Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batubara adalah padatan heterogen, mudah terbakar, biasanya juga disebut
sebagai batu sedimen yang mengandung senyawa-senyawa organik maupun anorganik
yang terbentuk dari tumbuhan yang telah lama mati berjuta-juta tahun lalu diiringi dengan
perubahan sifat fisika dan kimianya. Batubara sudah menjadi suatu sumber energi yang
penting di Indonesia sejak program diversifikasi energi pemerintah pada pertengahan tujuh
puluhan (Amijaya dan Littke, 2006). Batubara Indonesia tersebar di 19 propinsi. Kalimantan
merupakan pusat produksi batubara Indonesia, yang menghasilkan lebih dari 90% produksi
batubara Nasional Indonesia, dan 51% terpusat di Kalimantan Timur (Nugroho, 2006).
Cadangan batubara Kalimantan menyebar terutama di Kalimantan Timur dan Selatan.
Terdapat empat cekungan sedimen tersier utama dan deposit batubara di sepanjang pantai
timur Kalimantan, dari utara ke selatan secara berturut-turut adalah cekungan Tarakan, Kutai,
Barito dan Asem-asem.
Kualitas batubara ditentukan oleh lingkungan pengendapan, aspek fisika, kimia, dan
biologi, yang akan mempengaruhi besarnya kandungan komponen penting dalam batubara
antara lain ash, fixed carbon, moisture, volatile matter, dan vitrinite reflectance kandungan
dari unsur unsur tersebut mempengaruhi dalam besarnya kalori dan total gas content dalam
batubara. Kandungan komponen - komponen tersebut sangat penting dalam mengetahui
kualitas batubara. Batubara yang terbentuk di lingkungan back barrier mempunyai
kandungan sulfur tinggi (>1%), demikian juga dengan di lingkungan lower delta plain
kandungan sulfurnya agak tinggi (0.7 % -1 %). Berbeda dengan yang terbentuk di lingkungan
upper delta plain yang kandungan sulfurnya rendah (0.1 % - 0.7 %). Suplai sulfat lebih
banyak dari air laut daripada air sungai, sehingga reaksi lebih mudah terjadi pada batubara
yang berasosiasi dengan kondisi marine.
Formasi Tanjung merupakan batuan sedimen Tersier tertua yang terdapat di
Cekungan Barito bagian timur. Cekungan Barito didaerah ini dialasi oleh batuan sedimen
kelompok Pitap, batuan vulkanik kelompok Haruyan, Formasi Batununggal dan pajungan,
Granit Belawaian, dan batuan ultrabasa (Heryanto dan Hartono, 2003). Cekungan ini, sebagai

salah satu cekungan tempat berakumulasinya sumber daya energy, memiliki endapan
batubara dengan sebaran yang sangat luas.
1.2 Rumusan Masalah
Makalah referat ini akan membahas beberapa masalah yaitu :

Karakteristik batubara

Lingkungan pengendapan batubara

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah referat ini yaitu :

Untuk mengetahui karakteristik batubara

Untuk mengetahui lingkungan pengendapan batubara.

1.4 Metode Penulisan


Penyusunan makalah referat ini menggunakan metode studi literature. Makalah yang
berjudul Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di Daerah
Binuang dan sekitarnya, Kalimantan Selatan ini menggunakan referensi utama dari jurnal
yang berjudul Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di
Daerah Binuang dan sekitarnya, Kalimantan Selatan. Jurnal tersebut disusun oleh R.
Heryanto. Jurnal ini terdapat dalam Jurnal Geologi Indonesia Volume 4 No. 4 Desember
2009. Penulis juga menggunakan literatur lainnya untuk mendukung makalah ini.
1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan makalah referat ini terbagi atas lima bab. Bab pertama merupakan bab
pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode pengumpulan data,
dan sistematika penulisan. Bab kedua berisi teori dasar yang mendukung isi dari makalah
referat ini, bab ini terdiri dari 2 sub bab yaitu genesa batubara dan pembentukan batubara dan
lingkungan pengendapannya. Kemudian bab tiga berisi tentang geologi dan stratigrafi yang
membahas tentang tatanan geologi. Bab empat yaitu data dan pembahasan berisi tentang data
Formasi Tanjung dan Karakteristik batubara serta perbandingan batubara dengan daerah lain.
Bab lima yaitu penutup yang menyimpulkan keselurah isi makalah referat ini.

