Anda di halaman 1dari 15

SYAHADAT AKUNTANSI: TELAAH KRITIS MENUJU

ONTOLOGI TAUHID AKUNTANSI

Bagi orang awam, akuntansi barangkali dapat digambarkan sebagai sebuah media
yang umum digunakan dalam dunia bisnis. Dengan teknik tata-buku berpasangan (double
entry book-keeping)-nya, yang muncul kira-kira lebih dari dua abad sebelum Luca Pacioli
mengangkatnya dalam Summa de arithmetica, Geometria, Proportioni et Proportionalita
pada 1494, ia mampu memberikan kontribusi yang besar dalam berkembangnya akuntansi
itu sendiri baik sebagai ilmu pengetahuan maupun praktik dan pesatnya laju sistem ekonomi
kapitalis. Bahkan Werner Sombart mengklaim bahwa tata buku berpasangan, yang
merupakan elemen utama akuntansi modern, adalah representasi simbol dari semangat
kapitalisme (the spirit of capitalism) (Storrardan Scorgie 1988).
Pada dasarnya tata-buku berpasangan mulai dikembangkan dari persamaan aljabar
yang kemudian dikenal dalam dunia akuntansi sebagai persamaan akuntansi (accounting
equation). Dengan dasar persamaan ini transaksi-transaksi yang terjadi dalam sebuah
entitas, hanya mempunyai pengaruh pada perubahan-perubahan persamaan akuntansi
tersebut tanpa memengaruhi kesamaan (equality) dari unsur-unsur yang ada pada posisi kiri
(debet) dan kanan (kredit) dari persamaan tersebut (Hatfield 1976; lihat juga Sprague 1907
dan Cronhelm 1978).
Keberadaan persamaan akuntansi tersebut sebetulnya, menurut Storrar dan Scorgie
(1988), tidak terlepas dari keterlibatan Leonardo da Pisa yang pernah belajar dan melakukan
perjalanan ke Mesir, Syria, Yunani, dan Sisilia. Storrar dan Scorgie (1988) mengklaim bahwa
Leonardo da Pisa- lah yang secara efektif telah memperkenalkan angka Arab-Hindu dan
aljabar ke Eropa Barat dari hasil lawatannya di beberapa tempat tersebut di atas. Meskipun
dia bukan satu-satunya orang yang pertama yang mengenal angka, tapi dialah sebenarnya
orang pertama yang mendorong penggunaan angka untuk berbagai maksud dalam
kehidupan sehari-hari, termasuk akuntansi. Kemudian dari pengenalan angka arab-Hindu
dan aljabar ini, tata-buku berpasangan secara teknis berkembnag.

Dengan melihat secara singkat asal mula tata-buku berpasangan itu, tulisan ini
berusaha menjelaskan peranan umat islam dalam meletakkan dasar-dasar- seperti angka
Arab-Hindu, ilmu aljabar (matematika), dan sistem perdagangan-bagi perkembangan
akuntansi modern yang ada pada saat ini. Peranan ini sebetulnya tidak terlepas dan
pemahaman tentang teologi mereka, yang dipahami secara bebas dan rasional dalam
bingkai iman yang kokoh. Dalam kerangka pemahaman teologi semacam ini, mereka tidak
hanya mampu memberikan kontribusi yang besar bagi akuntansi, tetapi juga bagi peradaban
manusia. Namun, ketika umat islam meninggalkan dasar-dasar teologis yang bebas dan
rasional tadi, karya-karya besar umat islam zaman klasik diambil alih umat lain(Barat).
Akibatnya, peradaban manusia didominasi oleh brat-termasuk penguasaan sistem
perdagangan dan akuntansi-yang tentu sangat lekat dengan nilai-nilai Barat itu sendiri.
Bahasan-bahasan berikutnya dalam tulisan ini berupaya memberikan alternatif
pemikiran akuntansi-yang sementara ini didominasi oleh akuntansi positif-dari perspektif
islam. Alternatif pemikiran ini terutama ditekankan pada sisi pemahaman ontologi
akuntansi-yang bertolak dari pemahaman tentang hakikat diri manusia sebagai Khalifatullah
fil Ardh- menuju ontologi yang bertauhid, yang selanjutnya juga akan berpengaruh pada sisi
pandang epistemologi akuntansi. Untuk memudahkan pembahasan, tulisan ini juga
memaparkan dasar-dasar pemikiran Immanuel Kant, G.W.F. Hegel, dan Karl Marx tentang
kritisisme yang menjadi dasar bagi pemikiran Teori Krisis dengan misi emansipatonisny.
Hal ini dilakukan, karena ontologi tauhid akuntansi yang dikemukakan di sini juga bersifat
emansipatoris, namun pada aspek tertentu ontologi tauhid ini berbeda denagn dasar
pemikiran Teori Krisis. Perbedaannya terletak pada pengakuan dan ketundukan ontologi
tauhid pada jaringan-jaringan kuasa illah. Aspek tauhid inilah yang sebenarnya menjadi inti
dari tulisan ini.

