Anda di halaman 1dari 10

REFERAT

Kontrasepsi Emergensi

Oleh:
Elsya Aprilia
1102010088

Pembimbing:
dr.H. Dadan Susandi, Sp. OG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITRAAN


KLINIK SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

RSU. dr. Slamet Garut

Kontrasepsi emergensi
Kontrasepsi emergensi merupakan metoda kontrasepsi yang bertujuan untuk
mencegah kehamilan setelah melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan
(unprotected intercourse), yang digunakan segera setelah melakukan senggama. Hal
ini sering juga disebut sebagai kontrasepsi pasca senggama atau morning after pil atau
morning after treatment atau disebut juga kontrasepsi sekunder.
Diharapkan dengan kontrasepsi darurat kehamilan yang tidak diinginkan akibat diatas
dapat dicegah. Demikian pula dengan tindakan aborsi sebagai upaya penyelesaian
kehamilan yang tidak diinginkan dapat dikurangi. Faktor lain tentang penggunaan
kontrasepsi darurat ini adalah pada kasus pemerkosaan.
Nama kontrasepsi darurat lebih disukai untuk mengingatkan bahwa kontrasepsi ini
hanya dipakai untuk keadaan darurat, yakni bila senggama tanpa kontrasepsi atau cara
kontrasepsi yang dipakai tidak benar.

Indikasi Penggunaan Kontrasepsi Emergensi


1. Tidak menggunakan kontrasespsi
2. Penggunaan alat kontrasepsi yang gagal atau salah, seperti :
a. Kondom bocor, lepas, atau salah digunakan
b. Diafragma pecah, robek, atau diangkat terlalu cepat.
c. Lupa meminum tiga kali atau lebih pil KB
d. Senggama terputus gagal dilakukan sehingga ejakulasi terjadi di vagina
atau genitalia eksterna.
e. Kegagalan mencairnya tablet atau selaput tablet spermisida
f. Salah hitung masa subur.
g. Ekspulsi AKDR
h. Terlambat suntik progestin norethisterone enanthate (NET-EN) lebih
dari 2 minggu.
i. Terlambat suntik progestin
depot-medroxyprogesterone acetate
(DMPA) lebih dari 4 minggu.
j. atau terlambat suntik kombinasi lebih dari 7 hari.
k. Terlambat suntik kontrasepsi kombinasi lebih dari 7 hari.
3. Perkosaan.
4. Senggama tanpa menggunakan kontrasepsi.

Metode Kontrasepsi Darurat


Kontrasepsi darurat dapat diberikan dalam dua macam cara pemberian, yaitu mekanik
dengan menggunakan AKDR dan secara medic (hormonal).

Metode mekanik

IUD

Estrogen
Metode Kontrasepsi
Darurat

Antiestrogen
mifepristone
Metode hormonal

Metode yupze

Metode progestin

Danazol

Diagram 1. Pembagian metode kontrasepsi emergensi

Mekanisme Kerja Kontrasepsi Darurat


Mekanisme kerja dari kontrasepsi emergensi yang selama ini diketahui adalah
menunda atau memperlambat ovulasi, menghambat perjalanan sel telur atau sel
sperma dalam saluran tuba, mempengaruhi sel luteal, embriotoksik, menginduksi
aborsi dan mencegah implantasi dengan merubah kondisi endometrium.
Saat ini, kontrasepsi emergensi dapat diberikan dalam 2 cara, yaitu cara mekanik
dengan menggunakan AKDR/IUD atau penggunaan hormonal dengan cara oral.

I.

