Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Mual dan muntah merupakan gejala yang umum terjadi pada sekitar 50%
sampai 80% dari seluruh kehamilan. Kondisi ini umumnya disebut morning
sickness. Bagaimanapun sebesar 0,05% - 2% pada seluruh kehamilan dapat terjadi
mual dan muntah yang berat, kondisi ini sering disebut dengan hiperemesis
gravidarum,dengan prevalensi 1% sampai 3% atau 5-20 kasus per 1000
kehamilan(Simpson et.al, 2001).
Hiperemesis gravidarum (HG) dapat menyebabkan komplikasi bahkan
kematian pada ibu dan janin jika tidak tertangani dengan baik. Mual dan muntah
secara terus menerus, mengakibatkan turunnya berat badan hingga lebih dari 5% berat
sebelum hamil, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan
komplikasi maternal seperti kerusakan hati dan ginjal, robekan pada esofagus,
pneumothoraks, neuropati perifer, ensefalopati wernicke, dan kematian. Pada janin
dengan ibu yang menderita hiperemesis gravidarum berkepanjangan dapat
menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian (Asih, Kampono, &
Prihartono, 2009).
Adanya berbagai macam dampak yang ditimbulkan akibat hiperemesis
gravidarum, perlu menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan. Penanganan cepat dan
tepat dari tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan sangat diperlukan. Soltani &
Taylor (2003) menyatakan bahwa tenaga kesehatan kadang menunjukkan sikap yang
tidak mendukung (ambivalent) jika menemui kasus HG dan menganggap kondisi HG
merupakan masalah pasien. Selain itu, literatur yang membahas tentang sikap tenaga
kesehatan dalam menangani kasus HG masih sangat terbatas.

1.2 Rumusan Masalah


Beberapa rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
Apakah definisi hiperemesis gravidarum ?
Apa etiologi hiperemesis gravidarum?
Bagaimana penyebaran penyakit hiperemesis gravidarum?
Bagaimana klasifikasi penyakit hiperemesis gravidarum?

Apakah manifestasi klinis dari hiperemesis gravidarum?


Bagaimana patofisiologi hiperemesis gravidarum?
Bagaimana pemeriksaan diagnostik hiperemesis gravidarum?
Bagaimana penatalaksanaan hiperemesis gravidarum?

1.3 Tujuan

Tujuan umum
Agar mengetahui dan mampu memberikan penanganan pada pasien
dengan hiperemesis gravidarum.

Tujuan khusus

Mengetahui definisi hiperemesis gravidarum.


Mengetahui etiologi hiperemesis gravidarum.
Mengetahui penyebaran penyakit hiperemesis gravidarum.
Mengetahui klasifikasi penyakit hiperemesis gravidarum
Mengetahui manifestasi klinis hiperemesis gravidarum.
Mengetahui patofisiologi hiperemesis gravidarum.
Mengetahui pemeriksaan diagnostik hiperemesis gravidarum.
Mengetahui penatalaksanaan hiperemesis gravidarum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal
kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu. Hiperemesis gravidarum
adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu
pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena terjadi
dehidrasi. Hiperemesis gravidarum biasanya berhubungan dengan ketosis dan
penurunan berat badan (> 5% dari berat badan).
Mual dan muntah yang cukup berat dan berlebihan dapat menyebabkan
penurunan berat badan, dehidrasi, asidosis akibat kelaparan, alkalosis akibat
keluarnya asam hidroklorida dalam muntahan hipokalemia dan disfungsi hati.
Dikatakan Hiperemesis Gravidarum bila keadaan dimana penderita mual dan
muntah/tumpah yang berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap
saat, sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari.

2. Epidemiologi
Mual dan muntah merupakan gejala yang umum terjadi pada sekitar
50% sampai 80% dari seluruh kehamilan. Kondisi ini umumnya disebut
morning sickness. Sebesar 0,05% - 2% pada seluruh kehamilan dapat terjadi
mual dan muntah yang berat, kondisi ini sering disebut dengan hiperemesis
gravidarum, dengan prevalensi 1% sampai 3% atau 5-20 kasus per 1000
kehamilan.

3. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak
ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak
ditemukan kelainan biokimia. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain
yang telah ditemukan sebagai berikut :
1) Umumnya terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan
ganda akibat peningkatan kadar HCG.

