Anda di halaman 1dari 13

disebabkan oleh berkurangnya Dopamin atau MAOB yang meningkat.

gambar 2

1. Penghasil Dopamine
Ganglia Basalis
Ganglia basalis mengolah sinyal dan mengantarkan pesan ke talamus, yang akan menyampaikan
informasi yang telah diolah kembali ke korteks serebri.
Keseluruhan sinyal tersebut diantarkan oleh bahan kimia neurotransmiter sebagai impuls listrik di
sepanjang jalur saraf dan diantara saraf-saraf.
Neurotransmiter yang utama pada ganglia basalis adalah dopamin.
Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami kemunduran sehingga
pembentukan dopamin berkurang dan hubungan dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih
sedikit.
Penyebab dari kemunduran sel saraf dan berkurangnya dopamin biasanya tidak diketahui.
Tampaknya faktor genetik tidak memegang peran utama, meskipun penyakit ini cenderung
diturunkan.
2. Peran Dopamin
- Neurotansmiter
- Penting dalam pergerakan dan koordinasi (relaksasi otot)><acetylcholine (kontraksi otot)

- Memprakarsai gerakan otot secara tepat dan halus tanpa gerakan-gerakan yang tidak diinginkan
- Efek (-)(+) : mengganggu sistem hantaran dan keseimbangan neurtransmiter yang lain
(acetylcholine)
- MAO B (Mono Amin Oxidase)

Makalah Farmakoterapi II
Pemilihan Obat untuk Penyakit Parkinson
Latar Belakang
Obat memiliki peranan yang sangat penting dalam tindak lanjut perawatan bagi pasien, seiring
dengan perkembangan jaman jenis-jenis obat semakin bertambah, baik tunggal maupun
kombinasi. Pabrik obat telah memasarkan obat-obat tunggal baru dengan khasiat yang juga baru
dan disempurnakan, namun ada juga obat kombinasi yang manfaatnya jarang atau belum
dibuktikan serta dosisnya sulit disesuaikan dengan kedaan pasien, ditambah dengan sulitnya
menguasai sepenuhnya pengetahuan mengenai obat-obat baru yang tiap saat bertambah di
pasaran, sehingga pemilihan obat menjadi bias. Dengan begitu sangat penting bagi farmasis
untuk mengenal prinsip dasar pemilihan obat yang benar demi kepentingan pasiennya, karena
obat yang terbaru, termahal, terbanyak jenisnya, terbesar dosisnya, atau yang terkenal belum
tentu merupakan yang terbaik dan aman bagi pasien, hal ini sangat tergantung dengan keadaan
pasien baik patologis maupun fisiologis serta keadaan ekonomi pasien itu sendiri. Selain itu juga
harus diperhatikan cara pemilihan obat yang rasional dimana obat tersebut harus tepat dosis,
tepat pasien, tepat obat, tepat cara pembuatan dan tepat waktu.
Pemilihan obat yang dibahas dalam makalah ini ditujukan khususnya untuk penderita
Parkinson, dimana ada bermacam jenis obat antiparkinson sehingga harus benar-benar
diperhatikan pemilihan obatnya.

Tinjauan Pustaka
Prinsip pemilihan obat
Dalam pemilihan obat, dasar pertimbangan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Mempertimbangkan manfaat-risiko. Ada beberapa faktor yang menentukan manfaat-risiko
tersebut, antara lain: kebutuhan, efek samping, efektivitas, dan beban biaya (cost). Setiap
faktor ini saling mempengaruhi.
2. Menggunakan obat yang established, yaitu obat yang indikasinya spesifik untuk penyakit
tertentu.
3. Menggunakan obat yang diketahui paling baik sesuai dengan pengetahuan tentang
farmakologi obat tersebut, sehingga dapat diberikan dosis yang tepat untuk setiap
keadaan, jadwal pemberian, dan potensinya untuk menimbulkan efek samping.
4. Menyesuaikan kebutuhan jenis obat untuk setiap pasien.
5. Menyesuaikan dosis obat dengan pasien yang ditinjau dari berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi respon pasien.