Metode Mekanik
IUD adalah alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim. Di mana IUD
terdiri dari bermacam-macam bentuk, terdiri dari plastik (polietiline), ada yang
di lilit tembaga (Cu), ada pula yang tidak. Tetapi ada pula yang di lilit tembaga
bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon
progesterone.
Sampai sekarang, mekanisme kerja IUD belum diketahui secara pasti. Kini
pendapat yang terbanyak ialah bahwa IUD dalam kavum uteri menimbulkan
reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebukan leukosit yang
dapat menghancurkan blastokista atau sperma. Pada pemeriksaan cairan uterus
pada pemakai IUD seringkali dijumpai pula sel sel makrofag yang
mengandung spermatozoa. Mekanisme kerja lokal IUD sebagai berikut:

1. IUD merupakan benda asing dalam rahim sehingga menimbulkan reaksi benda
asing dengan timbunan leukosit, makrofag, dan limfosit.
2. IUD menimbulkan perubahan pengeluaran cairan, prostaglandin, yang
menghalangi kapasitasi spermatozoa.
3. Pemadatan endometrium oleh leukosit, makrofag dan limfosit menyebabkan
blastokis mungkin dirusak oleh makrofag.
4. Ion Cu yang dikeluarkan IUD Copper menyebabkan gangguan gerak
spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melaksanakan konsepsi.
5. IUD menghentikan fertilisasi dari sel telur itu sendiri dan menghentikan sel
telur dari penempelan ke uterus.
Pada penggunaan untuk kontrasepsi emergensi, IUD dapat dipasang dalam waktu
5-7 hari setelah berhubungan seks. IUD dapat membunuh sel sperma serta
menyebabkan perubahan pada endometrium sehingga mencegah nidasi. Untuk
selanjutnya, IUD dapat dipakai sampai 10 tahun
Metode IUD (Intrauterine Device, Spiral)/Copper-T
IUD merupakan suatu alat kecil yang dimasukkan ke dalam rahim perempuan oleh
petugas kesehatan terlatih atau bidan. Jika alat ini sudah dimasukkan ke dalam rahim,
maka IUD ini akan mencegah terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma laki-laki.
IUD dapat bertahan dalam rahim hingga 10-12 tahun (tergantung jenis IUD) sebelum
harus diganti atau dilepas. IUD ini dapat digunakan tanpa sepengetahuan laki-laki
(walaupun terkadang laki-laki dapat merasakan benangnya pada saat berhubungan
seks)
IUD Progestin
IUD jenis ini juga mengandung hormon progestin dan tersedia di beberapa negara.
Progestin akan mengurangi rasa nyeri dan perdarahan yang dialami perempuan saat
menggunakan IUD. Alat ini akan mencegah kehamilan selama 5 tahun.
Kontra Indikasi menggunakan IUD:

Hamil atau kemungkinan hamil.


Menderita infeksi menular seksual atau memiliki resiko terkena infeksi
menular seksual. (Hal ini termasuk perempuan yang memiliki lebih dari satu
pasangan, atau pasangannya memiliki banyak perempuan).
Mengalami perdarahan banyak dan nyeri saat menstruasi (IUD Progestin
mungkin lebih baik).
Tunggulah sampai minimal 3 bulan sebelum menggunakan IUD jika anda
menderita infeksi pada saluran telur atau rahim, atau infeksi setelah persalinan
atau setelah mengalami keguguran.
IUD dapat digunakan oleh perempuan yang sedang menyusui.

Efek samping penggunaan IUD yang sering terjadi:

Anda akan mengalami perdarahan ringan pada minggu pertama setelah


penggunaan IUD.
Beberapa perempuan juga merasakan menstruasi yang lebih lama, lebih berat,
dan lebih nyeri, tetapi biasanya kondisi ini akan membaik setelah 3 bulan
pertama.

Bagaimana cara menggunakan IUD:


IUD harus dimasukkan oleh tenaga kesehatan terlatih setelah melakukan pemeriksaan
panggul. Waktu yang tepat untuk pemasangan IUD adalah pada saat menstruasi.
Setelah melahirkan, lebih baik menunggu sekitar 6 minggu agar rahim dapat kembali
ke ukuran dan bentuk normalnya sebelum pemasangan IUD.
Kadang-kadang, posisi IUD bisa tidak pada tempatnya. Jika hal ini terjadi, maka alat
ini tidak akan efektif untuk mencegah kehamilan, sehingga penting bagi anda untuk
mempelajari bagaimana memeriksa posisi IUD untuk memastikan bahwa alat tersebut
berada pada posisi normal. Kebanyakan IUD memiliki 2 benang yang menjulur keluar
ke dalam vagina. Anda harus memeriksa benang ini setelah menstruasi setiap
bulannya untuk memastikan IUD berada pada posisi yang benar.
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan terhadap beberapa masalah akibat
penggunaan IUD:
Radang panggul merupakan masalah serius yang sering muncul akibat penggunaan
IUD. Kebanyakan radang ini terjadi dalam 3 bulan pertama, biasanya karena
perempuan tersebut sudah mengalami infeksi sebelum pemasangan IUD. Atau bisa
saja terjadi akibat pemasangan IUD yang kurang bersih oleh petugas kesehatan. Jika
terdapat tanda-tanda di bawah ini, harus segera memeriksakan diri ke petugas
kesehatan terlatih untuk pemasangan IUD dan untuk menangani komplikasi, atau
segera pergi ke Rumah Sakit:

Menstruasi terlambat.
Nyeri pada perut bagian bawah atau nyeri saat berhubungan seks.
Timbul pengeluaran cairan berbau dari vagina.
Merasa kurang enak badan, atau demam atau menggigil.
Benang IUD hilang/memendek/memanjang dibandingkan sebelumnya.
Suami dapat merasakan adanya IUD (tidak hanya benangnya saja) saat
berhubungan seks.

Untuk menghentikan pemakaian IUD:


Jika ingin menghentikan pemakaian IUD, maka IUD tersebut harus dilepas oleh
petugas kesehatan terlatih. Jangan pernah mencoba untuk melepas IUD sendiri.
Pasien dapat langsung hamil segera setelah IUD dilepas.
4

II.

Metode Hormonal
1. Estrogen
Pemberian estrogen dosis tinggi sama efektifnya seperti metoda
Yuzpe. Namun efek sampingnya lebih sering timbul. Pada setiap
kasus, pemberian estrogen dosis tinggi harus diberikan dalam waktu 72
jam setelah senggama. Hal ini penting diketahui karena bila sampai
lebih dari 72 jam, disamping kurang berguna, akan menimbulkan efek
teratogen. Pil diminum 2x sehari selama 5 hari.
2. Antiestrogen Miferpistone
Mifepristone atau sering dikenal dengan RU-486 adalah obat yang
menghambat aksi dari hormon progesterone. Cara kerja mifepristone
adalah dengan merubah lapisan dalam Rahim dan detasemen
kehamilan, pelunakan dan pembukaan OUE, dan meningkatkan
sensitivitas rahim dengan prostaglandin. Efektifitas mifepristone akan
lebih efektif bila digunakan dengan misoprostol suatu prostaglandin
sintetis. Dalam hal ini misoprostol menyebabkan kontraksi Rahim.
3. Metode Yupze
Kombinasi ini disebut juga kombinasi estrogen-progesteron. Minimal
100 ug ethinyl estradiol dan 0,5 mg levonorgestrel diberikan. Produk
yang mengandung estrogen dan progesteron yang resmi disetujui FDA
untuk kontrasepsi emergensi adalah Preven Emergency Contraceptive
Kit. Dosis pertama idealnya diberikan dalam 72 jam setelah hubungan
seksual, namun dapat diberikan sampai 120 jam. Dosis kedua
diberikan 12 jam kemudian setelah dosis pertama. Regimen
kontrasepsi hormonal emergensi sangat efektif dan menurunkan resiko
kehamilan sampai 94 %.
4. Progestrin
Metode ini disebut juga metode postinor. Cara kontrasepsi emergensi
dengan menggunakan turunan progesteron terdiri dari 0,75 mg
levonogestrel yang terbagi dalam 2 dosis. Pemberian dimulai dalam
jangka waktu 48 jam setelah senggama. Walaupun cara ini termasuk
yang pertama kali ditemukan tahun 1960, hanya sedikit penelitian yang
telah dipublikasikan yang menguraikan tentang efektifitas kontrasepsi
pasca senggama. Dilaporkan angka kegagalan 2,4%.
5. Danazol
Danacrine dapat digunakan untuk kontrasepsi emergensi. Cara ini
dapat diberikan dengan dosis 2 x 400 mg yang diberikan selang 12
jam, seperti halnya dengan cara yuzpe. Varian lain juga telah diteliti
dengan pemberian dosis 3 x 400 mg yang diberikan selang waktu 12
jam. Keuntungan danazol antara lain karena jarang terjadi efek
samping. Efek samping ini yang mungkin terjadi tidak terlalu berat
dibandingkan dengan cara Yuzpe. Danazol dapat juga diberikan
5

