Anda di halaman 1dari 27

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan

Urolithiasis

Oleh SGD 2
Made A. Perama Pradnyani

1002105009

Kadek Fira Parwati

1002105017

Desak Putu Pebriantini

1002105018

Ni Komang Sri Widiani

1002105033

Ayu Ervyna Novita Sari

1002105051

Rai Riska Resty Wasita

1002105055

Gede Ardi Suyasa

1002105057

Ida Ayu Febiana M.S

1002105060

I Putu Septiawan

1002105068

Ni Putu Diah Prabandari

1002105085

I Gusti Ayu Agung Sri Efriyanthi

1002105087

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2012

Learning Task Sistem Perkemihan


Kamis, 27 September 2012

SGD 1-3 ( Urolithiasis)


Tn.B 55 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri pinggang seperti terbakar hilang
timbul, menjalar ke perut daerah kemaluan dan paha sebelah dalam, skala nyeri 8. Klien juga
mengatakan kencing sering, namun sedikit sedikit, terdapat darah ketika berkemih, dan
badannya panas serta menggigil sejak semalam, dan merasa mual. Saat dilakukan
pemeriksaan fisik diperoleh TD : 100/80 mmHg, HR : 95x/menit, RR : 28x/menit, TAX :
38,5C, Vesika Urinaria teraba penuh, distensi abdomen (+). Dari hasil pemeriksaan urin
mikroskopik ditemukan kristal batu yang kecil, eritrosit (+), urin keruh seperti teh. Klien
memiliki riwayat asam urat. Berdasarkan hasil USG abdomen didapatkan batu pada ureter.

Jelaskan Konsep Dasar Penyakit yang dialami oleh klien dengan kasus diatas
(Definisi, Epidemiologi, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Fisik
dan Diagnostik, Penatalaksanaan, Komplikasi, Prognosis)

Buatlah Pathway untuk kasus klien diatas

Susunlah Asuhan Keperawatan untuk kasus klien diatas (Pengkajian, Analisa Data,
Rumusan Diagnosa Keperawatan, Perencanaan)

Buatlah SAP untuk pendidikan kesehatan pada klien dengan kasus diatas

UROLITHIASIS
1. Konsep dasar penyakit
a. Definisi
- Urolithiasis adalah batu ginjal (kalkulus) bentuk deposit mineral, paling umum
oksalat Ca2+ dan fosfat Ca2+, namun asam urat dan kristal lain juga membentuk batu,
meskipun kalkulus ginjal dapat terbentuk dimana saja dari saluran perkemihan, batu
ini paling sering ditemukana pada pelvis dan kalik ginjal (Marilynn E, Doengoes
2002)
- Urolithiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius. Batu tersebut
dibentuk oleh kristalisasi larutan urine (kalsium oksalat, asam urat, kalsiumfosfat,
struvit dan sistin) (Sandra M Nettina 2002)
- Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkulus) ditraktus urinarius. Batu terbentuk
didalam traktus ketika konsentrasi substansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium
fosfat dann asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat
defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi
dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup pH
urine dan status cairan klien (Brunner & Suddarth 2001)
- Urolithiasis adalah benda zat padat yang dibentuk oleh presipitasi berbagai zat
terlarut dalam urine pada saluran kemih. Batu dapat berasal dari kalsium oksalat
(60%), fosfat sebagai campuran kalsium, amonium, dan magnesium fosfat (batu
tripel fosfat akibat infeksi) (30%), asam urat (5%), dan sistin (1%).( Pierce A. Grace
& Neil R. Borley 2006, ILMU BEDAH, hal. 171).
b. Epidemiologi
Penelitian epidemiologi memberikan kesan seakan-akan batu ginjal mempunyai
hubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan berubah sesuai dengan
perkembangan kehidupan suatu bangsa. Berdasarkan pembandingan data penyakit batu
saluran kemih di berbagai negara, dapat disimpulkan bahwa di negara yang mulai
berkembang terdapat banyak batu saluran kemih bagian bawah, terutama terdapat di
kalangan anak
Di negara yang sedang berkembang, insidensi batu saluran kemih relatif rendah,

baik

dari batu saluran kemih bagian bawah maupun batu saluran kemih bagian atas. Di
negara yang telah berkembang, terdapat banyak batu saluran kemih bagian atas,
terutama di kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa tertentu, penyakit batu saluran
kemih sangat jarang, misalnya suku bangsa Bantu di Afrika Selatan.

