Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pembangunan kota memerlukan dua instrumen penting,
yaitu development plan dan development regulation. Kedua
instrumen

pembangunan

tersebut

umumnya

merupakan

dokumen yang terpisah. Penyusunan RDTRdisusun berdasarkan


rencana rinci tata ruang, seperti yang tercantum dalam Undangundang Nomor 26 Tahun 2007 pada pasal 36 ayat 2 yang
bunyinya: Penyusunan RDTRdisusun berdasarkan rencana rinci
tata ruang untuk setiap zona pemanfaatan ruang.
Penyusunan RDTR(Zoning Regulation) merupakan salah
satu perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang berisi
ketentuan-ketentuan teknis dan administratif pemanfaatan ruang
dan pengembangan tapak. Penyusunan RDTRini telah banyak
digunakan di negara berkembang.
Penyusunan

RDTRmenjadi

rujukan

kegiatan

perijinan,

pengawasan dan penertiban dalam pengendalian pemanfaatan


ruang, yang merujuk pada Rencana Detail Tata Ruang yang
umumnya telah menetapkan fungsi, intensitas, ketentuan tata
massa bangunan, sarana dan prasarana, serta indikasi program
pembangunan. Penyusunan RDTRjuga menjadi landasan untuk
manajemen lahan dan pengembangan tapak.
Kecamatan Punung merupakan salah satu dari 12 kecamatan
di Kabupaten Pacitan yang merupakan daerah pendukung dari

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-1

LAPORAN PENDAHULUAN

Kota Pacitan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan lokal dan


sentra kegiatan kelautan. Kecamatan Punung juga merupakan
pintu gerbang barat untuk kegiatan pariwisata selatan Pacitan.
Dengan

semakin

pesatnya

pertumbuhan

penduduk,

pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Kecamatan Punung


maka semakin mendesak untuk penyediaan berbagai sarana dan
prasarana pendukung termasuk juga kebutuhan perumahan.
Kota Punung diharapkan mampu menjadi pusat pelayanan di
wilayah barat Kabupaten Pacitan meliputi Kecamatan Pringkuku,
Kecamatan

Punung

dan

Kecamatan

Donorojo

dengan

menitikberatkan pada kegiatan perdagangan, pariwisata dan


industri. Berbagai hal tersebut akan memberikan pengaruh dan
perubahan

terhadap

Perubahan

pemanfaatan

dipengaruhi

oleh

pemanfaatan

faktor

ruang

ruang

Kota

eksternal

di

Kota

Punung
seperti

Punung.

juga

akan

pembangunan

infrastruktur skala regional dan nasional seperti pembangunan


Jalur

Lintas

Selatan.

Pembangunan

jalan

tersebut

akan

berdampak pada perkembangan pemanfaatan ruang yang ada


serta masuknya berbagai investasi.
Penyusunan
meningkatkan

RDTR

kualitas

BWP

ibukota

Punung

diharapkan

Kecamatan

Punung

dapat
dengan

kedalaman peta skala besar, tetapi juga sebagai langkah untuk


mewujudkan

keterpaduan

wilayah

antar

kecamatan

yang

memadukan dan menyelaraskan struktur dan pola ruang dengan


kecamatan yang ada di sekitarnya. Dokumen ini juga diharapkan
dapat

membantu

merencana

dan

Pemerintah

menata

Kabupaten

wilayah

kota

Pacitan

dengan

untuk

menyusun

peraturan zonasinya. Penyusunan RDTRdifungsikan juga sebagai


pengendalian pemanfatan ruang dan sekaligus menjadi dasar
penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR ditentukan
sebagai zona yang penanganannya diprioritaskan. Penyusunan
RDTRtersebut

nantinya

berfungsi

sebagai

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

pedoman
I-2

LAPORAN PENDAHULUAN

pengendalian pemanfaatan ruang yang disusun untuk setiap


zona pemanfaatan ruang yang termuat dalam rencana rinci tata
ruang

yang

menjadi

dasar

penyusunan

Penyusunan

RDTRtersebut [Pasal 36 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-undang


Nomor 26 Tahun 2007.
1.2

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

1.2.1 Maksud
Maksud dari penyusunan RDTR

BWP Punung

adalah

sebagai berikut:
1. Menyiapkan perwujudan ruang dalam rangka melaksanakan
program-program pembangunan;
2. Menjaga

konsistensi

pembangunan

dan

keserasian

perkembangan pariwisata berwawasan lingkungan; dan


3. Menjaga konsistensi perwujudan ruang melalui pengendalian
program-program pembangunan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan RDTR BWP Punung adalah
sebagai berikut :
1. Menciptakan

keseimbangan

dan

keserasian

fungsi

dan

intensitas penggunaan ruang bagian-bagian wilayah kota.


2. Menciptakan kelestarian lingkungan pemukiman dan kegiatan
kota yang merupakan usaha menciptakan hubungan yang
serasi antar manusia dan lingkungannya, yang tercermin dari
pola intensitas penggunaan ruang bagian wilayah kota.
3. Meningkatkan
merupakan

daya

upaya

guna

dan

pemanfaatan

hasil

pelayanan

secara

optimal

yang
yang

tercermin dalam penetapan sistem kota dengan pengawasan


pelaksanaan pembangunan fisik untuk masing-masing bagian
wilayah kota secara terukur baik kualitas maupun kuantitas.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-3

LAPORAN PENDAHULUAN

4. Mengarahkan pembangunan kota yang lebih tegas dalam


rangka

upaya

pengendalian

pengawasan

pelaksanaan

pembangunan fisik untuk masing-masing bagian wilayah kota


secara terukur baik kualitas maupun kuantitas.
5. Membantu penetapan prioritas pengembangan kota dan

membantu penyusunan Penyusunan RDTR(zoning regulation)


untuk dijadikan pedoman bagi tertib bangunan dan tertib
pengaturan ruang secara rinci.
1.2.3 Sasaran
Sasaran yang hendak dicapai dengan terselenggaranya
penyusunan RDTR BWP Punung adalah sebagai berikut :
1.

Menciptakan keseimbangan dan keserasian fungsi dan


instensitas

penggunaan

lahan

pada

setiap

blok

peruntukan;
2.

Terkendalinya pembangunan kawasan strategis dan fungsi


kota,

baik

yang

dilakukan

pemerintah

maupun

masyarakat/swasta.
3.

Mendorong investasi masyarakat di dalam kawasan

4.

Mengarahkan pembangunan kawasan yang lebih tertata


dalam rangka upaya pengendalian pembangunan fisik
kawasan;

5.

Mendelineasi

prioritas

pembangunan

kawasan

dan

pembentukan zona regulasi sebagai pedoman bagi tertib


bangunan dan tertib pengaturan ruang secara terinci.
1.3

RUANG LINGKUP

1.3.1 Lingkup Wilayah


Lokasi penyusunan RDTR BWP Punung adalah Kecamatan
Punung yang terdiri dari 13 desa meliputi:
1).

Desa Punung,

2).

Desa Tinatar,

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-4

LAPORAN PENDAHULUAN

3).

Desa Kendal,

4).

Desa Sooka,

5).

Desa Piton,

6).

Desa Bomo,

7).

Desa Wareng,

8).

Desa Mantren,

9).

Desa Mendolo Lor,

10). Desa Mendolo Kidul,


11). Desa Ploso,
12). Desa Kebonsari dan
13). Desa Gondosari.

Secara geografis Kawasan BWP Punung dapat dilihat


pada

Peta 1.1.

1.3.2 Ruang Lingkup Materi


Ruang lingkup pembahasan dalam Penyusunan RDTR BWP
Punung adalah sebagai berikut:
1.

Tata cara penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi;


Menjelaskan proses penyusunan Peraturan Zonasi, mulai
dari pembagian blok-blok peruntukan hingga perumusan
aturan-aturan teknis pembangunan.

