Anda di halaman 1dari 32

I.

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang

Segala sesuatu sekarang memerlukan pangetahuan atau sering kita sebut ilmu
pengetahuan. Salah satunya pengetahuan yang kita pelajari sekarang adalah pengetahuan
Sumber Daya Air. Pelajaran ini sangat penting karena pengetahuan ini penting untuk kita dalam
hal pembuatan pembangunan dibidang pengairan dan didalam bidang lainnya. Pengembangan
Sumber Daya Air ( Water Resources ) memerlukan adanya konsepsi. Perencanaan,
perancangan, konstruksi dan operasi fasilitas-fasilitas untuk pengendalian dan pemanfaatan air
pada dasarnya hal-hal tersebut merupakan tugas para insinyur sipil, tetapi jasa-jaha para ahli
dibidang lain juga dibutuhkan. Setiap proyek pengembangan sumber daya air akan menghadapi
seperangkat konsisi fisik yang unik yang harus diatasi secara khusus, sehingga desain buku
pedoman

(standar)

yang

menuju kepada penyelesaian yang

sederhana, yang bersandar pada buku pedoa ( handbook ), jarang dapat digunakan. Kondisi
kondisi khusus setiap proyek harus diatasi melalui penerapan pengetahuaan dasar berbagai
disiplin ilmu secara terpadu.
2. Tujuan
Sumber daya air ini kita pelajari bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan
,seperti pengendalian banjir, drainasi lahan, pembuangan limbah, serta desain gotong-royong
jalan raya merupakan penerapan teknik suber daya air pada pengendalian air (control of
water), sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang berlebihan terhadap harta benda,
gangguan terhadap masyarakat, atau kehilangan nyawa. Penyediaan air, irigasi,
pengembangan tenaga-hidroelektrik, serta peyempurnaan alur pelayanan adalah contohcontoh dari pemanfaatan air (ulitization of water) untuk tujuan-tujuan yang berguna.
Pencemaran mengancam penggunaan air untuk keperluan kota serta irigasi

-1-

disamping sangat merusak nilai keindahan sungai. Oleh karena itu pengendalian
pencemaran atau pengelolaan mutu air ( water-quality management) telah menjadi tahapan
yang penting dalam teknik sumber daya air.

-2-

II. PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Sumber Daya Air
Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi
manusia. Kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga,
rekreasi dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan
air tawar.
97% air di bumi adalah air asin, dan hanya 3% berupa air tawar yang lebih dari 2 per
tiga bagiannya berada dalam bentuk es di glasier dan es kutub. Air tawar yang tidak membeku
dapat ditemukan terutama di dalam tanah berupa air tanah, dan hanya sebagian kecil berada
di atas permukaan tanah dan di udara.
Air adalah sumber daya terbarukan, meski suplai air bersih terus berkurang.
Permintaan air telah melebihi suplai di beberapa bagian di dunia dan populasi dunia terus
meningkat yang mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap air bersih. Perhatian
terhadap kepentingan global dalam mempertahankan air untuk pelayanan ekosistem telah
bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan basah bersama
dengan nilai pelayanan ekosistemnya. Ekosistem air tawar yang tinggi biodiversitasnya saat ini
terus berkurang lebih cepat dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat.
a.

Senyawa Kimia didalam Air


Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satusatunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga

wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan
kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik.
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas
dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak
berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada

-3-

tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C). Zat kimia ini merupakan
suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia
lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul
organik.
Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia.
Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan
temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen
(H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-).
b. Jenis-jenis Air di Bumi
Air Merupakan sumber utama bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi ini, air
hampir menutupi 71% permukaan bumi. Air di katakan sebagai sumber kehidupan karena
tanpa air manusia, hewan dan tumbuhan serta penghuni kehidupan dimuka bumi ini tidak bisa
berlangsung.
Air juga melangalami sebuah sirkulasi yang biasa disebut dengan siklus air atau siklus
hidrologi, sebelum beranjak lebih jauh ada baiknya anda memahami pengertian air atau definisi
air.

Sedangkan pembagian jenis jenis air di kategorikan menjadi dua bagian, diantaranya
ialah :
Air permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat di sungai, danau, atau rawa air tawar. Air
permukaan secara alami dapat tergantikan dengan presipitasi dan secara alami menghilang
akibat aliran menuju lautan, penguapan, dan penyerapan menuju ke bawah permukaan.
Meski satu-satunya sumber alami bagi perairan permukaan hanya presipitasi dalam area
tangkapan air, total kuantitas air dalam sistem dalam suatu waktu bergantung pada banyak
faktor. Faktor-faktor tersebut termasuk kapasitas danau, rawa, dan reservoir buatan,
permeabilitas tanah di bawah reservoir, karakteristik aliran pada area tangkapan air, ketepatan
waktu presipitasi dan rata-rata evaporasi setempat.