Satu dari 20 orang menderita batu ginjal. Pria:wanita = 3:1. Puncak kejadian di usia 3060 tahun atau 20-49 tahun. Prevalensi di USA sekitar 12% untuk pria dan 7% untuk
wanita. Batu struvite lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria.1
c. Etiologi
Secara epidemiologis terdapat dua faktor yang mempermudah/mempengaruhi
terjadinya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor ini adalah faktor
intrinsik, yang merupakan keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor
ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan disekitarnya. Menurut Ragil
(2009) faktor-faktor tersebut adalah:
Faktor intrinsik:
a. Umur
Penyakit batu saluran kemih paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
b. Herediter (keturunan)
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. Dilaporkan bahwa pada orang
yang secara genetika berbakat terkena penyakit batu saluran kemih, konsumsi
vitamin C yang mana dalam vitamin C tersebut banyak mengandung kalsium
oksalat yang tinggi akan memudahkan terbentuknya batu saluran kemih, begitu
pula dengan konsumsi vitamin D dosis tinggi, karena vitamin D menyebabkan
absorpsi kalsium dalam usus meningkat.
c. Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibanding dengan pasien
perempuan
Faktor Ektrinsik :
a. Asupan air
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi
kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan bila kurang minum menyebabkan
kadar substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah
pembentukan batu. Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan kadar mineralnya
terutama kalsium diperkirakan mempengaruhi terbentuknya batu saluran kencing.
b. Diet
Obat sitostatik untuk penderita kanker juga memudahkan terbentuknya batu
saluran kemih, karena obat ini bersifat meningkatkan asam uratdalam tubuh. Diet
banyak purin, oksalat dan kalsium juga mempermudah terjadinya batu saluran
kemih.

c. Iklim dan Temperatur


Individu yang menetap di daerah beriklim panas dengan paparan sinar ultraviolet
tinggi akan cenderung mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi vitamin
D3 (memicu peningkatan eksresi kalsium dan oksalat), sehingga insiden batu
saluran kemih akan meningkat
d. Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannnya banyak duduk atau
kurang aktifitas
e. Istirahat
Bedrest yang terlalu lama, misalnya karena sakit juga dapat menyebabkan
terjadinya batu saluran kemih
f. Geografi
Pada beberapa daerah menunjukan angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi
daripada daerah lain sehingga dikenla sebagai daerah ston belt (sabuk batu).
d. Patofisiologi
Proses terbentuknya batu terdiri dari beberapa teori (Prof.dr.Arjatmo Tjokronegoro,
phd, dkk, 1999) antara lain
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik Sebagai
inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang
mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam
urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristalisasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine
yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan
mengendap garam-garam fosfat.
d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat
Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat
magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran
Kencing.
Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan urolitiasis
belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu

antara lain : Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan yang kurang
dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin
menyajikan sarang untuk pembentukan batu.
Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalat, dan faktor lain mendukung
pembentukan batu meliputi : pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah solute dalam
urin

dan jumlah cairan urin.

Masalah-masalah dengan metabolisme purin

mempengaruhi pembentukan batu asam urat. pH urin juga mendukung pembentukan


batu. Batu asam urat dan batu cystine dapat mengendap dalam urin yang asam. Batu
kalsium fosfat dan batu struvite biasa terdapat dalam urin yang alkalin. Batu oxalat
tidak dipengaruhi oleh pH urin.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju tulang akan
terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan

yang akan

diekskresikan. Jika cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau pengendapan
semakin bertambah dan pengendapan ini semakin kompleks sehingga terjadi batu.
Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi, ada batu yang kecil dan
batu yang besar. Batu yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan menimbulkan rasa
nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin. Sedangkan batu
yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang menimbulkan dilatasi
struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akibat yang fatal dapat timbul
hidronefrosis karena dilatasi ginjal.
Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan pada organorgan dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal tidak mampu
melakukan fungsinya secara normal, maka dapat terjadi penyakit GGK yang dapat
menyebabkan kematian
e. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi dan edema.
Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal.
Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan disuria)
dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan
sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal.
Nyeri yang luar biasa dan ketidak nyamanan.

Batu di piala ginjal


Nyeri dalam dan terus-menerus di area kastovertebral.
Hematuri dan piuria dapat dijumpai.
Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri ke
bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di area kostoveterbal,
dan muncul Mual dan muntah.
Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini
akibat dari reflex renoinstistinal dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung
pancreas dan usus besar.
Batu yang terjebak di ureter
Menyebabkan gelombang Nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar
ke paha dan genitalia.
Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urine yang keluar.
Hematuri akibat aksi abrasi batu.
Biasanya batu bisa keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5-1 cm
Batu yang terjebak di kandung kemih
Biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuri.
Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi retensi
urine.
f. Pemeriksaan fisik dan diagnostik
a. Fisik
- Inspeksi
Terlihat perut kembung
Pucat
- Palpasi
Mungkin teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis/obstruktif.
Nyeri tekan/ ketok pinggang/ daerah kortekoserebral.
Batu uretra anterior bisa diraba.
- Auskultasi
Kuadran atas didapatkan suara Bruit (suara vaskuler yang dapat menunjukan
stenosis arteri renal)

