Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN DISKUSI

PEMICU 2
MODUL MUSKULOSKELETAL

Disusun Oleh :
Kelompok Diskusi 1
Alex
Rakhmiana
Igri Septian Risky
Nelly
Ryan Kusumawardhani
Vani Kartikasari
Abang Suprianto
Edwin Dermody Sirait
Arianti Miranti Lsetari Fajrin
Lela Mantili
Verly Veronita
Husaini

I11109003
I11109004
I11109018
I11109019
I11109024
I11109029
I11109060
I11109069
I11109072
I11109082
I11109091
I11109096

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2011

BAB 1
PEMICU II

1. PEMICU II
Nn. Ani berusia 65 tahun mengeluh nyeri panggul kiri setelah terpeleset
saat akan memasuki kamar mandi. Ny. Ani jatuh duduk miring kekiri. Dia
berteriak minta tolong kepada anaknya iman karena kesakitan dan tidak
dapat berdiri sendiri. Iman kemudian menggendong Ny. Ani untuk
dipindahkan ketempat tidur. Saat digendong, Ny. Ani berteriak kesakitan
pada panggul kirinya. Iman meminta tolong tetangganya untuk membawa
NY. Ani kerumah sakit terdekat naik taksi. Sampai di rumah sakit, dokter
memeriksa dan memasang bidai pada tungkai kirinya dan merencanakan
pemeriksaan radiologi. Iman juga mengingatkan dokter kalau ibunya
menggunakan asuransi kesehatan.

2. Klarifikasi dan definisi


radiology adalah cabang ilmu kesehatan yang berkaitan dengan zat
radioaktif dan energi pancaran serta dengan diagnosis dan pengobatan
penyakit dengan memakai radiology pengion (sinar X) maupun bukan
pengion (ultrasound)

3. Rumusan masalah

Apa yang terjadi pada Ny. Ani?

4. Analisis masalah

Factor
internal
Wanita 65 thn

Terpeleset
Jatuh duduk
Berdiri(-)

Trauma
Factor
eksternal

Digendong
anaknya

Nyeri

P2K2

Rencana
radiologi

pemeriksaan

Tatalaksana
lanjutan

Askes

5. Hipotesis
- yang terjadi pada Ny. Ani adalaah fraktur pada panggul kiri yang
diakibatkan benturan dan dipengaruhi oleh factor usia

6. Learning issue
a.

Anatomi (panggul)

Tulang

Panggul

Tulang panggul mencakup os koksa (yi, os ilium, os iskium, os


pubis), os sakrum, dan os koksigeus. Tulang-tulang ini satu sama
lain saling berhubungan. Pada bagian depan terdapat hubungan
antara kedua os pubis kanan dan kiri yang disebut simfisis. Pada
bagian

belakang,

terdapat

artikulasio

sakro-iliaka

yang

menghubungkan os sakrum dengan os ilium. Pada bagian bawah,


terdapat artikulasio sakrokoksigeal yang menghubungkan os
sakrum dengan os koksigeus. Di luar kehamilan, artikulasio ini
memungkinkan pergeseran sedikit, namun pada saat kehamilan
dan persalinan, dapat bergeser lebih jauh dan lebih longgar.
Secara fungsional, panggul terdiri atas 2 bagian yang disebut
pelvis mayor dan pelvis minor. Pelvis mayor adalah bagian pelvis
yang terletak di atas linea terminalis disebut pula false pelvis.
Pelvis minor adalah bagian pelvis yang terletak di bawah linea
terminalis disebut pula true pelvis karena bagian ini mempunyai
peranan penting dalam obstetrik dan harus dapat dikenal dan
dinilai sebaik-baiknya untuk dapat meramalkan dapat tidaknya
bayi melewatinya. Bentuk pelvis minor ini menyerupai suatu
saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan (sumbu
carus). Bidang atas saluran ini normal berbentuk hampir bulat
disebut pintu atas panggul (pelvic inlet). Bidang bawah saluran ini
merupakan suatu bidang seperti pintu atas panggul, namun terdiri
atas dua bidang disebut pintu bawah panggul (pelvic outlet). Di
antara kedua pintu ini terdapat ruang panggul (pelvic cavity).
Ruang panggul mempunyai ukuran yang paling luas di bawah
pintu atas panggul, namun menyempit di panggul tengah untuk
kemudian menjadi lebih luas lagi sedikit. Penyempitan di panggul
tengah ini disebabkan oleh adanya spina iskiadika yang kadangkadang menonjol ke dalam ruang panggul. Sumbu carus adalah

garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter


transversa dan konjugata vera pada pintu atas panggul dengan
titik-titik sejenis di Hodge II, III, dan IV. Begitu mendekati Hodge III,
sumbu itu lurus, sejajar dengan sakrum yang selanjutnya
melengkung ke depan sesuai dengan lengkungan sakrum.

b.

Fraktur

Definisi
Fraktur

cruris

adalah

terputusnya

kontinuitas

tulang

dan

ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan
fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar
dari yang dapat diabsorbsinya.

Etiologi
1.

Trauma :
Ada dua trauma/ benturan yang dapat mengakibatkan fraktur,
yaitu:
-

Benturan

langsung

- Benturan tidak langsung


2. Gerakan pintir mendadak
3. Kontraksi otot ekstem
4. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma
5. Tekanan/stres yang terus menerus dan berlangsung lama
Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan
mengakibatkan fraktur (patah tulang) yang kebanyakan pada
tulang tibia, fibula (tulang-tulang pada betis) atau metatarsal
pada

olahragawan,

militer

Contoh:

Seorang

senang

yang

maupun
baris

penari.

berbaris

dan

menghentak-hentakkan kakinya, maka mungkin terjadi patah


tulang di daerah tertentu.
6. Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia
Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses
patologis seperti tumor maka dengan energi kekerasan yang

minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal


belum dapat menimbulkan fraktur

Klasifikasi fraktur
1. Sudut patah
-

Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya


tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.

Fraktur

oblik

adalah

fraktur

yang

garis

patahnya

membentuk sudut diperbaiki


-

Fraktur spiral timbul akibat torsi pada ekstremitas

2. Fraktur multiple pada satu tulang


-

Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada


satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen
sentral dari suplay darahnya

Fraktur

komunita

adalah

serpihan-serpihan

atau

terputusnya keutuhan jaringan dengan lebih dari dua


fragmen tulang
3. Fraktur impaksi
-

Fraktur

kompresi

terjadi

ketika

dua

tulang

menumbuk(akibat tubrukan) tulang ketiga yang berada


diantaranya, seperti satu vertebradengan dua vertebra
lainnya.
4. fraktur patologik
-

Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang


telah menjadi lemah oleh karena tumor atau proses
patologik lainnya.

5. fraktur beban
-

fraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orangorang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka,
seperti baru diterima untuk berlatih dalam angkatan
bersenjata atau orang-orang yang baru memulai latiha lari.

6. fraktur greenstick
-

fraktur greenstick adalah fraktur tidak sempurna dan


sering terjadi pada anak-anak

7. fraktur avulse
-

fraktur avulse memisahkan dua fragmen tulang pada


tempat insersi tendon ataupun ligament.

8. fraktur sendi
-

catatan khusus harus dibuat untuk fraktur yang melibatkan


sendi, terutama apabila geometri sendi terganggu secara
bermakna. Jika tidak ditangani secara tepat, cedera
semacam ini akan menyebabkan osteoarthritis pasca
trauma yang progresif pada sendi yang cedera tersebut.

Mekanisme

Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods


(1989).
Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh
darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut
adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan
sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal
medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan
tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamsi akibat
sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari
plasma dan leukoit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai

melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera,


tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematon
yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam
sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak
dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah
yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn
dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler,
kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan
menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal
ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan
menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa
menyebabkan syndroma comportement.

Tanda dan gejala

Nyeri

Pembengkakan

Kemerahan dan lebih hangat

Memar

Nyeri tekan

Krepitasi

Kelainan bentuk

perdarahan

Penyembuhan fraktur
jika satu tulang sudah patah, jaringan lunaknya juga rusak,
periosteum terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan yang
cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut.
Bekuan darah membentuk jaringan granulasi didalamnya dengan

sel-sel

pembentuk

tulang

primitive(osteogenik)

berdiferensiasimenjadi kondroblas dan osteoblas. Kondroblas


akan mensekresi fosfat, yang merangsang deposisi kalsium.
Terbentuk lapisan tebal (kalus) disekitar lokasi fraktur. Lapisan ini
terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kalus dari
fragmen satunya, dan menyatu. Penyatuan dari kedua fragmen
(penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya
trabekula oleh osteeoblas, yang melekat pada tulang dan meluas
menyebrangi lokasi fraktur. Penyatuan tulang provisional ini akan
menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan
lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami remodeling
untuk mengambil bentuk tulang yang utuh seperti bentuk
osteoblas tulang baru dan osteoklas akan menyingkirkan akan
menyingkirkan bagian yang rusak dan tulang sementara.

Komplikasi
1. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak
seharusnya.
2.

Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan


tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan
normal.

3.

Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

factor resiko
1. factor internal meliputi kapasitas tulang mengabsobsi energy
trauma, kelenturan, kekuatan, dan densitas tulang
2. factor eksternal meliputi kecepatan dan durasi trauma yang
mengenai tulang , arah dan kekuatan trauma.

c.

Dislokasi

Definisi

Dislokasi sendi adalah kelainan sistem persendian ujung


tulang di kapsul sendi disebabkan oleh perpindahan atau
perpisahan ujung tulang dari lokasinya di persendian. Biasanya
terjadi setelah trauma berat yang mengganggu cengkeraman
ligamen. Dislokasi lebih sering terlihat di bahu dan sendi
acromioclavicular. Subluksasi adalah dislokasi sebagian dimana
ujung tulang masih kontak sebagian dengan ujung tulang lainnya.
Dislokasi bisa kongenital, traumatik, dan patologik. Dislokasi
kongenital terjadi pada panggul dan lutut. Dislokasi traumatik
terjadi setelah jatuh, kecelakaan, atau cedera rotasional. Sebagai
contoh, kecelakaan mobil sering menyebabkan dislokasi panggul
dan mengiringi fraktur acetabular karena arah benturan. Pada
bahu dan patella, dislokasi sering terjadi berulang-ulang, terutama
pada atlet. Terjadi berulang kali dengan gerakan yang sama tetapi
memerlukan lebih sedikit dan lebih sedikit gaya. Dislokasi
patologik pada panggul adalah komplikasi akhir dari infeksi, artritis
rheumatoid, paralisis, dan penyakit neuromuskular.

Diagnosis
Diagnosis dislokasi berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik,
dan temuan radiologi. Gejalanya yaitu nyeri, deformitas, dan
pergerakan terbatas.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

tergantung

lokasinya,

mekanisme

cederanya, dan cedera yang berhubungan misalnya fraktur.


Beraneka ragam prosedur bedah juga bisa digunakan untuk
mencegah redislokasi patella, bahu, dan sendi acromioclavicular.
Imobilisasi penting selama beberama minggu setelah reduksi
dislokasi untuk menyembuhkan struktur sendi. Prosedur bedah
seperti penempatan sendi kembali, penting pada dislokasi
patologik.

10

d.

P2K2

Pertolongan pertama
Pertolongan pertama adalah Pemberian

pertolongan

segera

kepada penderita sakit atau cedera / kecelakaan yang memerlukan


penanganan medis dasar . Pelaku Pertolongan Pertama adalah
penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki
kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar .
Tujuan pertolongan pertama
1. Menyelamatkan jiwa penderita
2. Mencegah cacat
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan

Pemindahan penderita
Kecepatan merupakan salah satu tjuan penting dalam pertolongan

gawat darurat. Bila dianggap perlu untuk memindahkan pender ita


maka penolong harus memperhatikan hal sebagai berikut :
1. Jangan membuat cedera lebih lanjut pada penderita.
2. Hindari cedera pada penolong.
Prinsip dasar memindahkan penderita adalah :
1. Jangan dilakukan jika tidak mutlak perlu.
2. Lakukan sesuai dengan teknik yang baik dan benar .
3. Kondisi fisik penolong harus baik dan terlatih.

11

Berikut ada beberapa hal yang harus dilakukan pada saat


mengangkat atau memindahkan penderita:
1. Nilai kesulitan yang mungkin akan terjadi pada saat proses
pemindahan dan pengangkatan berlangsung.
2. Rencanakan
pergerakan
sebelum mengangkat

penderita,

termasuk bagaiman memindahkannya. Berapakah berat penderita?


Bagaimana

memindahkannya?

Berapa

jauh

pergerakan

penolong? Metode pengangkatan apa yang akan digunakan?


Pengalaman memainkan peranan yang sangat besar untuk
menentukan langkah terbaik.
3. Jangan coba mengangkat dan menurunkan penderita jika tidak
yakin mampu nmengendalikannya.
4. Gunakan otot tungkai untuk mengangkat, bukan otot punggungng.
Gunakan otot paha dan panggul serta otot perut, hindari gerakan
membungkuk. Selalu upayakan agar punggung berada dalam satu
garis lurus. Otot punggung hanya digunakan untuk menjaga
kelurusan punggung. Gunakan otot untuk menekuk, hindari
penggunaan otot regang. Otot untuk menekuk lebih kuat
5. Jaga keseimbangan. Selalu mulai dari posisi pembebanan yang
seimbang dan pertahankan agar tetap seimbang.
6. Pindahkan penderita dengan beban serapat mungkin dengan tubuh
penolong. Merapatkan beban ke tubuh membantu mengurangi
beban otot. Pegangan akan lebih kuat dan posisi lebih stabil.
Tindakan ini juga untuk membantu mencegah terjadinya cedera
punggung
7. Lakukan gerakan
menopang

secara menyeluruh agar

secara vertical.

Bayangkan

bahwa

tubuh
bahu

saling
anda

ditopang oleh pinggang, pinggang pada tungkai.


8. Bila dapat kurangi jarak atau ketinggian yang harus dilalui. Ini
akan menghemat

tenaga penolong

termasuk menghindari

cedera.
9. Perbaiki posisi dan angkatlah secara bertahap.

Pembidaian
Salah satu cara untuk merawat alat gerak yang mengalami

nyeri,

bengkak

dan perubahan

bentuk

adalah

pembidaian.

Pembidaian dapat diartikan sebaga pemakaian suatu alat bantu

12

untuk menghindari

pergerakan

imobilisasi

), melindungi dan

menstabilkan bagian tubuh yang cedera.


-

Tujuan pembidaian

Tujuan utama pembidaian adalah untuk mencegah terjadinya


pergerakan anggota tubuh yang cedera. Bidai harus mencakup
sendi dan tulang agar efektif.
Beberapa tujuan pembidaian
1. Mencegah pergerakan / pergeseran dari ujung tulang yang patah
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang
3.
4.
5.
6.

patah.
Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
Mangurangi rasa nyeri.
Mempercepat penyembuhan.
Mengurangi perdarahan.
-

Ada lima jenis bidai yang umum dipakai :

1. Bidai keras.
Umumnya terbuat dari bahan yang keras
mencegah

pergerakan

bagian

yang

dan

cedera.

kaku

untuk

Bahan

yang

sering dipakai adalah ; kayu, aluminium, karton, plastik atau


bahan lain yang kuat, disamping itu juga bahan tersebut harus
ringan. Contoh : bidai kayu, bidai tiup, bidai vakum.
2. Bidai yang dapat dibentuk
Jenis bidai ini dapat diubah menjadi berbagai bentuk dan
kombinasi untuk disesuaikan dengan bentuk cedera. Bidai ini
sangat

bermanfaat

pembidaian

harus

pada

keadaan

yang

mensyaratkan

dilakukan pada posisi bagaimana bagian

cedera ditemukan. contoh :

Bidai

vakum,

bantal,

selimut,

karton, kawat.
3. Bidai traksi
Bidai
bentuk

jadi

dan

bervariasi

tergantung

dari

pembuatannya, hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih


khusus,

umumnya

dipakai

pada

patah tulang

paha.

Pr

insipnya adalah membantu menjaga kelurusan bagian tulang


yang patah.
4. Gendongan / belat dan bebat

13

Pembidaian

dengan

menggunakan pembalut,

umumnya

dipakai mitela (kain-segitiga ) atau sejenisnya. Prinsipnya


adalah memanfaatkan tubuh penderita sebagai

sarana untuk

menghentikan pergerakan daerah cedera. Merupakan cara


yang paling msering dipakai pada cedera alat gerak atas.
Contohnya: gendongan lengan.
5. Bidai improvisasi
pada keadaan dimana bidai tidak tersedia, sehingga kita
harus berimprovisasi. Bidai yang dibuat dengan bahan yang
cukup kuat dan ringan untuk penopang misalnya majalah,
koran dan lain-lain. Berimprovisasi bukan berarti meninggalkan
prinsip-prinsip pembidaian utama. Aturan yang ada harus tetap
diikuti. Bidai improvisasi pada dasarnya harus memakai bahan
yang tidak membuat cedera

yang

sudah ada menjadi

lebih

parah.
-

Pedoman umum pembidaian


Walau menggunakan bidai apapun, termasuk bidai improvisasi,

sebagai penolong kita tetap harus mengikuti pedoman umum


pembidaian sebagai berikut:
1. Sedapat mungkin

informasikan

rencana tindakan kepada

penderita.
2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan
rawat perdarahan bila ada.
3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum
membidai,

buka perhiasan di daerah patah atau di bagian

distalnya.
4. Nilai gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera
sebelum melakukan pembidaian.
5. Siapkan alat-alat selengkapnya.
6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan
membidai dalam posisi ketika ditemukan.
7. Jangan berusaha memasukan bagian tulang yang patah.
8. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum
dipasang diukur lebih dahulu pada anggota badan penderita
yang sehat.

14

9. Bila

cedera

mengapit

terjadi

sendi

pada

sendi,

bidai kedua

tulang

yang

tersebut. Upayakan juga membidai sendi

distalnya.
10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak bila memungkinkan.
11. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan
bahan
pelapis.
12. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar .
13. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari

sendi

yang

banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang


patah.
14. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan

GSS

kembali, bandingkan dengan pemeriksaan GSS yang pertama.


Jangan membidai berlebihan. Ingat membidai memerlukan
waktu. Pada penderita yang mengalami cedera yang banyak
jangan terpaku pada cedera yang terlihat parah, namun belum
tentu mengancam nyawa. Penggunaan papan spinal atau bidai
tubuh

juga

akan

sangat

membantu mencegah banyaknya

pembidaian pada satu penderita tanpa banyak menghabiskan


waktu.

Patah tulang panggul.


Patah tulang panggul dapat disertai kehilangan darah dalam
jumlah yang cukup m banyak, sehingga nyawa penderita dapat
terancam.

Ini

terjadi

karena

di

daerah

panggul

banyak

pembuluh darah besar . Bersiaplah menghadapi syok pada


kasus patah tulang panggul.
Tanda-tanda patah tulang panggul.
1. Nyeri di daerah atas kemaluan bila penderita mencoba duduk
atau berdiri.
2. Kadang tidak mampu menggerakkan kaki dan

terasa

kesemutan.
Pertolongan :
1.
2.
3.
4.

Harus hati-hati dalam memindahkan penderita.


Penderita harus diangkat dengan usungan papan.
Berikan bantalan diantara kedua tungkai.
Di samping lutut diberi bantalan lunak, demikian juga di
samping kiri dan kanan tulang panggul.

15

5. Bila tidak ada papan spinal pertimbangkan

tambahan

bidai

bagian luar tungkai kanan dan kiri.


6. Rawat syok bila ada kecurigaan.

Cedera sendi panggul.


Sendi panggul adalah bagian ujung tulang paha yang bertemu
dengan panggul. Patah sendi ini sering ditemukan pada
kecelakaan kendaraan. Pada orang tua kasus ini juga banyak
ditemukan terutama karena terjatuh. Cedera ini menimbulkan
nyeri hebat di daerah sendi panggul. Biasanya tungkai yang
cedera akan sedikit ditekuk, lutut diatas dan terputar ke dalam.
Periksa ada

tidaknya cedera yang mengancam nyawa lebih

dahulu terutama tanda-tanda syok. Lalu stabilkan sendi panggul


penderita. Cara yang terbaik adalah meletakan seluruh tubuh
penderita di atas papan spinal.

e.

Nyeri

Definisi
Menurut International Association for Study of Pain (IASP),
nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak
menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan
aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya
kerusakan.

Sifat- sifat nyeri


1) Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energi
2) Nyeri bersifat subyektif dan individual
3) Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab
darah
4) Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat
perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien
5) Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti
apa rasanya

16

6)
7)
8)
9)

Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologis


Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan
Nyeri mengawali ketidakmampuan
Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen
nyeri jadi tidak optimal

Klasifikasi Nyeri
1) Nyeri cepat dan lambat
Adanya dua jalur nyeri, satu lambat dan yang lain cepat,
menjelaskan pengamatan fisiologis bahwa terdapat dua jenis
nyeri. Rangsangan nyeri akan menimbulkan sensasi yang
jelas, tajam, dan terlokalisasi, yang kemudian diikuti oleh
sensasi yang tumpul, difus, kuat, dan tidak menyenangkan.
Kedua sensasi ini diberi nama nyeri cepat dan lambat, atau
nyeri pertama dan kedua. Rangsangan yang semakin jauh dari
otak, menimbulkan perbedaan waktu yang semakin besar di
antara kedua komponen nyeri tersebut. Hal ini dan bukti lain
menjelaskan bahwa nyeri cepat disebabkan oleh aktivitas di
serabut nyeri A, sedangkan nyeri lambat disebabkan oleh
aktivitas di serabut C.
2) Nyeri Dalam
Perbedaan utama antara sensibilitas superfisial dan dalam
adalah perbedaan sifat nyeri yang dicetuskan oleh rangsangan
yang membahayakan. Hal ini mungkin disebabkan oleh
defisiensi relatif serabut A di struktur dalam, sehingga hanya
sedikit terdapat nyeri yang cepat dan jelas. Selain itu, nyeri
dalam dan nyeri visera tidak memiliki lokalisasi yang jelas,
menyebalkan, dan sering disertai pengeluaran keringat dan
perubahan tekanan darah. Nyeri dapat dicetuskan secara
ekperimental

dari

periosteum

dan

ligamen

dengan

menyuntikkan larutan salin hipertonik ke dalamnya. Nyeri yang


ditimbulkan dengan cara ini, akan mencetuskan kontraksi
refleks di otot rangka di sekitarnya. Kontraksi refleks ini serupa
dengan kejang otot yang berkaitan dengan cedera tulang,
tendon, dan sendi. Otot yang terus-menerus berkontraksi
menjadi iskemik, dan iskemia merangsang reseptor nyeri di

17

otot.

Nyeri

kemudian

menyebabkan

kejang

semakin

bertambah, sehingga terjadi lingkaran setan.


3) Nyeri Otot
Bila otot berkontraksi secara ritmis, tetapi suplai darah
tetap adekuat, biasanya tidak akan timbul nyeri. Namun,
apabila suplai darah ke otot tersumbat, kontraksi dengan
segera akan menimbulkan nyeri. Setelah kontraksi berhenti,
nyeri

tetap

Pengamatan

ada
ini

sampai
sulit

aliran

darah

diinterpretasikan

kembali
kecuali

pulih.
dengan

pelepasan bahan kimia (faktor P Lewis) sewaktu kontraksi,


yang menyebabkan nyeri apabila konsentrasi lokalnya cukup
tinggi. Apabila suplai darah telah pulih, bahan kimia ini dapat
dibersihkan atau dimetabolisasi. Identitas fakto P ini masih
belum dipastikan, tetapi mungkin adalah K+.
4) Nyeri Visera
Selain tidak memiliki lokalisasi yang baik, menimulkan rasa
tidak menyenangkan, dan berkaitan dengan mua dan gejala
otonom, nyeri visera sering menyebar atau dialihkan ke
daerah lain. Di SSP, sensasi visera berjalan di sepanjang jalur
yang sama dengan sensasi somatik di traktus spinotalamikus
serta radiatio thalami, dan area korteks penerima untuk
sensasi visera bercampur dengan area korteks penerima
sensasi somatik.
5) Nyeri Alih
Iritasi pada organ dalam sering menimbulkan nyeri yang
dirasakan tidak pada organ tersebut tetapi pada beberapa
struktur somatik yang mungkin terletak cukup jauh. Nyeri
seperti ini dikatakan dialihkan ke struktur somatik. Contoh
terbaik adalah pengalihan nyeri jantung ke sisi dalam lengan
kiri. Contoh dramatik lain adalah nyeri di puncak bahu yang
disebabkan oleh iritasi di bagian tengah diafragma dan nyeri di
testis akibat peregangan ureter. Namun, tempat nyeri alih tidak
selalu sama, dan sering terjadi tempat nyeri alih yang tidak
lazim.
6) Nyeri Peradangan

18

Setelah mengalami cedera yang tidak ringan, timbul nyeri


peradangan yang menetap hiingga cederanya sembuh.
Rangsangan di daerah yang cedera yang dalam keadaan
normal

biasanya

hanya

menyebabkan

nyeri

ringan

menimbulkan respons yang berlebihan (hiperalgesia), dan


rangsangan

yang

biasanya

tidak

berbahaya

misalnya

sentuhan menimbulkan rasa nyeri (alodinia). Semua jenis


peradangan menyebabkan pelepasan berbagai sitokin dan
faktor pertumbuhan (adonan peradangan) di daerah yang
mengalami inflamasi.
7) Nyeri Neuropatik
Nyeri neuropatik dapat terjadi jika serabut saraf mengalami
cedera. Nyeri ini biasanya berat dan sulit diatasi. Pada
manusia, nyeri neuropatik terdapat dalam berbagai bentuk.
Salah satunya adalah nyeri (selain sensasi lain) pada
ekstremitas yang telah diamputasi. Pada kausalgia, timbul
rasa terbakar spontan setelah cedera yang tampaknya ringan.
Nyeri ini sering disertai oleh hiperalgesia dan alodinia. Distrofi
refleks simpatis juga sering terjadi. Pada keadaan ini, kulit di
daerah yang terkena akan menipis dan berkilap, dan terjadi
peningkatan

pertumbuhan

rambut.

Pada

manusia,

penghambatan adrenergik-alfa akan meredakan nyeri tipe


kausalgia, meskipun atas alasan yang tidak jelas penghambat
adrenergik-1 lebih efektif daripada penghambat adrenergik-2.
Tindakan bedah yang dilakukan untuk mengatasi nyeri
yang berat antara lain adalah dengan pemutusan saraf dari
tempat sedera atau kordotomi anterolateral, yakni dilakukan
pemotongan jaras spinotalamikus secara hati-hati. Namun,
efektif tindakan ini hanya sesaat jika jaringan perifer telah
mengalami hubungan arus-pendek oleh saraf simpatis atau
jaras-jaras sentral lain yang mengalami reorganisasi. Nyeri
sering

dapat

ditangani

dengan

pemberian

obat-obatan

19

analgesik dalam dosis memadai, meskipun tidak selalu harus


diberikan. Obat yang paling efektif untuk ini adalah morfin.
Menurut Long C.B (1996) mengklasifikasi nyeri berdasarkan
jenisnya, meliputi :
1) Nyeri akut, nyeri yang berlangsung tidak melebihi enam bulan,
serangan mendadak dari sebab yang sudah diketahui dan
daerah nyeri biasanya sudah diketahui, nyeri akut ditandai
dengan ketegangan otot, cemas yang keduanya akan
meningkatkan persepsi nyeri.
2) Nyeri kronis, nyeri yang berlangsung enam bulan atau lebih,
sumber nyeri tidak diketahui dan tidak bisa ditentukan
lokasinya. Sifat nyeri hilang dan timbul pada periode tertentu
nyeri menetap.
Corwin J.E (1997) mengklasifikasikan nyeri berdasarkan
sumbernya meliputi :
1) Nyeri kulit, adalah nyeri yang dirasakan dikulit atau jaringan
subkutis, misalnya nyeri ketika tertusuk jarum atau lutut lecet,
lokalisasi nyeri jelas disuatu dermatum.
2) Nyeri somatik adalah nyeri dalam yang berasal dari tulang dan
sendi, tendon, otot rangka, pembuluh darah dan tekanan
syaraf dalam, sifat nyeri lambat.
3) Nyeri Viseral, adalah nyeri dirongga abdomen atau torak
terlokalisasi jelas disuatu titik tapi bisa dirujuk kebagian-bagian
tubuh lain dan biasanya parah.
4) Nyeri Psikogenik, adalah nyeri yang timbul dari pikiran pasien
tanpa diketahui adanya temuan pada fisik (Long, 1989 ; 229).
5) Nyeri Phantom limb pain, adalah nyeri yang dirasakan oleh
individu pada salah satu ekstremitas yang telah diamputasi
(Long, 1996 ; 229).

Skala Nyeri

20

Fisiologi Nyeri
Antara stimulus cedera jaringan dan pengalaman subjektif
nyeri terdapat empat proses tersendiri : transduksi, transmisi,
modulasi,

dan

persepsi.

Transduksi

nyeri

adalah

proses

rangsangann yang mengganggu sehingga menimbulkan aktivitas


listrik di reseptor nyeri. Transmisi nyeri melibatkan proses
penyaluran impuls nyeri dari tempat transduksi melewati saraf
perifer sampai ke terminal di medulla spinalis dan jaringan neuronneuron pemancar yang naik dari medulla spinalis ke otak.
Modulasi nyeri melibatkan aktivitas saraf melalui jalur-Jalur saraf
desendens dari otak yang dapat mempengaruhi transmisi nyeri
setinggi medulla spinalis. Modulasi juga melibatkan factor-faktor
kimiawi yang menimbulkan atau meningkatkan aktivitas di
reseptor nyeri aferen primer. Akhirnya, persepsi nyeri adalah
pengalaman subjektif nyeri yang bagaimanapun juga dihasilkan
oleh aktivitas transmisi nyeri oleh saraf.
Stimulus (mekanik, termal, kimia)
bradikinin, kalium,
Serabut syaraf perifer

Nosiseptor
Kornu

spinalis Neurotransmiter (substansi P)


otak

Pengeluaran histamin
Impuls syaraf
dorsalis

medulla

Pusat syaraf di

Respon reflek protektif


Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal,

kimia) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti


histamin, bradikinin, kalium. Substansi tersebut menyebabkan
nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri,
maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut
saraf perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls

21

syaraf ada dua jenis, yaitu serabut A-delta dan serabut C. impuls
syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu
dorsalis

medulla

menyebabkan

spinalis.

kornu

Impuls

dorsalis

syaraf

tersebut

melepaskan

akan

neurotrasmiter

(substansi P). Substansi P ini menyebabkan transmisi sinapis


dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini
memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam
system saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak
mengolah impuls syaraf kemudian akan timbul respon reflek
protektif.
Contoh:
Apabila tangan terkena setrika, maka akan merasakan
sensasi terbakar, tangan juga melakukan reflek dengan menarik
tangan dari permukaan setrika.
Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla
spinalis utuh atau berfungsi normal. Ada beberapa factor yang
menggangu proses resepsi nyeri, diantaranya sebagai berikut:
1) Trauma
2) Obat-obatan
3) Pertumbuhan tumor
4) Gangguan metabolic (penyakit diabetes mellitus)
Tipe serabut saraf perifer
1) Serabut saraf A-delta :
a) Merupakan serabut bermyelin
b) Mengirimkan pesan secara cepat
c) Menghantarkan sensasi yang tajam, jelas sumber dan
lokasi nyerinya
d) Reseptor berupa ujung-ujung saraf bebas di kulit dan
struktur dalam seperti , otot tendon dll
e) Biasanya sering ada pada injury akut
f) Diameternya besar
2) Serabut saraf C
a) Tidak bermyelin
b) Diameternya sangat kecil
c) Lambat dalam menghantarkan impuls
d) Lokasinya jarang, biasanya dipermukaan

dan

impulsnya bersifat persisten


e) Menghantarkan sensasi berupa sentuhan, getaran,
f)

suhu hangat, dan tekanan halus


Reseptor terletak distruktur permukaan.

22

f.

pemeriksaan radiology
Radiologi adalah Suatu ilmu tentang penggunaan sumber
sinar pengion dan bukan pengion, gelombang suara dan magnet
untuk imaging diagnostik dan terapi.
Pemeriksaan radiologis dilakukan dg prinsip dua :

Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada


antero-posterior dan lateral.

Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus di foto, di atas
dan di bawah sendi yg mengalami fraktur.

Dua anggota gerak. Pada anak2 sebaiknya dilakukan foto pada


kedua tangan dan dua anggota gerak terutama pada fraktur
epifisis.

Dua trauma, pd trauma yg hebat srg menyebabkan fraktur pada


dua daerah tulang.

Dua kali dilakukan foto.


Bidang-bidang dalam Radiologi

1. Foto konvensional atau foto polos memberikan gambaran yang


menyeluruh dan detail struktur tulang yang baik.Juga dapat
memberikan evaluasi yang cepat untuk menilai fraktur, arthritis,
infeksi dan tumor pada tulang. Foto polos merupakan evaluasi
radiologi awal untuk dilakukan pemeriksaan radiologi yang lebih
canggih. Pemeriksaan foto polos memerlukan 2 posisi atau lebih.
Yang harus dinilai : (1) jaringan lunak, (2) korteks (3)trabekulasi
(4) sendi
2. CT Scan sangat baik untuk menilai fraktur dan perluasan dari
kelainan tulang ke jaringan lunak ataupun ke rongga medulla juga
dapat menilai kelainan tulang intramedular walaupun foto polos
dan MRI secara umum lebih efektif.
3. MRI memberikan gambaran jaringan lunak dan resolusi yang baik
untuk pencitraan muskuloskeletal dan diterapkan untuk menilai
soft tissue mass, tumor tulang, penyakit sendi dan kelainan
sumsum tulang.
4. Kedokteran nuklir /Bone scan : Untuk deteksi dini osteomyelitis ,
stress fractur , osteonecrosis, tumor tulang dan metastasis.

23

Sangat sensitif tetapi tidak spesifik. Dapat menilai seluruh tulang.


Pemberian radiofarmaka Tc-99m.

Fraktur dan dislokasi pada panggul


Dislokasi panggul terjadi akibat trauma yang berat. Pelvis

harus diperiksa dengan teliti untuk memastikan tidak ada cedera lain
pada acetabulum atau pelvis.

Perhatikan kedua garis yang terlihat pada foto diatas. Bila sendi
panggul mengalami dislokasi, garis tersebut akan terputus. Pada
dislokasi posterior, paha akan adduksi; pada dislokasi anterior
(jarang), paha akan abduksi.

24

Dislokasi posterior sendi panggul dengan fraktur pada tepi posterior


acetabulum.

Fraktur acetabulum (panah putih).


Fraktur jenis ini terjadi bila caput femoris terdorong masuk ke

dalam sendi panggul. Perhatikan bahwa terdapat pula fraktur pada


collum femoris dan trochanter (panah hitam). Bila cedera berat,
carilah selalu kemungkinan adanya fratur yang lain.
Kebanyakan fraktur pada panggul akan bisa terlihat dengan
mudah, tapi bisa timbul kesukaran pada fraktur subcapital bila sedikit
impacted dengan pergeseran yang tidak berarti seperti pada kasus di
bawah ini.

25

g.

penatalaksanaan

Tatalaksana fraktur

1. Terapi pada fraktur tertutup


Pada dasarnya terapi fraktur terdiri atas manipulasi untuk
memperbaiki posisi fragmen, diikuti dengan pembebatan untuk

26

mempertahankannya bersama-sama sebelum fragmen-fragmen


itu menyatu ; sementara itu, gerakan sendi dan fungsi harus
dipertahankan. Tujuan ini tercakup dalam 3 keputusan yang
sederhana ; reduksi, mempertahankan, lakukan latihan.
Tetapi terdapat bebrapa situasi yang tak memerlukan reduksi :
a. Bila pergeseran tidak banyak atau tidak ada
b. Bila pergeseran tidak berarti (misalnya pada fraktur klavikula)
c. Bila reduksi tampaknya tak akan berhasil (misalnya pada
fraktur kompresi pada vertebra)

Terdapat 2 macam metode reduksi :


a. Reduksi tertutup
Dengan anastesi yang tepat dan relaksasi otot, fraktur dapat
direduksi dengan maneuver tiga tahap :
1) Bagian distal tungkai ditarik ke garis tulang
2) Sementara fragmen-fragmen terlepas, fragmen itu direposisi
(dengan membalikkkan arah kekuatan asal kalau ini dapat
diperkirakan.)
3) Penjajaran disesuaikan ke setiap bidang
Cara ini paling efektif bila periosteum dan otot pada satu sisi
fraktur tetap utuh ; pengikatan jaringan lunak mencegah overreduksi dan menstabilkan fraktur setelah reduksi. Umunya,
reduksi tertutup digunakan untuk semua fraktur dengan
pergeseran minimal, sebagian besar pada fraktur anak-anak
dan pada fraktur yang stabil setelah reduksi.
b. Reduksi terbuka
Reduksi bedah pada fraktur dengan penglihatan langsung
diindikasikan ;
1) Bila reduksi

tertutup

gagal,

baik

karena

kesukaran

mengendalikan fragmen atau karena terdapat jaringan lunak di


antara fragmen-fragmen itu
2) Bila terdapat fragmen artikular besar yang perlu ditempatkan
secara tepat
3) Bila terdapat fraktur traksi yang fragmennya terpisah
Metode yang digunakan untuk mempertahankan reduksi
adalah

27

1)
2)
3)
4)
5)

Traksi terus menerus


Pembebatan dengan gips
Pemakaian penahan fungsional
Fiksasi internal
Fiksasi eksternal

Latihan
Lebih tepatnya memulihkan fungsi bukan saja pada bagian
yang mengalami cedera tetapi juga pada pasien secara
keseluruhan.

Tujuannnya

adalah

mengurangi

edema,

mempertahankan gerakan sendi, memulihkan tenaga otot dan


memeandu pasien kembali ke aktivitas normal. Tungkai yang
mengelami cedera biasanya perlu ditinggikan hingga pengaturan
peredarahan darah pulih sepenuhnya. Gerakan aktif membantu
memompa keluar cairan edema, merangsang sirkulasi, mencegah
pelekatan jaringan lunak dan membantu penyembuhan fraktur.
Tentu saja tak boleh dilakukan gerakan paksaan, tetapi bantuan
perlahan-lahan

selama

latihan

aktif

dapat

membantu

memperthankan fungsi atau memperoleh kembali gerakan setelah


terjadi fraktur yang melibatkan permukaan artikular. Akhir-akhir ini
cara ini dilakukan dengan mesin yang dapat disetel untuk
memberikan rentang dan kecepatan gerakan tertentu (gerakan
pasif yang terus- menerus). Sementara mobilitas pasien membaik,
sejumlah aktivitas terarah ditambahkan program itu. Dia mungkin
perlu diajarkan lagi bagaimana cara melakukan tugas sehari-hari,
misalnya

berjalan,

rebah

dan

bangun

dari

tempat

tidur,

mandi,berpakaian atau memgang peralatan makan.

2. Terapi pada fraktur terbuka


Semua fraktur terbuka, tak perduli seberapa ringannya, harus
dianggap terkontaminasi; penting untuk mencoba mencegah
infeksi. Untuk tujuan ini empat hal yang penting adalah :
a. Pembalutan luka dengan segera
b. Profilaksis antibiotika
c. Debridement luka secara dini
d. Stabilisasi fraktur

28

Luka harus tetap ditutup hingga pasien tiba dikamar


bedah. Antibiotika diberikan secepat mungkin, tak peduli
berapa kecil laserasi itu dan dilanjutkan hingga bahaya infeksi
terlewati. Pada umumnya, pemberian kombinasi benzilpenisilin
dan flukloksasilin tiap 6 jam selama 48 jam akan mencukupi;
kalau

luka

amat

terkontaminasi,

juga

bijaksana

untuk

mencegah organism Gram- negative dengan menambah


gentamisin atau metronidazol dan melanjutkan terapi selama 4
atau 5 hari.
Pemberian profilaksis tetanus juga penting: toksisoid
diberikan pada mereka yang sebelumnya telah diimunisasi;
kalau belum, berilah antiserum manusia.
-

Debridement
Operasi bertujuan untuk membersihkan luka dari bahan
asing dan jaringan mati, memberikan persediaan darah yang
baik di seluruh bagian itu. Dalam anestesi umum, pakaian
pasien dilepas, sementara itu asisten mempertahankan traksi
pada tungkai yang mengalami cedera dan menahannya agar
tetap diam. Pembalut yang sebelumnya digunakan pada luka
diganti dengan bantalan yang steril dan kulit diseklilingnya
dibersihkan dan dicukur. Kemudian bantalan itu diangkat dan
luka diirigasi seluruhnya dengan sejumlah besar garam
fisiologis; irigasi akhir dapat disertai obat antibiotika misalnya
basistrasin.turniket tidak digunakan karena akan lebih jauh
membahayakan sirkulasi dan menulitkan pengenalan struktur
yang mati.
Penutupan luka
Luka tipe I yang kecil dan terkontaminasi yang dibalut
dalam beberapa jam setelah cedera, setelah debridement,
dapat dijahit (asalkan ini dapat dilakukan tanpa

tegangan)

atau dilakukan pencangkokan kulit. Luka yang lain harus


dibiarkan terbuka hingga bahaya tegangan dan infeksi telah
terlewati. Luka itu dibalut sekadarnya dengan kasa steril dan

29

diperiksa setelah 5 hari; kalau bersih, luka itu dijahit atau


dilakukan pencangkokan kulit (penutupan primer tertunda)

Stabilisasi fraktur
Untuk luka tipe I atau tipe II yang kecil dengan fraktur yang
stabil, boleh menggunakan gips yang dibelah secara luas atau
untuk femur digunakan traksi yang bebat. Tetapi pada luka
yang lebih berat (dan luka tembak) fraktur perlu difiksasi
secara lebih ketat. Metode yang paling aman adalah fiksasi
eksterna. Pemasangan pen intramedula (dengan penguncian
jika fraktur itu kominutif) dapat digunakan untuk femur atau
tibia; terbaik jangan melakukan pelebaran luka (remaining)
pendahuluan yang akan meningkatkan risiko infeksi. Plat dan
sekrup dapat digunakan untuk fraktur metafisis atau artikular,
dengan

syarat

ahli

bedah

itu

berpengalaman

dalam

menggunakannya dan keadaannya ideal.


-

Perawatan sesudahnya
Tungkai

ditinggikan

di

atas

tempat

tidur

dan

sirkulasinya diperhatikan dengan cermat. Syok mungkin masih


membutuhkan

terap.

Kemoterapi

dilanjutkan;

organism

dibiakkan dan kalau perlu, dilakukan penggantian antibiotika.


Kalau luka dibiarkan terbuka, periksa setelah 5-7 hari.
Penjahitan primer tertunda sering aman atau kalau terdapat
banyak kehilangan kulit, dilakukan pencangkokan kulit. Kalau
toksemia atau septicemia terus terjadi meskipun telah diberi
kemoterapi, luka itu didrainase (terapi aman satu-satunya
kalau fraktur yang terinfeksi tidak ditangani dlam 24 jam
setelah cedera).

Penatalaksanaan dislokasi
Dislokasi harus direduksi secepat mungkin ; biasanya
dibutuhkan anestetik umum dan kadang-kadang juga dibutuhkan
pelemas otot. Sendi kemudian diistirahatkan atau diimobilisasi

30

hingga terjadi penyembuhan jaringan lunak biasanya setelah 3-4


minggu. Kalau ligament robek, ini mungkin terpaksa diperbaiki.

Penatalaksanaan Instabilitas dan jatuh


Prinsip dasar tata laksana usia lanjut dengan masalah
instabilitas

dan riwayat jatuh adalah mengkaji dan mengobati

trauma fisik akibat jatuh, mengobati berbagai kondisi yang


mendasari instabilitas dan jatuh, memberikan terapi fisik dann
penyuluhan berupa latihancara berjalan,penguatan otot, alat
bantu, sepatu atau sendal yang sesuai, mengubah lingkungan
agar lebih aman seperti pengcahayaan yang cukup, pegangan,
lantai yang tidak licin dan sebagainya.
Latihan fisik (penguatan otot, fleksibilitas sendi, dan
keseimbangan), latihan Tai Chi, adaptasi perilaku(bangun dari
duduk

perlahan-lahan,

menggunakan

perabot

untuk

keseimbangan, dan teknik bangun setelah jatuh) perlu dilakukan


untuk mencegahmorbiditas akibat instabilitas dan jatuh berikutnya.
Perubahan lingkungan acapkali penting dilakukan untuk
mencegah jatuh berulang. Lingkungan tempat orang usia lanjut
tinggal

seringkali

tidak

aman

sehingga

upaya

perbaikan

diperlukan untuk memperbaiki keamanan mereka agar kejadian


jatuh dapat dihindari.
Berbagai penelitian di Eropa, Amerika Serikat, dan
Australia menunjukkan bahwa resiko terjadinya patah tulang tidak
hanya ditentukan oleh densitas massa tulang, melainkan juga oleh
faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kerapuhan fisik (frailty)
dan meningkatnya resiko untuk jatuh. Densitas massa tulang dan
ayunan ntubuh (sway), keduanya merupakan faktor prediktor
untuk resiko terjadinya patah tulang osteoporotik, akan tetapi
kombinasi keduanya yang meningkat merupakan resiko patah
tulang pada mereka.

31

Tujuan utama tatalaksana adalah mengembalikan pasien


pada keadaan dan fungsi sebelum terjadi fraktur. Hal ini dapat
dicapai dengan operasi diikuti mobilisasi dini. Walaupun demikian
adakalanya operasi dapat meninngkatkan resiko morbiditas dan
mortalitas bila ada penyakit penyerta.
Pada pasien usia lanjut yang mengalami fraktur diperlukan
penilaian geriatri yang komprehensif. Kelompok pasien ini
umumnya lemah, memeiliki beberapa masalah medis, minum
banyak obat, serta acapkali sudah terdapat demensia atau
penyakit terminal lainnya. Bila ditemukan ada penyakit penyerta
pada pasien yang akan dioperasi maka dilakukan manajemen
perioperatif hingga penyakit penyerta tersebut terkontrol atau
terkendali.
Selain itu perlu diingat kemungkinan terjadinya komplikasi
pasca operasi seperti infeksi, tromboemboli, delirium, infeksi
saluran kemih, dan retensio urin, ulkus dekubitis, maupun
malnutrisi.
Aspek penting pasca operasi adalah mobilisasi dini untuk
mencegah kompilikasi akibat imobilisasi. Pada usia lanjut dengan
fraktur femur proksimal, hal ini sangat penting agar dapat hidup
tanpa tergantung pada orang lain dengan target terapi adalah
mengembalikan fungsi berjalan. Rehabilitasi harus dimulai sehari
setelah operasi dengan mobilisasi bertahap dari tempat tidur ke
kursi dan selanjutnya berdiri dan berjalan. Pada hari pertama
dapat dimulai dengan latihan isometrik dan latihan mobilisasi.
Pada hari keempat latihan berdiri dan berjalan dengan pegangan.
Saat kembali ke rumah pasien harus memulihkan kemampuan
untuk melakukan aktivitas harian hidup dasar. Kebanyakn
pemulihan terjadi pada 6 bulan pertama setelah fraktur.

h.

aspek medikolegal trauma

Pembiayaan dalam Pelayanan Gawat Darurat

32

Dalam pelayanan kesehatan prestasi yang diberikan tenaga


kesehatan sewajarnyalah diberikan kontra-prestasi, paling tidak
segala biaya yang diperlukan untuk menolong seseorang. Hal itu
diatur dalam hukum perdata. Kondisi tersebut umumnya berlaku pada
fase pelayanan gawat darurat di rumah sakit. Pembiayaan pada fase
ini diatasi pasien tetapi dapat juga diatasi perusahaan asuransi
kerugian, baik pemerintah maupun swasta. Di sini nampak bahwa
jasa pelayanan kesehatan tersebut merupakan private goods
sehingga masyarakat (pihak swasta) dapat diharapkan ikut
membiayainya.
Kondisi tersebut berbeda dengan pelayanan gawat darurat fase prarumah sakit yang juga berupa jasa, namun lebih merupakan public
goods. Jasa itu dapat disejajarkan dengan prasarana umum (misalnya
jalan raya) yang harus diselenggarakan dan dibiayai oleh pemerintah.
Pihak swasta sulit diharapkan untuk membiayai sesuatu yang bersifat
prasarana umum. Dengan demikian pelayanan gawat darurat pada
fase pra-rumah sakit sewajarnyalah dibiayai dari pajak yang
dibayarkan oleh rakyat. Realisasi pembiayaan melalui pengaturan
secara hukum yang mewajibkan anggaran untuk pelayanan yang
bersifat public goods tersebut. Bentuk peraturan perundang-undangan
tersebut dapat berupa peraturan pemerintah yang merupakan jabaran
dari UU No.23/ 1992 dan atau peraturan daerah tingkat I (Perda Tk.I).
Mekanisme pembayaran ada 2:
-

Pembiayaan tunai ( fee for service )


Asuransi Kesehatan
A.K.Komersial
A.K. Sosial\

Pembiayaan tunai adalah Setiap pasien datang berobat diharuskan


membayar tunai. Kelemahannya tak ada uang, tak ada pelayanan
kesehatan.
Sedangkan asuransi adalah Suatu perjanjian dimana si penanggung
dengan menerima suatu premi mengikatkan dirinya untuk memberi
ganti rugi kepada si tertanggung yang mungkin diderita karena
terjadinya peristiwa yang mengandung ketidakpastian dan yanmg
akan mengakibatkan kerugian atau kehilangan suatu keuntungan
Bentuk pembayaran dari badan asuransi ke penyelengara pelayanan
antara lain:
a. Atas dasar tagihan
Pembayaran atas dasar tagihan.
b. Pembayaran pra upaya / prospektif
Besar biaya dihitung di muka dan penyelenggara pelayanan akan
menerima besar biaya tersebut tanpa mempedulikan biaya riil

33

yang dikeluarkan oleh penyelenggara pelayanan untuk pelayanan


yang diselenggarakan.
Bentuk pembiayaan pra upaya antara lain:
1. Sistem Kapitasi.
sistem pembayaran di muka yang dilakukan oleh badan asuransi
kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga yang dihitung untuk setiap peserta untuk
jangka waktu tertentu
2. Sistem Paket.
Sistem pembayaran di muka yang dilakukan oleh badan asuransi
kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga yang dihitung untuk suatu paket pelayanan
kesehatan tertentu.
3. Sistem Anggaran
Sistem pembayaran di muka yang dilakukan oleh badan asuransi
kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga, sesuai dengan besarnya anggaran yang
diajukan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan.
Pengendalian pembiayaan kesehatan
1. Mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit.
2. Mencegah pelayanan yang berlebihan.
3. Membatasi konsultasi dan rujukan.
Manfaat penerapan program asuransi kesehatan :
a. Dapat membebaskan peserta dari kesulitan menyediakan dana
tunai.
b. Biaya kesehatan dapat dikendalikan.
c. Mutu pelayanan dapat dijaga.
d. Data kesehatan tersedia.

Manfaat penerapan pembiayaan pra upaya:


a. Dapat dicegah kenaikan biaya kesehatan.
b. Mendorong pelayanan pencegahan penyakit.
c. Menjamin penghasilan penyelenggara pelayanan
MANAJEMEN PESERTA
a. Sebagai perseorangan
b. Sebagai satu keluarga.
c. Sebagai satu kelompok.

MANAJEMEN KEUANGAN

34

1. Analisis aktuarial :
a. Pelajari pelayanan yang ditanggung.
b. Angka pemanfaatan untuk tiap jenis
ditanggung.
c. Hitung biaya tunai.
d. Hitung biaya kapitasi.
e. Bandingkan dengan biaya yg ditawarkan

pelayanan

yang

2. Underwriting ( Penilaian resiko calon ) :


a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Pekerjaan
d. Pola dan kebiasaan hidup
e. Riwayat kesehatan
f. Riwayat kesehatan keluarga.
Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( JPKM)
merupakan Suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan
yang paripurna berdasarkan tata asas usaha bersama dan
kekeluargaan, yang berkesinambungan dan dengan mutu yang
terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara pra upaya.
PELAKU UTAMA JPKM
a. Peserta
b. Pemberi Pelayanan kesehatan ( PPK )
c. Bapel JPKM
d. Badan Pembina
KIAT-KIAT
1. Kontrak atr Bapel PPK dan PPK peserta.
2. Pengendalian mutu oleh Bapel.
3. Penangan keluhan peserta dan PPK.
4. Pembeyaran PPK oleh Bapel dengan cara pra upaya dengan
sistem kapitasi / anggaran.
5. Mekanisme bagi hasil
keimpulan

35

Ny. Any dicurigai mengalami fraktur pada columna femoris sinistra


dengan DD dislokasi Articulatio coxae tapi diperlukan pemeriksaan
penunjang untuk menegakkan diagnosis.

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A. Graham dan Luis Solomon . 1995. Ortopedi dan fraktur system apley.
Jakarta : Widya Medika
Ganong, W.F.2008.Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN.Jakarta:EGC
Hartono, L. 1995. Sistem Radiologi Dasar Organisasi Kesehatan Sedunia
Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter Umum. Jakarta: EGC.
Herkulanto. 2007.Aspek Medikolegal pelayanan gawat darurat .FKUI;Jakarta
Jakarta. EGC.Price Sylvia, A. 1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jilid 2 Edisi 4 : Jakarta. EGC.

36

Porth, carol. 2008. Pathophysiology Concepts of Altered Health States, 8th ed.
US: Lippincott William & Wilkins.
Seri Asuhan Kebidanan: Kehamilan Oleh Lily Yulaikhah, SSiT
Smeltzer Suzanne, C . 1997. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi
8 : Jakarta. EGC

Diunduh dari : http://digilib.unimus.ac.id pada tanggal 17 januari 2011 pukul


19.00 WIB
Diunduh dari :http://nursingbegin.com/fraktur-patah-tulang/ pada tanggal 17
januari 2011 pukul 19.00 WIB

37