Anda di halaman 1dari 30

Dampak Perdagangan Internasional dan

Tantangan Baru yang Menghadang Asia Timur


Diajukan Untuk Memenuhi Nilai Pada Mata Kuliah perekonomian Indonesia

Penyusun:
GILANG NOOR ALAMSYAH
LIDYA CITRA H
THOMAS CAHYO W
NABIL M JUHANA
ANDIKA NANDIPRATAMA
BIMO RAEDY PERDANA
FAHRI YUDA IRIANDI
ZIKRA OGI MAULANA
RYAN DAYU N
IFFRIADI FRANKLIN

UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG


FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur terus menyedot perhatian dunia.
Negara anggota senior ASEAN umumnya sudah menunjukkan tanda - tanda ke arah
pemulihan ekonomi, dari dampak krisis moneter yang melanda Asia pada 1998. Selain
itu, kebangkitan kembali empat Macan Asia diperkirakan akan menandai kebangkitan
kembali ekonomi Asia Timur yang pada 1990an kepesatan kemajuan ekonominya
sangat memukau dunia. Terlebih lagi di AsiaTimur kini sudah terdapat dua motor
utama penggerak pertumbuhan ekonomikawasan yang sedang terus bertumbuh
dinamis ini, yakni China dan Jepang. Indonesia tentunya harus dapat memanfaatkan
peluang dari pertumbuhanekonomi di Asia Timur ini secara optimal.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perdangangan Internasional


2.1.1 Pengertian Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk
suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk
yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara
individu

dengan pemerintah suatu

negara

atau

pemerintah

suatu negaradengan

pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu
faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah
terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap
kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan.
Perdagangan

internasional

pun

turut

mendorong Industrialisasi,

kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.


2.1.2 Teori Perdagangan Internasional
Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam
negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut
antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat
menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor.
Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata
uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.
Ada beberapa model perdagangan internasional diantaranya:
A. Model Ricardian
Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin
merupakan konsep paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam

Sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang


mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini
memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh
dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian
tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari
buruh dan modal dalam negara.
B. Model Heckscher-Ohlin
Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan
dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih
rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari
sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan
dengan memakai mekanisme harga neoklasikal kedalam teori perdagangan
internasional.
Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan
oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negaranegara akan mengekspor barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor
pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang akan menggunakan faktor
lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal
sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris olehWassily Leontief yang
menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang
buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal.
C. Faktor Spesifik
Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain sangatlah
mungkin ketika modal tidak bergerak antar industri pada satu masa pendek. Faktor
spesifik merujuk ke pemberian yaitu dalam faktor spesifik jangka pendek dari
produksi, seperti modal fisik, tidak secara mudah dipindahkan antar industri. Teori
mensugestikan jika ada peningkatan dalam harga sebuah barang, pemilik dari faktor
produksi spesifik ke barang tersebut akan untuk pada termsebenarnya. Sebagai
tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik berlawanan (seperti buruh dan
modal) cenderung memiliki agenda bertolak belakang ketika melobi untuk

pengednalian atas imigrasi buruh. Hubungan sebaliknya, kedua pemilik keuntungan


bagi pemodal dan buruh dalam kenyataan membentuk sebuah peningkatan dalam
pemenuhan modal. Model ini ideal untuk industri tertentu. Model ini cocok untuk
memahami distribusi pendapatan tetapi tidak untuk menentukan pola pedagangan.
Jangan dipercaya,bohong tu.
D. Model Gravitasi
Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris
dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model gravitasi,
pada bentuk dasarnya, menerka perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan
interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniruhukum
gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik di antara dua
benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisaekonometri.
Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan
perdagangan juga dimasukkan dalam versi lebih besar dari model ini.
2.1.3 Manfaat perdagangan internasional
Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai
berikut.

Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri


Banyak faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap
negara. Faktor-faktor tersebut di antaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat
penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional,
setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.

Memperoleh keuntungan dari spesialisasi


Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh
keuntungan

yang

diwujudkan

oleh

spesialisasi.

Walaupun

suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan
yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara
tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.

Memperluas pasar dan menambah keuntungan

Terkadang,

para pengusaha tidak

menjalankan

mesin-mesinnya

(alat

produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi


kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka.
Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan
mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut
keluar negeri.

Transfer teknologi modern


Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari
teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih
modern.

2.1.4 Faktor pendorong


Banyak

faktor

yang

mendorong

suatu

negara

melakukan

perdagangan

internasional, di antaranya sebagai berikut :

Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri

Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara

Adanya

perbedaan

kemampuan

penguasaan ilmu

pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi

Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk
menjual produk tersebut.

Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga


kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan
hasilproduksi dan adanya keterbatasan produksi.

Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.

Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari


negara lain.

Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat
hidup sendiri.

2.1.5 Peraturan/Regulasi Perdagangan Internasional


Umumnya perdagangan diregulasikan melalui perjanjian bilatera antara dua
negara. Selama berabad-abad dibawah kepercayaan dalam Merkantilismekebanyakan

negara memiliki tarif tinggi dan banyak pembatasan dalam perdagangan internasional.
pada abad ke 19, terutama di Britania, ada kepercayaan akanperdagangan bebas menjadi
yang terpenting dan pandangan ini mendominasi pemikiran di antaranegara barat untuk
beberapa waktu sejak itu dimana hal tersebut membawa mereka ke kemunduran besar
Britania. Pada tahun-tahun sejak Perang Dunia II, perjanjian multilateral kontroversial
seperti GATT dab WTOmemberikan usaha untuk membuat regulasi lobal dalam
perdagangan internasional. Kesepakatan perdagangan tersebut kadang-kadang berujung
pada protes dan ketidakpuasan dengan klaim dari perdagangan yang tidak adil yang
tidak menguntungkan secara mutual.
Perdagangan bebas biasanya didukung dengan kuat oleh sebagian besar negara
yang berekonomi kuat, walaupun mereka kadang-kadang melakukan proteksi selektif
untuk

industri-industri

yang

penting

proteksi tarif untuk agrikultur oleh Amerika

secara

strategis

seperti

Serikat dan Eropa. Belanda dan Inggris

Rayakeduanya mendukung penuh perdagangan bebas dimana mereka secara ekonomis


dominan,

sekarang Amerika

Serikat, Inggris, Australia dan Jepang merupakan

pendukung terbesarnya. Bagaimanapun, banyak negara lain (seperti India, Rusia, dan
Tiongkok) menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi kuat secara
ekonomi. Karena tingkat tarif turun ada juga keinginan untuk menegosiasikan usaha
non tarif, termasuk investasi luar negri langsung, pembelian, dan fasilitasi perdagangan.
Wujud lain dari biaya transaksi dihubungkan dnegan perdagangan pertemuan dan
prosedur cukai.
Umumnya kepentingan agrikultur biasanya dalam koridor dari perdagangan bebas
dan sektor manufaktur seringnya didukung oleh proteksi. Ini telah berubah pada
beberapa tahun terakhir, bagaimanapun. Faktanya, lobi agrikultur, khususnya di
Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, merupakan penanggung jawab utama untuk
peraturan tertentu pada perjanjian internasional besar yang memungkinkan proteksi
lebih dalam agrikultur dibandingkan kebanyakan barang dan jasa lainnya.
Selama reses ada seringkali tekanan domestik untuk meningkatkan tarif dalam
rangka memproteksi industri dalam negri. Ini terjadi di seluruh dunia selamaDepresi
Besar membuat kolapsnya perdagangan dunia yang dipercaya memperdalam depresi
tersebut.

