Anda di halaman 1dari 8

Stadium Kanker Payudara

Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penelitian dokter saat
mendiagnosis suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah sejauh manakah
tingkat penyebaran kanker tersebut baik ke organ atau jaringan sekitar maupun
penyebaran ketempat lain. Stadium hanya dikenal pada tumor ganas atau kanker dan
tidak ada pada tumor jinak. Untuk menentukan suatu stadium, harus dilakukan
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang lainnya yaitu histopatologi atau PA,
rontgen, USG, dan bila memungkinkan dengan CT scan, scintigrafi, dan lain-lain.
Banyak sekali cara untuk menentukan stadium, namun yang paling banyak digunakan
saat

ini

adalah

stadium

kanker

berdasarkan

klasifikasi

sistem

TNM

yang

direkomendasikan oleh UICC (International Union Against Cancer dari World Helath
Organization) / AJCC (American Joint Committee On Cancer yang disponsori oleh
American Cancer Society dan American College of Surgeons).

Ukuran Tumor

Palpable Lymph
Node

Metastase

Tis

N0

M0

T1

N0

M0

IIA

T1
T2

N1
N0

M0
M0

IIB

T2
T3

N1
N0

M0
M0

IIIA

T1, T2
T3

N2
N1

M0
M0

IIIB

T4

N3

M0

IV

M1

Stadium
0

Sumber : Kosmmojaya Pandu Nusa, 2009

Sistem TNM

TNM merupakan singkatan dari T yaitu tumor size atau ukuran tumor, N yaitu node
atau kelenjar getah bening regional dan M yaitu metastasis atau penyebaran jauh.
Ketiga faktor T, N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga
sesudah operasi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara,
penilaian TNM sebagai berikut :
a) Ukuran Tumor (T) :
Ukuran Tumor (T)

Interpretasi

T0

Tidak ada bukti adanya suatu tumor

Tis

Lobular carninoma in situ (LCIS), ductus


carninoma in situ, (DCIS), atau Pagets
disease

T1

Diameter tumor 2cm

T1a

Tidak ada perlekatan ke fasia atau otot


pektoralis

T1b

Dengan perlekatan ke fasia atau otot


pektoralis

T2

Diameter tumor 2-5 cm

T2a

Tidak ada perlekatan ke fasia atau otot


pektoralis

T2b

Dengan perlekatan ke fasia atau otot


pektoralis

T3

Diameter tumor 5 cm

T3a

Tidak ada perlekatan ke fasia atau otot


pektoralis

T3b

Dengan perlekatan ke fasia atau otot


pektoralis

T4

Bebepa pun diameternya, tumor telah


melekat pada dinding dada dan mengenai
pectoral lymph node

T4a

Dengan fiksasi ke dinding toraks

T4b

Dengan edema, infiltrasi, atau ulserasi di


kulit
Sumber : Djamaloeddin, 2005

b)Palpable Lymph Node (N)


Palpable Lymph

Interpretasi

Node (N)

N0

Kanker belum menyebar ke lymph node

N1

Kanker telah menyebar ke axillary lymph

N2

node ipsilateral dan dapat digerakkan


Kanker telah menyebar ke axillary lymph
node ipsilateral dan melekat antara satu
sama lain (konglumerasi) atau melekat

N3

pada struktru lengan


Kanker telah menyebar ke mammary
lymph node atau supraclavicular lymph
node ipsilateral

Sumber : Djamaloeddin, 2005


c) Metastase (M) :
Metastase

Interpretasi

M0

Tidak ada metastase ke organ yang jauh

M1

Metastase ke organ jauh

Sumber : Djamaloeddin, 2005


Setelah masing- masing faktor T, N, M didapatkan, ketiga faktor tersebut kemudian
digabungkan dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut :
REHABILITASI DAN FOLLOW UP
A. Rehabilitasi:
Pra Operatif
- Latihan pernafasan
- Latihan batuk efektif Pasca Operatif Hari 1-2.
- Latihan lingkup gerak sendi untuk siku pergelangan tangan dan jari lengan
daerah yang dioperasi
- Untuk sisi sehat latihan lingkup gerak sendi lengan secara penuh
- Untuk lengan atas bagian operasi latihan isometric
- Latihan relaksasi otot leher dan toraks
- Aktif mobilisasi Hari 3-5
- Latihan lingkup gerak sendi untuk bahu sisi operasi (bertahap)
- Latihan relaksasi
- Aktif dalam sehari-hari dimana sisi operasi tidak dibebani
Hari 6 dan seterusnya
- Bebas gerakan
- Edukasi untuk mempertahankan lingkup gerak sendi dan usaha untuk
mencegah/menghilangkan timbulnya lymphedema.
B. Follow up
tahun 1 dan 2
: kontrol tiap 2 bulan
tahun 3 s/d 5
: kontrol tiap 3 bulan
setelah tahun 5
: kontrol tiap 6 bulan
Pemeriksaan fisik : tiap kali control
Thorax foto
: tiap 6 bulan
Lab, marker
: tiap 2-3 bulan
Mammografi kontra lateral : tiap tahun atau ada indikasi