2) Faktor organik, yaitu karena masuknya vili khoriales dalam sirkulasi


maternal dan perubahan metabollik akibat kehamilan serta resistensi yang
menurun dari pihak ibu terhadap perubahanperubahan ini serta adanya
alergi yaitu merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap janin.
3) Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori). Ditemukannya organisme ini pada
pasien yang resisten terhadap pengobatan konservatif. Helicobacter pylori
adalah basil gram negatif yang telah dikaitkan dengan penyakit ulkus
peptikum. Pasien umumnya mengeluh mual, muntah dan mulas. Hal ini
gejala umum pada HEG. Skrining untuk Helicobacter pylori harus
ditambahkan pada investigasi hiperemesis gravidarum, terutama pada
kondisi yang memanjang dimana hanya terpaku pada penatalaksanaan
konvensional dan kasus-kasus yang berlanjut sampai trimester kedua.
Regimen non teratogenik untuk penanganan Helicobacter pylori harus
dipertimbangkan. Kenaikan human chorionic gonadotropin (hCG)
menyebabkan pergeseran pH selama kehamilan yang memicu dismotilitas
gastrointestinal dan mengganggu sistem imunitas humoral begitu juga
imunitas seluler dalam kehamilan telah dipercaya menjadi alasan
terjadinya infeksi. Sosioekonomi yang rendah juga dapat menjadi faktor
penyebab yang penting untuk infeksi H. pylori dalam kehamilan pada
wanita dengan hiperemesis gravidarum.
4) Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga
yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan
persalinan, takut terhadap tanggungan sebagai ibu dapat menyebabkan
konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi
tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian
kesukaran hidup.
5) Faktor endokrin lainnya : hipertyroid, diabetes dan lain-lain.

4. Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah
pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan
tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
1) Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan
lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang
4

tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton


asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.
2) Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah
menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun.
Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah
ke jaringan berkurang
3) Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya
ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah muntah lebih banyak,
dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan
4) Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi
robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma MalloryWeiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal.

5. Tanda dan Gejala Klinis


Tidak ada batas yang jelas antara mual yang masih fisiologik dalam
kehamilan dengan hiperemesis gravidarum, tetapi bila keadaan umum
penderita

terpengaruh,

sebaiknya

ini

dianggap

sebagai

hiperemesis

gravidarum.
Gejala klinik yang sering dijumpai adalah nausea, muntah, penurunan
berat badan, ptialism (saliva yang berlebihan), tanda-tanda dehidrasi termasuk
hipotensi postural dan takikardia. Pemeriksaan laboratorium dapat dijumpai
hiponatremia, hipokalemia, dan peningkatan hematokrit. Hipertiroid dan LFT
(Liver Function Test)yang abnormal dapat dijumpai.
Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
1) Tingkatan I (ringan)
a. Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum
penderita. Muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit
cairan empedu, dan yang terakhir keluar darah.
b. Ibu merasa lemah
c. Nafsu makan tidak ada
d. Berat badan menurun
e. Merasa nyeri pada epigastrium
f. Nadi meningkat sekitar 100 per menit
5

g. Tekanan darah menurun


h. Turgor kulit berkurang
i. Lidah mengering
j. Mata cekung
2) Tingkatan II (sedang)
a. Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan
b. Penderita tampak lebih lemah dan apatis
c. Turgor kulit lemah
d. Lidah mengering dan tampak kotor
e. Nadi kecil dan cepat
f. Suhu badan naik (dehidrasi)
g. Mata mulai ikterik
h. Berat badan turun dan mata cekung
i. Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi
j. Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.
3) Tingkatan III (berat)
a. Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen
sampai koma)
b. Dehidrasi hebat
c. Nadi kecil, cepat dan halus
d. Suhu badan meningkat dan tensi turun
e. Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan
enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan
penurunan mental
f. Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.

6. Diagnosis
Diagnosis Hiperemesis Gravidarum biasanya tidak sukar. Harus
ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga
mempengaruhi keadaan umum. Hiperemesis Gravidarum yang terus menerus
dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi
perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.
Amenore yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu.

Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah
menurun pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran
(apatis-koma).
Fisik : dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun,
pada vaginal toucher uterus besar sesuai besarnya kehamilan,
konsistensi lunak, pada pemeriksaan inspekulo serviks berwarna biru
(livide).
Pemeriksaan USG : untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan
juga untuk mengetahui kemungkinan adanya kehamilan kembar
ataupun kehamilan molahidatidosa.
Laboratorium : kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit, shift to the
left, benda keton, dan proteinuria.
Pemeriksaan elektrolit, tes fungsi hepar, tes fungsi tiroid, BUN,
urinalisis, dan hitung darah lengkap merupakan beberapa pemeriksaan
yang perlu pada pemeriksaan hiperemesis gravidarum yang berat,
setelah kelaparan dan ketidakseimbangan cairan telah diatasi.
Pada keluhan hiperemesis yang berat dan berulang perlu dipikirkan
untuk konsultasi psikologi.

