Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KULIT SAMAK SAPI

Pohon Industri

Jenis
Berbagai macam kulit hewan baik sapi, kerbau, kambing dan domba pada dasarnya
dapat dibuat menjadi berbagai jenis kulit. Jenis-jenis kulit samak menurut SENADA (2007)
yaitu:
1. Full Grain/Full Top Leather
Kulit yang tidak diratakan atau tidak dihaluskan pada bagian atasnya, sehingga
bagian luar kulit secara utuh masih alami dipertahankan selama proses penyamakan.
2. Corrected Grain Leather
Kulit yang memiliki permukaan tambahan/buatan yang di emboss ke dalamnya
setelah dihaluskan lebih baik lagi bagian luar kulit yang kurang bagus.
3. Nappa Leather
Kulit domba yang dinamakan Nappa. Tetapi kata Nappa menjadi istilah lain yang
berarti lembut seperti kulit sapi Nappa.
4. Patched Leather
Kulit yang selesai disamak, dicelup dan melalui proses akhir (finishing) sesuai
keinginan, pengrajin yang terlatih kemudian memilih kulit yang cocok dalam warna dan
teksturnya. Masing-masing lembaran kulit kemudian dipotong dengan tangan ke dalam
ukuran yang berbeda-beda, lalu dijahit ke dalam corak-corak berbentuk mosaik menjadi
produk akhir yang berbeda dari lainnya.
5. Patent Leather
Ketika kulit sapi dikerjakan dengan bahan akhir yang protektif seperti cat acrylic atau
bahan tahan air untuk memproduksi hasil akhir yang sangat mengkilap.
6. Nubuck Leather
Kulit aniline yang telah dihaluskan/diratakan untuk menciptakan bintik (naps).
Nubuck termasuk Top Grain Leather sehingga tak bisa dikategorikan sebagai split atau suede.
Permukaan kulit aniline Nubuck disikat untuk menciptakan tekstur seperti beludru, sehingga
seringkali dikira suede. Suede adalah bagian dalam dari potongan kulit, sedangkan Nubuck
adalah efek yang timbul dari pengerjaan di bagian luar kulit.

7. Suede Leather
Ketika kulit di-finish melalui penghalusan dengan roda emory untuk menciptakan
suatu permukaan yang berbintik (naps). Suede terbuat dari lapisan yang dipisahkan dari
bagian top grain suatu kulit.
8. Pull-up Leather
Kulit yang memperlihatkan efek warna meretak bila kulit di tarik ketat. Kulit ini
menggunakan bahan celup full aniline, dan sebagai tambahan memiliki sejenis minyak
dan/atau wax aplikasi, yang menyebabkan warna menjadi terlihat lebih muda ketika kulit
ditarik.
Manfaat
Potensi bisnis kulit kambing, sapi, dan domba temyata masih sangat besar. Buktinya,
permintaan yang datang tak hanya dari pasar dalam negeri. Permintaan pasokan kulit ini dari
luar negeri pun tak pernah sepi. Maklum, kulit tersebut bisa digunakan untuk berbagai
keperluan, mulai dari busana hingga kerajinan tangan. Di dalam negeri, permintaan kulitkulit ini lebih banyak untuk bahan baku kerajinan tangan dan perabotan. Sementara, pasar
luar negeri lebih sering menggunakan kulit hewan ternak ini untuk berbagai produk garmen
mewah. Misalnya jaket, sarung tangan, hingga tas golf eksklusif. Namun, banyak juga yang
menjadikan kulit sapi sebagai produk pangan yaitu kerupuk kulit. Hal ini dikarenakan pada
kulit sapi mengandung zat yang bermanfaaat bagi tubuh diantarnya, protein, lemak, mineral,
dan natrium glutamat. Kulit sapi banyak dikonsumsi masyarakat luas, kulitnya banyak
dibutuhkan dalam industri kerajinan, karena kepadatan kulitnya yang memberikan kekuatan,
ukurannya lebih lebar, tebal dan hasilnya lebih mengkilat. Bahkan bagian dalam kulit hasil
split dapat diperdagangkan secara terpisah,misalnya untuk pakaian dalam yang tipis tetapi
cukup kuat.

