Anda di halaman 1dari 17

Tugas pengantar peserta didik

KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PRILAKU MENYIMPANG

DOSEN PEMBIBING:
Prof. Dr. H. SJARKAWI, M. Pd

DISUSUN OLEH:
MISTER CANDERA ( A1A108038)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
PRODI PENDIDIKAN EKONOMI
UNIVERSITAS JAMBI
JULI, 2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat tuhan yang maha esa yang telah
melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga saya sebagai penyusun dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ Kenakalan Remaja Sebagai Prilaku
Menyimpang “.
Makalah yang saya susun ini berfungsi untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, sikap rasional, dan sikap tanggung jawab dalam
kehidupan social.
Tiada karya manausia yang sempurna,demikian juga dalam penyusunan
makalah ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang mengarah pada perbaikan
makalah ini sangat saya harapkan baik dari dosen pembibing maupun dari teman-
teman atau pun para pembaca sangat kami harapkan, untuk kesempurnaan
makalah ini pada waktu yang akan datang.

Jambi, april 2009

penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................ 1
1.3 Manfaat Penulisan .......................................................................... 2
BAB II KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PRILAKU MENYIMPANG 3
2.1 Pengertian Kenakalan Remaja ....................................................... 3
2.2 Jenis-Jenis Kenakalan Remaja ....................................................... 4
2.3 Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja ...................................... 4
2.4 Hal-Hal Yang Bisa Dilakukan Untuk Mengatasi
Kenakalan Remaja ........................................................................ 7
2.5 Prilaku Remaja zaman Sekarang ................................................... 9
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 13
3.1 Kesimpulan .................................................................................... 13
3.2 Saran .............................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Masalah sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya


adalah kenakalan remaja. Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan
remaja dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan individual dan
pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual, individu sebagai satuan
pengamatan sekaligus sumber masalah. Untuk pendekatan sistem, individu
sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem sebagai sumber masalah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa ternyata ada


hubungan negative antara kenakalan remaja dengan keberfungsian keluarga.
Artinya semakin meningkatnya keberfungsian sosial sebuah keluarga dalam
melaksanakan tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya maka akan semakin
rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalannya semakin
rendah. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan
sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang.

Dari pernyataan di atas penulis tertarikuntuk membahas masalah ini dengan


judul ” KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG”

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
Apa yang sebenarnya menyebabkan remaja yang merupakan generasi penerus
bangsa, harapan bangsa sekaligus penyelamat bangsa ini justru menyimpang ke
arah negatif yang justru melemahkan kekuatan bangsa?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Dalam penulisan ini diharapkan kita sebagai mahasiswa dan merupakan
bagian dari salah satu penerus generasi selanjutnya untuk dapat memetik
pelajaran yang ada di dalamnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.

1.4 MANFAAT PENULISAN


Setelah kita mempelajari makalah yang saya buat ini kita dapat berbuat
apa yang sebenarnya yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan oleh seorang remaja. Dan juga dapat mengaplikasikannya pada
kehidupan dijenjang selanjutnya.
BAB II

KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG

2.1 PENGERTIAN KENAKALAN REMAJA

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-


norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan
merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang


berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-
kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia
berada pada masa transisi.

Definisi kenakalan remaja menurut para ahli

• Kartono, ilmuwan sosiologi


Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang
disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang".
• Santrock
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja
yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?


Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara
khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada
1899 di Illinois, Amerika Serikat.
2.2 JENIS-JENIS KENAKALAN REMAJA

• Penyalahgunaan narkoba
• Seks bebas
• Tawuran antara pelajar, dll.

2.3 PENYEBAB TERJADINYA KENAKALAN REMAJA


Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri
(internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:

1. Krisis identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan


terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan
konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran.
Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2. Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang
dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku
'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah
laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah
laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal:

1. Keluarga

Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau


perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja.
Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak
memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa
menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

2. Pengaruh Kawan Sepermainan atau teman sebaya

Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu


bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di
mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan
terbatas.

Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat
pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang
lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya
membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua
juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari
kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya.
Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan
kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga
mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha
mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu
memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi,
maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik,
obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar.

Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk


apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau
busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar
kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan
sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan
kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua
para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan
kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-
kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di
kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.

3. Pendidikan

Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas


orangtua kepada anak. Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang
merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi.

4. Penggunaan Waktu Luang

Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan
seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak
ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si
remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai
bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini
tidak akan menimbulkan masalah.

5. Uang Saku

Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan.


Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan
berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat
menimbulkan masalah. Yaitu:

1. Anak menjadi boros


2. Anak tidak menghargai uang, dan
3. Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian
pun uang gampang.
6. Perilaku Seksual

Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang
menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang
dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan
mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal
istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu
bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian
terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era
globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15
tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena
hamil.

2.4 HAL-HAL YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENGATASI


KENAKALAN REMAJA

1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa


dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa
mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah
melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil
memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point
pertama.
3. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta
keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
4. untuk menghindari pengaruh teman sebaya orangtua hendaknya juga
memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab
rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya
tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Dan berilah pengarahan
kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
5. Dalam dunis pendidikan orang tua hendaknya membantu memberikan
pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak
memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-
mata karena kesenangan orang tua.
6. Untuk pemberian uang saku orang tua hendaknya memberikan teladan
untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan
kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai
uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang
tetapi juga tidak terlalu kikir.
7. Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini,
orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara
terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja.Remaja pandai memilih
teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan
siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
8. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika
ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan
harapan.

