Anda di halaman 1dari 37

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Keuangan Daerah

HERTETI ROSPELITA, M.Si.


Kepala Seksi DAK

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Pemerintah
Pusat

Kewenangan
Sumber Pendanaan

APBN

APBD

Desentralisasi
Dekonsentrasi
Tugas
Pembantuan

Dana
transfer

PAD

DBH

Dana
Perimbangan

DAU

Lain-lain
Pendapatan
Penerimaan
Pembiayaan

APBN
pertanggungjawaban

Pemerintah
Daerah

APBN

DAK
SiLPA
Dana Cadangan
Penjualan
Kekayaan daerah
yang dipisahkan
Pinjaman

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Peraturan per-UU Bid Keuda


UU 17/2003; UU 32/2004
UU 33/2004; UU 1/2004
UU 15/2004;UU 25/2004
PP 55/2005

PKD
PP 58/2005
OMNIBUS REGULATIONS

PERDA

PERMENDAGRI 59 /2007
PERMENDAGRI 20/2009
PERMENDAGRI 59/2010

Peraturan KDH

PERMENDAGRI 27/2013
PERMENDAGRI 37/2014
3

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

ASAS UMUM APBD

1.

Disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan


pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah.

2.

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada


masyarakat untuk tercapainya tunjuan bernegara.

3.

APBD mempunyai fungsi Otorisasi, Perencanaan,


Pengawasan, Alokasi, Distribusi, Stabilisasi.

4.

APBD ditetapkan dengan PERDA.

5.

Semua Penerimaan dan


dianggarkan dalam APBD.

Pengeluaran

daerah

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

STRUKTUR APBD

APBD

Pendapatan

Belanja

Pembiayaan

KELOMPOK PENDAPATAN APBD


A. Pendapatan Asli Daerah:
1. Pajak Daerah
2. Retribusi Derah
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
4. Lain-lain PAD yang sah

B. Dana Perimbangan:
1. Dana Bagi Hasil
2. Dana Alokasi Umum
3. Dana Alokasi Khusus
C. Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah:
1. Hibah
2. Dana Darurat
3. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah
lainnya
4. Dana Penyesuaian & Dana OTSUS
5. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemda lainnya

KELOMPOK BELANJA APBD


A. Belanja Tidak Langsung:
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Bunga
3. Belanja Subsidi
4. Belanja Hibah
5. Belanja Bantuan Sosial
6. Belanja Bagi Hasil
7. Bantuan Keuangan
8. Belanja Tak Terduga

B. Belanja Langsung: (Kegiatan DAK)


1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang dan Jasa
3. Belanja Modal
Penganggaran belanja yang bersumber dari DAK dianggarkan pada SKPD yang
berkenaan sesuai dengan tugas dan fungsinya (Permendagri 37/2014)

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

PENGATURAN PENGADAAN BARANG DAN JASA


dalam rangka yang akan diserahkan kepada Masyarakat dan
Pihak ke-3

Belanja barang/jasa digunakan untuk menganggarkan pengadaan


barang dan jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas)
bulan dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan
daerah, termasuk barang yang akan diserahkan atau dijual kepada
masyarakat atau pihak ketiga.
(Pasal 50 ayat (1) Permendagri 21 Tahun 2011)

Penganggaran untuk pengadaan barang (termasuk berupa aset


tetap) yang akan diserahkan atau dijual kepada pihak
ketiga/masyarakat pada tahun anggaran berkenaan, dianggarkan
pada jenis belanja barang dan jasa.
(Permendagri 37 Tahun 2014)

KELOMPOK PEMBIAYAAN
A. Penerimaan Pembiayaan:
1. Selisih Lebih Perhitungan (SiLPA) Anggaran
Sebelumnya
2. Pencairan Dana Cadangan
3. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
4. Penerimaan Pinjaman Daerah
5. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman
6. Penerimaan Piutang Daerah

B. Pengeluaran Pembiayaan:
1.
2.
3.
4.

Pembentukan Dana Cadangan


Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman

Pembiayaan Neto (A B)

