Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

KERATITIS TRAUMATIKA

Disusun Oleh:
Shella Sukova
030.06.243

Pembimbing :
Dr. Azrief A. Ariffin, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR
PERIODE 7 JULI 16 AGUSTUS 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA 2014

BAB I
KASUS

IDENTITAS
-

Nama

: An. A

Umur

: 4 tahun

Jenis kelamin

: Laki - laki

Alamat

: Ahmad Yani, Bogor

ANAMNESA (Alloanamnesa pada tanggal 24 Juli 2014 )


-

Keluhan utama

Mata kiri merah dan ada sesuatu di mata bagian hitam

Keluhan tambahan:
Silau, kadang gatal, kotoran mata banyak pada malam hari

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang diantar ibunya dengan keluhan mata kiri merah 4 hari yang lalu sewaktu
pulang bermain. Ibunya mengira ini hanya sakit mata biasa, kemudian di kompres air
hangat oleh ibunya. Dua hari kemudian ibu baru menyadari ada sesuatu di mata hitam
anaknya. Ketika anaknya ditanya, anaknya mengaku tidak ingat apakah pernah
kemasukan sesuatu ke matanya, tetapi anaknya mengaku tidak pernah terjatuh dan
terkena bagian matanya. Kemudian ibu pasien membawa anaknya ke klinik di dekat
rumah, dan oleh dokter umum disarankan ke dokter mata.

Riwayat penyakit dahulu:


Belum pernah sakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga:


Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini, tidak ada riwayat alergi.

PEMERIKSAAN FISIK
Status present
-

Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 78 x/menit

Pernafasan

: 22 x/menit

Suhu

: afebris

Status generalis
-

Kepala

Bentuk

: Simetris

Mata

: Lihat status oftalmologis

Hidung

: Tidak ada kelainan

Telinga

: Tidak ada kelainan

Mulut

: Tidak ada kelainan

Toraks

Jantung

: Dalam batas normal

Paru

: Dalam batas normal

Abdomen

Hepar

: Tidak teraba

Lien

: Tidak teraba

Ekstremitas

Tidak ada kelainan

STATUS OFTALMOLOGIS

OCULUS DEKSTRA

OCULUS SINISTRA
PALPEBRA

OEDEM

LUKA ROBEK

SKUAMA

KONJUNGTIVA
Bening

WARNA

Bening

INJEKSI

Episklera

PENEBALAN

PIGMEN

BENDA ASING

SEKRET

KORNEA
+

JERNIH

BENDA ASING

SIKATRIKS

ARCUS SENILIS

INFILTRAT

COA
Aquous humor

ISI

Aquous humor

VOLUME

IRIS
N

KRIPTA

Coklat

WARNA

Coklat

PUPIL
Isokor

BENTUK

Isokor

2 mm

UKURAN

2mm

Hitam

WARNA

Hitam

+/+

RCL/RCTL

+/+

LENSA
-

IOL

JERNIH

GERAKAN BOLA MATA

20/40

VISUS

20/40

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

DIAGNOSIS
KERATITIS TRAUMATIK

PENATALAKSANAAN
Cravit
Flumetholone
Amoxicillin
Prednison

RESUME
Pasien laki-laki 61 tahun, datang dengan keluhan penglihatan yang kabur dan seperti melihat
awan pada mata kanannya sejak 3 bulan yang lalu . Keluhan tersebut dirasakan bertambah
dimana penglihatan pada mata kanannya semakin tidak jelas dan buram sehingga
mengganggu aktifitas sehari-hari terutama pada 1 bulan terakhir ini. Pasien belum pernah
berobat untuk keluhan ini. Pada mata kiri pasien tidak dapat melihat sejak saat pasien
berumur 25 tahun, menurut pasien pada mata kirinya tiba-tiba berwarna putih dan mendadak
tidak dapat melihat (riwayat trauma pada saat itu disangkal pasien), dimana pasien sendiri
tidak tahu penyebabnya. Riwayat sakit kepala yang hilang timbul dan memakai kacamata
untuk melihat jauh disangkal.kencing manis dan darah tinggi disangkal.
Pada pemeriksaan status generalis dalam batas normal.
Status Oftalmologis VOD = 1/300, VOS = 0, Cornea OD : jernih, arcus senilis (+), Cornea
OS = putih ,lensa OD = keruh, shadow test (-), Lensa OS = sulit dinilai