Regulasi dari perdagangan internasional diselesaikan melalui World Trade


Organization pada level global, dan melalui beberapa kesepakatan regional
sepertiMerCOSUR di

Amerika

Selatan, NAFTA antara

Amerika

Serikat, Kanada dan Meksiko, dan Uni Eropa anatara 27 negara mandiri. Pertemuan
Buenos Aires tahun 2005 membicarakan pembuatan dari Free Trade Area of
America (FTAA) gagal total karena penolakan dari populasi negara-negara Amerika
Latin. Kesepakatan serupa seperti MAI (Multilateral Agreement on Invesment) juga
gagal pada tahun-tahun belakangan ini.
2.1.6 Dampak Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional mempunyai dampak pada negara-negara yang terlibat. Dampak tersebut
ada yang positif dan ada yang negatif. Indonesia sebagai negara yang juga melakukan perdagangan
internasional memperoleh dampak-dampak tersebut.
a) Dampak Positif Perdagangan Internasional
Negara pengekspor maupun pengimpor mendapatkan keuntungan dari adanya perdagangan
internasional. Negara pengekspor memperoleh pasar dan negara pengimpor memperoleh
kemudahan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan. Adanya perdagangan internasional
juga membawa dampak yang cukup luas bagi perekonomian suatu negara.
Dampak positif tersebut antara lain sebagai berikut:

Mempererat persahabatan antarbangsa


Perdagangan antarnegara membuat tiap negara mempunyai rasa saling membutuhkan dan
rasa perlunya persahabatan. Oleh karena itu, perdagangan internasional dapat mempererat
persahabatan negara-negara yang bersangkutan.

Menambah kemakmuran negara


Perdagangan internasional dapat menaikkan pendapatan negara masing-masing. Ini terjadi
karena negara yang kelebihan suatu barang dapat menjualnya ke negara lain, dan negara
yang kekurangan barang dapat membelinya dari negara yang kelebihan. Dengan
meningkatnya pendapatan negara dapat menambah kemakmuran negara.

Mendorong kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Perdagangan internasional mendorong para produsen untuk meningkatkan mutu hasil
produksinya. Oleh karena itu, persaingan perdagangan internasional mendorong negara

pengekspor untuk meningkatkan ilmu dan teknologinya agar produknya mempunyai


keunggulan dalam bersaing.

Menciptakan efisiensi dan spesialisasi


Perdagangan internasional menciptakan spesialisasi produk. Negara-negara yang
melakukan perdagangan internasional tidak perlu memproduksi semua barang yang
dibutuhkan. Akan tetapi hanya memproduksi barang dan jasa yang diproduksi secara
efisien dibandingkan dengan negara lain.

Memungkinkan konsumsi yang lebih luas bagi penduduk suatu negara.


Dengan perdagangan internasional, warga negaranya dapat menikmati barang-barang
dengan kualitas tinggi yang tidak diproduksi di dalam negeri.

Mendorong dan Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi


Dengan adanya perdagangan internasional yang dilakukan oleh Indonesia akan dapat
mendorong tumbuhnya industri-industri dalam negeri untuk mengembangkan usahanya
sehingga akan mempercepat pertumbuhan perekonomian dalam negeri. Perdagangan
internasional akan dapat meningkatkan permintaan dan penawaran akan suatu produk. Hal
inilah yang mendorong bertumbuhnya industri-industri dalam negeri. Sebagai contoh,
berkembangnya industri batik, kerajinan, dan industri tekstil.

Meningkatkan Pendapatan Negara


Melalui perdagangan internasional akan diperoleh devisa yang merupakan salah satu
sumber penerimaan negara. Semakin besar ekspor kita maka semakin besar pula devisa
yang diperoleh. Dengan meningkatnya pendapatan negara maka pembangunan dapat
terlaksana dengan baik dan kebutuhan negara akan dapat terpenuhi.

Memperluas Lapangan Pekerjaan


Adanya perdagangan internasional dapat meningkatkan permintaan akan suatu produk.
Hal inilah yang mendorong tumbuh dan berkembangnya industri-industri dalam negeri
sehingga terciptalah lapangan kerja, yang pada akhirnya dapat mengurangi pengangguran
di dalam negeri.

Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat


Adanya perdagangan internasional akan dapat memperluas lapangan kerja dalam negeri,
dan banyak masyarakat yang dulunya sulit mencari pekerjaan/menjadi pengangguran
sekarang dapat bekerja dan mempunyai penghasilan. Dengan berpenghasilan, masyarakat
akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, yang berarti kesejahteraan hidupnya
meningkat.

Meningkatkan Kualitas Produksi

Mengingat

banyaknya

persaingan

dari

negara-negara

lain dalam perdagangan

internasional maka hal itu mendorong setiap negara untuk meningkatkan kualitas produk
ekspornya agar bisa laku di pasar internasional dan menang dalam persaingan. Demikian
juga dengan negara kita, agar dapat bersaing dengan negara lain maka Indonesia mau
tidak mau juga dituntut selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas produknya agar
sesuai dengan standar mutu internasional dengan cara menerapkan ilmu pengetahuan dan
tehnologi dalam proses produksinya sehingga dapat bersaing dan laku di pasar
internasional. Misalnya dengan mengganti peralatan/mesin industri dengan yang lebih
modern dan bertehnologi.

Memajukan Dunia Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain


Dampak positif lain dengan adanya perdagangan internasional adalah semakin majunya
lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank, karena bagaimanapun dalam
perdagangan internasional akan melibatkan lembaga keuangan untuk membantu
memperlancar dan mempermudah transaksi dalam pembayaran dalam negara lain.
Misalnya, mengatasi perbedaan alat pembayaran antarnegara.

b) Dampak Negatif Perdagangan Internasional


Adanya perdagangan internasional bisa menimbulkan dampak negatif sebagai berikut:

Adanya ketergantungan suatu negara terhadap negara lain.


Dengan adanya perdagangan internasional ini negara akan ketergantungan terhadap
produk yang dimiliki oleh suatu negara sehingga mengurangi kreatifitas dan menurunkan
daya saing didalam negeri.

Banyak industri kecil yang kurang mampu bersaing yang gulung tikar.
Karena banyak perusahaan yang kalah saing dengan produk luar yang biasanya lebih
bagus baik dari segi harga maupun dari segi kualitas, maka akan mengakibatkan banyak
perusahaan dalam negeri yang tidak mampu bersaing akan gulung tikar.

Adanya pola konsumsi masyarakat yang meniru konsumsi negara yang lebih maju.
Dengan adanya perdagangan internasional juga akan mengakibatkan duplikasi yaitu
proses meniru kebudayaan negara maju karena masyarakat menganggap bahwa negara
maju itu negara yang wajib ditiru dan bagi yang tidak meniru akan mendapat julukan
ketinggalan jaman

Terjadinya kekurangan tabungan masyarakat untuk investasi.

Perdagangan internasional mengakibatkan banyak produk asing yang berada di dalam


negeri. Dengan adanya produk luar negeri ini masyarakat akan konsumtif karena produk
asing menjadi panutan dan masyarakat pun meniru kebiasaan yang dilakukan oleh negara
lain.

Kelangsungan Hidup Produk Dalam Negeri Teracam


Kelangsungan hidup produksi dalam negeri dapat terancam karena perdagangan
internasional dapat membuka peluang dan kesempatan masuknya produk luar negeri ke
dalam negeri sehingga bagi produk dalam negeri yang kualitasnya rendah tentu akan kalah
bersaing dan tidak laku di pasaran. Sedangkan produk luar negeri yang proses
pembuatannya lebih maju dan modern tentu saja kualitasnya lebih baik akan laku dan
menguasai pasaran.

Hancurnya Industri Dalam Negeri


Bagi industri kecil yang kemampuan modalnya kecil dan daya saingnya rendah sudah
pasti akan kalah bersaing dengan pengusaha asing. Akibatnya banyak pengusaha dalam
negeri yang bangkrut atau menutup usahanya. Maka untuk mencegah hal ini pemerintah
melakukan proteksi guna melindungi produksi dalam negeri dari serbuan produk-produk
luar negeri.