6. Menggunakan dosis efektif terkecil. Perlu membuat mindset bahwa:


- tidak selalu menambah dosis akan menambah efek,
- memperbesar dosis akan memperjelas efek samping (efek samping jadi sering timbul).
- Untuk obat yang memiliki kurva dosis-efek agak datar atau telah digunakan dosis yang
memberi efek maksimum maka disarankan agar menggunakan obat alternative atau
menambah obat lain daripada meninggikan dosisnya.
7. Memilih cara pemberian yang paling aman. Dalam hal ini oral merupakan pemberian yang
paling aman daripada parenteral. Kecuali terjadi keadaan lain seperti pilihan yang
menentukan kematian, jika obat memiliki bioavailabilitas baik, jangan diberikan secara
parenteral.
8. Tidak memilih sediaan baru karena barunya, dipelajari dulu khasiat, dosis, indikasi,
kontraindikasi, dan efek sampingnya.
9. Selalu up to date untuk menggunakan obat baru yang baik.
10. Mencocokan data promosi pabrik obat, dengan demikian tidak langsung mempercayai
brosur yang dikeluarkan perusahaan obat, karena hal tersebut digunakan untuk
menunjang penjualan obat
(Mansjoer, 2000).
Klasifikasi Golongan Obat Anti Parkinson berdasarkan mekanisme farmakologis
1. Anticholinergic
Contohnya: Benztropine,Trihexyphenidyl
2. Dopamine precursor and augmentation
- Levodopa
a. Inhibit peripheral dopa decarboxylase
Contoh: Carbidopa
b. Inhibit catechol-O-methyl-transferase
Contoh: Entacapone, Tolcapone
c. Inhibit monoamine oxidase type B
Contoh:Rasagiline, Selegiline
3. Dopamine receptor agonists
Contoh: Apomorphine, Bromocriptine, Pramipexole, Ropinirole, Rotigotine
4. Miscellaneous
Contoh: Amantadine (Dipiro, 2008).
1. Obat antikolinergik
Obat antikolinergik adalah obat yang dapat menghambat respon ke asetilkolin
(antikolinergik) mengendurkan otot halus dan mengurangi rangsangan saraf postganglionic. Aksi
yang dilakukan obat-obat ini berhubungan dengan efek muskarinik dari asetilkolin. Obat ini telah

dikenal
sebagai antispasmodic.
Spasmolytic,
antiparasympathetic,
cholinolytic,
dan parasympatholitic. Sebagian besar agen ini memiliki efek yang kecil terhadap reseptor
nikotinik. Contohnya: Atropin,skopolamin (Eisenhauer,1998).
Semua obat golongan antikolinergik memiliki aksi yang serupa dengan atropine. Cara
kerjanya adalah dengan bertindak sebagai antagonis kompetitif terhadap asetilkolin dan agen
muskarinik lainnya. Efek yang ditimbulkan obat ini tergantung dengan dosis yang diberikan.
Antikolinergik dalam dosis kecil dapat menghambat produksi air liur, bronchial, dan sekresi
keringat. Dosis yang lebih besar dapat menyebabkan mydirasis, menghambat akomodasi visual,
dan meningkatkan kecepatan jantung. Selain itu dosis besar juga dapat menghambat micturition
dan motilitas usus. Pada dosis besar antikolinergik mengurangi sekresi lambung
(Eisenhauer,1998).
Karena golongan obat ini terionisasi sempurna, maka antikolinergik yang memiliki gugus
ammonium kuartener tidak diabsorbsi sempurna dari saluran pencernaan,dan juga tidak melintasi
sawar otak karena kelarutannya buruk dalam lemak;. Skopolamin diabsorbsi baik secara
perkutan setelah pemberian secara topical. Atropine diabsorbsi cepat melalui injeksi
intramuscular (Eisenhauer,1998).
Informasi tentang eliminasi kolinergik belum lengkap. Atropine dimetabolisme di dalam hati.
Propanthelin dihidrolisis di dalam usus kecil bagian atas. Eliminasi antikolinergik terutama
terjadi pada ginjal. Jumlah dosis yang diberikan secara oral (terutama yang memiliki gugus
ammonium kuartener) tetap tidak terabsorbsi dan masih terdapat dalam feses. Atropine
nampaknya tidak hilang dengan adanya proses hemodialisis; substansi dengan gugus ammonium
kuartener belum diketahui apakah dapat didialisis (Eisenhauer,1998)
Antikolinergik adalah golongan obat yang memiliki potensi paling sedikit yang
digunakan untuk mengobati symptom Parkinson. Antikolinergik diresepkan untuk mengobati
tremor dan sedikit dapat mengontrol bradykinesia (Eisenhauer,1998).
Namun sayangnya tidak ditemukan bukti bahwa antikolinergik lebih baik dibandingkan
dengan Levodopa dalam penanganan tremor (Wibowo,2001).
Triheksifenidil
Triheksifenidil merupakan prototip obat antikolinergik dalam pengobatan parkinsonisme
dimana obat ini terutama berefek sentral. Pada pemberian triheksifenidil dengan dosis besar
dapat menyebabkan perangsangan otak (Ganiswarna,1995).
Triheksifenidil memiliki kerja antiparkinson sedang yang bermanfaat untuk pengobatan
Parkinson Disease awal atau sebagai tambahan pada terapi dopamimetik. Efek merugikan dari
obat ini merupakan akibat dari sifat-sifat antikolinergiknya. Obat ini dapat menyebabkan

