Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

MIGRAIN

Pembimbing:

Dr. Azwar Djauhari, MSc


Oleh :

Dhody setiamal, S.Ked


G1A213076

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JAMBI
BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS OLAK KEMANG
2014

BAB I
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
a. Nama/Jenis Kelamin/Umur

: Ny. A/Perempuan/50 tahun

b. Pekerjaan

: IRT

c. Alamat

: RT.02 Ulo Gedong Jambi

II. Latar Belakang Sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga


a. Status Perkawinan

: Menikah

b. Jumlah anak/saudara

: 5 orang / 1 dari 4 bersaudara

c. Status ekonomi keluarga

: Penghasilan suami Rp.1.500.000/bulan

d. Kondisi Rumah
Pasien tinggal dirumah permanen, mempunyai 3 kamar, kamar mandi
didalam rumah dengan sumber air bersih dari PDAM, ventilasi dan
pencahayaan kurang, BAB di jamban leher angsa yang letaknya di dalam
kamar mandi, sampah rumah tangga dibuang dengan cara dibakar.
e. Kondisi Lingkungan Keluarga : Baik

III. Aspek Psikologis di Keluarga


- Pasien merupakan anak pertama dari 4 bersaudara
- Pasien tinggal bersama suami dan kedua orang anaknya
- Hubungan pasien dengan anggota keluarga baik

IV. Keluhan Utama


Sakit kepala sebelah sejak 4 hari yang lalu

V. Riwayat Penyakit Sekarang (autoanamnesis)


Pasien datang ke Puskesmas Perawatan Olak Kemang dengan keluhan
sakit kepala sebelah hilang timbul sejak 4 hari yang lalu, sakit kepala

dirasakan seperti berdenyut dan ditekan terutama pada bagian sebelah kanan
kepala.
Pasien mengatakan keluhan nyeri biasanya hilang timbul.timbul jika stress,
saat duduk santai menonton tv, membaca, ataupun pekerjaan lain yang
membutuhkan konsentrasi. Rasa nyeri semakin terasa berat bila pasien
beraktivitas dan sedikit berkurang bila pasien berbaring atau beristirahat.
Muntah (-)penglihatan kabur (-), silau (-). Pusing berputar disangkal. Selama
ini pasien sering tidur kurang dari 6 jam tetapi biasanya tidak berpengaruh
apa-apa. Untuk makanan yang dikonsumsi, keluarga pasien sering
menggunakan penyedap rasa agar gurih.

VI. Riwayat Penyakit Dahulu/Keluarga


Pasien pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
Riwayat hipertensi disangkal, riwayat DM disangkal, riwayat maag
disangkal, riwayat trauma disangkal
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti
pasien

VII.Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata
1. Keadaan Umum : tampak sakit sedang
2. Kesadaran

: compos mentis

3. Tekanan darah

: 110/70 mmHg

4. Nadi

: 80 x/menit

5. Pernafasan

: 20 x/menit

6. Suhu

: 36,5C

Pemeriksaan Organ
1. Kepala

Bentuk

2. Mata

Exopthalmus/enophtal
Kelopak

: normocephal
: (-)

: normal

3. THT

: anemis (-/-)

Sklera

: ikterik (-/-)

Pupil

: bulat, isokor, reflex cahaya +/+

: tidak ada kelainan

4. Mulut

5. Leher

Conjungtiva

Bibir

: lembab

Gigi geligi

: caries (+)

Palatum

: deviasi (-)

Gusi

: warna merah muda, perdarahan (-)

Lidah

: kotor (-), ulkus (-)

: pembesaran KGB (-),kaku kuduk (-)

6. Thoraks
Jantung

: BJ I dan BJ II regular, gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

7. Abdomen

: Soepel, BU (+) N

8. Ekstremitas : akral hangat, edema (-), CTR < 2 detik

Status Neurologikus
1. Fungsi luhur

: tidak dilakukan

2. Tanda rangsangan meningeal

: kaku kuduk (-)

3. Nervus kranialis

: tidak dilakukan

4. Refleks fisiologi

: tidak dilakukan

5. Refleks patologis

: tidak dilakukan

6. Sensibilitas

: tidak dilakukan

7. Koordinasi dan keseimbangan


Cara berjalan

: Normal

Romberg Test

: tidak dilakukan

Disdiadokokinesis

: tidak dilakukan

Dismetri

: tidak dilakukan

VIII. Pemeriksaan Penunjang


Tidak dilakukan

IX.