Standar Mutu
SNI (1989) menyebutkan bahwa kulit mentah adalah kulit hewan yang masih dalam
keadaan segar atau kering yang belum atau yang sudah diproses pendahuluan (belum
disamak) masih bersifat belum mantap.
Menurut Saleh (2004), mutu atau kualitas kulit ditentukan oleh :
1). Perlakuan sewaktu ternak masih hidup (iklim, pakan, luka goresan, bekas cambuk, cap
bakar, penyakit)
2). Perlakuan setelah pemotongan ternak (cara pemotongan dan pengulitan)
3). Perlakuan selama pengawetan (suhu dan kelembapan ruang, sentuhan logam)
4). Perlakuan selama pengangkutan (suhu dan kelembapan, air hujan, air laut)
5). Penyimpanan (kelembapan dan waktu)
Secara umum kulit terdiri dari air 65%, lemak 2%, bahan mineral 0,5, protein
33%. Protein kulit digolongkan menjadi dua yaitu protein berbentuk (fibrous protein) yang
terdiri dari kolagen 29%, keratin 2% dan elastin 0,3% serta protein tak berbentuk
(globular protein) yang terdiri dari albumin dan globulin 1%,serta mucin dan mucoid
0,7% (Purnomo, 1984).
Setiap kulit binatang (hewan) dari jenis yang berbeda mempunyai sifat dan karakter
yang berbeda pula. Oleh karena itu kulit binatang dapat dibedakan kualitasnya menurut
faktor- faktor berikut:
1. Macam/jenis binatang (ternak).

2. Area geografi (asal) ternak.


3. Aktivitas ternak
4. Masalah kesehatan ternak
5. Usia ternak
Pembagian kelas kulit berdasarkan berat, perbedaan kelas kulit mentah baik kulit sapi
ataupun kerbau dapat diketahui melalui berat tiap-tiap lembar kulit. Untuk menentukan
tingkatan berat ini digunakan tanda abjad (alfabet). Adapun penggolongan kulit berdasarkan
beratnya dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Kelas A: kulit yang beratnya 0 kg - 3 kg/lembar.
2. Kelas B: kulit yang beratnya 3 kg - 5 kg/lembar.
3. Kelas C: kulit yang beratnya 5 kg - 7 kg/lembar.
4. Kelas D; kulit yang beratnya 7 kg - 9 kg/lembar.
5. Kelas E: kulit yang beratnya 9 kg/lembar atau lebih,sedangkan untuk menunjukkan kulit
sapi diberi tanda Z. Pembagian kelas kulit mentah sapi dan kerbau berdasar beratnya, juga
dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Kelas ringan: kulit yang beratnya 1 kg - 6 kg/lembar.
b. Kelas sedang I: kulit yang beratnya 6 kg - 8 kg/lembar
c. Kelas sedang II: kulit yang beratnya 8 kg -10 kg/lembar.
d. Kelas berat I: kulit yang beratnya 10 kg -15 kg/lembar.
e. Kulit berat II: kulit yang beratnya lebih dari 15 kg/lembar.
Spesifikasi kulit sapi mentah basah menurut SNI (1992) adalah sebagai berikut:
a. Bau: berbau khas kulit sapi
b. Warna dan kebersihan: merata, segar/cerah, bersih dan tidak ada warna yang mencurigakan
c. Bulu: tidak rontok
d. Ukuran kulit
Berdasarkan berat kulit mentah basah dibagi dalam dua tingkatan, yaitu:
-A = berat < 20 kg
-B = berat > 20kg
e. Elastisitas: cukup elastis
f. Kandungan air:
-Kulit mentah segar: maksimum 66%
-Kulit mentah garaman: maksimum 25%
g. Cacat:
-Mekanis: luka cambukan, gores atau potongan pisau, dll
-Termis: cap bakar atau terkena api
-Parasit: caplak, lalat, dll
h. Bahan pengawet: garam (NaCl) khusus untuk kulit garaman
i. Mutu kulit sapi mentah ditetapkan sebagai berikut:
-Mutu Kulit I: Berbau khas kulit sapi cerah, bersih, tidak ada cacat (lubang-lubang, penebalan
kulit), kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit
mentah garaman maksimum 25%.
-Mutu Kulit II: Berbau khas kulit sapi cerah, bersih, cukup elastis, terdapat sedikit cacat
diluar daerah punggung (krupon) dan bulu tidak rontok, kandungan airnya pada kulit mentah
segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%.
-Mutu Kulit III: Berbau khas kulit sapi, warna tidak cerah, kurang elastis, kurang elastis,
tidak utuh/ banyak sekali cacat dan kerontokan bulu, kandungan airnya pada kulit mentah
segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%.

Standar SNI atau Standar Internasional


Kulit samoa dibuat dari kulit domba atau anak sapi yang disamak menggunakan
minyak ikan hingga memiliki karakter lembut dan lemas. Kulit jenis ini dapat digunakan
untuk penyarinagn minyak industri dan industri alat optik.
Tabel Persyaratan mutu kulit samoa menurut SNI 06-1752-1990

Kulit sapi belahan samak nabati untuk sol dalam ialah kulit jadi, yang dibuat dari
kulit belahan dalam yang disamak masak dengan bahan penyamak nabati, untuk pembuatan
sol dalam.