7. Diagnosis Banding
Diagnosis

dari

muntah

yang

tidak

terkontrol

dibuat

dengan

menyingkirkan penyakit-penyakit yang lain. Hal ini penting untuk


menyingkirkan banyak penyakit kronik yang mengenai sistem lain seperti :
penyakit pada sistem digestif seperti hepatitis, pankreatitis, ulkus
peptikum, appendisitis;
penyakit sistem urogenital seperti pyolonefritis, uremia, batu ginjal;
penyakit endokrinologi kronik contohnya ketoasidosis diabetikum atau
hipertiroidisme;
penyakit neurologi seperti tumor otak , migren
keadaan lain yang berhubungan dengan kehamilan contohnya degenerasi
lemak dari hepar dan preeklampsia.
Lamanya muntah penting untuk menilai risiko akan terjadinya
komplikasi-komplikasi seperti ensefalopati Wernicke sebagai akibat dari

defisiensi tiamin, komplikasi ini telah dilaporkan dari 3 minggu setelah


munculnya gejala

8. Risiko
a. Maternal
Akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan terjadinya
diplopia, palsi nervus ke-6, nistagmus, ataksia, dan kejang. Jika hal ini
tidak segera ditangani, akan terjadi psikosis Korsakoff (amnesia,
menurunnya kemampuan untuk beraktivitas), ataupun kematian. Oleh
karena itu, untuk hiperemesis tingkat III perlu dipertimbangkan
terminasi kehamilan.
b. Fetal
Penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR).

9. Penatalaksanaan
1) Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan
dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisiologik. Hal itu dapat dilakukan dengan cara
:
Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan
hilang setelah kehamilan 4 bulan,
Ibu dianjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam
jumlah kecil, tetapi lebih sering.
Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi
dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas
atau sangat dingin.
Defekasi yang teratur.

Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang


penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak
mengandung gula.
2) Terapi Obat-obatan
Apabila dengan cara di atas keluhan dan gejala tidak berkurang
maka diperlukan pengobatan.
Tidak memberikan obat yang teratogen.
Sedativa yang sering diberikan adalah fenobarbital.
Vitamin yang sering dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6.
Antihistaminika seperti dramamine, avomine.
Pada keadaan berat, anti emetik seperti diklomin hidroklorida atau
klorpromazine.
Hiperemesis gravidarum tingkatan II dan III harus dirawat inap di rumah
sakit. Adapun terapi dan perawatan yang diberikan adalah sebagai berikut :
a) Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan
peredaran udara baik. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya
perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Catat cairan yang keluar dan
masuk. Kadang-kadang isolasi dapat mengurangi atau menghilangkan
gejala ini tanpa pengobatan
b) Terapi psikologik
Berikan

pengertian

bahwa

kehamilan

adalah

suatu

hal

yang

wajar,normal dan fisiologik. Jadi tidak perlu takur dan khawatir.


Yakinkan penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan dan dihilangkan
masalah atu konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit
ini.
c) Terapi parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan glukosa 5 %, dalam cairan gram fisiologis sebanya 2-3 liter
sehari. Bila perlu dapat ditambah dengan kalium dan vitamin khususnya
vitamin B kompleks dn vitamin C dan bila ada kekurangan protein,
dapat diberikan pula asam amino esensial secara intravena.

Buat dalam daftar kontrol cairan yang masuk dan dikeluarkan. Air
kencing perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida
dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3
kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan
seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak
muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk
memberikan minuman, dan lambat laun minuman dapat ditambah
dengan makanan yang tidak cair. Dengan penanganan di atas, pada
umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah
baik..
d) Terminasi kehamilan
Pada beberapa kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur.
Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan
memburuk. Delirium, kebutaan, takikardia, ikterik, anuria, dan
perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan
demikian

perlu

dipertimbangkan

untuk

mengakhiri

kehamilan.

Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh


karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu capat dan dipihal lain
tidak boleh menunggu sampai terjadi irreversible pada organ vital.
e) Diet Hiperemesis Gravidarum

Tujuan
Diet pada hiperemesis gravidarum bertujuan untuk mengganti
persediaan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur
memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.

