Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS GINEKOLOGI

DOKTER MUDA SMF OBGIN RSUP NTB


MIOMA UTERI

Oleh
Laili Khairani
H1A 007 033

Pembimbing: Dr. Agus Thoriq, Sp.OG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


SMF OBGIN RSUP NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2013

BAB I
PENDAHULUAN
Mioma uteriadalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan polos, jaringan
pengikat fibroid dan kolagen. Mioma uteri merupakan tumor perlvis yang terbanyak pada organ
reproduksi wanita. Kejadian mioma uteri sebesar 20-40 % pada wanita yang berusia lebih dari 35
tahun dan sering menimbulkan gejala klinis berupa menorraghi dan dismenorea. Selain itu
1

mioma juga dapat menimbulkan kompresi pada traktus urinarius, sehingga dapat menimbulkan
gangguan berkemih maupun tidak dapat menahan berkemih.1
Penelitian Ran Ok et-al di Pusan Saint Benedict Hospital Korea menemukan 17% kasus
mioma uteri dari 4784 kasus-kasus bedah ginekologi yang diteliti (Muzakir cit Ran Ok et-al,
2007). Menurut penelitian yang di lakukan Karel Tangkudung (1977) di Surabaya angka kejadian
mioma uteri adalah sebesar 10,30%, sebelumnya di tahun 1974 di Surabaya penelitian yang
dilakukan oleh Susilo Raharjo angka kejadian mioma uteri sebesar 11,87% dari semua penderita
ginekologi yang dirawat.2
Sebagian besar kasus mioma uteri adalah tanpa gejala, sehingga kebanyakan penderita
tidak menyadari adanya kelainan pada uterusnya. Diperkirakan hanya 20%-50% dari tumor ini
yang menimbulkan gejala klinik, terutama perdarahan menstruasi yang berlebihan, infertilitas,
abortus berulang, dan nyeri akibat penekanan massa tumor.2
Menoragia yang disebabkan mioma uteri menimbulkan masalah medis dan sosial pada
wanita. Mioma uteri terdapat pada wanita di usia reproduktif, pengobatan yang dapat dilakukan
adalah histerektomi, dimana mioma uteri merupakan indikasi yang paling sering untuk dilakukan
histerektomi di USA (1/3 dari seluruh angka histerektomi).3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-sel jaringan
otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen.1 Mioma uteri disebut juga dengan
leimioma uteri atau fibromioma uteri. Mioma ini berbentuk padat karena jaringan ikat dan
2

otot rahimnya dominan. Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang paling umum dan
sering dialami oleh wanita. Neoplasma ini memperlihatkan gejala klinis berdasarkan besar
dan letak mioma. 3,4
2. Anatomi Uterus
Uterus berbentuk seperti buah advokat atau buah peer yang sedikit gepeng kea rah
muka belakang, ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga. Dindingnya
terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 7 7,5 cm, lebar di atas 5, 25
cm, tebal 2,5 cm dan tebel dinding uterus adalah 1,25 cm. Bentuk dan ukuran uterus
sangat berbeda-beda, tergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau belumnya.
Terletak di rongga pelvis antara kandung kemih dan rectum. Letak uterus dalam keadaan
fisiologis adalah anteversiofleksio ( serviks ke depan dan membentuk sudut dengan
serviks uteri ).4
Bagian-bagian uterus terdiri atas :4,5
1. Fundus uteri, adalah bagain uterus proksimal di ats muara tuba uterina yang mirip
dengan kubah , di bagian ini tuba Falloppii masuk ke uterus. Fundus uteri ini biasanya
diperlukan untuk mengetahui usia/ lamanya kehamilan
2. Korpus uteri, adalah bagian uterus yang utama dan terbesar. Korpus uteri menyempit
di bgaian inferior dekat ostium internum dan berlanjut sebagai serviks. Pada
kehamilan, bagian ini mempunyai fungsi utama sebagai tempat janain berkembang.
Rongga yang terdapat di korpus uteri disebut kavum uteri ( rongga rahim ).
3. Serviks uteri, serviks menonjol ke dalam vagina melalui dinding anteriornya,dan
bermuara ke dalamnya berupa ostium eksternum. Serviks uteri terdiri dari :
Pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio
Pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada di atas vagina
Secara histologis, dinding uterus terdiri atas :
1. Endometrium ( selaput lendir ) di korpus uteri
3

Endometrium terdiri atas epitel pubik, kelenjar-kelenjar dan jaringan dengan banyak
pembuluh darah. Endometrium terdiri atas epitel selapis silindris, banyak kelenjar
tubuler bersekresi lendir. Dua pertiga bagian atas kanal servikal dilapisi selaput lendir
dan sepertiga bawah dilapisi epitel berlapis gepeng, menyatu dengan epitel
vagina.Endometrium melapisi seluruh kavum uteri dan mempunyai arti penting dalam
siklus haid. Endometrium merupakan bagian dalam dari korpus uteri yang membatasi
cavum uteri. Pada endometrium terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan muaramuara dari saluran-saluran kelenjar uterus yang dapat menghasilkan secret alkalis
yang membasahi cavum uteri. Epitel endometrium berbentuk seperti silindris.
2.

