Anda di halaman 1dari 12

ZONASI WILAYAH PESISIR PADA KAWASAN DENGAN KERUSAKAN EKOSISTEM TERBESAR DI

ZONA TIRTAYASA KABUPATEN SERANG


Arizal Sina Putra, Abdul Wahid Hasyim, Aris Subagiyo
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, -Indonesia Telp. (0341) 567886; Fax. (0341) 551430
Email: arizalsinaputraijal@gmail.com

ABSTRAK
Kawasan pesisir utara Kabupaten Serang di dalam RTRW Kabupaten Serang dibagi menjadi tiga zona
pengembangan utama, yaitu zona pantai barat, zona bojonegara, dan Zona Tirtayasa. Zona tirtayasa yang arahan
pengembangannya sebagai kawasan perikanan memiliki potensi yg sangat besar untuk dikembangkan, namun
bahaya abrasi pantai dan sedimentasi pada muara sungai Ciujung dapat membahayakan warga setempat. Abrasi
terjadi karena semakin berkurangnya mangrove akibat dari pemanfaatan lahan oleh masyarakat setempat yang
memanfaatkan lahan mangrove menjadi tambak. Di dalam dokumen Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil Kabupaten Serang 2011-2030 bahwa kerusakan ekosistem pantai Zona Tirtayasa masuk ke dalam
kategori pantai yang kritis. Penelitian ini membahas mengenai Zonasi pada kawasan dengan kerusakan ekosistem
pantai tertinggi di pesisir Zona Tirtayasa Kabupaten Serang terkait perubahan garis pantai yang disebabkan oleh
abrasi dan sedimentasi. Zonasi disusun berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan, dengan mengacu pada Modul
Penyusunan RZWP3K. untuk mengetahui kawasan yang memilki tingkat kerusakan ekosistem pesisir paling besar
digunakan metode perbandingan eksponensial dan AHP. Kawasan dengan tingkat kerusakan ekosistem pesisir
tertinggi ditentukan untuk mengatahui wilayah yang membutuhkan penanganan khusus berdasarkan variable
perubahan garis pantai, ekosistem pesisir, kependudukan, dan penggunaan lahan. Dari hasil analisis, didapatkan
Kecamatan Tirtayasa merupakan kecamatan yang memiliki kerusakan ekosistem terbesar.
Kunci Kunci : zonasi pesisir, daya dukung lahan, perubahan garis pantai
ABSTRACT
Coastal Aera of Serang District on Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) divided into 3 main development zones.
that is Pantai Barat Zone, Bojonegoro Zone, and Tirtayasa Zone. Tirtayasa Zone directed to be fishing zone,
because Tirtayasa Zone potentially developed to be minapolitan area. But there is big threat in Tirtayasa Zone,
Tirtayasa Zone threated by shoreline change. Shoreline change in Tirtayasa Zone because there is abrasion and
sedimentation on Tirtayasa Zone coastal area. Abrasion occours because of diminishing mangrove and change into
farm. This research discussing about zoning in area with biger coastal ecosystems damage on Tirtayasa Zone
Serang District related shoreline change caused by abrasion and sedimentation. Zoning made by carrying capacity
result with reference to the RZWP3K guideline. To determine biger coastal ecosystems damage area in Tirtayasa
Zone, researcher using AHP and Eksponensial metode. Biger damage area determine aim to know which area that
needed more attention.
Key Word : Coastal Zoning, Land Capacity, Shoreline Change

PENDAHULUAN
Dilihat dari letak geografisnya, lahan pesisir
merupakan sumberdaya yang memiliki peluang
dari segi ekonomi yang strategis. Lahan pesisir
merupakan lokasi yang berdekatan dengan
sumberdaya perikanan yang merupakan bahan

makanan utama, khususnya protein hewani dan


merupakan tempat yang digunakan untuk sarana
transportasi, budidaya perikanan, dan pariwisata
serta wilayah pemukiman dan tempat
pembuangan limbah. Hal. Melalui pengelolaan
yang efektif dan efisien diharapkan pemanfaatan