2.

Ketentuan

teknis

dan

standar

dalam

RDTR

dan

Peraturan Zonasi
Menjelaskan mengenai penggunaan rujukan standar atau
ketentuan teknis pembangunan dari standar-standar yang
telah

ada,

serta

pertimbangan-pertimbangan

yang

digunakan dalam menyusun aturan teknis pembangunan


dalam Peraturan Zonasi.
3.

Tata cara pelaksanaan RDTR dan Peraturan Zonasi;


Menjelaskan

proses

pelaksanaan

dan

perubahan

pemanfaatan ruang dalam pembangunan, yang telah


mencakup pihak-pihak terkait yang memiliki wewenang
dalam menjalankan sistem tersebut.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-5

LAPORAN PENDAHULUAN

4.

Tata caraPerubahan Zonasi


Menjelaskan

terlebih

perkembangan
mengetahui

pada

trend

dahulu
tiap-tiap

trend

kecenderungan

Kecamatan.

perkembangan maka

Dengan

dapat dibuat

arahan Penyusunan RDTR dan peraturan zonasi yang


disesuaikan dengna standard perencanaan dan peraturan
zonasi. Peraturan zonasi dapat berubah apabila trend
kecenderungan perkembangan dalam satu Blok kawasan
saling mendukung dan memiliki arahan fungsi kegiatan
sejajar dan melengkapi secara komprehensif.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-6

PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI


PERKOTAAN BULULAWANG

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUPATEN MALANG

II-

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-7
I-6

LAPORAN PENDAHULUAN

Peta 1.1. Peta Lingkup Wilayah Perencanaan

2.3
EVALUASI/REVISI RDTRK
PERKOTAAN BULULAWANG
TAHUN 2013

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-8

LAPORAN PENDAHULUAN

5.

Tata cara dan teknik penyusunan Rancangan Peraturan


Daerah tentang Peraturan Zonasi
Menjelaskan

proses

dan

teknik

penyusunan

materi

Rancangan Peraturan Daerah tentang Peraturan Zonasi


6.

Tata cara perubahan Peraturan Zonasi;


Menjelaskan mengenai proses pengambilan keputusan
untuk meninjau kembali Penyusunan RDTRyang telah
diperdakan,

serta

mekanisme/tahapan

penyusunan

perubahannya.
1.3.3 Out Put
Ruang lingkup materi dari penyusunan RDTR BWP Punung
adalah sebagai berikut :
I. Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Tujuan Penyusunan Laporan RDTR
c. Dasar Hukum
d. Ruang Lingkup Perencanaan
e. Sistematika Pembahasan
II. Ketentuan Umum
a. Istilah dan Definisi
b. Kedudukan RDTR dan Peraturan Zonasi
c. Fungsi dan Manfaat RDTR dan PZ
d. Kriteria dan Lingkup Wilayah Perencanaan RDTR dan
Peraturan Zonasi
e. Masa Berlaku RDTR
III. Tujuan Penataan BWP
IV. Rencana Pola Ruang
V.

Rencana Jaringan Prasarana

VI. Penetapan Sub BWP yang Diprioritaskan


Penanganannya
VII. Ketentuan Pemanfaatan Ruang
VIII. Peraturan Zonasi
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-9

LAPORAN PENDAHULUAN

a. Materi wajib yang terdiri atas :


Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan;
Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang;
Ketentuan tata bangunan;
Ketentuan prasarana dan sarana minimal; dan
Ketentuan pelaksanaan.
b. Materi pilihan yang terdiri atas :
Ketentuan tambahan;
Ketentuan khusus;
Standar teknis; dan
Ketentuan pengaturan zonasi.
1.4

LANDASAN HUKUM

Referensi hukum penyusunan RDTR BWP Punung antara


lain :
1.

Undang-Undang

Nomor

12

Tahun

1950

tentang

Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan


Propinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor
19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 9);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian
(Lembaran

Negara

Tahun

1984

Nomor

22,

Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3274);


4. Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3888) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-10

LAPORAN PENDAHULUAN

Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang


Nomor 1 Tahun 2004 tentang perubahan atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4412);
5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung

(Lembaran

Negara

Tahun

2002

Nomor

134,

Tambahan Lembaran Negara Nomor 4247);


6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4377);
7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun
2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);
8. Undang-Undang

Perencanaan

Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Pembangunan

Nasional

(Lembaran

Negara

Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor


4421);
9. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan
Atas

Undang-Undang

Perikanan

(Lembaran

Nomor

31

Tahun

Negara

Tahun

2009

2004

tentang

Nomor

154,

Tambahan Lembaran Negara Nomor 5073);


10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah

(Lembaran

Negara

Tahun

2004

Nomor

125,

Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana


telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 108, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4548);
11. Undang-Undang

Nomor

38

Tahun

2004

tentang

Jalan

(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan


Lembaran Negara Nomor 4444);

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-11

LAPORAN PENDAHULUAN

12. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4725);
13. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara
Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4739);
14. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4851);
15. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batu Bara (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor
4, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4959);
16. Undang-Undang

Nomor

10

Tahun

2009

tentang

Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 11,


Tambahan Lembaran Negara Nomor 4966);
17. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 96,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5025);
18. Undang-Undang

Nomor

30

Tahun

2009

tentang

Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 133,


Tambahan Lembaran Negara Nomor 5052);
19. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (Lembaran Negara Tahun 2009
Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5058);
20. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun
2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059);
21. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara
Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5068);
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-12

LAPORAN PENDAHULUAN

22. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

(Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan


Lembaran Negara Nomor 5168);
23. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan

dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 2011


Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5188);
24. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan
Tanah

Bagi

(Lembaran

Pembangunan
Negara

Tahun

Untuk
2012

Kepentingan

Nomor

22,

Umum

Tambahan

Lembaran Negara Nomor 5280);


25. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai
(Lembaran

Negara

Tahun

1991

Nomor

44,

Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3445);


26. Peraturan

Pemerintah

Nomor

43

Tahun

1993

tentang

Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun


1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530);
27. Peraturan

Pemerintah

Nomor

69

tahun

1996

tentang

Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata cara


Peranserta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran
Negara Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3660);
28. Peraturan

Pemerintah

Nomor

36

Tahun

1998

tentang

Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran


Negara Tahun 1998 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3747);
29. Peraturan
Kawasan

Pemerintah
Suaka

Alam

Nomor
dan

68

Tahun

Kawasan

1998

tentang

Pelestarian

Alam

(Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan


Lembaran Negara Nomor 3776);
30. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun
1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-13

LAPORAN PENDAHULUAN

31. Peraturan

Pemerintah

Nomor

70

Tahun

2001

tentang

Nomor

82

Tahun

2001

tentang

Kebandarudaraan;
32. Peraturan

Pemerintah

Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air


(Lembaran Negara Tahun Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4161);
33. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan
Kota (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 119, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4242);
34. Peraturan

Pemerintah

Nomor

16

Tahun

2004

tentang

Penatagunaan Tanah. (Lembaran Negara Republik Indonesia


Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4385);
35. Peraturan

Pemerintah

Nomor

45

Tahun

2004

tentang

Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor


147, Tambahan Lembaran Negara 4453) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009
tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45
Tahun 2004 Tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara
Tahun 2009 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5056);
36. Peraturan
Pedoman

Pemerintah
Pembinaan

Nomor
dan

79

Tahun

Pengawasan

2005

tentang

Penyelenggaraan

Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Nomor 165, Tambahan


Lembaran Negara Nomor 4593);
37. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi
(Lembaran

Negara

Tahun

2006

Nomor

46,

Tambahan

Lembaran Negara Nomor 4624);


38. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4655);

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-14

LAPORAN PENDAHULUAN

39. Peraturan

Pemerintah

Pembagian

Urusan

Nomor

38

Tahun

Pemerintahan

2007

antara

tentang

Pemerintah,

Pemerintah Daerah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah


Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 87,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);
40. Peraturan