Meningkatnya Pengangguran
Banyaknya perusahaan yang bangkrut atau gulung tikar karena kalah bersaing dengan
perusahaan asing yang menjual produknya di Indonesia, mengakibatkan banyaknya tenaga
kerja yang di-PHK sehingga menyebabkan pengangguran meningkat dan daya beli
masyarakat menurun.

Terjadinya Utang Luar Negeri


Dalam perdagangan internasional apabila ekspor negara kita lebih kecil daripada impor,
maka hal ini akan menyebabkan terjadinya hutang luar negeri. Padahal untuk membayar
hutang tersebut Indonesia harus membayar dengan devisa, akibatnya devisa Indonesia
berkurang dan perekonomian dalam negeri akan terganggu.

2.2 Sejarah Perekonomian Asia Timur


2.2.1 Republik Rakyat Tiongkok
Cina adalah negara yang padat penduduknya, perekonomian Negara Cina yang pesat
sekarang ini tidak akan lepas dari perjuangan beberapa tokoh Cina untuk merubah
sistem perekonomian Cina. Perekonomian Cina mengalami kebangkitan, perubahan
tersebut telah merubah Cina menjadi negara yang memiliki kekuatan perekonomian

dan bukan negara yang yang dianggap enteng dan tidak diperhitungkan lagi. Orangorang Cina secara kontekstual mengikuti petuah Deng Xiaoping yang mengatakan zhi
fu shi guangrong (menjadi kaya itu mulia) yang memotivasi orang-orang Cina untuk
meningkatkan perekonomiannya. Selain itu setelah kebijakan reformasi dan membuka
diri (Gaige Kaifang) yang dimulai pada bulan Desember 1978 pertumbuhan
perekonomian Cina terus meningkat bahkan peningkatan itu mencapai 8% per
tahunnya.
Pembangunan Perekonomian Yang Terjadi di Negara Cina
Pembangunan adalah semua proses perubahan yang dilakukan melalui upayaupaya secara sadar dan terencana. Pada dasarnya pembangunan ekonomi ialah usaha
meningkatkan pendapatan perkapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi
potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi,
penambahan pengetahuan, peningkatan ketrampilan, penambahan kemampuan
berorganisasi dan manajemen.
Majunya perekonomian Cina tidak akan lepas dari tokoh Deng Xiaoping yang
melakukan kebijakan reformasi dan loncatan jauh kedepan hasil pemikiran Mao Tse
Tung. Deng merupakan tokoh komunis sama seperti Mao Tse Tung yang menjadi
presiden namun, dalam hal ekonomi Deng adalah orang yang berpandangan
kapitalis bukan berpandangan komunis yang Mao harapkan. Namun pada akhirnya
Deng dapat membuktikan keberhasilan ekonomi Cina.
Cina yang berada di bawah kepemimpinan Mao dengan faham komunis
dalam perekonomiannya, terjadi polarisasi sosial yang ekstrim antara si kaya dan si
miskin. Harry Magdoff dan John Bellamy Foster, berpendapat mengenai
perekonomian Cina ini, bahwa pada akhir tahun 1970-an, Cina sukses membangun
struktur masyarakat yang paling egaliter di dunia dalam pengertian distribusi
pendapatan dan pemenuhan akan kebutuhan dasar. Ada dua soal utama penyebab hal
ini terjadi, yaitu pertama, sistem politik yang tertutup, yang tidak akomodatif terhadap
aspirasi dari bawah, menyebabkan tersumbatnya inovasi-inovasi baru sesuai dengan
perkembangan masyarakat. Penyebab kedua, yang berkoinsidensi dengan kebijakan
politik yang tertutup, adalah situasi politik Perang Dingin saat itu.
Sebagai sebuah rejim yang menantang dominasi rejim kapitalis, Cina
menerima resiko pemboikotan dan isolasi ekonomi terhadap perdagangan luar
negerinya. Kondisi inilah yang memaksa Mao meluncurkan kebijakan Lompatan
Jauh ke Depan untuk memobilisasi sumberdaya internal guna memenuhi
kebutuhannya. Di samping itu, isolasi dan boikot tersebut, memunculkan perdebatan
luas di kalangan internal partai menyangkut jalan pembangunan Cina yakni, antara

mereka yang disebut kelompok kiri/leftist dengan para pejalan kapitalis/capitalist


roader.
Reformasi Perekonomian Cina
Reformasi yang dilakukan ada empat tahap, yaitu yang pertama tahun 19781984 yang merupakan tahap awal dan tahap penerapan prinsip ekonomi pasar dengan
fokus pada wilayah pedesaan pemerintah mempromosikan sosialisme pasar guna
menciptakan pasar kerja. Pertimbangannya, tanpa kebebasan untuk mengalokasikan
sumberdaya kerja tidak akan sanggup bertindak rasional dalam merestrukturisasi
produksi guna merespon sinyal yang dipancarkan oleh pasar.
Tahap kedua pada tahun 1984-1992 yang menekankan pada penerapan
perekonomian pasar di kota dengan menyesuaikan harga menurut hukum penawaran
dan permintaan walaupun dengan perencanaan yang tidak terpusat. Pemerintah
kemudian menetapkan empat zona khusus ekonomi di sepanjang pesisir selatan
provinsi Guangdong dan Fujian, bagi investor asing.
Tahap yang ketiga ialah dimulai pada tahun 1992, Cina menagaskan bahwa
target dari reformasinya yaitu membangun sistem ekonomi pasar sosialis yang baru
melalui reformasi market oriented di berbagai bidang dan ada perencanaan dengan
baik. Hasilnya, pada 1983 hampir 98 persen dari seluruh petani rumah tangga
beroperasi menurut logika sistem baru ini, dimana lahan-lahan kolektif dimanfaatkan
untuk memproduksi barang-barang yang dijual di pasar.
Tahap yang terakhir dimulai pada tahun 2003 yang menekankan pada
Penyempurnaan Sistem Ekonomi Pasar Sosialis yang direncanakan akan terwujud
pada tahun 2020. Tahap keempat ini menekankan pada 5 pilar yang menjadi penopang
terwujudnya penyempurnaan ini yaitu titik berat pada wilayah perkotaan dan pedesaan
secara bersama-sama, pembangunan wilayah lokal, pembangunan sosial dan ekonomi,
keseimbangan

antara

pembangunan

manusia

dan

alam,

serta

peningkatan

pembangunan internal dan kerjasama internasional.


Kebijakan Membuka Diri Cina
Selain menjalankan reformasi ekonomi, Cina juga menjalankan kebijakan
membuka diri terhadap dunia internasional yang sangat mempengaruhi Cina dalam
proses modernisasi. Dengan membuka diri maka Cina dapat memenuhi keperluan
dalam proses modernisasi dengan jumlah besar, seperti modal, teknologi, prasarana
dan manajemen modern yang lebih maju. Pada tahun 1970-an saat terjadinya
reformasi ekonomi Cina juga sedang bersaing dengan negara di Asia lainnya dalam
hal memproduksi barang yang pada akhirnya dapat menyatakan diri siap menampung
relokasi industri- industri tersebut dan menawarkan insentif guna menarik berbagai

investasi asing langsung (FDI). Semakin banyak investor datang ke China oleh karena
faktor kekayaan sumber alam, upah buruh yang murah, serta potensi pasar yang besar.
Dalam hal membuka diri ini, Cina melakukannya dengan cara bertahap dari
daerah pesisir ke daerah pedalaman yang terbagi dalam tiga tahap, yaitu :
1. Tahap pertama, percobaan Special Economic Zone (SEZs) diterapkan pada
permulaan tahun 1979. China mendirikan 4 SEZs di wilayah tenggara yang berbatasan
dengan Hongkong, Makao, dan Taiwan. Hal ini menjadikan mereka sangat tertarik
untuk menanamkan investasi.
2. Tahap kedua, merupakan tahap membuka diri sepenuhnya dari SEZs, Cina
memperluas kebijakan membuka diri ke seluruh kota-kota pelabuhan pada
pertengahan 1980an, dan mendirikan 14 Zona Pembangunan Ekonomi dan Teknologi
(Economic and Technology Development Zones-ETDZ), di mana kebijakankebijakan khusus sebagaimana diterapkan terhadap SEZs juga diberlakukan.
3. Tahap ketiga, merupakan era WTO China masuk menjadi anggota WTO tahun
2001 yang berarti bahwa perekonomian Cina telah sepenuhnya terintegrasi kepada
ekonomi dunia. Di tahun-tahun kedepan, akan lebih banyak lagi sektor-sektor
ekonomi Cina yang dibuka untuk investor asing, serta meningkatnya perusahaanperusahaan Cina yang sudah dikenal secara internasional serta siap untuk
berkompetisi dengan pesaing-pesaing global di pasar internasional.

