Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Semua makhluk hidup memerlukan energi untuk melakukan berbagai aktivitas
hidupnya. Energi dapat diperoleh melalui pernapasan selular, yaitu proses
pembakaran zat-zat makanan di dalam sel. Proses pembakaran tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan oksigen. Selama pernapasan selular, oksigen
membakar energi kimia yang tersimpan di dalam zat-zat makanan sehingga
menghasilkan sejumlah energi siap pakai dan karbon dioksida sebagai zat sisa.
Lebih dari 90% energi yang dihasilkan adalah dalam bentuk adenosine trifosfat
(ATP) (Sudjadi dan Laila, 2006).
Secara fungsional saluran pernapasan dibagi atas bagian yang berfungsi
sebagai konduksi (pengantar gas) dan bagian yang berfungsi sebagai respirasi
(pertukaran gas). Pada bagian konduksi, udara seakan-akan bolak-balik diantara
atmosfir dan jalan nafas. Oleh karena itu, bagian ini seakan-akan tidak berfungsi,
dan disebut dengan dead space. Akan tetapi fungsi tambahan dari konduksi,
seperti proteksi dan pengaturan kelembaban udara, justru dilakukan pada bagian
ini. Adapun yang termasuk ke dalam 13 konduksi ini adalah rongga hidung,
rongga

mulut,

faring,

laring,

trakea,

sinus

bronkus

dan

bronkiolus

nonrespiratorius. Pada bagian respirasi akan terjadi pertukaran udara (difusi) yang
sering disebut dengan unit paru (lung unit), yang terdiri dari bronkiolus
respiratorius, duktus alveolaris, atrium dan sakus alveolaris (Mengkidi, 2006).
Sistem pernapasan mencakup paru-paru dan sistem saluran yang
menghubungkan tempat pertukaran gas dengan lingkungan luar. Alat mekanisme
ventilasi, yang terdiri atas rongga toraks, otot interkostal, diafragma dan
komponen elastis serta kolagen paru, penting untuk pergerakan udara melalui
paru. Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama: bagian
konduksi, yang terdiri atas rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronki,
bronkiolus terminalis; dan bagian respirasi yang terdiri atas bronkiolus
respiratorius, duktus alveolaris, dan alveoli (Junqueira dan Carneiro, 2004).

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum respirasi ini adalah :
a. Mengetahui konsumsi oksigen pada beberapa hewan
b. Mengetahui banyaknya karbondioksida yang dihasilkan oleh beberapa jenis
hewan percobaan
c. Mengetahui kapasitas paru-paru seseorang
d. Mengetahui daya tahan nafas seseorang

1.3. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum respirasi ini adalah agar dapat mengetahui
konsumsi oksigen pada beberapa hewan dapat mengetahui banyaknya
karbondioksida yang dihasilkan oleh beberapa jenis hewan percobaan dan
mengetahui kapasitas paru-paru dan daya tahan nafas seseorang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sistem pernapasan dibentuk oleh beberapa struktur. Seluruh struktur tersebut


terlibat dalam proses respirasi eksternal yaitu proses pertukaran oksigen (O2)
antara atmosfer dan darah serta pertukaran karbondioksida (CO2) antara darah dan
atmosfer. Respirasi eksternal adalah proses pertukaran gas antara darah dan
atmosfer sedangkan respirasi internal adalah proses pertukaran gas antara darah
sirkulasi dan sel jaringan. Respirasi internal (pernapasan seluler) berlangsung di
seluruh sistem tubuh. Struktur yang membentuk sistem pernapasan dapat
dibedakan dibedakan menjadi struktur utama (principal structure), dan struktur
pelengkap (accessory structure) (Djojodibroto, 2009).
Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran
mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung, udara tersebut
disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi
utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks 14 bertingkat, bersilia,
dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukus yang disekresi
oleh sel goblet dan kelenjar serosa. Partikel-partikel debu yang kasar dapat
disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan
partikel yang halus akan terjaring dalam lapisan mukus. Gerakan silia akan
mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior di
dalam sistem pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Dari sini lapisan mukus
akan tertelan atau dibatukkan keluar. Air untuk kelembaban diberikan oleh lapisan
mukus sedangkan panas yang disuplai ke udara inspirasi berasal dari jaringan di
bawahnya yang kaya akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan
sedemikian rupa sehingga bila udara mencapai faring hampir bebas debu, bersuhu
tubuh, dan kelembabannya mencapai 100% (Mengkidi, 2006).
Fungsi utama pernapasan adalah untuk memperoleh O2 agar dapat
digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh sel.
Sebagian besar orang menganggap bahwa pernapasan sebagai proses menarik dan
mengeluarkan napas. Namun, dalam fisiologi, pernapasan memiliki makna yang

