Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN KLINIK

Seorang pasien laki-laki 34 th dengan keluhuhan BAB hitam

Laporan Kasus ini Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian


Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Penyakit Dalam

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. H. M. Hidayat Santoso, Sp.PD
Disusun Oleh :
Kunthi Rahmawati

H2A010029

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
RUMAH SAKIT ISLAM KENDAL
PERIODE Agustus Oktober 2014

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN


ILMU PENYAKIT DALAM

Presentasi kasus dengan judul :


Seorang pasien laki-laki 34 th dengan keluhuhan BAB hitam

Laporan Kasus ini Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian


Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Penyakit Dalam
Rumah Sakit Islam Kedal

Disusun Oleh:
Kunthi Rahmawati

H2A010029

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Tanggal : ...........................................
Koordinator Kepaniteraan Ilmu Penyakit Dalam

dr. H. M. Hidayat Santoso, Sp.PD

BAB I
PENDAHULUAN

Perdarahan akut Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) merupakan


salah satu penyakit yang sering dijumpai di bagian gawat darurat rumah
sakit. Sebagian besar pasien datang dalam keadaan stabil dan sebagian
lainnya datang dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan
yang cepat dan tepat. Kejadian perdarahan akut saluran cerna ini tidak
hanya terjadi diluar rumah sakit saja namun dapat pula terjadi pada pasienpasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit terutama di ruang
perawatan intensif dengan mortalitas yang cukup tinggi. Selain itu
perdarahan akut SCBA sering menyertai penyakit-penyakit lainnya seperti
trauma kapitis, stroke, luka bakar yang luas, sepsis ,renjatan dan gangguan
hemostasis.
Di negara barat insidensi perdarahan akut SCBA mencapai 100 per
100.000 penduduk/tahun, laki-laki lebih banyak dari wanita.Insidensi ini
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Di Indonesia kejadian yang
sebenarnya di populasi tidak diketahui.
Dari catatan medik pasien-pasien yang dirawat di bagian penyakit
dalam RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 1996-1998, pasien yang
dirawat karena perdarahan SCBA sebesar 2,5% - 3,5% dari seluruh pasien
yang dirawat di bagian penyakit dalam. Berbeda dengan di negera barat
dimana perdarahan karena tukak peptik menempati urutan terbanyak maka
di Indonesia perdarahan karena ruptura varises gastroesofagei merupakan
penyebab tersering yaitu sekitar 50-60%, gastritis erosiva hemoragika
sekitar 25- 30%,tukak peptik sekitar 10-15% dan karena sebab lainnya
<5%. Kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa perdarahan yang terjadi
karena pemakaian jamu rematik menempati urutan terbanyak sebagai
penyebab perdarahan SCBA yang datang ke UGD RS Hasan Sadikin.
Mortalitas secara keseluruhan masih tinggi yaitu sekitar 25%, kematian

pada penderita ruptur varises bisa mencapai 60% sedangkan kematian


pada perdarahan non varises sekitar 9-12%. Sebahagian besar penderita
perdarahan SCBA meninggal bukan karena perdarahannya itu sendiri
melainkan karena penyakit lain yang ada secara bersamaan seperti
penyakit gagal ginjal, stroke, penyakit jantung, penyakit hati kronis,
pneumonia dan sepsis.
Presentasi klinis
Saluran cerna bagian atas merupakan tempat yang sering
mengalami perdarahan. Dari seluruh kasus perdarahan saluran cerna
sekitar 80% sumber perdarahannya berasal dari esofagus,gaster dan
duodenum
Kasus ini termasuk sering dijumpai pada pasien rawat inap di RSI
Kendal. Sehingga kami tertarik untuk melaporkan kasus seorang pasien
laki-laki 34 th dengan keluhan BAB hitam.

CATATAN MEDIS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. D

Usia

: 34 tahun

Alamat

: Kalirejo 9/6 Kangkung

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Status

: Menikah

No. CM

: 00144275

Tanggal datang ke klinik

: 8 September 2014

ANAMNESE
Anamnese dilakukan secara autoanamnese dan alloanamnese pada
tanggal 8 September 2014 pukul 08:00 WIB di UGD
Keluhan Utama

: BAB hitam

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien mengeluh BAB hitam sejak 1 minggu yang lalu. Demam
(+) naik turun tidak tentu waktunya. Mual (+), muntah (+) berupa apa
yang dimakan dan agak kemerahan. BAK tak ada keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat tekanan darah tinggi

: disangkal

Riwayat penyakit gula

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat sakit kuning

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Riwayat tekanan darah tinggi

: disangkal

Riwayat penyakit gula

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat sakit kuning

: disangkal

Riwayat Pribadi Sosial Ekonomi

III.