Myometrium / Otot-otot polos


Lapisan otot polos di sebelah dalam berbentuk sirkuler dan di sebelah luar berbentuk
longitudinal. Di antara kedua lapisan itu terdapat lapisan otot oblik, berbentuk
anyaman, lapisan ini paling kuat dan menjepit pembuluh-pembuluh darah yang
berada di sana. Myometrium merupakan bagian yang paling tebal. Terdiri dari otot
polos yang disusun sedemikian rupa hingga dapat mnedorong isinya keleuar saat
persalinan. Di antara serabut-serabut otot terdapat pembuluh-pembuluh darah,
pembuluh lympa dan urat saraf. Otot uterus terdiri dari 3 bagain :

Lapisan luar, yaitu lapisan seperti kap melengkung melalui fundus menuju kea rah
ligamenta

Lapisan dalam, merupakan serabut-serabut otot yang berfungsi sebagai sfingter dan
terletak pada ostium internum tubae dan orificium uteri internum

Lapisan tengah, terletak antara ke dua lapisan di atas, merupakan anyaman serabut
otot yang tebal ditembus oleh pembuluh-pembuluh darah. Jadi, dinding uterus
terutama dibentuk oleh lapisan tengah ini.

3. Perimetrium , yakni lapisan serosa / terdiri atas peritoneum viserale yang meliputi
dinding uterus bagian luar. Ke anterior peritoneum menutupi fundus dan korpus,
kemudian membalik ke atas permukaan kandung kemih. Lipatan peritoneum ini
membentuk kantung vesikouterina. Ke posterior, peritoneum menutupi menutupi
fundus, korpus dan serviks, kemudian melipat pada rektum dan membentuk kantung
4

rekto-uterina. Ke lateral, hanya fundus yang ditutupi karena peritoneum membentuk


lipatan ganda dengan tuba uterina pada batas atas yang bebas. Lipatan ganda ini
adalah ligamentum latum yang melekatkan uterus pada sisi pelvis.

Uterus sebenarnya terapung dialam rongga pelvis dengan jaringan ikat dan ligamenta
yang menyokongnya, sehingga terfiksasi dengan baik. Ligamenta yang memfiksasi uterus
adalah:
a) Ligamentum kardinale sinistrum et dekstrum ( Mackenrodt ) yakni ligamentum yang
trepenting, mencegah supaya uterus tidak turun, terdiri atas jaringan ikat tebal dan
berjalan dari serviks dan puncak vagina kea rah lateral dinding pelvis.
b) Ligamentum sakro- uterinum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang
menahan uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan dari serviks bagian belakang, kiri
dan kanan, kea rah os sacrum kiri dan kanan.
c) Ligamentum rotundum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang menhaan
uterus dalam antefleksi dan berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan, ke daerah
inguinal kiri dan kanan. Pada kehamilan kadang-kadang terasa sakit di daerah inguinal
pada waktu berdiri cepat karena uterus berkontraksi kuat dan ligamentum rotundum
5

menjadi kencang serta mengadakan tarikan pada daerah inguinal. Pada persalinan ia pun
terba kencang dan terasa sakit bila dipegang.
d) Ligamentum latum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang meliputi tuba,
berjalan dari uterus kea rah sisi, tidak banyak mengandung jaringan ikat. Sebenarnya
ligamentum ini adalah bagian dari peritoneum viserale yang meliputi uterus dan kedua
tuba dan berbentuk sebagai lipatan. Di bagian dorsal, ligamentum ini ditemukan indung
telur ( ovarium sinistrum et dekstrum ). Untuk memfiksasi uterus, ligamentum latum ini
tidak banyak artinya.
e) Ligamentum infundibulo-pelvikum, yakni ligamentum yang menahan tuba Falloppii
berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Di dalamnya ditemukan urat-urat
saraf, saluran-saluran limfe, arteria dan vena ovarica.

Uterus diberi darah oleh arteri uterine kiri dan kanan yang terdiri atas ramus
asenden dan ramus desenden. Pembuluh darah ini berasal dari arteri iliaka interna
( disebut juga dengan arteri hipogastrika ) yang melalui dasar ligamentum latum masuk
ke dalam uterus didaerah cervics kira kira 1,5 cmdiatas forniks lateralis vagina.
Pembuluh darah lain yang memperdarai adalah arteri ovarika kiri dan kanan. Arteri ini
berjalan dari dinding lateral pelvis, melalui dinding ligamentum infundibulo-pelvicum
mengikuti tuba falopi, beranastomosis dengan ramus asenden arteri uterine disebelah
lateral, kanan dan kiri uterus. Bersama sama dengan arteri tersebut diatas terdapat venavena yang kembali melalui pleksus vena ke vena hipogastrika
3. Epidemiologi
Mioma uterus, atau disebut juga sebagai leiomioma atau fibroid merupakan tumor
jinak yang sering ditemukan pada wanita usia reproduktif (20-25%). Pada usia > 35 tahun
kejadiannya lebih tinggi., yaitu mendekati angka 40%. Tingginya kejadian mioma uterus
antara usia 35 tahun dan usia 50 tahun menunjukan adannya hubungan kejadian mioma
uterus dengan estrogen. Pada usia menopause terjadi regresi mioma uterus.6
Wanita kulit hitam di USA 3-9 kali menderita mioma uterus dibandingkan wanita
kulit putih. Namun di Afrika, wanita kulit putih sedikit sekali menderita mioma uterus.
Perbedaan Amerika dan Afrika mungkin dikaitkan dengan adanya perbedaan pola hidup.
Di USA, dari650.000 histerektomi yang dilakukan per tahun, sebanyak 27% (175.000)
disebabkan arena mioma uterus. Berdasarkan angka kejadian residif dari mioma uterus
sebanyak 15 % (4-59%), maka sebanyak 10% (3-21%) harus dilakukan operasi lagi.7
4. Etiologi
Mioma uteri berasal dari sel otot polos myometrium, menurut teori onkogenik
maka patogenesa mioma uteri dibagi menjadi 2 faktor yaitu inisiator dan promotor.
Factor-faktor yang menginisiasi pertumbuhan miom auteri masih belum diketahui dengan
pasti. Dari penelitian menggunakan glukosa-6-phospatase dihydrogenase diketahui
bahwa mioma berasal dari jaringan yang uniseluler. Transformasi neoplastic dari
myometrium menjadi mioma melibatkan mutasi somatic dari myometrium normal dan
interaksi kompleks dari hormone steroid seks dan growth factor local. Mutasi somatic ini
merupakan awal dari proses pertumbuhan tumor.6