Tahun

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Postur DAK dalam APBD 2013


Rata-rata Kontribusi DAK thdp Total
Belanja Modal APBD 2013

10

RUANG LINGKUP
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

PERENCANAAN DAN
PENGANGGARAN

PENGELOLAAN
KEUANGAN
DAERAH

PELAKSANAAN DAN
PENATAUSAHAAN

AKUNTANSI DAN
PELAPORAN

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Proses Perencanaan & Penganggaran APBD


Tahun Anggaran 2015

Alokasi DAK dan Petunjuk Teknis terlambat diterima daerah


KOOR
PROG/KEG

RPJMD

BAPPEDA
MEI-2014

JUNI JULI 2014

RKPD

KUA & PPAS


JUKNIS/
PAGU

DES-2014
PERDA APBD &
PERKADA TTG
PENJABARAN
APBD

OKT-NOP 2014

AGUST-SEPT 2014

RAPBD

RKA-SKPD

Implikasi di Daerah:
1.APBD dan DPA
terlambat;
2.Kesulitan Dana
Pendamping;
3.Kendala dgn
PPKD/DPRD.

JUKNIS/
PAGU
JAN-DES 2015

SEP-OKT 2015

PELAKSANAAN
PROG&KEG

APBD-P

JANUARI 2015

DPA-SKPD

Rekomendasi

Tindak Lanjut:
Percepat pemberitahuan/
Juknis ke daerah
12

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

KEBIJAKAN PENGANGGARAN DAK


DALAM APBD

1. SEBAGAI AKIBAT ADANYA KETERLAMBATAN


PENYAMPAIAN PAGU DEFINITIF DAN JUKNIS DAK
SETELAH KUA/PPAS DITETAPKAN
2. SEBAGAI AKIBAT ADANYA KETERLAMBATAN
PENYAMPAIAN PAGU DEFINITIF DAN JUKNIS DAK
SETELAH PERDA APBD DITETAPKAN

KEMENTERIAN DALAM NEGERI


REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Keuangan Daerah

PENGANGGARAN
PAGU ALOKASI & KEG. DAK
Dalam hal Pemerintah Daerah menerima pagu alokasi
DAK setelah Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan
Prioritas Pagu Anggaran Sementara (PPAS) ditetapkan
(mengalami keterlambatan), dpt ditampung langsung
dalam pembahasan RAPBD dgn terlebih dahulu
mencantumkan klausul kesepakatan KUA dan PPAS
PERMENDAGRI 20/2009

KEMENTERIAN DALAM NEGERI


REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Keuangan Daerah

PENCANTUMAN KLAUSUL
DALAM KUA DAN PPAS
TUJUAN :
utk menyepakati pagu alokasi &
penggunaan DAK dalam rancangan Perda
tentang APBD
utk menjaga konsistensi antara materi
KUA dan PPAS dgn prog & keg DAK yang
ditetapkan dalam APBD.

PENCANTUMAN KLAUSUL DALAM KUA & PPAS


UTK PENYESUAIAN PAGU DEFINITIF DAK
(Permendagri 20/2009)

NOTA KESEPAKATAN
KUA DAN PPAS :

Hasil Kesepakatan
Panja Belanja
Daerah DPR

PAGU
DEFINITIF
ALOKASI DAK

Petunjuk Teknis
Masing-masing
bidang DAK

KONSISTENSI
KUA & PPAS DGN
RAPBD
(Psl 44 (2) PP 58/2005)

Sambil menunggu pagu alokasi


DAK
yang
ditetapkan
Pemerintah,
pagu
alokasi
tersebut
dapat
langsung
ditampung
dan/atau
disesuaikan pada saat proses
pembahasan RAPBD, mengacu
pada petunjuk teknis DAK,
tanpa
perlu
melakukan
perubahan Nota Kesepakatan
KUA dan PPAS.
Persetujuan bersama
RAPBD (31 Desember)

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

PENGANGGARAN DAK DALAM APBD

Terbatasnya akses informasi terkait rencana DAK sebagai acuan


dalam penyusunan rencana/penganggaran dalam APBD.

DAK
PMK tentang
Alokasi DAK
TA 2015

Tindak
Lanjut

Permendagri 37/2014 ttg Pedoman


Penyusunan APBD TA 2015
Di Daerah:

PMK
Belum
Ditetapkan

Alokasi DAK daerah


provinsi, kab/kota TA 2015
yang diinformasikan secara
resmi oleh Kemenkeu, atau
SE Menteri Keuangan
setelah RUU ttg APBN TA
2015 disetujui bersama
antara Pemerintah-DPR RI

Tdk ada proyeksi


alokasi DAK

Daerah mengacu
pada sumber
informasi resmi.

17

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Langkah-Langkah Pemda untuk Percepatan


Pelaksanaan DAK akibat adanya Keterlambatan
Penyampaian Juknis ke Daerah & Pagu Alokasi
Definitif Setelah Perda APBD ditetapkan
(Permendagri 37 Tahun 2014 Pedoman Penyusunan APBD TA 2015)

Menetapkan Peraturan Kepala


Daerah ttg Perubahan
Penjabaran APBD dan
memberitahukan kepada
Pimpinan DPRD;

Menyusun RKA-SKPD dan


mengesahkan DPA-SKPD
sebagai dasar pelaksanaan
kegiatan;

Lebih lanjut, ditampung dalam


Perda ttg Perubahan APBD
pd kode program/ kegiatan
berkenaan
.

3
18

KODIFIKASI PENGANGGARAN DAK

PP
38/2007

PP
41/2007
KELOMPOK

PENDAPATAN

JENIS DANA
PERIMBANG
AN

URUSAN
WAJIB/
PILIHAN

ORGANISASI

PROG
RAM

RINCIAN
OBYEK
BELANJA

OBYEK
BELANJA

JENIS
BELANJA

OBYEK:
DAU, DBH,
DAK

KEGIATAN

KELOMPOK
BELANJA

RINCIAN
OBYEK DAK
19 BID

KEMENTERIAN DALAM NEGERI


REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Keuangan Daerah

DISKRESI PENAMBAHAN PROGRAM


DAN KEGIATAN

Pasal 77 ayat (12) Permendagri Nomor 59 Tahun 2007


Lampiran kode rekening merupakan daftar nama

rekening dan kode rekening yang tidak merupakan


acuan baku dalam penyusunan kode rekening yang
pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan objektif
dan nyata sesuai karakteristik daerah.

Daerah diberikan diskresi untuk menambah/membuat

program dan kegiatan sesuai dengan kebutuhan


daerah, yang nomenklaturnya belum terdapat dalam
Lampiran A.VII Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
(Lampiran kode Program dan Kegiatan)

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Penganggaran DAK di Daerah


Pasal 60 PP55/2005 ttg Dana Perimbangan

o Penggunaan DAK dilaksanakan sesuai


dengan Petunjuk Teknis;
o DAK tidak dapat digunakan untuk
mendanai:
1) Administrasi kegiatan
2) Penyiapan kegiatan fisik
3) Penelitian, pelatihan dan
4) Perjalanan Dinas.

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

DANA PENDAMPING
Pasal 61 ayat (1) PP 55/2005 ttg Dana Perimbangan

o Penganggaran dana pendamping dalam APBD


wajib dialokasikan sekurang-kurangnya 10%
(sepuluh persen) dari jumlah alokasi DAK yang
ditetapkan masing-masing daerah.
o Kewajiban penyediaan Dana Pendamping
menunjukkan komitmen daerah terhadap
bidang kegiatan yang didanai dari DAK yang
merupakan kewenangan daerah

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

DANA PENDAMPING
Permendagri 20 tahun 2009 Pengelolaan Keuangan DAK di Daerah

o Penyusunan RKA-SKPD untuk dana


pendamping dilakukan menyatu dengan
kegiatan DAK.
o RKA-SKPD memuat informasi atas capaian
sasaran program, indikator masukan, keluaran
dan hasil dari setiap tolok ukur kinerja kegiatan
yang direncanakan.

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
KEGIATAN DAK BIDANG ....................
Provinsi/Kabupaten/Kota .
Tahun Anggaran ...
: x. xx.
Urusan Pemerintahan
: x. xx. xx.

Organisasi

Formulir

RKA - SKPD 2.2.1


.