Kebiasaan merokok

: disangkal

Pasien tinggal bersama dengan istri dan anak-anaknya.

Pasien menggunakan BPJS

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 8 September 2014 di
Bangsal.
1. KEADAAN UMUM
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

2. TANDA VITAL
-

Tekanan darah : 130/80 mmHg

Nadi

Respiratory rate : 24 kali/menit

Suhu

: 96 kali/menit (reguler, isi dan tegangan cukup)


: 38 oC (axiller)

3. STATUS GENERALIS
a. Kepala
Kesan mesosefal
b. Mata
Sklera ikterus (-/-), Konjungtiva palpebra anemis (-/-), pupil isokor
(3mm/3mm), reflek pupil direk (+/+), reflek pupil indirek (+/+)
c. Hidung
Napas cuping hidung (-/-), epistaksis (-/-)
d. Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), gusi berdarah (-)
e. Telinga
Darah

(-/-),

nyeri

pendengaran(-/-).

tekan

mastoid

(-/-),

gangguan

fungsi

f. Leher
Simetris, trachea di tengah, pembesaran KGB (-), tiroid (Normal),
nyeri tekan (-).
g.

Thorax
Pulmo
Dextra

Sinistra

Pulmo Depan
Inspeksi

Diameter
Lateral=Antero posterior.
Hemithorax
Simetris
Statis Dinamis.
Palpasi
Stem fremitus normal
kanan sama dengan kiri.
Nyeri tekan (-).
Pelebaran SIC (-).
Arcus costa normal.
Perkusi
Sonor seluruh lapang
paru
Auskultasi Suara
dasar
paru
vesikuler (+), wheezing
(-), ronki (-)
Pulmo Belakang

Diameter
Lateral=Antero posterior.
Hemithorax
Simetris
Statis Dinamis.
Stem fremitus normal
kanan sama dengan kiri.
Nyeri tekan (-).
Pelebaran SIC (-).
Arcus costa normal.
Sonor seluruh lapang
paru
Suara
dasar
paru
vesikuler (+), wheezing
(-), ronki (-)

Palpasi

Stem fremitus normal


kanan sama dengan kiri.
Hemithorax simetris.
Nyeri tekan (-).
Pelebaran SIC (-).
Sonor seluruh lapang

Stem fremitus normal


kanan sama dengan kiri.
Hemithorax simetris.
Nyeri tekan (-).
Pelebaran SIC (-).
Sonor seluruh lapang

paru

paru

Perkusi

Auskultasi

Suara
dasar
paru Suara
dasar
paru
vesikuler (+), wheezing vesikuler (+), wheezing
(-), ronki (-)
(-), ronki (-)

Paru tampak anterior

Paru tampak posterior

Suara dasar: vesikuler

Suara dasar: vesikuler

Ronchi (-), wheezing (-)

Ronchi (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada


ICS V midclavicula sinistra
Pulsus parasternal (-)
Sternal lift (-)
Pulsus epigastrium (-)
Thrill (-)

Perkusi :
Batas atas jantung

: ICS II linea parasternal sinistra

Pinggang jantung

: ICS III linea parasternal sinistra

Batas kiri bawah jantung: ICS V linea mid clavicula sinistra


Batas kanan bawah jantung: ICS IV linea sternalis dextra
Kesan batas jantung: dalam batas normal

Auskultasi

: Bunyi jantung I & II murni, bising jantung (-),

gallop (-), pericardial friction rub (-).

h. Abdomen
Inspeksi

: warna sama seperti kulit di


sekitar, caput medusa (-), venectasi (-)

Auskultasi

: Bising usus (-) N, bruit hepar (-),

Perkusi

: Timpani (+), pekak sisi (-), pekak alih (-),


nyeri ketok CVA (-),

Palpasi

: Undulasi (-), Nyeri tekan (+ epigastrium),


hepar (sulit dinilai), lien (sulit dinilai), ginjal (sulit
dinilai).

i. Ekstremitas
Superior

Inferior

Akral dingin

-/-

-/-

Pitting Oedem

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

< 2 detik/<2 detik

<2 detik/2 detik

-/-

-/-

Capillary Refill
Palmar eritem

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Darah Lengkap
Hb

:6

[12 - 16] g%

HT

: 19

[36 - 46] %

Leukosit

: 3500

[4 - 10] ribu/ul

Eritrosit

: 2,25

[4 - 5] ribu/ul

Trombosit : 221000

[150 - 450] ribu/ul

b. Kimia Darah
GDS

: 119

[<200] mg/dl

Ureum

: 20

[17 - 43] mg/dl

Kreatin

: 0.4

[0,6 1,1] mg/dl

SGOT

: 78

[<31] U/I

V.