Tidak didapat bukti bahwa hormone estrogen berperan sebagai penyakit mioma,
namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan mioma. Mioma terdiri dari
reseptor estrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding dari myometrium
sekitarnya namun konsentrasinya lebih rendah dibandingkan endometrium. Hormone
progesterone meningkatkan aktivitas mitotic dari mioma pada wanita muda namun
mekanisme dan factor pertumbuhan yang terlibat tidak diketahui secara pasti.
Progesterone memungkinkan pembesaran tumor dengan cara down-regulation apoptosis
dari tumor. Estrogen berperan dalam pembesaran tumor dengan meningkatkan produksi
matriks ekstraseluler. 6
Faktor-faktor penyebab mioma uteri belum diketahui, namun ada 2 teoriyang
berpendapat:
1. Teori Stimulasi
Berpendapat bahwa estrogen sebagai faktor etiologi, mengingat bahwa :
a. Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil
b. Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum monarche
c. Mioma uteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause
d. Hiperplasia endometriumsering ditemukan bersama dengan mioma uteri
2. Teori Cellnest atau genitoblas
Terjadinya mioma uteri itu tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapatpada cell
nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus olehestrogen. 7
5. Faktor Resiko
a. Usia penderita
Wanita kebanyakannya didiagnosa dengan mioma uteri dalam usia 40-an;
tetapi,masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi adalah disebabkan
peningkatan formasi atau peningkatan pembesaran secara sekunder terhadap perubahan
hormon pada waktu usia begini. Faktor lain yang bisa mengganggu insidensi sebenar
kasus mioma uteri adalah kerana dokter merekomendasi dan pasien menerima
rekomendasi tersebut untuk menjalani histerektomi hanya setelah mereka sudah melepasi
usia melahirkan anak.6
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai
sarang mioma.Mioma belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke dan setelah
menopause hanya 10% mioma yang masih bertumbuh.7
b. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)

Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil
histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon esterogen
endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau sedikit (Parker,
2007). Awal menarke (usia di bawah 10 tahun) dijumpai peningkatan resiko ( RR 1,24)
dan menarke lewat (usia setelah 16 tahun) menurunkan resiko (RR 0,68) untuk menderita
mioma uteri.
c. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita mioma uteri
dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Penderita mioma
yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri mempunyai 2 kali lipat
kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myoma-related growth factor) dibandingkan dengan
penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri.6
c. Etnik
Dari studi yang dijalankan melibatkan laporan sendiri oleh pasien mengenai
mioma uteri, rekam medis, dan pemeriksaan sonografi menunjukkan golongan etnik
Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan risiko menderita mioma uteri setinggi 2,9 kali
berbanding wanita etnik caucasia, dan risiko ini tidak mempunyai kaitan dengan faktor
risiko yang lain. Didapati juga wanita golongan Afrika-Amerika menderita mioma uteri
dalam usia yang lebih muda dan mempunyai mioma yang banyak dan lebih besar serta
menunjukkan gejala klinis. Namun ianya masih belum diketahui jelas apakah perbedaan
ini adalah kerana masalah genetik atau perbedaan pada kadar sirkulasi estrogen,
metabolisme estrogen, diet, atau peran faktor lingkungan. 7
Pada penelitian terbaru menunjukkan yang Val/Val genotype untuk enzim
essensial kepada metabolisme estrogen,catechol-O-methyltransferase (COMT) ditemui
sebanyak 47% pada wanita Afrika-Amerika berbanding hanya 19% pada wanita kulit
putih. Wanita dengan genotype ini lebih rentan untuk menderita mioma uteri. Ini
menjelaskan mengapa prevalensi yang tinggi untuk menderita mioma uteri dikalangan
wanita Afrika-Amerika lebih tinggi.6
d. Berat Badan
9

Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita


mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg berat badan dan dengan
peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan menyebabkan
pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan menurunkan hormon sexbinding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan estrogen secara biologikal yang
bisa menerangkan mengapa terjadi peningkatan prevalensi mioma uteri dan
pertumbuhannya.7
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara obesitas dan peningkatan
insiden mioma uteri. Suatu studi di Harvard yang dilakukan oleh Dr. Lynn Marshall
menemukan bahwa wanita yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas normal,
berkemungkinan 30,23% lebih sering menderita mioma uteri. Ros dkk, (1986)
mendapatkan resiko mioma uteri meningkat hingga 21% untuk setiap 10 Kg kenaikan
berat badan dan hal ini sejalan dengan kenaikan IMT.6
e. Diet
Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri dengan
pemakanan seperti daging sapi atau daging merah atau ham bisa meningkatkan insidensi
mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi ini sangat sukar untuk
diintepretasikan kerana studi ini tidak menghitung nilai kalori dan pengambilan lemak
tetapi sekadar informasi sahaja dan juga tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin,
serat atau phytoestrogen berhubung dengan mioma uteri.6
f. Kehamilan dan paritas
Peningkatan paritas menurunkan insidensi terjadinya mioma uteri. Mioma uteri
menunjukkan karakteristik yang sama dengan miometrium yang normal ketika kehamilan
termasuk peningkatan produksi extracellular matrix dan peningkatan ekspresi reseptor
untuk peptida dan hormon steroid. Miometrium postpartum kembali kepada berat asal,
aliran darah dan saiz asal melalui proses apoptosis dan diferensiasi. Proses remodeling ini
berkemungkinan bertanggungjawab dalam penurunan saiz mioma uteri. Teori yang lain
pula mengatakan pembuluh darah di uterus kembali kepada keadaan atau saiz asal pada
postpartum dan ini menyebabkan mioma uteri kekurangan suplai darah dan kurangnya
10

nutrisi untuk terus membesar. Didapati juga kehamilan ketika usia midreproductive (2529 tahun) memberikan perlindungan terhadap pembesaran mioma.6
g. Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang bisa
menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada jaringan seperti: penurunan konversi
androgen kepada estrone dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin.6
6. Patofisiologi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam myometrium dan
lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium terdesak menyusun semacam
pseudekapsula atau simpai semu yang mengelilingi tumor didalam uterus mungkin
terdapat satu mioma, akan tetapi mioma biasanya banyak. Jika ada satu mioma yang
tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konsistensi
padat. Bila terletak pada dinding depan uterus, uterus mioma dapat menonjol ke depan
sehingga menekan dan mendorong kandung kencing ke atas sehingga sering
menimbulkan keluhan miksi.8
Tetapi masalah akan timbul jika terjadi: berkurangnya pemberian darah pada
mioma uteri yang menyebabkan tumor membesar, sehingga menimbulkanrasa nyeri dan
mual. Selain itu masalah dapat timbul lagi jika terjadi perdarahanabnormal pada uterus
yang berlebihan sehingga terjadi anemia. Anemia ini bisa mengakibatkan kelemahan
fisik, kondisi tubuh lemah, sehingga kebutuhanperawatan diri tidak dapat terpenuhi.
Selain itu dengan perdarahan yang banyakbisa mengakibatkan seseorang mengalami
kekurangan volume cairan.8
7. Klasifikasi
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari
korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma uteri
dibagi 4 jenis antara lain:

1. Mioma submukosa
11

2. Mioma intramural
3. Mioma subserosa
4. Mioma intraligamenter

Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa (48%),
submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%)8
1. Mioma submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai
6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma
submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya
benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat
diketahui posisi tangkai tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata.
Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor
ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma
12

yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi dan infark. Pada beberapa kasus,
penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.
2. Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor,
jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di
dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang
berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus,
dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat
menimbulkan keluhan miksi.
3. Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus
diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum
menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum
atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wondering parasitis
fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada servik
dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan
sabit.
Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari bekas otot polos dan
jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie like pattern) dengan pseudokapsul yang
terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan.
Makroskopik mioma uteri:
Berkapsul
Berbatas tegas
8. Manifestasi Klinis
a. Gejala Subjektif
13

Pada umumnya kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan padapemeriksaan


ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Timbulnya gejala subjektif
dipengaruhi oleh: letak mioma uteri, besar mioma uteri, perubahan dankomplikasi
yang terjadi.9
Gejala subjektif pada mioma uteri:
a) Perdarahan abnormal, merupakan gejala yang paling umum dijumpai.Gangguan
perdarahan yang terjadi umumnya adalah: menoragia, dan metrorargia. Beberapa
faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini antara lain adalah: pengaruh
ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium, permukaan endometrium
yang lebih luas dari pada biasa, atrofi endometrium, dan gangguan kontraksi otot
rahim karena adanya sarang mioma di antara serabut miometrium, sehingga tidak
dapat menjepit pembuluh darah yangmelaluinya dengan baik.Akibat perdarahan
penderita dapat mengeluh anemis karena kekurangan darah, pusing, cepat lelah,
dan mudah terjadi infeksi.
b) Rasa nyeri, gejala klinik ini bukan merupakan gejala yang khas tetapi gejalaini
dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang
akan dilahirkan dan pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat
menyebabkan juga dismenore.
c) Tanda penekanan, Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat miomauteri.
Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuria, pada uretra dapat
menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan
hidronefrosis, pada rektum dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada
pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema
tungkai dan nyeri panggul.

b. Gejala Objektif
Gejala Objektif merupakan gejala yang ditegakkan melalui diagnosa ahlimedis. Gejala
objektif mioma uteri ditegakkan melalui:9
14