Tabel Syarat Mutu Kulit Sapi Belahan Samak Nabati untuk Sol Dalam
Berdasar SNI 06-0568-1989

Pemasaran
-Permintaan
Mulai tahun 2001 sampai saat ini dan seiring dengan kondisi perekonomian yang
membaik, pasar produk dari kulit khususnya tas kulit mulai kembali membaik. Pengusaha
kecil industri kulit dapat kembali pada produksi tas kulit asli. Namun karena tas kulit imitasi
juga telah memiliki pangsa pasar sendiri, sebagian produsen tas kulit tetap memproduksi tas
dari kulit imitasi. Tantangan selanjutnya yang dihadapi industri tas kulit dalam negeri adalah

persaingan di pasar luar negeri yaitu produk tas kulit dari Cina. Di pasaran internasional, tas
kulit dari China dipasarkan dengan harga relatif lebih murah. Sedangkan produk tas kulit
Indonesia yang beredar di pasar luar negeri harganya lebih mahal. Hal ini disebabkan belum
adanya akses langsung ke pasar luar negeri.
Permintaan pasar tas kulit relatif bagus karena produk dengan bahan baku khusus ini
memiliki pangsa pasar tersendiri. Data mengenai besarnya permintaan pasar produk tas kulit
di Indonesia, baik permintaan dalam maupun luar negeri, masih cukup sulit. Salah satu
pengusaha pengrajin tas kulit di Tanggulangin, diperoleh informasi bahwa mereka biasa
memasarkan produknya di dalam negeri, baik melalui agen yang menjadi relasi pengusaha
pengrajin yang berada di beberapa kota seperti Jakarta dan Bali, maupun pesanan baik dari
peorangan atau institusi, serta melayani pesanan dari luar negeri. Terdapat beberapa merk tas
asing yang melakukan pesanan langsung ke Tanggulangin dengan memberikan spesifikasi
atau model yang khusus dan kemudian memberikan logo sesuai dengan brand pemesan.
-Penawaran
Kerajinan tas kulit memerlukan keterampilan tangan dan keuletan. Salah satu daerah
pengusaha pengrajin tas kulit di Tanggulangin mengungkapkan bahwa tidak ada yang tidak
bisa dibuat oleh pengrajin Tanggulangin. Hal ini dikarenakan kemampuan pengrajin
Tanggulangin dalam membuat produk tas kulit tidak diragukan. Para pengrajin ini seringkali
mengoleksi majalah-majalah mode dunia untuk melihat trend tas kulit yang berkembang.
Dari melihat gambar tersebut mereka mampu memproduksinya dengan hasil yang persis
dengan aslinya.
Konsumen yang menginginkan model tas yang berbeda, dapat membuat desain
sendiri atau memberikan contoh produk yang ia punya dan para pengrajin ini akan
membuatnya sesuai selera pemesan. Pemesan juga dapat melihat contoh produk yang ada
pada koleksi pengrajin kemudian meminta pengrajin untuk membuat produk modifikasinya.
Pengusaha bahkan telah terbiasa memproduksi tas dalam jumlah ribuan dalam waktu satu
minggu. Jumlah minimal produk pesanan tidak dibatasi. Hal ini dikarenakan karakteristik
biaya produksi yang sebagian besar adalah biaya variabel. Apabila pesanan dalam jumlah
sedikit, maka harga per item produk menjadi sedikit lebih mahal.
-Impor
Impor kulit samak termasuk kulit domba dan kambing menunjukkan kenaikan pada
tahun 1997-2001. Pada tahun 1997 produksi kulit sebesar 17,3 ribu ton dan pada tahun 2001
menjadi 25,1 ribu ton (kenaikan 45,1%). Kebutuhan kulit dunia cukup tinggi, hal ini
merupakan peluang dan prospek yang cukup besar bagi pengembangan industri penyamakan
kulit (baik kulit sapi maupun domba dan kambing).

Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Kulit di Indonesia Tahun 2001-2005

Perkembangan Volume dan Nilai Impor Kulit di Indonesia Tahun 2000-2004

-Ekspor
Ekspor Kulit Jadi/Samak dari data KEMENPERIN, 2011: Pada tahun 2007 jumlah
eskpor sebesar US $148.390.625, Tahun 2008 US $150.310.919, Tahun 2009 US
$106.757.603, Tahun 2010 US $111.382.024, Tahun 2011 US $116.986.724, tingkat peran
Industri Kulit Samak sebesar 0,10%. Pemanfaatan kulit ternak atau hewan untuk kepentingan
manusia itu berjalan searah dengan perkembangan peradaban manusia. Dari keseluruhan
produk sampingan hasil pemotongan ternak, maka kulit merupakan produk yang memiliki
nilai ekonomis yang paling tinggi. Berat kulit pada sapi, kambing dan kerbau memiliki
kisaran
7-10% dari berat tubuh. Secara ekonomis kulit memiliki harga berkisar 10-15% dari harga
ternak.
Sebelum era krisis moneter, pihak pemerintah dengan syarat tertentu masih
mengizinkan industri-industri penyamakan kulit untuk mengimpor kulit mentah dan awetan
dari luar negeri, dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kulit dalam negeri
yang sepenuhnya belum mencukupi. Namun demikian sejak mulainya krisis moneter,
pemerintah akhirnya mengeluarkan suatu kebijakan untuk melarang impor kulit mentah
maupun kulit setengah jadi dari luar negeri dengan alasan tingginya harga dasar barang (naik
kurang lebih 300-400%) dan pajak impor yang harus ditanggung oleh importir akibat
fluktuasi rupiah oleh mata uang asing. Dengan langkah kebijakan tersebut para pengusaha