Kontribusi dan Kemunduran Umat Islam


Tidak diketahui denagn jelas dimana sebenarnya tempat kelahiran pertama tatabuku berpasangan ini. Klaim bahwa ia lahir di Italia-karena dihubungkan denagn Luca Pacioli
yang dianggap seabagai pencipta tata-buku berpasangan-adalah tidak benar. Karena teknik
tata-buku berpasangan itu sebetulnya sudah dipraktikkan lebih dari 200 tahun di Venice
sebelum bukunya diterbitkan. Luca Pacioli hanyalah orang pertama yang mengangkat dan
memberikan penjelasan-penjelasan tentang teknik tata-buku berpasangan tersebut
(Luzzatto 1961). Ada dugaan, tempat kelahiran tata-buku berpasangan ini di Spanyol. Ini
sesuai dengan pernyataan Littleton dan Yamey yang mengatakan bahwa,
teknik [tata-buku berpasangan] ini mestinya berasal dari Spanyol, dengan alasan
bahwa kebudayaan dan teknologi Muslim abad pertengahan lebih unggul dan
canggih dibanding dengan Eropa Barat, dan Spanyol [pada waktu itu] adalah saluran
utama dimana kebudayaan dan teknologi Muslim ini dibawa ke Eropa (1978,1).
Pendapat ini sangat mungkin, mengingat Spanyol merupakan salah satu bagian
kekuasaan islam di Eropa. Pada waktu itu, sejak pemerintahan Khulafa al-Rasyidin, Dinasti
Bani Umayyah (661-750) dan Dinasti Bani Abbas (750-1258), kekuasaan Islam meluas ke
Bizantium, Mesir, Palestina, Suriah, Mesopotania (Irak), seluruh Afrika Utara, Spanyol di
Eropa, dan daerah daerah di Asia Timur sampai ke perbatasan Cina.
Daerah-daerah seperti Mesir, Suriah, Irak, dan Persia di Timur Tengah merupakan
daerah pusat perdagangan yang membawa barang dagangan ke Barat. Kota-kota seperti
Kairo, Aleksanderia, Damsyik, Baghdad dan Siraz merupakan kota-kota terpenting dalam lalu
lintas perdagangan internasional saat ini. Melalui perdagangan inilah, demikian Storrar dan
Scorgie (1988)juga berpendapat, kebudayaan dan teknologi Muslim tersebar di Eropa Barat.
Amalfi, Venice, Pisa dan Genoa merupakan pelabuhan-pelabuhan utama dan terpenting
yang menghubungkan perdagangan dari pelabuhan-pelabuhan orang-orang Islam di Afrika
Utara, dan Laut Tengah bagian Timur dan kota-kota Kristen seperti Barcelona,
Konstantinopel dan Acre. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Lieber (1968, 230); ia
mengatakan bahwa,

Pedagang-pedagang Italia dan negara-negara Eropa lainnya memperoleh pendidikan


pertamanya dalam penggunaan metode-metode bisnis yang canggih dari rekan
bisnis mereka dari daerah sekitar Laut Tengah; yang kebanyakan mereka adalah
Muslim, walaupun terdapat juga beberapa gelintir orang Yahudi dan Nasrani.
Dari merekalah, terutama dari bahasa Aramaik, Arab atau Persi, kemudian muncul
istilah-istilah seperti douane, arsenal, magazine, traffic, tariff, risk, fondaco, sensal, galega,
aval dan maona (Lieber 1968, 230). Perdagangan internasional menjadi begitu meluas
sehingga beberapa gudang dan bahkan daerah-daerah perkotaan di pelabuhan-pelabuhan
Muslim disisihkan untuk pedagang-pedagang dari Barat yang sedang berkunjung (baik
sementara maupun secara permanen selam muslim dagang) ke kota-kota Muslim dengan
jaminan perlindungan keamanan dari penguasa-penguasa Muslim (Lopez and Raymond
1955).
Di samping melalui kontak perdagangan, kebudayaan dan teknologi Muslim juga
meluas ke Eropa melalui kontak akademis. Menurut William Montgomery Watt (1972),
superioritas Muslim pada waktu itu terletak pada ilmu pengetahuan dan teknologi,
terutama di bidang matematika (aljabar), kedokteran dan astronomis, produksi barangbarang mewah, dan pengembangan teknik-teknik dagang yang tinggi. Salah satu pusat
terpenting kegiatan akademis Muslim pada saat adalah kota Baghdad, yaitu pada zaman
khalifah Al-Mamun, yang kemudian selama bertahun tahun banyak menarik minat orangorang Islam sendiri dan orang-orang asing untuk belajar dan menerjemahkan bahasa
Yunani, Sanskerta dan teks-teks lainnya ke bahasa Arab. Menurut Lewis (1950), di antara
orang asing itu, ada seorang india yang melalui dia untuk pertama kalinya angka Arab-Hindu
mulai diperkenalkan. Ini terjadi kiar-kira pada tahun 800. Kemudian Storrar dan
Scorgie(1988) berpendapat bahwa matematika Muslim abad pertengahan diturunkan
sebagian dari Yunani dan sebagian dari India, tetapi sintesis dan pengembangan berikutnya
merupakan kontribusi orisinil dari orang-orang islam itu sendiri, seperti angka nol yang
kemudian ditemukan dan difungsikan oleh orang islam. Hal ini bisa dilihat pada karya orang
yang paling tangguh yang hidup pada abad ke-9 dan mempunyai pengaruh yang sangat
besar dalam pengembangan matematika di Eropa, yaitu Al-Khawarizmi. Dialah orang yang
meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi pengembangan matematika modern seperti yang
dikenal sekarang ini, dan secara tidak langsung telah memberikan kontribusi yang sangat

