Anda di halaman 1dari 6

Protein terapeutik merupakan molekul protein yang memiliki aktivitas sebagai obat sehingga

dapat digunakan untuk keperluan klinis. Sejak penemuan insulin sebagai protein teraputik
rekombinan yang pertama pada tahun 1920, perkembangan penelitian dan produksi protein
terapeutik mengalami kemajuan yang sangat pesat. Saat ini lebih dari 130 protein atau
peptida telah disetujui oleh Food and Drug Administration untuk digunakan dalam
kepentingan klinis dan sebanyak 95 protein diantaranya diproduksi menggunakan teknologi
DNA rekombinan.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan produksi protein rekombinan
adalah :
-

pengetahuan mengenai pemilihan sistem ekspresi untuk memperoleh protein terapeutik


dengan sifat dan aktivitas sesuai harapan;

penyesuaian dengan regulasi dari badan berwenang untuk tujuan komersialisasi;

penguasaan berbagai metode untuk karakterisasi dan purifikasi protein serta

pengetahuan

mengenai

status

permasalahan

terkini

dari

protein

terapeutik

dan pemecahannya untuk melakukan pengembangan melalui modifikasi protein.


Sejumlah kecil protein terapi rekombinan dimurnikan dari sumber asli mereka, seperti enzim
pankreas dari babi dan pankreas babi, dan -1-proteinase inhibitor dari plasma manusia,
tetapi kebanyakan sekarang diproduksi oleh teknologi DNA rekombinan dan dimurnikan
dari berbagai jenis organisme. Sistem produksi protein rekombinan termasuk bakteri, ragi,
sel-sel serangga, sel mamalia, dan hewan dan tanaman transgenik. Pemilihan sistem dapat
ditentukan oleh biaya produksi atau modifikasi protein (misalnya, glikosilasi, fosforilasi atau
pembelahan proteolitik) yang diperlukan untuk aktivitas biologis.
Sebagai contoh, bakteri tidak melakukan reaksi glikosilasi, dan masing-masing dari sistem
biologis lainnya yang tercantum di atas menghasilkan jenis atau pola glikosilasi. Pola protein
glikosilasi dapat memiliki efek dramatis pada aktivitas, waktu paruh dan imunogenisitas
protein rekombinan dalam tubuh. Sebagai contoh, waktu paruh erythropoietin asli, faktor
pertumbuhan yang penting dalam produksi eritrosit, dapat diperpanjang dengan
meningkatkan glikosilasi protein. Darbepoetin- merupakan analog erythropoietin yang
direkayasa mengandung dua asam amino tambahan yang substrat untuk reaksi glikosilasi Nlinked. Ketika dinyatakan dalam sel ovarium hamster Cina, analog disintesis dengan lima

dari tiga rantai karbohidrat N-linked; modifikasi ini menyebabkan waktu paruh tobe
darbepoetin tiga kali lipat lebih lama daripada erythropoietin.
INSULIN
Terapi Diabetes baik tipe I maupun tipe II menggunakan hormon insulin
diperkenalkan sudah sejak tahun beberapa tahun yang lalu. Dimulai dari
pemurnian pertama kali insulin dari pankreas babi dan sapi pada tahun 1922.
Permintaan protein terapi ini yang terus meningkat menuntut untuk ditemukannya
suatau teknologi yang dapat menghasilkan hormon insulin secara cepat dengan
skala yang besar tanpa harus membunuh ratusan bahkan ribuan hewan ternak
untuk diambil pankreasnya.
Pada tahun 1982 gen insulin manusia berhasil diisolasi dan dikembangkan di
dalam Eschercia coli untuk kemudian diekspresikan menjadi protein yang disebut
hormon insulin melalui teknologi DNA rekombinan.
Teknik DNA rekombinan dilakukan dengan menyisipkan gen insulin manusia ke
dalam vektor DNA, sel bakteri E.coli, untuk memproduksi insulin yang secara
kimia identik dengan insulin manusia yang diproduksi secara alami dalam tubuh
orang yang normal.
Struktur insulin
Secara

kimia,

insulin

meruipakan protein kecil yang


sederhana.

Mengandung

51

asam amino, 30 diantaranya


terdapat satu rantai polipeptida
(rantai B) dan 21 lainnya
sebagai rantai ke dua Rantai A).

Kode genetik insulin.


Kode genetik untuk insulin ditemukan dalam DNA pada bagian puncak lengan kromosom
pendek pada kromosom nomor 11. Struktur DNA insulin mengandung 153 basa nitrogen (63
di rantai A dan 90 rantai B).
Proses Pembuatan Insulin
Proses pembuatan insulin dengan teknik DNA recombinan adalah sebagai berikut:
1.