sumberdaya lahan pesisir dapat meningkatkan


kesejahteraan masyarakat luas. Kabupaten Serang
merupakan salah satu dari 6 kabupaten / kota di
Provinsi Banten yang memiliki wilayah pesisir.
Dalam RTRW Kabupaten Serang kawasan pesisir
Kabupaten Serang dibagi menjadi tiga zona, yaitu
Zona Bojonegara yang arahan fungsi utamanya
sebagai kawasan/zona industri dan pelabuhan
laut; Zona Pantai Barat yang arahan fungsi
utamanya sebagai kawasan pariwisata; serta Zona
Tirtayasa yang arahan fungsi utamanya sebagai
kawasan perikanan tambak.
Permasalahan yang ada saat ini di Zona
Tirtayasa adalah abrasi pantai yang telah
mengakibatkan mundurnya garis pantai, serta
masalah sedimentasi dan pendangkalan yang
terjadi pada muara Sungai Ciujung yang telah
menyebabkan kapal-kapal nelayan tidak dapat
keluar masuk dan berlabuh.
Untuk itu diperlukan dokumen perencanaan
tata ruang yang memperhatikan aspek perubahan
garis pantai. Salah satunya yaitu
melalui
penyusunan dokumen penataan ruang yang
sesuai dengan UU No 26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang. Dengan adanya penelitian ini
yang berjudul Zonasi Wilayah Pesisir Zona
Tirtayasa Kabupaten Serang Terkait Perubahan
Garis Patani Yang Disebabkan Oleh Abrasi Dan
Sedimentasi diharapkan dapat menghasilkan
arahan pemanfaatan pesisir yang berkelanjutan.
METODE PENELITIAN
Untuk menentukan zonasi dalam penelitian ini,
metode analisis yang digunakan adalah sebagai
berikut :
1. Analisis Tutupan Lahan
Analisis ini dilakukan untuk memberi
gambaran detail mengenai perkembangan
penggunaan lahan pada wilayah penelitian.
Analisis ini dilengkapi dengan media peta yang
didapatkan dari hasil interpretasi citra
LANDSAT 7 ETM+ yang diperoleh dari situs
USGS (United State Geological Survey).
Lingkup pekerjaan analisis yang harus
dilakukan dalam menggunakan data citra
satelit Landsat dapat dilihat pada Gambar 1.

Citra Landsat
7/ETM SLCon Periodik
1999 dan 2013

Citra Landsat
7/ETM SLCoff Periodik
2007
Gap Filling

Koreksi
Radiometrik dan
Geometrik
Komposit Citra
(Band 3,2,1)

Interpretasi

Klasifikasi Tak
Terbimbing

Program
ArcGIS
Raster to
Polygon

Croping

Attribute

Luas
Penggunaan
Lahan

Gambar 1. Proses Analisis Perkembangan


Pemanfaatan Lahan
2. Analisis Perubahan Garis Pantai
Analisis perubahan garis pantai digunakan
untuk mengetahui luas dan panjang
perubahan garis pantai pada wilayah
penelitian. Analisis ini memberikan gambaran
mengenai dampak dari abrasi dan
sedimentasi yang ada di wilayah studi, hasil
analisis pada tahap ini disampaikan dengan
media peta yang dihasilkan dari hasil
interpretasi citra satelit. Citra satelit yang
digunakan adalah Citra Landsat 7/ETM secara
periodik setiap 5 tahun, dimulai pada tahun
1999 hingga tahun 2013. Untuk mengetahui
proses analisis perubahan garis pantai melalui
hasil interpretasi citra dapat dilihat pada
Gambar 3.3.

Citra Landsat
7/ETM SLCon Periodik
1999 dan 2013

Citra Landsat
7/ETM SLCoff Periodik
2007
Gap Filling

Koreksi
Radiometrik dan
Geometrik
Komposit Citra
(Band 4,5,7)
Interpretasi

Klasifikasi Tak
Terbimbing

Program
ArcGIS
Raster to
Polygon

Croping

Digitasi Garis
Pantai
Peta Perubahan
Garis Pantai
Luas Abrasi dan
Sedimentasi

Gambar 2. Proses Analisis Perubahan Garis Pantai


3. Analisis AHP
Analisis AHP dalam penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui bobot setiap
variable yang sudah dipilih untuk menentukan
kawasan dengan tingkat kerusakan ekosistem
pesisir terbesar berdasarkan pendapat dari
responden yang dianggap berkompeten
menyangkut bidang pesisir dan mengerti
kondisi di lapangan. Variable yang diteliti
dengan menggunakan analisis AHP yaitu
perubahan garis pantai, ekosistem pesisir,
kependudukan, dan guna lahan. Hasil dari
penentuan bobot pada setiap variable pada
analisis ini, digunakan untuk menentukan
kawasan dengan tingkat kerusakan ekosistem
terbesar pada analisis selanjutnya.
Perhitungan AHP dilakukan dengan
menggunakan perangkat lunak yang dibuat
khusus
untuk
menunjukkan
matriks
perbandingan berpasangan dan normalisasi

matriks, perangkat lunak yang digunakan


adalah Expert Choice
4. Metode Perbandingan Eksponensial
Metode
yang
digunakan
untuk
mengetahui
kawasan dengan
tingkat
kersuakan ekosistem terbesar adalah metode
perbandingan eksponensial yang merupakan
salah satu metode pengambilan keputusan
dengan cara mengkuantifikasikan pendapat
seseorang atau lebih dalam skala tertentu.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam
pemilihan keputusan dengan metode
perbandingan eksponensial adalah:
a. Penentuan alternatif keputusan.
b. Penyusunan kriteria keputusan yang
akan dikaji.
c. Penentuan
derajat
kepentingan
relatif setiap kriteria keputusan
berdasarkan hasil analisis AHP.
d. Memberi nilai kelas pada kriteria di
setiap kecamatan yang menjadi fokus
penelitian.
kemudian Formulasi penghitungan total
nilai setiap pilihan keputusan adalah
sebagai berikut:

dimana:
TNi = Total Nilai Alternatif Ke-i
V ij = derajat kepentingan relatif kriteria
ke-j pada keputusan ke-i, yang
dapat dinyatakan dengan skala
ordinal (1,2,3)
Bj = derajat
kepentingan kriteria
keputusan, yang dinyatakan
dengan bobot
m = jumlah kriteria keputusan
Setelah perhitungan nilai tersebut
dilakukan, maka nilai-nilai tersebut diberi
peringkat.
Nilai
yang
paling
besar
mendapatkan peringkat pertama dan
kecamatan dengan nilai tertinggi tersebut
terpilih menjadi lokasi studi.

5. Analisis Daya Dukung Lahan


Analisis daya dukung lahan kawasan
pesisir ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan lahan di wilayah pesisir untuk
menampung kegiatan manusia tanpa
menimbulkan dampak signifikan terhadap
perubahan ekologinya. Analisis ini dilakukan
berdasarkan kriteria-kriteria yang disebutkan
pada Modul Penyusunan Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Kabupaten/Kota.
Penilaian daya dukung ini berdasarkan
jenis kegiatan dari penggunaan lahan yang
ada di wilayah penelitian. Kriteria daya
dukung pesisir ini mencakup wilayah darat
dan laut, sehingga untuk kriteria untuk laut
menggunakan deliniasi sesuai dengan
pedoman RZWP3K yaitu 4 mil ke arah laut.
Analisis ini menggunakan analisis overlay,
yaitu dengan menentukan skoring pada setiap
kriteria. Skor pada masing-masing kriteria
yaitu :
Tabel 1. Skor Penilaian Daya Dukung
Lahan
Penilaian
Sangat Baik
Baik
Sedang
Buruk
Sangat Buruk

Skor
5
4
3
2
1

6. Zonasi
Hasil dari analisis sebelumnya, selanjutnya
dibuat arahan zonasi. Konsep zonasi disusun
berdasarkan Modul Penyusunan RZWP3K
Kabupaten/Kota dengan membagi ke dalam
tiga zona, antara lain:
1. Zona Preservasi
2. Zona Konservasi
3. Zona pemanfaatan terbatas,
HASIL DAN PEMBAHASAN
Wilayah penelitan difokuskan pada
kawasan dengan tingkat kerusakan ekosistem
terbesar yang terdapat pada Zona Tirtayasa. Zona
Tirtayasa terdiri dari 3 kecamatan yaitu
Kecamatan Pontang, Tirtayasa, dan Tanara.

1. Kependudukan
Dalam dokumen Kecamatan Dalam Angka
setiap Kecamatan yang ada di Zona Tirtayasa
Kabupaten Serang, dapat diketahui luas wilayah,
jumlah penduduk, dan kepadatan penduduk di
setiap kecamatan. Untuk mengatahui kepadatan
penduduk setiap kecamatan yang ada di Zona
Tirtayasa dapat dilihat pada Tabel.
Tabel 2. Kepadatan penduduk Zona
Tirtayasa Tahun 2008-2012
No
Kepadatan
Nama Kecamatan
Penduduk Tahun
2012 (Jiwa/Km2)
1
Kecamatan Tanara
111
2
Kecamatan Pontang
65
3
Kecamatan Tirtayasa
77
Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2008-2012
2. Terumbu Karang
Pada Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil Kabupaten Serang dijelaskan
bahwa sebagian besar terumbu karang yang ada
pada pantai utara Kabupaten Serang dalam
kondisi mati, kondisi tersebut disebabkan oleh
sedimentasi yang dibawa oleh aliran Sungai
Ciujung. Untuk mengetui luas dan persetase
terumbu karang yang ada di Zona Tirtayasa dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas dan Persentase Terumbu Karang
Zona Tirtayasa
No
Kecamatan
Luas (Ha) Persentase
(%)
1 Pontang
445,48
26
2 Tirtayasa
1251.83
55
3 Tanara
606,47
19
Sumber : Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Serang 2011-2030
3. Mangrove
Secara alami, ekosistem mangrove di
Pesisir Kabupaten Serang hanya dapat ditemui di
pesisir utara dan pulau-pulau kecil yaitu Zona
Tirtayasa. Sebaran mangrove di Zona Tirtayasa
Kabupaten Serang sudah sangat tipis dan
terputus-putus karena selama 30 tahun terakhir
dilakukan pembukaan lahan mangrove untuk

