Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN ULKUS DIABETIKUM

DI POLIKLINIK DALAM RS DR MOEWARDI

DISUSUN OLEH :
1. ROHMAN
2. NURING WIDYAWATI
3. SANTI NIRMAWATI
4. WUNGU MUSTIKA JINGGA
5. YULISKA ISDAYANTI

P27220011 199
P27220011
P27220011 200
P27220011 204
P27220011 206

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN NEGERI SURAKARTA
DIV KEPERAWATAN DM DAN EDUKATOR
2014
BAB I

TINJAUAN TEORI
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian

Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan ulkus
adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman saprofit. Adanya
kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga
merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati
perifer, (Andyagreeni, 2010).
Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai
sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Kadar LDL
yang tinggi memainkan peranan penting untuk terjadinya Ulkus Uiabetik untuk
terjadinya Ulkus Diabetik melalui pembentukan plak atherosklerosis pada dinding
pembuluh darah, (zaidah 2005).
Ulkus kaki Diabetes (UKD) merupakan komplikasi yang berkaitan dengan
morbiditas akibat Diabetes Mellitus. Ulkus kaki Diabetes merupakan komplikasi
serius akibat Diabetes, (Andyagreeni, 2010).
2. Penyebab

Faktor-faktor yang berpengaruh atas terjadinya ulkus diabetikum dibagi menjadi


faktor endogen dan ekstrogen.
a. Faktor endogen
1) Genetik, metabolik.
2) Angiopati diabetik.
3) Neuropati diabetik.
b. Faktor ekstrogen
1) Trauma.
2) Infeksi.
3) Obat.

Faktor utama yang berperan pada timbulnya ulkus Diabetikum adalah


angiopati, neuropati dan infeksi. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan hilang
atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa
terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki. Gangguan motorik juga akan
mengakibatkan terjadinya atrofi pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang
menyebabkan ulserasi pada kaki klien. Apabila sumbatan darah terjadi pada
pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit pada tungkainya
sesudah ia berjalan pada jarak tertentu.
Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan
nutrisi, oksigen serta antibiotika sehingga menyebabkan terjadinya luka yang sukar
sembuh (Levin, 1993) infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai Ulkus
Diabetikum akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angipati
dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan Ulkus Diabetikum.(Askandar 2001).
3. Patofisiologi

Penyakit Diabetes membuat gangguan/ komplikasi melalui kerusakan pada


pembuluh darah di seluruh tubuh, disebut angiopati diabetik. Penyakit ini berjalan
kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular)
disebut makroangiopati, dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut
mikroangiopati. Ulkus Diabetikum terdiri dari kavitas sentral biasanya lebih besar
dibanding pintu masuknya, dikelilingi kalus keras dan tebal. Awalnya proses
pembentukan ulkus berhubungan dengan hiperglikemia yang berefek terhadap saraf
perifer, kolagen, keratin dan suplai vaskuler. Dengan adanya tekanan mekanik
terbentuk keratin keras pada daerah kaki yang mengalami beban terbesar. Neuropati
sensoris perifer memungkinkan terjadinya trauma berulang mengakibatkan terjadinya
kerusakan jaringan dibawah area kalus. Selanjutnya terbentuk kavitas yang membesar
dan akhirnya ruptur sampai permukaan kulit menimbulkan ulkus. Adanya iskemia
dan penyembuhan luka abnormal manghalangi resolusi.

Mikroorganisme yang masuk mengadakan kolonisasi didaerah ini. Drainase


yang inadekuat menimbulkan closed space infection. Akhirnya sebagai konsekuensi
sistem imun yang abnormal, bakteria sulit dibersihkan dan infeksi menyebar ke
jaringan sekitarnya, (Anonim 2009).
4. Manifestasi Klinik

Ulkus Diabetikum akibat mikriangiopatik disebut juga ulkus panas walaupun


nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan dan
biasanya teraba pulsasi arteri dibagian distal . Proses mikroangipati menyebabkan
sumbatan pembuluh darah, sedangkan secara akut emboli memberikan gejala klinis 5
P yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Pain (nyeri).
Paleness (kepucatan).
Paresthesia (kesemutan).
Pulselessness (denyut nadi hilang)
Paralysis (lumpuh).
Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola dari

fontaine menurut Smeltzer dan Bare (2001: 1220):


a.
b.
c.
d.

Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas (kesemutan).


