Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

IMUNISASI

OLEH
NAMA : Muh. Alim Al-Fath Rianse
NIM : K1A109015
PEMBIMBIMNG : dr.Hj.Musyawarah Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013
REFERAT MINI IMUNISASI
dr. Hasniah Bombang, Sp.A, M.Kes, Sitti Nur Afridasari, S.ked

A. PENDAHULUAN
Kebanyakan penyakit pada masa anak-anak merupakan penyakit infeksi
dan hal penting yang harus didapatkan setiap anak adalah imunitas terhadap
berbagai organisme penyebab penyakit. penyakit infeksi merupakan penyebab
terbesar mortalitas dan morbiditas anak, sehingga sangat penting untuk
menggunakan semua cara preventif yang tersedia. Hampir 2 juta anak meninggal
tiap tahun akibat penyakit yang tidak dapat dicegah dengan vaksinasi dari 90.000
anak menjadi korban polio paralitik.1
B. Definisi Imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara meningkatkan kekebalan tubuh seseorang
secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen
yang serupa tidak terjadi penyakit.2
C. Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu
pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok
masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia
seperti imunisasi cacar. Keadaan yang terakhir ini lebih mungkin terjadi pada
jenis penyakit yang hanya dapat di tularkan manusia.2

D. Jenis Vaksin
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika
diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap
1

cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan


aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi
pengaruh infeksi organisme alami atau "liar."
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan
sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati
atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.).
Vaksin mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan
terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin
juga membantu sistem kekebalan melawan sel-sel degeneratif maupun kanker.3
Pada dasarnya vaksin dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Live attenuated (bakteri atau virus yang dilemahkan)
b. Inactivated (bakteri, virus atau komponenya, dibuat tidak aktif)
Vaksin hidup attenuated di produksi di laboratorium dengan cara
melakukan

modifikasi

virus

atau

bakteri

penyebab

penyakit.

Vaksin

mikroorganisme yang di hasilkan memiliki kemampuan untuk tumbuh lebih


banyak (replikasi) dan menimbulkan kekebalan tetapi tidak menyebabkan
penyakit.2

Vaksin inactivated dapat terdiri dari atas seluruh tubuh virus atau bakteri,
atau fraksi (komponen) dari kedua organism tersebut. Vaksin fraksi dapat
berbasis protein atau berbasis polisakarida. Vaksin yang berbasis protein
termasuk toksoid (toksin bakteri yang inactivated) dan produk sub unit atau sub2

vision. Sebagian besar vaksin berbasis polisakarida terdiri dari dinding sel
polisakarida asli bakteri.2
Pemberian vaksin merupakan upaya preventif untuk mencegah beberapa
penyakit infeksi berat yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan,
mencegah penyebaran penyakit, sehingga suatu saat penyakit tersebut terbasmi.2
imunisasi merupakan program yang dijalankan hampir seluruh negara di
dunia yang pola dan jadwal imunisasinya disesuaikan dengan pola epidemiologis
dan kemampuan pembiayaan program masing-masing negara.
Sebelum vaksin digunakan pada manusia, tahapan ilmiah harus dilalui
untuk menjamin keamanan dan efikasinya (dimulai dari uji pada binatang,
manusia, kelompok tertentu, multi countries). Vaksin yang beredar di Indonesia
sudah tentu setelah mendapat pengkajian ilmiah ulang yang mendalam,
mencakup uji keamanan dan manfaat dari Pemerintah, dalam hal ini Badan POM
dan Departemen Kesehatan, dan bila diperlukan, meminta masukan organisasi
profesi terkait, misalnya IDAI untuk vaksin yang akan diberikan kepada anak,
atau organisasi profesi lainnya sesuai indikasi (misalnya PAPDI, POGI).4