konstipasi,retensi urin, dan pandangan kabur akibat siklopegia. Efek yang paling merugikan
yaitu efek sedasi dan kekacauan mental yang sering dijumpai pada orang lanjut usia. Obat ini
harus di gunakan hati-hati pada penderita glaukoma sudut sempit (Goodman and Gilman, 2007).
Dosis triheksifenidil dalam mengobati penyakit Parkinson; hari pertama 1 mg; beberapa
penderita butuh dosis total 12-15 mg/hari; obat diberikan 3-4 kali sehari bersama makanan;
untuk penderita di atas 65 tahun memerlukan dosis lebih rendah (Anonim, 2009).
Terdapat tiga senyawa kongenerik triheksifinidil antara lain biperidin, sikrimin, dan prosiklidin
yang serupa dengan triheksifinidil dalam efek antiparkinson maupun efek sampingnya. Obatobat ini dapat digunakan sebagai pengganti apabila terjadi toleransi terhadap triheksifinidil
(Ganiswarna,1995).
2. Dopamine precursor and augmentation
- Penghambat dekarboksilase ekstraserebrum
Levodopa memiliki aksi yang tergantung dari metabolitnya yang terbentuk dengan
cara dekarboksilasi. Enzimnya adalah: asam amino L-aromatik dekarboksilase. Ada obat yang
dapat menghambat enzim tersebut yang tidak dapat melewati sawar darah otak, disebut
penghambat dekarboksilase ekstraserebrum, contohnya adalah carbidopa (Wibowo,2001).
Penghambatan dekarboksilasi perifer secara nyata meningkatkan fraksi levodopa
yang diberikan yang tetap tidak dimetabolisme dan dapat menembus sawar darah-otak serta
mengurangi insidensi efek-efek gastrointestinal (Goodman dan Gilman,2007).
- Penghambat Catechol-O-methyl transferase
Cara untuk memperlama respon levodopa dengan menggunakan penghambat Catechol-O-methyl
transferase (COMT) dengan obat-obatan seperti tolkapon (tolcapone) dan entapon (entacapone).
Tolkapon atau 3,4-dihydrox-4-methyl-5-nitrobenzophenone merupakan penghambat CatecholO-methyl transferase yang reversibel dan selektif, digunakan sebagaiadjuctive theraphy serta
sebagai penghambat peripheral dopa decarboxylase (benserazide atau carbidopa) pada terapi
parkinson (Wibowo, 2001).
- Penghambat monoamine oksidase B
Ada dua macam penghambat monoamine oksidase yaitu A dan B
1. Monoamin oksidase A : untuk metabolisme noradrenalin dan serotonin
2. Monoamin oksidase B : untuk deaminasi dopamine. Antagonis oleh deprenil
Pemberian penghambat selektif monoamine oksidase B yakni deprenil tetap menjaga
kelangsungan degradasi normal noradrenalin oleh monoamine oksidase A, hingga pemberian
monoamine oksidase B bersama levodopa akan menyebabkan akumulasi tanpa terjadinya
hipertensi. Hal ini juga mengakibatkan pertambahan efek levodopa sehingga dosis levodopa
dapat dikurangi. Maka keuntungan pemakaian levodopa+deprenil dibanding dengan hanya
levodopa ialah memperpanjang durasi efek dopaminergik. Dosis deprenil 5mg /2 x sehari.