Diagnosis Kerja
Migrain

X.

Diagnosis Banding
Tension Headache
Migrain
Cluster Headache

XI.

Manajemen
a. Preventif :
Makan secara teratur dan jangan terlalu banyak minum kopi
Tidur yang cukup, sekitar 6-8 jam setiap hari
Memperbaiki postur tubuh untuk menghindari ketegangan otot
Rutin

berolahraga,

dengan

melakukan

aktifitas

fisik

akan

melepaskan senyawa kimia yang berfungsi menghambat pengiriman


sinyal nyeri ke otak
Mengontrol stress dengan berpikir postif, istirahat dan relaksasi,
tidak memaksakan diri mengerjakan sesuatu, dan tidak terlalu
memikirkan hal yang sulit dikontrol.
Melakukan peregangan otot leherdengan memijit otot-otot leher dan
sekitarnya atau dengan kompres hangat maupun dingin.

b. Promotif :
Menjelaskan pada pasien mengenai penyakitnya serta komplikasi
dari penyakit ini agar pasien patuh untuk berobat.

c. Kuratif :
Non Farmakologi
Istirahat dan tidur yang cukup
Olahraga teratur

Farmakologi
Ergotamin 3x1 tab
Vitamin B. Comp 3x1 tab

d. Rehabilitatif
Jika nyeri makin bertambah dan ada muntah segera dibawa
ke puskesmas atau ke rumah sakit.

RESEP

Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas Perawatan Olak Kemang
Dr.Dhody Setiamal
SIP. 28121992
STR. 26011986
Alamat :KH. Moh. Jakfar No. 33 Kelurahan Olak Kemang Kota Jambi

Tanggal: 15/12/2014

R/ ergotamin

No. VI

3 dd 1 tab

R/ Vit B comp tab

No. VI

3 dd 1 tab

Pro

: Ny. A

Umur : 50 Th
Alamat : RT.02 Ulo Gedong Jambi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Nyeri kepala atau headache, dimana pada orang awam sering
disebutsebagai istilah sakit kepala, pening kepala dan lain-lainnya, adalah rasa
nyeri ataurasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah kepala dengan batas bawah
dari dagusampai ke daerah belakang kepala (area oksipital dan sebagian daerah
tengkuk).Berdasarkan kausanya, digolongkan nyeri kepala primer dan nyeri
kepalasekunder. Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang tidak jelas
terdapatkelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya. Sedangkan nyeri
kepalasekunder adalah nyeri kepala yang jelas terdapat kelainan anatomi atau
kelainanstruktur atau sejenisnya. Kronis progresif menunjukkan kemungkinan
nyerikepala sekunder, yaitu nyeri kepala lebih dari tiga bulan, yang
mengalamipertambahan dalam derajat berat, frekuensi dan durasinya serta dapat
disertaimunculnya defisit neurologis yang lain selain nyeri kepala.1,2,3,4,5

2.2Etiologi
Nyeri kepala penyebabnya multifaktorial, seperti kelainan emosional,
cedera kepala, migrain, demam, kelainan vaskuler intrakranial otot, massa
intrakranial, penyakit mata, telinga/hidung, kafein.

2.3 Patofisiologi
Beberapa mekanisme umum yang memicu nyeri kepala adalah peregangan
atau pergeseran pembuluh darah, intrakranium atau ekstrakranium traksi
pemnuluh darah, kontraksi otot kepala dan leher, peregangan periosteum,
degenerasi spina servikalis atau disertai kompresi pada akar nervus servikalis,
defisiensi enkefalin.6

2.4Klasifikasi
Berdasarkan The International Classification of Headache Disorders
tahun 2004 (ICHD-2), klasifikasi nyeri kepala dibagi atas: 5,7

1. Nyeri kepala primer, meliputi :


a. Migren
b. Nyeri kepala tipe tegang
c. Nyeri kepala klaster dan sefalgia trigeminal-otonomik yang lain
d. Nyeri kepala primer lainnya.
2. Nyeri kepala sekunder, meliputi :
a. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan atau leher
b. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler kranial atau servikal
c. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan non vaskuler intrakranial
d. Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi atau withdrawalnya
e. Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi
f. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan homeostasis
g. Nyeri kepala atau nyeri vaskuler yang berkaitan dengan kelainan kranium,
leher, mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut, atau struktur fasial atau
kranial lainnya
h. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik
i. Neuralgia kranial dan sentral yang menyebabkan nyeri wajah
j. Nyeri kepala lainnya, neuralgia kranial, nyeri wajah primer atau sentral.