Mengidentifikasi dan mengisolasi gen penghasil insulin dari sel pancreas manusia:
a. Mula-mula mRNA yang telah disalin dari gen penghasil insulin diekstrak dari sel
pancreas.Kemudian enzim transcriptase ditambahkan pada mRNA bersamaan dengan
nukleotida penyusun DNA.
b. Enzim ini menggunakan mRNA sebagai cetekan untuk membentuk DNA berantai
tunggal.
c. DNA ini kemudian dilepaskan dari mRNA.
d. Enzim DNA polymirase digunakan untuk melengkapi DNA rantai tunggal menjadi
ranati ganda,disebut DNA komplementer (c- DNA), yang merupakan gen penghasil
insulin.

2.

Melepaskan salinan gen penghasil insulin tersebut dengan cara memotong kromosom
secara khusus menggunakan enzim retrikasi.

3.

Mengekstrak plasmid dari sel bakteri, kemudian membuka plasmid dari sel bakteri
dengan menngunakan enzim retrikasi lain. Sementara itu, di dalam serangkain tabung
reaksi atau cawan petri, gen penghasil insulin manusia (dalam bentuk c- DNA disiapkan
untuk dipasangkan pada plasmid yang terbuka tersebut.

4.

Memasang gen penghasil insulin kedalam cincin plasmid. Mula-mula ikatan yang terjadi
masih lemah, kemudian enzim DNA ligase memperkuat ikatan ini sehingga dihasilkan
molekul DNA recombinan/plasmid recombinan yang bagus.

5.

Memasukkan plasmid recombinan kedalam bakteri E.coli.Di dalam sel bakteri ini
plasmid mengadakan replikasi

6.

Mengultur bakteri E.coli yang akan berkembang biak dengan cepat menghasilkkan
klonklon bakteri yang mengandung plasmid recombinan penghasil insulin.Melalui
rekayasa genetika dapat dihasilkan E.coli yang merupakan penghasil insulin dalam
jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat.

\
E.coli menjadi mikroorganisme yang paling dipilih untuk memproduksi protein
rekombinan dalam skala besar. Sebagai vektor untuk DNA insulin, plasmid
E.coli diambil dari sel bakteri E.coli. Rantai melingkar plasmid dibuka
menggunakan enzim tertentu, kemudian sequens DNA yang mengkodekan
insulin manusia disisipkan ke dalam plasmid tersebut. Dengan enzim DNA ligase,
maka rantai DNA insulin akan tersambung dengan DNA plasmid. Di dalam tubuh
E.coli, sewaktu bakteri itu berkembang biak, gen insulin bereplikasi bersama
dengan plasmid.
Untuk dapat menghasilkan insulin, gen insulin perlu terikat dengan enzim Bgalaktosidase enzim yang mengontrol transkripsi gen. Hal ini sangat krusial
dimana kodon dari gen insulin ini harus kompatibel dengan enzim Bgalaktosidase.
Setelah terbentuk protein proinsulin, protein kemudian dipurifikasi dari tubuh
bakteri. Bakteri diinaktif kan dengan cara heat sterilization, proinsulin dipanen.
Proinsulin diambil lalu dengan cara memotongnya secara enzymatik akan
dihasilkan human insulin, rantai A dan rantai B secara terpisah. Kedua rantai

dicampur dan dihubungkan kembali


dalam

reaksi

jembatan

yang
silang

membentuk
disulfida,

menghasilkan Humulin murni (insulin


manusia sintetis).

Proses selanjutnya adalah sentrifugasi dan penghilangan sel2 yang tidak


diperlukan. Pemurnian dilakukan dengan cara liquid chromatography dan
crystallization.
Selain menggunakan bakteri sebagai host, dapat juga digunakan host berupa ragi
(yeast).

Recombinant Human insulin-Like Growth factor -1.

DAFTAR PUSTAKA
Cell factories for insulin production Nabih A Baeshen, Mohammed N Baeshen, Abdullah
Sheikh, Roop S Bora, Mohamed Morsi M, Ahmed Hassan A I Rama dan Kulvinder Singh
Saini, and Elrashdy M Redwan. Baeshen et al. Microbial Cell Factories 2014, 13:141.
http://www.microbialcellfactorie..
A guide to drug discove ry opi ni on Protein therapeutics: a summary and
pharmacological classification Benjamin Leader, Quentin J. Baca and David E.
Golans.com/content/13/1/141

Anda mungkin juga menyukai