- Perkusi
Ditemukan suara tympani
b. Pemeriksaan diagnostik
Urinalisa : warna kuning, coklat gelap, berdarah. Secara umum menunjukkan
adanya sel darah merah, sel darah putih dan kristal(sistin,asam urat, kalsium
oksalat), serta serpihan, mineral, bakteri, pus, pH urine asam(meningkatkan
sistin dan batu asam urat) atau alkalin meningkatkan magnesium, fosfat
amonium, atau batu kalsium fosfat.
Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau sistin
meningkat.
Kultur urine : menunjukkan adanya infeksi saluran kemih (stapilococus aureus,
proteus,klebsiela,pseudomonas).
Survei biokimia : peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat, fosfat,
protein dan elektrolit.
BUN/kreatinin serum dan urine : Abnormal ( tinggi pada serum/rendah pada
urine) sekunder terhadap tingginya batu okkstuktif pada ginjal menyebabkan
iskemia/nekrosis.
Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan penurunan
kadar bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal.
Hitung Darah lengkap : sel darah putih mungkin meningkat menunjukan
infeksi/septicemia.
Sel darah merah : biasanya normal.
Hb, Ht : abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia terjadi (
mendorong presipitas pemadatan) atau anemia(pendarahan, disfungsi ginjal).
Hormon paratiroid : mungkin meningkat bila ada gagal ginjal. (PTH
merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan
kalsium urine).
Foto rontgen : menunjukkan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area
ginjal dan sepanjang ureter.
IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis, seperti penyebab nyeri
abdominal atau panggul. Menunjukan abdomen pada struktur anatomik (
distensi ureter) dan garis bentuk kalkuli.

Sistoureterokopi : visualisasi langsung kandung kemih dan ureter dapat


menunjukan batu dan efek obstruksi.
Scan CT : mengidentifikasi/ menggambarkan kalkuli dan massa lain, ginjal,
ureter, dan distensi kandung kemih.
USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi, lokasi batu.
Renogram : untuk menentukan faal ginjal atau setiap ginjal secra terpisah pada
batu ginjal bilateral atau obstruksi ureter bilateral
Foto polos abdomen : dapat menunjukan ukuran bentuk dan posisi batu
g. Penatalaksanaan
Tujuannya :
a. Menghilangkan Batu
b. Menentukan jenis Batu
c. Mencegah kerusakan nefron
d. Mengendalikan infeksi
e. Mengurangi obstuksi yang terjadi
f. Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali).
Cara penanganan

a) Pengurangan nyeri, mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan,


morfin diberikan untuk mencegah sinkop akibat nyeri luar biasa. Mandi air hangat di
area panggul dapat bermanfaat. Cairan yang diberikan, kecuali pasien mengalami
muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan
pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang belakang batu
sehingga mendorong passase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang hari
mengurangi kosentrasi kristaloid urine, mengencerkan urine dan menjamin haluaran
urine yang besar.
b) Pengangkatan batu, pemeriksaan sistoskopik dan passase kateter ureteral kecil untuk
menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi ( jika mungkin), akan segera
mengurangi tekanan belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri.
c) Terapi nutrisi dan Medikasi. Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu
ginjal. Masukan cairan yang adekuat dan menghindari makanan tertentu dalam diet
yang merupakan bahan utama pembentuk batu(mis.kalsium), efektif untuk
mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah
ada. Minum paling sedikit 8 gelas sehari untuk mengencerkan urine, kecuali
dikontraindikasikan.

