Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN HASIL PENELITIAN :

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG INFEKSI


NOSOKOMIAL TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP
TENAGA KESEHATAN DI RUANG MATERNAL RSUD HJ. ANNA
LASMANAH SOEMITRO KOLOPAKING BANJARNEGARA
Tahun 2014

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mini Riset Praktek Aplikasi Maternitas


Dosen MA : Wiwin Lismidiati, S.Kep.,Ns.,M.Kep., Sp.Kep.Mat

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.

I Gusti Ayu Pramitaresthi


Yenni Kristiani
Neza Purnamasari
Dora Samaria

NIM.
NIM.
NIM.
NIM.

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GAJAH MADA
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kelompok dapat menyelesaikan laporan hasil
penelitian yang berjudul Hubungan pengetahuan dan sikap perilaku hidup sehat dan
bersih dengan status gizi anak Sekolah Dasar Negeri Tirtoadi Sleman Yogyakarta tahun
2014
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak
yang telah memberikan dorongan baik moril maupun materil kepada kelompok yang
tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Kami menyadari dalam penyusunan tugas ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas segala bentuk
kekurangan tersebut serta kami mengharapkan kritik dan sarannya demi perbaikan
dalam penelitian ini.
Akhir kata, semoga laporan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak dan bagi institusi Pendidikan Keperawatan pada umumnya

Banjarnegara, Desember 2014


Tim Penulis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Infeksi Nosokomial
1. Pengertian Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial merupakan salah satu masalah yang dapat terjadi selama
masa perawatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan. Infeksi nosokomial
didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi dirumah sakit dan menyerang penderitapenderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan. Infeksi nosokomial terjadi
karena adanya tranmisi mikroba patogen yang bersumber dari lingkungan rumah
sakit dan perangkatnya (Darmadi, 2008).
2. Batasan-Batasan Infeksi Nosokomial
Terdapat beberapa batasan mengenai infeksi nosokomial. Batasan infeksi
nosokomial (nosocomial infection/hospital acquired infection) tersebut meliputi:
a.

Pada waktu penderita mulai dirawat dirumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda

b.

klinik dari infeksi tersebut.


Pada waktu penderita mulai dirawat dirumah sakit, tidak sedang dalam masa

c.

inkubasi dari infeksi tersebut.


Tanda-tanda klinik infeksi tersebut timbul sekurang-kurangnya setelah 3 x 24

d.
e.

jam sejak mulai perawatan.


Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (residual dari infeksi sebelumnya)
Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi dan
terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat dirumah sakit yang
sama pada waktu yang lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi
nosokomial.
Selain batasan infeksi nosokomial tersebut diatas, terdapat beberapa catatan

khusus yang perlu diketahui, yaitu :


a. Penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan dirumah sakit dan
kemudian menderita keracunan makanan dengan penyebab bukan produk
b.

bakteri, tidak termasuk infeksi nosokomial.


Untuk penderita yang keluar dari rumah sakit dan kemudian timbul tanda-tanda
infeksi dapat digolongkan sebagai nosokomial apabila infeksi tersebut dapat

c.

dibuktikan berasal dari rumah sakit.


Infeksi yang terjadi pada petugas pelayanan medis serta keluarga/ pengunjung,
tidak termasuk nosokomial.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi Nosokomial


a. Faktor Instrinsik
Faktor instrinsik antara lain umur, jenis kelamin, kondisi umum penderita,
resiko terapi, atau adanya penyakit lain yang menyertai penyakit dasar beserta
komplikasinya.
b. Faktor Ekstrinsik
Petugas Pelayanan Medis
Dokter, perawat, bidan, tenaga laboraturium dan sebagainya.
Peralatan dan Material Medis
Jarum, kateter, instrument, respirator, kain/doek, kasa, dan lain-lain.
Makanan dan Minuman
Penderita Lain
Pengunjung dari Keluarga
Lingkungan
Berupa lingkungan internal, seperti ruangan/bangsal perawatan, kamar
bersalin, dan kamar bedah. Sedangkan lingkungan ekstrenal adalah halaman
rumah sakit dan tempat pembuangan sampah/pengolahan limbah.
4. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial merupakan risiko yang dapat terjadi selama penderita
memperoleh perawatan dirumah sakit. Jadi, invasi mikroba patogen tersebut terjadi
selama masa antara masuk rumah sakit sampai dengan keluar rumah sakit. Selama
dalam proses asuhan keperawatan, penderita akan menjalani berbagai prosedur dan
tindakan medis, baik sebagai upaya menegakkan diagnosis maupun terapi dalam
upaya pemulihan kesehatannya.
Terdapat beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan dalam mengelola
ruangan atau bangsal perawatan agar mikroba patogen yang berada dalam ruangan
atau bangsal perawatan dapat dikendalikan. Permasalahan tersebut adalah :
a. Bangunan Fisik Tempat Perawatan Beserta Bagian-Bagiannya
Bangunan fisik adalah sebuah bangunan berbentuk ruangan atau bangsal tempat
sejumlah penderita menjalani asuhan keperawatan dan pemenuhan kebutuhan
dasarnya serta penderita merasa aman dan nyaman. Terdapat beberapa bagian
yang harus diperhatikan agar upaya pencegahan dan pengendalian infeksi dapat
dikerjakan secara efektif antara lain ruang asuhan keperawatan, kamar mandi
atau WC untuk penderita dan petugas, kamar untuk menyimpan peralatan
sanitasi dan yang lainnya. Persyaratan fisik yang penting dari sebuah bangunan

ruangan atau bangsal perawatan yang perlu menjadi perhatian adalah konstruksi
umum dan kondisi dalam ruangan.
1) Kontruksi Umum
Dinding : rata, bersih dan mudah dibersihkan, serta berwarna terang
Atap : terbuat dari bahan yang kuat, tidak bocor, bebas serangga dan

tikus
Langit-langit : tinggi langit-langit minimal 3 meter dari lantai, kuat,

berwarna terang, mudah untuk dibersihkan.