dalam negeri tentunya harus menyediakan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri.
Sebuah catatan penting yang patut diingat bahwa kejayaan pesat, ekspor kulit
samak merupakan sumber devisa negara non migas selain kayu, tekstil dan elektronik.
Berdasarkan gambaran tersebut, tentunya banyak hal yang harus dikaji dan terpulang kepada
bagaimana perkembangan ilmu dan terknologi khususnya ilmu dan teknologi pengolahan
kulit ke depan serta kualitas SDM peternakan yang dimiliki.
-Peluang Pasar
Pangsa pasar produk kulit Indonesia di dunia saat ini baru mencapai 0,3%.
Pengembangan bahan baku di sentra penyamakan kulit saat ini tersebar di sejumlah wilayah
seperti Sukaregang Garut, Yogyakarta, Magetan Jawa Timur. Sementara sentra produk kulit
seperti sentra sepatu dikembangkan di Mojokerto, Pulo Gadung, Cibaduyut dan Magetan. Tas
dan koper dikembangkan di Tanggulangin, Jawa Timur dan Tajur, Bogor. Sentra jaket kulit
di Garut dan Bandung.
-Prospek
Prospek pengembangan industri penyamakan kulit ini cukup baik. Pada daerah sentra
industri penyamakan kulit seperti di kabupaten Garut terdapat prospek yang baik dari segi
ekonomi dan sosial masyarakat. Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah unit usaha industri
penyamakan kulit di Kabupaten Garut tahun 2006 sebanyak 340 unit, dengan penyerapan
jumlah tenaga kerja sebanyak 1.595 orang. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan industri
penyamakan kulit dapat mengurangi jumlah pengangguran di sekitar wilayah Garut dengan
banyak menyerap tenaga kerja. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Garut (2006)
jumlah unit usaha jenis industri ini mencapai 72 persen dari jenis industri lainnya dengan
jumlah tenaga kerja mencapai 66 persen dari tenaga kerja pada industri lainnya. Hasil
industrinya sudah diekspor ke Inggris, Belanda, Jepang, Iran, Australia, Belgia, Italia, Jerman
dan Maroko.
Potensi Industri Penyamakan Kulit per Tahun di Kabupaten Garut pada Tahun 2006

Prospek bisnis kulit masih cerah sejauh kulit masih banyak peminatnya, baik sebagai
bahan industri furnitur maupun garmen. karena industri kulit dan produk kulit di dalam
negeri merupakan industri padat sumber daya hewani dan potensinya di Indonesia dapat
dikembangkan, maka industri kulit dan produk kulit di dalam negeri tetap memiliki prospek
yang cukup bagus. Dengan jumlah penduduk Indonesia pada saat ini yang diperkirakan telah
mecapai 210 juta jiwa dan ini merupakan pasar kulit dan produk kulit yang cukup potensial.
Sedangkan Peluang ekspor kulit dan produk kulit Indonesia kepasaran dunia seperti telah
dijelaskan di atas masih memiliki prospek yang cukup besar . Nilai ekspor dunia pada tahun
2001 tercatat sebesar US$ 12.5 miliar dan Indonesia berada pada urutan 23 ekspor dunia
dengan nilai baru mencapai US$ 85.0 juta.

Daftar Pustaka
Purnomo, E. 1984. Teknologi Penyamakan Kulit 1. Akademi Teknologi Kulit,Yogyakarta.
Saleh E. 2004. Dasar Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak. Diktat Kuliah. Program
Studi
Produksi Ternak. Jurusan Fakultas Pertanian.Universitas Sumatera Utara.
Senada. 2007. Profil Spesifikasi Kulit Tersamak Indonesia. Jakarta.
Standar Nasional Indonesia. 1989. Istilah dan Definisi untuk Kulit dan Cara Pengolahannya.
SNI 0391-89A. Departemen Perindustrian, Indonesia.
Standar Nasional Indonesia. 1992. Kulit Sapi Mentah Basah. SNI 06-2738-1992.
Departemen Pertanian, Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai