Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sifat beton tergantung pada kuantitas dan kualitas dari komponen-komponennya. Karena
semen merupakan komponen yang paling aktif dari beton dan biasanya memiliki unit biaya
terbesar, seleksi dan penggunaan yang tepat adalah penting dalam memperoleh perhitungan
paling ekonomis dari sifat yang diinginkan untuk setiap campuran beton tertentu (Anonim a,
2010).
Semen merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan gedung baik
sederhana maupun bertingkat (lebih dari 1 lantai). Semen dapat digolongkan sebagai perekat
non organik dan biasa digunakan bersama-sama dengan pasir, agregat atau bahan-bahan
berupa fiber untuk membuat beton. Produk tersebut digunakan bukan hanya sebagai perekat
dalam pekerjaan konstruksi secara langsung tetapi pula untuk membuat material-material
yang akan digunakan sebagai komponen dalam pekerjaan konstruksi seperti bata berlubang
(Kawigraha & Sarnety, 2000).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Penemuan Semen


Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap
mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya
dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau bahan lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan
fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di
China yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan
aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan
kuno yang dijumpai di Pulau Buton. Benar atau tidak, cerita, legenda tadi menunjukkan
dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang,
perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu
vulkanis.
Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk
Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai Pozzuolan. Meski sempat populer di zamannya,
nenek moyang semen made in Napoli ini tak berumur panjang. Menyusul runtuhnya Kerajaan
Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100 - 1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat
menghilang dari peredaran. Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar
tahun 1700-an M), John Smeaton - insinyur asal Inggris - menemukan kembali ramuan kuno
berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur
dan tanah liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai.
Cornwall, Inggris. Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan
cikal bakal semen ini. Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada

1824 mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen portland. Dinamai begitu
karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa
Aspdin inilah yang sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan. Sebenarnya, adonan
Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan utama, batu kapur
(kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis
mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-bahan itu
kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk campuran baru.
2.2. Pengertian Semen
Semen (cement) adalah hasil industri dari paduan bahan baku: batu kapur/gamping
sebagai bahan utama dan lempung/tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir
berupa padatan berbentuk bubuk/bulk, tanpa memandang proses pembuatannya, yang
mengeras atau membatu pada pencampuran dengan air. Bila semen dicampurkan dengan air,
maka terbentuklah beton. Beton nama asingnya,concrete-diambil dari gabungan prefiks
bahasa Latin com, yang artinya bersama-sama, dan crescere(tumbuh), yang maksudnya
kekuatan yang tumbuh karena adanya campuran zat tertentu.
Batu kapur/gamping adalah bahan alam yang mengandung senyawa kalsium oksida
(CaO), sedangkan lempung/tanah liat adalah bahan alam yang mengandung senyawa: silika
oksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3), besi oksida (Fe2O3) dan magnesium oksida
(MgO). Untuk menghasilkan semen,bahan baku tersebut dibakar sampai meleleh, sebagian
untuk membentuk clinkernya, yang kemudian dihancurkan dan ditambah dengan gips
(gypsum) dalam jumlah yang sesuai. Hasil akhir dari proses produksi dikemas dalam
kantong/zak dengan berat rata-rata 40 kg atau 50 kg.

2.3. Penggolongan Semen

Semen dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu semen hidraulik dan semen
nonhidraulik. Semen hidraulik mengeras setelah terjadi reaksi dengan air sedangkan semen
non hidraulik merupakan semen yang tidak dapat mengeras bila terjadi reaksi dengan air.
Semen dapat pula digolongkan berdasarkan penggunaannya seperti semen tipe 1 hingga tipe
5 (Kawigraha & Sarnety, 2000). Semen portland adalah suatu bahan konstruksi yang paling
banyak dipakai serta merupakan jenis semen hidrolik yang terpenting. Penggunaannya antara
lain meliputi beton, adukan, plesteran,bahan penambal, adukan encer (grout) dan
sebagainya.Semen portland dipergunakan dalam semua jenis beton struktural seperti tembok,
lantai, jembatan, terowongan dan sebagainya, yang diperkuat dengan tulangan atau tanpa
tulangan. Selanjutnya semen portland itu digunakan dalam segala macam adukan seperti
fundasi,telapak, dam,tembok penahan, perkerasan jalan dan sebagainya.Apa bila semen
portland dicampur dengan pasir atau kapur, dihasilkan adukan yang dipakai untuk pasangan
bata atau batu,atau sebagai bahan plesteran untuk permukaan tembok sebelah luar maupun
sebelah dalam (Rahayu, 209).
Berdasarkan prosentase kandungan penyusunnya, semen Portland terdiri dari 5 tipe yaitu :
1.Semen Portland tipe I
Adalah perekat hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling klinker yang
kandungan utamanya kalsium silikat dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan
berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat. Komposisi senyawa yang
terdapat pada tipe ini adalah:
55%(C3S); 19% (C2S); 10% (C3A); 7% (C4AF); 2,8% MgO; 2,9% (SO3); 1,0% hilang
dalam pembakaran, dan 1,0% bebas CaO.
2. Semen Portland tipe II
Dipakai untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memerlukan persyaratan
khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal, dan dapat digunakan untuk bangunan

rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat dan lain-lain. Komposisi senyawa yang


terdapat pada tipe ini adalah: 51% (C3S); 24% (C2S); 6% (C3A); 11% (C4AF); 2,9% MgO;
2,5% (SO3); 0,8% hilang dalam pembakaran, dan 1,0% bebas CaO.
3. Semen Portland tipe III
Dipakai untuk konstruksi bangunan dari beton massa (tebal) yang memerlukan
ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, misal bangunan dipinggir laut, bangunan bekas
tanah rawa, saluran irigasi , dam-dam. Komposisi senyawa yang terdapat pada tipe ini
adalah: 57% (C3S); 19% (C2S); 10% (C3A); 7% (C4AF); 3,0% MgO; 3,1% (SO3); 0,9%
hilang dalam pembakaran, dan 1,3% bebas CaO.
4. Semen Portland tipe IV
Dipakai untuk konstruksi bangunan yang memerlukan kekuatan tekan tinggi pada fase
permulaan setelah pengikatan terjadi, misal untuk pembuatan jalan beton, bangunanbangunan bertingkat, bangunan-bangunan dalam air. Komposisi senyawa.
yang terdapat pada tipe ini adalah: 28% (C3S); 49% (C2S); 4% (C3A); 12% (C4AF); 1,8%
MgO; 1,9%(SO3); 0,9% hilang dalam pembakaran, dan 0,8% bebas CaO.
5. Semen Portland tipe V
Dipakai untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan,
terowongan, pelabuhan dan pembangkit tenaga nuklir. Komposisi senyawa yang terdapat
pada tipe ini adalah: 38% (C3S); 43% (C2S); 4% (C3A); 9% (C4AF); 1,9% MgO; 1,8%
(SO3); 0,9% hilang dalam pembakaran, dan 0,8% bebas CaO.
2.4. Proses Pembuatan Semen
Proses pembuatan semen dapat dibedakan menurut :
a.Proses basah

Pada proses basah semua bahan baku yang ada dicampur dengan air, dihancurkan dan
diuapkan kemudian dibakar dengan menggunakan bahan bakar minyak, bakar (bunker crude
oil). Proses ini jarang digunakan karena masalah keterbatasan energi BBM.

Gambar 2.1: Proses basah


b.Proses kering
Pada proses kering digunakan teknik penggilingan dan blending kemudian dibakar
dengan bahan bakar batubara. Proses ini meliputi lima tahap pengelolaan yaitu :
*Proses pengeringan dan penggilingan bahan baku di rotary dryer dan roller meal.
*Proses pencampuran (homogenizing raw meal) untuk mendapatkan campuran yang
homogen.
*Proses pembakaran raw meal untuk menghasilkan terak (clinker : bahan setengah
jadi yang dibutuhkan untuk pembuatan semen).
*Proses pendinginan terak.
*Proses penggilingan akhir di mana clinker dan gypsum digiling dengan cement mill