2.2.2

Korea
Tepat 2 hari setelah Korea Selatan merdeka, Indonesia juga memproklamir
kemerdekaan setelah 2 kota besar Jepang dijatuhi bom atom pada 6 dan 9 Agustus
1945. Sesaat setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, Belanda dan sekutu
(Inggris, Amerika Serikat dan cs) secara berusaha menjajah kembali wilayah
Indonesia. Pada saat yang sama, terjadi pemberontakan diberbagai daerah di
nusantara. Hal yang sama terjadi di Korea Selatan. Tidak lama setelah merdeka, Korea
mengalami perang saudara yang disulut oleh kepentingan ideologi asing. Perang
Korea pada 1950-1953 yang menewaskan hampir 2.5 juta jiwa menghancurkan
perekonomian dan stabilitas negara yang baru berdiri.
Merdeka Pada Tahun yang Sama, Tapi Hasilnya Berbeda
Dari segi usia dan sejarah pahit masa-masa pra dan pasca kemerdekaan, Indonesia
tidak jauh berbeda dengan Korea Selatan (Korsel). Indonesia dan Korsel sama-sama
menjadi negara miskin setelah lama dijajah. Namun, ada satu hal yang sangat

mencolok antara Indonesia dan Korsel pada saat itu (dan sekarang). Indonesia sangat
kaya dengan sumber daya alam dan tanah yang subur, sementara Korea sangat miskin
dengan sumber daya alamnya. Dalam kondisi yang bertolakbelakang ini, ternyata
dalam beberapa dekade kemudian justru Indonesia tertinggal jauh dibanding Korea.
Bukan sebaliknya..
Dari awalnya adalah negara pertanian tradisional paling miskin, Korsel bangkit
menjadi negara industri modern yang disegani dunia. Bayangkan, diawal-awal Korsel
harus bergantung pada utang luar negeri hanya sekadar bertahan, bukan berkembang.
Saking begitu miskinnya, AS juga sampai memutuskan mengurangi bantuan karena
mengira Korsel tidak akan pernah bisa tumbuh.
Dalam beberapa dekade kemudian, Korsel mencetak prestasi yang sangat luar biasa
sekaligus menjungkirkan semua pandangan rendah terhadap bangsa Korea. Pada saat
yang sama, bangsa Korea bertekad untuk menyalip negara yang pernah menjajah dan
negara yang pernah memandang sebelah mata. Perihnya penjajahan Jepang membuat
bangsa Korea harus mengalahkan bangsa Jepang (dalam pengertian soft-power).
Ditambah dengan sikap AS yang awalnya memandang rendah justru membuat bangsa
Korsel bangkit dan sadar bahwa hanya kebijakan radikal dan semangat kebangsaan
tinggi (atau istilah Bung Karno : national and character building) yang bisa
membebaskan perekonomian dari stagnasi dan kemiskinan.
Indonesia yang kaya dengan sumber daya dan hasil alamnya, meskipun merdeka pada
tahun yang sama dengan Korea, bangsa Indonesia ternyata tertinggal sangat jauh 4
dekade kemudian. Selama kurun 1960-1990, Korsel merupakan termasuk salah satu
negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. Tahun 1988 (43 tahun kemerdekaan),
Korsel sukses menjadi tuan rumahOlimpiade Dunia 1988. Memasuki tahun 1990-an,
Korea semakin menunjukkan eksistensinya menjadi negara maju dengan pertumbuhan
ekonomi dan indeks pembangunan manusia yang tinggi.
Dan hingga saat ini, Korsel telah mengalahkan banyak negara dunia termasuk Eropa.
Korsel menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke-15 terbesar dunia dan keempat di
Asia setelah Jepang, China dan India. Korsel menjadi salah satu negara eksportir
barang manufaktur berteknologi tinggi utama, mulai dari elektronik, mobil/bus, kapal,
mesin-mesin, petrokimia hingga robotik.
Salah satu kekuatan ekonomi Korsel digerakkan oleh sistem jaringan. Bila bangsa
China menggunakan akar jaringan rantau yang berbasis pada klan/marga, dialek,
lokalitas, perhimpunan dan terpenting kepercayaan. Bangsa Korea juga menerapkan

akar jaringan yang sama yakni kepercayaan yang lebih dikenal dengan Chaebol.
Jaringan Chaebol Korea merupakan konglomerasi korporasi raksasa yang menguasai
ekonomi Korea. Chaebol didukung oleh keluarga, namun berbeda dengan Keiretsu di
Jepang atau Grupo di Amerika Latin, para pemimpin Chaebol hampir tidak pernah
memegang posisi resmi/legal chaebol yang dipegangnya. Diantara konglomerasi
Chaebol adalah korporasi raksasa Samsung, LG, Hyundai-Kia dan SK.
Angka-Angka Fantastis Ekonomi Korea
Diawal tahun 1960-an, ekonomi bangsa Indonesia tidak jauh berbeda dengan Korea.
Pada saat itu,perndapatan per kapita negara Korsel dan Indonesia dibawah US 100
dolar. Indonesia dengan pendapatan per kapita sekitar USD 70 dan Korea USD 80 per
kapita. Lima puluh tahun kemudian, income per kapita bangsa Korea Selatan naik
menjadi USD 19.000, sementara Indonesia baru menyentuh USD 2.200. Pendapatan
per kapita Korsel naik 235 kali lipat dan Indonesia hanya naik 1/8-nya atau naik 31
kali.
Ini berarti, rata-rata rakyat Korsel mengalami peningkatan pendapatan 490% per
tahun, sementara kenaikan pendapatan rata-rata rakyat Indonesia hanya 64% per
tahun. Angka ini tentu tidak menunjukkan realitas yang sesungguhnya, karena baik
Korea maupun Indonesia masih memiliki Indeks Gini yang tinggi (perbedaan antara si
kaya dan miskin).
Berikut beberapa angka fantastis dari negeri Korea Selatan :

Negara dengan kenaikan PDB lebih 400 kali lipat dari USD 2,3 miliar (1962)
menjadi USD 930 miliar (2008 )

Negara dengan kenaikan Income per capita 23500% dari USD 80 (1962) menjadi
USD 19.000 (2008 )

Negara produsen terbesar dibidang perkapalan (sumber). Salah satu produk


fenomenal dari industri perkapalan Korea adalah Kapal MS Oasis of the Seas. MS
Oasis ini merupakan kapal penumpang terbesar dunia. Kapal ini dibuat oleh
perusahaan Korsel STX Europe. Termasuk Kapal Perang RI (Sumber).

Negara produsen terbesar ke-3 dibidang semikonduktor.

Negara produsen terbesar ke-4 dibidang digital elektronik.

Negara produsen terbesar ke-5 masing-masing dibidang otomotif, baja, tekstil dan
petrokimia.