Batu kalsium, pengurangan kandungan kalsium dan fosfor dalam diet dapat
membantu mencegah pembentukan batu lebih lanjut.
Batu fosfat, diet rendah fosfor dapat diresepkan untuk pasien yang memiliki batu
fosfat, untuk mengatasi kelebihan fosfor, jeli aluminium hidroksida dapat diresepkan
karena agens ini bercampur dengan fosfor, dan mengeksikannyamelalui saluran
intensial bukan ke system urinarius.
Batu urat, untuk mengatasi batu urat, pasien diharuskan diet rendah purin, untuk
mengurangi ekskresi asam urat dalam urine.
Batu oksalat, urine encer dipertahankan dengan pembatasan pemasukan oksalat.
Makanan yang harus dihindari mencakup sayuran hijau berdaun banyak,
kacang,seledri, coklat,the, kopi.
Jika batu tidak dapat keluar secara spontan atau jika terjadi komplikasi, modaritas
penanganan mencakup terapi gelombang kejut ekstrakorporeal, pengankatan batu
perkutan, atau uteroroskopi.
d) Lithotrupsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal, adalah prosedur noninvasive yang
digunakan untuk menghancurkan batu kaliks ginjal. Setelah batu itu pecah menjadi
bagian yang kecil seperti pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan secara spontan
e) Metode Endourologi Pengangkatan batu, bidang endourologi menggabungkan
keterampilan ahli radiologi dan urologi untuk mengankat batu renal tanpa
pembedahan mayor.
f) Uteroskopi, mencakup visualisasi dan askes ureter dengan memasukan suatu alat
ureteroskop melalui sistoskop. Batu dihancurkan dengan menggunakan laser,
lithotripsy elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.
g) Pelarutan batu, infuse cairan kemolitik, untuk melarutkan batu dapat dilakukan
sebagai alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain,
dan menolak metode lain, atau mereka yang memiliki batu yang mudah larut
(struvit).
h) Pengangkatan Bedah,sebelum adanya lithotripsy, pengankatan batu ginjal secara
bedah merupakan terapi utama. Jika batu terletak di dalam ginjal, pembedahan
dilakukan dengan nefrolitotomi (Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu atau
nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu di piala
ginjal diangat dengan pielolitotomi, sedangkan batu yang diangkat dengan

ureterolitotomi, dan sistostomi jika batu berada di kandung kemih., batu kemudian
dihancur dengan penjepit alat ini. Prosedur ini disebut sistolitolapaksi.
h. Komplikasi
Jika batu dibiarkan dapat menjadi sarang kuman yang dapat menimbulkan infeksi
saluran kemih, pyelonefritis, yang akhirnya merusak ginjal, kemudian timbul gagal
ginjal dengan segala akibatnya yang jauh lebih parah. (Abdul Haris Awie, 2009)
i. Prognosis
Prognosis batu ginjal tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu dan adanya
infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu, makin buruk prognosisnya.
Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi.
Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi akan dapat
menyebabkan penurunan fungsi ginjal.
Pada pasien dengan batu yang ditangani dengan ESWL, 60% dinyatakan bebas

dari

batu, sisanya masih memerlukan perawatan ulang karena masih ada sisa fragmen batu
dalam saluran kemihnya. Pada pasien yang ditangani dengan PNL, 80% dinyatakan
bebas dari batu, namun hasil yang baik ditentukan pula oleh pengalaman operator.2
2. Pathway (terlampir)
3. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Wawancara
a.

Identitas klien, meliputi nama, umur, alamat, agama, status marital,


pekerjaan, jenis kelamin, tanggal masuk, tanggal pengkajian, dan nomor
register.

b.

Keluhan utama, merupakan alasan klien meminta bantuan tenaga medis.


Biasanya keluhan utama pada penderita urolitiasis berupa nyeri yang hilang
timbul di bagian pinggang kiri.

c.

Riwayat penyakit sekarang, uraian tentang keadaan pasien sekarang


bagaimana keadaan penyakitnya, apa yang memperberat, apa yang
meringankan, di daerah mana dirasakan, berapa tingkat keparahannya, dan
berapa lama dirasakan.

d.

Riwayat penyakit dahulu, uraian tentang penyakit yang diderita klien


sebelumnya.

e.

Riwayat penyakit keluarga, uraian tentang penyakit yang pernah diderita


keluarga klien.

2) Pemeriksaan Fisik
a.

Keadaan umum: Composmentis.

b.

Sistem pernapasan: Kaji frekuensi pernapasan klien, irama pernapasan teratur


atau tidak, dan kaji adanya ganggian pernapasan. Biasanya klien tidak merasa
sesak, pernapasan teratur dan tidak ada gangguan pernapasan.

c.

Sistem kardiovaskuler: Kaji tanda-tanda vital, dan kaji adanya gangguan.


Biasanya tanda-tanda vital normal dan tidak ada gangguan berarti.

d.

Sistem genitourinaria: Kaji adanya nyeri saat berkemih, kaji warna dan
jumlah urine. Biasanya ada rasa nyeri saar berkemih, dan urine berwarna
kuning tanpa disertai partikel darah atau lainnya.

e.

Sistem muskoskeletal: Kaji adanya kaku otot, kaji tonus otot, kaji adanya
nyeri tekan, kaji adanya udema dan adanya kelemahan. Biasanya tidak
terdapat kaku otot, tonus otot sedang, tidak ada nyeri tekan, dan tidak ada
edema.

f.

Sistem gastrointestinal: Kaji adanya kelainan seperti mual muntah, kaji selera
makan, kaji adanya nyeri tekan. Biasanya tidak ditemukan kelainan, selera
makan baik, dan tidak ada nyeri tekan.

g.