pertambakan. Luasan mangrove yang tersisa di


sepanjang pesisir utara Kabupaten Serang kurang
lebih 191 Ha (Sumber : hasil Analisis Dinas
Kelautan dan Perikanan, 2009), sebagian besar
diantaranya merupakan jalur sepanjang muara
sungai dan tidak rapat, hanya sebagian kecil saja
di Kecamatan Tirtayasa dan Tanara yang kondisi
mangrovenya dalam keadaan baik.
4. Perubahan Garis Pantai
Hasil klasifikasi citra Landsat 7/ETM+
menunjukkan perubahan garis pantai pada
wilayah penelitian berupa kemunduran (Abrasi)
dan Kemajuan (Sedimentasi), untuk mengetahui
besar laju perubahan garis pantai dapat dilihat
pada Tabel 4.
Tabel 4. Laju Rata-rata Perubahan Abrasi
Abrasi
Nama
Kecamatan
Pontang
Tirtayasa
Tanara

1999-2013
(Meter/Tahun)
16,92
45,88
26,14

1999-2013
(Meter Persegi)
76,46
268,44
24,28

Tabel 5. Laju Rata-rata Perubahan Sedimentasi


Sedimentasi
Nama
Kecamatan
Pontang
Tirtayasa
Tanara

1999 2013
(Meter/Tahun)
6,92
51,78

1999-2013
(Meter Persegi)
60,08
160,71

Sumber : Hasil Analisis 2014


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa
perubahan garis pantai terbesar terdapat pada
Kecamatan Tirtayasa dan Tanara. Abrasi yang
terjadi di Kecamatan Tirtayasa membuat garis
pantai mundur sejauh 45,88 meter/tahun dengan
total lahan yang terabrasi sebesar 268,44 meter2
dari tahun 1999 hingga 2013, sedangkan
sedimentasi pada Kecamataan Tanara telah
memajukan garis pantai atau membentuk daratan
baru sejauh 51,78 meter/tahun dengan luas
daratan yang terbentuk sebesar 160,71 meter2
dari tahun 1999 hingga 2013.

5. Guna Lahan
Hasil klasifikasi citra Landsat 7/ETM+
menunjukkan perubahan penutupan lahan wilaya
penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 6. Klasifikasi Tutupan Lahan Citra Landsat


7/ETM+
Jenis
Pemanfaatan
Lahan
Permukiman
Tambak
Vegetasi

Luas Pemanfaatan Lahan (Ha)


Pontang
Pontang
Pontang
220,13
2178,3
5382,47

220,13
2178,3
5382,47

220,13
2178,3
5382,47

Sumber : Hasil Analisis 2014


Dari tabel di atas dapat terlihat
perubahan pemanfaatan lahan yang ada di Zona
Tirtayasa, setiap tahunnya pemanfaatan lahan
berupa permukiman dan tambak mengalami
pertumbuhan. Pertumbuhan lahan permukiman
sebanding dengan pertumbuhan lahan tambak,
hal tersebut disebabkan oleh mata pencaharian
masyarakat Zona Tirtayasa sebagian besar adalah
pembudidaya ikan tambak dan rumput laut.
Sehingga banyak lahan tak terbangun yang dialih
fungsikan oleh warga menjadi lahan tambak.
Untuk persebaran pemanfaatan lahan yang ada di
Zona Tirtayasa dapat diliha pada Gambar 4.11,
Gambar 4.12 dan Gambar 4.13.
6. Analisis AHP
Variabel yang digunakan dalam perhitungan
AHP adalah variabel yang berkaitan dengan judul
penelitian yaitu perubahan abrasi, sedimentasi,
perkembangan pemanfaatan lahan, pertumbuhan
penduduk dan ekosistem peisisir.
Proses perhitungan AHP ini menggunakan
perangkat lunak yang diperuntukan khusus untuk
menunjukkan matriks perbandingan berpasangan
dan normalisasi matriks, perangkat lunak yang
digunakan adalah Expert Choice. Perhitungan
menggunakan perangkat lunak ini dilakukan
dengan mengisi data hasil survey ke dalam kotak
matriks perbandingan yang tersedia di dalam
perangkat lunak Expert Choice. Kemudian hasil

perhitungan AHP akan diproses secara otomatis


termasuk normalisasi matriks Untuk mengetahui
vektor prioritas dapat diketahui dari hasil
principal eigenvector dengan memperhatikan nilai
Incon, apabila nilai Incon dibawah 0,1, maka rasio
konsistensi dianggap konsisten. begitu juga
sebaliknya apabila nilai Incon lebih dari 0,1 maka
ratio konsistensi dianggap tidak valid sehingga
perlu dilakukan pengambilan data ulang ke
responden.
Hasil dari perhitungan AHP dengan menggunakan
perangkat lunak Expert Choice didapat, bahwa
variable Perubahan garis pantai lah yang memiliki
kepentingan paling tinggi dalam penentuan
kawasan dengan tingkat kerusakan ekosistem
pesisir terbesar di Zona Tirtayasa.

