Anda di halaman 1dari 7

I.

INJEKSI AIR (WATER FLOOD)

Injeksi air merupakan salah satu metoda EOR yang paling banyak
dilakukan sampai saat ini. Biasanya injeksi air digolongkan ke dalam
injeksi tak tercampur. Alasan-alasan sering digunakannya injeksi air ialah:
Mobilitas yang cukup rendah
Air cukup mudah diperoleh
Pengadaan air cukup murah
Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup
banyak mengurangi besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan
di permukaan; jika dibandingkan dengan injeksi gas, dari segi ini
berat air sangat menolong.
Air biasanya mudah tersebar ke seantero reservoir, sehingga
menghasilkan efisiensi penyapuan yang cukup tinggi.
Effisiensi pendesakan air juga cukup baik. sehingga harga Sor
sesudah injeksi air = 30% cukup mudah didapat.

Gambar Pattren Water Flooding

Pemakaian injeksi air sebagai meloda untuk menaikan peralehan minyak


dimulai pada tahun 1880 setelah John F. Carll menyimpulkan bahwa air
tanah dari lapisan yang lebih dangkal dapat membantu produksi minyak.
Secara tidak sengaja, hal telah terjadi sebelum di Pennsylvania opada
tahun 1865. Tujuan Injeksi air adalah mengimbangi penurunan tekanan
reservoir dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir.

II. INJEKSI AIR DITAMBAH ZAT-ZAT KIMIA TERTENTU


Setelah injeksi air telah maksimum diaplikasikan, terdapat beberapa cara
untuk menambah efisiensi injeksi dengan cara menambahkan zat-zat
kimia tertentu kedalam air injeksi yang akan diinjeksikan.

1. Surfactant
Surfactant berfungsi untuk menurunkan tegangan pcrmukaan, tekanan
kapiler campuran polimer, alkohol, sulfonate), menaikkan efesiensi
pendesakan dalam skala pori, mikropis.
2. Polymer
Polymer berfungsi untuk memperbaiki perbandingan mobilitas minyak-air.
Untuk menaikkan efesiensi pengurasan secara luas, makrokopis. Sering
dipakai berselang-seling dengan surfactant. Injeksi Polymer efektif untuk
reservoir dengan viskositas minyak tinggi (sampai 200 cp). Jenis-jenis
polimer yang paling sering dipakai:
- polycrylamide
- polysaccharide

Gambar Sumur Injeksi Surfactant

III. INJEKSI TERMAL


Injeksi termal dilakukan dengan menginjeksikan fluida panas yang
temperatur jauh lebih besar jika dibandingkan temperatur fluida reservoir.
Injeksi Termal berfungsi menurunkan viskositas minyak atau membuat
minyak berubah ke fasa uap, juga mendorong minyak ke sumur-sumur
produksi.
Jenis-jenis Injeksi termal antara lain:
1. Stimulasi uap (steam soak, huff and puff)
Yang diinjeksikan biasanya campuran uap dan air panas dengan
komposisi yang berbcda-beda.

Gambar Thermal Oil Recovery

2. Pembakaran di tempat (In-situ Combustion)

Menginjeksikan udara dan membakar sebagaian minyak ini akan


menurunkan viskositas, mengubah sebagian minyak menjadi uap dan
mendorong dengan pendesakan gabungan uap, air panas dan gas.
3. Injeksi air panas.

IV. INJEKSI GAS CO2


CO2 mudah larut dalam minyak bumi namun sulit larut pada air. Karena
itu beberapa hal yang penting dan berguna dalam proses EOR ketika
minyak bumi terjenuhi oleh CO2 adalah :
1. Menurunkan viskositas minyak dan menaikkan viskositas air.
2.

Menaikkan volume minyak (swelling) dan menurunkan densitas

minyak
3. Memberikan
4.

efek

pengasaman

pada

reservoir

karbonat.

Membentuk fluida bercampur dengan minyak karena ekstraksi,

penguapan, dan pemindahan kromatografi, sehingga dapat bertindak


sebagai solution gas drive.
Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah bercampurnya CO2 dengan minyak
dan membentuk fluida baru yang lebih mudah didesak daripada minyak
pada kondisi awal di reservoir.
Ada 4 jenis mekanisme pendesakan injeksi CO2 :
1. Injeksi CO2 secara kontinyu selama proses EOR.
2. Injeksi slug CO2, diikuti air.
3. Injeksi slug CO2 dan air secara bergantian.

4. Injeksi CO2 dan air secara simultan.

Gambar Injeksi CO2

Injeksi CO2 dan air secara simultan terbukti merupakan mekanisme


pendesakan yang terbaik di antara keempat metode tersebut (oil recoverynya sekitar 50%). Disusul kemudian injeksi slug CO2 dan air secara
bergantian. Injeksi langsung CO2 dan injeksi slug CO2 diikuti sama
buruknya dalam kemampuan mengambil minyak sekitar 25%). Agar
tercapai pencampuran antara CO2 dengan minyak, maka tekanan di
reservoir harus melebihi MMP (Minimum Miscibility Pressure), harga MMP
dapat diperoleh dari hasil percobaan di laboratorium atau korelasi.
Sumber CO2 alami adalah yang terbaik, baik dari sumur yang
memproduksi gas CO2 yang relatif murni atau dari pabrik yang mengolah
gas hidrokarbon yang mengandung banyak CO2 sebagai kontaminan.
Sumber yang lain adalah kumpulan gas (stack gas) dari pembakaran
batubara (coal-fired). Alternatif lain adalah gas yang dilepaskan dari pabrik

amoniak. Desain yang dilakukan dalam injeksi CO2 ke reservoir minyak


adalah menentukan banyaknya air yang digunakan untuk menaikkan
tekanan reservoir sehingga proses pencampuran CO2 dengan minyak
dapat berlangsung, menentukan kebutuhan CO2 yang akan diinjeksikan
ke reservoir yang didorong oleh gas N2, menentukan tekanan injeksi
(dipermukaan) CO2 ke reservoir yang tidak melebihi tekanan formasi.