Sistem neurologi: Kaji fungsi nervus I-XII. Biasanya tidak terdapat


kehilangan memori, komunikasi lancar dan jelas, orientasi terhadap orang
baik, waktu dan tempat baik, dan emosi dapat dikendalikan.

h.

Sistem

endokrin:

Kaji

adanya

riwayat

penyakit

akibat

gangguan

metabolisme.
Adapun yang harus dikaji pada klien urolitiasis adalah :
1.

Aktivitas istirahat
Gejala

: pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada

lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/immobilisasi sehubungan


dengan kondisi sebelumnya (contohnya penyakit tak sembuh, cedera spinalis).
2.

Sirkulasi
Tanda

: peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal jantung). Kulit hangat

dan kemerahan, pucat.


3.

Eliminasi

Gejala

: riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus),

penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan


berkemih, diare.
Tanda
4.

: oliguria, hematuria, piuria, dan perubahan pola berkemih.

Makanan/cairan
Gejala

: mual/muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium

oksalat, dan atau fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air
dengan cukup.
Tanda

: distensi abdominal, penurunan atau takadanya bising usus, dan

muntah.
5.

Nyeri/ kenyamanan
Gejala

: episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung dari lokasi

batu, contohnya pada pangggul di regio sudut kostovertebral, dapat menyebar ke


punggung, abdomen dan turun ke lipat paha atau genetalia.
Tanda

: melindungi, perilaku distraksi. Nyeri tekan pada area ginjal pada

palpasi.
6.

Keamanan
Gejala

7.

: penggunaan alkohol, demam dan menggigil.

Penyuluhan pembelajaran
Gejala
kronis.

: riwayat kulkus dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK


Riwayat

penyakit

usus

halus,

bedah

abdomen

sebelumnya,

hiperparatiroidisme

b. Analisis data
No
1

Analisis Data
DS : Px mengatakan
nyeri pinggang

Diagnosa

UROLITHIASIS

seperti terbakar
hilang timbul,
menjalar ke

Obstruksi saluran kemih

perut, daerah
kemaluan, dan
paha sebelah

Nyeri mendadak
dan menyebar

Nyeri Akut

dalam

DO : Skala nyeri 8
Episode kolik renal

NYERI AKUT

DS : Px mengatakan
kencing sering

UROLITHIASIS

namun sedikitsedikit
Obstruksi saluran kemih

DO : VU teraba penuh,
ditemukan kristal
batu yang kecil

Batu pada leher Vesika Urinaria

pada pemeriksaan

Gangguan

urin mikroskopik

Eliminasi Urin
Retens urin

GANGGUAN
ELIMINASI
URIN

DS : Px mengatakan
panas serta
menggigil sejak
tadi malam

UROLITHIASIS

Hipertermia

Obstruksi saluran kemih

DO : Tax : 38,5 C

Batu pada Ureter

Mengiritasi endotel
dan PD pada ureter

Pelepasan mediator
inflamasi (Pirogen)

Aktivasi asam
Arachidonat

Merangsang
thermostat di
Hipotalamus

suhu tubuh

HIPERTERMIA

c. Masalah keperawatan yang mungkin muncul:


- Nyeri
- Hipertermi

- Gangguan Eliminasi urine


- Ansietas
- Kurang pengetahuan
- Nausea
- Resiko infeksi
- Insomnia
Diagnosa
- Nyeri akut b.d. agen cedera kimia ditandai dengan melaporkan nyeri secara verbal,
skala nyeri 8
- Hipertermi b.d penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh diatas kisaran
normal
- Gangguan Eliminasi Urine b.d obstruksi anatomik ditandai dengan hesitancy
(anyang-anyangan)
d. Perencanaan
No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Intervensi

Evaluasi

Hasil
1.

Nyeri

akut Setelah

diberikan NIC Label:

S: pasien mengatakan

berhubungan dengan asuhan

keperawatan Anxiety reduction

agen cidera kimia selam

...x24

ditandai

secara

perilaku

verbal, kriteria hasil:

menjalin

NOC Label:

nyeri normal

saling lagi.

untuk

pasien sebagian

menggunakan P: Lanjutkan intervensi.

teknik relaksasi.
wajah

Distraction

klien sudah normal Anjurkan pasien untuk


Pain Control

memilih teknik distraksi.

