Anda di halaman 1dari 5

MUATAN LOKAL BERBASIS KEUNGGULAN DAERAH

Dinas Pendidikan Bojonegoro menggelar pameran Live Skill tingkat SMP/SMA/MK/,


akhir Oktober lalu. Kegiatan dua tahunan itu dipusatkan di Sekolah Model Terpadu (SMT),
Desa Sukowati, Kecamatan Kapas selama 3 hari dalam rangka memperingati hari jadi Kota
Bojonegoro..
Dalam pameran live skill ini akan ditampilkan karya para pelajar sesuai dengan
potensi lokal yang ada dimasing-masing sekolahnya. Pemeran yang

bertujuan untuk

memotifasi dan meningkatkan kreatifitas pelajar baik sekolah umum maupun kejuruan ini
diikuti oleh semua sekolah di lingkungan dinas pendidikan Kabupaten Bojonegoro.
Saya masih ingat ketika kegiatan ini dilaksanakan pertama kalinya pada tahun 2005
di Gedung Serba Guna, meski masih banyak sekolah yang kebingungan materi apa yang akan
dipamerkan sehingga ledre dan kerajinan kayu jadi primadona; para peserta sudah berusaha
semaksimal mungkin; bahkan sekolah-sekolah yang jauh dari kota terpaksa ada yang
menginap di hotel atau kost selama pelaksanaan pameran.
Mengingat kegiatan ini sudah diadakan untuk ketiga kalinya, sekolah-sekolah
menengah yang ada di lingkungan Dinas pendidikan Kabupaten Bojonegoro tampaknya
sudah lebih siap daripada sebelumnya untuk menampilkan hasil karya unggulannya. Apalagi
dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP), Sekolah-sekolah
dengan mengacu pada standar isi yang disusun oleh Badan standar Nasional pendidikan
(BSNP) sudah menyusun sendiri kurikulumnya termasuk muatan lokal.
Di seluruh Indonesia saat ini, tepatnya sejak tahun 2006 (sesuai Kebijakan Depdiknas
yang tertuang dalam Peraturan Menteri No.22 tahun 2006) mulai dikembangkan Pendidikan
Berbasis Keunggulan Daerah (PBKL). Pemahaman tentang PBKL sangat beragam.
Beberapa berpendapat bahwa PBKL adalah pendidikan untuk mencetak tenaga kerja yang
akan menjadi sumber daya manusia di daerah setempat karenanya PBKL hanya bisa
diselenggarakan di SMK atau sekolah kejuruan.
Penulis berpandangan lain terhadap konsep PBKL. PBKL dicetuskan sejalan dengan
pelimpahan wewenang pengelolaan pendidikan, termasuk penyusunan kurikulum di tingkat
sekolah melalui KTSP, maka PBKL akan sempit makna jika hanya ditujukan kepada
pengembangan SMK. Anggapan bahwa lulusan SMK akan langsung bekerja dan lulusan
SMA akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi adalah teori dan harapan para pembuat
kebijakan. Pada kenyataannya banyak sekali lulusan SMA yang kurang mampu tidak bisa

melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Para lulusan SMA ini bersaing dengan lulusan SMK untuk
memperoleh pekerjaan. Dan banyak perusahaan industri atau bidang jasa yang lebih
mempercayai lulusan SMA karena anggapan bahwa anak-anak yang masuk ke SMK adalah
anak-anak dengan NEM SMP yang rendah. Alasan ini tidak bisa serta merta kita bantah,
karena masyarakat sudah terlanjur beranggapan SMA lebih bermutu daripada SMK, meski itu
belum tentu benar dan masih harus dibuktikan.
Namun demikian yang paling penting adalah memilih muatan lokal yang tepat dan
efektif untuk dikembangkan di sekolah-sekolah di Bojonegoro untuk mempersiapkan sumber
daya manusia yang mempunyai jiwa kewira-usahaan (enterpreneurship) dan dapat survive
nantinya.
Pengertian Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi
yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang
materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam pelajaran yang ada. Substansi mata pelajaran
muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan tidak terbatas pada mata pelajaran
ketrampilan. Pengembangan standar kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata
pelajaran muatan lokal bukanlah pekerjaan yang mudah., karena harus dipersiapkan berbagai
hal untuk mengembangkannya.
Mata pelajaran muatan lokal bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan,
ketrampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap
tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat dalam rangka menunjang
pembangunan nasional dengan nilai-nilai/ aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung
kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional.
Lebih jelas lagi agar peserta didik dapat :
1.

Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya.