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Genesa Batubara
Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa
tumbuhan purba, berwarna cokelat sampai hitam, yang sejak pengendapannya mengalami
proses fisika dan kimia yang mengakibatkan pengayaan pada kandungan karbon (Wolf, 1984
op. cit. Anggayana, 2002). Pembentukan batubara diawali dengan proses peatification
(penggambutan) dari sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi pada lingkungan reduksi, yang
berlanjut pada proses coalification (pembatubaraan) secara biologi, fisika, maupun kimia
yang terjadi karena pengaruh beban sedimen yang menutupinya (over burden), temperature,
tekanan dan waktu. (Gambar 2.1)

Gambar 2.1 Proses terbentuknya batubara (Anggayana, 2002)


Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai zaman geologi dan lokasi
tempat tumbuh berkembangnya ditambah dengan lingkungan pengendapan (sedimentasi)
tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang
berlangsung kemudian akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya bermacammacam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan lapangan
batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Pembentukan batubara dimulai sejak periode Karbon (periode pembentukan karbon
atau batubara) sehingga dikenal dengan zaman batubara pertama yang berlangsung antara
360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batubara ditentukan oleh
suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut maturitas organic. Proses
awalnya gambut berubah menjadi lignit (batubara muda) atau brown coal (batubara cokelat),

ini adalah batubara dengan jenis maturitas organic rendah. Dibandingkan dengan batubara
jenis lainnya, batubara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai
kecoklat-coklatan. Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan
tahun, batubara muda mengalami perubahan yang secara bertahap.
2.2 Pembentukan Batubara Dan Lingkungan Pengendapannya
2.2.1 Proses Pembentukan Batubara
Ada dua proses utama dalam pembentukan endapan batubara, yaitu :
1. Proses pembentukan gambut dari tumbuhan (peatificationI)
2. Proses pembentukan batubara dari gambut (coalitification)
2.2.1.1 Proses Pembentukan Gambut (Peatification)
Gambut adalah batuan sedimen organic yang dapat terbakar, berasal dari
tumpukan, hancuran atau bagian tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam
keadaan tertutup dari udara (dibawah air), tidak padat, kandungan air lebih dari
70% berat dan kandungan mineral lebih kecil dari 50% dalam kondisi kering
(Wolf, 1984 op.cit. anggayana, 2002).
Jika ada tumpukan sisa tumbuhan berada pada kondisi basah (dibawah air,
tidak seluruhnya berhubungan dengan udara) dan kandungan oksigennya sangat
rendah, sehingga tidak memungkinkan bakteri aerob hidup, sisa tumbuhan
tersebut tidak akan mengalami proses pembusukkan dan penghancuran sempurna.
Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob yang melakukan proses dekomposisi
membentuk gambut (peat).
Moor merupakan lapisan gambut denga ketebalan minimum 30 cm
(Anggayana, 2002). Berdasarkan morfologi permukaannya, moor dapat
dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu :

Lowmoor, jenis moor ini terbentuk pada lingkungan yang kaya akan bahan
makanan. Morfologi permukaannya datar dan cekung. Pasokan air untuk
gambut ini berasal dari lingkungan sekitar (sungai dan air tanah), tidak
tergantungpada air hujan. Biasanya tumbuh rumput-rumputan dengan daun
lebar dan tumbuhan perdu dengan pH berkisar antara 4,8 sampai 6,5.

Highmoor, lapisan gambut ini dapat mencapai ketinggian beberapa meter


dari permukaan tanah dengan bentuk cembung. Jenis moor ini tidak
tergantung pada air tanah atau sungai, kaarena mempunyai system air
tersendiri yang tergantungpada air hujan. Jumlah penguapan yang lebih kecil

dari curah hujan yang menyebabkan air hujan tersimpan dalam gambut.
Bahan makanan untuk tumbuhan jauh lebih edikit dibandingkan dengan
lowmoor, sehingga jenis tanaman terbatas pada lumut, rumput dengan daun
kecil. Untuk daerah beriklim sedang, highmoor ditumbuhi Sphagman dan
didaerah tropis ditumbuhi hutan lokal dengan bermacam jenis tumbuhan pH
pada highmoor berkisar antara 3,3 sampai 4,6.
2.2.1.2 Proses Pembentukan Batubara (Coalitification)
Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, terbentuk
dari sisa tumbuhan purba, berwarna cokelat sampai hitam, yang sejak
pengendapannya mengalami proses fisika dan kimia yang mengakibatkan
pengayaan pada kandungan karbon (Wolf, 1984 op. cit. Anggayana, 2002).
Sementara itu proses pembatubaraan merupakan perkembangan gambut melalui
lignit, subbituminous, dan bituminous menjadi antrasit serta meta antrasit
(Anggayana, 2002).
Jika lapisan gambut yang telah dibentuk kemudian ditutupi oleh lapisan
sedimen, bakteri anaerob akan mati, maka lapisan gambut akan mengalami
peningkatan tekanan seiring penambahan beban dan bertambahnya ketebalan
lapisan sedimen. Tekanan yang besar mengakibatkan peningkatan temperatur.
Selain itu, temperature juga dapat meningkat dengan pertambahan kedalaman,
kahadiran intrusi magma, proses vulkanisme, dan proses tektonisme.
Kenaikan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengubahnya
menjadi batubara, seiring terjadinya proses pengurangan kandungan lengas
(moisture), pelepasan gas (CO2, H2O, CO, CH4) peningkatan kepadatan dan
kekerasan serta peningkatan kadar kalori. Reaksi pembentukan batubara dapat
dijelaskan sebagai berikut :
5(C6H10O5)
Cellulose