SGPT

: 28

Hbs-Ag

:-

[<31] U/I

Protein total : 6,0

[6,2-8,4] g/dl

Albumin

:3

[3,5-5,5] U/I

Asam urat

: 5,0

[2,5-6,5] mg/dl

Cholesterol : 92

[< 200 ] mg/dl

Trigliseride : 70

[< 150 ] mg/dl

RESUME
Pasien mengeluh BAB hitam sejak 1 minggu yang lalu. Demam
(+) naik turun tidak tentu waktunya. Mual (+), muntah (+) berupa apa
yang dimakan. BAK tak ada keluhan.
-

Tekanan darah : 130/80 mmHg

Nadi

Respiratory rate : 24 kali/menit

Suhu

: 96 kali/menit (reguler, isi dan tegangan cukup)


: 38 oC (axiller)

Hb

:6

[12 - 16] g%

HT

: 19

[36 - 46] %

Leukosit

: 3500

[4 - 10] ribu/ul

Eritrosit

: 2,25

[4 - 5] ribu/ul

Trombosit

: 221000

[150 - 450] ribu/ul

GDS

: 119

[<200] mg/dl

Ureum

: 20

[17 - 43] mg/dl

Kreatin

: 0.4

[0,6 1,1] mg/dl

SGOT

: 78

[<31] U/I

SGPT

: 28

[<31] U/I

Hbs-Ag

:-

Protein total

: 6,0

[6,2-8,4] g/dl

Albumin

:3

[3,5-5,5] U/I

Asam urat

: 5,0

[2,5-6,5] mg/dl

VI.

Cholesterol

: 92

[< 200 ] mg/dl

Trigliseride

: 70

[< 150 ] mg/dl

DAFTAR ABNORMALITAS

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK

1. BAB hitam 1 minggu

5. RR : 24x/menit

2. Mual

6. T : 38
7. Nyeri

3. Muntah

8. Hb 6
tekan

epigastrik

4. Demam

VII.

DIAGNOSIS BANDING
1. Hematemesis melena
2. Haemmoroid

MASALAH AKTIF
1. 1, 2, 3,4,5,6,7,8 hematemesis melena

VIII. INISIAL PLAN


IpDx : hematemesis melena
S
O

::-

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

IpTx

Konsul Spesialis Penyakit Dalam :


(Pemberian obat di IGD)
1. Infus ringer asetat 20 tpm
2. Injeksi Cefotaxime 3x1 gr
3. Injeksi Omeperazol 2x1 amp
4. Injeksi Ranitidin 4x1 amp
5. Maghtral 3x1 C (ac)
6. Injeksi Farsix 1 ampul
7. Paracetamol 1x500 mg
8. Tranfusi PRC 4 kolf
(Pemberian obat dibangsal)
1. Ciprofloxacin 2x1
2. Antalgin 3x1
3. Maltiron 2x1
4. Sukralfat syr 3x1 C
IpMx :
1. Tanda Vital
2. BAB
3. Sesak napas
IpEx

1. Menjelaskan penyakit kepada pasien mengalami perdarahan


saluiran cerna bagian atas.
2. Kondisi buruk yang sewaktu-waktu bisa terjadi komplikasi sesak
napas, lemah, koma.
IX.