Pemerintah

Nomor

59

Tahun

2007

tentang

Kegiatan Usaha Panas Bumi (Lembaran Negara Tahun 2007


Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4777);
41. Perturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan,
Tata

Cara

Penyusunan,

Pelaksanaan

Rencana

Pengendalian

Pembangunan

dan

Daerah

Evaluasi
(Lembaran

Negara Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara


Nomor 4817);
42. Peraturan

Pemerintah

Nomor

26

Tahun

2008

tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara


Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4833);
43. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air
Tanah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 83, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4859);
44. Peraturan

Pemerintah

Nomor

34

Tahun

2009

tentang

Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara


Tahun 2009 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5004);
45. Peraturan

Pemerintah

Nomor

61

Tahun

2009

tentang

Kepelabuhanan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 151,


Tambahan Lembaran Negara Nomor 5070);
46. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah
Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 28,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5110);
47. Peraturan

Pemerintah

Nomor

23

Tahun

2010

tentang

Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan


PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-15

LAPORAN PENDAHULUAN

Batubara

(Lembaran

Negara

Tahun

2010

Nomor

29,

Tambahan Lembaran Negara Nomor 5111);


48. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 Tentang Ketelitian

Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara Tahun 2013


Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5393);
49. Keputusan

Presiden

Nomor

32

Tahun

1990

tentang

Pengelolaan Kawasan Lindung;


50. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun Tahun 20092014;


51. Peraturan

Presiden

Nomor

71

Tahun

2012

tentang

Penyelenggaran Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk


Kepentingan Umum;
52. Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan
Koordinasi Penataan Ruang Nasional;
53. Peraturan

Menteri

01.P/47/MPE/1992

Pertambangan
tentang

Ruang

dan
Bebas

Energi
Saluran

Nomor
Udara

Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra


Tinggi (SUTET);
54. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun
2006 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib
dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (AMDAL);
55. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan;
56. Peraturan

Menteri

Komunikasi

dan

Informatika

Nomor

02/PER/M.KOMINFO/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan


dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi;
57. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun
2008 tentang Tata Kerja Komisi Penilai Analisis mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL);

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-16

LAPORAN PENDAHULUAN

58. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11


Tahun 2008 tentang Tata Cara Penetapan Wilayah Kerja
Pertambangan Panas Bumi;
59. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008
tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah
tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
60. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2008

tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di


Daerah;
61. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/PRT/M/2009
tentang Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah

Provinsi

dan

Rencana

Tata

Ruang

Wilayah

Kabupaten/Kota, beserta Rencana Rincinya;


62. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2009
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten;
63. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2011

tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis;


64. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2011

tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang


dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota;
65. Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 17

Tahun 2012 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst;


66. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor
1457.K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Lingkungan di Bidang Pertambangan dan Energi;
67. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 147 Tahun 2004
tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
68. Surat Edaran Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian

Pekerjaan Umum No. 06/SE/Dr/2011 tentang Petunjuk Teknis


Lokasi Menara Telekomunikasi;
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-17

LAPORAN PENDAHULUAN

69. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003


tentang Pengelolaan Hutan di Jawa Timur;
70. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur
2005-2020;
71. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2008
tentang

Pengelolaan

Kualitas

Air

dan

Pengendalian

Pencemaran Air di Propinsi Jawa Timur;


72. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahun 20052025;
73. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012

tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur


2011-2031;
74. Peraturan Gubernur Propinsi Jawa Timur Nomor 61 Tahun
2006

tentang

Pemanfaatan

Ruang

Pada

Kawasan

Pengendalian Ketat Skala Regional Provinsi Jawa Timur;


75. Peraturan Gubernur Propinsi Jawa Timur Nomor 34 Tahun

2013 tentang Mekanisme Pemberian Persetujuan Substansi


Rancangan

Perda

Kabupaten/Kota

tentang

RDTR

BWP

Kabupaten Kota; dan


Peraturan Daerah Kabupaten Pacitan Nomor 3 Tahun 2010
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pacitan
2009-2028.
1.5

PENDEKATAN PERENCANAAN

1.5.1 Dasar Perencanaan


A.Pengertian Tata Ruang berdasarkan UU No. 26 Tahun
2007:
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut,
dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai
satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-18

LAPORAN PENDAHULUAN

hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan


hidupnya.
2. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
3. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman
dari sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi
sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat
yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
4. Pola ruang adalah distribusi peruntukkan ruang dalam
suatu wilayah yang meliputi peruntukkan ruang untuk
fungsi lindung

dan peruntukkan ruang untuk fungsi budi

daya.
5. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan
tata

ruang,

pemanfataan

ruang,

dan

pengendalian

pemanfaatan ruang.
6. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang
meliputi

pengaturan,

pembinaan,

pelaksanaan,

dan

pengawasan penataan ruang.


B.Beberapa pengertian yang berkaitan dengan zonasi,
antara lain:
1. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan
karakteristik lingkungan yang spesifik.
2. Zoning adalah pembagian kawasan ke dalam beberapa
zona sesuai dengan fungsi dan karakteristik semula atau
diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.
3. Zoning regulation dapat didefinisikan sebagai ketentuan
yang mengatur tentang klasifikasi, notasi dan kodifikasi
zona-zona

dasar,

pembangunan

dan

peraturan
berbagai

penggunaan,
prosedur

peraturan

pelaksanaan

pembangunan.
4. Dasar bagi penyusunan Penyusunan RDTRadalah Rencana
Rinci Tata Ruang.
1.5.2

Materi Peraturan Zonasi


Materi penyusunan Penyusunan RDTRBWP Punung terdiri

dari:
1. Penyusunan RDTR(ZoningText)

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-19

LAPORAN PENDAHULUAN

2. Peta Zonasi (Zoning Map)


Penyusunan

Penyusunan

RDTRBWP

Punung

meliputi

tahapan sebagai berikut:


1. Penyusunan klasifikasi zonasi
2. Penyusunan daftar kegiatan
3. Penetapan/delineasi blok peruntukan
4. Penyusunan aturan teknis zonasi
a.

Kegiatan dan penggunaan lahan

b.

Intensitas pemanfaatan ruang

c.

Tata massa bangunan

d.

Prasarana

e.

Lain-lain/tambahan

f.

Aturan khusus

5. Identifikasi

kecenderungan

perkembangan

kawasan

berdasarkan RDTRK dalam blok peruntukan kawasan.


6. Penyusunan standar teknis
7. Pemilihan teknik pengaturan zonasi
8. Penyusunan peta zonasi
9. Penyusunan aturan pelaksanaan
10.

Penyusunan perhitungan dampak

11.

Peran serta masyarakat

12.

Penyusunan aturan administrasi zonasi

1.5.3 Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas
beberapa hal antara lain sebagai berikut:
Mekanisme

advis

planning

perijinan

sampai

dengan

pemberian ijin alokasi bagi kegiatan usaha di setiap


kecamatan.
Mekanisme

pemberian

insentif

dan

disinsentif

bagi

kawasan yang didorong pengembangannya, kawasan yang


dibatasi pengembangannya, serta terhadap upaya-upaya

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-20

LAPORAN PENDAHULUAN

perwujudan ruang yang menjaga konsistensi pembangunan


dan

keserasian

perkembangan

bagian

kawasan,

dan

rencana kawasan perdesaan, Rencana Tata Ruang Wilayah


Kabupaten.
Mekanisme pemberian kompensasi berupa mekanisme
penggantian yang diberikan kepada masyarakat pemegang
hak atas tanah, pengelolaan sumber daya alam seperti
hutan, tambang, bahan galian, kawasan lindung yang
mengalami kerugian akibat perubahan nilai ruang dan
pelaksanaan pembangunan sesuai dengan rencana tata
ruang.
Mekanisme pelaporan mencakup mekanisme pemberian
informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang,
dilakukan

oleh

masyarakat

dan

instansi

yang

berwewenang.
Mekanisme pemantauan yang mencakup pengalaman,
pemeriksaan, dengan cermat perubahan kualitas tata
ruang dan lingkungan yang tidak sesuai, dilakukan oleh
instansi yang berwenang.
Mekanisme evaluasi dilakukan untuk menilai kemajuan
kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan
rencana

tata

instansi yang
Mekanisme

ruang, dilakukan
Penyelenggaraan
Penyelenggaraan
Penataan
Ruang
Penataan Ruang
berwenang.
pengenaan

sanksi

administrasi, pidana, dan perdata.