1) Pemeriksaan Fisik. Pemeriksaan fisik dapat berupa pemeriksaan Abdomendan


pemeriksaan pelvik. Pada pemeriksaan abdomen, uterus yang besar dapatdipalpasi
pada abdomen. Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area perlunakan
memberi kesan adanya perubahan degeneratif. Pada pemeriksaan Pelvis, serviks
biasanya normal, namun pada keadaan tertentu mioma submukosa yang
bertangkai dapat mengakibatkan dilatasi serviks dan terlihatpada ostium
servikalis. Uterus cenderung membesar tidak beraturan dannoduler. Perlunakan
tergantung pada derajat degenerasi dan kerusakanvaskular. Uterus sering dapat
digerakkan, kecuali apabila terdapat keadaanpatologik pada adneksa.
2) Pemeriksaan Penunjang; Apabila keberadaan masa pelvis meragukan maka
pemeriksaan dengan ultrasonografi akan dapat membantu. Selain itu melalu
ipemeriksaan

laboratorium

(hitung

darah

lengkap

dan

apusan

darah)

dapatdilakukan.
9. Diagnosis
a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang didapatkan sesuai dengan yang didapatkan dari gejala objektif
tersebut diatas.
b. Temuan Laboratorium
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan
uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma
menghasilkan eritropoeitin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia.
Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan
mioam terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan
kemudian menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.
c. Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi
Ultrasonografi transabdominal

dan

transvaginal

bermanfaat

dalam

menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat


pada uterus yang kecil. Uterus atau massa yang paling besar baik diobservasi
melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan
gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun
pembesaran uterus. Adanya kalsifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik
15

dengan bayangan akustik. Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang


hipoekoik.9
Hiteroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika
tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut sekaligus dapat diangkat.
MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Sangat akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi
jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas
dan dapat dibedakan dari miometrium normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil
3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma submukosa. MRI
dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat
disimpulkan.9
10. Tatalaksana
1.
Konservatif Penderita dengan mioma yang kecil dan tanpa gejala tidak
memerlukan pengobatan, tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika mioma
lebih besar dari kehamilan 10 12 minggu, tumor yang berkembang cepat, terjadi
2.

torsi pada tangkai, perlu diambil tindakan operasi.10


Terapi medikamentosa
Terapi medikammentosa yang dapat memperkecil volume atau menghentikan
pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Terapi
medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara
dari terapi operatif.10
Adapun preparat yang selalu digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analog
GnRH, progesteron, danazol, gestrinon, tamoksifen, goserelin, anti prostaglandin,
agen-agen lain (gossipol, amantadine)

Analog GnRH .
Penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 pasien dengan mioma uteri yang
diberikan analog GnRH leuprorelin asetat selama 6 bulan, ditemukan pengurangan
volume uterus rata-rata 67 %, pada 90 wanita didapatkan pengecilan volume uterus
sebesar 20 %, dan pada 35 wanita ditemukan pengurangan volume mioma sebanyak 80
%.
Efek maksimal dari analog GnRH baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara
kerjanya menekan produksi estrogen dengan sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah
16

menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause. Setiap mioma uteri memberikan hasil
yang berbeda-beda terhadap pemberian analog GnRH.
Mioma submukosa dan mioma intramural merupakan mioma uteri yang paling
responsif terhadap pemberian analog GnRH. Sedangkan mioma subserosa tidak responsif
dengan pemberian analog GnRH ini.
Keuntungan pemberian pengobatan medikamentosa dengan analog GnRH adalah.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengurangi volume uterus dan volume mioma uteri


Mengurangi anemia akibat pendarahan
Mengurangi pendarahan pada saat operasi
Tidak diperlukan insisi yang luas pada uterus saat pengangkatan mioma
Mempermudah tindakan histerektomi vaginal
Mempermudah pengangkatan mioma submukosa dengan histeroskopi

Progesteron
Peneliti Lipschutz tahun 1939, melaporkan perkembangan mioma uteri dapat
dihambat atau dihilangkan dengan pemberian progesteron. Dimana progesteron yang
diproduksi oleh tubuh dapat berinteraksi secara sinergis dengan estrogen, tetapi
mempunyai aksi antagonis.
Tahun 1946 Goodman melaporkan terapi injeksi progesteron 10 mg dalam 3 kali
seminggu atau 10 mg sehari selama 2 6 minggu, terjadi regresi dari mioma uteri, setelah
pemberian terapi. Segaloff tahun 1949, mengevaluasi 6 pasien dengan perawatan 30
sampai 189 hari, dimana 3 pasian diberi 20 mg progesterone intramuskuler tiap hari, dan
3 pasian lagi diberi 200 mg tablet. Pengobatan ini tidak mempengaruhi ukuran mioma
uteri.
Goldhiezer, melaporkan adanya perubahan degeneratif mioma uteri pada
pemberian progesteron dosis besar. Dengan pemberian medrogestone 25 mg pr hari
selama 21 hari. Pada pemberian 2 mg norethindrone tiap hari selama 30 hari tidak
mempengaruhi perubahan ukuran volume mioma uteri. Perkiraan ukuran mioma uteri
sebelum dan sesudah terapi tidak dilakukan dan efektifitasnya dimulai berdasarkan
temuan histologis. Terapi progesteron mungkin ada berhasil dalam pengobatan mioma
uteri, hal ini belum terbukti saat ini.
Danazol
17

