Anda di halaman 1dari 11

Definisi Aset dan Liabilities

Aset : Sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan
dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas.
Liabilitas : merupakan kewajiban entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang
mengandung manfaat ekonomi. (Akuntansi keuangan berdasarkan SAK berbasis IFRS,
Hans kartikahadi, Rosita Uli sinaga, dkk, Salemba empat: 2012)
Dalam penilaian apakah suatu pos memenuhi definisi asset, liabilitas maupun ekuitas
entitas, perlu diperhatikan substansi yang mendasari realitas ekonomi dan bukan hanya
bentuk hukumnya. Misalkan dalam transaksi sewa (leasing), untuk menentukan apakah
suatu asset atau liabilitas telah timbul dan harus dilaporkan dalam neraca lesse, maka perlu
dikaji substansi ekonominya. Bila resiko dan manfaat yang melekat pada kepemilikan
diserahkan kepada lesee, menurut standard akuntansi sewa, transaksi tersebut tergolong
sebagai sewa pembiayaan (financial lease), dan dalam neraca lesse harus dilaporkan
adanya asset dan liabilitas yang timbul dari transaksi sewa pembiayaan tersebut.

Aset
Kriteria utama suatu asset adalah manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam asset
tersebut, yaitu potensi untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak
langsungarus kas atau setara kas kepada entitas. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu
yang produktif, dan dapat menghasilkan kas atau setara kas, atau mampu mengurangi
pengeluarankas atau menurunkan biaya.
Manfaat ekonomi suatu asset dapat terwujud dalam beberapa cara:
a.
b.
c.
d.

Sebagai alat produksi penghasil barang atau jasa


Dipertukarkan dengan asset lain
Untuk menyelesaikan liabilitas
Dibagikan kepada pemilik entitas

Aset dapatdiperoleh berdasarkan produkdi, pembelian, pertukaran, atau sumbangan. Aset


dapat pula berwujud maupun tidak berwujud. Ditinjau dari segi hokum, hak ataa suatu asset
tidak semata-mata berupa hak milik, tapi dapat juga berupa hak sewa, hak pakai, hak tagih,
dan lain-lain. Perbedaan hak tersebut akan mempengaruhi jenis dan penggolongan
asetdalam laporan keuangan.

Liabilitas
Adalah timbul karena tindakan hokum atau peraturan perundangan yang berlaku. Suatu
transaksi jual beli atau pengikatan suatu perjanjian tertentu dapat menimbulkan hak dan
kewajiban. Peraturan perundangan pajak dapat menimbulkan kewajiban pajak dan

peraturan perburuhan dapat menimbulkan kewajiban di bidang kesejahteraan pegawai.


Namun liabilitas juga dapat ditimbulkan karena praktik bisnis yang lazim, misalnya
kesediaan entitas untuk menarik kembali produk yang cacat.
Penyelesaian suatu kewajiban dapat dilakukan dalam berbagai cara, antara lain:
pembayaran kas, penyerahan asset lain, pemberian jasa, penggantian dengan liabilitas
lainmaupun konversi liabilitas menjadi ekuitas.
Liabilitas tertentu, ketika dibukukan dan dilaporkan belum dapat diketahui dengan pasti
jumlahnya dan hanya dapat diukur berdasarkan estimasi dalam derajaat substansial,
misalnya liabilitas garansi atas kerusakan produk yang terjual atau liabilitas manfaat
pension.
Liabilitas kontinjensi (contigent liability) adalah:
a) Kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu, dan kepastiannya
tergantung pada satu atau lebih peristiwa di masa depan yang di luar kendali entitas,
atau
b) Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui
karena tidak ada kemungkinan entitas mengeluarkan sumber daya untuk
melunaskannya, atau jumlah kewajiban tidak dapat diukur secara andal.
Liabilitas kontinjensi harus dibedakan dengan provisi, yaitu liabilitas yang waktu dan
jumlahnya belum pasti.

Pengakuan asset
Asset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat ekonominya
di masa depan diperoleh perusahaan dan asset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur dengan andal.