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, dan
lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan Kornea merupakan salah satu media
refrakta dengan diameter 11,5 mm, tebal + 1 mm (0,54 0,65 mm) dan dengan kekuatan bias
43 dioptri. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri
pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. Kornea terdiri dari 5 lapisan yaitu : 2,6
1. Epitel
Epitel kornea berasal dari ektoderm permukaan dan memiliki ketebalaan 50 pm,
terdiri atas 5 lapis sel epitel bertanduk yang saling tumpang tindih satu lapis sel basal,
sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal terlihat mitosis sel, dan sel muds ini
terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel
gepeng. Sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingya dan sel poligonal di
depannya melalui desmosom dan makula okluden dan ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal
menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan
akan mengakibatkan erosi rekuren.
2. Membran bowman
terletak di bawah membran basal epitel komea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini
tidak mempunyai daya regenerasi
3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya.
Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedangkan di bagian perifer serat
kolagen ini bercabang dan terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama
yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang
merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit
membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah
trauma.
4.

Membran Descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma. Bersifat sangat
elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.

5.

Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 pm. Endotel
melekat spada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden
7

B
Gambar 1. (A) Anatomi mata (B). Lapisan Kornea

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke V. Saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma
kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel
dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbul Krause untuk
sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah
limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.4
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan
deturgenes. Deturgenes, atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih
penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik, pada
endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya
menyebabkan edema lokal sesaat stroma kornea yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu
telah beregenerasi.2
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam
kornea. Namun sekali ini cedera, stroma yang avaskuler dan membrane bowman mudah
terkena infeksi oleh berbagai macam mikroorganisme, seperti bakteri, amuba, dan jamur.
Streptococcus pneumonia (pneumokokkus) adalah bakteri pathogen kornea sejati; pathogen
lain memerlukan inokulum yang berat atau hospes yang lemah (mis; defisiensi imun) agar
dapat menimbulkan infeksi2 adalah:
8

1. Dry eye
Kelainan ini muncul ketika lapisan air mata mengalami defisiensi
sehingga tidak dapat memenuhi batas-batas kecukupan, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, yang kemudian diikuti dengan keluhan
subjektif. Kekurangan cairan lubrikasi fisiologis merupakan faktor yang
dapat menyebabkan terjadinya infeksi mikroba pada mata (Bangun, 2009).
2. Defisiensi vitamin A
Kelainan kornea oleh karena defisiensi vitamin A dapat
menyebabkan kekeringan yang menggambarkan bercak Bitot yang
warnanya seperti mutiara yang berbentuk segitiga dengan pangkal di
daerah limbus. Bercak Bitot seperti ada busa di atasnya. Bercak ini tidak
dibasahi oleh air mata dan akan terbentuk kembali bila dilakukan
debridement. Terdapat dugaan bahwa bentuk busa ini merupakan akibat
kuman Corynebacterium xerosis. Hipovitamin A ini juga dapat
menyebabkan keratomalasia dan tukak kornea dimana akan terlihat kornea
nekrosis dengan vaskularisasi ke dalamnya (Ilyas, 2009).
Abnormalitas ukuran dan bentuk kornea
Abnormalitas ukuran dan bentuk kornea yang terjadi adalah
mikrokornea dan megalokornea.
Mikrokornea adalah suatu kondisi yang tidak diketahui
penyebabnya, bisa berhubungan dengan gangguan pertumbuhan kornea
fetal pada bulan ke-5. Selain itu bisa juga berhubungan dengan
pertumbuhan yang berlebihan dari puncak anterior optic cup yang
meninggalkan sedikit ruang bagi kornea untuk berkembang. Mikrokornea
bisa berhubungan dengan autosomal dominan atau resesif dengan prediksi

seks yang sama, walaupun transmisi dominan lebih sering ditemukan.