Stadium II : terjadi klaudikasio intermiten
Stadium III : timbul nyeri saat istitrahat.
Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia (ulkus).
Klasifikasi :

Wagner (1983) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan, yaitu:

University of Texas membagi ulkus berdasarkan dalamnya ulkus dan membaginya


lagi berdasarkan adanya infeksi atau iskemi. Adapun sistem Texas ini meliputi :

Klasifikasi SAD (Size, Sepsis, Arteriopathy, Depth and Denervation)


mengelompokkan ulkus ke dalam 4 skala berdasarkan 5 bentukan ulkus (ukuran,
kedalaman, sepsis, arteriopati, dan denervasi). The International Working Group on
the Diabetic Foot telah mengusulkan Klasifikasi PEDIS dimana membagi luka
berdasarkan 5 ciri berdasarkan: Perfusion, Extent, Depth, Infection dan Sensation.
Berdasarkan Guideline The Infectious Disease of America, mengelompokkan
kaki diabetik yang terinfeksi dalam beberapa kategori, yaitu :
a. Mild : terbatas hanya pada kulit dan jaringan subkutan
b. Moderate : lebih luas atau sampai jaringan yang lebih dalam
c. Severe :disertai gejala infeksi sistemik atau ketidakstabilan metabolik
5. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik pada ulkus diabetikum adalah :


a. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi

Denervasi kulit menyebabkan produktivitas keringat menurun, sehingga kulit


kaki kering, pecah, rabut kaki / jari (-), kalus, claw toe. Ulkus tergantung saat
ditemukan ( 0 5 )
2) Palpasi
a) Kulit kering, pecah-pecah, tidak normal
b) Klusi arteri dingin, pulsasi tidak ada
c) Ulkus : kalus tebal dan keras.
b. Pemeriksaan fisik
1) Penting pada neuropati untuk cegah ulkus
2) Nilon monofilament 10 G
3) Nilai positif : nilon bengkok, tetapi tidak terasa
4) Positif 4 kali pada 10 tempat berbeda : spesifisitas (97%), sensitifitas (83%).
c. Pemeriksaan vaskuler

Tes vaskuler noninvasif : pengukuran oksigen transkutaneus, ankle brachial


index (ABI).
d. Pemeriksaan Radiologis : gas subkutan, benda asing, osteomielitis
e. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
1) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl
dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
2) Urine

Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan


dengan cara Benedict ( reduksi ).
3) Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai
dengan jenis kuman.

7. Penatalaksanaan Keperawatan Ulkus Kaki Diabetik


Penatalaksanaan ulkus diabetik dilakukan secara komprehensif melalui
upaya; mengatasi penyakit komorbid, menghilangkan/mengurangi tekanan beban
(offloading), menjaga luka agar selalu lembab (moist), penanganan infeksi,

debridemen, revaskularisasi dan tindakan bedah elektif, profilaktik, kuratif atau


emergensi.
Penyakit DM melibatkan sistem multi organ yang akan mempengaruhi
penyembuhan

luka.

Hipertensi,

hiperglikemia,hiperkolesterolemia,

gangguan

kardiovaskular (stroke, penyakit jantung koroner), gangguan fungsi ginjal, dan


sebagainya harus dikendalikan.
a. Debridemen

Tindakan debridemen merupakan salah satu terapi penting pada kasus ulkus
diabetika. Debridemen dapat didefinisikan sebagai upaya pembersihkan benda
asing dan jaringan nekrotik pada luka. Luka tidak akan sembuh apabila masih
didapatkan jaringan nekrotik, debris, calus, fistula/rongga yang memungkinkan
kuman berkembang. Setelah dilakukan debridemen luka harus diirigasi dengan
larutan garam fisiologis atau pembersih lain dan dilakukan dressing (kompres).
Ada beberapa pilihan dalam tindakan debridemen, yaitu
1) Debridemen mekanik dilakukan menggunakan irigasi luka cairan fisiolofis,

ultrasonic laser, dan sebagainya, dalam rangka untuk membersihkan


jaringan nekrotik.
2) Debridemen secara enzimatik dilakukan dengan pemberian enzim eksogen
secara topikal pada permukaan lesi. Enzim tersebut akan menghancurkan
residu residu protein. Contohnya, kolagenasi akan melisikan kolagen dan
elastin. Beberapa jenis debridement yang sering dipakai adalah papin,
DNAse dan fibrinolisin.
3) Debridemen autolitik terjadi secara alami apabila seseorang terkena luka.