USG Abdomen/lever : tiap 6 bulan atau ada indikasi


Bone scanning : tiap 2 bulan atau ada indikasi
Prognosis Kanker Payudara
Kelangsungan hidup pasien kanker payudara dipengaruhi oleh banyak hal seperti
karakteristik tumor, status kesehatan, factor genetik, level stress, imunitas, keinginan
untuk hidup, dan lain-lain. Stadium klinis dari kanker payudara merupakan indicator
terbaik untuk menentukan prognosis penyakit ini. Harapan hidup pasien kanker payudara
dalam lima tahun digambarkan dalam five- year survivak rate (Imaginis, 2009).
Stadium

Five-Year Survival Rate

100%

100%

IIA

92%

IIB

81%

IIIA

67%

IIIB

54%

IV

20%

Terapi dapat bersifat kuratif atau paliatif.Terapi kuratif dianjurkan untuk stadium I, II, dan
III. Pasien dengan tumor lokal lanjut (T3,T4) dan bahkan carcinoma mungkin dapat
disembuhkan dengan terapi multimodalitas, tetapi kebanyakan hanya bersifat paliatif.
Terapi paliatif diberikan pada pasien dengan stadium IV dan untuk pasien dengan
metastasis jauh atau untuk karsinoma lokal yang tidak dapat direseksi.
A. Terapi secara pembedahan
1. Mastektomi partial (breast conservation)

Tindakan konservatif terhadap jaringan payudara terdiri dari reseksi tumor primer hingga
batas jaringan payudara normal, radioterapi dan pemeriksaan status KGB (kelenjar getah
bening) aksilla.Reseksi tumor payudara primer disebut juga sebagai reseksi segmental,
lumpectomy, mastektomi partial dan tylectomy.Tindakan konservatif, saat ini merupakan
terapi standar untuk wanita dengan karsinoma mammae invasif stadium I atau II.Wanita
dengan DCIS hanya memerlukan reseksi tumor primer dan radioterapi adjuvan.Ketika
lumpectomy dilakukan, insisi dengan garis lengkung konsentrik pada nipple-areola
complex dibuat pada kulit diatas karsinoma mammae.Jaringan karsinoma diangkat
dengan diliputi oleh jaringan mammae normal yang adekuat sejauh 2 mm dari tepi yang
bebas dari jaringan tumor. Dilakukan juga permintaan atas status reseptor hormonal dan
ekspresi HER-2/neu kepada patologis. Setelah penutupan luka payudara, dilakukan
diseksi KGB aksilla ipsilateral untuk penentuan stadium dan mengetahui penyebaran
regional.Saat ini,
sentinel node biopsy
merupakan prosedur stagingyang dipilih pada aksilla yang tidak ditemukan adanya
pembesaran KGB. Ketika sentinel node biopsymenunjukkan hasil negatif, diseksi KGB
akilla tidak dilakukan.
2.Modified Radical Mastectomy
Modified radical mastectomy mempertahankan baik M. pectoralis mayor and M.
pectoralis minor, dengan pengangkatan KGB aksilla level I dan II tetapi tidak level III.
Modifikasi Patey mengangkat M. pectoralis minor dan diseksi KGB axilla level III.
Batasan anatomis pada Modified radical mastectomy adalah batas anterior M. latissimus
dorsi pada bagian lateral, garis tengah sternum pada bagian medial, bagian inferiornya 23 cm dari lipatan infra-mammae dan bagian superiornya m. subcalvia.Seroma dibawah
kulit dan di aksilla merupakan komplikasi tersering dari mastektomi dan diseksi KGB
aksilla, sekitar 30% dari semua kasus. Pemasangan closed-system suction drainage
mengurangi insidensi dari komplikasi ini. Kateter dipertahankan hingga cairan drainage
kurang dari 30 ml/hari. Infeksi luka jarang terjadi setelah mastektomi dan kebanyakan
terjadi sekunder terhadap nekrosis skin-flap. Pendarahan sedang dan hebat jarang terjadi
setelah mastektomi dan sebaiknya dilakukan eksplorasi dini luka untuk mengontrol
pendarahan dan Universitas Sumatera Utara memasang ulang closed-system suction

drainage. Insidensi lymphedema fungsional setelah modified radical mastectomy sekitar