C20H2204 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO


lignit

gas metan

Keterangan :

Cellulose (zat organic) yang merupakan zat pembentuk batubara

Semakin tinggi tingkat pembatubaraan maka kadar karbon (C ) akan


meningkat sedangkan oksigen dan hydrogen akan berkurang

Semakin banyak CH4, lignit semakin baik kualitasnya.

Berdasarkan asal tumbuhan pembentuk gambut,terdapat dua macam batubara


(Sudarsono, 2000), yaitu :
Batubara Autochtone, lapisan gambut terbentuk dari tumbuhan yang tumbang
ditempat tumbuhnya. Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati,
belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan
mengalami proses coalitification. Jenis batubara ini menyebar luas dan merata,
serta kualitasnya lebih baik, kadar abunya relative kecil.
Batubara Allochtone, lapisan gambut yang terbentuk dari bagian tumbuhan
yang terbawa aliran sungai, serta terendapkan didaerah hilir sungai. Dengan
demikian tumbuhan yang telah mati diangkut oleh media air dan berakumulasi
di suatu tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses
coalitification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai
penyebaran tidak luas, tetapi dijumpai di beberapa tempat, kualitas kurang
baik karena mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama
proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat sedimentasi.
2.2.2 Lingkungan Pengendapan Batubara
Batubara terbentuk pada lingkungan pengendapan tertentu, dan sangat
berpengaruh pada penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, serta kualitasnya.
Analisa lingkungan pengendapan menggunakan pendekatan yang dikemukakan
oleh Home (1978).
Berdasarkan karakteristik endapan batubara, ada empat lingkungan
pengendapan utama batubara di daerah coastal menurut Home (1978), yaitu :
1. Lingkungan back barrier : lapisan batubaranya tipis, pola sebarannya memanjang
sistem penghalang atau sejajar jurus lapisan, bentuk lapisan melebar karena
dipengaruhi tidal channel setelah pengendapan atau bersamaan denga proses
pengendapan, kandungan sulfur tinggi, sehingga tidak dapat ditambang. Urutan
stratigrafi pada lingkungan back barrier dicirikan oleh batulempung dan batulanau
berwarna abu-abu gelap yang kaya akan material organik, kemudian ditutupi oleh

lapisan tipis batubara yang tidak menerus atau zona sideritik dengan burrowing.
Semakin kearah laut akan ditemukan batupasir kuarsitik sedangkan kearah daratan
terdapat batupasir greywake dari lingkungan fluvial- deltaic.
2. Lingkungan lower delta plain : lapisan batubaranya tipis, kandungan sulfur
bervariasi, pola sebarannya umumnya sepanjang channel atau jurus pengendapan,
bentuk lapisan ditandai oleh hadirnya splitting oleh endapan crevasse splay,
tersebar meluas cenderung memanjang jurus pengendapan tetapi kemenerusan
secara lateral sering terpotong channel bentuk lapisan batubara. Endapan pada
daerah ini didominasi oleh urutan butiran mengkasar keatas yang tebal. Pada
bagian atasnya terdapat batupasir dengan struktur sedimen ripple mark.
3. Lingkungan transitional lower delta plain : lapisan batubaranya tebal, kandungan
sulfur rendah. Ditandai oleh perkembangan rawa yang ekstensif. Lapisan batubara
tersebar meluas dengan kecenderungan agak memanjang sejajar denga jurus
pengendapan. Splitting juga berkembang akibat channel kontemporer dan washout
oleh aktivitas channel subsekuen. Batuan sedimen berbutir halus pada bagian bay
fill sequences lebih tipis daripada dibagian lower delta plain. Pada zona ini terdapat
fauna air payau sampai laut dan banyak ditemui burrowing.
4. Lingkungan upper delta plain fluvial : lapisan batubaranya tebal, kandungan
sulfur rendah, lapisan batubara terbentuk sebagai tubuh-tubuh pod-shaped pada
bagian bawah dari dataran limpahan banjir yang berbatasan dengan channel sungai
bermeander. Sebarannya meluas cenderung memanjang sejajar kemiringan
pengendapan, tetapi kemenerusan secara lateralsering terpotong channel atau
sedikit yang menerus, bentuk batubara ditandai dengan hadirnya splitting akibat
channel kontemporer dan wash out oleh channel subsekuen. Urutan stratigrafinya
didominasi oleh tubuh batupasir yang menerus dan untuk lingkungan backswamp,
terdiri dari urutan batubara, batulempung dengan banyak fosil tumbuhan dan
sedikit moluska air tawar, batulanau, batulempung serta batubara.