E. JADWAL IMUNISASI REKOMENDASI IDAI

Gambar. 1. Jadwal Imunisbasi Rekomendasi IDAI 2014


BCG, Hepatitis B, DTwp dan DTap, Tetatus, Campak, Polio.2
Imunisasi Wajib inilah ada 5 jenis imunisasi yang wajib diperoleh bayi
sebelum usia setahun. Penyakit-penyakit yang hendak dicekalnya memiliki angka
kesakitan dan kematian yang tinggi, selain bisa menimbulkan kecacatan.2,5
MMR, Hib, Rotavirus, Demam Tifoid, Hepatitis A, Varisela HPV.
1. Imunisasi BCG
Imunisasi BCG (basillus calmette guerin) merupakan imunisasi yang
digunakkan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC. Vaksin BCG merupakan
vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan.
TB disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali
menular melalui droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat
penderita batuk, bernapas ataupun bersin. Gejalanya antara lain : berat badan
anak sudah bertambah, sulit makan, mudah sakit, batuk berulang, demam dan

berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi TB rata-rata


berlangsung antara 8-12 minggu.
Usia Pemberian
Dibawah 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes
Montoux (tuberculin) dahulu untuk mengetahui apakah pada bayi telah terdapat
kuman Mycrobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil
tesnya negatif. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering
bertandang ke rumah, segera setelah lahir bayi harus di imunisasi BCG.
Jumlah Pemberian
Cukup 1 kali saja, tidak perlu diulang (booster). Sebab, vaksin BCG
berisi kuman hidup sehingga antibody yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda
dengan vaksin berisi kuman mati, hingga memerlukan pengulangan.
Kontra indikasi :
Tidak dapat diberikan pada anak yang berpenyakit TB atau menunjukan
mantoux positif. Adanya penyakit kulit yang berat dan menahun seperti : eksim,
furunkulosis dan sebagainya
Efek Samping :
Imunisasi BCG tidak menimbulkan reaksi yang bersifat umum seperti
demam. Setelah 1-2 minggu akan timbul indurasi dan kemerahan ditempat
suntikan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi luka. Luka
tidak perlu pengobatan , akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda
parut. Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau
5

leher, terasa padat tidak sakit dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal
tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya.
Cara pemberian :
1. Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.
Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml)
dengan 4 ml pelarut.
2.

Dosis 0,05 cc, untuk mengukur dan menyuntikkan dosis sebanyak


itu secara akurat, harus menggunakan spuit dan jarum kecil yang
khusus.

3.

Disuntikkan di lengan kanan atas (sesuai anjuran WHO) ke dalam


lapisan kulit dengan penyerapan pelan-pelan (intrakutan). Untuk
memberikan suntikkan intrakutan secara tepat, harus menggunakan
jarum pendek yang sangat halus (10 mm, ukuran 26)

2. Imunisasi Hepatitis B
Lebih dari 100 negara memasukkan vaksinasi ini dalam program
nasionalnya. Apalagi Indonesia yang termasuk Negara endemis tinggi penyakit
hepatitis. Jika menyerang anak, penyakit yang disebabkan virus ini sulit
disembuhkan. Bila sejak lahir telah terinfeksi virus hepatitis B (VHB), dapat
menyebabkan kelainan-kelainan yang dibawanya terus hingga dewasa. Sangat
mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati (kerusakan sel hati yang berat).
Bahkan yang lebih buruk bisa mengakibatkan kanker hati.

Usia Pemberian :
Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi
stabil, tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia 1
bulan, dan usia antara 3-6 bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB,
selain imunisasi yang dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir, juga diberikan
imunisasi tambahan dengan imunoglobin antihepatitis B dalam waktu sebelum
berusia 24 jam.
Jumlah Pemberian
Sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan
kedua, kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.
Kontra Indikasi :
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Dan tidak dapat diberikan pada
anak yang menderita sakit berat.
Efek Samping :
Umumnya tidak terjadi. Jikapun ada (kasusnya sangat jarang), berupa
keluhan nyeri pada bekas suntikan, yang disusul demam ringan dan
pembengkakan. Namun reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari.
Cara Pemberian :
Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada bayi
dipaha lewat anterolateral (antero = otot-otot di bagian depan; lateral = otot
bagian luar). Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bisa mengurangi
efektivitas vaksin.
7

3.

Imunisasi Polio
Belum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang

dapat menyebabkan kelumpuhan ini, disebabkan virus poliomyelitis yang sangat


menular. Penularannya bisa lewat makanan/minuman yang tercemar virus polio.
Bisa juga lewat percikan ludah/air liur penderita polio yang masuk kemulut orang
sehat.
Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. Setelah demam 2-5 hari, umumnya
akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun
tidak semua orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan,
tergantung keganasan virus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh si anak.
Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio.
Di Indonesia dipakai vaksin sabin yang diberikan melalui mulut dengan
dosis 2 tetes. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur
beberapa hari, dan selanjutnya setiap 4-6 minggu. Vaksin polio dilakukan sampai
4 kali. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin
hepatitis B, dan DPT. Bagi bayi yang sedang meneteki maka ASI diberikan
seperti biasa karena ASI tidak berpengaruh terhadap vaksin polio. Imunisasi
ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT dengan interval 2
jam.
Imunisasi ulang masih diperlukan walaupun seorang anak pernah terjangit
polio. Alasannya adalah mungkin anak yang menderita polio itu hanya terjangkit
oleh virus polio tipe 1. Artinya bila penyakitnya telah menyembuh, ia hanya
8

mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe 1, tetapi tidak mempunyai


kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III.
Usia Pemberian :
Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada
usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin DPT.
Kontra Indikasi :
Tidak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau
demam tinggi (di atas 38 derajat Celsius), muntah atau diare, penyakit kanker
atau keganasan, HIV/AIDS, sedang menjalani pengobatan steroid dan
pengobatan radiasi umum, serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu.
Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi
polio sebaiknya ditangguhkan, demikian juga pada anak yang menderita penyakit
gangguan kekebalan (difisiensi imun). Alasan untuk tidak memberikan vaksin
polio pada keadaan diare berat adalah kemungkinan terjadinya diare yang lebih
parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam, atau diare ringan
imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.
Efek Samping :
Hampir tidak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing,
diare ringan, dan sakit otot. Kasusnya pun sangat jarang.

Cara Pemberian :

Bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau


lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di tanah air, yang
digunakan adalah OPV.

1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) dengan interval setiap


dosis minimal 4 minggu

Setiap

membuka

vial

baru

harus

menggunakan

penetes

(dropper) yang baru.


4. Imunisasi DPT
Manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan
aktif dalamwaktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk
rejan) dan tetanus.
Vaksinasi dan jenis vaksin

Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah


dilemahkan (toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama dengan
vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus
dan pertusis (DPT).

Vaksin terhadap pertusis terbuat dari kuman Bordetella Pertusis


yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin
difteria dan tetanus (DPT, vaksin tripe)

10

Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toksoid


tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan
kemudian dimurnikan.

Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu:


1. Bentuk kemasan tunggal (TT)
2. Kombinasi dengan vaksin difteria (DT)
3. Kombinasi dengan Vaksin difteria dan pertusis (DPT)
Usia dan Jumlah Pemberian :
1. 3 kali di usia bayi (2, 4, 6 bulan), Diberikan 3 kali karena suntikan
pertama tidak memberikan apa-apa dan baru akan memberikan
perlindungan terhadap serangan penyakit apabila telah mendapat
suntikan vaksin DPT sebanyak 3 kali.
2. Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1,5 2 tahun atau pada
usia 18 bulan setelah imunisasi dasar ke-3.
3. Diulang lagi dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun (kelas 1) vaksin
pertusis tidak dianjurkan untuk anak berusia lebih dari 5 tahun
karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu perjalanan
penyakit pada usia > 5 tahun tidak parah.

11

4. Diulang lagi pada usia 12 tahun (menjelang tamat SD). Anak yang
mendapat DPT pada waktu bayi diberikan DT 1 kali saja dengan
dosis 0,5 cc dengan cara IM, dan yang tidak mendapatkan DPT pada
waktu bayi diberikan DT sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu
dengan dosis 0,5 cc secara IM, apabila hal ini meragukan tentang
vaksinasi yang didapat pada waktu bayi maka tetap diberikan 2 kali
suntikan. Bila bayi mempunyai riwayat kejang sebaiknya DPT
diganti dengan DT dengan cara yang sama dengan DPT.
Pengulangan imunisasi DPT diperlukan untuk memperbaiki daya tahan
tubuh yang mungkin menurun setelah sekian lama. Karena itu mestii diperkuat
lagi dengan pengulangan pemberian vaksin (booster). Kalau sudah dilakukan 5
kali suntikan DPT, maka biasanya dianggap sudah cukup. Namun di usia 12
tahun, seorang anak biasanya mendapat lagi suntikan DT atau TT (tanpa
P/Pertusis) di sekolahnya. Di atas usia 5 tahun, penyakit pertusis jarang sekali
terjadi dan dianggap bukan masalah.
Kontra Indikasi :
Tidak dapat diberikan kepada meraka yang kejangnya di sebabkan suatu
penyakit seperti epilepsy, menderita kelainan saraf yang betul-betul berat atau
habis di rawat karena infeksi otak, dan yang alergi terhadap DPT. Mereka hanya
boleh menerima vaksin DT tanpa P karena antigen P inilah yang menyebabkan
panas.
Efek Samping :
12

Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti : lemas, demam,


pembengkakan, dan atau kemerahan pada bekas penyuntikan. Kadang-kadang
terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas, dan meracau yang biasanya
terjadi 24 jam setelah imunisasi. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya
hilang setelah 2 hari.
Cara pemberian :

Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebihdahulu agar suspense


menjadi homogen.