Bila suatu entitas textile mengeluarkan kas Rp 100 juta untuk membeli sebuah mesin tenun,
manfaat ekonomi di masa depan yang akan diperoleh entitas dari mesin tenun tersebut
adalah jelas, dan harga perolehannya juga jelas Rp 100 juta. Bila entitas textile tersebut
kemudian membayar premi asuransi kebakaran di muka untuk bangunan dan peralatan
pabrik untuk satu tahun usaha sebesar Rp 10 juta, manfaat ekonomi selama masa
tanggungan dan biaya premi asuransi yang dibayar dimuka dapat dilaporkan dalam neraca
sebagai asset.
Tapi dengan berjalannya waktu dan kegiatan proses produksi, maka mesin akan susut
secara teknis dan ekonomi. Setiap tahun akan dihitung beban penyusutan, nilai mesin
dengan emikian akan berkurang dari tahun ke tahun sejalan dengan makin menurunnya
manfaat ekonomi mesin. Sedangkan manfaat ekonomi premi asuransi jelas akan berkurang
dengan berjalannya masa tanggungan. Pada akhir masa pertanggungan, seluruh asset
premi asuransi sudah berubah menjadi beban asuransi dan tampak di laporan laba rugi.

Pembayaran gaji seorang pegawai administrasi akan memberikan manfaat ekonomi untuk
bulan atau tahun usaha yang bersangkutan, tapi sangat diragukan akan memberikan
manfaat ekonomi di masa depan, oleh karena itu pembayaran gaji pegawai tidak dapat
dibukukan sebagai asset, melainkan sebagai beban periode usaha yang bersangkutan.

Pengakuan Liabilitas
Liabilitas diakui dalam neraca apabila besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya
yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban
sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
Lazimnya pengakuan liabilitas berkaitan dengan pengakuan suatu asset atau beban. Dalam
suatu transaksi pembelian kredit atau impor barang, perlu diperhatikan syarat perikatan jual
beli untuk dapat menentukan kapan pengakuan atas hak milik barang telah pindah, dan
kapan utang usaha yang terkait harus diakui sebagai liabilitas. Pengetahuan dasar hokum
perdata dan hokum dagang khususnya tentang perikatan dan berbagai jenis transaksi jual
beli atas barang atau benda dan jasa perlu dipahami dengan baik. Pengakuan timbulnya
suatu asset dan liabilitas dari sudut akuntansi tentunya harus berdasarkan pada hokum dan
peraturan perundangan yang berlaku, dan tidak mungkin terlepas berdiri sendiri.

Pengklasifikasian Aset dan Liabilitas


Aset:
a) Aset lancar
b) Aset tidak lancar
Liabilitas:
a) Liabilitas Jangka pendek
b) Liabilitas jangka panjang
PSAK 1 mewajibkan entitas menyajikan asset lancar dan asset tidak lancar, serta liabilitas
jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan posisi
keuangan. Hal ini agar dapat memberikan informasi mengenai asset bersih yang digunakan
secara terus-menerus sebagai modal kerja dibandingkan dengan asset dan liabilitas lainnya
yang umurnya lebih panjang. Jika manajemen menganggap bahwa penyajian asset dan
liabilitas berdasarkan likuiditas akan memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat
diandalkan, misalnya untuk entitas lembaga keuangan, maka entitas dapat menyajikan
seluruh asset dan liabilitas berdasarkan likuiditas. Penyajian berdasarkan likuiditas bias
berdasarkan urutan yang paling likuid hingga yang paling tidak likuid atau sebaliknya,
sepanjang diurutkan berdasarkan likuiditasnya.
Kriteria Aset lancar menurut PSAK 1
a) Entitas mengharapkan akan merealisasikan asset, atau bermaksud untuk menjual
atau menggunakannya, dalam siklus operasi normal;
Misalkan piutang usaha, yang diharapkan oleh manajemen dapat diterima
pembayarannya dalam jangka waktu kredit normal sesuai sifat industri dari entitas.
Contoh lain adalah persediaan. Kendaraan dapat dikelompokan sebagai asset lancar
pada perusahaan dealer mobil, karena merupakan persediaan yang dijual, sedang