Syarat
Diet hiperemesis gravidarum memiliki beberapa syarat, diantaranya
adalah:
Karbohidrat tinggi
Lemak rendah
Protein sedang
Makanan diberikan dalam bentuk kering; pemberian cairan
disesuaikan dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari
Makanan mudah cerna, tidak merangsang saluran pencernaan,
dan diberikan sering dalam porsi kecil
10

Bila makan pagi dan siang sulit diterima, pemberian


dioptimalkan pada makan malam dan selingan malam
Makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai
gizi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi pasien

Macam-Macam Diet
Ada 3 macam diet pada hiperemesis gravidarum, yaitu :
Diet Hiperemesis I
Diet

hiperemesis

diberikan

kepada

pasien

dengan

hiperemesis gravidarum berat. Makanan hanya terdiri dari roti


kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau rebus, dan
buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi
1-2 jam sesudahnya. Karena pada diet ini zat gizi yang
terkandung di dalamnya kurang, maka tidak diberikan dalam
waktu lama.
Diet Hiperemesis II
Diet ini diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang.
Diet diberikan secara berangsur dan dimulai dengan
memberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi.
Minuman tidak diberikan bersamaan dengan makanan.
Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat
memenuhi kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi.
Diet Hiperemesis III
Diet hiperemesis III diberikan kepada pasien hiperemesis
gravidarum ringan. Diet diberikan sesuai kesanggupan pasien,
dan minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan
pada diet ini mencukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi.

10. Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis HEG sangat memuaskan.
Namun demikian pada tingkat yang berat penyakit ini dapat mengancam jiwa
ibu dan janin.
Prognosis janin
Beberapa penelitian melaporkan peningkatan angka prematuritas, bayi
kecil untuk usia kehamilan dan skor APGAR kurang dari 7 saat 5 menit
11

pertama pada ibu dengan hiperemesis gravidarum. Meskipun demikian,


peningkatan efek yang tidak diinginkan pada janin tidak ditemukan pada
penelitian terakhir dari 166 wanita. Risiko bayi lahir kecil untuk usia
kehamilan hanya meningkat pada kasus penambahan berat badan maternal
inadekuat karena hiperemesis kronik. 90 % kasus hiperemesis sembuh dalam
16 minggu dan hampir semua berat badan maternal tercapai pada masa tengah
kehamilan.
Paparan terapi dilektin (kombinasi lepas lambat doksilamin suksinat dan
piridoksin hidroklorida) pada mual muntah di masa kehamilan tidak
menunjukkan efek yang tidak diinginkan pada perkembangan otak janin.
Prognosis maternal
Selain ensefalopati Wernicke, efek jangka panjang pada ibu tidak pernah
dilaporkan. Efek psikologis jangka panjang, ikatan ibu-bayi yang jelek, atau
ketakutan akan kehamilan lagi di masa depan terjadi pada kasus hiperemesis
gravidarum tidak jelas dilaporkan.
Ada peningkatan risiko rekurensi hiperemesis, dimana risikonya akan
menjadi 15,2% pada wanita yang pernah mengalami hiperemesis gravidarum
sebelumnya, dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah (hanya 0,7%).
Penelitian di Korea menunjukkan hiperemesis gravidarum sebelumnya dan
pemakaian anti emetik sebelum konsepsi atau dalam 7 minggu gestasi,
menemukan 40 % mengalami hiperemesis gravidarum, dibandingkan 80%
wanita di kelompok kontrol yang tidak diberikan anti emetik.

12

LAPORAN KASUS

Identitas pasien

Nama

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur

: 29 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Tanggal MRS

: 08 november 2014

: Ny. Sf ( RM : 146990)

Anamnesa
Keluhan utama

: Mual dan muntah

Perjalanan penyakit :
Mual dan muntah sejak enam hari yang lalu. Muntah-muntah awalnya hanya
terjadi pada pagi hari dan setelah makan dan minum.
Dua hari sebelum masuk rumah sakit muntah dialami lebih dari 10 kali per
hari dengan volume - gelas.
Yang dimuntahkan berupa makanan dan minuman yang dikonsumsi
sebelumnya, pada muntahan tidak terdapat darah.
Keluhan mual dan muntah semakin bertambah berat setelah makan dan
minum, dan berkurang saat istirahat.
Badan terasa lemah, aktivitas sehari-hari terganggu.
Nafsu makan dirasakan menurun karena pasien takut muntah.
Riwayat Haid :
Siklus haid

: 28 hari

Lama

: 3 - 4 hari

HPHT

: 2 September 2014 (10-12 minggu)

Riwayat Pernikahan :
Penderita menikah 1 x (7 tahun)
Riwayat Persalinan
, aterm, 3500 gram, SC, 6 tahun