Negara dengan akses internet tercepat di dunia (12 Negara Internet Tercepat
Dunia)

Kekuatan ekonomi ke-4 terbesar di Asia setelah Jepang, China dan India. Didunia
Korsel menduduki peringkat ke-15.

Negara eksportir terbesar ke-11 dunia. Atau menduduki eksportir terbesar ke-3
Asia setelah China (2 dunia) dan Jepang (4 dunia). Sementara Indonesia berada di
peringkat 31.

Negara dengan 97% eskpor merupakan produk manufaktur berteknologi tinggi.

Negara dengan cadangan devisa terbesar ke-4 dunia.

Negara dengan pertumbuhan ekspor rata-rata 30% selama 3 dekade. Nilai ekspor
naik dari 3% GDP (1962) menjadi 37% GDP (2000)

Negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) tinggi. Peringkat 26 dari 180
negara. Sementara HDI Indonesia berada di peringkat 111 dan lain-lain.
Belajar dari Kunci Sukses Korea Selatan
Bagaimana dari negara miskin sumber daya, Korsel bisa membangun kekuatan
industri yang begitu dahsyat? Kasus Korsel menunjukkan kunci sukses suatu
pembangunan ekonomi bukan terletak pada ada atau tidaknya SDA, tetapi pada ada
tidaknya kemauan dan kemampuan manusianya, terutama level pemimpinnya, dan
pada pilihan pilihan strategi kebijakan (Sri Hartati Samhadi).
Menurut ekonom Korea Institut for International Economic Policy, Chuk Kyo
Kim, keberhasilan Korea Selatan dapat tidak lepas dari perhatian besar pemerintah
Korsel pada pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta investasi agresif
di kegiatan penelitian dan pengembangan.
Disamping faktor besar dari pemerintah, kesuksesan Korsel juga tidak lepas dari
pembangunan karakter dan kebangsaan rakyat Korsel yang tangguh. Tumbunya jiwa
kewiraswastaan, tenaga kerja yang sangat terlatih, pengelolaan utang luar negeri yang
baik, pemerintahan yang relatif bersih, makroekonomi yang solid, dan kondisi sosialpolitik yang relatif bebas dari konflik.

Keberhasilan Korsel jelas didukung budaya kerja keras dan etos kerja yang tinggi.
Orang Korsel dikenal sebagai pekerja keras, dengan jam kerja jauh lebih panjang
dibandingkan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama dan
Pembangunan Ekonomi (OECD) lain. Faktor lain adalah adanya kemitraan kuat
antara pemerintah, swasta dan masyarakat, serta kemampuan masyarakat untuk
beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan tantangan baru.
Dari sisi strategi kebijakan, dari awal penguasa Korsel menyadari pentingnya
mengembangkan sektor generatif. Hal itu meliputi sektor-sektor ekonomi unggulan
yang secara simultan bisa menjadi sumber akumulasi kapital dan memungkinkan
terjadinya pertumbuhan berbagai industri turunan dan industri terkait, sekaligus
sumber inovasi teknologi dan kelembagaan, seperti pada kasus industri baja dan
industri pembuatan kapal.
Industri baja yang kuat menjadi katalis bagi tumbuhnya industri otomotif,
pembangunan kapal, peti kemas, jalan raya, konstruksi, dan industri perlengkapan
rumah tangga, yang saling mendukung dan memperkuat. Sementara itu, industri
pembuatan kapal melahirkan industri rekayasa elektrik, elektronik, kimia, material,
dan mekanis.
Jadi, selain political will pemerintah Korsel yang tinggi terhadap pembangunan
bangsanya, mentalitas rakyat Korea sudah terbentuk dengan bangga dan cinta
menggunakan produk lokal. Orang Korea paling benci menggunakan produk dari
negara yang pernah menjajahnya yakni Jepang. Untuk menggunakan produk canggih,
secara bertahap dan mandiri, mereka memproduksi sendiri. Karakter bangsa yang
cinta akan produk dalam negeri ini membuat perusahaan-perusahaan raksasa Korea
jaya didalam negeri sekaligus bertahap jaya di luar negeri.
Produk-produk Samsung Electronics, POSCO, Hyundai Motor, KB Financial Group,
Shinhan Financial Group, Samsung Life Insurance, Korea Electric Power, LG
Electronics, Hyundai Mobis, LG Chem menjadi pilihan utama warga Korea. Produkproduk perusahaan Korea dapat ditemukan disetiap sisi jalan (mobil dan motor),
setiap individu (ponsel, kamera), setiap rumah (televisi, mesin cuci, AC, rice cooker
dll).
Perbedaan Mencolok
1. Orang Korsel membeli mobil Hyundai, KIA, Daewoo atau Sangyong sebagai
kendaraannya. Hanya sedikit sekali yang membeli Toyota, Honda, BMW,
Mercy atau yang lainnya.

2. Orang Korsel membeli dan memakai HP bermerek Samsung atau LG. Sangat
sedikit sekali saya melihat orang Korsel yang menggunakan Motorola, Soni atau
Nokia. (Catatan tambahan : Samsung dan LG saat ini masing-masing
menduduki peringkt 2 dan 3 produksi ponsel terbesar dunia setelah Nokai)
3. Orang Korsel membeli motor yang bermerek Daelim, Hyosung. Jarang sekali
ditemukan motor bermerek Honda, Yamaha, Suzuki atau Harley.
4. Dirumah-rumah orang Korsel dipenuhi perabotan elektronik bermerek Samsung
dan LG. Baik TV, DVD, mesin cuci, kulkas, komputer, heater, AC, hingga
setrika.

2.2.3

Hong Kong
Hong Kong merupakan satu dari dua Daerah Administratif Khusus yang merupakan
bagian dari negara Republik Rakyat Cina, selain Makau. Pada tanggal 1 Juli 1977,
daerah ini secara resmi diserahkan oleh pemerintah Inggris kepada Republik Rakyat
Cina.
Dalam Konvensi Peking tahun1860 setelah Perang Opium kedua, Semenanjung
Kowloon dan Stonecutters Island diserahkan kepada Inggris sedangkan New
Territories termasuk Pulau Lantau disewakan pada Britania untuk 99 tahun sejak 1
Juli 1989 dan berakhir 30 Juni 1997.
Sebelum diserahkan pada tahun 1997, Hong Kong adalah koloni Inggrisa dan sistem
hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, peraturan jalan, yang tetap berjalan di jalur
kiri. Urusan yang ditangani oleh Beijing adalah pertahanan nasional dan hubungan
diplomatik. Otonomi ini berlaku di Hong Kong (minimal) untuk 50 tahun dihitung
dari tahun 1997.
2. Hubungan Hong Kong dengan Inggris.
Kehadiran Inggris di Hong Kong selama 150 tahun memiliki sejarah yang panjang.
Peristiwa penyewaan Hong Kong oleh Inggris pada abad ke-19 itu berakhir pada akhir
abad ke-20. Dalam rentang waktu yang panjang itulah, Hong Kong telah menjadi
sebuah sentra finansial dan perdagangan jasa yang sangat penting di Asia Timur.
Selama masa Perang Dingin, Hong Kong juga menjadi jendela Cina untuk menengok
ke dunia luar.