PROGNOSIS
1. Quo ad vitam

: dubia ad bonam

2. Quo ad sanam

: dubia ad bonam

3. Quo ad Fungsionam

: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perdarahan Saluran Cerna Atas
Definisi
Perdarahan saluran cerna bahagian atas (didefinisikan sebagai
perdarahan yang terjadi di sebelah proksimal ligamentum Treitz pada
duodenum distal. Sebagian besar perdarahan saluran cerna bahagian atas
terjadi sebagai akibat penyakit ulkus peptikum (PUD, peptic ulcer disease)
(yang disebabkan oleh H. Pylori atau penggunaan obat-obat anti-inflamasi
non-steroid (OAINS) atau alkohol). Robekan Mallory-Weiss, varises
esofagus, dan gastritis merupakan penyebab perdarahan saluran cerna
bahagian atas yang jarang. (Dubey, S., 2008)
Gambaran Umum
Perdarahan saluran cerna bahagian atas dapat bermanifestasi klinis
mulai dari yang seolah ringan, misalnya perdarahan tersamar sampai pada
keadaan yang mengancam hidup. Hematemesis adalah muntah darah segar
(merah segar) atau hematin (hitam seperti kopi) yang merupakan indikasi
adanya perdarahan saluran cerna bagian atas atau proksimal ligamentum
Treitz. Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA), terutama dari
duodenum dapat pula bermanifestasi dalam bentuk melena. Hematokezia
(darah segar keluar per anum) biasanya berasal dari perdarahan saluran
cerna bagian bawah (kolon). Maroon stools (feses berwarna merah hati)
dapat berasal dari perdarahan kolon bagian proksimal (ileo-caecal).
(Djojoningrat, D., 2006)
Upper gastrointestinal tract bleeding (UGI bleeding) atau lebih dikenal
perdarahan saluran cerna bahagian atas memiliki prevalensi sekitar 75 %
hingga 80 % dari seluruh kasus perdarahan akut saluran cerna.
Insidensinya telah menurun, tetapi angka kematian dari perdarahan akut

saluran cerna, masih berkisar 3 % hingga 10 %, dan belum ada perubahan


selam 50 tahun terakhir.
Tidak berubahnya angka kematian ini kemungkinan besar berhubungan
dengan bertambahnya usia pasien yang menderita perdarahan saluran
cerna serta dengan meningkatnya kondisi comorbid. Peptic ulcers adalah
penyebab terbanyak pada pasien perdarahan saluran cerna, terhitung
sekitar 40 % dari seluruh kasus. Penyebab lainnya seperti erosi gastric (15
% - 25 % dari kasus), perdarahan varises (5 % - 25 % dari kasus), dan
Mallory-Weiss Tear (5 % - 15 % dari kasus). Penggunaan aspirin ataupun
NSAIDs memiliki prevalensi sekitar 45 % hingga 60 % dari keseluruhan
kasus perdarahan akut. (Alexander, J.A., 2008)
Etiologi
Banyak kemungkinan penyebab perdarahan saluran cerna bahagian
atas pada buku The Merck Manual of Patient Symptoms (Porter, R.S., et
al., 2008):
1. Duodenal ulcer (20 30 %)
2. Gastric atau duodenal erosions (20 30 %)
3. Varices (15 20 %)
4. Gastric ulcer (10 20 %)
5. Mallory Weiss tear (5 10 %)
6. Erosive esophagitis (5 10 %)
7. Angioma (5 10 %)
8. Arteriovenous malformation (< 5 %)
9. Gastrointestinal stromal tumors
Dalam buku Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology ada
beberapa etiologi yang dapat menimbulkan perdarahan saluran cerna
bahagian atas beserta tabel hasil penelitian dari Center for Ulcer Research
and Education (CURE) (Jutabha, R., et al. 2003)

Penyakit-Penyakit Ulcerativa atau Erosive


Penyakit Peptic Ulcer
Di Amerika Serikat, PUD (Peptic Ulcer Disease) dijumpai pada
sekitar 4,5 juta orang pada tahun 2011. Kira-kira 10 % dari populasi di
Amerika Serikat memiliki PUD. Dari sebahagian besar yang terinfeksi H
pylori, prevalensinya pada orang usia tua 20%. Hanya sekitar 10% dari
orang muda memiliki infeksi H pylori; proporsi orang-orang yang
terinfeksi meningkat secara konstan dengan bertambahnya usia. (Anand,
B.S., 2011). Secara keseluruhan, insidensi dari duodenal ulcers telah
menurun pada 3-4 dekade terkahir. Walaupun jumlah daripada simple
gastric ulcer mengalami penurunan, insidensi daripada complicated gastric
ulcer dan opname tetap stabil, sebagian dikarenakan penggunaan aspirin
pada populasi usia tua. Jumlah pasien opname karena PUD berkisar 30
pasien per 100,000 kasus. (Anand, B.S., 2011)
Prevalensi kemunculan PUD berpindah dari yang predominant
pada pria ke frekuensi yang sama pada kedua jenis kelamin. Prevalensi
berkisar 11-14 % pada pria dan 8-11 % pada wanita. Sedangkan kaitan
dengan usia, jumlah kemunculan ulcer mengalami penurunan pada pria
usia muda, khususnya untuk duodenal ulcer, dan jumlah meningkat pada
wanita usia tua. (Anand, B.S., 2011)