Danazol merupakan progestogen sintetik yang berasal dari testoteron, dan pertama
kali digunakan untuk pengobatan endometrosis. Prof. Maheux tahun 1983 pada
pertemuan tahunan perkumpulan fertilitas Amerika, mempresentasikan hasil studinya di
Universitas Yale, 8 pasien mioma uteri diterapi 800 mg danazol setiap hari, selama 6
bulan. Dosis substansial didapatkan hanya menyebabkan pengurangan volume uterus
sebesar 20 25 %, dimana diperoleh fakta bahwa damazol memiliki substansi
androgenik.
Tamaya, dan rekan-rekan tahun 1979, melaporkan reseptor androgen pada mioma
terjadi peningkatan aktivitas 5 - reduktase dibandingkan dengan miometrium dan
endometrium normal. Yamamoto tahun 1984, dimana mioma uteri, memiliki suatu
aktifitas aromatase yang tinggi dan dapat membentuk estrogen dari androgen.11

Tamoksifen
Tamoksifen merupakan turunan trifeniletilen mempunyai khasiat estrogenik
maupun antiestrogenik. Dan dikenal sebagai selective estrogen receptor modulator
(SERM) dan banyak digunakan untuk pengobatan kanker payudara stadium lanjut.
Karena khasiat sebagai estrogenik maupun antiestrogenik. Beberapa peneliti melaporkan,
pemberian tamoksifen 20 mg tablet perhari untuk 6 wanita premenopause dengan mioma
uteri selama 3 bulan dimana, volumae mioma tidak berubah.
Kerja tamoksifen pada mioma uteri, dimana konsentrasi reseptor estradiol total
secara signifikan lebih rendah. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar progesteron bila
diberikan secara berkelanjutan.12
Goserelin
Goserelin merupakan GnRH agonis, dimana ikatan reseptornya terhadap jaringan
sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah berada cukup lama. Dan pada pemberian
goserelin dapat mengurangi setengah ukuran mioma uteri dan dapat menghilangkan
gejala menorargia dan nyeri pelvis. Pada wanita premenopause dengan mioma uteri,
pengobatan jangka panjang dapat menjadi alternatif tindakan histerektomi terutama pada
saat menjelang menopause. Pemberian goserelin 400 mikrogram 3 kali sehari semprot
18

hidung sama efektifnya dengan pemberian 500 mikrogram sehari sekali dengan cara
injeksi subkutan.
Untuk pengobatan mioma uteri, dimana kadar estradiol kurang signifikan
disupresi selama pemberian goserelin dan pasien sedikit mengeluh efek samping berupa
keringat dingin. Pembereian dosis yang sesuai, agar dapat menstimulasi estrogen tanpa
tumbuh mioma kembali atau berulangnya peredaran abnormal sulit diterima. Peneliti
mengevaluasi efek pengobatan dengan formulasi depot bulanan goserelin dikombinasi
dengan HRT (estrogen konjugasi 0.3 mg ) dan medroksiprogesteron asetat 5 mg pada
pasien mioma uteri, parameter yang diteliti adalah volume mioma uteri, keluhan pasien,
corak perdarahan, kandungan mineral tulang dan fraksi kolesterol.
Dapat disimpulkan dari hasil penelitian, dimana pemberian goserelin dikombinasi
dengan HRT dilaporkan mioma uteri berkurang, dengan keluhan berupa keringat dingin
dan pola perdarahan spotting, bila pengobatan dihentikan. Dimana kandungan mineral
tulang berkurang bila pemberian pengobatan selama 6 bulan pertama. Tiga bulan setelah
pengobatan perlu dilakukan observasi, dan konsentrasi HDL kolesterol meningkat selama
pengobatan, sedangkan plasma trigliserida konsentrasi menetap selama pemberian
terapi.12
Antiprostaglandin
Penghambat pembentukan prostaglandin dapat mengurangi perdarahan yang
berlebihan pada wanita dengan menoragia, dan hal ini beralasan untuk diterima atau
mungkin efektif untuk menoragia yang diinduksi oleh mioma uteri.
Ylikorhala dan rekan-rekan, melaporkan pemberian naproxen 500 1000 mg
setiap hari untuk terapi selama 5 hari tidak memiliki efek pada menoragia yang diinduksi
mioma, meskipun hal ini mengurangi perdarahan menstruasi 35,7 % wanita dengan
menoragia idiopatik. Studi ini didasarkan hanya penilaian secara simptomatik, sedangkan
ukuran mioma tidak diukur.12
3. Terapi operatif
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukosum pada myom geburt
19

dengan cara ekstirpasi lewat vagina. Pengambilan sarang mioma subserosum dapat
mudah dilaksanakan apabila tumor bertangkai. Apabila miomektomi ini dikerjakan
karena keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah
30 50%.
Perlu disadari bahwa 25 35% dari penderita tersebut akan masuh diperlukan
histerektomi. Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya merupakan
tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilakukan perabdominal maupun pervaginam.
Histerktomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya
karsinoma services uteri. Histerektomi supra vaginal hanya dilakukan apabila terdapat
kesukaran teknis dalam pengangkatan uterus keseluruhan.12

BAB III
LAPORAN KASUS

II.