2.4.1.Migren
1. Definisi
Menurut International Headache Society (IHS), migren adalah nyeri
kepala dengan serangan nyeri yang berlansung 4-72 jam. Nyeri biasanya unilateral,
sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang samapai berat dan diperhebat oleh
aktivitas, dan dapat disertai mual muntah, fotofobia dan fonofobia.8

2. Etiologi Dan Faktor Risiko


Etiologi migren adalah sebagai berikut:8
1. Perubahan hormon (65,1%), penurunan konsentrasi esterogen dan progesteron
pada fase luteal siklus menstruasi.

2. Makanan (26,9%), vasodilator (histamin seperti pada anggur merah, natrium


nitrat), vasokonstriktor (tiramin seperti pada keju, coklat, kafein), zat tambahan
pada makanan (MSG).
3. Stress (79,7%)
4. Rangsangan sensorik seperti sinar yang terang menyilaukan(38,1%) dan bau
yang menyengat baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan.
5. Faktor fisik seperti aktifitas fisik yang berlebihan (aktifitas seksual) dan
perubahan pola tidur.
6. Perubahan lingkungan (53,2%)
7.Alkohol (37,8).
8. Merokok (35,7%).

Faktor risiko migren adalah adanya riwayat migren dalam keluarga, wanita,
dan usia muda.8

3. Klasifikasi Migren
Migren dapat diklasifikasikan menjadi migren dengan aura, tanpa aura,
dan migren kronik (transformed). Migren dengan aura adalah migren dengan satu
atau lebih aura reversibel yang mengindikasikan disfungsi serebral korteks dan
atau tanpa disfungsi batang otak, paling tidak ada satu aura yang terbentuk
berangsur-angsur lebih dari 4 menit, aura tidak bertahan lebih dari 60 menit, dan
sakit kepala mengikuti aura dalam interval bebas waktu tidak mencapai 60 menit.
Migren tanpa aura adalah migren tanpa disertai aura klasik, biasanya bilateral dan
terkena pada periorbital. Migren kronik adalah migren episodik yang tampilan
klinisnya dapat berubah berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan berkembang
menjadi sindrom nyeri kepala kronik dengan nyeri setiap hari.9

10

4. Patofisiologi
Pada umumnya migren diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:10
1. Migren dengan aura
Dengan aura (gejala neurologik), tidak jelas penyebabnya (idiopatik), bentuk
serangan gejala neurologik berasal dari kors serebri dan batang otak.
Manifestasi nyeri kepala biasanya tidak lebih dari 60 menit yaitu sekitar 5-20
menit. Nyeri kepala biasa disertai mual dengan atau tanpa fotofobia yang
lansung menyusul pada gejala aura.
2. Migren tanpa aura
Migren ini tanpa aura. Sakit kepalanya hampir sama dengan migren dengan
aura

tetapi

lebih

banyak

ketidakjelasan

penyebabnya

dan

banyak

menggabungkan ketegangan sakit kepala. Nyerinya dapat digambarkan dan


diprediksi dengan denyutan-denyutan pada salah satu bagian sisi kepala
Berdenyut-denyut, intensitas nyerinya sedang sampai berat disertai mual,
fotofobia dan fonofobia. Bersifa kronis dengan manifestasi nyeri kepala 4-72
jam.

5. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis yang sering ditemui antara lain:11
1. Nyeri kepala : bersifat unilateral (pada salah satu sisi), bentuknya berdenyut
menandakan adanya rangsangan aferean pada pembuluh darah.
2. Mual : mual adalah gejala yang paling sering dikemukakan oleh penderita,
menunjukkan adanya ekstravasasi protein.
3. Aura : aura yang timbul biasanya berupa gangguan penglihatan (fotofobia atau
fonofobia), bunyi atau bebauan tertentu, menandakan adanya proyeksi difus
locus ceruleus ke korteks serebri, adanya gejala produksi monocular pada
retina dan produksi bilateral yang tidak normal.
4. Rasa kebal/baal
5. Vertigo : pusing, karena gerakan otot yang tidak terkontrol,menandakan adanya
gejala neurologik yang berasal dari korteks serebri dan batang otak.