.
: x. xx. xx. xx.
.
: x. xx. xx. xx. xx.
: .
: Rp .................. (......................................................)
: Rp ................ (.........................................................)
: Rp .................. (.......................................................)
: Rp .................. (........................................................)
: Rp .................. (........................................................)
Indikator & Tolok Ukur Kinerja Belanja Langsung
Tolok Ukur
Target Kinerja
Kinerja

Program
Kegiatan
Lokasi kegiatan
Jumlah Tahun n-1
Jumlah Tahun n
Jumlah Tahun n+1
Jumlah Tahun n+2
Jumlah Tahun n+3
Indikator

DAK
Capaian Program

1.000.000.000

Dana Pendamping

Jumlah

100.000.000 (10%)

Masukan
Keluaran
Hasil
Kelompok Sasaran Kegiatan :

1.100.000.000

Rincian Anggaran Belanja Langsung


menurut Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah
Rincian Penghitungan
Uraian
volume
satuan Harga satuan

Kode
Rekening

1
x

xx

xx
Jumlah
..,tanggal..
Kepala SKPD
(nama lengkap)

Keterangan
Tanggal Pembahasan
Catatan Hasil Pembahasan
No

Nama

:
:
:
Tim Anggaran Pemerintah Daerah:
NIP Jabatan

Tandatangan

Jumlah
(Rp)
6=(3 x 5)

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Dana Pendamping

Pasal 61 ayat (1) PP 55/2005 ttg Dana Perimbangan


o Dana Pendamping dlm APBD wajib dialokasikan sekurang2nya 10%
dari jlh alokasi DAK yang ditetapkan masing2 daerah.
o Kewajiban penyediaan Dana Pendamping menunjukkan komitmen
daerah terhadap bidang kegiatan yang didanai dari DAK yang
merupakan kewenangan daerah
o Dana pendamping dianggarkan utk kegiatan bersifat fisik (kegiatan
diluar kegiatan administrasi proyek, kegiatan penyiapan proyek fisik,
kegiatan penelitian, kegiatan pelatihan, kegiatan perjalanan pegawai
daerah, dan kegiatan umum lain yang sejenis).

Permendagri 20/2000 dan Permendagri 37/2014


Penyusunan RKA-SKPD untuk Dana Pendamping dilakukan menyatu
dengan kegiatan DAK.
Dimungkinkan untuk memanfaatkan saldo anggaran yg tersedia dalam
Sisa Lebih Penggunaan APBD TA sebelumnya atau menggesar Belanja
Tidak Terduga atau resecheduling kegiatan program dan kegiatan yg
kurang mendesak

25

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

DANA PENDAMPING
Pasal 61 ayat (2) PP 55/2005 ttg Dana Perimbangan

o Dana pendamping dianggarkan untuk kegiatan


yang bersifat fisik.
o kegiatan fisik adalah kegiatan diluar kegiatan
administrasi proyek, kegiatan penyiapan proyek
fisik, kegiatan penelitian, kegiatan pelatihan,
kegiatan perjalanan pegawai daerah, dan
kegiatan umum lain yang sejenis.

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Optimalisasi Penggunaan dan Minimalisasi Sisa DAK

Meningkatnya akumulasi Sisa DAK

Keg DAK
2015

Tindak
Lanjut

Daerah penerima DAK dpt melakukan optimalisasi penggunaan DAK dgn


merencanakan dan menganggarakan kembali kegiatan DAK dlm APBD tahun
berjalan, pada bidang yg sama serta mengacu pada Juknis yg telah ditetapkan,
sepanjang akumulasi nilai kontrak kegiatannya lebih kecil dari pagu bidang DAK-nya.
Sisa DAK: dana DAK yang telah disalurkan kepada pemda dan tidak seluruhnya
habis digunakan, dgn target kinerja sudah tercapai dan/atau target kinerja kegiatan
DAK belum tercapai, dianggarkan dalam APBD TA 2015 dengan ketentuan:

Sisa
DAK

Apabila target kinerja kegiatan sudah tercapai, sisa DAK dianggarkan untuk
menambah volume/target capaian program dan kegiatan pada bidang DAK yg
sama dan/atau untuk mendanai kegiatan pada bidang DAK tertentu sesuai
prioritas nasional dgn menggunakan Juknis TA sebelumnya atau Juknis TA 2015.
Dalam hal target kinerja kegiatan DAK belum tercapai, sisa DAK dimaksud
dianggarkan dalam APBD TA 2015 utk mendanai kegiatan yg sesuai pada bidang
DAK yang sama sesuai prioritas nasional dgn JuknisTA sebelumnya.
Kegiatan yang dibiayai dari sisa DAK harus selesai dan dapat dimanfaatkan pada
27
akhir tahun anggaran berkenaan.