Dari proses pembuatan semen di atas akan terjadi penguapan karena pembakaran
dengan suhu mencapai 900 derajat Celcius sehingga menghasilkan: residu (sisa) yang tak
larut, sulfur trioksida, silika yang larut, besi dan alumunium oksida, oksida besi, kalsium,
magnesium, alkali, fosfor, dan kapur bebas.
2.5. Proses Produksi Semen
Secara garis besar proses produksi semen melalui 6 tahap, yaitu :
1. Penambangan dan penyimpanan bahan mentah
Semen yang paling umum yaitu semen portland memerlukan empat komponen bahan
kimia yang utama untuk mendapatkan komposisi kimia yang sesuai. Bahan tersebut adalah
kapur (batu kapur), silika (pasir silika), alumina (tanah liat), dan besi oksida (bijih besi).
Gipsum dalam jumlah yang sedikit ditambahkan selama penghalusan untuk memperlambat
pengerasan.
2. Penggilingan dan pencampuran bahan mentah
Semua bahan baku dihancurkan sampai menjadi bubuk halus dan dicampur sebelum
memasuki proses pembakaran.
3. Homogenisasi dan pencampuran bahan mentah
4. Pembakaran

Tahap paling rumit dalam produksi semen portland adalah proses pembakaran, dimana
terjadi proses konversi kimiawi sesuai rancangan dan proses fisika untuk mempersiapkan
campuran bahan baku membentuk klinker. Proses ini dilakukan di dalam rotary kiln dengan
menggunakan bahan bakar fosil berupa padat (batubara),cair (solar), atau bahan bakar
alternatif. Batubara adalah bahan bakar yang paling umum dipergunakan karena
pertimbangan biaya.

5. Penggilingan hasil pembakaran


Proses selanjutnya adalah penghalusan klinker dengan tambahan sedikit gipsum,
kurang dari 4%, untuk dihasilkan semen portland tipe 1. Jenis semen lain dihasilkan
dengan penambahan bahan aditif posolon atau batu kapur di dalam penghalusan semen.
6. Pendinginan dan pengepakan
Reaksi alite dengan air : 2Ca3OSiO4 + 6H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2
Reaksi ini relatif cepat, menyebabkan penetapan dan perkembangan penguatan pada
beberapa minggu pertama.
Reaksi dari belite : 2Ca2SiO4+ 4H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + Ca(OH)2
Reaksi ini relatif lambat, dan berperan untuk meningkatkan penguatan setelah satu
minggu. Hidrasi trikalsium aluminat dikontrol oleh penambahan kalsium sulfat, yang dengan
seketika menjadi cairan pada saat penambahan air. Pertama-tama, etringit dibentuk dengan
cepat, menyebabkan hidrasi yang lambat.

Ca3(AlO3)2+ 3CaSO4+ 32H2O

Ca6(AlO3)2(SO4)3.32H2O
Sesudah itu etringit bereaksi secara lambat dengan trikalsium aluminat lebih lanjut
untuk membentuk monosulfat. Ca6(AlO3)2(SO4)3.32H2O + Ca3(AlO3)2+ 4H2O
3Ca4(AlO3)2(SO4).12H2O

Reaksi ini akan sempurna setelah 1-2 hari. Kalsium aluminoferit bereaksi secara
lambat karena adanya hidrasi besi oksida.

2Ca2AlFeO5+ CaSO4+ 16H2O

Ca4(AlO3)2(SO4).12H2O + Ca(OH)2+ 2Fe(OH)3.


Secara singkat, proses dari pembuatan semen ini adalah semua bahan mentah
dicampurkan, bahan-bahan mentah ini harus bebas debu. Debu yang dihasilkan dari bahan
mentah ini akan ditangkap oleh penangkap debu, agar debu-debu tersebut tidak mencemari
udara. Bahan-bahan ditampung. Setelah ditampung, bahan-bahan ini kemudian dimasukkan
ke dalam suspensi preheater. Suspensi preheater ini berfungsi untuk memanaskan dengan
cara menyemprotkan udara panas. Kemudian bahan-bahan dimasukkan ke dalam rotary kiln
(oven besar yang berputar) dan dibakar pada suhu 1400 C sehingga menghasilkan butiranbutiran kecil berwarna hitam yang disebut clinker (bahan setengah jadi). Clinker kemudian
ditampung di dalam clinker silo. Dari clinker silo kemudian dimasuk ke dalam semen mill.
Semen mill ini adalah suatu tempat dimana terjadi proses pencampuran dengan gipsum.
Setelah dari semen mill, masuk ke dalam semen silo. Tahap akhir dari proses pembuatan
semen ini adalah pengepakan, yang selanjutnya semen akan di distribusikan ke pasaran.