3. Agonis Reseptor Dopamin


Bromokriptin merupakan turunan ergot dan memiliki spektrum kerja terapeutik dan efek
efek merugikan yang sama. Bromkriptin merupakan agonis kuat reseptor dopamin dolongan
D2 dan antagonis parsial reseptor D1 (Goodman & Gilman, 2008).
Bromokriptin bekerja secara langsung merangsang reseptor dopamin yang tersisa. Obat
ini memang efektif, tetapi tidak dapat mengungguli levodopa. Obat ini digunakan sebagai
cadangan bagi pasien yang tidak cukup responsif pada levodopa atau pasien yang tidak tahan
dengan levodopa seperti pasien yang sudah usia lanjut, pasien yang sudah lama menderita
penyakit Parkinson, pasien paska ensefalitis dan pasien dengan degenerasi otak difus.
Penggunaan obat ini dibatasi oleh efek sampingnya, dan bila obat ini digunakan
bersamaan dengan levodopa (Anonim, 2000).
Efektifitas bromokriptin pada penyakit Parkinson cukup nyata dan lebih nyata lagi pada pasien
dengan derajat penyakit lebih berat. Kenyataan ini didukung oleh fakta:
1. Efek terapi bromokriptin tidak tergantung dari enzim dekarboksilasi, pada penyakit
Parkinson terdapat defisiensi enzim tersebut di ganglia basal dan respon terapi levodopa.
Biasanya kurang memuaskan dalam keadaan penyakit yang berat.
2. Bertambah beratnya penyakit akan lebih meningkatkan sensitivitas reseptor dopaminergik
(supersesitivitas denervasi).
Bromokriptin menyebabkan kadar HVA dalam CSS menurun, yang memberikan kesan
bahwa obat ini menghambat pembebasan DA dari ujung saraf di otak. Terapi kombinasi
levodopa dengan bromokriptin pada penyakit Parkinson dapat mengurangi dosis levodopa sambil
tetap mempertahankan atau bahkan dapat meningkatkan efek terapinya.
(Ganiswarna,1995).
Farmakokinetik
Hanya 30% bromokriptin yang diberikan per oral diabsorbsi. Obat ini mengalami
metabolisme lintas awal secara ekstensif sehingga sedikit sekali fraksi dosis yang sampai di
tempat kerja. Pada puncak plasma tercapai dalam 1,5 sampai 3 jam mengalami metabolisme
menjadi zat tidak aktif dan sebagian besar diekskresi ke dalam empedu (Ganiswarna,1995).
Indikasi dan Dosis
Indikasi utama bromokriptin adalah sebagai tambahan levodopa pada pasien yang tidak
memberikan respon memuaskan terhadap levodopa dan untuk mengatasi fluktuasi respon
levodopa dengan atau tanpa karbidopa. Bromokriptin diindikasikan sebagai pengganti levodopa
bila levodopa dikontraindikasikan. Kirakira 50-60 kasus, baru memperlihatkan perbaikan gejala