Stress Ulcer
Dari buku Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology
dikatakan bahwa hingga saat ini masih belum dipahami bagaimana
terjadinya stress ulcer, tetapi banyak dikaitkan dengan hipersekresi
daripada asam pada beberapa pasien, mucosal ischemia, dan alterasi pada
mucus gastric. (Jutabha, R., et al. 2003)

Medication-Induced Ulcer
Berbagai

macam

pengobatan

berperan

penting

dalam

perkembangan daripada penyakit peptic ulcer dan perdarahan saluran

cerna bahagian atas akut. Paling sering, aspirin dan NSAIDs dapat
menyebabkan erosi gastroduodenal atau ulcers, khususnya pada pasien
lanjut usia. (Jutabha, R., et al. 2003)

Mallory-Weiss Tear
Mallory- Weiss Tear muncul pada bagian distal esophagus di
bagian gastroesophageal junction. Perdarahan muncul ketika luka sobekan
telah melibatkan esophageal venous atau arterial plexus. Pasien dengan
hipertensi portal dapat meningkatkan resiko daripada perdarahan oleh
Mallory-Weiss Tear dibandingkan dengan pasien hipertensi non-portal.
Sekitar 1000 pasien di University of California Los Angeles datang
ke ICU dengan perdarahan saluran cerna bahagian atas yang berat,
Mallory-Weiss Tear adalah diagnosis keempat yang menyebabkan
perdarahan saluran cerna bahagian atas, terhitung sekitar 5 % dari seluruh
kasus. (Jutabha, R., et al. 2003)

Gastroesophageal Varices
Esophageal varices dan gastric varices adalah vena collateral yang
berkembang sebagai hasil dari hipertensi sistemik ataupun hipertensi
segmental portal. Beberapa penyebab dari hipertensi portal termasuk
prehepatic thrombosis, penyakit hati, dan penyakit postsinusoidal.
Hepatitis B dan C serta penyakit alkoholic liver adalah penyakit yang
paling sering menimbulkan penyakit hipertensi portal intrahepatic di
Amerika Serikat. (Jutabha, R., et al. 2003)

Pengaruh Obat NSAIDs


Penggunaan NSAIDs merupakan penyebab umum terjadi tukak
gaster. Penggunaan obat ini dapat mengganggu proses peresapan mukosa,
proses penghancuran mukosa, dan dapat menyebabkan cedera. Sebanyak
30% orang dewasa yang menggunakan NSAIDs mempunyai GI yang
kurang baik. Faktor yang menyebabkan peningkatan penyakit tukak gaster

dari penggunaan NSAIDs adalah usia, jenis kelamin, pengambilan dosis


yang tinggi atau kombinasi dari NSAIDs, penggunaan NSAIDs dalam
jangka waktu yang lama, penggunaan disertai antikoagulan, dan severe
comorbid illness. (Anand, B.S., 2011B.S. Anand, 2011)
Sebuah studi prospektif jangka panjang didapatkan pasien dengan
arthritis dengan usia diatas 65 tahun, yang secara teratur menggunakan
aspirin pada dosis rendah beresiko menderita dyspepsia apabila berhenti
menggunakan NSAIDs. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan NSAIDs
harus dikurangi. (Anand, B.S., 2011)
Walaupun prevalensi penggunaan NSAIDs pada anak tidak
diketahui, tetapi sudah tampak adanya peningkatan, terutama pada anak
dengan arthritis kronik yang dirawat dengan NSAIDs. Laporan
menunjukkan terjadinya ulserasi pada penggunaan ibuprofen dosis rendah,
walau hanya 1 atau 2 dosis. (Anand, B.S., 2011)
Penggunaan kortikosteroid saja tidak meningkatkan terjadinya
tukak gaster, tetapi penggunaan bersama NSAIDs mempunyai potensi
untuk menimbulkan tukak gaster. (Anand, B.S., 2011)
Resiko perdarahan saluran cerna bahagian atas dapat terjadi dengan
penggunaan spironolactone diuretic atau serotonin reuptake inhibitor.
(Anand, B.S., 2011)
The American Society for Gastrointestinal Endoscopy (ASGE)
mengelompokkan pasien dengan perdarahan saluran cerna bahagian atas
berdasarkan usia dan kaitan antara kelompok usia dengan resiko kematian.
ASGE menemukan angka mortalitas untuk 3.3% pada pasien usia 21-31
tahun, untuk 10.1% pada pasien berusia 41-50 tahun, dan untuk 14.4%
untuk pasien berusia 71-80 tahun . (Caestecker, J.d., 2011)
Menurut organisasi tersebut, ada beberapa faktor resiko yang
menyebabkan kematian, perdarahan berulang, kebutuhan akan endoskopi
hemostasis ataupun operasi, yaitu: usia lebih dari 60 tahun, comorbidity
berat, perdarahan aktif (contoh, hematemesis, darah merah per nasogastric
tube, darah segar per rectum), hipotensi, dan coagulopathy berat