BAB III
GEOLOGI DAN STRATIGRAFI
3.1 Tatanan Geologi
Geologi dan stratigrafi daerah ini tersaji dalam gambar 3.1. Batuan sedimen Tersier
didaerah ini dialasi oleh batuan Pratersier yang terdiri atas granit dan diorite berumur Kapur
Awal, yang menerobos batuan malihan berumur Jura. Di atas batuan tersebut terendapkan
batulempung Formasi Paniungan dan batugamping Formasi Batununggal yang berumur akhir
Kapur Awal. Tidak selaras diatasnya menindih batuan sedimen Kelompok Pitap yang terdiri
atas Formasi Pudak, Keramaian, dan Manunggul.

Gambar 3.1 Peta Geologi daerah Belimbing dan sekitarnya, Kalimantan Selatan (modifikasi
dari Heryanto drr.,1998; Kusumah, 2008; dan Heryanto, 2008).

Kelompok ini menjemari dengan batuan gunung api Kelompok Haruyan (Formasi
Pitanak dan Paau). Kedua Kelompok batuan tersebut yang menjadi alas Cekungan Barito,
berumur Kapur Akhir (Heryanto dan Hartono, 2003). Batuan sedimen Tersier tertua di daerah
ini adalah Formasi Tanjung berumur Eosen Akhir yang terbagi menjadi bagian bawah,
tengah, atas, dan Anggota Batulempung. Formasi Tanjung tertindih secara selaras oleh
Formasi Berai yang berumur Oligo-Miosen. Formasi berai di Cekungan Barito bagian utara
dan barat menjemari dengan Formasi Montalat. Selanjutnya, Formasi Warukin yang berumur
Miosen Tengah menindih selaras Formasi Berai. Kemudian Formasi Warukin ini ditindih
secara tidak selaras oleh Formasi Dahor ynag berumur Plio-Plistosen. Sesar di daerah ini
umumnya berupa sesar normal sampai geser normal (mendatar), membentuk penyesaran
bongkah (block faulting). Blok bagian turun ditempati oleh endapan kelompok batuan
Tersier, khususnya Formasi Tanjung (Kusumah, 2008).

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Formasi Tanjung
Formasi Tanjung tersingkap di tiga lajur yang satu sama lain terpisahkan oleh sesar,
yaitu lajur Barat, Tengah, dan Timur. Formasi Tanjung diLajur Barat, tersingkap mulai dari
sebelah timur Astambul Kabupaten Banjar di Selatan, menyebar kea rah timur laut sampai ke
daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan diluar daerah penelitian. Lajur tengah
menempati Sungai Mengkaok, mulai dari muaranya di Sungai Riam Kiwa dibagian selatan
daerah. Menyebar kearah timur laut sampai dengan sebelah timur Gunung Kupang di utara
daerah.
Heryanto (2008) membagi secara litostratigrafis Formasi Tanjung, dari tua ke muda
menjadi bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung (Gambar 4.1)

Gambar 4.1. Penampang terukur bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung Formasi Tanjung
(Heryanto,2008)

Bagian bawah Formasi Tanjung terdiri atas perselingan batupasir berbutir kasar,
batupasir konglomeratan, dan konglomerat, dengan ketebalan berkisar antara 20-50 cm.
Kemudian diikuti oleh batupasir berbutir kasar berlapis tebal sampai pejal. Dibeberapa
tempat, dalam batupasir kasar dijumpai struktur sedimen perlapisan silang-siur dan sejajar,