Semua faktor tersebut juga memengaruhi besarnya air yang menghilang dari aliran
permukaan.
-4-

Aktivitas manusia memiliki dampak yang besar dan kadang-kadang menghancurkan


faktor-faktor tersebut. Manusia seringkali meningkatkan kapasitas reservoir total dengan
melakukan pembangunan reservoir buatan, dan menguranginya dengan mengeringkan lahan
basah. Manusia juga sering meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan
pembuatan saluran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi.
Air Sungai bawah tanah
Total volume air yang dialirkan dari daratan menuju lautan dapat berupa kombinasi aliran
air yang dapat terlihat dan aliran yang cukup besar di bawah permukaan melalui bebatuan dan
lapisan bawah tanah yang disebut dengan zona
hiporeik (hyporheic zone). Untuk beberapa sungai di lembah-lembah yang besar,
komponen aliran yang "tidak terlihat" mungkin cukup besar dan melebihi aliran permukaan.
Zona hiporeik seringkali membentuk hubungan dinamis antara perairan permukaan dengan
perairan subpermukaan dengan saling memberi ketika salah satu bagian kekurangan air. Hal
ini terutama terjadi di area karst di mana lubang tempat terbentuknya hubungan antara sungai
bawah tanah dan sungai permukaan cukup banyak.

Air Tanah
Air tanah adalah air tawar yang terletak di ruang pori-pori antara tanah dan bebatuan
dalam. Air tanah juga berarti air yang mengalir di lapisan aquifer di bawah water table.
Terkadang berguna untuk membuat perbedaan antara perairan di bawah permukaan yang
berhubungan erat dengan perairan permukaan dan perairan bawah tanah dalam di aquifer
(yang kadang-kadang disebut dengan "air fosil").
Sistem perairan di bawah permukaan dapat disamakan dengan sistem perairan
permukaan dalam hal adanya input, output, dan penyimpanan. Perbedaan yang paling
mendasar adalah kecepatan dan kapasitasnya; air tanah mengalir dengan kecepatan
bervariasi, antara beberapa hari hingga ribuan tahun untuk muncul kembali ke

perairan permukaan dari wilayah tangkapan hujan, dan air tanah memiliki kapasitas
penyimpanan yang jauh lebih besar dari perairan permukaan.
Input alami dari air tanah adalah serapan dari perairan permukaan, terutama wilayah
tangkapan air hujan. Sedangkan output alaminya adalah mata air dan serapan menuju lautan.
-5-

Air tanah mengalami ancaman berarti menghadapi penggunaan berlebihan, misalnya


untuk mengairi lahan pertanian. Penggunaan secara belebihan di area pantai dapat
menyebabkan mengalirnya air laut menuju sistem air tanah, menyebabkan air tanah dan tanah
di atasnya menjadi asin (intrusi air laut. Selain itu, manusia juga dapat menyebabkan air tanah
terpolusi, sama halnya dengan air permukaan yang menyebabkan air tanah tidak dapat
digunakan.
Desalinasi
Desalinasi adalah proses buatan untuk mengubah air asin (umumnya air laut) menjadi air
tawar. Proses desalinasi yang paling umum adalah destilasi dan osmosis terbalik. Desalinasi
saat ini cukup mahal jika dibandingkan dengan mengambil langsung dari sumber air tawar,
hanya sebagian kecil kebutuhan manusia terpenuhi melalui desalinasi. Proses ini terjadi secara
ekstensif di Teluk Persia untuk mensuplai air bagi beberapa wilayah di Timur Tengah dan
fasilitas wisata dan perhotelan di wilayah tersebut.
Air Beku
Es yang membeku di kutub dan glasier berpotensi untuk dijadikan sumber air tawar
karena dua per tiga air tawar dunia berada dalam bentuk es. Beberapa skema telah diajukan
untuk menjadikan gunung es di kutub sebagai sumber air, namun hingga saat ini hal itu hanya
sekedar rencana. Aliran glasier saat ini dikatakan sebagai salah satu perairan permukaan.
Himalaya, "Atap Dunia" mengandung glasier dan es dalam jumlah besar di luar wilayah
kutub, dan menjadi sumber dari sepuluh sungai besar di Asia yang menghidupi miliaran
manusia. Masalah yang terjadi saat ini adalah peningkatan

temperatur dunia yang cukup cepat, Nepal saat ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar
0,6 derajat celcius sejak sepuluh tahun lalu, sementara dunia mengalami peningkatan sebesar 0,7
sejak ratusan tahun yang lalu.