Mengungkapkan
rasa

O: Wajah klien terlihat

A: Intervensi tercapai

Instruksikan

Pasien melaporkan
Ekspresi

rasa

percaya

(meringis, Pain Level

gelisah, waspada)

tinggal dengan pasien

dengan Ciptakan atmosfer untuk sudah tidak meringis

nyeri berkurang

mengekspresikan

sudah

jam Anjurkan keluarga untuk berkurang.

dengan diharapkan nyeri klien

melaporkan

nyerinya

nyeri

bila

Sarankan teknik distraksi


sesuai

dengan

tingkat

timbul.

energi,

kemampuan,

Penggunaan

tingkat

perkembangan

analgesic

jika

diperlukan

kefektifannya.
Sarankan pasien untuk
melakukan

teknik

distraksi
Pain management
Ajarkan

pasien

menggunakan teknik non


farmakologikal

seperti

relaksasi, distraksi,dll.
Kontrol

faktor

lingkungan

yang

mungkin mempengaruhi
respon ketidaknyamanan
klien
ruangan,

(mis.

Suhu

cahaya,

dan

kebisingan).
Implementasikan

penggunaan

analgesik

jika diperlukan.
2

Hipertermi

Setelah diberikan

berhubungan dengan asuhan keperawatan


penyakitnya ditandai selama ...x24 jam

NIC : Vital Signs

S : Klien mengatakan

Monitoring

sudah tidak merasa

1. Observasi suhu, nadi,

panas dan menggigil

dengan peningkatan diharapkan terjadinya

tekanan darah,

O : Suhu tubuh dalam

temperatur tubuh di penurunan suhu tubuh,

pernafasan.

batas normal, 36-

atas normal

dengan kriteria hasil :

2. Beri kompres dengan air

37,50C

NOC :

hangat (air biasa) pada

A : Tujuan tercapai

Thermoregulasi

daerah axila, lipat paha,

sebagian

temporal bila terjadi

P : Lanjutkan intervensi

Vital Signs
1. Suhu tubuh 36
0

panas.

37 C.

3. Anjurkan keluarga untuk

2. Tekanan darah,

memakaikan pakaian

nadi dan RR

yang dapat menyerap

dalam rentang

keringat seperti katun.

normal

4. Monitor hidrasi seperti

TD : 100-120/60-

turgor kulit, kelembaban

89 mmHg

membran mukosa)

N : 60-100

5. Kolaborasi dengan

x/menit

dokter dalam pemberian

RR : 12-

obat anti piretik.

20x/menit
3. Tidak ada

Temperatur Regulation

perubahan warna

1. Anjurkan penggunaan

kulit dan

selimut hangat untuk

membran mukosa

menyesuaikan

lembap

perubahan suhu tubuh

4. Tidak adanya

2. Bantu pasien untuk

dehidrasi

mendapatkan intake
nutrisi dan cairan yang
adekuat

Gangguan Eliminasi Setelah


Urine

berhubungan asuhan

dengan
anatomik
dengan

diberikan NIC Label :

obstruksi selam

keperawatan Urinary
...x24

S : pasien mengatakan
Elimination pola

jam Management

berkemihnya

sudah lancar

ditandai diharapkan gangguan Monitor eliminasi urine O : intake dan output


hesitancy eliminasi urien klien

(anyang-anyangan)

berkurang

dengan

kriteria hasil:

normal,
berkemih

klien normal
Tujuan

tercapai

sebagian

retensi urine

berkemih Ambil spesimen urine P : lanjutkan intervensi

normal

untuk analisis
cairan NIC Label :

normal

Urinary Retention Care

Mampu

Pasangkan kateter

mengosongkan
kandung

klien

konsistensi, bau, jumlah frekuensi


Monitor tanda dan gejala A:

Urinary Elimination

Intake

frekuensi, cairan

dan warna urine

NOC Label :
Pola

meliputi

kemih

secara komplit

Instruksikan pasien dan


keluarga

untuk

memantau keluaran urine

Hesitancy

saat

berkemih normal
Frekuensi
berkemih normal
Retensi urine pada
klien normal

Monitor

intake

dan

output cairan
Monitor derajat distensi
abdomen melalui palpasi
dan perkusi

Daftar Pustaka
1. Tiselius HG, Ackermann D, Alken P,dkk. Guidelines on urolithiasis. Dalam :
EAUguidelines. Edition presented at the 16th EAU Congress, Geneva, Switzerland
2001
2. Perhimpunan

Dokter Spesialis

Penyakit

Dalam

Indonesia.