selama 25%. Sisanya tidak memberikan respon atau mengalami efek samping yang memerlukan
penghentian pengobatan. Dosis levodopa perlu dikurangi sewaktu dosis bromokriptin
ditambahkan. Dengan cara demikian, mungkin pasien dapat diobati dengan bromokriptin saja.
Insiden distonia dan diskinesia agaknya lebih jarang terjadi dengan bromokriptin dibanding
levodopa.
Terapi dengan bromokriptin dimulai dengan dosis 1,25 mg, 2 kali sehari. Kemudian dosis
dinaikkan sampai efek terapi tercapai atau timbul efek samping. Obat sebaiknya diberikan
dengan makanan. Peningkatan dosis dilakukan setiap 2 - 4 minggu sebanyak 2,5 mg per hari.
Dengan pemberian bromokriptin, umumnya dosis levodopa dapat dikurangi dengan 125-250 mg
untuk setiap penambahan 2,5 mg bromokriptin. Dosis maksimum bromokriptin yang dapat
diterima bervariasi untuk masing-masing pasien; 75 mg sehari masih dapat diterima bila pasien
tidak mendapat levodopa dosis tinggi. Dosis optimum kira-kira 45 mg sehari (20-75mg) yang
dapat dicapai dalam kira-kira 6 minggu (2 - 15 minggu) (Ganiswarna,1995).
Efek Samping
Efek samping bromokriptin memperlihatkan variasi individu yang nyata. Efek samping
awal adalah mual, muntah, dan hipotensi ortostatik. Fenomena dosis awal berupa colaps
kardiovaskular dapat terjadi. Perhatian khusus harus diberikan pada mereka yang minum
antihipertensi. Pemberian obat bersama antasid atau makanan dan memberikan dosis secara
bertahap mengurangi mual yang berat. Ganguan psikis berupa halusinasi penglihatan dan
pendengaran lebih sering ditemukan dibandingkan pada pemberian levodopa.
Efek samping yang jarang terjadi ialah: eritromelalgia, kemerahan, nyeri, panas, dan
udem di tungkai bawah. Umumnya terjadi bila dosis per hari lebih dari 50 mg. Hipotensi
simtomatik dan levido retikularis kulit juga lebih sering terjadi dibandingkan dengan pemberian
levodopa; diskinesia lebih jarang terjadi. Semua efek nonterapi ini berkurang dan bersifat
reversibel dengan pengurangan atau penurunan dosis (Ganiswarna,1995).
4. Amantadin
Amantadin adalah antivirus yang digunakan terhadap influenza Asia. Secara kebetulan
penggunaan amantadin pada seorang pasien influenza yang juga menderita penyakit parkinson
memperlihatkan perbaikan gejala neurologik.
Amantadin diduga meningkatkan aktivitas dopaminergik serta menghambat aktivitas
kolinergik di korpus striatum. Amantadin membebaskan DA dari ujung saraf dan menghambat
ambilan presinaptik DA, sehingga memperpanjang waktu paruh DA di sinaps. Berbeda dengan
levodopa, Amantadin tidak meningkatkan kadar HVA dalam CSS (mekanisme kerja belum
diketahui dengan pasti).

Efektifitasnya sebagai anti parkinson lebih rendah daripada levodopa, tetapi responnya
lebih cepat (2-5 hari) dan efek sampingnya lebih rendah. efektifitasnya paling nyata pada pasien
yang kurang baik responnya terhadap levodopa. Pemberian levodopa dan amantadin secara
bersama bersifat sinergis (Wibowo, 2001).