Pengaturan
Pengaturan

oleh

masyarakat

mencakup

Pembinaan
Pembinaan

Pelaksanaan
Pelaksanaan

Pengawasan
Pengawasan

Perencanaan
Perencanaan

Pemanfaatan
Pemanfaatan

Pengendalian
Pengendalian

Program PR
Program PR
Pembiayaan
Pembiayaan

dan

sanksi

Peraturan Zonasi
Peraturan Zonasi
Perijinan
Perijinan

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN


PACITAN
Insentif
& Disinsentif I-21
Insentif & Disinsentif

Pengenaan Sanksi
Pengenaan Sanksi

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 1. 1 Lingkup Pengendalian Penyusunan RDTR


Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 Pasal 14

1.6

Metodelogi

Penyusunan

RDTR

dan

Peraturan

Zonasi

merupakan

ketentuan yang mengatur pemanfaatan ruang dan unsur-unsur


pengendalian yang disusun untuk setiap zona peruntukan sesuai
dengan

rencana

rinci

tata

ruang.

Penyusunan

RDTRberisi

ketentuan yang harus, yang boleh, atau yang tidak boleh


dilaksanakan pada zona pemanfaatan ruang yang dapat terdiri
atas ketentuan tentang amplop ruang (koefisien dasar hijau,
koefisien dasar bangunan, koefisien lantai bangunan, dan garis
sempadan bangunan), penyediaan sarana dan prasarana, serta
ketentuan lain yang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang yang
aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Ketentuan lain
yang dibutuhkan, antara lain, adalah ketentuan pemanfaatan
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-22

LAPORAN PENDAHULUAN

ruang

yang

terkait

dengan

pembangunan

pemancar

alat

komunikasi, dan pembangunan jaringan listrik tegangan tinggi.


Dalam penataan ruang, Penyusunan RDTR dan Peraturan zonasi
mempunyai kedudukan sebagai berikut:
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN)
(RTRWN)
Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP)
Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP)

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten
(RTRWK)
(RTRWK)
Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan
Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK)
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK)

PERATURAN ZONASI
PERATURAN ZONASI

Gambar 1. 2
Kedudukan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Dalam
Panataaan Ruang

Adapun tahap-tahap penyusunan Penyusunan RDTR BWP


Punung tersebut adalah:
1. Penyusunan Klasifikasi Zonasi

Tujuan klasifikasi zonasi adalah untuk: (i) menetapkan


zonasi yang akan dikembangkan pada suatu wilayah/kawasan
serta

(ii)

menyusun

hirarki

zonasi

berdasarkan

tingkat

gangguannya berikut penetapan dan pembakuan kode/notasi


zonasinya berdasarkan teori, kajian dan ketentuan yang berlaku.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-23

LAPORAN PENDAHULUAN

Adapun pemilihan hirarki zonasi sebagai dasar pengaturan


didasarkan pada hirarki sebagai berikut:
1.

Peruntukan Zona Hirarki 1


Peruntukan dasar, terdiri atas peruntukan ruang untuk
budidaya dan lindung.

2.

Peruntukan Zona Hirarki 2


Menunjukkan penggunaan secara umum, seperti yang
tercantum pada RTRW Nasional (PP No. 26 Tahun 2008
tentang RTRW Nasional).

3.

Peruntukan Zona Hirarki 3


Menunjukkan penggunaan secara umum, seperti yang
tercantum pada RTRW Propinsi (Perda Propinsi Jatim No. 2
Tahun 2006) dan RTRW Kabupaten (Perda Kabupaten No 3
Tahun

2010)

atau

yang

dikembangkan

berdasarkan

rencana tersebut.
4.

Peruntukan Zona Hirarki 4


Menunjukkan penggunaan secara umum, seperti yang
tercantum pada RDTR BWP Punung tahun 2012 atau yang
dikembangkan berdasarkan rencana tersebut.

5.

Peruntukan Zona Hirarki 5


Menunjukkan penggunaan yang lebih detail/rinci untuk
setiap peruntukan hirarki 4, mencakup blok peruntukan
dan tata cara/aturan pemanfaatannya.

2. Penyusunan Daftar Kegiatan

Daftar kegiatan adalah suatu daftar yang berisi rincian


kegiatan yang ada, mungkin ada, atau prospektif dikembangkan
pada suatu zona yang ditetapkan. Yang disusun berdasarkan:
a.

Kajian

literatur,

perbandingan

dari

peraturan
berbagai

perundangan,

contoh

maupun

dan
review

dokumen rencana yang telah ada seperti RTRW Kabupaten


Pacitan tahun 2010, RDTR BWP Punung Tahun 2012 dan
kebijakan lain yang berkaitan
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-24

LAPORAN PENDAHULUAN

b.

Skala/tingkat pelayanan kegiatan berdasarkan standar


pelayanan yang berlaku (misalnya standar Departemen
PU);

c.

Jenis kegiatan dan jenis pemanfaatan lahan yang sudah


berkembang (pengamatan empiris)

d.

Jenis kegiatan yang spesifik yang belum terdaftar

e.

Jenis kegiatan yang prospektif berkembang

3. Penetapan/Delineasi Blok Peruntukan

Blok peruntukan adalah sebidang lahan yang dibatasi


sekurang-kurangnya oleh batasan fisik yang nyata (seperti
jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara
tegangan (ekstra) tinggi, pantai, dan lain-lain), maupun yang
belum nyata (rencana jaringan jalan dan rencana jaringan
prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota).
Nomor blok peruntukan adalah nomor yang diberikan pada
setiap blok peruntukan.
Batasan fisik yang nyata dapat berupa:
-

jaringan jalan,

sungai, saluran irigasi, selokan,

saluran udara tegangan (ekstra) tinggi,

garis pantai, dan lain-lain.

Batas blok peruntukan yang belum nyata dapat berupa:


-

rencana jaringan jalan,

rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai


dengan rencana kota dan rencana sektoral lainnya.
Dalam menetapkan blok-blok peruntukan sebagai unit

lingkungan dengan konfigurasi tertentu didasarkan atas kriteria


pengaturan blok berikut:
a. Menggambarkan ukuran, fungsi serta karakter kegiatan
manusia dan atau kegiatan alam

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-25

LAPORAN PENDAHULUAN

b. Setiap blok memiliki kesamaan fungsi dan karakteristik


yang akan dibentuk
c. Memiliki homogenitas pemanfaatan ruang dan kesamaan
karakteristik serta kemungkinan pengembangannya
d. Kebutuhan pemilahan dan strategi pengembangannya
e. Secara fisik mengikuti morfologi blok, pola/pattern dan
ukuran

blok,

kemudahan

implementasi

dan

prioritas

daya

dukung

strategi
f. Pertimbangan

keseimbangan

dengan

lingkungan, dan perwujudan sistem ekologi


g. Terciptanya peningkatan kualitas lingkungan yang aman,
nyaman, sehat, menarik dan berwawasan ekologis (ruang
terbuka hijau dan tata hijau)
h. Suatu blok peruntukan padat dipecah menjadi 2 atau lebih
sub blok.
Pertimbangan penetapan batas blok/subblok
-

Kesamaan

(homogenitas)

pemanfaatan ruang/lahan.
-

Batasan

fisik

seperti

GSJ
GSJ

jalan,

GSB

gang, sungai, brandgang atau


batas persil.
-

Orientasi Bangunan.