kepada wanita yang mempunyai kontraindikasi terhadap pil KB atau


estrogen. Kerugiannya adalah kurangnya informasi tentang cara ini dan
harganya relatif mahal.
6. UlipristalAsetat
Satu tablet mengandung 30 mg ulipristal acetate. Ulipristal acetate atau
CDB-2914 and VA2914 merupakan turunan derivate steroid sintetis
19-norprogesterone. Mekanisme utama ulipristal adalah menginhibisi
atau memperlambat ovulatisi. Sebuah dosis tunggal dapat menekan
pertumbuhan folikel. Perubahan endometrium jugamengambil peran
dengan menginhibisi implantasi.

Efek samping metode hormonal


Karena metode hormonal berisi beberapa zat yang sama seperti zat yang
dihasilkan oleh seorang perempuan hamil, maka gejala-gejala berikut ini
mungkin akan dirasakan selama beberapa bulan pertama: mual, nyeri kepala,
kenaikan berat badan, payudara menegang, perubahan siklus menstruasi.
Efek samping yang muncul akan membaik setelah 2 atau 3 minggu pertama
atau beberapa bulan pertama. Jika efek samping tersebut tidak membaik, dan
mengganggu atau mengkuatirkan, periksakan ke petugas kesehatan.
Efek samping yang sering dijumpai pada penggunaan pil KB kombinasi:

Perdarahan yang tidak teratur atau bercak-bercak darah


(perdarahan di luar siklus menstruasi). Pil KB kombinasi seringkali
membuat siklus menstruasi memendek dan lebih ringan. Merupakan
suatu kondisi yang normal juga apabila baru mengalami menstruasi pada
bulan berikutnya. Kondisi ini merupakan efek samping yang paling
sering muncul dari penggunaan pil KB kombinasi. Untuk mengurangi
terjadinya bercak darah, usahakan untuk mengkonsumsi pil tersebut pada
waktu yang sama setiap harinya.
Mual. Mual atau rasa ingin muntah biasanya akan hilang setelah 1 atau 2
bulan. Jika kondisi ini mengganggu, cobalah untuk meminum pil
bersama makanan atau pada waktu yang lain dalam 1 hari. Beberapa
perempuan merasakan bahwa akan sangat membantu bila pil KB
diminum sesaat sebelum tidur di malam hari.
Nyeri kepala. Nyeri kepala ringan pada beberapa bulan pertama
seringkali terjadi. Obat ringan penghilang rasa sakit biasanya akan
membantu. Jika terjadi nyeri kepala hebat atau timbul dengan
penglihatan kabur, maka kondisi ini merupakan suatu keadaan yang
membahayakan,

Pelayanan Kontrasepsi Darurat Bagi Yang Memerlukan

Tabel 1. Berbagai macam metode pemberian kontrasepsi emergensi


I.

II.

Metode insersi IUD


Insersi IUD dalam waktu 72 jam sampai 7 hari banyak manfaatnya sebagai
kontrasepsi darurat, yang dapat dipertimbangkan pemakaiannya. Perlu
diperhatikan pemakaiannya pada wanita muda yang belum punya anak
(remaja) dengan komplikasi infeksi dapat menimbulkan infertilitas.
Metode Hormonal
1. Estrogen dosis tinggi
Pemberian estrogen dengan dosis 50mg dua kali dengan interval 12
jam atau dengan ethynilestradiol 5 mg selama 5 hari.
2. Antiprogestine mifepristone
Mifepristone deiberikan 200 mg setiap hari selama 4 hari mulai hari 27
menstruasi. Pada metode ini akan terjadi penurunan tingkat estrogen
dan progesterone darah yang menimbulkan perdarahan, sehingga hasil
konsepsi akan ikut serta dalam perdarahan.
3. Metode Yupze
Menggunakan tablet KB kombinasi dengan dosis 50 mcg
ethinylestradiol dan 250 mcg levonorgestrel diberikan 2 tablet pertama
7