lebih luas. Respirasi internal atau seluler mengacu kepada proses metabolism
intrasel yang berlangsung di dalam mitokondria, yang menggunakan O2 dan
menghasilkan CO2 selama penyerapan energi dari molekul nutrien. Kuosien
pernapasan (respiratory quotient, R.Q.), yaitu perbandingan (rasio) CO2 yang
dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi, bervariasi bergantung pada jenis
makanan yang dikonsumsi (Sherwood, 1996).

2.1. Alat Pernapasan


Manusia menghirup oksigen dari lingkungan dan mengeluarkan karbon dioksida
ke lingkungan dengan cara bernapas. Saat kita bernapas, udara masuk ke dalam
paru-paru melalui serangkaian alat pernapasan, antara lain rongga hidung, faring,
laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru-paru. Rongga hidung (nasal)
merupakan saluran pernapasan pertama yang dilalui oleh udara. Pada rongga
hidung terdapat rambut hidung dan mukus. Selain itu di dalam rongga hidung juga
terdapat indra pembau. Faring (tekak) merupakan daerah persilangan saluran
makanan (esophagus) dan saluran pernapasan (trakea). Laring merupakan daerah
pangkal tenggorokan. Pada bagian atas laring terdapat suatu bukaan (celah) yang
disebut glotis. Trakea (batang tenggorokan) merupakan alat pernapasan berbentuk
tabung yang menghubungkan laring dengan bronkus. Bronkus merupakan cabang
trakea yang mengarah ke paru-paru kanan dan kiri. Udara di dalam masingmasing bronkus masuk ke beberapa cabang saluran yang lebih kecil lagi yang
disebut bronkiolus. Paru-paru merupakan alat pernapasan utama pada manusia
(Sudjadi dan Laila, 2006).

2.2. Fisiologi Sistem Pernapasan


Situasi faal paru seseorang dikatakan normal jika hasil kerja proses ventilasi,
distribusi, perfusi, difusi, serta hubungan antara ventilasi dengan perfusi pada
orang tersebut dalam keadaan santai menghasilkan tekanan parsial gas darah arteri
(PaO2 dan PaCO2) yang normal. Yang dimaksud keadaan santai adalah keadaan
ketika jantung dan paru tanpa beban-kerja yang berat. Tekanan parsial gas darah
arteri yang normal adalah PaO2 sekitar 96 mmHg dan PaCO2 sekitar 40 mmHg.
Tekanan parsial ini diupayakan dipertahankan tanpa memandang kebutuhan

oksigen yang berbeda-beda, yaitu saat tidur kebutuhan oksigen 100 mL/menit
dibandingkan dengan saat ada beban kerja (exercise), 2000-3000 mL/menit.
Respirasi adalah suatu proses pertukaran gas antara organisme dengan
lingkungan, yaitu pengambilan oksigen dan eliminasi karbondioksida. Respirasi
eksternal adalah proses pertukaran gas (O2 dan CO2) antara darah dan atmosfer
sedanglan respirasi internal adalah proses pertukaran gas (O2 dan CO2) antara
darah sirkulasi dan sel jaringan (Djojodibroto, 2009).

2.3. Mekanisme Pernapasan


Fungsi utama bagian konduksi adalah mengondisikan udara inpirasi. Sebelum
memasuki paru, udara inspirasi dibersihkan, dilembabkan, dan dihangatkan. Agar
dapat melakukan fungsi ini, mukosa bagian konduksi dilapisi epitel respirasi
khusus, dan terdapat banyak kelenjar mukosa, dan terdapat banyak kelenjar
mukosa dan serosa serta jalinan vaskular superfisial yang luas di lamina propia.
Sewaktu udara memasuki hidung, vibrisa besar (rambut khusus) menahan partikel
kasar debu. Saat udara mencapai fosa nasalis, zat renik dan gas-gas terperangkap
dalam jaringan mukus. Mukus ini, bersama secret serosa, juga berfungsi
melembabkan udara yang masuk, yang melindungi lapisan alveoli yang halus agar
tidak menjadi kering. Jalinan vaskular superfisial yang luas juga menghangatkan
udara yang masuk (Junqueira dan Carneiro, 2004).