untuk perusahaan manufaktur, mobil dikelompokkan dalam asset tetap karena


digunakan untuk mendukung kegiatan produksi dan tidak imasukkan untuk dijual
dalam siklus operasi normal entitas.
b) Entitas memiliki asset untuk tujuan diperdagangkan
c) Entitas mengharapkan akan merealisasikan asset dalam jangka waktu dua belas
bulan setelah periode laporan
Contohnya adalan iutang karyawan atau piutang pemegang saham yang diharapkan
akan diterima pembayarannya dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode
pelaporan.
d) Kas atau setara kas, kecuali yang dibatasi sehingga tidak dapat dipertukarkan atau
digunakan untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya dua belas bulan
setelah periode laporan
Setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, jangka pendek, dan yang
dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki
risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Menggunakan ketentuan di atas, maka yang bisa diklasifikasikan ke dalam kelompok
aset lancar adalah item-item berikut ini:
1. Kas dan Setara Kas
Kunci pemahamannya sederhana: apapun yang BISA DITABUNG DI BANK dan BISA
DITARIK DALAM WUJUD KAS SEWAKTU-WAKTU, dianggap KAS. Misalnya: uang
kertas, koin, check yang belum diuangkan, termasuk kas yang sudah tersimpan di bank.
Sedangkan sertifikat deposito, BUKAN KAS, sebab ada pembatasan jangka waktu
penarikan.
Untuk bisa diklasifikasikan sebagai aset lancar kas harus tersedia untuk digunakan.
Menurut IAS 1, kas yang disimpan tidak untuk digunakan dalam periode ini atau
penggunaannya dibatasi dan belum akan boleh digunakan dalam siklus operasional normal,
TIDAK diklasifikasikan sebagai aset lancar.
Sedangkan yang diklasifikasikan ke dalam pos Setara Kas (cash equivalents), menurut
IAS 7, adalah investasi jangka-pendek bersifat likuid yang (1) siap diuangkan dengan nilai
pasti; dan (2) sudah mendekati masa jatuh tempo pencairan (biasanya memiliki jangka
waktu pencairan 3 bulan atau kurang), tidak memiliki risiko perubahan nilai yang signifikan
akibat perubahan suku bunga. Misalnya: treasury bills, commercial paper, dan reksadana
pasar uang.
2. Investasi Jangka-Pendek Untuk Diperdagangkan
Insrumen investasi yang dimaksudkan untuk dijual kembali dalam jangka pendekguna
memperoleh keuntunganmasuk kelompok aset lancar. Masuk kelompok ini antara lain:
efek sekuritas dan sekuritas ekuitas yang dibeli untuk maksud diperjualbelikan. Aset
derivative keuangan, rata-rata masuk dalam kelompok ini, kecuali yang dimaksudkan untuk
tujuan pemagaran (hedging).

3. Piutang Dagang (Piutang)


Piutang Dagang atau Piutang saja (accounts receivable), adalah sejumlah tagihan
kepada pelanggan yang timbul dari operasional normal perusahaan.
Masuk dalam kelompok ini antara lain: piutang pada pelanggan, piutang pada
perusahaan afiliasi, piutang pada karywan (staf, manager, eksekutif). Jika ada cadangan
piutang atau penurunan nilai piutang akibat adanya diskon, retur penjualan, dan piutang tak
tertagih, harus dirinci dalam penjelasan laporan keuangan.
4. Persediaan
Persediaan (inventory), menurut IAS 2, adalah aset tersimpan, entah untuk digunakan
sendiri (misal: bahan baku, barang dalam proses) atau untuk dijual ke pihak lain (misal:
persediaan barang jadi), dalam kurun waktu operasional normal perusahaan.
Dasar penentuan nilai persediaanyang saat ini dibatasi hanya dalam metode FIFO dan
metode biaya rata-rata tertimbang (weighted-average cost)harus disebutkan dengan jelas
dalam penjelasan laporan keuangan. Khusus di perusahaan manufaktur, bahan baku,
barang dalam proses, dan barang juga harus disclosed secara terpisah, entah itu di catatan
kaki atau dalam penjelasan laporan keuangan.
5. Uang Muka Biaya (Biaya Dibayar Dimuka)
Sederhananya, Uang Muka Biaya (prepaid expenses) adalah aset yang timbul akibat
pembayaran muka untuk biaya yang manfaatnya tidak habis terpakai dalam satu periode.
Bisa juga disebut Biaya Dibayar Dimuka. Misalnya: sewa dibayar dimuka, asuransi dibayar
dimuka, dan aset pajak tangguhan jangka pendek.