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Perubahan Tujuan dan Sasaran


Penggunaan DAK
Apabila terjadi perubahan tujuan dan sasaran
penggunaan DAK dari yang telah ditetapkan
dalam petunjuk teknis DAK dan/atau Perda
tentang APBD, maka sebelum dilaksanakan
perubahan perlu dikonsultasikan untuk
mendapat persetujuan dari Menteri teknis
terkait setelah terlebih dahulu mendapat
pertimbangan Menteri Dalam Negeri, yang
selanjutnya dijadikan dasar persetujuan DPRD.
Permendagri 20/2009
Pedoman Pengelolaan Keuangan DAK di Daerah

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

PERUBAHAN PENGGUNAAN DAK

Kendala dalam penyesuaian atau perubahan penggunaan DAK


untuk kegiatan yang belum atau sudah dilaksanakan

Rekomendasi

Kegiatan belum dilaksanakan:

Dikonsultasikan untuk mendapat persetujuan dari Menteri


teknis terkait setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan
Menteri Dalam Negeri, yang selanjutnya dijadikan dasar
persetujuan DPRD.

Permendagri 20/2009 ttg Pedoman Pengelolaan Keuangan DAK di Daerah

Kegiatan sudah dilaksanakan:

Penegasan status barang/aset sebelum diubah penggunaannya ,


melalui audit oleh instansi yang kompeten/berwenang.

29

Surat Edaran Bersama MENDAGRI dan Kepala LKPP


No: 027/5308/SJ dan No: 6/SE/KA/2012
Tgl. 27 Desember 2012
Tentang Percepatan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

30

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Koordinasi Penyusunan Juknis DAK

PERMENDAGRI
NO. 71/2011
ttg Koordinasi
Penyusunan
Juknis DAK

Dibentuk Pokja dgn


anggota: Kemen.PPN/
Bappenas; Kemenkeu:
dan Kemendagri (+Sekber
DAK).
Tugas mengkoordinasikan
penyusunan Juknis DAK yg
disusun oleh KL/LPNK.

Pertimbangan: untuk koordinasi penyusunan


Juknis DAK sebagaimana Pasal 59 ayat (2) PP
No. 55/2005 ttg Dana Perimbangan.
Tujuan: sinkronisasi rancangan Juknis DAK yg
telah disusun oleh KL/LPNK dgn prinsip
penyelenggaraan Otda dan prioritas
pembangunan nasional.

Sinkronisasi meliputi:
1. Ketepatan jadwal penetapan Juknis;
2. Kesesuaian penggunaan/pemanfaatan DAK pd
masing2 bidang dgn pencapaian prioritas nas;
3. Keselarasan dgn prinsip penyelenggaraan Otda;
4. Kesesuaian dengan penglolaan keuangan.
Output/outcome based mengacu pada RKP
31

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Beberapa Permasalahan dan Tantangan

1. Perencanaan dan penganggaran DAK belum didukung dengan


sistem dan data yang akurat sehingga belum dapat
merefleksikan sesuai kondisi dan karakteristik daerah.
2. Ketidaksesuaian Juknis dengan kebutuhan daerah sebagai akibat
rigidnya Juknis tersebut; keterlambatan Juknis dan seringnya
terjadi perubahan; serta aturan Juknis yg bertentangan dgn
beberapa peraturan di bidang lainnya, misalnya dengan aturan
pengelolaan keuangan daerah.
3. Rendahnya daya serap DAK yang secara umum disebabkan
Penetapan Perda APBD terlambat, dan adanya keraguan
aparat/pejabat pengelola kegiatan dalam menerapkan peraturan
per-UU-an terkait dengan pengadaan barang dan jasa, serta
dana pendamping yang belum tersedia.
4. Masih ditemukan inefisiensi anggaran yang disebabkan
kurangnya pemahaman dalam menerapkan kebijakan
pengelolaan DAK.