Lapis bangunan.
Pembangunan

BLOK
PERUNTUKAN
GSB
GSJ
GSJ

dan

pemanfaatan ruang yang terarah


memerlukan peraturan, panduan atau ketentuan yang jelas,
mudah dipahami, logis (dapat dipertanggungjawabkan) dan
menjadi rujukan bagi pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.
Shirvani (1985: 150-152) mengelompokkan panduan dalam dua
bentuk, yaitu:

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-26

LAPORAN PENDAHULUAN

a.

Panduan preskriptif (prescriptive guidelines)


Peraturan preskriptif adalah peraturan yang memberikan
ketentuan-ketentuan yang dibuat sangat ketat, rinci dan
terukur sehingga mudah dan jelas untuk diterapkan serta
kecil

kemungkinan

terjadinya

pelanggaran

dalam

pelaksanaannya.
Contoh: luas minimum (m2), tinggi maksimum (m atau
lantai),
b.

Panduan kinerja (performance guidelines),


Peraturan kinerja adalah peraturan yang menyediakan
berbagai ukuran serta kriteria kinerja dalam memberikan
panduannya. Ketentuan dalam peraturan kinerja tersebut
tidak

ketat,

tetapi

didasarkan

pada

kriteria/batasan

tertentu sehingga perencana lebih bebas berkreasi dan


berinovasi. Karena itu, hasil rancangannya akan lebih
beragam (Shirvani, 1985 : 151-152).
Contoh: kegiatan baru tidak boleh menurunkan rasio
volume lalu-lintas dan kapasitas jalan (V/C ratio) di
bawah D, kegiatan pada malam hari tidak boleh
menimbulkan kebisingan di atas 60 dB.
4.

Penyusunan Peraturan Teknis Zonasi


Peraturan

teknis

zonasi

adalah

aturan

pada

suatu

zonasi/blok peruntukan yang berisi ketentuan pemanfaatan


ruang baik berupa aturan wajib, aturan anjuran atau aturan
khusus.
Aturan wajib bersifat mengikat/wajib diikuti/ditaati (disusun
berdasarkan ketentuan peruntukan sesuai dengan fungsi dan
peran ruang yang telah ditetapkan) meliputi: (a) peruntukan
ruang;

(b)

intensitas

pemanfaatan

ruang;

(c)

kepadatan

penduduk; (d) pemecahan blok dan sub blok; (e) kebutuhan


sarana dan prasarana kawasan.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-27

LAPORAN PENDAHULUAN

Aturan anjuran disusun untuk melengkapi aturan wajib


yang telah disepakati bersama pemegang hak atas tanah dan
pihak regulasi, sehingga dapat ditaati atau diikuti, meliputi: (a)
kualitas lingkungan; (b) arahan bentuk, dimensi, gubahan dan
perletakan dari suatu bangunan atau komposisi bangunan; (c)
sirkulasi kendaraan; (d) sirkulasi pejalan kaki; (e) pedestrian dan
pedagang kaki lima; (f) ruang terbuka hijau dengan fasilitas dan
tidak berfasilitas; (g) utilitas bangunan dan lingkungan; (h) wajah
arsitektur.
Kegiatan dan penggunaan lahan
Aturan kegiatan dan penggunaan lahan adalah aturan yang
berisi

kegiatan

yang

diperbolehkan,

diperbolehkan

bersyarat, diperbolehkan terbatas atau dilarang pada suatu


zona peruntukan ruang yang dinyatakan dengan klasifikasi
sebagai berikut:
I = Pemanfaatan diijinkan

Karena sifatnya sesuai dengan peruntukan ruang


yang direncanakan, hal ini berarti tidak akan ada
peninjauan atau pembahasan atau tindakan lain
dari pemerintah kabupaten terhadap pemanfaatan
lahan/ruang

tersebut

pemanfaatan

yang

(notasi:

sesuai

I-0

dengan

untuk
rencana

peruntukannya dan I-1 untuk pemanfaatkan yang


tidak sesuai dengan rencana peruntukannya).
T

= Pemanfaatan diijinkan secara

terbatas
Pembatasan dilakukan melalui penentuan standar
pembangunan

minimum,

pembatasan

pengoperasian atau peraturan tambahan lainnya


yang

berlaku

di

wilayah

kabupaten

yang

bersangkutan.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-28

LAPORAN PENDAHULUAN

B = Pemanfaatan memerlukan ijin

penggunaan bersyarat
Bersyarat

sehubungan

dengan

usaha

menanggulangi dampak penggunaan lahan dan


pembangunan

terhadap

lingkungan

sekitarnya

(menginternalisasi dampak); dapat berupa AMDAL,


UKL, dan UPL, persyaratan lahan parkir, dan lainlain.
X = Pemanfaatan yang tidak diijinkan

Karena sifatnya tidak sesuai dengan peruntukan


lahan yang direncanakan dan dapat menimbulkan
dampak yang cukup besar bagi lingkungan di
sekitarnya.

Intensitas pemanfaatan ruang


Intensitas

pemanfaatan

ruang

adalah

besaran

pembangunan yang diperbolehkan berdasarkan batasan


KDB, KLB, KDH atau kepadatan penduduk.
Aturan intensitas pemanfaatan ruang minimum terdiri dari:
-

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimum

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) maksimum

Koefisien dasar Hijau (KDH) minimum

Aturan

yang

dapat

ditambahkan

dalam

intensitas

pemanfaatan ruang antara lain:


-

Koefisien Tapak Basemen (KTB) maksimum

Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) maksimum

Kepadatan bangunan atau unit maksimum

Kepadatan penduduk minimum

Tata massa bangunan

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-29

LAPORAN PENDAHULUAN

Tata massa bangunan adalah bentuk, besaran, peletakan,


dan tampilan bangunan pada suatu persil/tapak yang
dikuasai, mencakup pengaturan antara lain:
-

Garis sempadan bangunan (GSB) minimum;

Jarak bebas antarbangunan minimum;

Tinggi bangunan maksimum atau minimum;

Amplop bangunan;

Tampilan bangunan (opsional);

Dan aturan lain yang dianggap perlu.

GSB minimum ditetapkan dengan mempertimbangkan


keselamatan, risiko kebakaran, kesehatan, kenyamanan
dan estetika.
Prasarana Minimum
Prasarana

minimum

adalah

kelengkapan

dasar

fisik

lingkungan yang memungkinkan sebuah lingkungan dapat


berfungsi sebagaimana mestinya. Cakupan prasarana yang
diatur

dalam

Penyusunan

RDTR

minimum

adalah

prasarana:
-

Dimensi

jaringan

jalan

dan

kelengkapannya

(streetscape)
-

Bongkar muat

Parkir

Kelengkapan prasarana lainnya yang dianggap perlu.

Lain-lain/tambahan
Aturan lain dapat ditambahkan pada setiap zonasi. Untuk
beberapa kegiatan yang diperbolehkan, misalnya:
-

Kegiatan usaha yang diperbolehkan di zona hunian


(usaha rumahan, warung, salon, dokter praktek, dan
lain-lain);

Larangan

penjualan

produk,

tapi

penjualan

jasa

diperbolehkan;
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-30

LAPORAN PENDAHULUAN

Batasan luas atau persentase (%) maksimum dari luas


lantai (misalnya: kegiatan tambahan, seperti salon,
warung, fotokopi diperbolehkan dengan batas tidak
melebihi 25% dari KDB);

Aturan

perubahan

pemanfaatan

ruang

yang

diperbolehkan.
Aturan khusus
Penambahan aturan khusus untuk pemanfaatan lahan pada
sebuah zonasi/blok peruntukan disesuaikan dengan kondisi
khusus dari pemanfaatan lahan tersebut atau lahan di
sekitarnya yang terkait. Contoh aturan kawasan khusus
meliputi:
-

Aturan

untuk

Kawasan

Keselamatan

Operasi

Penerbangan (KKOP)

5.