Identitas
Nama
: Nn. W. N
Usia
: 36 tahun
Alamat
: Sumbawa
Pekerjaan
: Swasta
Pendidikan
: SMA
Agama
: Islam
Suku
: Sumbawa
Status pernikahan : Belum Menikah
MRS
: 10-12-2013
Tgl pemeriksaan : 14-12-2013

III. Anamnesis
Keluhan Utama : Benjolan pada perut
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien rujukan RSUD Sumbawa dengan Kista Ovarii susp. Ganas. Pasien mengeluhkan
benjolan pada perut yang semakin lama semakin membesar. Benjolan ini disadari sejak 4
bulan terakhir. Benjolan ini bermula hanya sebesar telur ayam yang lama kelamaan
semakin membesar dan sampai ke ukuran saat ini. Benjolan dirasakan nyeri apabila
20

ditekan. Pasien juga mengeluhkan setiap kali haid jumlah darah yang keluar banyak, sejak
2 bulan terakhir. Dalam sehari pasien dapat mengganti pembalutnya 5-6 kali/hari. Dan
pasien mengeluhkan nyeri perut setiap kali haid.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan benjolan seperti ini sebelumnya. Riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, asma, penyakit jantung dan penyakit ginjal disangkal oleh
pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada didalam keluarga yang mengalami keluhan serupa seperti yang dirasakan pasien
saat ini. Riwayat hipertensi (-), Diabetes mellitus (-), asma (-), penyakit ginjal (-), dan
penyakit jantung (-).
Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan ataupun obat-obatan.
Riwayat Menstruasi
Haid Pertama
: 11 tahun
Siklus Haid
: tidak teratur dalam 1 bulan 10 hari.
Nyeri setiap Haid
: (+)
Riwayat Perkawinan
Belum Menikah
IV.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
a. Keadaan umum
b. Kesadaran/GCS
c. Tanda vital
-

: Baik
: Compos Mentis/E4V5M6

Tekanan darah
Frekuensi nadi
Frekuensi napas
Suhu

:
:
:
:

120/80 mmHg
82 x/menit
20 x/menit
36,5oC

d. Kepala/leher
: konjungtiva anemis -/-; ikterik -/e. Thorax
- Inspeksi: retraksi (-)
- Palpasi: pergerakan dinding dada simetris
- Perkusi: sonor +/+, batas jantung dbn
- Auskultasi:
21

C S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-);


P vesikuler +/+ wheezing -/-, rhonki -/-.
f. Abdomen: pembesaran abdomen (+), Bising usus (+)
g. Ekstremitas: hangat (+/+)/(+/+) ; edema (-/-)/(-/-)

Status Gynecologi
1. Abdomen :
-

Inspeksi :

tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-) terlihat massa

menonjol setinggi suprapubis bagian tengah.


Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi: timpani diseluruh lapang abdomen, di tempat tumor redup
Palpasi
: defans muskular (-), undulasi tes (-), shifting dullnes (-). Teraba massa
26x20 cm pada perut, konsistensi kenyal, permukaan rata, mudah digerakkan, nyeri
tekan (+).

2. Genital Eksterna :
Inspeksi : perdarahan pervaginam (-), tanda peradangan (-)
Rectal Toucher : Sfingter ani normal, mukosa licin, nyeri tekan (-), pada hand scone
darah (-), kotoran (-).
V.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium 10/12/2013
Hb
: 8,0 g/dL
RBC : 4,29 x 106/uL
HCT : 27,6 %
WBC : 6,23 x 103/uL
PLT : 393 x 103/uL
BT
: 2 30
CT
: 6 00
CA 125 : 7,99 l/ml

GDS
: 77 mg%
SGOT : 19 U/L
SGPT : 6 U/L
Ureum : 13 mg%
Kreatinin: 0,4 mg%

22

USG 9/12/2013
Hasil USG
Tampak massa Kistik dengan bagian padat, ukuran 18 x 12 cm
Tumor Padat Ovarium
VI.

Diagnosis Kerja
Tumor padat abdomen dengan Anemia sedang

VII. Diagnosis Post Operasi


Mioma Uteri
Penemuan Intraoperas (19/12/2013)
Massa uterus dinding kiri dengan ukuran lingkar massa 60 cm, diameter 30 cm dan berat
4900 gram.

VIII. Planning Terapi


Pro laparotomy Histrektomi
Transfusi PRC
Preop
IX.

Prognosis
Dubia Ad Bonam

23

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada laporan kasus berikut, diajukan suatu kasus seorang wanita usia 36 tahun yang kemudian
didiagnosis dengan Mioma Uteri. Selanjutnya akan dibahas:
1. Apakah diagnosis dan pemeriksaan pada kasus ini sudah tepat?
Mioma uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus, yang dalam kepustakaan
ginekologi juga terkenal dengan istilah-istilah fibrimioma uteri, leiomyoma uteri atau uterine
fibroid. Mioma ini berbentuk padat karena jaringan ikat dan otot rahimnya dominan. Mioma
uteri merupakan neoplasma jinak yang paling umum dan sering dialami oleh wanita.
Pasien ini didiagnosia dengan mioma uteri, hal ini berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan serta penemuan intaoperatif. Pada kasus ini
gejala dan tanda yang dialami pasien adalah adanya benjolan pada perut bawah yang semakin
lama semakin membesar. Keluhan lainnya berupa gangguang haid baik itu dari siklus haid yang
tidak teratur dengan jumlah darah haid yang keluar banyak dan terasa nyeri setiap kalinya haid.
Keluhan ini dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. Keluhan BAB dan BAK tidak ada. Hal ini
menunjukkan bahwa mioma uteri ini memiliki gejala khusus yang khas berupa gangguan saat
haid.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien untuk menentukan diagnosis dalam hal
ini adalah pemeriksaan abdomen dan rectal toucher. Dari pemeriksaan abdomen didapatkan
teraba massa dengan konsistensi kenyal pada perut bagian bawah, berbatas tegas, mudah
digerakkan, nyeri tekan (+), dan dengan ukuran 26 x 20 cm. Pemeriksaan rectal toucher tidak
didapatkan hal yang abnormal, semua dalam batas normal.
Pemeriksaan status generalis menunjukkan keadaan umum serta vital
sign

pasien

dalam batas

normal

sehingga

menunjukkan

gangguan

perdarahan serta nyeri sudah berlangsung lama dan tubuh telah melakukan
penyesuaian diri. Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal
ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat
besi.