2.6. Gipsum (Kalsium Sulfat Hidrat)


Sejarah Gipsum
Kata gipsumberasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani , yang artinya
memasak. Disebut memasak karena di daerah Montmartre, Paris, pada beberapa abad yang
lalu orang-orangnya membakar gipsum untuk berbagai keperluan, dan material tersebut
kemudian disebat dengan plester dari Paris. Orang-orang di daerah ini juga menggunakan
gipsum sebagai krim untuk kaki, sampo, dan sebagai produk perawatan rambut lainnya.
Karena gipsum merupakan mineral yang tidak larut dalam air dalam waktu yang lama,
sehingga gipsum jarang ditemui dalam bentuk butiran atau pasir. Tetapi ada suatu kejadian

unik di White Sands National Monument, di negara bagian New Mexico, Amerika Serikat,
terdapat 710 km pasir gipsum putih yang cukup sebagai bahan baku untuk industri drywall
selama 1000 tahun. Kristal gipsum terbesar dengan panjang lebih dari 10 meter pernah
ditemukan di Naica, Chihuihua, Mexico. Gipsum banyak ditemukan di berbagai daerah di
dunia, yaitu Jamaika, Iran, Thailand, Spanyol (penghasil gipsum terbesar di Eropa), Jerman,
Italia, Inggris, Irlandia, Manitoba, Ontario, Canada, New York, Michigan, Indiana, Texas,
Iowa, Kansas, Oklahoma, Arizona, New Mexico, Colorado, Utah, Nevada, Paris, California,
New South Wales, Kalimantan, dan Jawa Barat (Anonim c., 2010).
Gipsum adalah salah satu dari beberapa mineral yang teruapkan. Contoh lain dari
mineral-mineral tersebut adalah karbonat, borat, nitrat, dan sulfat. Mineral-mineral ini
diendapkan di laut, danau, gua dan di lapian garam karena konsentrasi ion-ion oleh
penguapan. Ketika air panas atau air memiliki kadar garam yang tinggi, gipsum berubah
menjadi basanit (CaSO4.H2O) atau juga menjadi anhidrit (CaSO4). Dalam keadaan
seimbang, gipsum yang berada di atas suhu 108 F atau 42 C dalam air murni akan berubah
menjadi anhidrit (Anonim c., 2010).
Gypsum secara umum mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan, gipsit
alabaster, satin spar, dan selenit. Gypsum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat
terjadinya, yaitu endapan danau garam, berasosiasi dengan belerang, terbentuk sekitar
fumarol vulkanik, efflorescence pada tanah atau gua-gua kapur, tudung kubah garam,
penudung gossan|oksida besi (gossan) pada endapan pirit di daerah batu gamping.
Gypsum terbentuk dalam kondisi berbagai kemurnian dan ketebalan yang bervariasi.
Gypsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses evaporasi air laut
diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah. Sebagai mineral evaporit,
endapan gipsum berbentuk lapisan di antara batuan-batuan sedimen batu gamping, serpih
merah, batu pasir, lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk endapan lensa-lensa