Aturan untuk kawasan cagar budaya

Aturan untuk kawasan rawan bencana

Penyusunan Standar Teknis


Standar adalah suatu spesifikasi teknis atau sesuatu yang

dibakukan, disusun berdasarkan konsensus semua pihak terkait,


dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keamanan,
keselamatan, lingkungan, perkembangan IPTEK, pengalaman,
perkembangan masa kini dan mendatang untuk memperoleh
manfaat yang sebesar-besarnya.
Pemilihan dan penetapan standar dapat merujuk pada:
-

Standar Nasional Indonesia (SNI)

Ketentuan-ketentuan sektoral lainnya

Ketentuan lain yang bersifat lokal

Secara

umum

standar

dapat

diklasifikasikan

sebagai

berikut:

Standar
panduan

preskriptif,
yang

sangat

standar
ketat,

yang
rinci,

memberikan
terukur,

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

serta

I-31

LAPORAN PENDAHULUAN

seringkali

dilengkapi

rancangan

Memberikan

desain.

Dan

kemudahan

pelaksanaan/penggunaannya,
perancang/arsitek

dalam

tetapi

dalam

membatasi

menuangkan

kreasinya

(Brough, 1985) yang terdiri dari:


-

Standar kuantitatif: kuantitatif menetapkan secara


pasti

ukuran

maksimum

atau

diperlukan,

biasanya

mengacu

minimum.

Contoh

standar

maksimum

60%,

KLB

minimum
pada

yang

kebutuhan

kuantitatif:

maksimum

3,00;

KDB
tinggi

bangunan maksimum 3 lantai, atau 16 m


-

Standar

desain:

Standar

desain

merupakan

kelanjutan atau kelengkapan dari standar kuantitatif.


Contoh standard desain parkir dan tikungan jalan

Standar kinerja, adalah standar yang dirancang untuk


menghasilkan solusi rancangan yang tidak mengatur
langkah penyelesaian secara spesifik.
-

Standar subyektif: standar yang menggunakan


ukuran

subyektif/deskriptif

sebagai

ukuran

kinerjanya. Contoh standar subyektif; penambahan


bangunan

tidak

boleh

mengurangi

keindahan,

kenyamanan, kemudahan, dan keselamatan.


-

Standar
ukuran

kualitatif:
kinerja

dari

standar
suatu

yang

menetapkan

kegiatan

dengan

menggunakan ukuran maksimum atau minimum.


Contoh: batas minimum tingkat pelayanan tidak
boleh kurang dari D.
Standar yang diterapkan dalam Penyusunan RDTR dan
peraturan zonasi dapat merupakan campuran dari jenis standar
di atas. Pilihan jenis standar disesuaikan dengan kebutuhan
pengaturan.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-32

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian Konsep Peraturan Zonasi


Konsep Penyusunan RDTR dan peraturan zonasi akan
memberikan suatu instrumen pengendalian pada kawasankawasan strategis propinsi sebelum Penyusunan RDTR dan
peraturan zonasi pada masing-masing kawasan tersusun.
Dan juga dapat digunakan sebagai pedoman secara umum
dalam penyusunan Penyusunan RDTR dan peraturan zonasi
bagi kawasan strategis yang direncanakan. Berdasarkan
gambar di atas maka dapat diketahui bahwa konsep
Penyusunan RDTR akan menjadi bahan verifikasi atau
panduan adalam penyusunan aturan peraturan zonasi
pada kawasan yang lebih rinci.
B. Metoda Penyusunan Konsep Peraturan Zonasi
Berikut ini adalah penjelasan mengenai bagan alir kegiatan
penyusunan peraturan zonasi:

Aspek-aspek pengendalian yang terkait disesuaikan


dengan hasil verifikasi antara UU No. 26 Tahun 2007,
RTRW Nasional, RTRW Kabupaten Pacitandan peraturan
terkait lainnya.

Pada masing-masing aspek diambil 1 (satu) studi


kasus

Pada masing-masing studi kasus harus diketahui land


use (penggunaan lahan) eksisting untuk dibuat land
redjusment

(terkait

dengan

pola

dan

struktur

penggunaan lahan yang direncanakan).

Dari

penentuan

land

redjusment,

maka

dapat

disusun klasifikasi zona beserta daftar kegiatan yang


diperkirakan

ada

pada

klasifikasinya

berada

zona

pada

tersebut.

hierarki

Adapun
(menurut

lampiran 2, Panduan Zoning Departemen PU, 2006).

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-33

LAPORAN PENDAHULUAN

Hierarki 5 merupakan lingkup yang paling rinci/mikro,


penggunaan

hierarki

bertujuan

agar

instrumen

pengendalian dapat diaplikasikan secara riil/faktual di


lapangan.

Output yang diharapkan adalah tersusunnya zoning


text (atau yang lebih dikenal dengan matriks zoning)
dan zoning map (peta blok-blok zoning). Selain itu juga
disusun

ketentuan-ketentuan

teknis

terkait

dengan

pemanfaatan ruang dan penanggulangan dampak.


Adapun bagan alir tersebut dapat digambarkan seperti
Gambar 1.4.
Berdasarkan peraturan-peraturan yang ada, mulai dari UU
No. 26 Tahun 2007 hingga PERGUB 61 JATIM, maka disusunlah
Zoning Regulation BWP Punung. Beberapa aspek yang perlu
diidentifikasi, yaitu, pertahanan dan keamanan , sosial budaya,
jaringan

transportasi

wilayah,

pertumbuhan

ekonomi,

penggunaan SDA/ teknologi tinggi, jaringan prasarana wilayah,


serta fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yang ada di
dalam BWP Punung.
Dari hasil identifikasi aspek-aspek yang ada, maka akan
diketahui potensi wilayah perencanaan dan disesuaikan dengan
penggunaan lahan yang ada saat ini. Berdasarkan rencana dari
dokumen tata ruang yang ada dan kondisi eksisting, maka
dilakukan penyesuaian penggunaan lahan untuk ke depannya,
sehingga diperoleh klasifikasi zonasi menurut daftar kegiatan
yang dibuat, serta dilakukan penyusunan zoning map. Dari hal
tersebut, maka disusunlah zoning text.
Zoning text tersebut nantinya akan dibuat ke dalam
matriks zoning regulation yang berisi pengaturan kegiatan pada
suatu zona, pengaturan kegiatan antar jenis zona, pengaturan

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-34

LAPORAN PENDAHULUAN

intensitas

pemanfaatan

ruang,

pengaturan

prasarana,

dan

pengaturan ketentuan teknis lainnya.


Zoning text dan zoning maps merupakan satu kesatuan
yang saling melengkapi. Zoning maps berupa peta dari zoning
regulation menurut daftar kegiatannya, sedangkan zoning text
merupakan penjelasan dari zoning maps yang ada.
UU
UU PR
PR NO.
NO. 26/2007
26/2007
RTRW
RTRW KAB.
KAB. Malang
Malang
2010
2010
PERGUB
61
JATIM
PERGUB 61 JATIM

ASPEK
ASPEK YANG
YANG DIIDENTIFIKASI
DIIDENTIFIKASI

PERTUMBUHAN
PERTUMBUHAN
EKONOMI
EKONOMI

HANKAM
HANKAM

PENGGUNAAN
PENGGUNAAN
SDA/TEKNOLOGI
SDA/TEKNOLOGI TINGGI
TINGGI

SOSIAL
SOSIAL BUDAYA
BUDAYA

JARINGAN
JARINGAN
PRASARANA
PRASARANA
WILAYAH
WILAYAH

JARINGAN
JARINGAN
TRANSPORTASI
TRANSPORTASI
WILAYAH
WILAYAH

FUNGSI
FUNGSI DAN
DAN DAYA
DAYA DUKUNG
DUKUNG
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN HIDUP
HIDUP

POTENSI
POTENSI LOKASI
LOKASI
PENENTUAN
CONTOH KASUS
LAND
LAND USE
USE EKSISTING
EKSISTING

PERMEN PU No.
20/PRT/M/2011
(Pedoman
Penyusunan RDTR &
Peraturan Zonasi Kota/
Kab.)

