Anda di halaman 1dari 8

GEOTHERMAL

POTENSI PANAS BUMI INDONESIA

NAMA

: SHASKIA HERIDA PUTRI

KELAS

: GEOLOGI D

NPM

: 270110110118

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Energi panas bumi adalah energi panas yang terdapat dan terbentuk di dalam kerak
bumi.Temperatur di bawah kerak bumi bertambah seiring bertambahnya kedalaman. Suhu di
pusat bumi diperkirakan mencapai 5400 C. Menurut Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang
Panas Bumi Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas,
uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya
tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan
proses penambangan.
Pemanasan global dan polusi dan pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan
bahwa ada ancaman di seluruh dunia. Selimut ini polusi dunia, perangkap panas dan membuat
efek rumah kaca yang mempengaruhi atmosfir bumi. Semua ini berdampak pada persediaan
air bersih, kesehatan masyarakat, pertanian, pantai, hutan, dan banyak lagi. Panas
Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan
bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan
dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.
Pemanfaatan panas bumi relatif ramah lingkungan, terutama karena tidak memberikan
kontribusi gas rumah kaca, sehingga perlu didorong dan dipacu perwujudannya; pemanfaatan
panas bumi akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak sehingga dapat
menghemat cadangan minyak bumi. Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di
dalam bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas
matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Potensi energi panas bumi di Indonesia
mencakup 40% potensi panas bumi dunia, tersebar di 251 lokasi pada 26 propinsi dengan total
potensi energi 27.140 MW atau setara 219 Milyar ekuivalen Barrel minyak. Kapasitas
terpasang saat ini 1.194 atau 4% dari seluruh potensi yang ada.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Sistem Panas Bumi Indonesia


Posisi Kepulauan Indonesia yang terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar

(Eurasia, Hindia Australia. Pasifik) menjadikannya memiliki tatanan tektonik yang kompleks.
Subduksi antar lempeng benua dan samudra menghasilkan suatu proses peleburan magma
dalam bentuk partial melting batuan mantel dan magma mengalami diferensiasi pada saat
perjalanan ke permukaan proses tersebut membentuk kantong kantong magma (silisic /
basaltic) yang berperan dalam pembentukan jalur gunungapi yang dikenal sebagai lingkaran
api. Munculnya rentetan gunung api Pasifik di sebagian wilayah Indonesia beserta aktivitas
tektoniknya dijadikan sebagai model konseptual pembentukan sistem panas bumi Indonesia.
Berdasarkan asosiasi terhadap tatanan geologi, sistem panas bumi di Indonesia dapat
dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu : vulkanik, vulkano tektonik dan Non-vulkanik.
Sistem panas bumi vulkanik adalah sistem panas bumi yang berasosiasi dengan gunungapi api
Kuarter yang umumnya terletak pada busur vulkanik Kuarter yang memanjang dari Sumatra,
Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku dan Sulawesi Utara.Pembentukan sistem
panas bumi ini biasanya tersusun oleh batuan vulkanik menengah (andesit-basaltis)
hingga asam dan umumnya memiliki karakteristik reservoir kedalaman 1,5 km dengan
temperature reservoir tinggi ( 250C - 370C). Pada daerah vulkanik aktif biasanya memiliki
umur batuan yang relatif muda dengan kondisi temperatur yang tinggi dan kandungan gas
magmatik besar. Permeabilitas relatif kecil karena faktor aktivitas tektonik yang belum terlalu
dominan dalam membentuk celah-celah / rekahan yang intensif sebagai batuan reservoir.
Daerah vulkanik yang tidak aktif biasanya berumur relatif lebih tua dan telah mengalami
aktivitas tektonik yang cukup kuat untuk membentuk permeabilitas batuan melalui rekahan
dan celah yang intensif. Pada kondisi tersebut biasanya terbentuk temperatur menengah tinggi dengan konsentrasi gas magmatik yang lebih sedikit. Sistem vulkanik dapat
dikelompokkan lagi menjadi beberapa sistem, misal sistem tubuh gunung api strato jika
hanya terdiri dari satu gunungapi utama, sistem komplek gunung api jika terdiri dari beberapa
gunungapi, sistem kaldera jika sudah terbentuk kaldera dan sebagainya.
Sistem panas bumi vulkano tektonik, sistem yang berasosisasi antara graben
dan kerucut vulkanik, umumnya ditemukan di daerah Sumatera pada jalur sistem sesar

sumatera (Sesar Semangko). Sistem panas bumi Non vulkanik adalah sistem panas bumi yang
tidak berkaitan langsung dengan vulkanisme dan umumnya berada di luar jalur vulkanik
Kuarter. Lingkungan non-vulkanik di Indonesia bagian barat pada umumnya tersebar di
bagian timur sundaland karena pada daerah tersebut didominasi oleh batuan yang merupakan
penyusun kerak benua Asia seperti batuan metamorf dan sedimen. Di Indonesia bagian timur
lingkungan non-vulkanik berada di daerah lengan dan kaki Sulawesi serta daerah Kepulauan
Maluku hingga Irian didominasi oleh batuan granitik, metamorf dan sedimen laut.
2.2

Distribusi Panas Bumi Indonesia


Sekitar 80% lokasi panas bumi di Indonesia berasosasi dengan sistem vulkanik aktif

seperti Sumatra (81 lokasi), Jawa (71 lokasi), Bali dan Nusa Tenggara (27 lokasi), Maluku (15
lokasi), dan terutama Sulawesi Utara (7 lokasi). Sedangkan yang berada di lingkungan non
vulkanik aktif yaitu di Sulawesi (43 lokasi), Bangka Belitung (3 lokasi), Kalimantan (3
lokasi), dan Papua (2 lokasi). Dari 252 lokasi panas bumi yang ada, hanya 31% yang telah
disurvei secara rinci dan didapatkan potensi cadangan. Di sebagian besar lokasi terutama yang
berada di daerah terpencil masih dalam status survei pendahuluan sehingga didapatkan potensi
sumber daya.
Total potensi panas bumi dari 252 lokasi sebesar 27.357 MWe terdiri dari sumber daya
sebesar 14.007 MWe dan cadangan sebesar 13.350 MWe. Data potensi ini merupakan data
dari Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral (DIM) dan institusi lain yang bergerak di
bidang panas bumi. Hal ini menjadi kendala dalam penghitungan neraca potensi karena
dengan sumber data yang berbeda kemungkinan dihitung dengan metode yang juga berbeda.
Sedangkan dalam penghitungan yang dilakukan oleh DIM juga masih sangat subyektif.
Metode yang dipergunakan dalam penghitungan potensi energi untuk masingmasing sumber
daya dan cadangan juga berbeda. Kendala-kendala yang masih dijumpai dalam penghitungan
potensi panas bumi antara lain dalam penentuan temperatur reservoir dan luas daerah prospek.
Penghitungan temperatur dengan metode geotermometri yang berbeda akan menghasilkan
temperatur yang berbeda pula. Demikian juga dengan penentuan luas prospek yang dapat
ditentukan dengan zona tahanan jenis rendah, gradien tahanan jenis dan pendekatan geologi.
Namun demikian data potensi ini bersifat dinamis yang akan berubah dan dimutakhirkan
setiap waktu sesuai dengan tingkat kegiatan eksplorasi yang dilakukan baik oleh pemerintah
maupun oleh pengembang.