7. Metode Perbandingan Eksponensial


Setelah melakukan penilaian terhadap
variable yang digunakan dalam metode
perbandingan
eksponensial
menggunakan
metode AHP, maka dapat ditentukan besar
derajat kepentingan criteria keputusan setiap
variable dalam penilaian metode perbandingan
eksponensial. Kemudian dilakukan scoring
terhadap setiap kecamatan yang menjadi
alternative dalam penelitian ini, skor diberikan
berdasarkan indicator yang sudah ditetapkan.
Setelah dilakukan scoring pada setiap alternative,
maka dilakukan perhitungan total nilai pada
setiap kecamatan

Tabel 7. Penilaian Metode Perbandingan Eksponensial


No

Kriteria

Bobot
MPE

1
2
3
4
5

5
4
4
2
3

Perubahan Garis Pantai


Mangrove
Terumbu Karang
Kependudukan
Pemanfaatan Lahan
Total
Sumber : Hasil Analisis 2014

Kecamatan
Pontang
3
1
2
1
3
10

Nama Kecamatan
Kecamatan
Tirtayasa
3
2
3
1
3
12

Kecamatan
Tanara
3
1
1
2
3
10

Tabel 8. Nilai Keputusan Metode Perbandingan Eksponensial


No

Kriteria

Bobot
MPE

1
2
3
4
5

5
4
4
2
3

Perubahan Garis Pantai


Mangrove
Terumbu Karang
Kependudukan
Pemanfaatan Lahan
Total Nilai Alternatif
Peringkat MPE
Sumber : Hasil Analisis 2014

Setelah dilakukan perhitungan dengan


metode perbandingan eksponensial, maka dapat
diketahui tingkat kepentingan setiap alternative.
Dari Tabel 8. dapat diketahui bahwa kecamatan
yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi

Kecamatan
Pontang
234
1
16
1
27
54
2

Nama Kecamatan
Kecamatan
Tirtayasa
234
16
81
1
27
150
1

Kecamatan
Tanara
234
1
1
4
27
40
3

adalah Kecamatan Tirtayasa, Kecamatan Tirtayasa


memiliki total nilai alternatif sebesar 150. Dari
hasil ini dapat dilakunkan identifikasi lebih lanjut
terkiat daya dukung kawasan pesisir pada
Kecamatan Tirtayasa.

8. Daya Dukung Wilayah Pesisir


Analisis ini dilakukan berdasarkan kriteriakriteria yang disebutkan pada Modul Penyusunan
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil Propinsi dan Kabupaten/Kota. Penilaian
dilakukan
berdasarkan jenis kegiatan dari
penggunaan lahan yang ada di wilayah penelitian
seperti permukiman, pelabuhan, perikanan
budidaya, dan perikanan tangkap. Kriteria daya
dukung pesisir ini mencakup wilayah darat dan
laut, sehingga untuk kriteria untuk laut
menggunakan deliniasi sesuai dengan pedoman
RZWP3K yaitu 4 mil ke arah laut. Analisis ini
menggunakan analisis overlay, yaitu dengan
menentukan skoring pada setiap kriteria
a. Daya Dukung Kawasan Permukiman
Untuk mengetahui daya dukung kawasan
permukiman digunakan variabel-variabel yang
terdapat pada Modul Penyusunan RZWP3K
Kabupaten/Kota yang bisa dilihat pada Tabel
Tabel 9. Hasil Penilaian Daya Dukung Kawasan
Permukiman
Kriteria

Banjir

Sanga
t Baik

Baik

2574.
58
5628.
78
951.8
7

Kelereng
an
Jarak
749.8
dari
1
sarana
jalan
Jarak
539.8 162.8
dari
4
7
pantai
Sumber: Hasil Analisis, 2014

Luas (Ha)
Sedan Buruk
g
-

Sanga
t
Buruk
-

3054.
21
-

1585.
48

966.0
1

1375.
61

175.5
4

95.26

106.1
7

Tahap selanjutnya dilakukan proses analisis


dengan menggunakan teknik overlay untuk
mengetahui daya dukung kawasan permukiman
berdasarkan setiap parameter. Untuk mengetahui
besar luas area yang sesuai untuk kawasan
permukiman dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Luas Hasil Penilaian Daya Dukung Kawasan


Permukiman
Nilai
Keterangan
Luas (Ha) Persentase
(%)
1-4
Tidak sesuai
0
5-8
Kurang sesuai
0
9-12
Cukup sesuai
187.77
3.33
13-16
Sesuai
3110
55.25
17-20
Sangat sesuai
2331
41.41