Disuntikan secara Intramuskular pada paha tengah luar dengan dosis


pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis.

5.

Campak
Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. Namun

seiring bertambahnya usia, antibody dari ibunya semakin menurun sehingga


butuh antibody tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit
campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang
sekali terserang penyakit yang disebabkan virus mobili ini. Untungnya, campak
hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu
biasanya tak akan terkena lagi.
Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah
(droplet) penderita yang tertiup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi
yang berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah

13

muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerahan-merahan, berair dan
merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, di sebelah dalam mulut muncul
bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami
diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 3840 derajat celcius. Seiring dengan itu, barulah keluar bercak-bercak merah yang
merupakan cirri khas penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu kecil.
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap
dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain
CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu
erythromycin. (vademecum Bio Farma Jan 2002).
Usia dan Jumlah Pemberian :
Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9-11 bulan, dan ulangan (booster) 1 kali di
usia 6-7 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena
antibody dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya
menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi
campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mumps
Rubella).
Efek Samping :
Umumnya tidak ada. Pada beberapa anak, bias menyebabkan demam dan
diare, namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu.
Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.
Kontra Indikasi :
14

Anak yang mengidap penyakit immune deficiency atau yang diduga


menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma.
Cara pemberian :
Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan
dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Suntikan
diberikan pada lengan kiri atas secara subkutan dengan dosis 0,5 cc.5
6. MMR
Imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) merupakan imunisasi yang
digunakan dalam memberikan kekebalan tergadap penyakit campak (measles);
gondong, parotis epidemika (mumps); dan campak Jerman (rubella). Dalam
imunisasi MMR, antigen yang dipakai adalah virus campak starin Edmonson
yang dilemahkan, virus rubella strain RA 27/3, dan virus gondong. Vaksin harus
disimpan pada suhu 2-8oC atau lebih dan terlindung dari sinar matahari. Vaksin
harus digunakan dalam waktu 1 jam setelah di larutkan dan diletakan pada
tempat sejuk, terlindung dari cahaya menjaga vaksin tetap stabil dan tidak
kehilangan potensinya. Vaksin kehilangan potensi pada suhu 22-25 oC.5
Dosis pemberian adalah satu kali 0,5 ml secara intramuscular atau
subkutan dalam. Vaksin diberikan pada anak umur 15-18 bulan untuk
menghasilkan serokonversi terhadap ketiga virus tersebut. MMR diberikan
minimal 1 bulan sebelum atau setelah imunisasi yang lain. Apabila anak telah
mendapatkan imunisasi MMR pada usia 12-18 bulan, maka imunisasi campak-2

15

pada umur 5-6 tahun tidak perlu diberikan. Vaksin ulang diberikan pada usia 1012 tahun atau 12-18 tahun sebelum pubertas.
Khusus pada daerah endemik, sebaiknya diberikan imunisasi campak
yang monovalen dahulu pada usia 4-6 bulan atau 9-11 bualn dan booster
(ulangan) dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan.
Vaksin harus diberikan, meskipun ada riwayat infeksi campak,
gondongan, rubella atau imunisasi campak. Imunisasi MMR dapat diberikan
pada usia 9 bulan, serta beberapa indikasi berikut ini: anak dengan penyakit
kronis seperti kistik fibrosis, kelainan jantung/ginjal bawaan, gagal tumbuh,
sindrom down. Infeksi HIV, anak diatas 1 tahun di tempat penitipan anak
(TPA)/kelompok bermain dan anak dilembaga cacat mental. Anak dengan
riwayat kejang atau riwayat keluarga pernah kejang harus diberikan imunisasi
ini.5
Kontra indikasi imunisasi ini antara lain keganasan yang tidak diobati.
Gangguan imunitas, alergi berat, demam akut, sedang mendapat vaksin hidup
lain seperti BCG, kehamilan, dalam tiga bulan setelah tranfusi darah atau
pemberian imunoglobin, defisiensi imun termasuk HIV dan setelah suntikan
imunoglobin.
Reaksi KIPI dari vaksin MMR, antara alin reaksi sistemik seperti malaise,
ruam, demam, kejang demam dalam 6-11 hari, ensefalitis, pembengkekan
kelenjar parotitis, meningoensefalitis dan trombositopeni
7. HiB
16