10

dalam satuan-satuan batuan sedimen. Menurut para ahli, endapan gipsum terjadi pada zaman
Permian. Endapan gipsum biasanya terdapat di danau, laut, mata air panas, dan jalur endapan
belerang yang berasal dari gunung api.
Gypsum termasuk mineral dengan sistem kristal monoklin 2/m, namun kristal
gypsnya masuk ke dalam sistem kristal orthorombik. Gypsum umumnya berwarna putih,
kelabu, cokelat, kuning, dan transparan. Hal ini tergantung mineral pengotor yang berasosiasi
dengan gypsum. Gypsum umumnya memiliki sifat lunak dan pejal dengan skala Mohs 1,5 2.
Densitas|Berat jenis gypsum antara 2,31 2,35, kelarutan dalam air 1,8 gr/liter pada
0 C yang meningkat menjadi 2,1 gr/liter pada 40 C, tapi menurun lagi ketika
suhu semakin tinggi. Gypsum memiliki pecahan yang baik, antara 66o sampai dengan 114o
dan belahannya adalah jenis choncoidal. Gypsum memiliki kilap sutra hingga kilap lilin,
tergantung dari jenisnya. Gores gypsum berwarna putih, memiliki derajat ketransparanan dari
jenis transparan hingga translucent, serta memiliki sifat menolak magnet atau disebut
diamagnetit.
Gypsum memiliki banyak kegunaan sejak zaman prasejarah hingga sekarang.
Beberapa kegunaan gypsum yaitu (Anonim d, 2010):
a. Drywall
b. Bahan perekat.
c. Penyaring dan sebagai pupuk tanah. Di akhir abad 18 dan awal abad 19, gypsum
Nova Scotia atau yang lebih dikenal dengan sebutan plaster, digunakan dalam
jumlah yang besar sebagai pupuk di ladang-ladang gandum di Amerika Serikat.
d. Campuran bahan pembuatan lapangan tenis.
e. Sebagai pengganti kayu pada zaman kerajaan-kerajaan. Contohnya ketika kayu
menjadi langka pada Zaman Perunggu, gypsum digunakan sebagai bahan
bangunan.

11

f. Sebagai pengental tofu (tahu) karena memiliki kadar kalsium yang tinggi,
khususnya di Benua Asia (beberapa negara Asia Timur) diproses dengan cara
tradisonal.
g. Sebagai penambah kekerasan untuk bahan bangunan.
h. Untuk bahan baku kapur tulis.
i. Sebagai salah satu bahan pembuat portland semen.
j. Sebagai indikator pada tanah dan air.
k. Sebagai agen medis pada ramuan tradisional China yang disebut Shi Gao.
2.7. Senyawa Kalsium
Kalsium Karbonat
Kalsium karbonat umumnya bewarna putih dan umumnya sering djumpai pada batu
kapur, kalsit, marmer, dan batu gamping. Selain itu kalsium karbonat juga banyak dijumpai
pada skalaktit dan stalagmit yang terdapat di sekitar pegunungan. Karbonat yang terdapat
pada skalaktit dan stalagmit berasal dari tetesan air tanah selama ribuan bahkan juataan tahun.
Seperti namanya, kalsium karbonat ini terdiri dari 2 unsur kalsium dan 1 unsur karbon dan 3
unsur oksigen. Setiap unsur karbon terikat kuat dengan 3 oksigen, dan ikatan ini ikatannya
lebih longgar dari ikatan antara karbon dengan kalsium pada satu senyawa. Kalsium karbonat
bila dipanaskan akan pecah dan menjadi serbuk remah yang lunak yang dinamakan calsium
oksida (CaO). Hal ini terjadi karena pada reaksi tersebut setiap molekul dari kalsium akan
bergabung dengan 1 atom oksigen dan molekul lainnya akan berikatan dengan oksigen
menghasilkan CO2 yang akan terlepas ke udara sebagai gas karbon dioksida. dengan reaksi
sebagai berikut:

Reaksi ini akan berlanjut apabila ditambahkan air, reaksinya akan berjalan dengan
sangat kuat dan cepat apabila dalam bentuk serbuk, serbuk kalsium karbonat akan

12

melepaskan kalor. Molekul dari CaCO3 akan segera mengikat molekul air (H2O) yang akan
menbentuk kalsium hidroksida, zat yang lunak seperti pasta. Sebagaimana ditunjukkan pada
reaksi sebagai berikut:

Pembuatan kalsium karbonat dapat dilakukan dengan cara mengeringkan Ca(OH)2


hingga molekul H2O dilepaskan ke udara sedangkan molekul CO2 diserap dari udara sekitar
sehingga Ca(OH)2 dapat berubah kembali menjadi CaCO3. Reaksinya dapat ditunjukkaN
sebagai berikut:

Secara kimia, sama saja dengan bahan mentahnya, namun kalsium karbonat yang
terbentuk kembali tampak berbeda dari CaCO3yang semula sebelum bereaksi, karena
kalsium karbonat yang terbentuk kembali tidak terbentuk dalam tekanan yang tinggi di dalam
bumi.
Banyak industri yang telah memanfaatkan kalsium kabronat. Industri yang
menggunakan kalsium karbonat antara lain:
1. Industri pulp dan Kertas
2. Industri ban mobil dan motor
3. Industri Cat
4. Industri pembuatan pipa PVC, dan
5. Industri pembuatan pasta gigi.
Kalsium Sulfida
Kalsium

Sulfida

dibuat

dengan

mereduksi

kalsium

sulfat

dengan

pemanasan.Kegunaan utama dari senyawa ini adalah sebagai penghilang serabut pada
industri tekstil dan kosmetik.