Sumber: Hasil Analisis, 2014


Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa
luas area yang sangat sesuai untuk kawasan
permukiman pada wilayah penelitian sebesar
41.41%, yaitu 2331 Ha. Sedangkan kawasan yang
cukup sesuai memiliki persentase sebesar 55,25%
yaitu seluas 3110 Ha. Untuk mengetahui peta
daya dukung kawasan permukiman
b. Daya Dukung Kawasan Perikanan Budidaya
Berdasarkan Pedoman Penyusunan Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP3K) yang dikeluarkan oleh Kementrian
Perikanan dan Kelautan, terdapat kriteria
kesesuaian lahan pesisir untuk kawasan perikanan
budidaya, yaitu sebagai berikut:
Tabel 11. Hasil Penilaian Daya Dukung Kawasan
Perikanan Budidaya
Kriteria
Luas (Ha)
Sangat Baik
Sedan Buruk Sanga
baik
g
t
buruk
Kedala
1961.0 4741. 1502. 2858.
man
5
12
36
32
Tinggi
10689. 395.41 gelomb
11
ang
Kecepat 11084. an arus
52
Kecerah 9990.5 1078. an
4
38
perairan
Substrat
124.8 dasar
7
Salinitas 3017.2 8095. 45
PH Air
11084.
52
Sumber: Hasil Analisis, 2014

Dalam tahapan mengetahui lahan pesisir


yang sesuai untuk mangrove maka dilakukan
analisis kesesuaian lahan di wilayah penelitian
dilakukan proses overlay pada setiap parameter
menggunakan software ArcGIS 10.1. setelah
proses overlay dilakukan maka akan diketahui
area pesisir yang sesuai untuk kawasan konservasi
mangrove. Untuk mengetahui besar luas dan
persentase lahan yang sesuai untuk kawasan
perikanan budidaya, dapat dilihat pada Tabel 12.

Setelah mengetahui klasifikasi nilai dari


semua kriteria tersebut maka semua kriteria
tersebut di overlay dengan menggunakan
perangkat lunak ArcGIS. Skor dari masing-masing
kriteria tersebut ditambahkan dan diklasifikasikan
lagi menjadi lima kelas. Dari hasil analisis overlay
dari semua kriteria tersebut didapatkan hasil yaitu
kesesuaian
Kecamatan
Tirtayasa
dalam
menampung kegiatan perikanan tangkap. Hasil
detailnya dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 12. Luas Hasil Penilaian Daya Dukung Kawasan


Perikanan Budidaya
Nilai
Keterangan
Luas (Ha)
Persentase
(%)
5-13
Tidak sesuai
14-20
Kurang sesuai
198.61
1.77
21-23
Cukup sesuai
3119.13
27.86
24-26
Sesuai
7875.95
70.36
27-33
Sangat sesuai
Sumber: Hasil Analisis, 2014

Tabel 14. Luas Hasil Penilaian Daya Dukung


Kawasan Perikanan Tangkap
Nilai

Luas (Ha)
Luas (Ha)

Keterangan

1
Tidak sesuai
18105.55
2-5
Kurang sesuai
6-13
Cukup sesuai
14
Sesuai
395.41
15
Sangat sesuai
10718.17
Sumber: Hasil Analisis, 2014

Persentase
(%)
61.96
0
0
1.35
36.68

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa


sebesar 70,36% atau 7875,95 Ha wilayah
penelitian memiliki criteria yang sesuai untuk
pengembangan kawasan perikanan budidaya.
Sedangkan sisanya seluas 3119.13 Ha memiliki
criteria cukup sesuai dan 198,61 Ha kurang sesuai.

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa


sebanyak 10718,17 Ha lahan yang ada di wilayah
studi memiliki criteria yang sangat sesuai untuk
pengembangan kawasan perikanan tangkap.
Sisanya seluas 395,41 Ha memiliki criteria sesuai
dan 18105,55 Ha tidak sesuai.

9. Daya Dukung Perikanan Tangkap


Dalam tahapan dilakukan analisis daya
dukung lahan di wilayah penelitian dilakukan
proses overlay untuk parametermenggunakan
software ArcGIS 10.1. setelah proses overlay
dilakukan maka akan diketahui area pesisir yang
sesuai untuk kawasan konservasi mangrove.

10. Daya Dukung Kawasan Pelabuhan


Dalam tahapan mengetahui lahan pesisir
yang sesuai untuk kawasan pelabuhan maka
dilakukan analisis kesesuaian lahan di wilayah
penelitian. Maka terlebih dahulu perlu diketahui
kondisi setiap parameter yang ada pada wilayah
penelitian untuk mengatahui luas setiap
parameter yang sudah ditentukan pada Modul
Penyusunanan RZWP3K Kabupaten/Kota. Untuk
mengetahui besar luas setiap parameter dapat
dilihat pada Tabel 15.