2.5 PERILAKU REMAJA ZAMAN SEKARANG

KLO berani satu lawan satu! Itu ungkapan spontan yang dikeluarkan para
remaja sebelum tawuran antar-pelajar, mahasiswa, bahkan pejabat teras ataupun
aksi yang kini marak dikategorikan sebagai tindakan premanisme. Di antara
ungkapan itu, ada persamaan yang jelas terlihat. Pelaku yang terlibat umumnya
kaum adam. Jelas, jika ungkapan itu sangat lazim diucapkan. Tapi persamaan
lainnya, mereka umumnya golongan remaja. Tapi bagaimana jika pelakunya
kaum hawa? Yang menarik dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang mereka
mengeluarkan ucapan yang sering dilontarkan oleh kaum adam, kaum hawa yang
konon sering dikategorikan sebagai kaum yang lemah!

Sebenarnya itu bukan hal baru . bahkan diantara banyak kasus


Penganiayaan itu lebih beken disebut salah satu tindakan penggencetan.
Penggencetan itu sendiri tidak hanya dilakukan dengan kontak fisik, tapi bisa
hanya dengan teguran keras, atau teror lewat sms atau media lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, hal itu sudah menjadi tradisi dari senior kepada
junior yang dilakukan karena banyak alasan. Mulai dari alasan yang jelas sampai
alasan yang lucunya tidak disebutkan si senior sampai kapanpun! Ya.. seperti
tayangan di sinetron remaja yang lagi “in” sekarang ini!
Perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai
salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja
dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam dua jenis delikuensi, yaitu
situasional dan sistematik.

Pada delikuensi situsional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang


mengharuskan mereka untuk berkelahi. Sedangkan pada delikuensi sistematik,
para remaja yang terlibat perkelahian itu berada dalam satu geng atau organisasi.
Di sini ada norma, aturan, dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggota
termasuk berkelahi.

Sebagai anggota mereka bangga melakukan apa yang diharapkan.


Kejadian itu berkaitan dengan emosinya yang dikenal dengan masa strom dan
stress. Dipengaruhi lingkungan tempat tinggal, keluarga, dan teman sebaya serta
semua kegiatan sehari-hari.

Memotivasi diri

Goleman (1997) mengatakan, koordinasi suasana hati inti dari hubungan


sosial yang baik. Seorang yang pandai menyesuaikan diri atau dapat berempati, ia
memiliki tingkat emosionalitas yang baik. Kecerdasan emosional lebih untuk
memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi
dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.

Tiga wilayah kecerdasan emosional sebagai pedoman setiap individu,


untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni:

1. mengenali emosi,

Kesadaran diri dalam mengenali perasaan ketika perasaan itu terjadi


sebagai dasar kecerdasan emosi, sehingga kita bisa peka pada perasaan
sesungguhnya dan tepat dalam pengambilan keputusan masalah.

2. Mengelola emosi,
Berarti menangani perasaan agar perasaan terungkap dengan tepat
memotivasi diri mengenali emosi orang lain empati atau mengenal emosi
orang lain, dibangun berdasar pada kesadaran diri. Orang yang tidak
mampu menyesuaikan diri dengan emosi sendiri, dapat dipastikan tidak
akan mampu menghormati perasaan orang lain.

3. Membina hubungan dengan orang lain,

Sebagai makluk sosial, individu dituntut dapat menyelesaikan masalah


dan mampu menampilkan diri, sesuai aturan yang berlaku. Karena itu
remaja agar memahami dan mengembangkan keterampilan sosialnya.

Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan


menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung
berperilaku normatif (misalnya, asosial ataupun anti-sosial). Bahkan lebih
ekstrem biasa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja,
tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.

Beberapa aspek yang menuntut keterampilan sosial (dalam Davis dan


Forsythe, 1984). Yaitu keluarga, hal yang paling penting diperhatikan
orang tua, menciptakan suasana demokratis dalam keluarga. Sehingga
remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua dan
saudara.

Lingkungan, pengenalan lingkungan lebih luas dari keluarga.


Kepribadian, diberikan penanaman sejak dini, nilai-nilai yang menghargai
harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal fisik seperti
materi dan penampilan. Rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis,
pendidikan, persahabatan dan solidaritas kelompok.

Remaja diajarkan lebih memahami diri sendiri (kelebihan dan


kekurangannya), agar ia mampu mengendalikan dirinya. Sehingga dapat
bereaksi secara wajar dan normatif, dibiasakan untuk menerima orang lain,
tahu dan mau mengakui kesalahannya.

Dengan cara itu remaja tidak akan terkejut menerima kritik atau umpan
balik dari sekitar, mudah bersosialisasi, memiliki solidaritas tinggi,
diterima di lingkungan lain. Sehingga akan mampu membantu
menemukan dirinya sendiri dan mampu berperilaku sesuai norma yang
berlaku
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan analisis sebelumnya, ditemukan bahwa remaja yang


memiliki waktu luang banyak seperti mereka yang tidak bekerja atau
menganggur dan masih pelajar kemungkinannya lebih besar untuk melakukan
kenakalan atau perilaku menyimpang. Factor orang tua yang kurang harmonis
Dan kurang perhatian orang tua terhadap tumbuh kembangnya seorang anak
merupakan factor yang dapat menyebabkan kehidupan remaja menyimpang ke
jalan yang salah.

3.2 SARAN
Kehidupan remaja merupakan zona yang sangat berbahaya kalau
tidak dibatasi dengan keimanan dan peran orang tua yang harus selalu
memperhatikan perkembangan anak. Seorang remaja pasti akan terseret ke
jalan yang salah. Maka dari itu untuk pelajaran kita selanjutnya dan para orang
tua harus bisa memberikan yang terbaik kepada para anak yang akan melalui
tahap remaja.
DAFTAR PUSTAKA

Masngudin HMS, adalah peneliti pada Puslitbang UKS, Badan Latbang Sosial
Departemen Sosial RI.

Posted in INFO by h4b13 on Januari 14, 2008

AsianBrain.com Content Team