11

6. Rasa lemas waktu berdiri : disebabkan oleh turunnya tekanan darah waktu
berdiri (postural hypotension).
7. Kontraksi otot-otot : disekitar dahi, pipi, leher, dan bahu, menandakan adanya
ganguan mekanisme internal tubuh yang disebut jam biologis (biological
clock) .

6. Diagnosis
Anamnesa riwayat penyakit dan ditegakkan apabila terdapat tanda-tanda
khas migren. Kriteria diagnostik IHS untuk migren dengan aura mensyaratkan
bahwa harus terdapat paling tidak tiga dari empat karakteristik berikut:12
1. Migren dengan satu atau lebih aura reversibel yang mengindikasikan disfungsi
serebral korteks dan atau tanpa disfungsi batang otak
2. Paling tidak ada satu aura yang terbentuk berangsur-angsur lebih dari 4 menit
3. Aura tidak bertahan lebih dari 60 menit
4. Sakit kepala mengikuti aura dalam interval bebas waktu tidak mencapai 60
menit

Kriteria diagnostik IHS untuk migren tanpa aura mensyaratkan bahwa harus
terdapat paling sedikit lima kali serangan nyeri kepala seumur hidup yang
memenuhi kriteria berikut:
1. Berlangsung 4-72 jam
2. Paling sedikit memenuhi dua dari :
a. unilateral
b. sensasi berdenyut
c. intensitas sedang berat
d. diperburuk oleh aktifita
3. Bisa terjadi mual muntah, fotofobia dan fonofobia.

Tidak ada tes laboratorium yang dapat mendukung penegakan diagnosis


migren. Migren kadangkala sulit untuk didiagnosis karena gejalanya dapat

12

menyerupai gejala sakit kepala lainnya. Pemeriksaan standard yang dilakukan


adalah dengan menggunakan kriteria International Headache Society.13

7. Pemeriksaan Lanjutan
Pemeriksaan lanjutan tersebut adalah:14
MRI atau CT Scan, yang dapat digunakan untuk menyingkirkan tumor dan
perdarahan otak. Punksi Lumbal, dilakukan jika diperkirakan ada meningitis atau
perdarahan otak.

8. Diferensial Diagnosis
Diferensial diagnosa migren adalah malformasi arteriovenus, aneurisma
serebri, glioblastoma, ensefalitis, meningitis, meningioma, sindrom lupus
eritematosus, poliarteritis nodosa, dan cluster headache.8

9. Penatalaksanaan
Yang digunakan untuk menghentikan serangan migren, meliputi:10,11
a. Anti-Inflamasi Non Steroid (NSAID), misalnya aspirin, ibuprofen, yang
merupakan obat lini pertama untuk mengurangi gejala migren.
b. Triptan (agonis reseptor serotonin). Obat ini diberikan untuk menghentikan
serangan migrain akut secara cepat. Triptan juga digunakan untk mencegah
migrain haid.
c. Ergotamin, misalnya Cafegot, obat ini tidak seefektif triptan dalam mengobati
migrain.
d. Midrin, merupakan obat yang terdiri dari isometheptana, asetaminofen, dan
dikloralfenazon.
e. Analgesic, mengandung butalbital yang sering memuaskan pada terapi
f. Opioid analgesics, pada umumnya lapang perantaranya memberikan hasil yang
mengecewakan
g. Corticosteroids unsur yang membutuhkan waktu singkat untuk mengurangi
tingkat nyeri migren
h. Isometheptene, tidak dapat digunakan pada vasoconstrictor.

13

10. Komplikasi
Komplikasi migren adalah rebound headache, nyeri kepala yang
disebabkan oleh penggunaan obat-obatan analgesia seperti aspirin, asetaminofen,
yang berlebihan.12

14

BAB III
ANALISA KASUS

Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar:


Pasien tinggal dirumah permanen, mempunyai 3 kamar, kamar mandi didalam
rumah dengan sumber air bersih dari PDAM, ventilasi dan pencahayaan kurang,
BAB di jamban leher angsa yang letaknya di dalam kamar mandi, sampah
rumah tangga dibuang dengan cara dibakar.
Penyakit yang diderita pasien tidak terdapat hubungan dengan keadaan rumah
pasien.