Buku

Ajar Ilmu PenyakitDalam. Jilid I. Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI.Jakarta. 2006.
3. Brunner, Suddarth. 2002. Keperawatan Medical Bedah Edisi 8.Jakarta : EGC
4. Smith, Kelly. 2010. Nanda Diagnosa Keperawatan. Yogyakarta: Digna Pustaka.
5. Dochterman, Joanne Mccloskey. 2000. Nursing Intervention Classification. America :
Mosby.
6. Swanson, Elizabeth. 2004. Nursing Outcome Classification. America: Mosby

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan

: Urolithiasis

Sub Pokok Bahasan

: Pencegahan dan Pendidikan kesehatan Pasien Urolithiasis

Sasaran

: Pasien Urolithiasis di Bangsal Melati RS.Vortphilization

Target

Hari/tanggal

: Kamis, 4 Oktober 2012

Waktu

: 20 menit

Tempat

: Bangsal Melati Rumah Sakit Vortphilization

Penyuluh

: Mahasiswa PSIK UNUD Denpasar

I. Latar Belakang
Batu Saluran Kemih (Urolithiasis) merupakan keadaan patologis karena adanya masa
keras seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kencing dan dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, atau infeksi pada saluran kencing. Terbentuknya batu disebabkan karena air
kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih
kekurangan materi-materi yang dapat menghambat pembentukan batu, kurangnya produksi
air kencing, dan keadaan-keadaan lain yang idiopatik (Dewi, 2007). Lokasi batu saluran
kemih dijumpai khas di kaliks atau pelvis (nefrolitiasis) dan bila akan keluar akan terhenti di
ureter atau di kandung kemih (vesikolitiasis) (Robbins, 2007).
Penyakit ini menyerang sekitar 4% dari seluruh populasi, dengan rasio pria-wanita
4:1 dan penyakit ini disertai morbiditas yang besar karena rasa nyeri (Tisher, 1997). Di
Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia
rata-rata terdapat 1-2% penduduk yang menderita batu saluran kemih. Penyakit ini
merupakan tiga penyakit terbanyak dibidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan
pembesaran prostat (Purnomo, 2011). Penyakit batu ginjal merupakan masalah kesehatan
yang cukup bermakna, baik di Indonesia maupun di dunia. Prevalensi penyakit batu
diperkirakan sebesar 13% pada laki-laki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa. Empat dari
lima pasien adalah laki-laki, sedangkan usia puncak adalah dekade ketiga sampai keempat.
Angka kejadian batu ginjal di Indonesia tahun 2002 berdasarkan data yang dikumpulkan dari
rumah sakit di seluruh Indonesia adalah sebesar 37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan
sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar 19.018 orang,
dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang (Anonim, 2005). Pada penelitian di RS dr.

Kariadi ternyata jumlah penderita batu naik dari 32,8% (2003) menjadi 39,1% (2005) di
banding seluruh kasus urologi dan sebagian besar batu saluran kemih bagian atas (batu ginjal
dan ureter) (Muslim, 2007).

II. Tujuan Instruksional Umum:


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 20 menit, para pasien dapat
memahami penyakit urolithiasis dengan baik.

III. Tujuan Instruksional Khusus:


Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 20 menit, diharapkan para pasien
dapat mengetahui tentang:
1. Pengertian Urolithiasis
2. Etiologi Urolithiasis
3. Tanda dan Gejala Urolithiasis
4. Pencegahan Urolithiasis

IV. Strategi Pelaksanaan :


1. Metode

: Ceramah dan Diskusi

2. Media

: Flip Chart dan leaflet

3. Garis besar materi (penjelasan terlampir) :


1. Pengertian Urolithiasis
2. Etiologi Urolithiasis
3. Tanda dan Gejala Urolithiasis
4. Pencegahan Urolithiasis

V. Proses Pelaksanaan
No. Kegiatan

Waktu

Penyuluh

Peserta

1.

3 menit

Salam pembuka

Menjawab salam

Memperkenalkan diri

Menyimak

Menyampaikan tujuan

Menyimak

Pendahuluan

penyuluhan

Apersepsi

Mendengarkan,
menjawab pertanyaan

2.

Kerja

15 menit

Penyampaian
besar

garis
materi

Mendengarkan dengan
penuh perhatian

urolithiasis

Memberi kesempatan

Menanyakan

peserta untuk bertanya

yang belum jelas

Menjawab pertanyaan

Memperhatikan
jawaban

3.

Penutup

2 menit

Menjawab pertanyaan

Menyimpulkan

Mendengarkan

Salam penutup

Menjawab salam

1
3

Keterangan :
1. Perawat
2. Pasien
3. Keluarga Pasien

VII. Pengorganisasian:
Perawat

: Made A. Perama Pradnyani

Pasien

: Gede Ardi Suyasa

Keluarga Pasien : Ida Ayu Febiana M. Surya


Rai Riska Resty Wasita

dari

penceramah

Evaluasi

VI. Setting Tempat :

hal-hal

VIII. Rencana evaluasi


EvaluasiStruktur
Rencanakegiatandipersiapkanduaharisebelumkegiatan
Evaluasi Proses

Kegiatan berlangsung tepat waktu.