Imunisasi HiB ( haemophilus influenza tipe b) merupakan imunisasi yang


diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit influenza tipe b. vaksin ini adalah
bentuk polisakarida murni (PRP : purified capsular polysaccharide) kuman
H.influenzae tipe b. antigen dalam vaksin tersebut dapat dikonjugasi dengan
protein-protein lain, seperti tosoid tetanus (PRP-T), toksoid difteri (PRP-D atau
PRPCR50), atau dengan kuman menongokokus (PRP-OMPC).
Pada pemberian imunisasi awal dengan PRP-T dilakukan 3 suntikan
dengan interval 2 bulan (usia 2, 4, 6 bulan), sedangkan vaksin PRP-OMPC
dilakukan 2 suntikan dengan interval 2 bulan (usia 2 dan 4 bulan). Dosis
pemberian vaksin ini adalah 0,5 ml, diberikan melalui injeksi intramuskuler.
Vaksin PRP-T atau PRP-OMP perlu diulang pada umur 18 bulan. Apabila anak
datang usia 1-5 tahun, Hib hanya diberikan satu kali saja.5
8. Rotavirus
Imunisasi rotavirus adalah imunisasi anak untuk mencegah penyakit
yang disebabkan oleh rotavirus. Rotavirus merupakan penyebab diare terbesar
pada anak. Sekitar 36%-61% diare pada anak disebabkan oleh rota virus. Di
Indonesia, diare merupakan penyakit utama anak anak, dan hasil dari Riskesdas
2007, diare merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia.
Rotavirus diberikan pada bayi sebanyak 3 kali, yaitu usia 2, 4, dan 6
bulan. jadwal pemberian imunisasi rotavirus juga disesuaikan dengan jenis
imunisasi (merek) yang diberikan. Di Indonesia ada 2 jenis imunisasi rotavirus
yang beredar. Yang pertama rotarix yang diproduksi oleh Glaxosmithkline
17

(GSK). Vaksin ini diberikan peroral (diteteskan ke mulut). Rotarix diberikan


sebanyaka 2 kali, mulai bayi usia 6 minggu, Dosis kedua diberikan dengan
interval minimal 4 minggu dari dosis pertema, sebelum usia bayi 24 minggu.
Merek yang kedua, Rotateq, Diproduksi oleh MERCK. vaksin ini juga
diberikan secara peroral, diberikan dalam 3 dosis, dosis pertama pada usia 6
minggu-12 minggu. dosis kedua diberikan dengan interval 4-10minggu. semua
dosis diberikan pada bayi sebelum usia 32 minggu.
Kontraindikasi imunisasi rotavirus antara lain : Bayi yang alergi
komponen vaksin, Intussusepsis, kelainan bawaan saluran cerna yang
meningkatkan intussusepsis, menderita penyakit imunodefisiensi atau dalam
respon imun, (menderita kanker, HIV, minum obat imunosupresan).
Efek samping imunsasi rotavirus dapat berupa pilek, muntah, penurunan
nafsu makan dan demam.7
9. Varicella (Cacar Air)
Imunisasi varicella merupakan imunisasi yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit cacar air (varicella). Vaksin varicella merupakan
virus varicella zoozter strain OKA yang dilemahkan dalam bentuk bubuk kering.
Bentuk ini kurang stabil dibanding vaksin virus hidup lain. Vaksin harus
disimpan pada suhu 2-80C. Efektivitas vaksin ini tidak diragukan lagi, tetapi
harga untuk saat ini masih sangat mahal.
Pemberian pada anak hanya diperlukan satu dosis vaksin. Bagi individu
imunokompromise, remaja dan dewasa memerlukan dua dosis, selang 1-2 bulan.
18