Pembahasan
Ilustrasi 1
Bapak X berusia 65 tahun dengan keluhan tremor saat istirahat dan berlangsung selama 6 bulan.
Dia juga mengalami kesulitan untuk bergerak, menjadi lambat dalam berpikir dan mengalami
kekakuan pada otot. Beliau telah menerima terapi dengan levodopa selama 2 bulan terakhir.
Tekanan darah : 114/70 mmHg. Suhu badan : 360 C. Berat badan : 55 kg dan tinggi badan 160
cm. Tidak memiliki kebiasan merokok, mengkonsumsi alkohol, dan riwayat tukak lambung.
Pemeriksaan lab
Hb : 16 g/dl (14-18)
Hmt : 41 % (40-58 %)
RBC : 4,9 x 106 /mm3 ( 4,6-6,2)
WBC : 5000/ mm3 (4000-10000)
Trombosit : 370.000 / mcl ( 200000-400000)
ALP : 80 U/L (53-128)
ALT : 30 U/L (sd 42)
GGT : 25 U/L (10-80)
BUN : 10 mg/dl (5-25)
Scr : 1,0 mg/dl ( 0,6-1,3)
Sebagai Farmasis untuk gejala dan keluhan diatas dapat diuraikan dalam analisis di bawah ini
Keluhan tremor, kesulitan gerak, lambat berpikir, dan kekakuan pada otot merupakan gejala
awal penyakit parkinson.
Pasien telah menerima terapi untuk penyakit Parkinson dengan pemberian Levodopa
selama 2 bulan.
Tekanan darah, suhu badan, dan berat badan normal. Pasien tidak memiliki kebiasaan
merokok, minum alkohol, dan riwayat tukak lambung.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan fungsi hati dan ginjal yang masih normal.
Pada pasien dengan gejala dan keluhan ini pemilihan obat yang cocok adalah
Bromokriptin (Parlodel) yang merupakan agonis kuat reseptor dopamin dolongan D2 dan
antagonis parsial reseptor D1.Bromokriptin bekerja secara langsung merangsang reseptor
dopamin yang tersisa. Bromokriptin memiliki khasiat untuk mengurangi gejala parkinson
seperti tremor.Obat ini digunakan sebagai cadangan bagi pasien yang tidak cukup
responsif pada levodopa atau pasien yang tidak tahan dengan levodopa seprti pasien yang
sudah usia lanjut, dan pasien yang sudah lama menderita penyakit Parkinson. Pada kasus
Bapak X tidak responsif dengan pengobatan levedopa maka obat yang cocok adalah
bromokriptin. dosis pemberiannya pada awalnya diberikan dalam dosis rendah dimana
pada minggu pertama 1-1,25 mg malam hari; minggu kedua 2-2,5 mg malam hari;
minggu ketiga 2,5 mg 2 x sehari, minggu keempat 2,5 mg 3 x sehari, kemudian
ditingkatkan 2,5 mg setiap 3-14 hari sesuai dengan respons sampai kisaran lazim 10-40
mg sehari bersama makanan.
Dari segi keamanan pemakaian bromokriptin
Efek samping ringan yang sering muncul adalah mual. Cara mengatasinya adalah obat
diberikan bersama dengan makanan atau antasid. Efek samping yang lain jarang terjadi
antara lain kemerahan,nyeri, panas dan udem di tungkai bawah. Efek samping berkurang
sebanding dengan penurunan dosis.
Dari pertimbangan rasionalitas
Tepat dosis : dosis pemberiannya pada awalnya diberikan dalam dosis rendah
dimana pada minggu pertama 1-1,25 mg malam hari; minggu kedua 2-2,5 mg
malam hari; minggu ketiga 2,5 mg 2 x sehari, minggu keempat 2,5 mg x 3 sehari,
kemudian ditingkatkan 2,5 mg setiap 3-14 hari sesuai dengan respons sampai
kisaran lazim 10-40 mg sehari bersama makanan.
Tepat obat : obat bromokriptin sudah tepat karena mengurangi gejala tremor dan
digunakan sebagai penganti levodopa (pasien diketahui kontraindikasi dengan
levodopa).
Tepat pasien : pasien adalah orang tua pada usia 65 tahun dimana disini
bromokriptin memiliki durasi yang lebih lama sehingga untuk pasien yang
memiliki usia lanjut, waktu untuk mengkonsumsi obat dapat diminimalkan
sehingga kemungkinan obat lupa diminum dapat dihindari. Selain itu dari
pemeriksaan lab pasien tidak memiliki kelainan apapun dimana dapat dikatakan
pasien kondisi fisiologisnya normal karena jika pasien memiliki riwayat penyakit
seperti tukak lambung maka memiliki kontraindikasi dengan bromokriptin. Pasien
tidak memiliki kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol maka
bromokriptin tidak berkontraindikasi dengan alkohol di dalam tubuh.
Tepat cara pemberian : obat diberikan secara oral karena terabsorbsi baik di saluran
pencernaan.Selain itu pemberian secara oral lebih praktis dibanding lain.

Tepat waktu : waktu pemberian bersama makanan atau setelah makanan karena
untuk
menghindari
efek
samping
dari
bromokriptin

Dari segi biaya sebenarnya obat bromokriptin ini tidak efisien tetapi dalam kasus ini
tidak begitu dipermasalahkan karena lebih memprioritaskan keadaan pasien. Dimana
pasien sudah tidak merespon obat levodopa sehingga mau tidak mau menggunakan
obat bromokriptin sehingga tidak hanya menyembuhkan parkinson saja tetapi juga
gejala tremor.
Ilustrasi 2
Ibu Y berusia 70 tahun dengan keluhan tremor saat istirahat dan berlangsung selama 6 bulan. Dia
juga mengalami kesulitan untuk bergerak dan mengalami kekakuan pada otot. Tekanan darah :
114/70 mmHg. Suhu badan : 360 C. Berat badan : 55 kg dan tinggi badan 158 cm.
Pemeriksaan lab
Hb : 13,5 g/dl (12-16)
Hmt : 40,5 % (40-58 %)
RBC : 4,42 x 106 /mm3 ( 4,2-5,4)
WBC : 5000/ mm3 (4000-10000)
Trombosit : 370.000 / mcl ( 200000-400000)
ALP : 80 U/L (42-98)
ALT : 24 U/L (sd 32)
GGT : 18 U/L (5-25)
BUN : 10 mg/dl (5-25)
Scr : 0,6 mg/dl ( 0,5-0,9)
Sebagai Farmasis untuk gejala dan keluhan diatas dapat diuraikan dalam analisis di bawah ini
Keluhan tremor, kesulitan gerak dan kekakuan pada otot merupakan gejala awal penyakit
parkinson.
Tekanan darah, suhu badan, dan berat badan normal.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan fungsi hati dan ginjal yang masih normal.