diikuti 2 tablet berikutnya dengan interval 12 jam setelah 72 jam


hubungan tanpa proteksi.
4. Metode postinor
Pemberian levongestrogel 0.75 mg satu jam setelah hubungan seks
tanpa proteksi. Penggunaannya hanya 4 tablet dalam satu bulan.
5. Danazol
Pemberian danazol 600 mg dua kali dengan interval 12 jam

Penyulit Pemakaian Kontrasepsi Emergensi


Penggunaan kontrasepsi emergensi mempunyai beberapa penyulit sebagai berikut:
1. Kontrasepsi emergensi hormonal
Penyulit kontrasepsi darurat hormonal disebabkan komponen estrogen dan
derivatnya yang menyebabkan keluhan atau penyulit seperti terasa mual,
muntah-muntah, payudara tegang, dan menoragia. Keluhan ini terjadi pada
jam atau hari pertama memakai kontrasepsi emergensi hormonal yang dapat
diatasi dengan pemberian obat anti muntah. Dapat pula terjadi perdarahan atau
bercak-becak setelah menggunakan kontrasepsi kombinasi.
2. Kontrasepsi emergensi IUD
IUD adalah benda asing yang dipasang pada rahim sekitar 72 jam sampai 7
hari setelah hubungan seks tanpa proteksi alat kontrasepsi. Penyulit yang
berkaitan dengan pemasangan IUD adalah:
a. Infeksi alat genitalia
Infeksi alat genitalia dalam bentuk infeksi penyakit hubungan seks,
infeksi tanpa gejala yang jelas dan infeksi sekitar panggul wanita.
b. Perforasi IUD
Pemasangan IUD yang kurang legeartis mungkin menimbulkan
perforasi dengan gejala sakit mendadak dan dapat disertai syok.
c. Kehamilan berlangsung
Pemasangan IUD yang tidak mencapai fundus uteri menyebabkan
daerah ini bebas dari pengaruh IUVD atau ion Cu, sehingga terjadi
konsepsi, nidasi dan kehamilan berlangsung.
Kesimpulan
Kontrasepsi emergensi merupakan metoda kontrasepsi yang bertujuan untuk
mencegah kehamilan setelah melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan
(unprotected intercourse), yang digunakan segera setelah melakukan senggama. Hal
ini sering juga disebut sebagai kontrasepsi pasca senggama atau morning after pil atau
morning after treatment atau disebut juga kontrasepsi sekunder.
Saat ini, kontrasepsi emergensi dapat diberikan dalam 2 cara, yaitu cara mekanik
dengan menggunakan AKDR/IUD atau penggunaan hormonal dengan cara oral.

Daftar Pustaka

Amran R. Kontrasepsi Darurat: Pilihan Terkini untuk Mencegah Kehamilan yang


Tidak Diinginkan . 2011. Dalam:
http://eprints.unsri.ac.id/1753/1/Kontrasepsi_Darurat_Pilihan_Terkini_Untuk_
Mencegah_Kehamilan_Yang_Tidak_Diinginkan.pdf. Diunduh pada 18 Juli
2014.
Cunningham, FG et al. Kontrasepsi. Dalam: Obstetri Williams vol 1 ed 23.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2013: 724-25.
Manuaba, I. Pedoman Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Dalam: Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1998: 485-8.
Morning-After Pill (Emergency Contraception)
http://www.plannedparenthood.org/health-info/morning-after-pill-emergencycontraception Diakses 6/8/2014 12:13 PM
WHO. Emergency Contraception. 2012. Dalam :
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs244/en/ Diakses : 18 Juli 2014