Vaksin dapat diberikan bersamaan dengan vaksin MMR. Pemberian vaksin


varicella dapat diberikan suntikan tunggal pada usia 12 tahun di daerah tropis
dengan dosis 0,5 ml secara subkutan dan apabila di atas 13 tahun dapat diberikan
2 kali suntikan dengan interval 4-8 minggu. Untuk anak yang kontak dengan
penderita varisela, vaksin dapat mencegah penularan bila diberikan dalam waktu
72 jam setelah kontak.
Reaksi KIPI pada vaksin ini, antara lain reaksi local berupa ruam papulvesikel ringan. Kontra indikasi vaksin ini, antara lain demam tinggi, hitung
limfosit kurang dari 1200 I, defisiensi imun seluler, seperti pengobatan
keganasan, pengobatan kortikosteroid dosis tinggi (2mg/kgBB/hari atau lebih)
serta alergi neomisin.5
9. hepatitis A
Imunisasi hepatitis A merupakan imunisasi dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit hepatitis A. pemberian imunisasi ini dapat
diberikan untuk usia diatas 2 tahun. Imunisasi awal menggunakan vaksin Havrix
(berisi virus hepatitis A strain HM175 yang dinonaktifkan) dengan 2 suntikan
dan interval 4 minggu, booster pada 6 bulan setelah nya. Jika menggunakan
vaksin MSD dapat dilakukan 3 kali suntikan pada usia 6 dan 12 bulan.
Pemberian bersamaan dengan vaksin lain (hepatitis b atau tifoid) tidak
mengganggu respon imun masing-masing vaksin dan tidak meningkatkan
frekuensi efek samping. Kombinasi hepatitis B/Hepatitis A dalam kemasan
Prefilled syringe 0,5 ml intramuskuler. Vaksin kombinasi ini tidak diberikan
19

pada bayi kurang dari 12 bulan, tetapi diberikan pada anak lebih dari 12 bulan
untuk mengejar imunisasi hepatitis B yang belum lengkap/belum pernah. Efek
samping dari vaksin ini sangat jarang. Reaksi local ringan merupakan efek
tersering dan demam pada 4% resipien5
10. Pneumokokus
Vaksin pneumokokus bertujuan untuk mengurangi mortalitas akibat
pneumokokus invasif, adalah pneumonia, bakteriemia dan meningitis. Vaksin ini
dianjurkan diberikan diberikan pada orang lanjut usia diatas 65 tahun, seseorang
dengan asplenia termasuk anak dengan penyakit sickle cell usia lebih dari 2
tahun, pasien imunokompromise, pasien imunokompeten dan kebocoran cairan
serebrospinal.
Vaksin ini diberikan dalam dosis tunggal 0,5 ml secara intramuskuler atau
subkutan dalam di daerah deltoid atau paha anterolateral. Vaksin ulang hanya
diberikan bila seorang anak mempunyai resiko tertular pneumokokus setelah 3-5
tahun atau lebih. Reaksi KIPI imunisasi ini adalah eritem atau nyeri ringan pada
tempat suntikan kurang dari 48 jam, demam ringan mialgia pada dosis ke dua.
Reaksi anafilaksis jarang ditemukan.
Kontra indikasi absolute apabila timbul reaksi anafilaksis setelah
pemberian vaksin. Kontra indikasi relative vaksinasi pneumokokus, adalah umur
kurang dari 2 tahun, dalam pengobatan imunosupresan/radiasi kelenjar limfe,
kehamilan, telah mendapatkan vaksin pneumokokus dalam 3 tahun.
11. Influenza
20

Vaksin influenza mengandung virus yang tidak aktif (inactivated


influenza virus) terdapat 2 macam vaksin, yaitu whole-virus dan split-virus
vaccine. Untuk anak-anak dianjurkan jenis split virus vaccine karena tidak
menyebabkan demam tinggi. Vaksin ini dianjurkan diberikan secara teratur pada
kelompok resiko tinggi, antara lain pasien asma dan kistik fibrosis, anak dengan
penyakit jantung, dan pengobatan imunosupresan, terinfeksi HIV, sickle cell
anemia, penyakit ginjal kronis, penyakit metabolik kronis (diabetes), penyakit
yang membutuhkan obat aspirin jangka panjang.5
Vaksin biasanya diberikan sebelum musim penyakit influenza datang.
Pada individu yang pernah terpajan diberikan 1 kali dengan dosis tunggal. Pada
anak atau dewasa dengan gangguan fungsi imun, diberikan 2 dosis dengan
jangka interval 4 munggu. Vaksin diberikan dengan suntikan subkutan atau
intramuscular. 1 dosis secara teratur setiap tahun dapat diberikan pada anak usia
9 tahun keatas. Anak usia 6 bulan sampai 9 tahun bila mendapatkan vaksin
pertama kali harus diberikan disis 2 kali berturut-turut dalam jarak 1 bulan.5
Kontra indikasi vaksin influenza, antara lain hipersensitif anafilaksis
terhadap vaksin influenza sebelumnya, hipersensitif telur, demam akut sedang
atau berat, ibu hamil dan ibu menyusui. Reaksi KIPI dari vaksin ini, antara lain
nyeri local, eritema dan indurasi di tempat penyuntikan, demam, lemas, mialgia
(flu-like symptoms) setelah 6 sampai 12 jam pasca imunisasi selama 1-2 hari.
12. Tifoid