Tempat : Bangsal Melati Rumah Sakit Vortphilization

Peserta yang aktif bertanya 30% dari total peserta

Evaluasi Hasil
1. Para Pasien mampu menjelaskan pengertian urolithiasis
2. Para Pasien mengetahui penyebab atau etiologi urolithiasis
3. Para Pasien mengetahui tanda dan gejala urolithiasis
4. Para Pasien mengerti dan mengetahui pencegahan urolithiasis

IX. Referensi

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar KeperawatanMedikal-Bedah Brunner


&Suddarth (Vol.2). Jakarta: EGC

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid I. Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI.Jakarta. 2006.

Lampiran Materi
Pengertian :

Urolithiasis adalah adanya batu atau kulkulus dalam sistem urinarius atau saluran
perkemihan (Barbara M. Nettina, 2002).

Urolithiasis adalah adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius (Brunner and Suddarth,
2002, hal. 1460).

Urolithiasis adalah kalsifikasi dengan sistem urinari kalkuli, seringkali disebut batu ginjal.
Batu dapat berpindah ke ureter dan kandung kemih (Black, Joyce, 1997, hal. 1595).

Penyebab :
Penyebab secara pasti belum diketahui (idiopatik), namun ada beberapa faktor presipitasi
terbentuknya batu, yaitu (R. Sjamsuhidajat, 2004) :
1. Makanan yang banyak mengandung purin
2. Dehidrasi
3. Hiperparatiroidisme
4. Immobilisasi
5. Obstruksi kronik oleh benda asing didalam traktus urinarius
Menurut Soeparman, 2000 penyebab urolithiasis dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Faktor intrinsik
a. Herediter
b. Usia : 30 50 tahun
c. Pria tiga kali lebih banyak dibandingkan wanita
2. Faktor ekstrinsik
a. Faktor geografis : daerah berkapur
b. Pemasukan cairan kurang dan peningkatan kalsium, terutama berasal dari fastfood
c. Diet purin, oksalat, dan kalsium
Manifestasi Klinis :
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi,
infeksi dan edema.
a. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan
hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal.
Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan disuria) dapat terjadi
dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan sedikit gejala namun
secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal.

Nyeri yang luar biasa dan ketidak nyamanan.


b. Batu di piala ginjal

Nyeri dalam dan terus-menerus di area kastovertebral.

Hematuri dan piuria dapat dijumpai.

Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri ke
bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.

Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di area kostoveterbal, dan
muncul Mual dan muntah.

Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat
dari reflex renoinstistinal dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung pancreas dan
usus besar.

c. Batu yang terjebak di ureter

Menyebabkan gelombang Nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke
paha dan genitalia.

Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urine yang keluar.

Hematuri akibat aksi abrasi batu.

Biasanya batu bisa keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5-1 cm.

d. Batu yang terjebak di kandung kemih

Biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus


urinarius dan hematuri.

Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi retensi urine.

Pencegahan :
Untuk membantu pemulihan pasca bedah atau tindakan
a. Anjurkan untuk banyak minum untuk mempercepat pengeluaran partikel-partikel batu
b. Jelaskan bahwa mungkin akan ada darah yang terdapat dalam urine selama beberapa
minggu
c. Anjurkan pasien untuk sering berjalan demi membantu keluarnya pecahan-pecahan batu
d. Ajarkan tentang penggunaan obat analgetik yang masih diperlukan untuk mengurangi
nyeri kolik yang menyertai keluarnya pecahan batu
Untuk mencegah terbentuknya kembali batu tersebut
a. Anjurkan untuk diet yang berhubungan dengan jenis batu :
Diet rendah purin, seperti membatasi mengonsumsi daging berlemak, kalkun,
tumbuhan polong, gandum dan alkohol

Diet rendah kalsium, sebaiknya mengurangi untuk mengonsumsi susu, keju, sayur,
berdaun hijau, yogurt
Diet rendah oksalat, contohnya membatasi makan coklat, minuman mengandung
kafein, bit, bayam
Diet rendah kalsium/ fosfat dengan jeli karbonat aluminium 30-40 ml, 30 menit/jam
b. Anjurkan patuh terhadap terapi sesuai instruksi dokter, seperti diuretik untuk menurunkan
ekresi kalsium dalam urine. Alopurinol untuk menurunkan pembentukan asam urat dpenisilamin untuk menurunkan konsentrasi sistin dan natrium bikarbonat untuk
membasakan urine
c. Anjurkan aktivitas yang menahan beban dan hindari tirah baring yang terlalu lama, yang
akan mengubah metabolisme kalsium
d. Beritahukan semua pasien dengan penyakit batu untuk minum cukup banyak air agar
volume urinnya mencapai 2000-3000 cc atau lebih setiap 24 jam