selain itu juga dijumpai sisipan batulumpur warna kelabu sampai kehitaman mengandung
lapisan tipis batubara.
Selanjutnya, bagian tengah didominasi oleh batulempung kelabu berselingan dengan
lapisan batubara, setempat dijumpai sisipan batupasir. Batulempung kelabu, setempat sampai
kehitaman, mengandung sisipan tipis (1-3 cm) batupasir halus warna kelabu, kompak. Sisipan
batupasir (100-300 cm), berbutir sedang kasar, warna kelabu terang, setempat menunjukkan
struktur sedimen silang- siur. Batubara warna hitam, mengilap (bright- bright banded), gores
warna hitam, dengan pecahan konkoidal, dan ringan. Batubara ini dijumpai sebagai sisipan
dengan ketebalan antara 50 sampai 450 cm. Dibeberapa tempat dijumpai perselingan
batulanau dengan batupasir berbutir halus (1-3 cm), dengan struktur sedimen perairan sejajar,
serta perlapisan wavy-lenticular dan flaser (gambar 4.1).
Bagian atas Formasi Tanjung didominasi oleh perselingan tipis batulanau dan
batupasir halus yang memperlihatkan struktur sedimen wavy dan lenticular bedding, serta
juga flaser. Selain itu, dijumpai sisipan batupasir berbutir halus berlapis tipis, tebal 2-5 cm,
denga struktur sedimen perairan sejajar. Selanjutnya, dijumpai pula sisipan batupasir berbutir
kasar dengan ketebalan berkisar antara 1 5 m (Gambar 4.1)
Anggota Batulempung Formasi Tanjung terdiri atas batulempung warna kelabu
kehijauan, setempat dijumpai batulanau-batupasir halus mengandung oksida besi dan juga
gampingan, baik sebagai sisipan ataupun sebagai lensa dengan tebal 5 sampai 10 cm. bagian
bawah Anggota Batulempung ini tidak gampingan, tetapi semakin keatas secara berangsur
berubah menjadi gampingan (Gambar 4.1)
4.2 Batubara
Batubara Formasi Tanjung dijumpai di Lajur Barat, Tengah, dan Timur dengan
ketebalan 50 sampai 450 cm. Runtunan batuan sedimen pembawa batubara di Lajur Barat
teramati di lokasi 07RH10 dan 07RH11, dilajur Tengah teramati di daerah Mengkaok, yaitu
di lokasi 07YO07 dan 07AM05, sedangkan di Lajur Timur teramati didaerah Rantaunangka
dilokasi 07RH01 dan 07KD02 (Gambar 4.2). Hasil analisis petrografi organic yang dilakukan
pada delapan percontoh batubara (table 1), dan kemudian direkalkulasi menjadi GI
(Gelification Index), TPI (Tissue Preservation Index), T (Telovitrinit:telinit+ telokolinit),
F(fusinit + semifusinit), dan D (dispersed organic mater ; inertodetrinit + sporinit + alginit),
tersaji dalam table 2.

Gambar 4.2 Korelasi penampang terukur lapisan pembawa batubara Formasi Tanjung di Daerah Binuang dan
sekitarnya (Heryanto, 2008)

Gambar 4.2.1 Diagram fasies (Diessel, 1986; dan Lamberson drr, 1991) untuk batubara Formasi Tanjung di
daerah Binuang dan sekitarnya.

4.2.1 Lajur Barat


Runtunan batuan dari bawah keatas dimulai dari batupasir berbutir kasar berlapis tebal
yang merupakan endapan saluran, diikuti oleh runtunan yang terdiri atas perulangan antara
batupasir berbutir kasar yang juga merupakan endapan saluran, berselingan dengan runtunan
batulumpur dan batupasir halus dengan struktur sedimen laminasi, serta perlapisan wavy,
lenticular, dan flaser yang menunjukkan endapan pasang surut. Ketebalan runtunan pada
lokasi tersebut adalah 7,5 m. lapisan batubara di Lajur Barat kurang berkembang baik dengan
ketebalan kurang dari 1 m. hal ini dikarenakan bagian tengah dan bagian bawah Formasi
Tanjung telah tersesarkan. Secara megaskopis, lapisan batubara Formasi Tanjung dilajur ini
berwarna hitam, mengilap (bright- bright banded ), gores warna hitam, dengan pecahan
konkoidal, dan ringan. Dibeberapa tempat dijumpai resin.

Gambar 4.2.1.1 singkapan batupasir berbutir kasaryang merupakan endapan saluran, menindih lapisan
batubara.

Gambar 4.2.1.2 Fotomikro percontoh batubara (07AM44E), menunjukkan vitrinit (V), eksinit (E) dan
pirit framboidal (P) (cahaya pantul).