besar dalam pengembangan kuntansi modern. Dia pulalah yang memberikan konsep-konsep
aljabar yang dapat digunakan untuk menemukan pemecahan terhadap ,asalah-masalah
praktis seperti pembagian harta warisan, perkara hukum (lawsuits) dan transaksi-transaksi
dagang yang secara umum ditemui oleh masyarakat Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah ilmu yang kemudian dipelajari oleh Leonardo da Pisa dan disebarkan di Eropa.
Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus juga menunjukkan bahwa
masyarakat di dunia Islam tidak lagi buta huruf. Hal ini terbukti jelas dalam sistem dagang
dan tata-buku yang dipratikkan mereka. Keadaan ini juga didukung oleh tersedianya kertas
yang murah (karena dihasilkan oleh teknologi yang cukup tinggi). Dengan dukungan ilmu
pengetahuan dan teknologi ini, pada abad ke-10, demikian dikatakan oleh Lieber (1968),
tata-buku di Irak telah tersebar luas dan diterima secara umum (generally accepted) serta
dipratikkan di berbagai daerah. Bahkan kebutuhan akan penggunaan tata-buku ini
merupakan persyaratan hukum bila terjadi perselisihan antara dua pihak atau lebih. Oleh
karena itu, jika ada pihak-pihak yang berselisih, maka mereka secara hukum harus
menunjukkan catatan atas perkiraan semua penjualan, pembelian, laba, rugi, dan utangutang yang belum dilunasi untuk menyelesaikan perselisihan tersebut di muka pengadilan.
Belum ada bukti-bukti pendukung tentang adakah keterkaitan antara praktik-praktik
yang ada di Irak itu dengan praktik-praktik yang kemudian diungkap oleh Luca Pacioli di
Italia. Namun yang jelas, pada abad-abad berikutnya dan sampai saat ini, akuntansi
berkembang pesat di Eropa (dan negara-negara Barat lainnya) dan dikembangkan oleh
orang-orang Barat sendiri yang perkembangannya boleh dikatakan selaras dengan
berkembangnyailmu pengetahuan dan teknologi serta kompleksitas kehidupan sosial,
ekonomi dan politik mereka. Sementara itu, keterlibatan Muslim dalam wacana (dicourse)
pengembangan pengetahuan dan praktik akuntansi sampai saat masih sulit ditemukan,
kecuali karya di atas Gambling dan Karim (1991)yang mencoba secara eksplisit berdiri di atas
paradigma Islam.