Lantai : kuat atau utuh, rata, tidak licin, kedap air, bersih dan mudah

untuk dibersihkan
Ventilasi : dengan tiga kemungkinan, yaitu :
Ventilasi alam : lubang ventilasi minimal 15% x luas lantai
Ventilasi elektris : kipas angin, AC, exhaust fan
Ventilasi gabungan : ventilasi alam ditambah ventilasi elektris
Pintu : kuat, dapat mencegah masuknya serangga dan tikus, selalu dalam

keadaan tertutup.
Jendela : kuat, membantu aliran udara dalam ruangan, membantu

pencahayaan dalam ruangan, tembus pandang terhadap situasi diluar


(kaca).
2) Kondisi Dalam ruangan
Ruangan yang aman dan nyaman merupakan keharusan dalam upaya proses
pemulihan kesehatan penderita. Beberapa parameternya adalah :
Pencahayaan : kekuatan penerangannya berkisar 100-200 lux
Penghawaan (aeration) : sifat udara yang mengalir perlu tetap dijaga,

agar udara dalam ruangan tidak pengap dan tetap segar.


Suhu : tanpa AC dengan suhu ruangan 26-27 o C, menggunakan AC

dengan suhu ruangan 22-23oC.


Kelembaban : tanpa AC dengan kelembaban ambient : menggunakan

AC dengan kelembaban 40-50%.


Tidak berbau (terutama H2S dan atau NH3)
Kadar debu maksimal 150 g/m3 udara
Angka kuman maksimal 700 koloni/m3 udara
Kebisingan kurang dari 45 dBA
b. Fasilitas sanitasi
Sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian infeksi diruang atau
bangsal perawatan, keberadaan fasilitas sanitasi penting sekali yang dijabarkan
sebagai berikut.
1) Kamar mandi dan WC penderita

2)
3)
4)
5)

Jumlahnya ditentukan oleh jumlah tempat tidur dalam ruangan/bangsal,

yaitu setiap 15 tempat tidur diperlukan satu kamar mandi/ WC


Kamar mandi dan WC harus terpisah
Lokasinya pada salah satu ujung ruangan/bangsal
Kamar mandi dan WC untuk petugas/keluarga penderita
Lokasinya terpisah dengan kamar mandi dan WC penderita
Tempat cuci tangan/wastafel
Ditempatkan pada lokasi yang tepat
Gudang tempat penyimpanan alat-alat sanitasi
Lokasinya dekat dengan tempat kegiatan administrasi
Wadah/kontainer sampah dan limbah
Prosedur dan tindakan medis maupun keperawatan akan menghasilkan
sampah dan limbah, yaitu : sampah domestik, sampah medis dan limbah
klinis medis. Setiap jenis sampah dan limbah ini harus ditampung dalam

kontainer yang berbeda-beda.


6) Air bersih
Kebutuhan air bersih harus terpenuhi serta lancar dan ini dapat dibuktikan
melalui air yang keluar dari keran-keran yang ada di wastafel, kamar mandi,
atau WC
c. Jumlah dan Posisi Tempat Tidur
Pada ruangan/bangsal perawatan umum dapat ditemui bermacam-macam kasus
penyakit, baik berasal dari penderita yang baru masuk rumah sakit maupun
berasal dari penderita yang sudah lama dirawat diruang perawatan. Semuanya
memerlukan perhatian yang sama dan semuanya membutuhkan tempat tidur.
Tempat tidur merupakan syarat mutlak untuk merawat seorang penderita.
Penderita menginginkan kesembuhan dalam suasana aman dan nyaman selama
menggunakan tempat tidur, sedangkan dari sisi yang lain petugas menginginkan
kemudahan dan kenyamanan dalam memberikan asuhan keperawatan keada
penderita.
d. Traffic Pattern
Traffic Pattern merupakan salah satu bentuk upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi nosokomial dengan cara mengatur arus lalu lintas
penderita, petugas dan material yang berkaitan dengan asuhan keperawatan,
serta arus lalu lintas sampah dan limbah medis. Tujuan sistem arus lalu lintas ini
adalah sama, yaitu meminimalisasi terjadinya penularan dengan cara
memisahkan jalur keluar dan masuknya penderita atau petugas dengan jalur
keluarnya (pembuangan) sampah dan limbah dari ruangan, sehingga terwujudlah

sebuah pola lalulintas (traffic pattern) dalam rungan. Inti Traffic pattern ini
adalah :
1) Jalur penderita dan petugas tidak boleh berbenturan dengan jalur
sampah/limbah, artinya pada saat penderita/petugas keluar atau masuk
ruangan tidak boleh ada kontainer sampah atau limbah lewat.
2) Jalur sampah diusahakan sependek mungkin
3) Jalur sampah/limbah mempunyai pintu keluar tersendiri.
4) Kontainer yang berisi sampah/ limbah yang akan dibuang harus dalam
keadaan tertutup.
5) Sampah/limbah sebagai

hasil

kegiatan

prosedur

atau

tindakan

medis/perawatan, jangan terlampau lama berada diruangan, harus segera


dikeluarkan
6) Kasur bekas pakai serta peralatan tidur penderita harus diperlakukan sama,
yaitu melalui jalur sampah/limbah.
Selain upaya tersebut ada beberapa cara pencegahan dan pengendalian infeksi
nosokomial antara lain:
Mentaati praktek pencegahan infeksi yang dianjurkan terutama kebersihan dan

kesehatan tangan serta pemakaian sarung tangan


Memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti bermanfaat untuk
dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda lain yang kotor, diikuti

dengan sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi.