Apabila ditinjau dari total potensi yang ada, pemanfaatan energi panas bumi di
Indonesia masih sangat kecil yaitu sekitar 3%. Pemanfaatan ini juga masih terbatas untuk
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan menghasilkan energi listrik sebesar
807 MWe yang sebagian besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa (97%). Tujuh lapangan
panas bumi yang telah dimanfaatkan sebagai PLTP terletak di Jawa Barat (Gunung Salak 330
MWe, Wayang Windu 110 MWe, Kamojang 140 Mwe, dan Darajat 145 MWe), Jawa Tengah
(Dieng 60 MWe), Sumatra Utara (Sibayak 2 MWe) dan Sulawesi Utara (Lahendong 20
MWe). Energi panas bumi di Indonesia sangat beragam , sehingga selain pemanfaatan tidak
langsung, dapat dimanfaatkan secara langsung seperti untuk industri pertanian (antara lain
untuk pengeringan hasil pertanian, sterilisasi media tanaman, dan budi daya tanaman tertentu.
Dibandingkan dengan negara lain China, Korea, New Zealand pemanfaatan langsung di
Indonesia masih sangat terbatas terutama hanya untuk pariwisata yang umumnya dikelola oleh
daerah setempat. Untuk mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi secara langsung di
Indonesia masih diperlukan riset dan kajian lebih lanjut.

2.3

Model Reservoir di Indonesia

Secara umum ada tiga model reservoir panas bumi yaitu :


1. CGS (Conventional Geothermal System), geothermal yang berasosiasi dengan volcanic
belt misal, Indonesia, Jepang, New Zealand dll, temperature relatif lebih tinggi (geothermal
field yang berproduksi di Indonesia biasanya punya temp >200 deg C), dan reservoirnya
relative dangkal relative terhadap model lain.
2.
HAS (Hot Sedimentary Aquifer), air yang terperangkap di sedimentary basin,
dipanaskan dari bawah perut bumi, di Jerman dan AS, reservoir in sudah di produksi dengan
menggunakan binary plant, temperature berkisar antara 140-180 deg C, di Indonesia
mempunyai aquifer sampai 150 deg C.
3.
EGS (Enhance Geothermal System), atau hot fractured rock, reservoir dibuat oleh
manusia. Model ini sangat menantang dari segi engineeringnya, karena heat di perut bumi
relative dalam dan media air untuk extract panas harus di inject dari surface, reservoirnya
harus dibuat sendiri dengan hydro fracture.

Indonesia CGS sangat melimpah, mempunyai potential 20.000-27.000 MW, keunggulannya,


reservoirnya relative dangkal, dan melimpah temperatur tinggi, begitu juga dengan HAS yang
belum dievaluasi potensinya.

BAB III
KESIMPULAN
Total potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 28.112 MWe yang tersebar
di 265 daerah prospek panas bumi. Dari sisi jumlah lokasi yang ada, terdapat penambahan
sebanyak 8 lokasi dengan potensi sekitar 400 MWe yang merupakan hasil penemuan pada
kegiatan lapangan tahun 2009. Dalam upayanya mempercepat pengembangan energi panas
bumi di Indonesia, Pemerintah telah menetapkan 22 WKP baru dengan total potensi mencapai
2376 MWe. Dari WKP baru tersebut, 6 WKP telah selesai dilelang, 5 WKP sedang dalam
proses lelang, dan 11 WKP belum di lelang .
Potensi panas bumi di Indonesia terdapat dalam berbagai tipe sistem panas bumi.
Pengelompokan tipe sistem panas bumi ini dapat memberikan estimasi awal besarnya potensi
energi yang terkandung dalam suatu daerah panas bumi, dan barangkali dapat digunakan
sebagai pedoman awal dalam memilih lokasi-lokasi panas bumi untuk dilakukan penyelidikan
selanjutnya bagi pemangku kepentingan.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangkit_listrik_tenaga_panas_bumi
http://jaringnews.com/ekonomi/umum/51042/pge-indonesia-miliki-potensi-geothermalterbesar-di-dunia
http://psdg.bgl.esdm.go.id/kolokium/Makalah%20Umum/1.%20Makalah%20PB%20Potensi
%20dan%20WKP%20Panas%20Bumi.pdf
http://scientificindonesia.wordpress.com/potensi-energy-panas-bumi-indonesia-berapa-besarprospeknya/