Pasien dengan hemorrhagic shock memiliki angka kematian yang


mencapai 30 %. (Caestecker, J.d., 2011)

Gejala Klinis
Gejala klinis perdarahan saluran cerna:
Ada 3 gejala khas, yaitu:
1. Hematemesis
Muntah darah dan mengindikasikan adanya perdarahan saluran
cerna atas, yang berwarna coklat merah atau coffee ground. (Porter,
R.S., et al., 2008)
2. Hematochezia
Keluarnya darah dari rectum yang diakibatkan perdarahan saluran
cerna bahagian bawah, tetapi dapat juga dikarenakan perdarahan saluran
cerna bahagian atas yang sudah berat. (Porter, R.S., et al., 2008)
3. Melena
Kotoran (feses) yang berwarna gelap yang dikarenakan kotoran
bercampur asam lambung; biasanya mengindikasikan perdarahan saluran
cerna bahagian atas, atau perdarahan daripada usus-usus ataupun colon
bahagian kanan dapat juga menjadi sumber lainnya. (Porter, R.S., et al.,
2008)
Disertai gejala anemia, yaitu: pusing, syncope, angina atau
dyspnea. (Laine, L., 2008)
Studi meta-analysis mendokumentasikan insidensi dari gejala
klinis UGIB akut sebagai berikut: Hematemesis - 40-50%, Melena - 7080%, Hematochezia - 15-20%, Hematochezia disertai melena - 90-98%,
Syncope - 14.4%, Presyncope - 43.2%, Dyspepsia - 18%, Nyeri epigastric
- 41%, Heartburn - 21%, Diffuse nyeri abdominal - 10%, Dysphagia - 5%,
Berat badan turun - 12%, dan Jaundice - 5.2% (Caestecker, J.d., 2011)

Diagnosis
Diagnosis dapat dibuat berdasarkan inspeksi muntahan pasien atau
pemasangan selang nasogastric (NGT, nasogastric tube) dan deteksi darah
yang jelas terlihat; cairan bercampur darah, atau ampas kopi Namun,
aspirat perdarahan telah berhenti, intermiten, atau tidak dapat dideteksi
akibat spasme pilorik. (Dubey S., 2008)
Pada semua pasien dengan perdarahan saluran gastrointestinal
(GIT) perlu dimasukkan pipa nasogastrik dengan melakukan aspirasi isi
lambung. Hal ini terutama penting apabila perdarahan tidak jelas. Tujuan
dari tindakan ini adalah:
1. Menentukan tempat perdarahan.
2. Memperkirakan jumlah perdarahan dan apakah perdarahan telah
berhenti. (Soeprapto, P., et al., 2010)
Angiography

dapat

digunakan

untuk

mendiagnosa

dan

menatalaksana perdarahan berat, khususnya ketika penyebab perdarahan


tidak dapat ditentukan dengan menggunakan endoskopi atas maupun
bawah. (Savides, T.J., et al., 2010)
Conventional

radiographic

imaging

biasanya

tidak

terlalu

dibutuhkan pada pasien dengan perdarahan saluran cerna tetapi adakalanya


dapat memberikan beberapa informasi penting. Misalnya pada CT scan;
CT Scan dapat mengidentifikasi adanya lesi massa, seperti tumor intraabdominal ataupun abnormalitas pada usus yang mungkin dapat menjadi
sumber perdarahan. (Savides, T.J., et al., 2010)
Mempertahankan saluran nafas paten dan restorasi volume
intravascular adalah tujuan tata laksana awal. Infus kristaloid awal, sampai
30 mL/ kg, dapat diikuti transfusi darah O-negatif atau yang crossmatched
jika diperlukan. Pasien dengan perdarahan aktif memerlukan konsultasi
emergensi untuk esofagogastroduodenoskopi (EGD). Pasien tanpa
perdarahan aktif dapat dipantau, diobservasi, dan mungkin dijadwalkan
untuk EGD. Intervensi selama EGD meliputi injeksi epinefrin submukosa,
skleroterapi, dan ligase pita. Jika tindakan ini gagal menghentikan