Meningkatkan keamanan dalam ruang operasi dan area beresiko tinggi lainnya
dimana kecelakaan perlukaan yang sangat serius dan paparan pada agen
penyebab infeksi sering terjadi.

B. Konsep Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari informasi baik secara lisan ataupun tertulis dari
pengalaman seseorang. Pengetahuan diperoleh dari fakta atau kenyataan dengan
mendengar radio, melihat televisi, dan sebagainya. Serta dapat diperoleh dari
pengalaman berdasarkan pemikiran kritis (Soekanto, 2002).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang
melakukan pengindraan, melalui panca indra. Pengetahuan merupakan domain
yang penting akan terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).
2. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Faktor Internal

1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan

yang

diberikan seseorang terhadap

perkembangan orang lain menuju kearah cita cita tertentu yang menetukan
manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan
dan kebahagiaan. Pendidikan perlu untuk mendapatkan informasi misalnya
hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat menigkatkan kualitas
hidup (Mantra di dalam Notoatmodjo, 2007).
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang
akan pola hidup terutama dalam motivasi untuk sikap berperan serta dalam
membangun (Nursalam, 2007 di dalam Wawan 2010).
2) Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip

oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah

keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya


dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan. Pekerjaan
lebih banyak menggambarkan cara mencari nafkah

yang membosankan,

berulang dan banyak tantangan sedangkan bekerja umumnya merupakan


kegiatan yang menyita waktu .
3) Umur
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan

sampai

berulang tahun, semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan


sesorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor lingkungan
Menurut Ann Mariner yang dikutip Nursalam, lingkungan merupakan
seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat
mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok
2) Sosial budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari
sikap dalam menerima informasi.
3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara memperoleh pengetahuan sebagai berikut:
a. Cara tradisional atau nonilmiah untuk memperoleh pengetahuan
1) Cara coba salah

Cara ini telah di pakai

oraang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin

sebelum ada peradaban. Cara coba salah ini di lakukan

dengan

menggunakan kemungkinan itu tidak berhasil maka di coba, kemungkinan


yang lain sampai masalah tersebut dapat diselesaikan.
2) Secara kebetulan
Cara ini terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan.
3) Cara kekuasaan atau otoritas
Salah satu upaya seseorang mendapatkan pengetahuan yaitu dengan
bertanya pada orang yang memiliki otoritas atau yang dianggapnya lebih
tahu. Pada zaman modern ini, orang yang ditempatkan memiliki otoritas.
Misalnya, dengan pengakuan melalui gelar, termasuk juga dalam hal ini
misalnya, hasil publikasi resmi mengenai kesaksian otoritas tersebut, seperti
buku-buku atau publikasi resmi pengetahuan lainnya.
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat
baik formal maupun formal, ahli agama, pemegang

pemerintah, dan

berbagai prinsip yang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan


oleh orang orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu
atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun
penalaran sendiri.
4) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat di gunakan sebagai upaya memperoleh
pengetahuan

dengan cara

mengukang kembali

pengalaman yang di

peroleh dalam memecahkan permasalahan yang di hadapi masa lalu.


5) Melalui jalan pikiran/intuisi
Salah satu sumber pengetahuan yang mungkin adalah intuisi atau
pemahaman yang langsung tentang pengetahuan yang tidak merupakan
hasil pemikiran yang sadar atau persepsi rasa yang langsung. Intuisi
dapat

berarti

kesadaran

tentang

data-data yang langsung dirasakan

(Paramita, 2010)
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir
manusia ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan
penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya.
6) Indra

Indra adalah peralatan pada diri manusia sebagai salah satu sumber internal
pengetahuan. Dalam filsafat ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa
pengetahuan pada dasarnya adalah pengalaman-pengalaman konkret kita
yang terbentuk karena persepsi indra,

seperti

persepsi penglihatan,

pendengaran, perabaan, penciuman dan pencicipan dengan lidah.