-6-

II.2. Landasan Hukum PSDA


Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1.
Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di
dalamnya.
2.
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah
permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah,
air hujan, dan air laut yang berada di darat.
3.
Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah.
4.
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di
bawah permukaan tanah.
5.
Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang
terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
6.
Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada
sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi
kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya.
7.
Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan,
melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi
sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya
rusak air.
8.
Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam
merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan
konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan
pengendalian daya rusak air.
9.
Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara
menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan
pengelolaan sumber daya air.
10.
Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air
dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang
luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.
11.
Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi
menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah
hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan
pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan.
12.
Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas
hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses
pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung.
13.
Hak guna air adalah hak untuk memperoleh dan memakai atau
mengusahakan air untuk berbagai keperluan.
14.
Hak guna pakai air adalah hak untuk memperoleh dan memakai air.
15.
16.
17.

Hak guna usaha air adalah hak untuk memperoleh dan mengusahakan air.
Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain
sebagai badan eksekutif daerah.
Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta
para menteri.
-7-

18.

19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.

Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta


keberlanjutan keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar senantiasa
tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan makhluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang.
Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan,
penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber
daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna.
Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah,
menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang
disebabkan oleh daya rusak air.
Daya rusak air adalah daya air yang dapat merugikan kehidupan.
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan
yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka
mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air.
Operasi adalah kegiatan pengaturan, pengalokasian, serta penyediaan
air dan sumber air untuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber
daya air.
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat sumber air dan prasarana
sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber
air dan prasarana sumber daya air.
Prasarana sumber daya air adalah bangunan air beserta bangunan lain
yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung
maupun tidak langsung.
Pengelola sumber daya air adalah institusi yang diberi wewenang untuk
melaksanakan pengelolaan sumber daya air.
Pasal 2
Sumber daya air dikelola berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan,
kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta
transparansi dan akuntabilitas.
Pasal 3
Sumber daya air dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan
lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air
yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 4
Sumber daya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang
diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras.
Pasal 5
Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok
minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif.
Pasal 6
(1) Sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besar
kemakmuran rakyat.

-8-

(2) Penguasaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat(1)


diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan teta
mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempatdan hak yang
serupadengan itu, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional
dan peraturan perundang-undangan.
(3)Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air sebagaimanadimaksud
pada ayat (2) tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada dantelah dikukuhkan
dengan peraturan daerah setempat.
(4)Atas dasar penguasaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditentukan hak guna air.
Pasal 7
(1)Hak guna air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4) berupa hak
guna pakai air dan hak guna usaha air.
(2)Hak guna air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat disewakan
atau dipindahtangankan, sebagian atau seluruhnya.
Pasal 8
(1)Hak guna pakai air diperoleh tanpa izin untuk memenuhi kebutuhan pokok
sehari-hari bagi perseorangan dan bagi pertanian rakyat yang berada di
dalam sistem irigasi.
(2)Hak guna pakai air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memerlukan izin
apabila:
a. cara menggunakannya dilakukan dengan mengubah kondisi alami
sumber air;
b. ditujukan untuk keperluan kelompok yang memerlukan air dalam jumlah
besar; atau
c. digunakan untuk pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah ada.
(3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Pemerintah atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan-nya.
(4)Hak guna pakai air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hak untuk
mengalirkan air dari atau ke tanahnya melalui tanah orang lain yang
berbatasan dengan tanahnya.
Pasal 9
(1)Hak guna usaha air dapat diberikan kepada perseorangan atau badan usaha
dengan izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya.
(2)Pemegang hak guna usaha air dapat mengalirkan air di atas tanah orang lain
berdasarkan persetujuan dari pemegang hak atas tanah yang bersangkutan.
(3)Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa kesepakatan
ganti kerugian atau kompensasi.
Pasal 10
Ketentuan mengenai hak guna air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 8,
dan Pasal 9 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 11
-9-

(1)Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat


memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam
segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air.
(2)Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air
permukaan dan air tanah.
(3)Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha
seluas-luasnya.
(4)Pola pengelolaan sumber daya air didasarkan pada prinsip keseimbangan
antara upaya konservasi dan pendayagunaan sumber daya air.
(5)Ketentuan mengenai penyusunan pola pengelolaan sumber daya air
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 12
(1)Pengelolaan air permukaan didasarkan pada wilayah sungai.
(2)Pengelolaan air tanah didasarkan pada cekungan air tanah.
(3)Ketentuan mengenai pengelolaan air permukaan dan pengelolaan air tanah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.