Mundurnya Inggris dari Cina 30 Juni 1997disambut oleh pemerintah Cina yang
merasa berhak atas Hong Kong. Adanya kesamaan sejarah antara kedua wilayah itu
menyebabkan penyerahan itu menjadi penting dalam sejarah Asia.
Pulau Hong Kong menawarkan berbagai kemungkinan, yaitu memiliki pelabuhan
dengan laut yang dalam. Pelabuhan ini diperlukan untuk berlabuh kapal-kapal besar.
Ada keuntungan lain, pulau ini nyaris kosong karena penduduk Cina tak begitu
banyak.
Kombinasi antara posisi strategis untuk bisnis dan pertahanan yang cermat,
menyebabkan nilai Hong Kong makin tinggi. Selama Perang Dunia I, Perang Dunia
II, Kemerdekaan Cina 1949, Perang Korea tahun 1950-an, Revolusi Kebudayaan
tahun 1960-an dan akhirnya naiknya Deng Xiaoping di Cina daratan, Hong Kong
tetap bertahan.
Bagi Inggris, seperti dicatat Norman Miners dalam The Government and Politics of
Hong Kong (1995), menduduki Hong Kong diperlukan sebagai basis perdagangan
dengan Cina. Para pedagang Inggris yang melakukan bisnis di Guangxhou, dibatasi
dan diperlakukan dengan ketat oleh para pejabat Cina. Selain itu, Hong Kong
diperlukan untuk tempat dimana mereka bisa berlabuh, memperbaiki kapal dan
menyimpan barang dengan aman.
Hubungan Hong Kong dengan Inggris memang unik. Meski kata penjajahan lebih
sering digunakan untuk menyebut kehadiran Inggris di Hong Kong, tetapi bukti telah
menunjukkan, penduduk Cina yang ada di Hong Kong bisa berhasil. Tidak aneh
timbul anekdot, penduduk Hong Kong lebih betah di bawah Inggris daripada
penguasa Beijing.
Jejak keberhasilan Inggris dalam membangun Hong Kong adalah bhwa Ionggris telah
mampu mengubah bukit gersang dan gundul ini sudah berubah menjadi hutan beton
penuh gedung pencakar langit. Inggris juga meninggalkan sejumlah kebiasaan yang
berbeda dengan Cina daratan. Misalnya, pengendara yang mengutamakan pejalan
kaki, antre yang tertib di tempat apa pun apakah mau naik taksi, bus atau membayar
rekening listrik.
3. Hubungan Hong Kong dengan China.
Setelah lepas dari Inggris, Hong Kong tidak serta merta lepas dari kekuasaan dan
pengharuh luar. Cina yang sudah lama menginginkan wilayah strategis perdagangan

ini nampak menyambut dengan genbira pelepasan Hong Kong dari tangan Inggris
pada tahun 1997.
Kebijakan ekonomi Cina di Hong Kong nampaknya tidak dijalankan dengan begitu
ketat. artinya, Cina msih memberlakukn beberpa peraturan dan kebijakan yang sudah
ada (yang dibuat oleh Inggris). Agar tidak terjadi kekagetan di berbagai lapisan
masyarakatnya dengan sistem komunis yang akan diterapkan, Cina mengizinkan
sistem kapitalis tetap hidup selama 50 tahun mendatang. Suasana hati antara lega dan
cemas, kini menghinggapi seluruh penduduk Hong Kong karena belum pengalaman
menghadapi penguasa dari Beijing. Mereka masih menunggu sesuatu yang belum
pasti.
Mengenai hubungan ekonomi antara Cina dan Hong kong, Cina menyodorkan
semavam perjanjian kerjsama ekonomi antara kedua negara tersebut. Closer
Economic Partnership Agreement (CEPA) memayungi perniagaan antara Hong Kong
dan China, termasuk perdagangan barang, jasa, dan fasilitasi investasi. Pemerintah
Cina menyatakan bahwa dibawah payung CEPA, telah berhasil diciptakan 29,000
lapangan kerja pada tahun 2004-2005.
4. Analisis dengan Teori Sistem Dunia
Teori Sistem-Dunia adalah perspektif makrososiologi yang berupaya menjelaskan
dinamika ekonomi dunia kapitalis sebagai sistem yang bersifat total. Pendekatan
ini dipakai oleh Immanuel Wallerstein terutama melalui karya The Rise and Future
Demise of the World Capitalist System: Concepts for Comparative Analysis
(1974) (Schoorl, 1982:104).
Teori Sistem-Dunia juga mengadaptasi teori ketergantungan (dependency theory).
Dari teori ini Wallerstein menjelaskan pandangan neoMarxis mengenai proses
pembangunan, yang populer di negara-negara berkembang dan diantara tokohnya
adalah Fernando Henrique Cardoso. Teori dependensia memahami peripheri.
dengan cara melihat relasi pusat-pinggiran yang tumbuh di kawasan periperal seperti
Amerika Latin. Dari sanalah kritik terhadap kapitalisme global sekarang ini
berkembang.
Dalam sistem dunia, terjadi tiga pola hubungan antara negara pusat, negara semi
pinggiran , dan negara pinggiran. Bila dilihat dari pola ini, Hong Kong berada pada
posisi negara semi pinggiran dimana Hong Kong merupakan suatu negara yang
dijadikan sebagai kawasan transit bagi jalur perdagangan internasional. Dalam
perkembangan selanjutnya, keberhasilan ekonomi Hong Kong tidak dapat dilepaskan

dari peranannya sebagai wilayah transit perdagangan, sehingga lebih memungkinkan


untuk memanjukan perekonomiannya sebgaimana Singapura yang juga merupakan
wilayah transit perdagangan.
Kebijakan ekonomi Hong Kong semasa masih di bawah Inggris didasarkan atas
prinsip positive non-interventionism. Prinsip ini diaplikasikan dalam bentuk pajak
yang rendah dan pembatasan pengeluaran pemerintah terhadap penyediaan jasa
dukungan esensial seperti kesehatan, perumahan, dan pendidikan. Peraturan yang
dikeluarkan pemerintah juga terbatas sifatnya.
Kebijakan ekonomi Hong Kong setelah penyerahan kembali ke China tahun 1997
juga tidak banyak berubah. Konstitusi mini Hong Kong SAR (Special Administrative
Region), Basic Law, menjamin Hong Kong akan tetap mempertahankan perdagangan
bebas (free trade), usaha secara bebas (free enterprise), dan pajak yang rendah selama
paling tidak 50 tahun. Hal-hal yang diatur secara khusus dalam hal ini adalah:
Hong Kong SAR memiliki sistem keuangan tersendiri

Pemerintah Hong Kong memegang pendapatannya sendiri, tidak perlu menyetor


pendapatan Hong Kong kepada pemerintah pusat di Beijing

Pemerintah Beijing tidak dapat mengenakan pajak di Hong Kong

Pemerintah harus menjaga agar pengeluaran selalu berada dalam batas pendapatan
dan menghindari defisit

Hong Kong dollar tetap dipertahankan dan terus didukung dengan cadangan devisa
100 persen (Basic Law tidak menyebutkan adanya rezim nilai tukar tertentu, seperti
fixed link dengan US dollar)

Hong Kong dollar tetap convertible dan tidak diterapkan pengendalian pertukaran

Aliran bebas modal keluar dan masuk Hong Kong tetap dijaga

Hong Kong tetap menjadi pelabuhan bebas, dengan kebijakan perdagangan bebas,
meskipun tarif tetap dapat dikenakan untuk kasus tertentu.
Hong Kong yang kami kategorikan sebagai negara semi pinggiran ini memiliki
keterkaitan yang kuat dengan negara induk (negara pusat, dalam hal ini Inggris
kemudian Cina). Selain itu, Hong Kong juga merupakan sebuah negara yang
bertindak sebagai produsen dan memasarkan hasil produksinya kepada negara
pinggriran lain. Dengan demikian, Hongkong bertindak sebagai negara yang semi

pinggiran, artinya dia masih memiliki ketergantungan kepada negara induk, akan
tetapi ia juga sudah mampu mengembangkan perekonomian tersendiri dan memiliki
pasar sendiri untuk menunjang kehidupan pereonomiannya.