Kadang-kadang

mioma

menghasilkan

eritropoeitin

yang

pada

24

beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Pada pemeriksaan abdomen,


palpasi daerah suprapubik kesan uterus membesar, padat, mobile serta
permukaannya licin. Pada mioma uteri, perlunakan tergantung pada
derajatdegenerasi dan kerusakan vaskuler. Uterus sering dapat digerakan,
kecuali apabila keadaan patologik pada adneksa
Pada pemeriksaan pelvis, serviks dalam batas normal. Namun, pada
keadaan tertentu, mioma submukosa yang bertangkai dapat mengawali
dilatasi serviks dan terlihat pada osteum servikalis. Hasil pemeriksaan
inspekulo didapatkan bentuk, warna dan permukaan porsio dalam batas
normal, tidak terlihat adanya fluksus yang berasal dari dalam (kanalis
servikalis atau kavum uteri). Didapatkan pula sekret/lendir berwarna putih
pada forniks dan dinding vagina.
2. Apakah penatalaksanaan kasus ini sudah tepat?
Penatalaksanaan mioma uteri berdasarkan besar kecilnya tumor, ada
tidaknya keluhan, umur dan paritas penderita. Pada pasien ini dilakukan
tindakan operatif mengingat pada hasil pasien memiliki keluhan subjektif
berupa perdarahan pervaginam abnormal yang berat, terlihat dari hasil
pemeriksaan Hb yang rendah.
Pada pasien dilakukan tindakan histerektomi. Tindakan histerektomi
pada pasien dengan mioma uteri merupakan indikasi bila didapatkan
keluhan

menorrhagia,

metrorrhagia,

keluhan

obstruksi

pada

traktus

urinarius, dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu.


Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu total
abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH).
Masing-masing

prosedur

histerektomi

ini

memiliki

kelebihan

dan

kekurangan. STAH dilakukan untuk menghindari risiko operasi yang lebih


besar, seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter,
kandung kemih dan rektum. Namun dengan melakukan STAH akan
menyisakan serviks, dimana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks
25

dapat terjadi. Dengan menyisakan serviks, menurut penelitian didapatkan


data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah dibandingkan dengan
yang menjalani TAH sehingga akan tetap mempertahankan fungsi seksual.
Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat menjadi
sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana
keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH.
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan kasus ini terdiri dari:
1. Diagnosis pada pasien ini sudah sesuai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, penemuan intraoperasi mioma uteri.
2. Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien ini sudah tepat yaitu tindakan bedah dengan
melakukan histrektomi yang dikarenakan mioma uteri pada pasien ini sudah sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA

26

1. Hadibroto BR, 2005. Mioma Uteri. Majalah Kedokteran Nusantara Vol. 38 No. 3
September 2005. Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara, RSUD H. Adam Malik Medan. Available from :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15576/1/mkn-sep2005-%20(9).pdf
2. Muzakir. 2008. Profil Penderita Mioma Uteri di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Periode 1 Januari-31 Desember 2006.
3. Lacey, C.G., Benign Disorders of the Uterine Corpus, Current Obstetric and
Gynecologic Diagnosa and Treatment, 6th ed, Aplleten & Lange, Norwalk Connectient,
California, Los Atlas, 2007, p : 657-62.
4. Thomas EJ. The aetiology and phatogenesis of fibroids. In : Shaw RW. eds. Advences in
reproduktive endocrinology uterine fibroids. England New Jersey : The Phartenon
Publishing Group, 1992 ; 1 8
5. Crow J. Uterine febroids : Histological features. In : Shaw RW, eds. Advances in
reproductive endocrinology uterine febroids. England New Jersey : The Parthenon
Publishing Group, 1992; 21 33
6. Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomyomata. In : Chesmy M, Heather, Whary
eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia : Lippincott Williams and Willkins,
2001 ; 316 318
7. Prawirohardjo S, Hanifa W. Ilmu kandungan, edisi II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo, 2008; 13:338-345
8. Manuaba IBG, Tumor Jinak pada Alat-alat Genital, Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta, p : 409-12.
9. Baziad A. Pengaruh hormon seks terhadap genitalia dan ekstragenitalia. Dalam :
Endokrinologi genikologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2003 ; 131
132.
10. Santon, R., Duenhoelter, J.H., Massa pelvis, Gynecology, EGC, Jakarta, p
: 146-7.
11. Perl V, Marquez J, Schally AV et al. Treatment of leiomyomata uteri with D Trp 6
luteinizing hormone releasing hormone. Fertility and Sterility, 1987 ; 48 : 383 389
12. Joedosaputro MS. Tumor jinak alat genital.Dalam: Sarwono Prawiroharjo,edisi
kedua.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta:1994;338-345

27