7) Akal
Dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh
manusia tanpa harus atau tidak bisa

mempersepsinya

dengan

indra

terlebih dahulu. Pengetahuan dapat diketahui dengan pasti dan dengan


sendirinya karena potensi akal.
b. Cara modern atau cara ilmiah dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih populer dengan
sebutan metodologi penelitian. Cara ini mula-mula di kembangkan oleh Francis
Bacon (1561 - 1626), kemudian di kembangkan oleh Deobold Van Deven,
ahirnya lahir suatu cara yang dewasa ini disebut penelitian ilmiah.
4. Tingkatan pengetahuan
Menurut Bloom dalam Notoatmodjo (2010) bahwa pengetahuan merupakan
bagian dari cognitive domain yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Knowledge, bila seseorang hanya mampu menjelaskan secara garis besar apa

yang telah dipelajarinya.


b. Comprehension, bila seseorang berada pada tingkat pengetahuan dasar dan dapat

menerangkan kembali secara mendasar pengetahuan yang telah dipelajarinya


c. Application, bila seseorang telah mamapu menggunakan apa yang telah

dipelajarinya dari suatu situasi untuk diterapkan pada situasi yang lain.
d. Analysis, bila kemampuan seseorang lebih meningkat lagi sehingga ia dapat

menerangkan bagian-bagian yang menyusun suatu bentuk pengetahuan tertentu


dan menganalisis hubungan satu dengan yang lainnya.
e. Synthesis,

bila

seseorang

disamping

mempunyai

kemampuan

untuk

menganalisis, ia pun mampu menyusun kembali ke bentuk semula atau kebentuk


lain.

f. Evaluation, bila seseorang telah mampu untuk mengetahui secara menyeluruh

dari semua bahan yang telah dipelajarinya.


5. Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto yang di kutip Wawan, et al (2010) pengetahuan seseorang
dapat di ketahu dan di interpretasikan dengan sklala yang bersifat kualitatif, yaitu:
a. Baik,hasil persentasi 76% -100%
b. Cukup, persentasi 56% - 75%
c. Kurang, persentasi 56%
C. Konsep Sikap
1. Defini Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau
aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoatmodjo,
2010). Azwar (2005) menyatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu
proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan sehingga seseorang akan
melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia
percaya bahwa orang lain ingin ia agar melakukannya. Hubungan sikap dan perilaku
sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu yaitu norma-norma,
peranan, anggota kelompok, kebudayaan dan sebagainya yang merupakan kondisi
ketergantungan yang dapat mengubah hubungan sikap dan perilaku.
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap
sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat.
Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap
positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan
nyata. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain : 1) Sikap akan terwujud
di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu. Misalnya seorang ibu yang
anaknya sakit, segera ingin membawanya ke puskesmas, tetapi pada saat itu tidak
mempunyai uang sepeserpun sehingga ia gagal membawa anaknya ke puskesmas. 2)
Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada
pengalaman orang lain. Seorang ibu tidak mau membawa anaknya yang sakit keras
ke rumah sakit, meskipun ia mempunyai sikap yang positif terhadap rumah sakit
(RS), sebab ia teringat akan anak tetangganya yang meninggal setelah beberapa hari
di Rumah Sakit. 3) Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan

pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. Seorang akseptor KB dengan


alat kontrasepsi IUD mengalami pendarahan. Meskipun sikapnya sudah positif
terhadap KB, tetapi ia kemudian tetap tidak mau ikut KB dengan alat kontrasepsi
apapun. 4) Nilai (value) Di dalam suatu masyarakat, apapun selalu berlaku nilainilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup
bermasyarakat. Misalnya, gotong royong adalah suatu nilai yang selalu hidup di
masyarakat (WHO di dalam Notoatmodjo, 2007).
2. Komponen Sikap

Sikap itu mempunyai tiga komponen pokok, yakni pertama adalah kepercayaan
(keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu obyek. Kedua adalah kehidupan
emosional atau evaluasi terhadap suatu obyek, dan ketiga adalah kecenderungan
untuk bertindak (tend to behave). Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama
membentuk sikap yang utuh (total attitude) (Notoatmodjo, 2010).
3. Tingkatan Sikap

Menurut Krathwohl dalam Ngatimin (2005) bahwa affective domain terdiri dari
lima tingkatan, yaitu:
a) Receiving, dapat di artikan bahwa orang (subyek) telah mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (obyek).
b) Responding, berarti bahwa rangsangan telah mampu merubah seseorang untuk
memberi perhatian dan ikut serta.
c) Valuing, ditandai dengan sadarnya seseorang akan adanya nilai baru dalam
masyarakat tetapi nilai itu belum merupakan nilai khas bagi masyarakat
bersangkutan
d) Organisation, berupa kemampuan seseorang menyadari bahwa nilai yang baru
itu telah terorganisasi dan menjadi milik masyarakat.
e) Characterization by a value complex, dimana masyarakat yang bersangkutan
telah memiliki nilai khusus dan khas bagi mereka
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

Menurut Azwar tahun 2005, faktor yang mempengaruhi sikap antara lain:

a. Pengalaman pribadi. Apa yang telah dan sedang dialami seseorang akan ikut
membantu dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting. Pada umumya orang cenderung
untuk memiliki sikap yang konformasi atau searah dengan orang lain yang
dianggap penting.
c. Pengaruh kebudayaan. Orang hidup dan dibesarkan dari suatu kebudayaan,
dengan demikian kebudayaan yang diikutinya mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap.
d. Media massa. Media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang
dapat mengarahkan opini, sehingga terbentuklah arah sikap yang tertentu.
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama. Kedua lembaga ini meletakkan dasar
pengertian dan konsep moral sehingga merupakan suatu sistem yang mempunyai
pengaruh dalam pembentukan sikap.
f. Pengaruh faktor emosional. Suatu bentuk sikap merupakan pertanyaan yang
didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
g. Pendidikan. Kurangnya pengetahuan akan memberi pengaruh dalam bersikap.
h. Faktor sosial dan ekonomi. Keadaan sosial ekonomi akan menimbulkan gaya
hidup yang berbeda sehingga akan berpengaruh terhadap sikap.