21

Terdapat

dua

jenis

vaksin

demamtifoid,

yaitu

vaksin

suntikan(polisakarida atau capsular Vi Polisaccharide/ViPS) dan vaksin tipoid


oral Ty21a. Vaksin suntikan diberikan setiap pada umur lebih dari 2 tahun.
Vaksin ulangan berikan setiap 3 tahun.
Vaksin oral dikemas dalam bentuk kapsul, disimpan pada suhu 2-8 oC.
Vaksin diberikan pada umur lebih dari 6 tahun, dalam 3 dosis dengan interval
selang sehari (hari 1,3,5). Vaksin ulangan diberikan setiap 3-5 tahun. Vaksin ke-4
ini umumnya diberikan pada turis yang akan berkunjung ke daerah endemis
tifoid.5
Vaksin diminum 1 jam sebelum makan dengan minuman yang tidak lebih
dari 37 oC. Kapul harus ditelan utuh dan tidak boleh dipecahkan karena dapat
rusak oleh asam lambung. Vaksin tidak boleh diberikan bersamaan dengan
antibiotic, sulfonamide atau antimalaria yang aktif terhadap salmonella. Vaksin
memberi respon kuat terhadap interferon mukosa, sehingga pemberian vaksin
polio oral ditunda dua minggu setelah pemberian kapsul tifoid ini.
Dianjurkan imunisasi tifoid sebelum berpergian ke daerah resiko tinggi
demam tifoid. Reaksi KIPI vaksin ini, antara lain reaksi local (bengkak, nyeri,
kemerahan di tempat penyuntikan). Reaksi sistemik seperti demam, nyeri kepala,
pusing, nyeri sendi, nyeri otot, nausea dan nyeri perut jarang dijumpai. Kontra
indikasi vaksin ini anatara lain alergi bahan ajuvan vaksin dan demam. Vaksin
harus disimpan pada suhu 2-8 oC, tidak boleh dibekukan dan akan kadaluwarsa
dalam waktu 3 tahun.5
22

13. HPV
Sejak diketahui secara jelas bahwa HPV sebagai penyebab kanker
serviks, era pencegahan secara primer dimulai. Pencegahan primer adalah
tindakan yang dilakukan agar tubuh kita jangan sampai terkena infeksi penyakit.
Caranya adalah dengan menghindari faktor penyebab infeksi atau dengan
imunisasi.
Vaksinasi HPV merupakan cara pencegahan primer untuk menghindari
teridapnya kanker serviks. HPV hanya hidup pada selaput lendir serviks/tidak
masuk ke peredarah darah sistemik tubuh dan tidak merangsang antibodi atau sel
pertahanan tubuh secara luas. Sehingga respon antibodi alamiah tubuh menjadi
rendah. Maka tubuh kita masih rentan terhadap infeksi HPV.9
Oleh sebab itu vaksinasi secara berulang dibutuhkan untuk merangsang
tubuh membentuk antibodi (kekebalan tubuh) yang kuat untuk melindungi tubuh
dari serangan virus HPV yang akan masuk. Antibodi akan menangkap virus yang
akan masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh terhindar dari infeksi HPV.9
Vaksin HPV yang telah beredar dibuat dengan teknologi rekombinan.
Vaksin HPV berpotensi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang
berhubungan dengan infeksi HPV genitalia. Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu
vaksin bivalen (tipe 16 dan 18, Cervarix) dan vaksin quadrivalen (tipe 6, 11, 16
dan 18, Gardasil). Vaksin ini mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah
kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18. Vaksin HPV telah
disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Advisory Committee on
23