Pada pasien dengan gejala dan keluhan ini pemilihan obat yang cocok adalah
triheksifenidil.
Triheksifenidil yang merupakan antagonis reseptor muskarinik (antikolinergik) dimana
mengurangi aktivitas kolinergik yang berlebihan di ganglia basal. Selain itu triheksifenidil ini
dapat mengatasi gejala pada pasien Y yang berupa gejala tremor dan kekakuan otot karena
obat ini dapat mengurangi aktivitas kelebihan asetilkolin yang menyebabkan kekakuan otot
tersebut. Dosis : 1 mg/hari dinaikkan bertahap. Dosis pemeliharaan 5 mg/hari, terbagi dalam
3-4 kali pemberian. Pasien merupakan pasien usia lanjut maka dosisnya di batas bawah
kisaran dosis (5mg per hari).
Dari segi keamanan pemakaian triheksifenidil
Pada pasien ibu Y ini dosis dapat diperkecil di batas bawah kisaran dosisnya karena
pasien merupakan pasien dengan usia lanjut dimana fungsi organ yang sudah menurun
namun efeknya masih tetap sama.
Dari pertimbangan rasionalitas
Tepat dosis : 1 mg/hari dinaikkan bertahap. Dosis pemeliharaan 5 mg/hari, terbagi
dalam 3-4 kali pemberian. Pasien merupakan pasien usia lanjut maka dosisnya di
batas bawah kisaran dosis (5mg per hari).
Tepat obat : obat triheksifenidil sudah tepat karena mengurangi gejala tremor dan
kekakuan otot.
Tepat pasien : pasien adalah orang tua pada usia 70 tahun dimana obat yang
diberikan adalah triheksifenidil, pasien baru menampakkan gejala awal parkinson
seperti tremor dan kekakuan otot yang efektif diobati dengan antikolinergik
seperti triheksifenidil. Obat ini memiliki efek antikolinergik perifer yang relatif
lemah dibandingkan dengan atropin sehingga relatif aman untuk orang tua. Selain
itu dari pemeriksaan lab pasien tidak memiliki kelainan apapun (dapat dikatakan
pasien kondisi fisiologisnya normal).
Tepat cara pemberian : obat diberikan secara oral karena terabsorbsi baik di saluran
pencernaan. Selain itu pemberian secara oral lebih praktis dibanding lain.
Tepat waktu : waktu pemberian bersama makanan atau setelah makan karena untuk
menghindari efek samping dari triheksifenidil.
Dari segi biaya obat triheksifenidil cukup terjangkau. Triheksifenidil dengan merk
dagang Arkine 2 mg Dos 100 kaplet seharga Rp 40.000,-

Daftar Pustaka
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Depkes RI, Jakarta
Anonim, 2009, Informasi Spesialite Obat Indonesia, Penerbit ISFI, Jakarta

Dipiro, Joseph. T, 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 7th edition, McGraw


Hill, USA
Eisenhauer, a. Laurel, et. al, 1998, Clinical Pharmacology and Nursing Management 5th Edition,
Lippincott Philadelphia, New York
Ganiswarna, S.G., 1995, Farmakologi dan Terapi Edisi 4, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta
Goodman & Gilman, 2007, Dasar Farmakologi Terapi Vol. 1 Edisi 10, EGC, Jakarta
Schwinghammer, Terry L., 2009, Pharmacotherapy Casebook
Approach 7th edition, McGraw-Hill Companies Inc., USA

Patient-

Focussed

Wibowo, Abdul G., 2001, Farmakoterapi dalam Neurologi Edisi Pertama, Salemba Medika,
Jakarta