2.3.1. Inspirasi
Pada saat inspirasi, otot-otot antartulang rusuk eksternal mengerut (berkontraksi),
sedangkan otot-otot antartulang rusuk internal relaksasi. Akibatnya, tulang-tulang
rusuk terangkat ke atas (ke arah luar) sehingga rongga dada membesar. Rongga
dada semakin besar ketika diafragma berkontraksi dan menjadi rata. Peningkatan
volume rongga dada tersebut menyebabkan tekanan udara di dalam paru-paru
menjadi rendah dibandingkan tekanan udara di lingkungan. Dengan demikian,
udara masuk ke paru-paru sehingga paru-paru mengembang (Sudjadi dan Laila,
2006).
Inspirasi yang lebih dalam (lebih banyak udara yang masuk) dapat
dilakukan dengan mengkontraksikan diafragma dan otot antariga eksternal secara

lebih kuat dan dengan mengaktifkan otot-otot inspirasi tambahan (accessory


inspiratory muscle) untuk semakin memperbesar rongga toraks. Kontraksi otototot tambahan ini yang terletak di leher, mengangkat sternum dan dua iga
pertama, memperbesar bagian atas rongga toraks. Pada saat rongga toraks
semakin membesar volumenya dibandingkan dengan keadaan istirahat, paru juga
semakin membesar, sehingga tekanan intra-alveolus semakin turun. Akibatnya,
terjadi peningkatan aliran udara masuk paru sebelum terjadi keseimbangan dengan
tekanan atmosfer; yaitu pernapasan menjadi lebih dalam (Sherwood, 1996).

2.3.2. Ekspirasi
Pada saat ekspirasi, otot-otot antartulang rusuk eksternal relaksasi, sedangkan
otot-otot antartulang rusuk internal berkontraksi. Akibatnya tulang-tulang rusuk
kembali ke posisi semula atau turun. Pada saat yang bersamaan, diafragma
relaksasi dan ditekan ke atas oleh otot-otot perut. Pergerakan tulang-tulang rusuk
dan diafragma tersebut menyebabkan ukuran rongga dada mengecil. Pada kondisi
demikian, tekanan udara di dalam paru-paru menjadi lebih besar dibandingkan
tekanan udara di atmosfer sehingga udara mengalir keluar paru-paru (Sudjadi dan
Laila, 2006).
Saat napas biasa (quiet breathing), untuk ekspirasi tidak diperlukan
kegiatan otot, cukup dengan daya elastis paru saja udara di dalam paru akan
keluar saat ekspirasi. Namun, ketika ada serangan asma, sering diperlukan active
breathing; dalam keadaan inim untuk ekspirasi diperlukan kontribusi kerja otototot

berikut:

muskulus

interkostalis

interna,

muskulus

interkartilaginus

parasternal, muskulus rektus adbominis, muskulus oblikus abdominis eksternus.


Otot-otot untuk ekspirasi juga berperan untuk mengatur pernapasan saat berbicara,
menyanyi, batuk, bersin, dan untuk mengedan saat buang air besar serta saat
bersalin (Djojodibroto, 2009).

2.4. Kapasitas dan Volume Paru-Paru


Kapasitas paru merupakan jumlah oksigen yang dapat dimasukkan kedalam tubuh
atau paru-paru seseorang secara maksimal. Yang termasuk pemeriksaan kapasitas
fungsi paru adalah :