- 10 -

II.3. Asas-asas PSDA


II.3.a. Pemanfaatan Sumber Daya Air
Indonesia termasuk salah satu negara yang diproyeksikan akan mengalami krisis air pada
2025 karena pengelolaan air yang lemah, terutama pemakaian air yang kurang efisien. Derajat
kelangkaan air makin meningkat. Penduduk yang bertambah dengan cepat disertai pola hidup yang
menuntut penggunaan air yang relatif banyak, makin menambah tekanan terhadap kuantitas air. Daya
beli masyarakat terhadap air yang disediakan oleh lembaga pelayanan pemerintah seperti PDAM
cukup memadai, sehingga masyarakat tidak merasa sulit dalam mendapatkan air. Sebagian
masyarakat juga memanfaatkan air bawah permukaan dengan menggunakan pompa, dan sangat
jarang memikirkan dampak penurunan tinggi muka air bawah permukaan dan intrusi air laut. Demikian
pula petani di kawasan beririgasi, khususnya golongan
I dan II, mereka tidak pernah khawatir selama air irigasi tersedia di saluran, padahal tidak jarang
saluran irigasi kering pada musim kemarau.
Di sisi lain, alokasi dan distribusi air antarsektor dan antarwilayah makin kompleks dengan potensi
konflik yang cenderung meningkat. Kondisi ini diakibatkan oleh kemampuan pasokan air yang makin
menurun dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, serta pengguna yang makin beragam dan banyak
jumlahnya. Kebutuhan air untuk nonpertanian yang meningkat tajam pada 10 tahun terakhir akan
menurunkan kemampuan pasokan air irigasi di suatu wilayah.

- 11 -

Masalah akan makin kompleks dengan adanya keragaman ketersediaan air antarwaktu dan
antarwilayah pada musim kemarau, sehingga kemampuan pasokan air untuk keperluan pertanian,
domestik, dan rumah tangga menurun. Di Indonesia, konflik alokasi air antarsektor dan antarwilayah
cenderung meningkat, bahkan dari konflik tertutup menjadi konflik terbuka. Pemanfaatan air untuk
berbagai penggunaan cenderung melebihi pasokan air yang tersedia dan belum terintegrasi dengan
upaya konservasi air. Pengguna air umumnya mengabaikan usaha konservasi air yang seharusnya
dilakukan. Hal ini makin memberikan tekanan terhadap ketersediaan sumber daya air dan pasokan air
untuk berbagai penggunaan. Proporsi pemanfaatan air untuk setiap sektor sangat dinamis dan sulit
ditetapkan secara tepat dan akurat. Untuk sektor pertanian, pemanfaatan air untuk irigasi juga beragam
menurut ruang dan waktu. Berapa volume air yang tepat untuk irigasi pada daerah irigasi golongan I, II,
III, dan IV masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Indonesia menduduki urutan kelima negara-negara yang kaya air setelah Brasil, Rusia, Cina,
dan Kanada. Hal ini tercermin dari potensi ketersediaan air permukaan (terutama sungai) yang menurut
catatan Depkimpraswil rata-rata mencapai 15.500 m3/kapita/tahun, jauh melebihi rata-rata dunia yang
hanya 600 m3/kapita/tahun. Namun, ketersediaan air sangat bervariasi menurut ruang dan waktu.
Sebagai contoh, Jawa yang penduduknya mencapai 65% dari total penduduk Indonesia, hanya
tersedia 4,5% potensi air tawar nasional. Faktanya, jumlah air yang tersedia di Jawa yang mencapai
30.569,2 juta m3/tahun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bagi seluruh penduduknya.
Artinya di pulau yang terpadat penduduknya ini selalu terjadi defisit air paling tidak hingga tahun 2015.
Defisit akan terus meningkat jika tidak ada upaya konservasi air dan efisiensi pemanfaatannya. Di
wilayah lain, walaupun pada tahun yang sama masih tergolong surplus air, secara umum kelebihan air
tersebut jumlahnya menurun, dan ketersediaannya sangat berfluktuasi antara musim hujan dan musim
kemarau. Catatan Depkimpraswil menunjukkan bahwa pada musim hujan, debit air Sungai Cimanuk
mencapai 600 m3/ detik, tetapi hanya 20 m3/detik pada musim kemarau.
Tekanan terhadap sumber daya air juga mengubah kualitas air menjadi makin buruk. Salah satu
penyebabnya adalah pencemaran pada air permukaan dan air bawah permukaan, seperti terjadinya
eutrofikasi di danau. Intrusi air laut ke daratan menyebabkan salinitas air di sumur milik penduduk
meningkat. Kebocoran limbah industri ke sungai dan lahan pertanian makin memberikan tekanan pada
lingkungan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, sumur dangkal milik penduduk telah tercemar bakteri E.
coli dari kotoran manusia akibat kebocoran septic tank.
Kebutuhan air makin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan ragam
kebutuhan yang menuntut sumber daya air dalam jumlah banyak, baik untuk rumah tangga, industri,
irigasi, penggelontoran, energi, rekreasi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Indeks penggunaan
air (IPA) atau rasio kebutuhan dan ketersediaan air sudah melebihi 1, artinya sumber daya air yang
ada sudah tidak cukup untuk menopang kebutuhan penggunaannya. Depkimpraswil mencatat IPA
untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane sudah melampaui 1,2 (129,4%) pada tahun
1995. Pada tahuntahun terakhir, indeks tersebut diperkirakan makin meningkat karena pertumbuhan
jumlah penduduk, perkembangan sektor industri, energi dan rumah tangga, sementara potensi
ketersediaan air cenderung menurun.