Klasifikasi Aset Tak Lancar Sesuai IFRS


Seperti PSAK 1, IAS 1 juga menggunakan istilah tak lancar (noncurrent) untuk aset
berwujud dan tak berwujudbaik itu aset keuangan dan operasionalyang digunakan
dalam jangka panjang. Baik PSAK 1 maupun IAS 1, sama-sama tidak mematok
penggunaan istilah ini secara pasti. Artinya, entitas diperkenaankan untuk menggunakan
istilah lain (aset tetap/fixed asset misalnya), sepanjang jelas dan lumrah digunakan,
sehingga bisa dipahami oleh pengguna laporan keuangan.
Masuk ke dalam klasifikasi Aset Tak Lancar antara lain:
1. Investasi Bersifat Held-to-maturity
Masuk dalam kelompok ini adalah instrument investasi yang disimpan hingga jatuh tempo,
yang biasanya berjangka waktu panjang. Misalnya: efek hutang (debt securities), efek
ekuitas, dan saham istimewa yang wajib ditebus oleh pihak lain (istilahnya redeemed
preferred shares). Investasi jenis ini diukur pada biaya teramortisasi.
2. Property Investasi
Yang dimaksud dengan Property Investasi (investment property) adalah property
(=tanah, bangunan/gedung) yang diperoleh bukan untuk digunakan dalam operasional

perusahaan secara normal, melainkan untuk mendapat keuntungan tertentu, misalnya:


dengan cara disewakan atau dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.
Property investasi, awalnya, diukur sebesar nilai perolehannya. Selanjutnya, seiring waktu,
property investasi diukur entah dengan menggunakan metode fair value atau model
pengukuran berdasarkan biaya perolehan.
3. Tanah, Bangunan, Mesin dan Peralatan
Masuk dalam kelompok ini adalah bangunan, mesin dan peralatan, yang digunakan dalam
operasional perusahaan guna menghasilkan barang/jasa, memiliki umur ekonomis lebih dari
satu tahun buku.
Masuk dalam kelompok ini, antara lain: tanah, bangunan/gedung, mesin, peralatan,
furniture, dan kendaraan.
Akumulasi penyusutan atas kelompok aset tak lancar ini harus disajikan dalam laporan
keuangan atau di catatan kaki atau di bagian penjelasannya. Misalnya:
Bangunan
= xxx
Dikurangi akumulasi penyusutan = (xxx)
Nilai buku bangunan
= xxx
Atau
Bangunan (net dari akumulasi Rp xxx) = xxx
Metode yang digunakan dalam menghitung penyusutan, harus disebutkan di bagian
penjelasan laporan keuangan.
4. Aset Tak Berwujud
Aset Tak Berwujud (intangible assets) adalah aset tak lancar perusahaan yang tidak
memiliki wujud fisik, akan tetapi diharapkan akan mendatangkan manfaatbaik di masa kini
maupun di masa yang akan datang.
Masuk dalam klasifikasi ini adalah:

Aset tak berwujud yang bisa diidentifikasi (misal: goodwill); dan


Aset tak berwujud yang tidak bisa diidentifikasi (misal: merk dagang, patent,
copyrights, dan biaya oragnisasional).

IAS 38 mengharuskan perusahaan untuk mengamortisasi aset tak berwujud. Seperti halnya
aset berwujud, akumulasi amortisasi aset tak berwujud-pun harus dinyatakan dengan jelas
dalam laporan keuangan atau dicatatan kaki atau di bagian penjelasannya.
5. Aset Dimiliki Untuk Dijual
Sedikit mirip dengan property investasi, hanya saja aset dimiliki untuk dijual tidak harus
direncanakan sejak awal. Jika perusahaan berencana untuk menjual sekelompok aset,
mesikpun tadinya digunakan untuk operasional, maka aset tersebut harus diklasifikasikan
sebagai aset dimiliki untuk dijual.