Dijumpainya pirit frambodial (table 1, gambar 4.2.1.2), menunjukkan bahwa selama


pembentukan batubara ada pengaruh air laut. Hal ini juga ditunjang dengan adanya mineral
karbonat. Adapun dijumpai resinit dalam jumlah cukup banyak, ditunjang denga kehadiran
material resin menunjukkan bahwa batubara ini berasal dari pepohonan besar yang banyak
mengandung getah.
Berdasarkan diagram fasies TFD (Diessel, 1982; gambar 5), terlihat bahwa percontoh
batubara Formasi Tanjung di Lajur Barat termasuk dalam fasies wet forest swamp dan open
moor. Sementara itu, berdasarkan diagram fasies GI versus TPI (Diessel, 1986; dan
Lamberson drr., 1991; gambar 4.3), fasiesnya termasuk dalam wet forest swamp pada
lingkungan lower delta plain, dan dalam kondisi genang laut.
Dengan demikian, berdasarkan karakteristik runtunan batuan sedimen pembawa
batubara dan petrografi batubara, kondisi pengendapan batubara di Lajur Barat termasuk ke
dalam wet forest swamp pada lingkungan upper sampai lower delta plain, dan dalam kondisi
genang laut.
4.2.2 Lajur Tengah
Lapisan pembawa batubara di Lajur Tengah teramati secara lengkap di daerah
Mengkaok, yaitu dilokasi 07YO07 dan 07AM05 (gambar 4.2). Runtunan batuan pembawa
batubara dilokasi 07AM05, bagian bawahnya dikuasai oleh perselingan batulumpur dengan
batupasir berbutir halus yang memperlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar, serta
perlapisan wavy, lenticular dan flaser yang menunjukkan endapan pasang surut. Sebagai
perselingan (50 -250 cm), dijumpai lapisan batupasir berbutir sedang sampai kasar, setempat
dijumpai struktur sedimen silang siur yang menunjukkan endapan saluran, dan juga sisipan
batulempung batubaraan, dengan ketebalan 200 cm, yang menunjukkan endapan rawa. Pada
bagian atas hadir perselingan antara batulempung batubaraan dan lapisan batubara, denga
tebal perlapisan batubara mulai dari puluhan sampai 300 cm (gambar 4.2.2.1 ).
Dilokasi 07YO07, secara umum hamper sama dengan lokasi sebelumnya, hanya pada
lokasi ini lebih dominan adalah batulumpur dengan sisipan tipis batupasir (0,5 5 cm) yang
merupakan endapan paparan banjir. Sebagai sisipan dijumpai lapisan batubara dengan
ketebalan 250 450 cm dibagian bawah, dan 30 50 cm dibagian atas. Runtunan perselingan
batulumpur dengan batupasir halus yang memperlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar,
serta perlapisan wavy, lenticular, dan flaser, dijumpai dibagian tengah penampang terukur.

Runtunan ini menunjukkan endapan pasang surut. Sisipan lainnya adalah batupasir berbutir
sedang sampai kasar dengan ketebalan perlapisan 100 300 cm, setempat hadir struktur
sedimen silang siur yang menunjukkan endapan saluran.

Gambar 4.2.2.1 Singkapan endapan rawa pantai (coastal marsh) berupa coaly shale dan batubara
berwarna hitam, berasosiasi dengan dataran pasang surut (tidal flat), terdiri atas batulempung, batulanau, dan
batupasir halus berwarna kelabu, serta saluran pasang surut (tidal channel) yang berupa perlapisan batupasir
kuarsa berwarna putih kecoklatan, pada lokasi 07AM02 (Heryanto, 2008)

Kedua lokasi ini menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan batuan sedimen


pembawa batubara Formasi Tanjung pada Lajur Tengah adalah asosiasi lingkungan dataran
banjir, rawa, dan pasang surut yang dipengaruhi oleh adanya saluran limpahan (crevasse
splays). Lingkungan pengendapan yang sesuai dengan asosiasi tersebut adalah lingkungan
delta, dengan bagian yang didominasi oleh batulumpur adalah lower delta plain,sedangkan
yang dipengaruhi oleh endapan saluran (sisipan batupasir) adalah upper delta plain. Terdapat
juga kandungan polen dalam batuan sedimen pembawa batubara (batulempung karbonat)
yang berupa Discoidites borneensis, Verrucatosporites usmensis, Acrostichum aureum,
Spinizonocostites

baculatus,

Florschuetzia

trilobata,

Meyeripollis

naharkotensis,

Proxapertites cursus/operculatus, Palaquium, Bombax sp, Retistephanocolpites williamsii,