Proses ini melibatkan makrofag dan enzim proteolitik endogen yang secara
alami akan melisiskan jaringan nekrotik. Secara sintetis preparat hidrogel
dan hydrocolloid dapat menciptakan kondisi lingkungan yang optimal bagi
fagosit tubuh dan bertindak sebagai agent yang melisiskan jaringan nekrotik
serta memacu proses granulasi. Belatung (Lucilla serricata) yang disterilkan

sering digunakan untuk debridemen biologi. Belatung menghasilkan enzim


yang dapat menghancurkan jaringan nekrotik.
4) Debridemen bedah merupakan jenis debridemen yang paling cepat dan

efisien. Tujuan debridemen bedah adalah untuk :


a) mengevakuasi bakteri kontaminasi,
b)
mengangkat jaringan nekrotik sehingga

dapat

mempercepat

penyembuhan,
c) Menghilangkan jaringan kalus,
d) mengurangi risiko infeksi lokal.
b. Mengurangi beban tekanan (off loading)

Pada saat seseorang berjalan maka kaki mendapatkan beban yang besar.
Pada penderita DM yang mengalami neuropati permukaan plantar kaki mudah
mengalami luka atau luka menjadi sulit sembuh akibat tekanan beban tubuh
maupun iritasi kronis sepatu yang digunakan.
Salah satu hal yang sangat penting namun sampai kini tidak mendapatkan
perhatian dalam perawatan kaki diabetik adalah mengurangi atau menghilangkan
beban pada kaki (off loading).
Upaya off loading berdasarkan penelitian terbukti dapat mempercepat
kesembuhan ulkus. Metode off loading yang sering digunakan adalah:
mengurangi kecepatan saat berjalan kaki, istirahat (bed rest), kursi roda, alas
kaki, removable cast walker, total contact cast, walker, sepatu boot
ambulatory.Total contact cast merupakan metode off loading yang paling efektif
dibandingkan metode yang lain.
c. Tehnik Dressing pada luka Diabetikum

Tehnik dressing pada luka diabetes yang terkini menekankan metode moist
wound healing atau menjaga agar luka dalam keadaan lembab. Luka akan
menjadi cepat sembuh apabila eksudat dapat dikontrol, menjaga agar luka dalam
keadaan lembab, luka tidak lengket dengan bahan kompres, terhindar dari infeksi
dan permeabel terhadap gas. Tindakan dressing merupakan salah satu komponen

penting dalam mempercepat penyembuhan lesi. Prinsip dressing adalah


bagaimana menciptakan suasana dalam keadaan lembab sehingga dapat
meminimalisasi trauma dan risiko operasi. Ada beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan dalam memilih dressing yang akan digunakan, yaitu tipe ulkus,
ada atau tidaknya eksudat, ada tidaknya infeksi, kondisi kulit sekitar dan biaya.
Ovington memberikan pedoman dalam memilih dressing yang tepat dalam
menjaga keseimbangan kelembaban luka:
1) Kompres harus mampu memberikan lingkungan luka yang lembab
2) Gunakan penilaian klinis dalam memilih kompres untuk luka luka

tertentu yang akan diobati


3) Kompres yang digunakan mampu untuk menjaga tepi luka tetap kering
selama sambil tetap mempertahankan luka bersifat lembab
4) Kompres yang dipilih dapat mengendalikan eksudat dan tidak
menyebabkan maserasi pada luka
5) Kompres yang dipilih bersifat mudah digunakan dan yang bersifat tidak

sering diganti
6) Dalam menggunakan dressing, kompres dapat menjangkau rongga luka
sehingga dapat meminimalisasi invasi bakteri.
7) Semua kompres yang digunakan harus dipantau secara tepat.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian

Menurut Doenges (2000: 726), data pengkajian pada pasien dengan Diabetes Mellitus
bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh
fungsi pada organ, data yang perlu dikaji meliputi :
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan, kram otot
Tanda : Penurunan kekuatan otot, letargi, disorientasi, koma

b. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, ulkus pada kaki, IM akut
Tanda : Nadi yang menurun, disritmia, bola mata cekung
c. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih ( poliuri ), nyeri tekan abdomen
Tanda : Urine berkabut, bau busuk ( infeksi ), adanya asites.
d. Makanan / cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual / muntah, penurunan BB, haus
Tanda : Turgor kulit jelek dan bersisik, distensi abdomen
e. Neurosensori
Gejala : Pusing, sakit kepala, gangguan penglihan
Tanda : Disorientasi, mengantuk, letargi, aktivitas kejang
f. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan abdomen
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi
g. Pernafasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum
Tanda : Lapar udara, frekuensi pernafasn
h. Seksualitas
Gejala : Impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita
i. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, penyakit jantung, strok, hipertensi
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan Diabetes Millitus secara teori mnurut (Carpenito, Lyna juall.
2000).
a. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya

aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.


b. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan kerusakan status metabolik.

10

c. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.


d. Ganguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

penyakit kronis akibat tingginya kadar gula darah .


e. Potensial terjadinya penyebaran infeksi (sepsis) berhubungan dengan pertahanan
f.

tubuh primer indekuat.


Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.

3. Fokus Intrvensi dan Rasional


a. Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke

daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.


Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal.
Kriteria Hasil :
1)
2)
3)
4)
5)

Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler


Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosi.
Kulit sekitar luka teraba hangat.
Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.
Sensorik dan motorik membaik

Rencana tindakan :
1) Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi

Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.


2) Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah :
Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu
istirahat), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari
penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya.
Rasional: meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak
terjadi oedema.
3) Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa :

Hindari diet tinggi kolestrol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan


merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi.
Rasional: kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis,
merokok dapat menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah,
relaksasi untuk mengurangi efek dari stres.
4) Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator,

pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen.

11

Rasional: pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah


sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula
darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien,
terapi oksigen untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.
b. Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan kerusakan status metabolik.

Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka.


Kriteria hasil :
1)
2)
3)
4)

Berkurangnya oedema sekitar luka.


Pus dan jaringan nekrotik berkurang
Adanya jaringan granulasi.
Bau busuk luka berkurang.

Rencana tindakan :
1) Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.

Rasional: Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan


akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2) Rawat luka dengan baik dan benar : Membersihkan luka secara abseptik
menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang
menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
Rasional: Merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi
luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul,
sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus
pemeriksaan gula darah pemberian antibiotik.
Rasional: insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur
pus untuk mengetahui jenis kuman dan antibiotik yang tepat untuk
pengobatan,

pemeriksaan

kadar

gula

darah

untuk

mengetahui

perkembangan penyakit.
c. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.

Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.

12

Kriteria Hasil :
1) Pergerakan paien bertambah luas
2) Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk,

berdiri, berjalan ).
3) Rasa nyeri berkurang.
4) d.Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan
kemampuan.
Rencana tindakan :
1) Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.

Rasional : Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.


2) Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga
kadar gula darah dalam keadaan normal.
Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif
dalam tindakan keperawatan.
3) Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesuai

kemampuan.
Rasional : Untuk melatih otot otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.
4) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.
5) Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan
tenaga fisioterapi.
Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi
untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
d. Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan

dengan penyakit kronis akibat tingginya kadar gula darah.


Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
1)
2)
3)
4)

Berat badan dan tinggi badan ideal.


Pasien mematuhi dietnya.
Kadar gula darah dalam batas normal.
Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

Rencana Tindakan :
1) Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.

13

Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien


sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
2) Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya


hipoglikemia/hiperglikemia.
3) Timbang berat badan setiap seminggu sekali.

Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan


merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).
4) Identifikasi perubahan pola makan.

Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang


ditetapkan.
5) Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet

diabetik.
Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke
dalam jaringan sehingga gula darah menurun, pemberian diet yang sesuai
dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.
g. Potensial terjadinya penyebaran infeksi (sepsis) berhubungan dengan pertahanan

tubuh primer indekuat.


Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis).
Kriteria Hasil :
1) Tanda-tanda infeksi tidak ada.
2) Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S: 36 -37,50C )
3) Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.

Rencana tindakan :
1) Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka.

Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat


membantu menentukan tindakan selanjutnya.
2) Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri

selama perawatan.
Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk
mencegah infeksi kuman.
3) Lakukan perawatan luka secara aseptik.

Rasional : Untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi.

14

4) Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang

ditetapkan.
Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya
tahan tubuh, pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga
memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi.
5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin.

Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman, pemberian insulin akan


menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan akan lebih
cepat.
e. Kurangnya

pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan

pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.


Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil:
1) Pasien

mengetahui

tentang

proses

penyakit,

diet,

perawatan

dan

pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.


2) Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan

yang diperoleh.
Rencana Tindakan :
1) Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren.

Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu


mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui
pasien/keluarga.
2) Kaji latar belakang pendidikan pasien.

Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan


kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat
pendidikan pasien.
3) Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada
pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga
tidak menimbulkan kesalahpahaman.

15

4) Jelasakan prosedur yang akan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan

libatkan pasien didalamnya.


Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secara langsung dalam
tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya
berkurang.
5) Gunakan

gambar-gambar

dalam

memberikan

penjelasan

jika

ada/memungkinkan).
Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah
diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

16

Doenges, M.E.et all. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. (edisi 3). Jakarta:
EGC
http://internisjournal.blogspot.com/2009/02/ulkus-diabetikum.html

diakses

pada tanggal 13 Desember 2014


http://medicom.blogdetik.com/2009/03/11/ulkus-diabetik-2/

diakses

pada

tanggal 13 Desember 2014


http://yumizone.wordpress.com/2008/12/01/kaki-diabetik/

diakses

pada

tanggal 13 Desember 2014


Nurlatifah, Gita (2010). Makalah Ilmiah: Asuhan Keperawatan pada klien
dengan Diabetes Mellitus. Jakarta: tidak dipublikasikan
Smeltzer and Bare.(2002). Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
dan Suddarth edisi 8. Jakarta: EGC
Scheffler NM, 2004 Nov-Dec, Innovative treatment of a diabetic ulcer: a
case study. ): 111-2 (journal article - case )

17