Minimnya keterlibatan Muslim dalam wacana ilmu pengetahuan sebetulnya tidak


hanya terbatas pada displin pengetahuan akuntansi, tetapi juga displin ilmu pengetahuan
lainnya dan bahkan dalam berbagai bidang hidup sehari-hari. Diduga, kemunduran ini
terjadi sejak abad pertengahan (1250-1800), yaitu ketika umat islam meninggalkan tradisi
berpikir rasional menuju kepada pola berpikir tradisional-konservatif yang berciri irrasional,
taqlid, eksklusif, dan pasif. Harun Nasution (1995) mensinyalir bahwa keadaan ini
disebabkan karena agama diartikan secara fatalistik dalam pengertian bahwa nasib manusia
telah ditetapkan secara mutlak oleh kehendak Tuhan, yaitu dalam qadha dan qadar-Nya.
Manusia, dalam pengertian ini, tidak dapat berbuat lain kecuali bersikap menerima dan
pasrah kepada kehendak Tuhan. Paham ini, yang disebut dengan paham Jabariyah, menurut
Nasution (1995) mendudukkan akal pada posisi yang rendah, memercayai ketidakbebasan
manusia dalam kemauan dan perbuatan, berpikir dogmatis-statis, bersikap skeptis terhadap
keberadaan Sunnatullah dan kausalitas, dan mengikatkan diri pada arti tekstual Alquran dan
Hadits. Berbeda dengan jabariyah, paham Qadariyah yang dianut oleh umat islam pada era
klasik, menganggap bahwa manusia sebetulnya mempunyai kebebasan yang sangat luas.
Manusia bebas berkendak, bebas berpikir rasional-dinamis, yang kebebasannya hanya
dibatsi ajaran dasar Alquran dan hadits, percaya pada Sunnatullah dan hukum kausalitas,
dan mengambil arti metaforis dari teks wahyu (Nasution 1995).
Dengan pola berpkir rasional, filosofis dan ilmiah ini, islam dalam sejarahnya dapat
diaktualisasikan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar dalam
peradaban manusia. Namun, tingginya peradaban yang berdasarkan iman ini hanya dapat
dicapai umat Islam pada masa lampau, yaitu pada era klasik (650-1250), dan merupakan
nostalgia bagi umat islam pada masa kini. Pada era klasik, ulama-ulama besar seperti AlBattani, Al-Farazi, Al-Farghani, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Mahani, Al-Quhi, Al-Razi, ALThabari, Al-Thusi, Al-Zahrawi, Ibn Haytsam, Ibn Rusyd, Ibn Sina, Umar Al-Khayyamdan lainlainnya dalam bidang ilmu pengetahuan tampil paling depan. Sebaliknya dengan pola
pemikiran yang pertama, realitas-realitas umat yang cenderung berpikir fungsionalpositivistik, terperangkap dalam pola pikir yang terlanjur diformalkan, bersikap pasif dan
taqlid, serta lebih berat perhatiannya kepada hal-hal yang sifatnya ukhrawi, akhirnya
memang benar-benar tercipta. Akibatnya, Islam tereduksi dalam arti bahwa ia seolah-olah
hanya berurusan dengan syariah atau fiqh saja. Sehingga kajian-kajian ke-islaman yang

bersifat mendunia yang merupakan jembatan menuju kehidupan yang lebih kekal di akhirat
menjadi terlewatkan. Dengan kata lain, islam seolah dipandang sebagai agama syariat
(tradisional) yang sarat dengan formalitas ketat-kalau tidak dikatakan absolut-dengan
melalaikan substansi yang hakiki dari Islam itu sendiri sebagain pandangan hidup. Akibatnya,
seakan urusan dunia bukan sesuatu yang penting dalam domain kajian islam. Konsekuensi
dari keadaan ini menyebabkan Islam menjadi asing dan menempati posisi marginal-baik
dalam pengertian nulai-nilai Islam maupun umat islamitu sendiri-dalam wacana kekinian;
dan akibat selanjutnya, distorsi kenyataan dan Islam ideal semakin besar.

Jaringan Kerja Realitas Sosial


Distorsi ini bisa semakin besar jika persepsi tentang Islam tadi dijadikan perspektif.
Artinya, pengertian islam (yang parsial) menjadi dasar rujukan untuk memandang,
mendefinisikan, menilai, dan menafsirkan simbol-simbol sosial-yaitu fenomena-fenomena
sosial, ilmu pengetahuan, peristiwa, perkataan, agama, dll- yang ada dalam kehidupan nyata
masyarakat. Perspektif ini sangat besar pengaruhnya terhadap diri orang lainsendiri dan
terhadap orang lain, karena dengan perspektif tersebut realitas-realitas baru dapat
dikonstruksi. Realitas sosial ini terbentuk dan mengkristal melalui interaksi sosial. Hal ini
terjadi, karena, seperti yang dikemukakan oleh Herbert Blumer (1969) seorang pakar
psikologi sosial dari perspektif interaksionisme simbolik, pada hakikatnya seseorang
melakukan suatu tindakan atas dasar makna-makna yang dapat ditafsirkan dari simbolsimbol sosial yang ia hadapi. Sementara, simbol-simbol itu sendiri sebetulnya tidak memiliki
makna dalam dirinya sendiri, kecuali bila telah melalui proses interaksi sosial yang kompleks
dan melibatkan banyak individu. Kemudian, berdasarkan pada makna-makna dari simbolsimbol tersebut dan setelah menilai situasi disekelilingnya (yang tak lain adalah simbol lain).
Tindakan ini kemudian menjadi simbol bagi , dan akan dikonsumsi oleh, orang lain melalui
proses yang sama seperti tersebut di atas. Demikian seterusnya proses ini berjalan
sedemikian rupa dengan kompleks tanpa mengenal titik akhir. Masing-masing elemen dan
tahapan dari proses tersebut dan proses itu sendiri adalah realitas-realitas, yaitu realitasrealitas yang dapat bersifat abstrak dan atau konkret, hidup, bergerak dinamis dan
berproses seperti jaringan-jaringan kerja (networks) yang memilih kehidupan manusia baik
secara individu maupun komunal dalam perangkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Realitas-realitas tersebut memang tidak bisa terlepas dari intervensi nilai-nilai