2.2.4

Jepang
Pembangunan di Jepang dalam hal ini modernisasi di Jepang, sudah terjadi
pada Masa Meiji (1868-1912). Di bawah kaisar Meiji Jepang bergerak maju dalam
pembentukan suatu bangsa yang modern yang memiliki perindustrian yang modern,
lembaga-lembaga politik yang modern dan pola masyarakat yang modern. Pada tahun
pertama pemerintahannya kaisar Meiji memindahkan ibukota kekaisaran dari Kyoto
ke Edo, tempat kedudukan pemerintah feodal. Edo diberi nama Tokyo (ibukota
timur). Di umumkan undang-undang dasar yang menetapkan sebuah kabinet dan
badan-badan legislatif yang terdiri dari dua dewan. Golongan-golongan lama pada
masa feodal yang membuat masyarakat terbagi-bagi di hapuskan. Pemerintahan Meiji
membawa pencerahan dan imajinatif membantu membimbing bangsanya melalui
peralihan yang penuh dinamika puluhan tahunnya.
Setelah zaman Meiji industrialisasi berarti pembentukan kota-kota industri
baru dan ini juga ikut menyebabkan terjadinya konsentrasi penduduk di kota-kota. Di
sisi lain banyak kota di Jepang yang pada mulanya merupakan kota puri milik
pangeran-pangeran feodal tetap mempertahankan ciri feodalistiknya dengan
penyesuaian modern. Dengan demikian meskipun aspek fisik dan material
pertumbuhan itu menimbulkan terjadinya masyarakat perkotaan, namun ciri komunal
yang mendalam itu tetap hidup dalam struktur sosial kota-kota Jepang (Fukutake,
1981: 5).
Dalam pembangunan di Jepang setelah perang dunia ke 2, perekonomian
Jepang hampir seluruhnya lumpuh akibat kerusakan perang diantaranya diakibatkan
karena kekurangan pangan yang parah, inflasi yang tak terbendung dan pasar gelap
dimana-mana. Rakyat Jepang mulai membangun ekonominya melalui tiga cara;
Pertama, Demiliterisasi pasca perang dan larangan persenjataan kembali yang tertera
dalam undang-undang dasar yang baru meniadakan beban berat pada sumber ekonomi
bangsa dari pengeluaran di sektor militer. Kedua, pemecahan zaibatsu (gabungan
bisnis atau trust yang besar) melepaskan kekuatan persaingan bebas. Dalam hal ini
pertanian disalurkan kembali berdasarkan skala besar khususnya dalam sewa tanah
pertanian. Ketiga, sistem prioritas produksi batu bara merupakan suatu usaha
pemusatan utama dari usaha industri bangsa (International Society for educational
information,1989:36)

Dalam melihat sikap masyarakat Jepang dalam menyikapi pembangunan kita


dapat melihat dari aspek nilai-nilai budaya yang berkembang dan sejauh mana
pandangan pemerintah terhadap peran pendidikan dalam pembangunan. Kesadaran
status tradisional bangsa Jepang yang telah bertahan cukup lama memiliki kelebihan
untuk merangsang rakyat dan berusaha mengembangkan perekonomian bersamaan
dengan nilai tradisional yang dimiliki bangsa Jepang. Berkaitan dengan nilai-nilai
tradisional dalam pembangunan, nilai-nilai tradisional di pandang tidak sebagai
penghambat pembangunan lagi, namun nilai-nilai tradisional positif mampu
menumbuhkan sikap mentalitas masyarakat dalam pembangunan tersebut.
Tradisi zaman Meiji menekankan tujuan untuk memiliki pengetahuan teknik
barat sambil sementara itu tetap memelihara semangat Jepang (wakonyosai), sekaligus
menitikberatkan pentingnya kesalehan-kesalehan timur serta ilmu pengetahuan dan
teknologi barat mengacaukan modernisasi sehingga orang lebih mementingkan
perkembangan ekonomi dan perluasan kekauatan militer (Fukutake, T, 1981: 2). Pada
zaman Meiji pun seperti yang telah dibahas sebelumnya terjadi urbanisasi kedaerah
perkotaan yang menjadi hal yang unik penduduk yang mengalir kedalam kota-kota
besar itu tidaklah berubah menjadi warga negara modern tetapi mempertahankan
ikatan-ikatan mereka dengan daerah-daerah pedesaan asal usul mereka.
Bangsa Jepang telah mengetahui peran pendidikan dalam aspek kehidupan itu
sangat penting khususnya dalam pembangunan. Karena melalui pendidikan pun nilainilai budaya di berikan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan melalui
pendidikan pun merupakan salah satu pembentukan kepribadian modern (mentalitas).
Permasalahan yang dihadapi oleh Jepang dalam pembangunan yaitu
ketergantungan dengan-negara lain. Khususnya negara-negara penghasil bahan baku
dalam produksi industri di Jepang. Hal tersebut tidak terlepas dari ketersediaan
negara Jepang tehadap sumber daya alam yang dimiliki. Selain itu masalah keadaan
geografis Jepang yang rawan bencana alam berupa gempa. Namun dengan hal itu
menjadikan suatu tantangan tersendiri untuk bangsa Jepang dalam pembangunan.

2.2.5

Taiwan
Taiwan memiliki ekonomi kapitalis yang dinamik dengan panduan investasi
dan perdagangan asing oleh pemerintah yang terus berkurang. Untuk menjaga trend
ini, beberapa bank milik-pemerintah dan perusahaan industri telah diswastanisasikan.
Pertumbuhan nyata dalam GDP memiliki rata-rata 8% selamat 3 dekade terakhir.

Ekspor telah tumbuh cepat dan telah menyediakan dorongan utama bagi
industrialisasi. Tingkat inflasi dan pengangguran rendah; surplus perdagangan sangat
penting; dan persediaan mata uang asing merupakan ketiga terbesar dunia.
Pertanian menyumbangkan 3% dari GDP, turun dari 35% pada 1952. Industri
tradisional yang membutuhkan banyak tenaga kerja secara stabil dipindahkan ke luar
dan digantikan dengan industri berpusat pada modal dan teknologi. Taiwan telah
menjadi investor utama di RRC, Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan
Vietnam.
Pasaran pekerja yang semakin meluas telah mengakibatkan masuknya pekerja
asing, baik yang legal maupun ilegal. Karena pendekatan keuangan yang konservatif
dan kekuatan berbisnisnya, Taiwan menderita sedikit saja dibanding tetangganya
dalam krisis finansial Asia pada 1998-1999.

2.3 Hubungan Diplomatik Indonesia dan Asia Timur

Hubungan perpolitikan luar negeri Indonesia dengan negara- negara Asia Timur, dalam paper
ini lebih difokuskan pada negara China dan Jepang, dimana dua negara ini dapat dikatakan
memiliki peran yang signifikan terhadap politik luar negeri Indonesia.
Hubungan diplomatik indonesia dengan China banyak mengalami pasang surut, terkait upayaupaya normalisasi. Retaknya hubungan diplomatik tersebut karena peristiwa G-30 S PKI
tahun 1967 dan minoritas China di Indonesia.Setelah 23 tahun hubungan tersebut beku, mulai
muncul upaya- upaya untuk melalkukan normalisasi. Hubungan diplomatik Jakarta- Beijing
diawali dengan kunjungan Menlu Ali Alantas ke Ohina pada bulan Juli 1990.
Indonesia melihat China tak hanya sebagai ancaman domismeestik, tapi juga sebagai
ancaman regional terhadap ASEAN dengan paham komunismenya. Tapi Indonesia tidak bisa
lepas dari peran China, terutama dalam kasusnya dengan kamboja, yang dinilai akan
menambah ruang gerak Indonesia. Upaya tersebut misalnya, adanya pembicaraan antara
Menlu Mochtar dan Menlu Wu Xueqian selama peringatan KAA ke 50, yang juga membahas
masalah Kamboja. Secara garis besar, ada 2 periode dalam normalisasi hubungan China dan
Indonesia, yaitu:
Periode pertama, tahun 1970-1977. Yang lebih menonjol yaitu penolakan dari Indonesia
untuk segera melakukan normalisasi, karena belum dirasa tuntas masalah ancaman
komunisme dan minoritas China.