Tabel 13. Hasil Penilaian Daya


Dukung Kawasan Perikanan Tangkap
Kriteria

Luas (Ha)
Sedang

Buruk

Sangat
Baik

Baik

Tinggi
gelombang

10689.11

395.41

Kecepatan
arus
Penutupa
n hutan
Jarak dari
pantai

11084.52

11084.52

Sumber: Hasil Analisis, 2014

Sangat
Buruk
5628.
78

Tabel 15. Hasil Penilaian Daya Kawasan


Pelabuhan
Kriteria

Kedalaman
(Batimetri)
Kemiringan
(Topografi)

Sangat
Baik
6321.7
4
5628.7
8

Baik

Luas (Ha)
Sedang Buruk

4741.12

Sangat
Buruk
-

Histori gempa
Abrasi/akresi
Tinggi
gelombang
Kecepatan
Arus

5628.7
8

10689.
11
11084.
52

395.41

369.19
-

Sumber: Hasil Analisis, 2014

Setelah mengetahui klasifikasi nilai dari


semua kriteria tersebut maka semua kriteria
tersebut di overlay dengan menggunakan
perangkat lunak ArcGIS. Dari hasil analisis overlay
didapatkan hasil yaitu daya dukung lahan
kawasan pelabuhan pada wilayah penelitian.
Lokasi yang sesuai untuk kegiatan pelabuhan
berada pada wilayah sempadan pantai pada
daratan dan pada beberapa lokasi pada wilayah
perairan. Hasil detailnya dapat dilihat pada Tabel
16.
Tabel 16. Luas Hasil Penilaian Daya Dukung Kawasan
Pelabuhan
Nilai
Luas (Ha)
Keterangan
Luas (Ha)
Persentase
(%)
1-7
Tidak sesuai
156,64
0,93
8-11
Kurang sesuai
114,25
0,68
12-15
Cukup sesuai
5527,09
33,04
16-19
Sesuai
10920,08
65,28
20-25
Sangat sesuai
7,62
0,04
Sumber: Hasil Analisis, 2014

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 7,62 Ha


atau lahan yang ada di wilayah studi sangat sesuai
untuk
dikembangkan
sebagahi
kawasan
pelabuhan. Sedangkan untuk lahan yang sangat
tidak sesuai seluas 156,64 Ha.
11. Zonasi
Penentuan zonasi pada kawasan pesisir
bertujuan
untuk
pengaturan
terhadap
pemanfaatan lahan di kawasan pesisir tersebut
agar tidak terjadi konflik antar pemanfaatan
lahan. Secara umum pembagian zona pada
Kecamatan Tirtayasa dibagi menjadi tiga zona.
Klasifikasi zona mengacu pada Ketentuan
Mengenai Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K
Kab/Kota) yang di keluarkan oleh Direktorat Tata
Ruang Laut Pesisir dan Pulau Pulau Kecil oleh

Kementerian Kelautan dan Perikanan, zona


tersebut yaitu :
1. Zona preservasi,
2. Zona konservasi,
3. Zona pengembangan intensif,
Arahan zonasi wilayah pesisir Kecamatan
Tirtayasa ditentukan berdasarkan analisis daya
dukung wilayah pesisir yang telah dilakukan
sebelumnya. Hasil analisis daya dukung wilayah
pesisir ditumpuk (overlay) dengan guna lahan
eksisting yang ada di Kecamatan Tirtayasa, dari
overlay tersebut dapat ditentukan arahan zonasi
wilayah pesisir Kecamatan Tirtayasa
Tabel 17. Luas Zonasi Pesisir Kecamatan
Tirtayasa
No
Zona
Luas (Ha) Persentase
(%)
1
Zona Preservasi
2482,64
14,87
2
Zona Konservasi
10934,5
65,49
3
Zona
3278,59
19,64
Pengembangan
Intensif
Jumlah
116695,73
100
Sumber : Hasil Analisis, 2014
Dari zonasi yang sudah ditentukan dengan
cara menumpuk (overlay) antara peta daya
dukung lahan dengan guna lahan eksisting yang
ada di Kecamatan Tirtayasa, dapat ditentukan
arahan pemanfaatan lahan pada masing-masing
zona. Penentuan arahan pemanfaatan lahan
didasari oleh peraturan yang dikeluarkan oleh
Kementrian Perikanan dan Kelautan, arahan
pemanfaatan
lahan
tersebut
ditentukan
berdasarkan intensitas kegiatan dan dampak yang
dapat ditimbulkannya.
Untuk mengetahui lebih jelas arahan
pemanfaatan lahan yang ada di setiap zona, dapat
dilihat pada Tabel 18. Dan Gambar 3. Dan 4.
Tabel 18. Arahan Pemanfaatan Lahan Kecamatan
Tirtayasa
No
Zona
Arahan
LuasHa
Pemanfaatan
Lahan
1
Zona Preservasi
Sempadan Patai
218,11
Sempadan
325,13
Sungai

Zona Konservasi

Mangrove
Terumbu
Karang
Perikanan
Tangkap
Perikanan
Budidaya
Perkebunan
Permukiman