perdarahan, angiografi dengan embolisasi atau pembedahan mungkin


diperlukan. Untuk pasien yang diduga mengalami perdarahan varises, tata
laksana medis dapat diberikan sambil menunggu tindakan definitif.
Oktreotid dapat digunakan untuk menurunkan tekanan vena porta, dan
pipa Sengstaken-Blakmore dapat dipasang sebagai tindakan sementara
untuk bertahan. (Dubey S., 2008)

Endoskopi
Definisi Endoskopi
Endoskopi adalah suatu alat untuk melihat ke bagian dalam tubuh
dengan menggunakan suatu selang fiberoptik yang disesuaikan dengan
sistem kerja lapangan pandang manusia sehingga memungkinkan kita
untuk melakukan pemeriksaan pada organ-organ bagian dalam tubuh
manusia. (Wong, L.M., et al., 2008)
Prinsip Dasar Endoskopi
Prinsip Kerja Endoskopi Fleksibel meliputi:
1. Control Head.
2. Flexible Shaft yang dilengkapi dengan manoeverable tip.
3. Head sendiri yang dihubungkan dengan sumber cahaya via
umbilical cord dan melalui saluran yang lain akan mengalirkan udara/ air,
suction dan sebagainya saluran suction juga bisa dipakai untuk
memasukkan alat diagnostik seperti forsep biopsy dan alat- alat
perlengkapan terapetik yang lain. (Putra, D.S., 2009)
a. Indikasi
Indikasi endoskopi, yaitu: perdarahan saluran cerna bagian atas
(SCBA), dyspepsia, disfagia, odinofagia, nyeri epigastrium kronis,
kecurigaan obsruksi outlet, survey endoskopi, curiga keganasan, dan nyeri
dada tidak khas (Putra, D.S., 2009).

b. Kontra Indikasi Absolut


Kontra indikasi endoskopi, yaitu: tidak kooperatif, psikopat, alergi
obat premedikasi, syok, infark miokard akut, respiratori distress, dan
perdarahan masif (Putra, D.S., 2009)
c. Kontra Indikasi Relatif
Kontra indikasi relatif, yaitu: kelainan kolumna vertebralis, gagal
jantung, sesak nafas, gangguan kesadaran, infeksi akut, aneurisma aorta
torakalis, tumor mediastinum, stenosis esofagus, gastritis korosif akut, dan
gastritis flegmonosis (Putra, D.S., 2009).
Gambaran Endoskopi
a. Peptic Ulcer

Gambar 2.1. Gambaran endoskopi pada pasien gastric ulcer


akibat penggunaan NSAIDs dan test H.Pylori negatif (Vakil, N., 2010)

Gambar 2.2. Gambaran endoskopi pada pasien duodenal ulcer


dengan test H.Pylori positif tetapi tidak ada riwayat penggunaan NSAIDs

(Vakil, N., 2010).

Mallory-Weiss Tear

Gambar 2.3. Gambaran endoskopi pada pasien Mallory-Weiss


Tear (Savides, T.J., et al., 2010).

Gastroesophageal varices

Gambar 2.4. Gambaran endoskopi dari esophageal varices.


(Shah, V.H., et al., 2010)

Gambar 2.5. Gambaran endoskopi dari gastric varices dan


esophageal variceal ligation-related ulcers (Shah, V.H., et al., 2010).