Megalokornea adalah suatu pembesaran segmen anterior bola
mata. Penyebabnya bisa berhubungan dengan kegagalan optic cup untuk
tumbuh dan anterior tip menutup yang meninggalkan ruangan besar bagi
kornea untuk untuk diisi (Bangun, 2010).
4. Distrofi kornea
Deposit abnormal yang disertai oleh perubahan arsitektur kornea,
bilateral simetrik dan herediter, tanpa sebab yang diketahui. Proses dimulai
pada usia bayi 1-2 tahun dapat menetap atau berkembang lambat dan
bermanisfestasi pada usia 10-20 tahun. Pada kelainan ini tajam penglihatan
biasanya terganggu dan dapat disertai dengan erosi kornea (Ilyas, et al,
2002).

5. Trauma kornea
Trauma kornea bisa disebabkan oleh trauma tumpul, luka penetrasi
atau perforasi benda asing. Kemungkinan kontaminasi jamur atau bakteri
harus diingat dengan kultur untuk bakteri dan jamur diambil pada saat
pemeriksaan pertama jika memungkinkan.
Trauma tumpul kornea dapat menimbulkan aberasi, edema,
robeknya membran Descemet dan laserasi korneoskleral di limbus
(Bangun, 2010)8
Trauma penetrasi merupakan keadaan yang gawat untuk bola mata
karena pada keadaan ini kuman akan mudah masuk ke dalam bola mata
selain dapat mengakibatkan kerusakan susunan anatomik dan fungsional
jaringan intraokular (Ilyas, 2009).

10

Perforasi benda asing yang terdapat pada kornea dapat


menimbulkan gejala berupa rasa pedas dan sakit pada mata. Keluhan ini
mungkin terjadi akibat sudah terdapatnya keratitis atau tukak pada mata
tersebut (Ilyas, 2009).

Keratitis
2.2.1. Definisi
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada
kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat terjadinya
kekeruhan pada media kornea ini, maka tajam penglihatan akan menurun. Mata
merah pada keratitis terjadi akibat injeksi pembuluh darah perikorneal yang dalam
atau injeksi siliar.
Keratitis biasanya diklasifikasikan dalam lapis yang terkena seperti
keratitis superfisial dan profunda atau interstisial (Ilyas, 2004).
2.2.2. Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor (Ilyas, 2004), diantaranya:
1. Virus.
2. Bakteri.
3. Jamur.
4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari.
5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak
cukupnya pembentukan air mata.
7. Adanya benda asing di mata.
8. Reaksi terhadap obat seperti neomisin, tobramisin, polusi, atau partikel

11

udara seperti debu, serbuk sari (Wijaya, 2012).


Pada penderita dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan keluhan pandangan
mata merah dan pedih pada mata sebelah kanan sejak 1 bulan yang lalu, pasien merasa silau
serta pasien juga mengeluh mata kanannya sering berair namun tidak terdapat kotoran pada
mata.. Riwayat demam pusing ,mual dan muntah disangkal oleh pasien. Dari anamnesis
menunjukkan bahwa pasien mengalami suatu infeksi didaerah mata bagian kanan dengan
keluhan penurunan visus (kabur), mata merah, silau (fotofobia), berair Dari gejala yang
timbul tersebut menunjukkan diagnosis mengarah ke diagnosis keratitis.
Karena kornea memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea, superfisisalis
maupun dalam (benda asing kornea, abrasi kornea, phlyctenule, keratitis interstisisal),
menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit ini diperhebat oleh gesekan palpebra
(terutama palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Karena kornea
berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan cahaya, lesi kornea umunya agak
mengaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat.2
Fotofobia pada penyakit kornea adalah akibat kontraksi iris beradang yang sakit.
Dilatasi pembuluh iris adalah fenomena reflek yang disebabkan iritasi pada ujung saraf
kornea. Fotofobia, yang berat pada kebanyakan penyakit kornea, minimal. Meskipun berair
mata dan fotofobia umunya menyertai penyakit kornea, umumnya tidak terdapat tahi mata
kecuali pada ulkus bakteri purulen.2
Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah:4
1.