D. Konsep Pendidikan Kesehatan


1. Definisi Pendidikan Kesehatan
Pendidikan adalah usaha yang sengaja (terencana, terkontrol, dengan sadar
dan dengan cara yang sistematis) diberikan pada anak didik oleh pendidik agar
individunya yang potensial itu lebih berkembang terarah kepada tujuan tertentu.
Jadi, didalam pengertian pendidikan tersebut harus terdapat unsur-unsur sebagai
berikut: Adanya bentuk pendidikan itu (apakah berbentuk usaha, pertolongan,
bantuan, bimbingan, pelayanan atau pembinaan); adanya pelaku pendidikan (orang
dewasa, pendidik, orang tua, pemuka agama, pemuka masyarakat, ataupun pimpinan
organisasi); adanya sasaran pendidikan (orang yang belum dewasa, anak didik,
peserta didik); adanya sifat pelaksanaan pendidikan (dengan sadar, dengan sengaja,
dengan sistematis, dengan atau secara terencana); adanya tujuan yang ingin dicapai

(manusia susila, kedewasaan, manusia yang patriot atau warga negara yang
bertanggung jawab) (Fry, Heather, et al. 2013).
Proses pendidikan tersebut berlangsung

didalam

suatu lingkungan

pendidikan atau tempat dimana pendidikan itu berlangsung, biasanya dibedakan


menjadi tiga yaitu tri pusat pendidikan yaitu keluarga (pendidikan informal),
sekolah (pendidikan formal), dan masyarakat.
Pendidikan kesehatan merupakan proses belajar yang harus dialami oleh
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menjadi sasaran dengan tujuan
akhir perubahan perilaku. Perilaku dibagi menjadi tiga domain, yaitu domain
kognitif, domain sikap, dan domain psikomotor (Nursalam dan Efendi, 2009).
Berikut ini diuraikan mengenai ketiga domain tersebut.
a. Domain kognitif (pengetahuan)
Kognitif (pengetahuan) adalah merupakan hasil tahu, dan terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui pancaindra seseorang. Kognitif merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).
Tingkat pengetahuan mempunyai enam tingkatan sebagai berikut.
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya atau rangsangan yang telah diterima (Notoatmodjo, 2007).
Dalam tingkatan ini, tekanan utama pada pengenalan kembali fakta,
prinsip, aturan, atau strategi penyelesaian masalah. Beberapa kata kerja
yang dipakai untuk mengukur kemampuan tingkat tahu (know) antara
lain: kutip, urutkan, tetapkan, daftar, ingat-ingat, gambarkan, cocokkan,
kenali, perkenalkan, sebutkan, hubungkan; beri nama; garis bawahi;
nyatakan; ulangi; reproduksi, tabulasi, pilih (Shirran, 2008).
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan

materi

tersebut secara benar (Notoatmodjo, 2007). Dalam tingkatan pengetahuan


ini, seseorang telah dapat menafsirkan fakta, menyatakan kembali apa
yang ia lihat, menerjemahkan menjadi satu konteks baru, menarik
kesimpulan dan melihat konsekuensi. Kata Kerja yang sering digunakan
untuk mengukur tingkat pemahaman adalah perbaiki, pertahankan, uraikan,

klasifikasi, ciri khasnya, jelaskan, pertajam, bedakan, perluas, diskusikan,


simpulkan, dan tuliskan kembali (Shirran, 2008).
3) Aplikasi (application)
Aplikasi dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum atau rumus,
metode, prinsip dan lain sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain (Notoatmodjo, 2007). Contoh kata kerja yang dapat mengukur kata
aplikasi

adalah

terapkan,

demonstrasikan,

selesaikan,

tafsirkan

dan

kembangkan (Shirran, 2008).


4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam
komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi dan masih
ada kaitannya satu sama lain. Seseorang mampu mengenali kesalahankesalahan logis, menunjukkan kontradiksi atau membedakan di antara
fakta,

pendapat,

hipotesis, asumsi

dan

simpulan

serta

mampu

menggambarkan hubungan antar ide (Notoatmodjo, 2007). Beberapa kata


kerja yang digunakan dalam pengukuran tingkat analisis antara lain:
analisis; garis bawahi; bedakan dan tunjukkan.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk
menghubungkan
baru

dan

meletakkan atau

bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan

koheren.

(Notoatmodjo, 2007).

Manusia
Beberapa

mampu
kata

yang

menyusun formulasi baru

kerja

yang digunakan

dalam

mengukur tingkat sintesis adalah: kategorikan;susun; bangun; sintesiskan;


desain; integrasikan; temukan; hipotesiskan; prediksikan (Shirran, 2008).
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu
materi atau objek dan didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan
sendiri

atau

dengan

ketentuan

yang sudah

ada sehingga, mampu

menyatakan alasan untuk pertimbangan tersebut (Notoatmodjo, 2007).


