Anda di halaman 1dari 13

TUGAS I

MANAJEMEN LIMBAH
DAN LINGKUNGAN INDUSTRI
STUDY KASUS LIMBAH PABRIK KERTAS DI JAWA TIMUR
Oleh :
KELOMPOK 3

Afriatur Rizqi A
Alin Alaina
Asterina Primasari
Lailatul Muniroh
Revi Anggita
Sri Rofiqoh
Dwi Elsa Y.
Dwi Imama M.
Meri Jhoni S.
Rahma Dewi A.
Shinta Dewi A.

0611030004
0611030007
0611030017
0611030045
0611030067
0611030078
0611033006
0611033007
0611033018
0611033026
0611033029

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kertas merupakan barang yang akan selalu diperlukan oleh manusia. Kita
dapat melihat pemanfaatannya di berbagai segi kehidupan seperti pendidikan,
komunikasi, dan lain sebagainya. Pembuatan kertas melalui beberapa tahapan
proses sebelum dapat dimanfaatkan, yang meliputi proses pada bagian Stock
Preparation dan proses pada Paper Machine (mesin kertas).
Pabrik pulp dan kertas yang ada di Jawa Timur memberikan suatu
kontribusi yang besar di sektor non migas. Menurut Arisandi (2007), pada tahun
2003 dari 2.597 juta dollar Amerika nilai ekspor non migas Jawa Timur sebesar
348 juta dollar Amerika merupakan sumbangan terbesar yang berasal dari sektor
industri pulp dan kertas.
Umumnya setiap industri termasuk industri kertas selalu menghasilkan
pembuangan berupa limbah baik dalam jumlah sedikit maupun dalam jumlah
besar. Di balik kesuksesan industri kertas dalam memberikan kontribusi di sector
non migas, ternyata industri kertas juga menyumbang kerusakan yang besar
terhadap lingkungan akibat limbah yang dihasilkan. Karena limbah dibuang ke
lingkungan, maka masalah yang ditimbulkannya merata dan menyebar di
lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke tempat
lainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari hulu
sampai jauh ke hilir, melampaui batas-batas wilayah akhirnya bermuara dilaut
atau danau, seolah-olah laut atau danau menjadi tong sampah.
Adanya perusahaan kertas menjadi ancaman bagi ekosistem perairan sebab
karakter limbah yang dihasilkan memiliki nilai BOD/COD yang sangat tinggi.
Limbah cair yang dibuang ke perairan mengakibatkan degradasi kalitas air yang
ditandai dengan matinya ikan dan biota air.
Limbah yang dibuang ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu akan
menibulkan dampak negatif seperti gangguan terhadap kesehatan, gangguan
terhadap keindahan lingkungan sekitar dan juga gangguan terhadap kehidupan
biotik. Oleh karena itu perusahaan dalam menjalankan usahanya diupayakan harus

memiliki bangunan pengolahan limbah sesuai dengan jenis limbah yang


dihasilkan. Untuk industri kertas diharapkan selain memproduksi kertas, juga
membangun unit pengolahan limbah dalam hal ini khususnya adalah pengolahan
limbah cair dari sisa produksi yang dihasilkan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah dampak dari pembuangan limbah pabrik kertas terhadap
lingkungan?
2. Bagaimana alternatif solusi untuk mengatasi limbah pabrik kertas?
1.3 Tujuan
1. Mengidentifikasi dampak dari limbah pabrik kertas, baik secara langsung,
tidak langsung, maupun dampak kumulatif.
2. Memberikan alternatif penyelesaian masalah dari pembuangan limbah pabrik
kertas yang merugikan masyarakat
3. Mencegah terjadinya pencemaran yang semakin parah dan meluas

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Limbah adalah zat yang merugikan, sesuatu yang dianggap tidak bernilai
oleh manusia dan dalam jumlah melampaui batas optimum akan mengakibatkan
perubahan pada alam serta lingkungan (Soeriaatmaja, 1981).
Limbah membutuhkan pengolahan bila mengandung senyawa pencemar
yang berakibat menciptakan kerusakan lingkungan atau potensial menciptakan
pencemaran. Suatu perkiraan harus dibuat terlebih dahulu dengan jalan
mengidentifikasikan

sumber

pencemaran,

kegunaan

jenis

bahan, sistem

pengolahan, banyaknya buangan dan jenisnya, kegunaan bahan beracun dan


berbahaya yang terdapat dalam pabrik (Gintings, 1995).
Limbah yang terbuang apabila mempunyai jumlah relatif sedikit dibanding
kan

dengan

lingkungan

tempat

dibuangnya,

limbah

tersebut

belum

membahayakan lingkungan, apabila limbah berada di atas Nilai Ambang Batas


(NAB) yang diperkenankan, maka akan mempunyai dampak yang merugikan dan
membahayakan linkungan sekitarnya termasuk manusia. Dalam lingkungan
tergantung sifat dan jumlah limbah, serta daya dukung atau kepekaan lingkungan
yang menerimanya (Gintings, 1995).
Beberapa efek samping dari limbah bisa membahayakan kesehatan
manusia, merugikan segi ekonomi, merusak atau membunuh kehidupan binatang
kecil bahkan merusak lingkungan, keindahan pemandangan dan menimbulkan bau
tak sedap. Jika pengolahan limbah cair tersebut diolah secara baik dan benar,
permasalahan yang ditimbulkan oleh limbah cair dapat dicegah (Arixs, 2005).
Pabrik kertas menghasilkan jumlah dalam volume yang sangat besar.
Karakteristik dari limbah pabrik kertas adalah warnanya yang kehitaman atau abuabu keruh, bau yang khas, kandungan padatan terlarut dan padatan tersuspensi

yang tinggi, COD yang tinggi dan tahan terhadap oksidasi biologis. Pabrik kertas
juga menghasilkan limbah beracun seperti (Arisandi, 2007) :
a. Limbah korosit yang dihasilkan dari penggunaan asam dan basa kuat dalam
proses pembuburan kertas.
b. Limbah pewarna dan tinta yang mengandung logam berat.
Zat pencemar dari proses pembuatan kertas yang berpotensi mencemari
lingkungan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu ( Rini, 2002 ):
1. Efluen limbah cair:
a. Padatan tersuspensi yang terdiri dari partikel kayu, serat, pigmen, debu,
dan sejenisnya.
b. Senyawa organik koloid terlarut serat hemiselulosa, gula, lignin, alkohol,
terpentin, zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintesis yang
menghasilkan BOD tinggi.
c. Limbah cair berwarna pekat yang berasak dari lignin dan pewarna kertas.
d. Bahan organik terlarut seperti NaOH, Na2SO4, klorin dan lain-lain.
e. Limbah panas
f. Mikroorganime seperti golongan bakteri coliform.
2. Partikulat :
a. Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain.
b. Partikulat zat kimia terutama yang mengandung Na dan Ca
3. Gas :
a. Gas sulfur yang berbau busu seperti merkaptan dan H 2S yang dilepaskan
dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan proses pemulihan
bahan kimia.
b. Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery furnace
dan lime klin.
c. Uap yang akan membahayakan kerena mengganggu jarak pandangan.
4. Solid wastes :
a. Sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder.
b. Limbah padat seperti potongan kayu dan limbah pabrik lainnya.
Menurut Alaerts (1987), untuk menunjukkan tingkat pencemaran limbah
cair dipakai beberapa parameter, antara lain :

1. SS (Suspended Solid)
Zat padat tersuspensi adalah zat padat yang terapung setelah
penampisan air yang dapat menimbulkan minimnya oksigen dalam air.
Analisa zat padat dalam air sangat penting bagi penentuan komponen.
Komponen air secara lengkap, juga untuk perencanaan dan pengawasan
proses pengolahan dalam industri pulp dan kertas umumnya zat padat
tersuspensi yang terdiri dari serat kayu halus, lumpur dan bahan aditif.
Zat-zat tersuspensi berdasarkan ukurannya dapat dibedakan menjadi
partikel tersuspensi dan koloidal (partikel koloid) dan partikel tersuspensi
biasa. Jenis partikel koloid tersebut menyebabkan kekeruhan, karena tidak
terlihat secara visual dan larutannya terdiri dari ion-ion dan molekul-molekul
tidak pernah keruh. Larutan menjadi keruh bila pengendapan yang
disebabkan oleh kejenuhan senyawa kimia. Partikel-partikel tersuspensi biasa,
berukuran lebih besar dari partikel koloid dan dapat menembus suspensi,
sehingga suspensi dapat dikatakan keruh karena air diantara partikel-partikel
tersuspensi sebenarnya tidak keruh dan sinar tidak menyimpang.
Prinsip analisa SS :
Sampel disaring dengan filter kertas, filter yang mengandung zat
tersuspensi dikeringkan dalam oven bersuhu 105 oC selama 2 jam.
Analisa

ini

digunakan

sebagai

parameter

mutu

air,

desain

prasedimentasi, flokulasi, filtrasi pada pengolahan air minum, desain


pngendapan primer pada pengolahan air buangan, sedimentasi dalam air
sungai, drainase, dan lain-lain
2. COD (Chemical Oxygen Demand)
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia
(KOK) adalah jumlah oksigen (mg.O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
zat-zat organis yang ada dalam 11 sampel air, dimana pengoksidasi K 2Cr2O7
digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent).
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat
organis

yang

secara

alamiah

dapat

dioksidasikan

melalui

proses

mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam


air.

3. BOD (Biological Oxygen Demand)


Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis
(KOB) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global
proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air.
Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri
untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang
terlarut dan sebagian zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.
4.

pH
pH adalah ukuran umum dari keasaman atau kebasahan dari sebuah
sampel air. Air mengandung H+ dan OH-. Jika air mengandung lebih banyak
ion H+ daripada ion OH-, maka air dianggap bersifat asam, dengan skala
kurang dari 7, begitu pula sebaliknya. Air mengalir, seperti sungai, biasanya
memiiki pH antara 6.5 8.5.
Pada proses pengolahan limbah, menurut Sugiharto (1987) pengolahan
pendahuluan pada dasarnya bertujuan untuk memisahkan zat padat kasar,
baik yang berat ataupun yang ringan yang terbawa oleh air limbah.
Pengolahan pendahuluan perlu dilakukan untuk menghindari timbulnya
gangguan pada tahap tahap pengolahan berikutnya. Selain itu limbah yang
bersifat asam atau basa dapat menyebabkan korosi pada alat dan
mengganggu proses biologis serta proses kimia.

BAB III
ANALISIS KASUS
3.1 Identifikasi Dampak
Seperti industri lainnya, industri kertas juga menghasilkan limbah.
Limbah yang dihasilkan dapat berupa limbah cair, padat maupun gas. Dalam
kasus ini kami akan menganalisis dampak limbah cair yang dihasilkan oleh
industri kertas. Limbah cair yang dihasilkan oleh industri kertas biasanya
langsung dibuang ke perairan di sekitarnya sehingga menimbulkan dampak
negatif baik secara langsung, tidak langsung maupun kumulatif.
Dampak Langsung
Salah satu dampak langsung yang ditimbulkan oleh limbah cair
industri kertas adalah timbulnya bau busuk. Hal ini disebabkan oleh adanya
komponen selulosa ( bahan dasar pulp ) yang tertimbun di dasar sungai atau
lahan terbuka. Selain menimbulakan bau, limbah tersebut juga menyebabkan
terjadinya perubahan warna air ( kekeruhan ) karena warna air limbah yang
hitam tidak mudah terurai secara alami sehingga meninggal warna yang
persisten pada air.
Dampak Tidak Langsung
Limbah cair yang dihasilkan industri kertas dapat menyebabkan
timbulnya gangguan terhadap kesehatan manusia seperti diare, penyakit
kulit. Penyakit - penyakit ini timbul karena masyarakat yang tinggal di
sekitar lokasi industri menggunakan air yang sudah tercemar untuk berbagai
aktifitas sehari hari. Limbah cair pabrik kertas yang mengandung bahan
organik apabila dibuang ke sungai akan bercampur dengan bakteri E.coli
yang berasal dari kotoran manusia atau hewan sehingga menyebabkan
jumlah bakteri E.coli akan mengalami peningkatan hingga lebih dari
10.000.000 sel bakteri per 100 ml contoh air. Padahal seharusnya sebagai

bahan baku air minum kandungan E.coli tak lebih dari 10.000 sel bakter per
100 ml contoh air, sehingga diketahui peningkatannya mencapai sekitar
1000 kali lipat. Selain bakteri E.coli terdapat bakteri air lainnya yang juga
mengalami peningkatan jumlah seperti bakteri Koliform. Peningkatan
beberapa bakteri air ini akan membawa dampak patogenik seperti timbulnya
penyakit diare, kolera, demam tifoid, disentri dan lain lain. Penyakit juga
dapat timbul akibat adanya bahan kimia yang terikut dalam limbah cair
sehingga menyebabkan gangguan pernafasan bagi penduduk yang tinggal di
sekitar lokasi.
Dampak tak langsung lainnya adalah terjadinya pendangkalan pada
sungai akibat komponen selulosa yang mengendap di dasar sungai.
Dampak Kumulatif
Selain dampak langsung dan tidak langsung, limbah cair industri kertas
juga menimbulkan dampak kumulatif seperti rusaknya ekosistem perairan.
Kerusakan ekosistem terjadi karena banyaknya biota yang mati. Kematian
tersebut disebabkan karena banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air
limbah sehingga menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air.
Selain itu kematian juga dapat disebabkan karena adanya zat kimia beracun
yang terkandung dalam air limbah tersebut. Selain zat kimia kehidupan
dalam air juga dapat terganggu dengan adanya pengaruh fisik seperti
temperatur tinggi. Panasnya air limbah dapat mematikan semua organisme
apabila tidak dilakukan pendinginan terlebih dahulu sebelum dibuang ke
dalam saluran air limbah.
Penyebab lain terjadinya kematian biota air adalah terhambatnya
proses fotosintesis akibat kekeruhan pada air. Kekeruhan ini disebabkan oleh
warna air limbah yang hitam dan tidak mudah terurai secara alami.
Banyaknya biota air yang mati menyebabkan terganggunya keseimbangan
dan kelestarian kehidupan perairan.
3.2 Alternatif Penyelesaian Masalah
Permasalahan limbah pabrik kertas bisa ditangani melalui berbagai
alternatif.

3.2.1 Sistem pengolahan secara fisik


Limbah dilewatkan melalui Filter Course Screen yang terdiri dari dua
Fine Otomatic Screen dan By Pass Pre Treatment Screen. Kemudian limbah
dimasukkan dalam Mixing Tank sebelum padatan dan cairan dipisahkan
dengan unit Grit Removal. Pemisahan padatan lebih lanjut dilakukan dengan
Settling Tank. Pada alat ini terjadi pemisahan antara cairan dengan endapan,
air masuk ke Tangki Aerasi sedangkan endapan masuk ke Tangki Aerasi dan
Tangki Homogenesasi. Endapan yang masuk ke Tangki Homogenesasi
dicampur dengan limbah padat dari unit Depithing untuk diturukan kadar
airnya dengan Press Deg.
Over flow pengendapan pertama ini dipakai untuk irigasi serta
pengenceran di unit Depithing. Sedangkan limbah padat yang telah
dikeringkan ditampung untuk kemudian dibawa ke unit Paper Machine I
sebagai bahan baku dalam pembuatan kertas Medium Liner.
3.2.2 Pengolahan Secara Biologi
Pengolahan secara Biologis dimulai pada Tangki Aerasi. Pada tangki
ini ditambahkan Urea dan SP36. Dalam Tangki Aerasi diharapkan aktivitas
mikroba dapat mengoksidasi limbah sehingga menjadi komponen sederhana
yang tidak lagi bersifat limbah. Dari tangki Aerasi air limbah masuk ke
Secondary Clarifier. Over flow dari tempat ini merupakan hasil akhir
pengolahan limbah cair. Air ini kemudian masuk ke Clarified Water Pit dan
sebagian dialirkan ke sungai, sementara sebagian yang lain dimanfaatkan
sebagai air penyembur di mesin Press.
Kapasitas unit pengolah limbah adalah 4000 m3 limbah perhari.
Kapasitas pengolah Lumpur adalah 20 ton per hari per mesin press dengan
jumlah mesin sebanyak tujuh unit.(Anonymous, 2008)

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dari studi literatur yang telah kami lakukan, kami dapat menyimpulkan
bahwa limbah pabrik kertas dapat menimbulkan dampak yaitu secara langsung
berupa timbulnya bau busuk dan perubahan pada warna air, tidak langsung berupa
terjadinya pendangkalan pada sungai akibat komponen selulosa yang mengendap
di dasar sungai dan timbulnya bakteri yang dapat mengganggu keseimbangan
lingkungan serta kesehatan manusia, sedangkan dampak kumulatif yang
ditimbulkan berupa rusaknya ekosistem perairan akibat banyaknya biota yang
mati karena limabah.
Dari sini kami dapat memberikan alternatif untuk menyelesaikan masalah
dari pembuangan limbah pabrik kertas berupa sistem pengolahan secara fisik
melalui pemisahan antara cairan dan endapan, sedangkan yang berupa sistem
pengolahan secara biologi dengan menambahkan Urea dan SP36 ke dalam suatu
tangki. Dengan adanya sistem pengolahan pada limbah dapat mencegah
pencemaran lingkungan yang saat ini semakin parah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2008. Kompilasi Diktat Kursus Karyawan PT. Kertas Leces


(Persero) Gelombang 2, Leces. Kerjasama PT. Kertas Leces (Persero)
dan Balai Besar Penelitian Pengembangan Industri Selulosa
Arisandi, Prigi. 2007. Minimasi Limbah Dalam Industri Pulp And Paper.
http://www.terranet.or.id/tulisandetil.php?id=1306.

Tanggal

akses,

Maret 2008 pukul 14.31 WIB


Arix. 2005. CV Surya Tirta Buana Solusi Jitu Atasi Masalah Limbah Cair.
http://www.cybertokoh.com/mod.php?
mod=publisher&op=viewarticle&artid=1687. Tanggal akses, 1 Maret
2008 pukul 13.59 WIB
Gintings, P.1995. Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri. Pustaka
Sinar Harapan. Jakarta
Sugiharto. 1987. Dasar Dasar Pengelolaan Air Limbah. Universitas Indonesia
Press. Jakarta
Suriaatmadja.1981. Ilmu Lingkungan. ITB. Bandung