apabila tidak cepat dikeluarkan aturannya maka akan berdampak
pada perekonomian Indonesia karena alih teknologi tidak akan berhasil dan
Indonesia akan terus bergantung pada negara lain

DAFTAR PUSTAKA
Arisandi 21.wordpress.com//peristilahan dan pengertian teknologi.
-http://kaltimfree.com/blog/2009/07/infor..
Buku Sekolah Elektronik Kementerian Pendidikan Nasional
https://titis putri.wordpress.com/perkembangan teknologi modern
http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/lisensi-sebagai-salah-satumekanisme-alih-teknologi/
Erman Raja guk-guk,1995, hukum Investasi, UI, Jakarta

Hal Hill, 1995, Investasi Asing dan Industrialisasi di indonesia, Jakarta :


Cetakan Pertama, LP3ES
Solusi Computerums.blogspot. com// investasi Asing Langsung
Arief Hercahyanto 35 blogspot. Com//, implementasi alih teknologi
http://rjparinduri.wordpress.com/2010/08/07/alih-teknologi/

Anda mungkin juga menyukai