Beberapa kata kerja yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan
tingkat

evaluasi

seseorang

adalah:

taksir;

pertahankan;

dukung;

pertimbangkan; kritik; kurangi; kontraskan; beri komentar; beri alasan;


bandingkan; evaluasi; verifikasi; nilai (Shirran, 2008).
b. Domain Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap stimulus (objek). Komponen sikap mempunyai tiga komponen sebagai
berikut :
1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadapa suatu objek
3) Kecenderungan untuk bertindak
Tingkat sikap mempunyai empat tingkatan sebagai berikut ini
1)
2)
3)
4)

Menerima (receiving)
Merespons (responding)
Menghargai (valuing)
Bertanggung jawab (responsible)

c. Domain Psikomotor
Tingkatan domain psikomotor sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Persepsi (perseption)
Respon terpimpin (guided response)
Mekanisme (mechanism)
Adaptasi (adaptation)

Sebelum mengadopsi perilaku seseorang akan terjadi proses yang berurutan


berikut ini :
1) Kesadaran (awareness), di mana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2) Tertarik (interest), di mana orang mulai tertarik pada stimulus
3) Evaluasi (evaluation), orang akan menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya.
4) Mencoba (trial), di mana orang mulai mencoba perilaku baru tersebut.
5) Adopsi (adoption), subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
2. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk meningkatkan perilaku sehat
individu maupun masyarakat, pengetahuan yang relevan dengan intervensi dan
strategi pemeliharaan derajat kesehatan, pencegahan penyakit, serta mengelola
(memberikan perawatan) penyakit kronis di rumah. Pendidikan kesehatan pada
dasarnya untuk meningkatkan derajat kesehatan (kesejahteraan) dan menurunkan
ketergantungan serta memberikan kesempatan pada individu, keluarga, kelompok
dan komunitas untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mempertahankan keadaan
sehat yang optimal (Nursalam, 2003).

Tujuan pendidikan kesehatan ini adalah memberikan atau meningkatkan


pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, yang diperlukan oleh seseorang atau
masyarakat, sehingga akan memudahkan terjadinya perilaku sehat pada masyarakat.
Upaya ini juga dimaksudkan untuk meluruskan tradisi-tradisi, kepercayaankepercayaan, nilai-nilai, dan sebagainya yang tidak kondusif bagi perilaku sehat,
yang akhirnya berakibat buruk bagi kesehatan mereka (Notoatmodjo, 2005).

3. Tingkat Pelayanan Pendidikan Kesehatan


Dalam dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat
dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan dari Leavel dan Clark, yaitu :
a. Promosi Kesehatan (Health Promotion)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam kebersihan
perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, pemeriksaan kesehatan berkala,
peningkatan gisi, dan kebiasaan hidup sehat
b. Perlindungan Khusus (Specific Protection)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat. Misalnya tentang pentingnya imunisasi sebagai cara
perlindungan terhadap penyakit pada anak atau orang dewasa.
c. Diagnosa Dini dan Pengobatan Segera (Early Diagnosis and Prompt
Treatment)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena rendahnya tingkat
pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan penyakit yang
terjadi di masyarakta. Keadaan ini menimbulkan kesulitan mendeteksi penyakit
yang terjadi di masyarakat, masyarakat tidak mau diperiksa dan diobati
penyakitnya. Kegiatan pada tingkat pencegahan ini meliputi pencarian kasus
individu atau missal, survey penyaringan kasus, penyembuhan dan pencegahan
berlanjutnya proses penyakit, pencegahan penyebarah penyakit menular, dan
pencegahan komplikasi.
d. Pembatasan Cacat (Disability Limitation)

Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena masyarakat sering


didapat tidak mau melanjutkan pengobatannya sampai tuntas atau tidak mau
melakukan

pemeriksaan

dan

pengobatan

penyakitnya

secara

tuntas.

Pengobatan yang tidak layak dan tidak sempurna dapat mengakibatkan orang

yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki ketidak mampuan untuk


melakukan sesuatu
Rehabilitasi (Rehabilitation)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena setelah sembuh dari

e.

penyakit tertentu, seseorang mungkin menjadi cacat. Untuk memulihkan


kecacatannya itu diperlukan latihan-latihan.
4. Pentingnya Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan
Berdasarkan perannya sebagai perawat pendidik, perawat mengalihkan
pengetahuan, ketrampilan, dan pembentukan sikap selama proses pembelajaran yang
berfokus pada peserta didik. Perubahan perilaku pada peserta didik selama proses
pembelajaran berupa perubahan pola pikir, sikap, dan ketrampilan yang spesifik.
Untuk mendapatkan gambaran pola pikir, sikap, dan ketrampilan yang
spesifik tesebut diperlukan proses interaksi perawat-peserta didik untuk menggali
perasaan. Dengan demikian perawat mendapatkan gambaran masalah-masalah yang
perlu diberikan dalam pendidikan kesehatan (Uha Siliha dkk, 2002).
5. Pendidikan Kesehatan sebagai Proses Perubahan Perilaku
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah untuk mengubah perilaku
individu, kelompok, dan masyarakat menuju hal-hal yang positif secara terencana
melalui proses belajar. Pengubahan perilaku mencakup tiga ranah perilaku, yaitu
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan melalui proses pendidikan kesehatan. hasil
pengubahan perilaku yang diharapkan melalui proses pendidikan kesehatan pada
hakikatnya adalah perilaku sehat. Perilaku sehat dapat berupa emosi, pengetahuan,
pikiran, keinginan, tindakan nyata dari individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat (Uha Suliha, 2002).
6. Metode Pendidikan Kesehatan
Metode yang digunakan pada aplikasi pendidikan

kesehatan

adalah

belajar-mengajar. Pada garis besarnya metode tersebut dibagi 2 macam, antara


lain:
a. Metode didaktik

Metode ini didasarkan pada cara satu atau one way method. Pendidik aktif dan
peserta

didik pasif. Kelemahannya,

sulit

dievaluasi keberhasilannya.