kemanusiaan, karena memang mereka adalah realitas yang secara sosial diciptakan oleh
manusia (socially constructed reality). Bahkan dalam wacana postmodernisme, terutama
yang disampaikan oleh foucault (1980) dalam power /Knowledge-nya, secara radikal
dikatakan bahwa kebenaran suatu fakta tidak terletak di luar sana (out there)
sebagaimana yang diklaim oleh para filosof pencerahan, melainkan ada dalam kuasa
(power). Bagi Foucault, jelas kebenaran itu adalah relasi kuasa itu sendiri. Jadi tidak aneh
bila ada konsepsi yang mengatakan bahwa pada masa sekarang ini sulit sekali ditemukan
pengetahuan rasional sejati yang benar-benar bebas dari relasi-relasi kuasa yang opresif,
karena umumnya ilmu pengetahuan modern selalu terdistorsi oleh ideologi. Bagi Karl Marx
(1818-1883),ilmu pengetahuan sejati yang terbebas dari bias ideologi biasa saja diperoleh
selama ada usaha-usaha mengemansipasi diri dari relasi-relasi kuasa yang opresif. Terlepas
dari issue ini, yang jelas adalah bahwa realitas-realitas sosial sebagai kreasi manusia
sebetulnya tidaka akan pernah bersifat objektif, netralatau bebas dari nilai (value-free);
dengan kata lain, kehidupan manusia tidak akan pernah terlepas dari sistem nilai-apa pun
jenis dan bentuk sistem nilai itu.
Jadi, ketika umat islam, misalnya berpegang teguh pada pola pikirnya yang
tradisional-konservatif, maka, secara sadar atau tidak, mereka telah membuat dan mengikat
kan diri pada realitas-realitas sosial yang formal, statis,dan eksklusif. Tentu hal ini menjadi
sesuatu yang sangat memperhatinkan bila realitas-realitas ini dianggap sudah final dan
mutlak benar. Karena tindakan-tindakan manusia, sebagai refleksi dan keimanan yang
kemudian terwujud dalam bentuk realitas-realitas sosial tadi, sebenarnya terus berproses
dan tidak pernah mengenal kata akhir. Tindakan-tindakan tersebut adalah bentuk-bentuk
ekspresi yang berdimensi eksoteris dari iman kepada Tuhan yang berdimensi esoteris, yamg
dilakukan secara terus menerus. Hal ini harus dilakukan karena , pertama, bila seseorang
telah menghentikan tindakan-tindakan tersebut, maka ini berarti bahwa ia, menurut
Nurcholish Madjid (1987 , 243), telah mencapai Tuhan yang Maha Mutlak, padahal tidak
demikian dalam kenyataannya. Tentang hal ini, Madjid menjelaskan bahwa,
...setiap pemberhentian berarti mengaku telah sampai dan menjangkau Tuhan yang
Mutlak. Jadi, hal itu berarti telah menempatkan Tuhan dalam daerah jangkauan
manusia. Dengan demikiam, Tuhan mengalami relativisasi, kehilangan kemutlakan-

Nya, menjadi nisbi, sebagaimana alam dan manusia sendiri, dengan segala
keterbatasan-keterbatasannya (1987, 243).
Alasan kedua, tidak ada patokan yang jelas di mana batas radius kedekatan itu.
Jadi di sini perlu melakukan tindakan dan refleksi diri secara terus-menerus. Oleh karena itu,
realitas-realitas yang statis dan eksklusif bukanlah realitas-realitas mutlak dan tunggal, atau
hanya satu-satunya yang harus ada. Dengan berpegang teguh pada nilai tauhid ini, maka
semestinya realitas-realitas tadi tidak mutlak dan tidak pula tunggal. Ini berarti bahwa harus
terdapat alternatif-alternatif atau perubahan-perubahan atas realitas-realitas yang telah ada
menuju terciptanya realitas-realitas baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Dekonstruksi Mitos
Ketika sebuah perspektif telah menjadi mitos demikian juga realitas-realitas yang
terbentuk sebagai konsekuensi logisnya-maka bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah
untuk keluar secara sadar dari jaringan-jaringan kerja mitos tersebut. Perenunganperenungan akan hakikat diri merupakan langkah awal untuk melakukan dekonstruksi dan
perubahan. Namun perenungan itu saja sebetulnya tidak cukup. Ia harus diiringi dengan
kesadaran-kesadaran ontologis dan epistemologis sebagai prasyarat lainnya yang diperlukan
untuk membaca realitas untuk kemudian melakukan sebuah aksi (tindakan) emansipasi.
Namun emansipasi macam apa? Pemikiran-pemikiran besar dari misalnya, Immanuel
Kant (1724-1804), G. W. F Hegel (1770-1813), dan Karl Marx (1818-1883) juga selalu terkait
erat denagn semangat emansipasi. Ketiga ornag besar ini adalah tokoh-tokoh utama dari
Teori Kritis mazhab Frankfurt, yaitu teori kritik emansipatoris yang kritik-kritiknya selalu
diarahkan pada berbagai bidang kehidupan manusia yang diamggap telah diselubungi oleh
tabir-tabir ideologi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu dan sebaliknya.
Masing-masing pemikir memiliki persepsi sendiri-sendiri atas kritisisme yang
mereka ajukan. Bagi Kant, misalnya konsep kritisisme tidak lain adalah upaya manusia yang
diarahkan untuk menetukan sahih tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prasangka, yang
semuanya dilakukan semata-mata oleh rasio manusia. Konsep ini terbentuk dari hasil
perlawanan Kant terhadap jalan yang ditempuh oleh para filosof pendahulunya yang
dogmatis yaitu cara berpikir model Gereja di mana faktor iman dan kepatuhan pada
otoritas gereja sangat dominan (Hardiman 1990, Sahal 1994).