MASINGMASING ASPEK

LAND READJUSTMENT

LANDPerkotaan
READJUSTMENT
(Ev/ Rev RDTRK
Bululawang 2012)
(Ev/ Rev RDTRK Perkotaan Bululawang 2012)

KLASIFIKASI
KLASIFIKASI ZONASI
ZONASI
KEGIATAN HIERARKI 5
(LINGKUP RINCI)

DAFTAR
DAFTAR KEGIATAN
KEGIATAN

PENYUSUNAN
PENYUSUNAN ZONING
ZONING
TEXT
TEXT

NSPM
NSPM

PENGATURAN
PENGATURAN
KEGIATAN
KEGIATAN
PADA
PADA SUATU
SUATU
ZONA
ZONA

MATRIKS
MATRIKS KETENTUAN
KETENTUAN
ZONASI
ZONASI

PENGATURAN
PENGATURAN
KEGIATAN
KEGIATAN ANTAR
ANTAR
JENIS
JENIS ZONA
ZONA
(KETENTUAN:
(KETENTUAN:
I,B,T)
I,B,T)

PENGATURAN
PENGATURAN
INTENSITAS
INTENSITAS
PEMANFAATAN
PEMANFAATAN
RUANG
RUANG

PENYUSUNAN
PENYUSUNAN ZONING
ZONING MAPS
MAPS

PENYUSUNAN
PENYUSUNAN ATURAN
ATURAN
PENGENDALIAN
PENGENDALIAN
DAMPAK
DAMPAK

PENGATURAN
PENGATURAN
PRASARANA
PRASARANA

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

PENGATURAN
PENGATURAN
KETENTUAN
KETENTUAN
TEKNIS
TEKNIS
LAINNYA
LAINNYA

I-35

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 1. 4

Kerangka Berpikir Penyusunan Konsep Penyusunan RDTR BWP


Punung

Berdasarkan bagan alir di atas, maka disusunlah konsep


zoning

pada

ke

tujuh

aspek

yang

diidentifikasi

dengan

mengambil satu studi kasus untuk masing-masing aspek. Untuk


lebih detail dapat dlihat pada lampiran yang terdiri dari;
1.

Tabel Konsep Penyusunan RDTR

2.

Zoning Map

3.

Matriks Konsep Peraturan Zonasi

Untuk

mempermudah

dalam

menginterpretasi

ketiga

lampiran di atas, berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai


3 lampiran di atas;

Kolom 1

TGL EKSISTING
TGL EKSISTING

Kolom 2

KLASIFIKASI ZONA
KLASIFIKASI ZONA

KEGIATAN YG DAPAT
KEGIATAN
YG DAPAT
DIKEMBANGKAN
DIKEMBANGKAN

Kolom 3

PENGATURAN SARANA
PENGATURAN
SARANA
PRASARANA
PRASARANA

Kolom 4

PENGATURAN TEKNIS
PENGATURAN TEKNIS
LAINNYA
LAINNYA

Kolom 5

Gambar 1. 5 Tabel Konsep Peraturan Zonasi

Kolom 1: berisi tentang kondisi penggunaan lahan


secara eksisting berdasarkan hasil survey primer di
lapangan.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-36

LAPORAN PENDAHULUAN

Kolom 2: menentukan klasifikasi zona yang ada pada


wilayah

perencanaan

berdasarkan

pada

simbol/notasi/legenda peta sebagai identifikasi objek


zonasi pemanfaatan ruang.

Kolom 3: berdasarkan perkembangan penggunaan


lahan eksisting, maka dapat diperkirakan kegiatan apa
saja yang dapat dikembangkan pada blok tersebut
menurut klasifikasi zonanya.

Kolom 4: pengaturan sarana dan prasarana pada


masing-masing klasifikasi zona.

Kolom

5:

ketentuan

teknis

yang

terkait

dengan

pemanfaatan ruang disesuaikan dengan tipe kawasan.


Tahap

pertama

sebagai

acuan

dalam

penyusunan

Penyusunan RDTRdiawali review hasil evaluasi/ revisi

RDTRK

BWP Punung Tahun 2012 dan penggunaan lahan eksisting yang


dijadikan dasar dalam peraturan zonasi. Dalam hal ini dapat
diketahui

trend kecenderungan perkembangan dalam suatu

kawasan sehingga dapat direncanakan perubahan zonasi yang


akan disesuaikan dengan kawasan perblok peruntukan kawasan.
Untk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

KERANGKA KERJA
PENYUSUNAN PERATURAN
ZONASI
POLA
POLA RUANG:
RUANG:

RDTRK

Kawasan
Kawasan Lindung
Lindung
Kawasan
Kawasan Budaya
Budaya
KESESUAIAN
KESESUAIAN
FUNGSI
FUNGSI LAHAN
LAHAN

LAND
LAND USE
USE
EKSISTIN
EKSISTIN
G
G

KECENDERUNGAN
KECENDERUNGAN
PERKEMBANGAN
PERKEMBANGAN
Ketentuan
Ketentuan
Peraturan
Peraturan
Zonasi
Zonasi

PERUBAHAN
PERUBAHAN ZONA
ZONA DENGAN
DENGAN SYARAT:
SYARAT:
Pengaturan
Pengaturan Teknis
Teknis
Pengaturan
Pengaturan sarana
sarana && prasarana
prasarana
Pengaturan
Pengaturan Intensitas
Intensitas Pemanfaatan
Pemanfaatan Ruang
Ruang

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-37

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 1. 6
Alur kajian Penyusunan Penyusunan RDTR dan
Peraturan Zonasi

Pemilihan Teknik Pengaturan Zonasi

6.

Teknik pengaturan zonasi adalah berbagai varian dari


zoning konvensional yang dikembangkan untuk memberikan
keluwesan penerapan aturan zonasi. Teknik pengaturan zonasi
dapat dipilih dari berbagai alternatif dengan mempertimbangkan
tujuan pengaturan yang ingin dicapai. Setiap teknik mempunyai
karakteristik, tujuan, konsekuensi dan dampak yang berbeda.
Oleh karena itu, pemilihannya harus dipertimbangkan dengan
hati-hati.

Alternatif

teknik

pengaturan

zonasi

yang

dapat

diterapkan antara lain:


-

Bonus/insentive zoning

Performance zoning

Fiscal zoning

Special zoning

Exclusionary zoning

Contract zoning

Negotiated development

Dan teknik lainnya yang dianggap sesuai, meliputi:

Overlay Zone

Floating Zone

Flood Plain Zone

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-38

LAPORAN PENDAHULUAN

Conditional Uses

Growth Control

Berdasarkan

bagan

di

atas

diketahui

bahwa

untuk

menyusun Zoning Regulation perlu adanya tinjauan eksternal


makro dari Kabupaten Pacitan, Kondisi eksternal terdiri atas
akses dari dalam wilayah BWP Punung menuju ke luar dan
sebaliknya, serta fungsi kawasan. Kondisi internal terdiri atas
kelayakan lahan dan distribusi ruang yang digunakan. Dari
distribusi

ruang

tersebut

diketahui

apa

yang

sudah

ada

(eksisting) dan yang sesuai rencana. Dari kedua hal tersebut


dibuatlah trend perkembangan penggunaan lahan, kemudian
membuat klasifikasi perubahan zona. Setelah itu menyusun
daftar kegiatan pada wilayah perencanaan.