Zona
Pengembangan
Intensif
Sumber : Hasil Analisis, 2014

157,5
1982,03
3087,65
7691,45
55,4
3278,59

Gambar 3. Peta Zonasi Kecamatan Tirtayasa

Gambar 4. Peta Arahan Pemanfataan Lahhan Kecamatan Tirtayasa

Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian dengan judul
Penataan Zonasi Wilayah Pesisir Zona Tirtayasa
Kabupaten Serang Terkait Perubahan Garis Pantai
Yang Disebabkan Oleh Abrasi Dan Sedimentasi,
adalah sebagai berikut :
1. Setelah dilakukan perhitungan dengan
menggunakan
AHP,
dapat
diketahui
kecamatan yang menjadi kawasan yang
memiliki tingkat kerusakan ekosistem pesisir
terbesar pada wilayah pesisir Zona Tirtayasa
Kabupaten Serang adalah Kecamatan
Tirtayasa.
2. Dari hasil analisis daya dukung wilayah pesisir
pada Kecamatan Tirtayasa dapat diketahui
kemampuan lahan yang ada di Kecamatan
Tirtayasa dalam menampung kegiatan yang
ada di wilayah tersebut. daya dukung pada
kecamatan Tirtayasa dapat disimpulkan
sebagai berikut :
a. Wilayah yang memiliki daya dukung
kawasan permukiman sangat sesuai yaitu
seluas 2331 Ha dengan persentasi sebesar
41,41 % dari total luas wilayah Kecamatan
Tirtayasa.
a. Hasil dari identifikasi daya dukung
kawasan
perikanan
budidaya
menunjukan sebesar 7875,95 Ha sesuai
untuk dimanfaatkan sebagai lahan
perikanan budidaya, luas tersebut sama
dengan
70,36%
luas
Kecamatan
Tirtayasa.
b. Daya dukung kawasan perikanan
tangkap sebesar 10718,17 pada area
lautan, dengan persentase sebesar

36,68% dari kawasan pesisir Kecamatan


Tirtayasa.
c. Dari hasil identifikasi daya dukung
kawasan pelabuhan diketahui hanya
sebesar 7,62 Ha lahan yang sangat sesuai
untuk dimanfaatkan sebagai pelabuhan
ikan.
3. Arahan Zonasi yang disusun yaitu membagi
kawasan pesisir menjadi 3 zona utama, zona
tersebut adalah zona preservasi, zona
konservasi, zona pengembangan intensif.
Untuk mengetahui luas setiap zona dan
arahan pemanfaatan lahan pada setiap zona,
dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Arahan dan Luas Zona Utama
Kecamatan Tirtayasa
No

Zona

Luas
(Ha)

Persent
ase (%)

Preservasi

2482,
64

14,87

Konservasi

10934
,5

65,49

Pengemba
ngan
Intensif

3278,
59

19,64

Arahan
Pemanfaata
n Lahan
Mangrove
Terumbu
Karang
Sempadan
Pantai
Sempadan
Sungai
Perikanan
Tangkap
Perikanan
Budidaya
Perikebunan
Permukiman

Saran
Dalam penelitian ini terdapat beberapa saran
yang berkaitan dengan Penataan Zonasi Wilayah
Pesisir. Saran tersebut, yaitu :
1. Saran Bagi Penelitian Lanjutan
a. Peneliti menggunakan empat variable
fisik, dalam penelitian selanjutnya
dibutuhkan variable lain.
b. Dalam penelitian ini penentuan garis
pantai hanya berdasarkan interpretasi
citra satelit LANDSAT, diperlukan data
mengenai pasang surut, kecepatan arus,
kecepatan angin, dan faktor lain yang

dapat mempengaruhi perubahan garis


pantai.
c. Penentuan daya dukung lahan dalam
penelitian ini mengacu pada pedoman
penyusunan RZWP3K yang dikeluarkan
oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan
yang dimodifikasi, pedoman RZWP3K
dimodifikasi dengan memperhatikan
Peraturan Pemerintah No.38 Tahun 2011
tentang sungai . Perlu ditambahkan aspek
lain untuk menentukan daya dukung
lahan kawasan pesisir.
d. Dari hasil identifikasi daya dukung
kawasan pelabuhan, perlu ada kajian
lebih lanjut mengenai daya dukung
kawasan pelabuhan untuk menentukan
lahan yang sesuai untuk dibangun
pelabuhan
ikan
pada
Kecamatan
Tirtayasa.
e. Detail mengenai arahan pemanfaatan
lahan belum dibahas dalam penelitian ini,
sehingga diperlikan penelitian lebih lanjut
terkait hal tersebut
Daftar Pustaka
Modul Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Propinsi dan
Kabupaten/Kota, Kementrian Kelautan dan
Perikanan 2010.
Lipakis dalam Kasim, 2012. Pendekatan Beberapa
Metode Dalam Monitoring Perubahan Garis
Pantai Menggunakan Dataset Pengindraan
Jauh Landsat dan SIG. I(V) : 624-625
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Peulau-Pulau
Kecil Kabupaten Serang 2010
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Serang
2011-2031