Durio, dan Palmaepollenites kutchensis, Lingkungan pengendapannya adalah backmangrove
sampai rawa air tawar.
Lapisan batubara di Lajur Tengah, dijumpai dengan ketebalan mulai dari sisipan tipis
(10 30 cm) sampai dengan yang tebal (250 450 cm). secara megaskopis, lapisan batubara
ini berwarna hitam, mengilap (bright bright banded, dominan bright banded), gores warna
hitam, dengan pecahan konkoidal, dan ringan. Berdasarkan diagram fasies TFD (Diessel,
1982), batubara Formasi Tanjung termasuk kedalam fasies wet forest swamp dan terrestrial

forest. Sementara itu, berdasarkan diagram fasies Gi versus TPI (Diessel, 1986 dan
Lamberson drr.,1991), fasies batubara ini adalah wet forest swamp pada lingkungan upper
sampai lower delta plain, dalam kondisi genang laut.
Dengan demikian, berdasarkan runtunan batuan sedimen pembawa batubara dan
petrografi organik, lingkungan pengendapan di Lajur Tengah termasuk ke dalam wet forest
swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) pada zona upper sampai lower delta plain, dan
dalam kondisi genang laut.
4.2.3 Lajur Timur
Dilajur Timur dijumpai batubara setebal lebih dari 3m, mempunyai sisipan lempung
batubaraan yang menunjukkan endapan rawa. Diatas ditindih oleh batulempung-batulanau
warna kelabu kecokelatan, setempat tersepihkan, dengan sisipan tipis batupasir halus yang
menunjukkan endapan paparan banjir dengan struktur sedimen perairan sejajar, serta
perlapisan wavy, lenticular, dan flaser yang menunjukkan endapan pasang surut. Kandungan
polen dalam batulempung karbonat menunjukkan lingkungan pengendapan rawa air tawar.
Lapisan batubara di Lajur Timur dijumpai dengan ketebalan mulai dari 100 250 cm.
secara megaskopis, lapisan batubara Formasi Tanjung lajur timur ini berwarna hitam,
mengilap (bright bright banded dominan bright), gores warna hitam, dengan pecahan
konkoidal, dan ringan.

Gambar 4.2.3.1. Singkapan lapisan batubara di Lajur Timur.

Berdasarkan diagram fasies TFD (Diessel, 1982), batubara Formasi Tanjung termasuk
kedalam fasies wet forest swamp sedangkan, berdasarkan diagram fasies Gi versus TPI
(Diessel, 1986 dan Lamberson drr.,1991), fasies batubara ini adalah wet forest swamp pada
lingkungan limnic dalam kondisi genang laut.

Atas dasar karakteristik runtunan batuan sedimen pembawa batubara dan petrografi
organic, batubara di Lajur Timur terendapkan dalam fasies wet forest swamp (rawa air tawar)
pada lingkungan paparan banjir dalam kondisi genang laut.
4.3 PERBANDINGAN KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN
BATUBARA DI DAERAH LAINNYA
4.3.1 Batubara Formasi Warukin daerah Sampit, Kalimantan Tengah
Batubara didaerah Sampit terendapkan pada fasies batupasir kuarsa dan fasies
perselingan

batulempung-batulumpur

Formasi

Warukin

yang

berlingkungan

pengendapan fluviatil-laut dangkal (Heryanto & Santoyo, 1994;Heryanto drr, 1998).


Pada fasies batupasir, batubara umumnya diendapkan bagian atas, yang
menghasilkan endapan batubara dengan ciri berlapis baik dan menyerpih. Dibeberapa
tempat dalam lapisan batubara masih terdapat sisa tumbuhan berupa batang dan akar
kecil-kecil, yang menandakan bahwa proses pembentukan batubara berada dalam
lingkungan hutan-rawa basah dengan pepohonan tinggi dan juga semak perdu rendah.
Batubara yang terendapkan pada runtunan fasies batulempung-batulumpur
menghasilkan endapan batubara dengan karakteristik berlapis baik akibat energy arus
yang lemah, terdapatnya struktur kayu juga mengindikasikan batubara terendapakan
dilingkungan hutan-rawa basah dengan pepohonan tinggi.
Dari sudut pandang hasil analisis proksimat, batubara ini terendapkan dalam
lingkungan terrestrial, tanpa ada pengaruh laut sama sekali. Dugaan ini ditunjukkan oleh
kandungan belerang total yang rendah. Kandungan abu yang cukup rendah
mengindikasikan kandungan bahan mineral (mineral matter) dalam batubara juga
rendah.
Proses sedimentasi yang sangat berpengaruh pada pengendapan Formasi Warukin
dan tipe batubara adalah proses susut laut. Hal ini tercermin dari runtunan fasies batuan
bagian bawah yang bersifat gampingan dan masih terpengaruh oleh lingkungan laut.
Semakin keatas lingkungan menjadi bersifat darat dengan semakin menebalnya batupasir
dan kemudian berubah menjadi batupasir konglomeratan.
Beberapa parameter yang menentukan kualitas batubara daerah Sampit yakni
nilai kalori, kadar abu, air lembab, dan kandungan belerang. Kalori peringkat rendah
mencerminkan proses pembatubaraan dikawasan ini kurang intensif, diduga saat bahan
pembentuk batubara terendapkan, penimbunan yang terjadi tidak terlalu dalam akibat
pengendapan Formasi Warukin di daerah ini berlangsung dalam kondisi susut laut,