13

2.8. Senyawa Magnesium


Magnesium klorida
Magnesium klorida merupakan salah satu senyawa yang memiliki peranan penting
pada indusri kimia. Produksi magnesium klorida pada skala industri pada umumnya tidak
dapat langsung dikonsumsi, tetapi produksi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan
baku industri-industri hilir. Salah satu pemanfaatan magnesium klorida pada bidang industri
kimia adalah sebagai bahan dasar proses pembuatan logam magnesium dengan cara
elektrolisa. Pemanfaatan lain dari magnesium klorida pada berbagai bidang industri kimia
meliputi :
1. Sebagai katalis
2. Bahan pembuat keramik, semen, kertas, dan komponen zat penahan panas pada
kayu.
Magnesium klorida dapat dibuat dari magnesium karbonat, hidroksida atau oksida
dengan asam klorida lalu dikristalisasi didalam evaporator. Sebagian besar berasal dari air
laut atau natural brine. Magnesium klorida juga dapat dibuat dari mineral carnallite. Produk
yang dihasilkan biasanya berupa heksahidrat (MgCl2.6H2O).
Magnesium klorida adalah salah satu nama dari senyawa kimia dengan rumus
MgCl2, dan bentuk hidrat MgCl2.x.H2O. Magnesium klorida hidrat sangat larut dalam air.
Anhidrat magnesium klorida yang utama adalah menghasilkan logam magnesium yang
diproduksi dalam skala besar. Jika ditinjau dari beberapa jenis hidrat, anhidrat magnesium
klorida merupakan suatu asam lewis meskipun merupakan asam yang lemah. Didalam proses
Dow, magnesium klorida dapat diturunkan dari magnesium hidroksida.
Cara yang paling mudah untuk pembuatan magnesium klorida pada skala industri
dapat dilakukan dalam beberapa cara, seperti pembuatan magnesium klorida dari karnalit, air
garam, air laut, dan dengan menggunakan bahan magnesium hidroksida.

14

2.9. Dampak dari Industri Semen


a.

Eksplorasi yang terus menerus dan berlebihan, pasti akan mengganggu keseimbangan

lingkungan. Misalnya, berkurangnya ketersediaan air tanah.


b.

Seiring dengan proses produksi semen, dihasilkan pula gas karbon dioksida (CO2)

dalam jumlah yang banyak sehingga sangat mempengaruhi kondisi atmosfer dan
mempercepat terjadinya pemanasan global. Misalnya: Meningkatnya suhu udara perkotaan.
Menurut International Energy Authority: World Energy Outlook, produksi semen ortland
menyumbang tujuh persen dari keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan berbagai
sumber.
c.

produksi semen juga menimbulkan dampak tersebarnya abu ke udara bebas sehingga

mengakibatkan penyakit gangguan pernafasan. Studi kesehatan lingkungan menyebutkan,


bahwa debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat
mengakibatkan penyakit sementosis.
d.

Penurunan kualitas dari segi kesuburan tanah akibat penambangan tanah liat

e.

Kualitas air bertambah buruk akibat limbah cair dari pabrik dalam bentuk minyak dan

sisa air dari kegiatan penambangan, yang menimbulkan lahan kritis yang mudah terkena
erosi, yang akan mengakibatkan pendangkalan dasar sungai, yang pada akhirnya akan
menimbulkan masalah banjir pada musim hujan
f.

Kuantitas air atau debit air menjadi berkurang karena hilangnya vegetasi pada suatu

lahan akan mengakibatkan penyerapan air hujan oleh tanah di tempat itu menjadi berkurang,
sehingga persediaan air tanah menjadi menipis, akibatnya persediaan ait tanah menjadi makin
sedikit. Akibat lanjutan adalah sungai menjadi kering pada musim kemarau dan sebaliknya
sungai akan banjir (debit air menjadi sangat tinggi) karena tanah tidak mampu lagi menyerap
air yang mengalir terlalu cepat
g.