32

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Langkah oleh daerah: antara lain

1. Agar segera bersiap utk perencanaan dan penganggaran DAK TA


2015 sesuai prioritas nasional mengacu pada RKP 2015.
2. Meningkatkan penyediaan data-data teknis, koordinasi pengelolaan
DAK secara utuh dan terpadu, sinkronisasi kegiatan DAK dengan
kegiatan lain yang didanai APBN maupun APBD, serta
meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan DAK.
3. Dalam hal Pemda memperoleh DAK setelah Perda tentang APBD
ditetapkan dan belum dianggarkan dalam APBD, maka untuk
menghindari terlambatnya pelaksanaan DAK, Pemda dapat
melaksanakan DAK dimaksud mendahului penetapan Perda
Perubahan sesuai mekanisme yang diatur dalam Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.
4. Bagi Daerah penerima DAK yang belum mencantumkan secara pasti
lokasi/tempat pembangunan, (berdampak terhadap keterlambatan
pelaksanaan kegiatan), dihimbau agar sejak awal sudah dapat
ditetapkan dan dikonsultasikan dengan DPRD dan satuan kerja
33
terkait.

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Lanjutan

5. Menghindari rendahnya daya serap DAK sampai akhir tahun, dengan


beberapa langkah seperti:
Menetapkan Perda tentang APBD secara tepat waktu, serta pemenuhan persyaratan
dalam rangka penyaluran DAK secara bertahap;
Membentuk Tim dalam rangka membantu SKPD mengatasi berbagai hambatan dan
permasalahan.
DAK yg telah disalurkan ke rekening kas daerah dimungkinkan pencairannya untuk
satu atau dua bidang;
Kegiatan-kegiatan DAK yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga (kontrak)
dilaksanakan sesuai ketentuan dan jadwal pelaksanaan;
PPK-SKPD melakukan upaya percepatan/kelancaran dengan tetap meningkatkan
ketelitian dokumen yg dipersyaratkan;
PPKD selaku BUD melakukan upaya percepatan pencairan dana dan permintaan
pencairan dana dari Pemerintah sesuai tahapan;
Mengkoordinassikan Kepala SKPD menyampaikan laporan realisasi DAK kepada
PPKD secara akurat dan tepat waktu;
Mengkoordinasikan, mengevaluasi dan memantau perkembangan pelaksanaan DAK
di masing-masing SKPD.
34

Lanjutan
Kemeterian Dalam Negeri
Sekretariat Jenderal

6. Agar dalam penganggarannya mempedomani standar biaya dan/atau


standar satuan harga yang ditetapkan dalam Keputusan Kepala Daerah,
dengan mengacu pada harga satuan konstruksi bangunan (basic price)
yang ditetapkan oleh instansi terkait yang disesuaikan dengan harga
yang berlaku setempat.
7. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari
DAK
tetap mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta perubahannya.
Untuk mempercepat pelaksanaan pengadaan barang/jasa atas kegiatan
DAK yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga atau melalui proses
kontraktual, sudah diterbitkan kebijakan bersama antara Mendagri
dengan Kepala LKPP berupa Surat Edaran Bersama No.027/5308/SJ
dan No.6/SE/KA/2012 tentang percepatan Pelaksanaan Pengadan
Barang dan Jasa Pemerintah dimana proses pengadaan barang/jasa dapat
dilakukan setelah RAPBD disetujui bersama antara Kepala Daerah dan
DPRD.
35

Kemeterian Dalam Negeri


Sekretariat Jenderal

Lanjutan

8. Agar taat azas dan tepat waktu khususnya dalam


menyampaikan laporan realisasi keuangan kepada
Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Teknis terkait sesuai mekanisme peraturan
perundang-undangan,
karena
terkait
dengan
pelaksanaan penyaluran tahap berikutnya serta
kinerja pelaporan untuk dijadikan pertimbangan
pengalokasian DAK tahun berikutnya.

36

KEMENTERIAN DALAM NEGERI


REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Keuangan Daerah

SUBDIT FASILITASI DAK


DIREKTORAT FASILITASI DANA PERIMBANGAN
DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH
KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Jalan Veteran Nomor 7, Jakarta 10110, Telp/Fax. (021) 3504042

http//keuda.kemendagri.go.id

Email: dak.djkd@kemendagri.go.id

Terima Kasih