10%. Diseksi KGB aksilla ekstensif, terapi radiasi, adanya KGB patologis dan obesitas
merupakan faktor-faktor predisposisi.
B. Terapi secara medikalis (non-pembedahan)
1. Radioterapi
Terapi radiasi dapat digunakan untuk semua stadium karsinoma mammae. Untuk wanita
dengan DCIS, setelah dilakukan lumpectomy, radiasi adjuvan diberikan untuk
mengurangi resiko rekurensi lokal, juga dilakukan untuk stadium I, IIa, atau IIb setelah
Lumpectomy. Radiasi juga diberikan pada kasus resiko/kecurigaan metastasis yang
tinggi. Pada karsinoma mammae lanjut (Stadium IIIa atau IIIb), dimana resiko rekurensi
dan metastasis yang tinggi maka setelah tindakan pembedahan dilanjutkan dengan terapi
radiasi adjuvan.
2. Kemoterapi
a. Kemoterapi adjuvan
Kemoterapi adjuvan memberikan hasil yang minimal pada karsinoma mammae tanpa
pembesaran KGB dengan tumor berukuran kurang dari 0,5 cm dan tidak dianjurkan. Jika
ukuran tumor 0,6 sampai 1 cm tanpa pembesaran KGB dan dengan resiko rekurensi
tinggi maka kemoterapi dapat diberikan. Faktor prognostik yang tidak menguntungkan
termasuk invasi pembuluh darah atau limfe, tingkat kelainan histologis yang tinggi,
overekspresi HER-2/neu dan status reseptor hormonal yang negatif sehingga
direkomendasikan untuk diberikan kemoterapi adjuvan. Contoh regimen kemoterapi yang
digunakan antara lain siklofosfamid, doxorubisin, 5-fluorourasil dan methotrexate. Untuk
wanita dengan karsinoma mammae yang reseptor hormonalnya negatif dan lebih besar
dari 1 cm, kemoterapi adjuvan cocok untuk diberikan. Rekomendasi pengobatan saat ini,
berdasarkan NSABP B-15, untuk stadium IIIa yang operabel adalah modified radical
mastectomy diikuti kemoterapi adjuvan dengan doxorubisin diikuti terapi radiasi.
b. Neoadjuvant chemotherapy
Kemoterapi neoadjuvan merupakan kemoterapi inisial yang diberikan sebelum dilakukan
tindakan pembedahan, dimana dilakukan apabila tumor terlalu besar untuk dilakukan
lumpectomy. Rekomendasi saat ini untuk karsinoma mammae stadium lanjut adalah

kemoterapi neoadjuvan dengan regimen adriamycin diikuti mastektomi atau lumpectomy


dengan diseksi KGB aksilla bila diperlukan, diikuti kemoterapi adjuvan, dilanjutkan
dengan terapi radiasi. Untuk Stadium IIIa inoperabel dan IIIb, kemoterapi neoadjuvan
digunakan

untuk

menurunkan

beban

atau

ukuran

tumor

tersebut,

sehingga

memungkinkan untuk dilanjutkan modified radical mastectomy, diikuti dengan


kemoterapi dan radioterapi.
3. Terapi anti- estrogen
Dalam sitosol sel-sel karsinoma mammae terdapat protein spesifik berupa reseptor
hormonal yaitu reseptor estrogen dan progesteron. Reseptor hormon ini ditemukan pada
lebih dari 90% karsinoma duktal dan lobular invasif yang masih berdiferensiasi baik.
Setelah berikatan dengan reseptor estrogen dalam sitosol, tamoxifen menghambat
pengambilan estrogen pada jaringan payudara. Respon klinis terhadap anti-estrogen
sekitar 60% pada wanita dengan karsinoma mammae dengan reseptor hormon yang
positif, tetapi lebih rendah yaitu sekitar 10% pada reseptor hormonal yang negatif.
Kelebihan tamoxifen dari kemoterapi adalah tidak adanya toksisitas yang berat. Nyeri
tulang, hot flushes, mual, muntah dan retensi cairan dapat terjadi pada pengunaan
tamoxifen. Resiko jangka panjang pengunaan tamoxifen adalah karsinoma endometrium.
Terapi dengan tamoxifen dihentikan setelah 5 tahun. Beberapa ahli onkologi
merekomendasikan tamoxifen untuk ditambahkan pada terapi neoadjuvan pada
karsinoma mammae stadium lanjut terutama pada reseptor hormonal yang positif. Untuk
semua wanita dengan karsinoma mammae stadium IV, anti-estrogen (tamoxifen), dipilih
sebagai terapi awal.
4. Terapi antibodi anti-HER2/neu
Penentuan ekspresi HER-2/neu pada semua karsinomamammae yang baru didiagnosis,
saat ini direkomendasi. Hal ini digunakan untuk tujuan prognostik pada pasien tanpa
pembesaran KGB, untuk membantu pemilihan kemoterapi adjuvan karena dengan
regimen adriamycin menberikan respon yang lebih baik pada karsinoma mammae dengan
overekspresi HER-2/neu. Pasien dengan overekspresi Her-2/neu mungkin dapat diobati
dengan trastuzumab yang ditambahkan pada kemoterapi adjuvan