Menurut IFRS 5, aset dimiliki untuk dijual diukur sebesar nilai buku yang lebih rendah atau
nilai wajar dikurangi ongkos penjualan.
6. Aktiva Lain-lain
Segala aset tak lancar yang tidak bisa dimasukan ke dalam 5 klasifikasi di atas, masuk ke
kelompok ini. Misalnya: Uang Muka yang baru akan habis dibiayakan dalam jangka waktu
lama (panjang), Aset Pajak Tangguhan yang waktu pemulihannya lama atau tidak pasti.
Kriteria Liabilitas jangka pendek menurut PSAK 1
a) Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi
normalnya
Beberapa liabilitas diharapkan oleh manajemen akan diselesaikan dalam siklus
operasi normal entitas, yang merupakan bagian dari modal kerja, seperti utang
usaha, bebab akrual untuk biaya karyawwan dan biaya operasional lainnya,
termasuk dalam kelompok liabilitas jangka pendek, walaupun jatuh tempo liabilitas
tersebut lebih dari dua belas bulan.
b) Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan
Sama seperti asset lancar, manajemen mungkin saja memiliki liabilitas dengan
tujuan diperdagangkan, misalnya liabilitas keuangan dalam kelompok tersedia untuk
dijual.
c) Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas
bulan setelah periode pelaporan
Bisa saja terdapat liabilitas yang tidak dapat diselesaikan dalam siklus operasi
normal entitas, namun jatuh tempo untuk diselesaikan dalam waktu 12 bulan setelah
tanggal pelaporan, misalnya utang bank jangka panjang yang akan jatuh tempo
kurang dari 12 bulan, cerukan bank, pajak penghasilan terutang dan utang deviden.
d) Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama
sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan
Yang perlu ditekankan dari criteria ini adalah hak tanpa syarat untuk menunda
penyelesaian liabilitas. Manajemen perlu menganalisis, apakah pada tanggal
laporan, entitas memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas
selama sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Yang menjadi contoh liabilitas ini adalah:


1) Deposito yang dapat dikembalikan (refundable deposito)
2) Liabilitas keuangan yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah periode
pelaporan
3) Ketika entitas melanggar ketentuan perjanjian pinjaman jangka panjang yang
menyebabkan liabilitas tersebut harus segera dibayar ( Payable on demand)

Klasifikasi Liabilitas Jangka Pendek Sesuai IFRS


Suatu liabilitas (=kewajiban), menurut IAS 1, masuk klasifikasi Jangka Pendek (atau
Lancar) apabila:

Diharapkan bisa diselesaikan (=dibayar/dilunasi) dalam kurun waktu operasional


normal perusahaan; atau
Jatuh tempo dalam jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan dari tanggal laporan posisi
keuangan (=tanggal neraca); atau
Dimiliki untuk maksud diperdagangkan; atau
Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas selama
sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Jika tak satupun diantara keempat kriteria di atas terpenuhi, maka suatu liabilitas
diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka panjang.
Masuk dalam klasifikasi liabilitas jangka pendek, antara lain:
1. Kewajiban yang timbul dari pembelian barang atau jasa yang digunakan dalam
operasional normal perusahaan, diantaranya:

Utang Dagang
Utang Tertulis Jangka Pendek
Utang Upah dan Gaji Pegawai
Utang Pajak
Utang Lain-lain

2. Pembayaran diterima dimuka yang mengakibatkan timbulnya kewajiban untuk


menyerahkan barang atau jasa di masa yang akan datang, misalnya:

Pendapatan Diterima Dimuka


Deposit Dari Pelanggan
Sewa Diterima Dimuka

3. Kewjiban lain yang akan jatuh tempo di periode berjalan, misalnya: promes yang
akan segera jatuh tempo.
Lebih jauh lagi, laibilitas lainnya yang masuk klasifikasi jangka pendek adalah: liabilitas
tidak diselesaikan dalam siklus operasi normal tetapi jatuh tempo untuk diselesaikan dalam
waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan atau dimiliki untuk tujuan diperdagangkan.
Misalnya:

Liabilitas keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan;


Cerukan bank;
Bagian jangka pendek dari laibilitas keuangan jangka panjang;
Dividen terutang;
Pajak penghasilan terutang; dan
Terutang nonusaha lainnya

Khusus Liabilitas Keuangan. IAS 1 mengijinkan perusahaan mengakui suatu liabilitas


keuangan jangka pendek apabila liabilitas tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu
dua belas bulan setelah periode pelaporan, meskipun:

kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan;
dan
perjanjian untuk pembiayaan kembali atau penjadwalan kembali pembayaran, atas
dasar jangka panjang telah diselesaikan setelah periode pelaporan dan sebelum
tanggal penyelesaian laporan keuangan.

Klasifikasi Liabilitas Jangka Panjang Sesuai IFRS


Kewajiban-kewajiban yang akan terselesaikan melebihi siklus operasional normal
perusahaan masuk klasifikasi Liabilitas Jangka Panjang, antara lain:

Kewajiban yang timbul sebagai bagian dari strukturisasi modal perusahaan


berjangka panjang, misalnya: pinjaman bank jangka panjang, promes, kewajiban
sewa jangka panjang.
Kewajiban yang timbul tidak dari opersional normal perusahaan, misalnya: kewajiban
premi pensiun, liabiltas pajak tangguhan yang penyelesaiannya belum diketahui
secara pasti.

Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menambah nilai asset keuangan entitas
dan liabilitas keuangan atau instrument ekuitas lain. Instrumen keuangan dapat
diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu:
a) Asset Keuangan
b) Liabilitas keuangan
c) Instrumen ekuitas
Pada dasarnya, suatu instrument dalat dikategorikan sebagai instrument kauangan apabila
instrument tersebutmemiliki hubungan konttraktual antara dua pihak. Dengan demikian,
asset atau liabilitas keuangan yang tidak timbul secara kontraktual tidak dapat dikategorikan
sebagai instrument keuangan, seperti contoh utang pajak. Liabilitas ini tidak timbul secara
kontraktual melainkan secara konstruktif berdasarkan undang-undang.
Aset Keuangan
Aset keuangan adalah aset nonwujud yang memiliki nilai dikarenakan klaim kontrak,
misalnya deposito bank, obligasi, dan saham.(Wikipedia)
Menurut PSAK No 50 (revisi 2010), asset keuangan adalah setiap asset yang berbentuk:
a) Kas, seperti mata uang lokal dan asing dan deposito di bank;
b) Instrumen ekuitas yang diterbbitkan entitas lain, seperti investasi saham pada
perusahaan yang terdaftar di bursa;
c) Hak Kontraktual
1) Untuk menerima kas atau asset keuangan lainnya dari entitas lain, seperti
piutang dagang dan wesel tagih; atau
2) Untuk mempertukarkan asset keuangan atau liabilitas keuangan dengan entitas
lain dengan kondisi yang berpotensi menguntungkan entitas tersebut, seperti
obligasi konversi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk

mengkonversi obligasi tersebut dengan kepemilikan saham pada entitas penerbit


obligasi dan sebaliknya menimbulkan kewajiban kontraktual bagi penerbit
obligasi untuk menyerahkan saham kepada pemegang obligasi; atau
d) Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrument
ekuitas yang diterbitkan oleh entitas dan merupakan:
1) Nonderivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima
suatu jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas yang diterbitkan entitas,
seperti kontrak untuk menerima jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas
entitas yang setara dengan 10 kg emas; atau
2) Derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan sejumlah tertentu
kas atau asset keuangan lain dengan jumlah
asset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrument ekuitas yang
diterbitkan entitas. Untuk tujuan ini, instrument ekuitas yang diterbitkan entitas
tersebut tidak termasuk instrument yang merupakan kontrak untuk menerima
atau menyerahkan instrument ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa
depan.
Liabilitas Keuangan
Suatu instrumen keuangan yang berisi suatu liabilitas/liabilitas non-keuangan yang hanya
dapat dihindari dengan melakukan transfer tunai atau selain aset keuangan juga
diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan. (IAS 32)
Menurut PSAK No 50 (revisi 2006), liabilitas keuangan adalah setiap liabilitas yang berupa:
a) Liabilitas Kontraktual
1) Untuk menyerahkan kas atau asset keuangan lain kepada entitas lain, seperti
utang dagang dan pinjaman yang diterima; atau
2) Untyuk mempertukarkan asset keuangan atau liabilitas keuangan dengan entitas
lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut,
seperti opasi tertulis
b) Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrument
ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu:
1) Nonderivtif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menyerahkan
suatu jumlah ynag bervariasi dari instrument ekuitas yang diterbitkan entitas.
Contoh: Sebuah kontrak untuk membeli 1.000 ton emas yang diselesaikan
dengan menyerahkan suatu jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas yang
diterbitkan entitas yang setara dengan 1.000 ton emas; atau
2) Derivative yang akan diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah
tertentu kas atau asetb keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrument
ekuitas yang diterbitkan entitas. Contoh: kewajiban entitas di bawah kontrak
firwars untuk membeli kembali sejumlah sahamnya sendiri yang setara dengan
Rp 1 milyar.

Sumber:
1. Akuntansi Keuangan berdasarkan SAK berbasis AFRS: hans Kartikahadi, Rosita Uli
Sinaga, Merliyana Syamsul, Sylvia Veronica Siregar. Salemba empat. 2012. Jakarta.
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Aset_keuangan
3. http://keuanganlsm.com/pengertian-liabilitas-keuangan-menurut-ias-32/
4. http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/11/neraca-klasifikasi-aset-dan-liabilitassesuai-ifrs/