Contohnya siaran radio, tulisan dimedia cetak, tv, dan film.

b. Metode sokratik

Metode ini adalah metode dua arah atau two-way trafic method. Dengan
demikian peserta didik dapat aktif dan kreatif. Contohnya diskusi kelompok,
diskusi panel, role play, demonstrasi dan lain- lain.
7. Media Pendidikan Kesehatan
Media
menyampaikan

pendidikan
kesehatan

kesehatan
karena

adalah alat

bantu pendidikan

untuk

alat-alat tersebut dapat digunakan untuk

mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat. Berdasarkan


fungsinya media pendidikan kesehatan dibagi menjadi 3, antara lain :
a. Media cetak
Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi
kesehatan sangat bervariasi antara lain booklet, leaflet, flyer (selebaran), flip
chart (lembar balik), rubrik (tulisan pada surat kabar atau majalah), poster.
b. Media elektronik
Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan-pesan atau
informasi kesehatan jenisnya berbeda-beda, antara lain : televisi, radio, video
dan slide.
c. Media papan (Bill board)

Papan yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai diisi dengan


pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan. Media papan diisi

juga

mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada
kendaraan-kendaraan umum.
E. Health Promotion Model (HPM)

Health

Promotion

Model

(HPM)

atau

model

promosi

kesehatan

diperkanalkan oleh soerang teorist keperawatan, yaitu Nola J. Pender. Model ini
menggabungkan dua teori yaitu teori nilai harapan (expectancy value) dan teori
kognitif sosial (social cognitive theory) yang konsisten dengan semua teori. Teori ini
memandang pentingnya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit adalah suatu
yang hal logis dan ekonomis. Pusat dari teori HPM adalah teori pembelajaran sosial
dari Albert Bandura (1977) yang menjelaskan tentang pentingnya perkembangan

kognitif dalam merubah tingkah laku. Teori pembelajaran & sosial yang sekarang
bernama Social Cognitive Theory terdiri dari kepercayaan diri, atribusi diri, evaluasi
diri dan kemajuan diri.
Health Promotion Model yang dikembangkan oleh Pender telah digunakan
khususnya dalam disiplin keperawatan. Model ini menggambarkan komponen dan
mekanisme yang menjadi faktor penentu pada gaya hidup yang mempromosikan
kesehatan. Dengan mewujudkan potensi kesehatan dan meningkatkan derajat
kesehatan melalui penggunaan perilaku pedekatan bukan perilaku penolakan
penyakit menyebabkan model ini digambarkan sebagai model promosi kesehatan
bukan model pencegahan penyakit (Tomey & Alligood, 2014).
F. Kerangka Teori

Pendidikan kesehatan
tentang pencegahan
infeksi nosokomial

G. Kerangka Penelitian

Perilaku pencegahan
infeksi nosokomial

Pengetahuan

Sikap

Faktor yang
mempengaruhi:
- Faktor Internal:
pendidikan,
pekerjaan, umur
- Faktor Eksternal:
Lingkungan,
sosial budaya.

Faktor yang
mempengaruhi:
Pengalaman
pribadi,
pengalaman orang
lain yang dianggap
penting, pengaruh
kebudayaan, media
massa, pengaruh
pendidikan dan
agaman, pengaru
faktor emosional,
pendidikan, faktor
sosial ekonomi.

Perilaku mendukung kesehatan


(perilaku promosi kesehatan)

Tindakan

Pendidikan kesehatan
tentang pencegahan
infeksi nosokomial

Pengetahuan dan
sikap sebelumnya

Perubahan pengetahuan
dan sikap

Variabel Perancu:
Umur, tingkat pengetahuan,
pendidikan, pengalaman
pribadi, pengalaman orang
lain yang dianggap penting,
pengaruh kebudayaan,
media massa, pengaruh
pendidikan dan agaman,
pengaru faktor emosional,
pendidikan, faktor sosial
ekonomi
H. Hipotesis
1. H1: Ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap
pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan di ruang maternal RSUD Hj. Anna
Lasmanah Banjarnegara
2. H0: Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial
terhadap pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan di ruang maternal RSUD Hj.
Anna Lasmanah Banjarnegara

BAB III
METODE PENELITIAN

A.

Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Quasi
Experimental. Desain penelitian menggunakan One Groups Pretest and Posttest
Design (Sugiono, 2007) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan
kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap pengetahuan dan sikap tenaga
kesehatan di ruang maternal RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. Penelitian
ini terdiri dari satu kelompok yang diberikan perlakuan.
Pre-test
01

B.

Perlakuan
X

Post-test
02

Tempat dan waktu Penelitian


Tempat penelitian akan dilakukan di ruang perawatan maternal (Ruang
Menur, Ruang Teratai, Ruang Perinatalogi dan Poli KIA RSUD Hj. Anna Lasmanah
Banjarnegara. Waktu penelitian adalah pada minggu keempat bulan Desember 2014.

C.

Subjek Penelitian
1.

Batasan populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tenaga paramedis yang bertugas
di ruang perawatan maternal yaitu Ruang Menur, Ruang Teratai, Ruang
Perinatalogi dan Poli KIA RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.

2.

Besar sampel
Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap
tenaga para medis mengenai pencegahan infeksi. Maka yang dimaksud
sebagai subjek penelitian adalah tenaga para medis di ruang maternal menjadi
sumber data penelitian. Persyaratan subjek yang bisa diikutsertakan dalam
penelitian ini ditetapkan berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
a.