13

Riwayat ANC :
Dokter spesialis kandungan 1 x.
USG (+) 1 x, hasil USG tidak dibawa.
Riwayat Kontrasepsi : Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita :
Riwayat hipertensi, kencing manis, sakit jantung, asma, dan tumor disangkal.
Riwayat operasi SC pada kehamilan sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
Riwayat hipertensi, kencing manis, sakit jantung, asma, dan tumor pada
keluarga disangkal.
Pemeriksaan fisik
Status present
Keadaan Umum

: sedang

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 94 x/menit

Respirasi

: 18 x/menit

Suhu

: 37 C

Berat badan

: 50 kg

Tinggi badan

: 149 cm

Status General
Kepala

: Normal

Mata

: Anemis (-)/(-), ikterus (-)/(-), cekung (-)/(-)

Telinga

: Tidak ada kelainan

Hidung

: Tidak ada kelainan

Leher

: Tidak ada kelainan

Thorax
Cor

: S1S2 (N), Reguler, Murmur (-), gallop (-)

Pulmo

: Vesikuler (+)/(+), Rhonki (-)/(-), Wheezing (-)/(-)

Abdomen

: Meteorismus (-), Ballotement (+), DJJ 158 x/m, soefl

Ekstremitas

: Oedem (superior -/inferior -), Hangat (+/+)

Kimia Darah
SGOT

21,65 u/l

(11 - 33)

SGPT

19,94 u/l

(11 50)
14

BUN

10,65 mg/dl

(10 23)

Creatinin

0,521 mg/dl

(0,50 1,20)

Glukosa sewaktu

87 mg/dl

(70 110)

Natrium

135,20 mmo/l

(135 147)

Kalium

3,605 mmol/l

(3,5 5,5)

DL
Chloride
Urinalisa : keton
USG

Blass isi cukup


Tampak janin intrauterin T/H
FHR (+)
CRL
Diagnosis Kerja
Hiperemesis Gravidarum
Penatalaksanaan
Pdx

: UL setiap hari

Ptx

- Diet HE
- Bed rest
- IVFD NaCl 1000cc
- Dilanjutkan RL diberikan 20 tetes per menit
- Drip Neurobion 1 amp/hari
- Metoklopramid 3 x 1 ampul
- Ranitidin 2 x 1 ampul
- PO : roborantia 1 x 1
Pmo : Keluhan , Vital Sign

15

BAB III
PENUTUP
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan
sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu
hebat di mana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga
dapat mempengaruhi keadaan umum dan menggangu pekerjaan sehari-hari, berat
badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton dalam urin bahkan seperti gejala
penyakit appendicitis, pielititis dan sebagainya.
Diagnosis hiperemesis gravidarum didapatkan dari anamnesa, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan adanya kehamilan
muda (yang ditandai amenore) disertai dengan muntah hebat sehingga pekerjaan
sehari-hari terganggu. Pada permeriksaan tanda-tanda vital didapatkan nadi
meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun pada keadaan berat,
subfebril, dan gangguan kesadaran (apatais-koma). Pada pemeriksaan fisik
didapatkan pasien mengalami dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan
menurun, pada vaginal toucher uterus besar sesuai umur kehamilan, konsistensi
lunak, pada pemeriksaan inspekulo serviks berwarna biru (livide).
Untuk keluhan hiperemesis yang berat pasien dianjurkan untuk dirawat di
rumah sakit dan membatasi pengunjung. Stop makanan per oral 24-48 jam. Infus
glukosa 10% atau 5% : RL = 2: 1, 40 tetes per menit. Untuk terapi obat nya :
1. Vitamin B1, B2, dan B6 masing-masing 50-100 mg/hari/infus.
2. Vitamin B12 200 mikrogram/hari/infus, vitamin C 200mg/hari/infus
3. Fenobarbital 30 mg IM 2-3 kali per hari atau klorpromazin 25-50 mg/hari IM
atau kalau diperlukan diazepam 5 mg 2-3 kali perhari IM
4. Anti emetic : prometazin (avoperg) 2-3 kali 25 mg perhari per oral atau
proklorperazin (stemetil) 3 kali 3 mg per hari per oral atau mediamer B6 3 kali
1 per hari per oral
5. Antasida : asidirin 3 x1 tablet per hari per oral atau mylanta 3x1 tablet perhari
per oral atau magnam 3 x 1 tablet per hari per oral.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham Gary ,et all. 2009. Williams obstetrics 23 rd Ed. EGC. Jakarta
2. Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka. Jakarta
3. Sarwono. 2009. Ilmu Kandungan. Bina Pustaka. Jakarta
4. Guyton and Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta

17

Anda mungkin juga menyukai