a. Kapasitas Inspirasi (Inspiratory Capacity: IC), adalah volume udara yang


masuk paru setelah inspirasi maksimal atau sama dengan volume cadangan
inspirasi ditambah volume tidal (IC = IRV + TV).
b. Kapasitas Vital (Vital Capacity : VC), volume udara yang dapat dikeluarkan
melalui ekspirasi maksimal setelah sebelumnya melakukan inspirasi maksimal
(sekitar 4000ml). Kapasitas vital besarnya sama dengan volume inspirasi
cadangan ditambah volume tidal (VC = IRV + ERV + TV).
c. Kapasitas Paru Total (Total Lung Capacity : TLC), adalah kapasitas vital
ditambah volume sisa (TLC = VC + RV atau TLC = IC + ERV + RV)
d. Kapasitas Residu Fungsional (Functional Residual Capacity : FRC ), adalah
volume ekspirasi cadangan ditambah volume sisa (FRC = ERV + RV) (Mengkidi,
2006).
Pada umumnya, ketika kita rileks (bernapas normal) hanya sedikit udara
yang masuk dan keluar paru-paru. Volume udara demikian disebut volume tidal,
yaitu sekitar 500 ml. Pada saat kita berinspirasi lebih dalam, volume tidal paruparu mendapat volume udara ekstra dari luar. Volume ekstra demikian disebut
volume cadangan inspirasi atau udara komplementer, yaitu sekitar 1.500 ml.
Demikian juga sebaliknya, setelah bernapas normal kita masih dapat
mengeluarkan udara, yaitu sekitar 1.500 ml. Volume udara yang dikeluarkan
setelah ekspirasi normal disebut volume cadangan ekspirasi atau udara
suplementer. Selanjutnya, saat berinspirasi sedalam-dalamnya dan berekspirasi
sekuat-kuatnya, total udara yang masuk dan keluar itu adalah sekitar 3.500 sampai
4.000 ml. Volume udara demikian disebut kapasitas vital dari paru-paru. Setelah
bernapas secara maksimal, di dalam paru-paru tetap masih ada udara sebanyak
1.500 ml. Volume udara demikian disebut volume residu (Sudjadi dan Laila,
2006).
Perubahan-perubahan volume paru yang terjadi selama bernapas dapat
digunakan dengan menggunakan spirometer. Pada dasarnya, spirometer terdiri
dari sebuah tong berisi udara yang mengapung dalam wadah berisi air. Sewaktu
seseorang menghirup dan menghembuskan udara ke dalam tong tersebut melalui
selang yang menghubungkan mulut ke wadah udara, tong akan naik dan turun di
wadah air (Sherwood, 1996).

Paru merupakan organ penting bagi tubuh yang mempunyai fungsi utama
sebagai alat pernafasan (respirasi). Proses pernafasan yaitu pengambilan oksigen
dari udara luar dan pengeluaran CO2 dari paru paru. Dirongga hidung udara
dibersihkan dari debu ukuran 2 10 u, dipanaskan dan dilembabkan oleh bulu dan
lendir hidung sebelum masuk ke trakea. Debu yang lolos ditangkap oleh lendir
dari sel-sel mukosa di bronkus dan bronkioli, cilia set mukosa ini bergerak
berirama mendorong kotoran keluar dengan kecepatan 16 mm/menit. (Umar,
2004).

DAFTAR PUSTAKA

Djojodibroto, R. D. 2009. Respirologi. Jakarta: EGC. Hlm. 5-22


Junqueira, L. C. dan Carneiro, J. 2004. Histologi Dasar. Jakarta: EGC. Hlm. 335339
Mengkidi, D. 2006. Gangguan Fungsi Paru Dan Faktor Faktor Yang
Mempengaruhinya Pada Karyawan PT. Semen Tonasa Pangkep Sulawesi
Selatan. Semarang. Universitas Diponegoro.
Sherwood, L. 1996. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Hlm. 411-430
Sudjadi, B. dan Laila, S. Biologi Sains Dalam Kehidupan. Semarang: Yudhistira.
Hlm. 39-44

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

RESPIRASI

DISUSUN
Partner 2

NAMA

NIM

Yan Herni
Siti Karimah
FirdaNovita
Rita Sari Pardosi
Andrew Natanael Sinaga
VennaViliaPanggabean
Maya Sari Putri
Kalfin Dersing

120805006
120805019
120805021
120805049
120805059
120805062
120805079
120805062

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014

LEMBAR PENGESAHAN

RESPIRASI

DISUSUN
Partner 2
NAMA

NIM

Yan Herni
SitiKarimah
FirdaNovita
Rita Sari Pardosi
Andrew Natanael Sinaga
VennaViliaPanggabean
Maya Sari Putri
Kalfin Dersing

120805006
120805019
120805021
120805049
120805059
120805062
120805079
120805062

Medan, 30 April 2014


Asisten,

( Venny Othesa Hutauruk )