Immunization Practices (ACIP) dan di Indonesia sudah diizinkan badan POM


RI.
Imunisasi vaksin HPV diperuntukkan pada anak perempuan dengan usia
>10 tahun. Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 mL secara intramuskular pada
M.deltoideus, untuk vaksin HPV bivalen, imunisasi diberikan dengan jadwal 0, 1
dan 6 bulan. Sedangkan untuk vaksin HPV kuadrivalen, dengan jadwal 0, 2 dan
6.8
RINGKASAN IMUNISASI BERDASARKAN UMUR PEMBERIAN6
Saat
lahir

Hepatitis
B-1

Polio-O

1
bulan
0-2
Bulan

Hepatitis
B-2
BCG

2
bulan

DPT-1

Hib-1

HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir,


dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan, apabila status HbsAgB bersamaan dengan vaksin HB-1. apabila semula status
HbsAg ibu tidak diketahui bahwa ibu HsbAg positif maka
masih dapat diberikan HB-lg 0,5 ml sebelum bayi berumur
7 hari
Polio-O diberikan saat kunjung pertama. Untuk bayi yang
lahir di RB/RS polio oral diberikan pada saat bayi
dipulangkan (untuk menghindari btransmisi virus vaksin
kepada bayi lain).
HB-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB2 adalah 1 bulan
BCG dapat diberikan sejak lahir. apabila BCG akan
diberikan pada umur>3 bulan sebaiknya dilakukan uji
tuberkulin lebih dulu dan BCG diberikan apabila uji
tuberkulin negatif.
DTP diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat
dipergunakan DTwP atau DTaP atau diberikan secara
kombinasi.
Hib diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan
Hib dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan
dengan DTP.

Polio-1
4
bulan

DPT-2

Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1


DTP-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan
dengan Hib-2.

24

Hib-2

Atau:
Dikombinasikan dengan Hib-2.

Polio-2
Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
6
bulan

DTP 3
Hib 3
Polio 3

6
bulan

Hepatitis
B-3

9
bulan

Campak

15-18
bulan

MMR

18
bulan

DTP 3 diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib


3 (PRP-T).Apabila mempergunakan Hib OMP,Hib 3 pada
umur 6 bulan tidak perlu diberikan. Polio 3 diberikan
bersamaan dengan DTP 3.
HB-3 diberikan umur 3-6 bulan. Untuk mendapat respons
imun optimal interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan,
terbaik 5 bulan.
Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan. Campak-2 pada
SD kls 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapat MMR pada
umur 15 bulan, Campak-2 tidak perlu diberikan.
Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapat imunisasi
campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan.

Hib-4

Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).

DTP-4

DTP-4 (DTwP atau Dtap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3

Polio-4

Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4

2
tahun
2-3
tahun

Hepatitis
A
Tifoid

5
tahun

DTP-5

Vaksin HepA direkomendasikan pada umur >2 tahun,


diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk
umur >2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu
diulang setiap 3 tahun.
DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwP/DTaP)

Polio-5

Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5

MMR

Diberikan untuk cath-up immunization pada anak yang


belum mendapat MMR-1
Menjelang pubertas vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT)
diberikan untuk mendapat imunitas selama 25 tahun
Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun.

6
tahun
10
tahun

dT/TT
Varisela

25

DAFTAR PUSTAKA
1.

Meadow R, Newell S. 2005. Lectures notes pediatdrika. Edisi ke tujuh.


Penerbit Erlangga. Jakarta.

2.

Ranuh,dkk. PEDOMAN IMUNISASI DI INDOENSIA. Edisi Kedua Tahun


2005. Satgas Imunisasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Badan Penerbit
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.

3.

.http://www.imunisasi.net/Vaksin.html

4.

Hegar B, Pardede S.O, (2009) Program imunisasi dan pengedaran

vaksin.IDAI. Jakarta.
5.

www.wordpress.com Makalah Imunisasiku_widwife is.htm

6.

www.scrid.com. Aspek Imunologis Imunisasi.

7.

Pedoman

imunisasi

di

Indonesia.

Satgas

2008.

http://kesehatananakku.com/imunisasi-rotavirus.html
8.

Satgas Remaja IDAI. Imunisasi Pada Remaja.

http://idai.or.id/public-

articles/seputar-kesehatan-anak/imunisasi-pada-remaja.html
9.

Prima,P. 2010. Vaksinasi HPV, Pencegahan Primer Terhadap Kanker


Serviks.

http://drprima.com/kandungan/vaksinasi-hpv-pencegahan-primer-

terhadap-kanker-serviks.html

26