Namun pada tahap berikutnya, kritisisme Kant ini disanggah oleh Hegel, karena
mengklaim kritiknya bersifat transendental, yang menganggap rasio tidak mengenal dimensi
waktu, netral dan ahistoris. Bagi Hegel, sifat rasio transendental ini adalah sesuatu tidak
mungkin, karena rasio yang kritis baru tercapai bila telah melalui proses sejarah. Dengan
kata lain, rasio tidak ahistoris dan sempurna dalam dirinya sendiri, melainkan harus
berproses.
Berbeda dengan Hegel, Karl Marx dengan filsafat materialismenya menganggap
sejarah versi Hegel sebagai sejarah kesadaran diri atau rasio yang tidak memiliki bentuk
konkrit dan tidak memiliki sasaran pragmatis. Akibatnya kritik Hegel tidak menghasilkan
apa-apa bagi praxis dan tidak dapat merealisasikan janji-janji emansipatorisnya bagi
kehidupan manusia. Olej karena itu Karl Marx berpendapat bahwa sejarah dan kehidupan
manusia itu tidak pernah terlepas dari kekuatan-kekuatan produksi msyarakat- alat-alat
kerja, para pekerja dan pengalaman kerja- dan hubungan-hubungan produksi, sebagaimana
hubungan antarpekerja dalam proses produksi. Keduanya memiliki sifat yang kontradiktif.
Teori kritis, terutama dikemukakan oleh Karl Marx, pada dasarnya adalah teori yang
tidak netral. Ketidaknetralannya terutama terletak pada pemihakannya terhadap tujuan
praktis, ia adalah teori yang tidak memisahkan diri dengan praxis emansipatoris. Yaitu
keingian untuk mengemansipasi manusia dari perbudakan, membentuk masyarakat atas
hubungan pribadi yang bebas, dan memulihkan kedudukan dan kesadaran manusia sebagai
subjek yang mengkonstruk realitas sosialnya sendiri (Hardiman1990)
Dengan sifat praxis emansipatorisnya itu pula Teori kritik juga melancarkan serangan
terhadap modernitas terutama proses rasionalisasi modernisme pencerahan. Rasionalisasi
model modernisme pencerahan ini tidak lain adalah cara berpikir positivistis yang
menghasilkan Teori Tradisional, yaitu teori yang menganggap dirinya bebas dari berbagai
kepentingan (nilai), objektif, dan ahistoris. Car berpikir semacam ini yang kemudian dalam
masyarakat modern menghasilkan Perang Dunia II, fasisme, stalinisme, dan konsumerisme
(Hardiman 1990 , 61). Dengan pencerahan, kedaulatan manusia terletak pada pengetahuan
(rasio) manusia itu sendiri. Melalui pengetahuan ini manusia mampu mendekonstruksi
mitos-mitos irrasional, menyikap tabir-tabir mistis masyarakat pramodern, dan menguasai
alam. Dunia mitos yang mendominasi manusia berhasil ditumbangkan oleh pengetahuan,
dan dengan demikian manusia dapat dibebaskan oleh kekuasaan mitos.

Namun, kepahlawanan pengetahuan karena kepercayaan yang sangat berlebihan


terhadapnya mengakibatkan manusia modern terjerembab kedalam jurang pemitosan
pengetahuan yang kemudian mendominasi, membingkai dan hadir secara anonim,
kehidupan manusia modern dan akhirnya manusia kembali hidup dalam dunia mitos.
Melihat fenomena ini, posmodernisme melancarkan serangan terhadap modernisme,
terutama terhadap etos heroisme dan keseriusannya. Posmodernisme melihat bahwa
heroisme dan keseriusan sesungguhnya mencerminkan suatu arogansi dan kepercayaan
yang berlebihan terhadap kekuatan konsep, teori, argumentasi filsafat dan proposisi ilmiah
untuk sampai pada kebenaran (Sahal 1994;15-6)
Untuk menghadapi kenyataan ini, posmodernisme mencoba berdiri di luar
paradigma modern untuk menatap modernitas denagn cara kontemplasi dan dekonstruksi.
Hal ini dilakukan karena posmodernisme kecewa terhadap kenyataan modernitas yang
ternyata janji-janji modernisme untuk membebaskan umat manusia dan kesia-siaan,
ketidakpedulian dan irrasionalitas tidak pernah dipenuhi. Apa yang dilakukan oleh
posmodernisme tidak lain adalah upaya menggoyang kekuasaan modernisme. Bila goyangan
ini berhasil menjatuhkan modernisme dari tampuk kekuasaannya, tidak menutup
kemungkinan postmodernisme akan menjadi penguasa baru yang akhirnya juga menjadi
mitos.