2. Memiliki bekal kemampuan dan ketrampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya


yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya.
3. Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/ aturan-aturan yang

berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya


setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Pengembangan Mata Pelajaran muatan Lokal sepenuhnya ditangani oleh sekolah dan
komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara profesional dalam merencanakan,
mengelola dan melaksanakannya. Dengan demikian di samping mendukung pembangunan
daerah dan pembangunan nasional, perencanaan, pengelolaan maupun pelaksanaan muatan
lokal memperhatikan keseimbangan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Untuk mengetahui muatan lokal yang ada pada suatu daerah dapat dilakukan dengan
mendata dan menelaah berbagai keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Data
tersebut dapat diperoleh dari berbagai pihak yang terkait seperti Pemda / Bappeda, Instansi
vertikal terkait, Perguruan Tinggi dan dunia usaha/ industri. Muatan lokal dapat juga ditinjau
dari potensi daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya dan
kekayaan alam. Sekolah yang akan menerapkan muatan lokal dapat berkoordinasi dengan
instansi terkait yang ada di pemerintah daerah.
Penerapan Muatan Lokal
Sekolah-sekolah menginterpretasikan mulok dalam bentuk yang bermacam-macam.
Karena diknas mengelompokkan beberapa materi pelajaran sebagai bagian atau dapat
dijadikan materi muatan lokal yaitu bahasa daerah, bahasa Inggris, kesenian daerah,
ketrampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas
lingkungan alam sekitar serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan,
maka banyak sekali macam mulok yang menjadi pilihan.
Sebagai contoh di Jawa Barat kesenian angklung dan Bahasa Sunda dijadikan mapel
mulok mulai dari jenjang Sekolah Dasar. Di Solo ada pelajaran membatik, di Klaten
kecamatan Polanharjo merupakan daerah perikanan sehingga sekolah yang ada di sekitarnya
memfokuskan pada mulok tentang pembibitan, penangkaran dan pemeliharaan ikan. Bahkan
di Banda Aceh ada pelajaran penanggulangan terhadap bencana alam.
Untuk Kabupaten Bojonegoro sendiri beberapa sekolah banyak menjadikan bahasa
sebagai mulok mulai dari bahasa Jawa, bahasa Jepang, Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris.
Khusus untuk bahasa asing dapat membawa kerancuan jika mulok ditekankan untuk
mengangkat dan memperkenalkan nilai-nilai daerah kepada siswa. Tapi dengan alasan
menyongsong globalisasi atau mempersiapkan diri menghadapi akan banyaknya pekerja
asing yang akan datang ke Blok Cepu atau meningkatkan daya saing English Conversation
atau yang sejenis masih dapat tetap dikembangkan.

Berdasarkan pengamatan penulis meski dekat dengan kehidupan mereka masih


banyak peserta didik yang tidak memahami dengan baik geografis kota Bojonegoro, karakter
daerah, tradisi, mata pencaharian utama, jenis usaha rakyat dan sejarah kota mereka. Hal
inilah yang perlu ditingkatkan.
Sebagai contoh peserta didik di kecamatan padangan. Saat ini SMA Padangan
menjadi rujukan bagi pengembangan Budi daya Jamur Tiram bagi beberapa sekolah dan
petani di sekitar padangan,tetapi sebenarnya banyak mulok yang dapat dikembangkan dari
daerah sentra tahu-tempe ini. Misalnya olahan lain dari kedelai seperti susu kedelai, kembang
tahu dan masih banyak lagi.
Pengenalan daerah akan menambah pemahaman yang baik terhadap kondisi sekitar.
Kota Bojonegoro setiap tahun mengalami bencana banjir. Sudah selayaknya pendidikan
tentang lingkungan hidup dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Kita sangat meragukan
apakah para siswa kita dapat menjelaskan penyebab banjir tahunan selain alasan karena
musim penghujan mengakibatkan debit air di bengawan Solo meningkat karena hujan di
daerah hulu. Peserta didik harus tahu penyebabnya, harus sampai pada akibat semakin
sedikitnya serapan air karena hutan semakin sempit, adanya pendangkalan sungai akibat
sampah dan seterusnya. Selanjutnya perlu pula ditumbuh kembangkan kesadaran untuk
menjaga lingkungan, ikut andil memikirkan masalah sampah dan kebersihan
dilingkungannya, berempati terhadap korban banjir dan apa yang akan dan dapat kita lakukan
ke depan; berbagai pemahaman dan sikap yang dapat dibina melalui pembelajaran ini.
Rasa kepedulian berlandaskan pemahaman inilah yang semestinya menjadi dasar
sebagai salah satu materi mulok di sekolah. Pembangunan daerah tidak bisa berjalan dengan
baik tanpa adanya kesadaran. Kesadaran yang muncul dari orang-orang yang tinggal di
daerah tersebut.. Bukan hanya keahlian yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kota,
tetapi yang lebih penting adalah kesadaran untuk memupuk semangat dan mendalami
keahlian hidup dari warganya.