Kebisingan yang terdiri dari tiga jenis sumber bunyi :

15

Mesin-mesin yang digunakan dalam pabrik,

Alat-alat besar seperti traktor yang dipakai pada waktu pengambilan bahan baku,

Dentuman dinamit yang digunakan pada waktu pengambilan kapur

h.

Berkurangnya keanekaragaman flora, berubahnya pola vegetasi dan jenis endemik,

berubahnya pembentukkan klorofil dan proses fotosintesa


i.

Berkurangnya keanekaragaman fauna (burung, hewan tanah dan hewan langka).

Berubahnya habitat air dan habitat tanah tempat hidup hewan-hewan tersebut.

2.10. Penanggulangan
a.

Menerapkan pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2

b.

Mengganti sebagian bahan-bahan dalam pembuatan semen dengan bahan yang lebih
ramah lingkungan.

16

BAB III
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Semen Portland pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di
Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia.
2. Semen (cement) adalah hasil industri dari paduan bahan baku: batu kapur/gamping
sebagai bahan utama dan lempung/tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan
hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk/bulk, tanpa memandang proses
pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran dengan air.
3. Berdasarkan kandungannya, maka semen dapat digolongkan sebagai: Semen
Portland tipe I, Semen Portland tipe II, Semen Portland tipe III, Semen Portland tipe
IV, Semen Portland tipe V.
4. Proses pembuatan semen meliputi proses basah dan proses kering.
5. Gypsum adalah salah satu contoh mineral dengan kadar kalsium yang mendominasi
pada mineralnya.
6. Kalsium karbonat umumnya bewarna putih dan umumnya sering djumpai pada batu
kapur, kalsit, marmer, dan batu gamping.

3.2 Saran
Perkembangan zaman mempengaruhi perkembangan manusia untuk berkembang ke
arah yang lebih baik dan menuntut setiap bangsa untuk berusaha maju. Begitu pula pada
perkembangan beton, dimana pengguanaan beton sangat berpengaruh pada konstruksi
bangunan di setiap pelosok. Namun penggunaan beton tak lepas dari eksploitasi alam yang
memungkinkan alam akan terkuras, dalam hal ini penggunaan bahan campuran beton. Untuk

17

itu sebagai seorang engineer, dalam penggunaan beton sebagai bahan untuk konstruksi, bias
menyeimbangkan keadaan alam kita, walaupun hal itu memang cukup sulit. Sehingga
seorang engineer dituntut untuk lebih kreatif lagi untuk menemukan material campuran beton
tanpa menguras habis sumber daya yang ada di bumi kita ini.

18

DAFTAR PUSTAKA

Anonim a, http://www.beacukai.go.id/library/data/Semen.htm,diakses pada tanggal 5


Desember 2010, pukul 21:27 WITA.
Anonim, b., 2010, Semen Gresik, (online),http://id.wikipedia.org/wiki/Semen_Gresik,
diakses pada tanggal 5 Desember 2010, pukul 22:06 WITA.
Anonim c., 2010, Gipsum, (online), http://id.wikipedia.org/wiki/Gipsum, diakses pada
tanggal 5 Desember 2010, pukul 23.09 WITA.
Anonim d, 2010, Sekilas Tentang Gypsum, (online),
http://gypsum123.wordpress.com/, diakses pada tanggal 5 Desember 2010, pukul 23.51
WITA.
Ena, 2009, Kalsium Karbonat, (online), http://ratna-watichemistry.blogspot.com/2009/05/kalsium-karbonat-caco3-ciri-ciri-dan.html, diakses pada
tanggal 5 Desember 2010, pukul 23.43 WITA
Rahayu, S.S., 2009, Semen Portland, (online), http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia-industri/utilitas-pabrik/semen-portland/, diakses pada tanggal 5
Desember 2010, pukul 21:27 WITA.
Kawigraha, A., & Sarnety, S., 2000, Pemanfaatan Batuan Pozolanik Dan Kapur
Padam Sebagai Bahan Baku Semen Pozolan Dan Bata Berlubang, Jurnal Sains dan
Teknologi Indonesia, Vol. 2, (6), hal. 12-18.

19