Periode Kedua, tahun 1977-1988. Pada periode ini, mulai menonjolkan aspek ekonomi.
Perhatian untuk menjajagi kembali kemungkina pembukaan hubungan dagang langsung
dengan RRC muncul kembali setelah Menlu Mochtar Kusuma Atmaja menegaskan bahwa
Indonesia tidak perlu mencurigai mereka yang berdagang dengan RRC.
(Sukma, Rizal. 1994)
Setelah melewati dua periode penting ini, hubungan perpolitikan Indonesia- China mengalami
banyak perbaikan, terutama peningkatan kerjasama perdagangan yang tentunya harus
menguntungkan kedua belah pihak.
Dinamika hubungan Indonesia dengan Jepang sudah berjalan cukup lama, lebih dari 35
tahun dan pernah juga mengalami pasang surut. Dijelaskan oleh Bantarto Bandoro (1994),
hubungan Indonesia - Jepang memiliki kecenderungan- kecenderungan yang terbagi dalam 2
periode, yaitu:
1. Dasawarsa 1960an dan 1970an.
pada dasawarsa ini Indonesia masih sedikit ragu terhadap hubungan diplomatiknya dengan
jepang. Indonesia masih menganggap Jepang sebagai sumber bantuan sekaligus sebagai
sumber ancaman. Mulanya hubungan diplomatik tersebut tidak dinilai sebagai suatu ancaman
bagi kemerderkaan Indonesia, tetapi pada pertengahan tahun 1960-an, setelah beberapa elit
politik luar negeri Indonesia kembali dari kunjungan mereka ke Jepang, mereka tidak hanya
terkesantetapi juga khawatir akan kekuatan Jepang yang dapat mendorongnya untuk
melakukan ekspansionisme.
(Bandoro, Bantarto. 1994)
Dinilai sebagai ancaman, karena Jepang mempunya potensi teknologi dan kekuatan militer
yang besar, dikhawatirkan hal ini akan mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara.
2. Dasawarsa 1980-an.
Hubungan diplomatik Indonesia- Jepang pada periode ini sudah semakin matang, ditandai
dengan adanya pertemuan- pertemuan serta ditandatanganinya perjanjian- perjanjian
kerjasama, terutama dalam aspek ekonomi.
Menurut Bantarto (1994), Persoalan investasi, perdagangan, alih teknologi dan bantuan
keuangan Jepang kepada Indonesia adalah beberapa persoalan yang menonjol selama
dasawarsa 1980-an. Tidak hanya persoalan itu, Indonesia- Jepang juga memperluas hubungan

tersebut kedalam aspek- aspek lain. Peningkatan kualitas hubungan diplomatik tersebut juga
disadari akan membawa sumbangan berarti bagi kawasan regionalnya.

2.3.1

Kepentingan Indonesia terhadap negara- negara Asia Timur


Hubungan antara Indonesia dengan negara- negara Asia Timur dijalankan dengan
mengoptimalkan keuntungan kedua belah pihak. Secara garis besar, kepentingan yang
hendak dicapai Indonesia lebih berfokus pada 3 aspek mendasar, yaitu:
a. Ekonomi
Sudah sangat jelas bahwa aspek ekonomi merupakan aspek yang sangat signifikas
dalam hubungan Indonesia dengan negara- negara lain, tak terkecuali dengan
negara- negar Asia Timur yaitu China dan jepang. dari China, Indonesia dapat
mengimport hasil- hasil industri ringan, tidak hanya mengimport tapi Indonesia
juga mengekspor bahan- bahan mentah ke China. Sedangkan dari jepang,
Indonesia melirik kemampuan teknologi jepang yang sangat potensial untuk
mengolah sumber- sumber ekonomi di Indonesia.
Perdagangan antara Indonesia dan jepang merupakan contoh dimana dua ekonomi
nasional dapat saling Mendukung dan melengkapi. Indonesia merupakan sumber
bahan mentah untuk industri jepang, sementara produk- produk Jepang dapat
dipasarkan di Indonesia.
(Bandoro, Bantarto. 1994)
b. Stabilitas Keamanan
Letak Indonesia yang sangat strategis serta sebagai nehara kepulauan terbanyak
bisa mengancam integritas nasional. Dalam aspek stabilitas keamanan, hubungan
diplomatik Indonesia dan China tidak hanya untuk kepentingan domestik, tapi juga
untuk kepentingan regional terkait dengan letak Indonesia dan China yang samasama berada di kawasan Asia pasifik. Arti china juga nampak dalam peranannya
dalam membantu menyelesaikan kasus Kamboja. Peranan China merupakan faktor
kunci yang sangat mempengaruhi proses penyelesaian damai konflik Kamboja.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, faktor bantuan militer China kepada
Khmer Merah, dukungan Vietnam kepada rezim Hun Sen, dan konflik RRc dengan
Vietna seringkali mempersulit upaya kompromi diantara faksi- faksi yang bertikai.
(Sukma, Rizal. 1994)

Tapi muncul juga kekhawatiran bahwa China melakukan hubungan baik dengan
indonesia karena ingin mengintervensi dan memainkan percaturan politik di
ASEAN.
c. Politik
Aspek politik fokusnya memang tidak sebesar aspek ekonomi dan stabilitas
keamanan kawasan domestik maupun regional. Hubungan Indonesia dengan China
memang sebagian besar terfokus pada aspek ekonomi, dalam aspek politik,
indonesia masih mengkhawatirkan paham komunisme yang bisa mengancam
eksistensi pemerintah Indonesia serta integritas nasionalnya. Lain halnya dengan
Jepang, aspek politik mempunyai porsi yang lebih besar daripada porsi yang
diperoleh dari China.
Hubungan diplomatik dalam kerangka politik Indonesia- Jepang lebih banyak
dilakukan dalam dalam lingkup ASEAN. Selain itu hubungan dalam bidang itu
dikaitkan dengan usaha Indonesia untuk mengembangkan adaptasi independen
terhadap tantangan- tantangan yang sama yang muncul dalam lingkungan mereka.
(Bandoro, Bantarto. 1994)

BAB III
KESIMPULAN
Perekonomian Asia Timur yang melaju pesat saat ini didukung oleh sumber daya manusianya yang
maju dan mampu melihat peluang. Seluruh kawasan Asia Timur tidak memiliki sumber daya alam
yang melimpah, namum mereka memanfaatkan keadaan yang ada dan bergerak dalam sektor jasa.
Selain sektor jasa kawasan Asia Timur ini pula mengimpor barang-barang mentah untuk diolah dan
dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.
Indonesia seharusnya mulai mencontoh negara-negara dikawasan Asia Timur ini untuk meningkatkan
kwalitas sumber daya manusia (SDM). Karena kawasan indonesia sendiri kaya akan sumber daya
alam namun tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal sehingga kekayaan ini hanya dapat dinikmati
oleh segelintir orang.
Warga Indonesia harus mencintai produk-produk dalam negeri. Karena apabila masyarakat lebih
menyukai produk luar negeri, maka dampak jangka panjangnya adalah produsen dalam negeri akan
bangkrupt karena kalah saing dengan produsen luar negeri. Sehingga mengakibatkan produk nasional
akan menurun dan pendapatan negarapun jelas akan turun.

DAFTAR PUSTAKA
Bandoro, Bantarto, 1994. "Beberapa Dimensi Hubungan Indonesia-Jepang dan Pelaporan
untuk Indonesia", dalam Bantarto Bandoro [ed], Hubungan Luar Negeri Indonesia Selama Orde
Baru, Jakarta, CSIS.
http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_perekonomian
http://qyki.blogspot.com/2010/01/peranan-perdagangan-internasional-dalam.html