Akuntansi sebagai Mitos


Mitos yang terjadi dalam akuntansi terdapat dalam dua hal, yaitu ontologiepistemologi dan praktik akuntansi itu sendiri. Dari sisi epistemologi, akuntansi
sebagaimana dikenal masyarakat bisnis tidak lain adalah produk modernitas yang
konsekuensinya, sangat kental dengan nilai-nilai modernisme, terutama modernisme
pencerahan yang positivistik dengan mitos khas netral, objektif dan ahistoris. Nilai-nilai
inilah yang sekarang mendominasi akuntansi baik dalam pengertian teori maupun praktik,
yang kemudian dikenal dengan sebuah (Teori) Akuntansi positif [positive Accounting
(Theory) atau Mainstream Accounting (Theory)]
Bagi pendukung Teori Akuntansi positif (TAP), misalnya Watts dan Zimmerman
(1986), tujuan utama dari teori akuntansi tidak lain adalah menerangkan dan memprediksi
praktik akuntansi (Watts dan Zimmerman 1986, 2). Menurut mereka, yang dimaksud
dengan menerangkan di sini adalah memberikan penjelasan-penjelasan terhadap praktik
akuntansi yang sedang diobservasi. Misalnya, teori akuntansi harus menerangkan mengapa
perusahaan-perusahaan terrentu lebih suka menggunakan metode LIFO untuk menilai
persediaannya daripada metode FIFO. Sedang yang dimaksud dengan memprediksi adalah
bahwa teori dapat juag digunakan untuk memprediksi fenomena akuntansi yang belum
diobservasi baik fenomena yang akan datang maupun fenomena masa lampau.
Konsep teori yang dikemukakan oleh pendukung TAP di atas secara epistemologis
mengungkapkan bahwa teori hanya bisa diperoleh dengan jalan meneliti regularitas dan
hubungan sebab-akibat dari elemen-elemen yang tertentu dalam realitas objektif praktikpraktik akuntansi.
Hal itu demikian, karena secara ontologis mereka berpihak pada filsafat realisme.
Filsafat ini mengklaim adanya dunia realitas objektif (a world of objective reality) yang eksis
secara independen terhadap diri manusia dan memiliki sifat atau esensi tertentu yang dapat
diketahui atau diteliti. Jadi apa yang ada di luar sana praktik-praktik akuntansi dianggap
independen dari subjek (akuntan)dan konsekuensinya, pengetahuan (teori) hanya bisa
diperoleh atau dianggap ilmiah bila subjek dapat secara tepat dan objektif tadi (Chua 1986,
605)

Penelitian-penelitian akuntansi positif (lihat Hines 1989), misalnya capital market


dan agency theory, biasanya menggunakan variabel-variabel seperti aktiva bersih atau kotor
sebagai ukuran (size) perusahaan dan rasio-rasio neraca sebagai ukuran leverage, untuk
menggantikan atau menggambarkan sifat-sifat atau keadaan perusahaan-perusahaan. Para
peneliti Akuntansi positif tidak melihat bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sebetulnya
tidak eksis secara independen terhadap perilaku akuntansi yang mengukur perusahaanperusahaan itu.
Namun bagi, mereka yang anti TAP, dasarnya pijakan ontologi dan epistemologi TAP
ini tidak masuk akal karena seperti yang dikatakan oleh Tinker dkk (1982 , 167), penelitian
akuntansi sama sekali tidak bisa bebas nilai atau netral secara sosial.
Sampai saat ini, pola pemikiran Akuntasi positif masih tetap dominan meskipun
dalam dekade terakhir ini telah muncul pemikiran alternatif yaitu (Teori) Akuntansi
interpretif [Interpretive Accounting (Theory)] dalam dunia pemikiran dan praktik-praktik
akuntansi modern.
Dalam dunia praktik, dominasi pola pemikiran ini bisa dilihat, misalnya pada perilaku
akuntan berkeyakinan bahwa hakikat akuntansi sebetulnya terletak pada pencarian
objectivitas, dan sebagai implikasinya, akuntan begitu yakin bahwa ia bisa bersikap objektif
menyajikan realitas dengan cara-cara yang benar (Morgan 1988). Namun,apakah benar
demikian? Morgan dalam hal ini menyanggah.
..,ini adalah keinginan yang tidak mungkin ...para akuntan hanya mampu menangkap
aspek-aspek yamg terbatas dari realitas di mana pola akuntansi mereka dihubungkan
[dengan realitas tersebut] .. Akuntansi tidak akan pernah benar-benar objektif... para
akuntan selalu terikat pada observasi mereka melalui prinsip-prinsip dan praktikpraktik akuntansi yang pada hakikatnya berdasarkan pada metafor-metafor yang
mengakibatkan cara pandang satu sisi (one sided) dan parsial atas dunia [realitas]
(1988, 428).