dengan penurunan cekungan relative pelan. Batubara di daerah ini termasuk dalam tipe
subbituminus.
4.3.2 Karakteristik Batubara di Formasi Dahor, Kalimantan Selatan
Batubara yang terdapat dalam formasi Dahor secara megaskopis berwarna hitam
kecokelatan, cokelat kehitaman, rapuh, struktur kayu masih jelas terlihat, termasuk jenis
batubara muda,lignit sub bitumin. Pada umumnya singkapan batubara Formasi Dahor
terdapat pada daerah tambang terbuka milik kemitraan penduduk setempat di sekitar
jalan raya Pelaihari Batulicin. Endapan batubara formasi Dahor tebal beragam kurang
dari 20 m membentuk lensa lensa, berselingan dengan endapan alluvial lempung dan
pasir sangat halus. Batubara Formasi Dahor ini tidak menunjukkan lapisan yang baik dan
tersebar merata, hal ini dikarenakan sumber pembentukan batubara berupa tumbuhan
kurang banyak tersedia. Selain itu adalah wadah (cekungan) dimana batubara diendapkan
kurang mendukung untuk terbentuknya batubara secara baik. Mungkin akibat adanya
deformasi cekungan atau cekungan tersebut telah penuh terisi oleh lapisan-lapisan
pembawa batubara sebelumnya. Maka batubara Formasi Dahor diendapkan di daerah
pinggiran cekungan yang secara proses sedimentasi sulit untuk mendapatkan lapisan
batubara yang tebal, bagus dan merata.
Berdasarkan analisis kimia pada contoh batubara, didapat kadar kandungan
batubara tersebut, yaitu nilai kalori antara 4.000,00 kal/g dan 5.000,00 kal/g, kadar abu
21,00% dan 30,00%, zat terbang 30,00% dan 50,00%, karbon padat 20,00% dan 30,00%,
belerang total 2,00% dan 4,00%. Kualitas batubaranya masih sangat muda.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Batuan sedimen pembawa batubara dalam Formasi Tanjung menempati bagian tengah
satuan, yang terdiri atas batulempung batulanau warna kelabu sampai kehitaman,
berasosiasi dengan perselingan batulumpur dan batupasir berbutir halus yang memperlihatkan
struktur sedimen laminasi sejajar, serta perlapisan wavy, lenticular dan flaser. Setempat
dijumpai sisipan batupasir berbutir sedang sampai kasar.
Secara megaskopis, karakteristik lapisan batubara di Lajur Barat, Tengah dan Timur
adalah sama, yaitu berwarna hitam, mengilap, gores warna hitam, dengan pecahan konkoidal,
dan ringan, dijumpai adanya material resin. Peringkat batubara disemua lajur termasuk
subbituminus B.
Lingkungan pengendapan batubara dimulai dari subakuatik sampai transisi
backmangrove rawa air tawar (lajur barat), backmangrove rawa air tawar (lajur tengah)
dan rawa air tawar (lajur timur). Sedangkan lingkungan pengendapan batuan sedimen mulai
dari upper lower delta plain sampai wet forest swamp pada lingkungan paparan banjir dan
dalam kondisi genang laut disemua lajur.
Dari hasil perbandingan batubara dengan daerah lain di Kalimantan, di dapat bahwa
batubara Formasi Tanjung termasuk jenis batubara yang cukup baik dibandingkan dengan
batubara Formasi Warukin dan Formasi Dahor.

DAFTAR PUSTAKA
Heryanto, R. 2009. Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di
Daerah Binuang dan sekitarnya Kalimantan Selatan. Jurnal geologi Indonesia,
vol 4 No. 4.
Diessel, C.F.K., 1986. On the correlation between coal facies and depositional environment.
Proceeding 20th symposium of department Geology, University of New Castle,
New South Wales, h. 19-22
Diessel, C.F.K, 1982. An appraisal of coal facies based on maceral characteristics. Australian
Coal Geology, 4 (2), h474-484.
Kusnama, 2008. Batubara Formasi Warukin di Daerah Sampit dan sekitarnya, Kalimantan
Tengah. Jurnal geologi Indonesia, vol 3 No. 1.
Darlan, Yudi. Dkk. 1999. Studi Regional Cekungan Batubara Wilayah Pesisir Tanah LautKotabaru Kalimantan Selatan. Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL)
Muhammadar, 2010. Genesa Batubara. http//gdl.itb.jurnal.22676.