REVIEW
REVIEW
KEBIJAKAN
KEBIJAKAN TATA
TATA RUANG
RUANG

HASIL
HASIL RENCANA
RENCANA
KONDISI
KONDISI TERBARU
TERBARU
Isu
Isu baru
baru kawasan
kawasan
Kebijakan
Kebijakan baru
baru
Peraturan
Peraturan baru
baru
TREND
TREND PERKEMBANGAN
PERKEMBANGAN PENGGUNAAN
PENGGUNAAN
LAHAN
LAHAN

KLASIFIKASI
KLASIFIKASI
ZONA
ZONA

DAFTAR
DAFTAR KEGIATAN
KEGIATAN PERKOTAAN
PERKOTAAN BULULAWANG
BULULAWANG
STANDAR
STANDAR TEKNIS
TEKNIS
KETENTUAN
KETENTUAN TEKNIS
TEKNIS PERATURAN
PERATURAN ZONASI
ZONASI

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-39

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 1. 7
Tahapan Penyusunan Zoning Regulation BWP Punung

Sebagai contoh hasil analisis zoning regulation beserta


daftar kegiatannya, berikut ini akan ditampilkan contoh matriks
zoning regulation untuk kawasan industri.
Tabel 1. 1 Contoh Matriks Zoning Regulation Kawasan
Industri
Kegiat

Indus

an

Zona Rencana Pemanfaatan Ruang


Peruma
Fasu
Pelabu

tri

Industr

I-

han
-

m
-

han
-

RTH

B Selama
syarat
jumlah
RTH
minimum
dalam
kawasan
industri
tetap
terpenuhi.

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa


apabila pembangunan industri pada zona industri maka diberi
kode I-0 yang artinya diperbolehkan dan memang zona tersebut
sesuai dengan peruntukannya. Untuk kode (-) pada zona
perumahan, fasum, dan pelabuhan artinya bahwa industri tidak
boleh dibangun pada zona-zona tersebut. Untuk kode B atau
bersyarat pada RTH artinya bahwa industri masih dapat dibangun
Apabila peruntukan suatu

pada RTH dengan syarat bahwa jumlah


RTH
minimum
untuk
zona
adalah
untuk industri
kawasan industri tetap terpenuhi.

dan pada perkembangannya


dibangun industri, maka
diperbolehkan

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-40

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 1. 8 Contoh Peruntukan yang Diperbolehkan

Apabila peruntukan suatu zona


adalah untuk perumahan
developer dan pada
perkembangannya dibangun
industri, maka tidak
diperbolehkan

Gambar 1. 9 Contoh Peruntukan yang Tidak


Diperbolehkan

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-41

LAPORAN PENDAHULUAN

Apabila peruntukan suatu zona


adalah untuk perindustrian dan
pada perkembangannya
dibangun pergudangan, maka
diperbolehkan tapi bersyarat

Gambar 1. 2 Contoh Peruntukan yang Diperbolehkan Tapi


Bersyarat

Apabila peruntukan suatu


zona adalah untuk industri
dan pada perkembangannya
muncul PKL, maka
diperbolehkan tapi terbatas

Gambar 1. 10 Contoh Peruntukan yang Diperbolehkan


Tapi Terbatas

7.

Penyusunan Peta Zonasi

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-42

LAPORAN PENDAHULUAN

Peta zonasi adalah peta yang berisi kode zonasi di atas


blok dan subblok yang telah didelineasikan sebelumnya. Subblok
peruntukan adalah pembagian peruntukan dalam satu blok
peruntukan berdasarkan perbedaan fungsi yang akan dikenakan.
Pertimbangan penetapan kode zonasi di atas peta batas
blok/sub blok dapat didasarkan atas:
a.

Kesamaan karakter blok peruntukan, berdasarkan


pilihan:

Mempertahankan dominasi penggunaan lahan


yang ada (eksisting)

Menetapkan fungsi baru sesuai dengan arahan


fungsi pada RTRW

Menetapkan karakter khusus kawasan yang


diinginkan

Menetapkan tipologi lingkungan/kawasan yang


diinginkan

Menetapkan jenis pemanfaatan ruang/lahan


tertentu

Menetapkan

batas

ukuran

tapak/persil

maksimum/minimum

Menetapkan

batas

intensitas

bangunan

maksimum/minimum

Mengembangkan jenis kegiatan tertentu

Menetapkan

batas

kepadatan

penduduk

bangunan yang diinginkan

Menetapkan penggunaan dan batas intensitas


sesuai dengan daya dukung prasarana yang tersedia.

b.

Kesesuaian dengan ketentuan khusus yang sudah


ada (KKOP, pelabuhan, terminal, dan lain-lain)

c.

Karakteristik

lingkungan

(batasan

fisik)

dan

administrasi
PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-43

LAPORAN PENDAHULUAN

Bila suatu blok peruntukan akan ditetapkan menjadi


beberapa kode zonasi, maka dapat dipecah menjadi sub blok.
Pembagian subblok peruntukan dapat dilakukan berdasarkan
pertimbangan:
-

Kesamaan

(homogenitas)

karakteristik

pemanfaatan

ruang/lahan.
-

Batasan fisik seperti jalan, gang, sungai, atau batas persil.

Orientasi bangunan.

Lapis bangunan.
Peta zonasi dibuat berdasarkan peta wilayah perencanaan

yang telah berbasis GIS dengan skala 1 : 1000.

Peta zonasi

dibuat dalam format file digital menggunakan program aplikasi


Autocad dan Arc-View.
Penyusunan Aturan Pelaksanaan

8.

Materi aturan pelaksanaan terdiri dari:


-

Aturan

mengenai

variansi

yang

berkaitan

dengan

keluwesan/kelonggaran aturan
-

Aturan insentif dan disinsentif

Aturan mengenai perubahan pemanfaatan ruang

Jenis variansi yang diperkenankan dalam pemanfaatan


ruang antara lain:

Minor variance dan non-conforming dimension

Non-conforming use

Interim development

Interim/temporary use
Alternatif bentuk insentif yang dapat diberikan antara lain:

Kemudahan izin;

Penghargaan;

Keringanan pajak;

Kompensasi;

Imbalan;

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-44

LAPORAN PENDAHULUAN

Pola Pengelolaan;

Subsidi prasarana;

Bonus/insentif;

TDR (Transfer of Development Right, Pengalihan Hak


Membangun);

1.7

Ketentuan teknis lainnya.


SISTEMATIKA

Adapun sistematika pelaporan dalam laporan pendahuluan


Penyusunan RDTR BWP Punung adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang penyusunan Penyusunan
RDTR BWP Punung, azas, tujuan, sasaran, dan fungsi
peraturan zonasi, ruang lingkup wilayah dan materi,
dasar hukum penyusunan Peraturan Zonasi, pendekatan
perencanaan, metodologi pendekatan, serta sistematika
pelaporan pendahuluan.
BAB II Tinjauan Kebijakan
Berisi tentang Review Kebijakan sektoral terkait dengan
Penyusunan RDTR Kawasan BWP Punung.
BAB III

Gambaran Umum

Berisi tentang kondisi fisik dasar, kondisi fisik binaan,


kondisi kependudukan, fasilitas, utilitas, serta sistem
transportasi di BWP Punung.
BAB IV

Ruang Lingkup Pekerjaan

Berisi tentang tahap pekerjaan yang akan dilakukan


dalam penyusunan Penyusunan RDTR BWP Punung.
BAB V Mobilisasi Tenaga Kerja
Berisi tentang kewajiban konsultan, serta susunan tenaga
ahli.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-45

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB VI

Jadwal Kegiatan

Berisi tentang jadwal kegiatan, dan sistem pelaporan.

PENYUSUNAN RDTR BWP PUNUNG KABUPATEN PACITAN

I-46