Keratitis punctata superfisialis


Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh
sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar
ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak
.

12

2.

Keratitis flikten
Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk
menyerang kornea.

3.

Keratitis sika
Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau
sel goblet yang berada di konjungtiva.

4.

Keratitis lepra
Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga
keratitis neuroparalitik.

5.

Keratitis nummularis
Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak
didapatkan pada petani.
Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah :

1.

Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital

2.

Keratitis sklerotikans.

Gambar keratitis subepitelial oculi


Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD = (5/5), VOS = 5/7, pemeriksaan mata
sebelah kanan ditemukan hiperemi pada perikorneal. Dari hasil pemeriksaan status lokalis ini

13

tidak didapatkan adanya kelainan visus pada pasien secara objektif tetapi secara subjektif
pasien merasakan adanya penurunan daya penglihatan pada mata kanannya.
Terapi yang diberikan yaitu pemberian antibiotik, air mata buatan, dan sikloplegik.
Pasien juga dianjurkan menggunakan pelindung mata (kaca mata hitam) untuk melindungi
dari exposure dari luar seperti debu dan sinar ultraviolet. Pada pasien diberikan tarivid eye
drop dengan nama generiknya

Ofloxacin / Ofloksasin merupakan antibiotik golongan

kuinolon yang digunakan untuk menghilangkan gejala-gejala infeksi pada mata. Cendotropin
0,5% sebagai Siklopegik, diberikan untuk menghidari terbentuknya sinekia posterior dan
mengurangi nyeri akibat spasme siliar Pasien juga di berikan asam mefenamat untuk
mengurangi proses inflamasi pada mata.

14

BAB III
PENUTUP

Telah dilaporkan sebuah kasus penderita laki - laki berumur 41 tahun datang dengan
keluhan mata merah dan pedih sejak 1 bulan yang lalu, mata kanan terasa nyeri, penglihatan
pasien silau serta pasien juga mengeluh mata kanannya sering berair namun tidak terdapat
kotoran pada mata. Riwayat demam ,mual dan muntah disangkal oleh pasien. Pada
pemeriksaan status lokalis didapatkan visus OD (5/5) dan OS (5/7), pada mata sebelah kanan
tampak kornea keruh dan ada infiltrat, serta tampak adanya hiperemis pada konjungtiva, tidak
didapatkan adanya kelainan pada palpebra, skera, iris, dan pupil. Berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan fisik penderita didiagnosa keratitis subepitelial ocular sinistra dan pada
penatalaksanaan diberikan tarivid eye drop, cendotropin 0,5% dan asam mefenamat.

15

DAFTAR PUSTAKA

1.

American Academy of Ophthalmology. Externa disease and cornea. San Fransisco


2007

2.

Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum. Edisi 14 Cetakan Pertama. Widya Medika


Jakarta, 2000

3.

Ilyas, Sidarta. Sari Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI Jakarta, 2000

4.

Ilyas, Sidarta Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Balai Penerbit FKUI Jakarta, 2006

5.

Srinivasan M, et al. Distinguishing infectious versus non infectious keratitis. INDIAN


Journal of Opthalmology 2006 56:3;50-56

6.

Radjiman T, dkk. Ilmu Penyakit Mata. Airlangga. Surabaya, 1984

16