Mitos objectivitas, bagi Morgan (1988, 482), mengaburkan hakikat sejati dari
akuntansi dan menciptakan berbagai masalah operasional, karena seperti telah diketahui
secara umum, akuntan menciptakan asumsi-asumsi dan konvensi-konvensi misalnya
metode penyusutan , metode penilaian persediaan, metode pengakuan pendapatan dan
beban dan lain-lainnya secara sewenang-wenang (arbitrary). Dengan asumsi-asumsi dan
konvensi-konvensi tersebut, dunia realitas tereduksi menjadi dunia angka yaitu angka-angka
akuntansi (accounting numbers). Dan akuntan, dalam hal ini , berusaha menggambarkan
realitas tadi, dan meyakinkan pihak lain dengan menggunakan angka-angka tersebut.
Dengan objectivitas yang tinggi, angka-angka akuntansi menjadi angka angka yang
sakral yang dianggap dapat membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi bagi pihakpihak yang berkepentingan melalui pengambilan keputusan ekonomi. Dan, sebagai
penyedia informasi, akuntansi juga dapat digunakan sebagai, misalnya alat pengawasan
manajemen (management control), alat untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi, alat
untuk menurunkan agency costs, dan lain sebagainya. Karena akuntansi telah diindetikkan
dengan angka-angka, maka tidak aneh bila kemudian timbul seperti yang dikatakan Morgan
(1988) tadi, berbagai masalah operasional. Di rumah sakit, misalnya, karena ingin memenuhi
target efisiensi tertentu yang telah ditetapkan dalam budget, akhirnya orientasi yang semula
patient-oriented menjadi administrative-oriented. Dari hasil penelitian memang
menunjukkan adanya peningkatan efesiensi, namun di pihak lain cara kerja para pegawai
akhirnya kurang manusiawi (Morgan 1988, 428). Fenomena ini adalah nyata, meskipun ia
terajdi di rumah sakit yang notabene bukan organisasi bisnis. Apalagi dalam organisasi
bisnis. Tidak jarang, untuk mencapai efisiensi dan angka laba yang tinggi serta untuk
memenuhi kepentingan pihak tertentu (kapitalis,misalnya), manajemen perusahaan tidak
segan-segan membayar pegawainya (buruh) dengan upah yang sangat rendah. Dengan
motif sama pula, perusahaan mengeksploitasi kekayaan alam, memproduksi barang tanpa
melakukan treatment yang memadai atas limbah buangannya dan tanpa memperhatikan
keseimbangan serta kesehatan lingkungan. Semua ini adalah segelintir realitas negatif tanpa
visi kemanusiaan dan lingkungan yang tercipta karena mitos akuntansi yang objektif, yang
kering akan nilai, yang dipraktikkan secara taqlid tanpa sama sekali menilai nilai-nilai lokal
dan kemanusiaan.

Begitu tingginya kepercayaan terhadap Akuntansi Positif, sampai-sampai Hines (1989


, 60) dengan gaya sinisme mengatakan,
Sungguh sangat sulit dibayangkan bagaimana perusahaan-perusahaan bisa eksis
tanpa akuntansi keuangan. Tanpa akuntansi keuangan, perusahaan-perusahaan
tidak mungkin dapat diukur. Dari mana kategori-kategori tertentu bisa diperoleh,
yang dengannya kita bisa memikirkan, mengakui, dan membuat keputusan serta
melakukan tindakan berdasarkan kategori-kategori tersebut, jika tidak dari akuntansi
keuangan? Apa jadinya posisi keuangan (financial position) atau kinerja
(performance) atau besarnya (size) perusahaan tanpa akuntansi keuangan? Tanpa
konsep aktiva (assets), utang(liabilitas), modal (capital) dan laba
(profit),pertanyaan-pertanyaan tentang kesehatan, kinerja dan ukuran perusahaan
akan sulit dijawab. Sulit membayangkan dunia ekonomi tanpa akuntansi keuangan
(dan manajemen)...tanpa akuntansi keuangan, atau ketiadaannya, seperangkat
alternatif praktik-praktik sosial, dunia ekonomi, dan kemudian masyarakat seperti
yang kita ketahui sekarang, tidak akan eksis.
Apa yang dikemukakan oleh Hines tidak lain merupakan refleksi atas realitas sosial
yang ada sekarang, yaitu realitas dominasi Akuntansi positif yang tidak bisa dipisahkan dari
dunia bisnis dan kehidupan masyarakat. Selanjutnya Hines (1989 , 61) mengingatkan bahwa
praktik dan standard akuntansi yang berpengaruh terhadap ukuran, kinerja, dan kesehatan
perusahaan, dari yang dengan demikian memengaruhi perilaku dan realitas sosial, tidak
terlepas dari campur tangan politik yang bisa jadi kontroversial dan bertentangan antara
satu pihak dengan pihak lain.