Hubungan diagnosa dengan keluarga dan hubungan keluarga:


Pasien merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, pasien tinggal bersama
suami dan kedua orang anaknya. Hubungan pasien dengan anggota keluarga
baik.
Tidak ada hubungan antara keadaan keluarga dengan penyakit yang diderita
pasien.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan


sekitar:
Selama ini pasien sering tidur kurang dari 6 jam tetapi biasanya tidak
berpengaruh apa-apa.Untuk makanan yang dikonsumsi, keluarga pasien sering
menggunakan penyedap rasa agar gurih.
Penyakit yang diderita pasien terdapat hubungan dengan perilaku kesehatan
dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit pada pasien
ini:
Pasien mengeluh nyeri biasanya timbul jika stress, saat duduk santai menonton
tv, membaca, ataupun pekerjaan lain yang membutuhkan konsentrasi.

15

Analisis untuk mengurangi paparan:


Makan secara teratur dan jangan terlalu banyak minum kopi
Tidur yang cukup, sekitar 6-8 jam setiap hari
Memperbaiki postur tubuh untuk menghindari ketegangan otot
Rutin berolahraga, dengan melakukan aktifitas fisik akan melepaskan senyawa
kimia yang berfungsi menghambat pengiriman sinyal nyeri ke otak
Mengontrol stress dengan berpikir postif, istirahat dan relaksasi, tidak
memaksakan diri mengerjakan sesuatu, dan tidak terlalu memikirkan hal yang
sulit dikontrol.
Melakukan peregangan otot leher dengan memijit otot-otot leher dan
sekitarnya atau dengan kompres hangat maupun dingin.

16

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.

Sjahrir H. Nyeri Kepala. Medan: USU, 2004. hal. 2.


Jenie, MN. Diagnosis Nyeri Kepala. Dalam: Kumpulan Makalah Utama Temu
Regional Neurologi XIV FK UGM-UNDIP-UNS. Magelang 19-20 Juli 1997.
Yogyakarta: Bagian/SMF Penyakit Saraf FK UGM/RSUP Dr.Sardjito, 1997. hal.167.
3. Snell RS. Meninges Otak Dan Medula Spinalis. Dalam: Neuroanatomi klinik. 5th ed.
Jakarta: EGC, 2006. hal. 487.
4. Adams RD, Victor M. Intracranial Neoplasms And Paraneoplastic Disorder.
Dalam: Principles of Neurology. 8th ed. New York: McGraw Hill Inc, 2005.
hal.544-82.
5. Sjahrir H. Patofisiologi nyeri kepala. In: Nyeri kepala dan vertigo. Yogyakarta:
Pustaka Cendekia Press, 2008. hal.1,2,16,50-72.
6. Bigal ME, Lipton R. Headache: Classification in Section 6. Dalam: Headache and
Facial Pain Chapter 54. McMahon ebook.
7. Olesen J, Lipton RB. Classification of headache. In: Olesen J, Goadsby PJ, Ramadan
NM, Tfelt-Hansen P, Welch KMA, editors. The headache [ebook]. 3rd ed.
Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2006. hal.12.
8. Cephalgia an International Journal Headache. The International Classification of
Headache Disorder 2th edition. Internastional Headeache Society, 2004;24(1)
9. Chawla, J. Migraine Headache: Differential Diagnoses and Workup. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/1142556-diagnosis.
10. Brust, J.C.M..Current Diagnosis ang TreatmentNeurology. New York:Lange Medical
Books/McGraw-Hill, 2007.hal. 64-69.
11. Valenty, K. 2004. Acute Treatment Of Migren. Breaking The Paradigm Of
Monotheraphy. Diunduh dari: http://www.pubmedcentral.nih.gov/.
12. Ginberg, Lionel. Lectures Notes Neurologi. Edisi Kedelapan. Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2008.
13. Headache Classification Commite of the International Headache Society.
Classification And Diagnostic Criteria For Headache Disorder, Cranial Neuralgias
And Pain. Cephalgia, 1988;7:1-96.
14. Liporace, Joyce. Neurology. United Kingdom:Elsevier Mosby, 2006.hal.17-135.
15. Harsono. Kapita Selekta Neurologi. Edisi Kedua. Yogyakarta: FK UGM, 2009.
16. Sjahrir, Hasan, dkk. Konsensus Nasional IV Diagnostik dan Penatalaksanaan Nyeri
Kepala. Surabaya: Universitas Airlangga, 2013.
17. Cluster Headache.Diunduh dari :www.emedicine/topic209.htm.
18. Cluster Headache. Diunduh dari :www.familydoctor.org.
19. Cluster Headache Diunduh dari :www.mayoclinic.com.

17

DOKUMENTASI

18

Beri Nilai