Kriteria Inklusi :

b.

Para tenaga medis yang bersedia menjadi responden


Kriteria Ekslusi

Tenaga medis yang tidak masuk pada saat pengumpulan data.


D. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling yaitu


suatu teknik pengambilan sampel dimana seluruh sampel yang memenuhi kriteria
inklusi akan dijadikan sampel penelitian (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).
E. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independent, variabel
dependent, variabel intervensi dan variabel perancu. Variabel independent dalam
penelitian ini yaitu pendidikan kesehatan. Sedangkan variabel dependent dalam
penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan sikap tenaga para medis. Intervensi
yang dilakukan pada penelitian ini adalah pemberian pendidikan kesehatan
mengenai pengendalian infeksi dengan menggunakan media leaflet. Variabel
perancu dalam penelitian ini adalah usia, tingkat pendidikan, dan informasi
sebelumnya.
F. Definisi Operasional Variabel

Jenis Variabel

Nama Variabel

Dependent

Tingkat
pengetahuan
tenaga para
medis

Kemampuan responden untuk


menjawab pertanyaan yang
diberikan tentang pengertian

Sikap tenaga
para medis

Pernyataan atau tanggapan


dari responden tentang
mencuci tangan, penggunaan
masker dan gown, penerapan
ruang isolasi, dan pelaksanaan
personal hygiene
Pemberian informasi kepada
responden tentang
pencegahan infeksi meliputi
pengertian infeksi, tandatanda infeksi, cara mencegah
infeksi, dan akibat infeksi
terhadap pasien menggunakan
media leaflet

Independent

Informasi

G. Instrumen Penelitian

Definisi operasional

Skala
Rasio

Rasio

Nominal

Pengukuran
Penilaian
Hasil penilaian
dari kuesioner
berupa skor

Hasil penilaian
dari kuesioner
berupa skor

Diberikan
pendidikan
kesehatan

H. Uji Validitas dan Reliabilitas

I.

Cara Analisa Data


Data yang diperoleh sebelum dilakukan analisa data akan melalui proses
editing, coding, entry, dan tabulasi data. Untuk data demografi tenaga para medis
akan dianalisis secara deskriptif yaitu umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan
informasi yang pernah didapat. Data primer yang didapatkan melalui kuesioner
akan diuji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov.
Data karakteristik responden yaitu usia, tingkat pendidikan, dan informasi
sebelumnya selanjutnya akan dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji
Chi-Square. Jika hasil berdistribusi normal, maka uji yang digunakan adalah uji T
dua sampel berhubungan (T-paired test). Jika distibusinya tidak normal, maka yang
digunakan adalah uji tanda wilcoxon.

J.

Etika Penelitian
Hal-hal diatas dilakukan dengan menekankan pada etika penelitian yaitu:
1. Lembar Persetujuan (Informed Concent)
Lembar persetujuan diberikan pada subyek yang akan diteliti, tujuannya adalah
subyek mengetahui maksud dan tujuan peneliti serta dampaknya selama
pengumpulan data. Dalam penelitian ini informed concent diberikan kepada
orang tua sampel.
2. Tanpa Nama (Anonim)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak mencantumkan nama
subyek pada lembar observasi, tetapi lembar tersebut hanya diberi nomor kode
tertentu.
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Semua informasi yang telah didapatkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti,
hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan dalam hasil penelitian.

K. Jalannya Penelitian
Pengukuran pengetahuan dan sikap tenaga para medis dalam pencegahan
infeksi

dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden.

Penelitian diawali dengan menentukan responden yang memenuhi kriteria untuk

ikut serta dalam penelitian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Responden
yang memenuhi kriteria kemudian diberikan penjelasan tentang penelitian dan
diminta untuk menandatangani informed consent jika bersedia berpartisipasi dalam
penelitian.
Peneliti akan memperkenalkan diri dan membuat kontrak waktu kepada

responden. Peneliti akan memberikan kuesioner yang berisi data demografi kepada
responden dan memberikan waktu selama 5 menit kepada responden untuk mengisi
kuesioner tersebut. Setelah data demografi dikumpulkan, peneliti akan melakukan
pretest dengan memberikan kuesioner untuk mengukur pengetahuan dan sikap
dalam pencegahan infeksi kepada responden. Tata cara pengisian kuesioner akan
dijelaskan oleh peneliti sebelum responden memberikan jawaban pada kuesioner,
kemudian peneliti akan memberikan informasi melalui leaflet kepada responden
selama 10 menit. Peneliti akan melakukan kontrak waktu kepada responden untuk
melakukan posttest. Setelah data didapatkan, peneliti melakukan terminasi kepada
responden dan mengucapkan terima kasih atas partisipasinya dalam penelitian ini
serta memberikan leaflet kepada responden..
Penelitian berakhir sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Data yang
didapatkan kemudian dilakukan analisis sesuai dengan uji statistik yang telah
ditetapkan.
L. Rencana Kerja
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kegiatan
Menentukan topik mini riset
1. Membuat proposal mini riset
2. Menentukan istrumen penelitian
Seminar Proposal
Pengumpulan data
Manajemen data :
1. Memasukkan data
2. Analisis data
Penulisan laporan penelitian
Seminar hasil

Des
Mgg II

Des
Mgg III

Des
Mgg IV

Jan
Mgg I

Anda mungkin juga menyukai