BAB III
PEMBAHASAN
Perdarahan saluran cerna bagian atas dapat bermanifestasi klinis mulai
dari yang seolah ringan, misalnya perdarahan tersamar sampai pada keadaan yang
mengancam hidup. Hematemesis adalah muntah darah segar (merah segar) atau
hematin (hitam seperti kopi) yang merupakan indikasi adanya perdarahan saluran
cerna bagian atas atau proksimal ligamentum Treitz. Perdarahan saluran cerna
bagian atas (SCBA), terutama dari duodenum dapat pula bermanifestasi dalam
bentuk melena.
Pada pasien didapatkan BAB hitam sejak 1 minggu yang lalu. Demam
(+) naik turun tidak tentu waktunya. Mual (+), muntah (+) berupa apa yang
dimakan dan agak kemerahan. BAK tak ada keluhan. Pada bagian abdomen
didapatkan nyeri tekan (+). Penanganan pasien dengan perdarahan saluran cerna
dengan pemberian PPI (Inj. Omeprazole) untuk mengurangi perdarahan atau bisa
diberikan antikoagulan jika perdarahan masif dan antibiotic untuk mencegah
infeksi sekunder.
Keberhasilan pengobatan dapat dievaluasi dalam waktu beberapa hari
dengan melihat gejala klinis seperti hematemesis dan melenanya masih terjadi
atau tidak pada pasien tersebut, dan melihat apakah ada demam atau tidak untuk
menyingkirkan adanya infeksi sekunder yang terjadi.

BAB IV
KESIMPULAN

1.

Hematemesis adalah muntah darah dan mengindikasikan adanya


perdarahan saluran cerna atas, yang berwarna coklat merah atau coffee
ground.

2.

Melena adalah kotoran (feses) yang berwarna gelap yang dikarenakan


kotoran bercampur asam lambung; biasanya mengindikasikan perdarahan
saluran cerna bahagian atas, atau perdarahan daripada usus-usus ataupun
colon bahagian kanan dapat juga menjadi sumber lainnya.

3.

Gold standart untuk penegakkan diagnosis menggunakan endoskopi dan


indikasi endoskopi, yaitu: perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA),
dyspepsia, disfagia, odinofagia, nyeri epigastrium kronis, kecurigaan
obsruksi outlet, survey endoskopi, curiga keganasan, dan nyeri dada tidak
khas

4.

Komplikasi utama dari Hematemesis melena ini adalah anemia dan dapat
menyebabkan syok hipovolemik.

5.

Pasien ini mengalami hematemesis melena yang menunjukkan adanya


perdarahan pada saluran cerna bagian atas. Penanganan pasien dengan
perdarahan saluran cerna dengan pemberian PPI (Inj. Omeprazole) untuk
mengurangi perdarahan atau bisa diberikan antikoagulan jika perdarahan
masif dan antibiotic untuk mencegah infeksi sekunder.

6.

Prognosis pasien dengan keadaan umum baik adalah dubia ad bonam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Siti Nurdjanah. Sirosis Hepatis. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alvi I,
Simadibrata MK, Setiati S (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 5th ed.
Jakarta; Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia.
2009. Page 668-673.
2. Raymon T.Chung, Daniel K.Podolsky. Cirrhosis and its complications. In :
Kasper DL et.al, eds. Harrison's Principles of Internal Medicine. 16th
Edition. USA : Mc-Graw Hill; 2005. p. 1858-62.
3. Riley TR, Taheri M, Schreibman IR. Does weight history affect fibrosis in
the setting of chronic liver disease?. J Gastrointestin Liver Dis. 2009.
18(3):299-302.
4. Sutadi SM. Sirosis hati. Usu repository. 2003. [cited on 2011 February
23rd]. Available from : URL : http:// repository.usu.ac.id/ bitstream/
123456789 /3386/1/ penydalam-srimaryani5.pdf
5. Hirlan. Ascites. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alvi I, Simadibrata MK,
Setiati S (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 5th ed. Jakarta;
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia. 2009.
Page 668-673.
6. Rima A.M. Complication of chronic liver disease. PSAP VII.
Gastroenterology and nutrition.
7. Rita sood. Clinical medicine Ascites Diagnosis and management. New
Delhi : Departement of Medicine All India institute of medical Sciences.
110 029
8. Runyon, Bruce, MD. Serum Ascites Albumin Gradient. Diagnosis and
evaluation of patient with ascites. Update v11.2. 2003. internal medicine
9. Don C. Rockey, Scott L. Friedman. 2006. Hepatic Fibrosis And Cirrhosis.
[cited

on

2014

June

29rd].

Available

from:

https://www.us.elsevierhealth.com/media/us/samplechapters/97814160325
88/9781416032588.pdf

10. Setiawan, Poernomo Budi. Sirosis hati. In: Askandar Tjokroprawiro,


Poernomo Boedi Setiawan, et al. Buku Ajar Penyakit Dalam, Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. 2007. page 129-13
11. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Hati dan saluran empedu Dalam :
Hartanto H, Darmaniah N, Wulandari N. Robbins Buku Ajar Patologi. 7th
Edition. Volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.