- 12 -

Pemanfaatan air secara nasional telah mencapai sekitar 80 miliar m3/tahun, dengan tingkat
pemanfaatan tertinggi di Jawa dan Bali, yaitu sekitar 60%. Dalam 5 tahun terakhir, pemanfaatan air
diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan ragam kebutuhan air.
Penggunaan air tawar di Indonesia didominasi untuk pertanian, sekitar 76%, dan sisanya untuk industri
(11%) dan domestik (3%).
Peningkatan kebutuhan air setiap sektor makin menekan potensi pasokan air yang tersedia,
dan ini berdampak pada makin meningkatnya potensi konflik antarsektor. Sektor pertanian merupakan
pengguna air terbesar di antara sektor pengguna air. Sebagai gambaran, di pantai utara Jawa Barat,
untuk mengairi sawah irigasi dibutuhkan 5.592 juta m3 air/tahun. Sementara
itu, kebutuhan air untuk domestik, rumah tangga dan industri (domestic municipal and industry/DMI)
sekitar 952 juta m3.
Peningkatan kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk (1,6%/tahun), perkembangan sektor
industri, dan perbaikan taraf hidup masyarakat, menyebabkan kebutuhan air untuk DMI pada tahun
2025 diproyeksikan naik 3,5 kali lipat menjadi 3.311 juta m3. Sektor pertanian, domestik, rumah
tangga, dan industri mendapatkan sebagian besar air dari waduk. Oleh karena itu, pemenuhan air
untuk DMI akibat peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan pembangunan pada masa mendatang
(tahun 2025) akan mengambil porsi air untuk pertanian sekitar 25%, sehingga secara langsung akan
mengganggu kinerja sistem produksi pertanian. Meskipun kelangkaan air dan konflik air antarsektor
sudah terjadi dan dirasakan langsung petani, pemerintah belum memberikan perhatian dan
penanganan secara proporsional. Dalam jangka panjang, konflik horizontal maupun vertikal dalam
alokasi dan distribusi air akan memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang sangat mahal untuk
pemecahannya.
Dalam hukum Islam, konsep pembagian air secara proporsional yang melibatkan banyak pemangku
kepentingan pada dasarnya menggunakan asas urutan prioritas, yaitu: (1) hak untuk memuaskan
kedahagaan (haq al shafa); (2) domestik termasuk di dalamnya untuk hewan; (3) sektor pertanian; dan
(4) komersial dan industri. Untuk mengalokasikan dan mendistribusikan air secara proporsional dan
mengurangi konflik antarsektor pengguna air, kebutuhan air setiap sektor harus ditetapkan, dan
jaringan distribusi air harus dibangun secara luas. Identifikasi, karakterisasi, dan penetapan kebutuhan
air serta sosialisasi hasil penetapan proporsi kebutuhan tersebut pada setiap sektor pengguna air perlu
segera dilakukan.
Alokasi air untuk sektor pertanian, rumah tangga, domestik, industri, dan lingkungan diatur
sesuai dengan kaidah pengelolaan sumber daya air, yang intinya untuk mengendalikan keseimbangan
sumber daya air dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan kepentingan ekonomi
secara selaras. Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk, kontribusi sektor pertanian, air
minum, industri, serta potensi lestari pemanfaatan mata air dan lingkungan, dapat ditetapkan alokasi
penggunaan air masing-masing pemangku kepentingan. Alokasi penggunaan air yang dimaksud harus
mempertimbangkan potensi sumber daya air dalam hal volume yang tersedia menurut ruang dan
waktu, serta permintaan dari berbagai pemangku kepentingan dengan segala konsekuensi logis dan
risiko paling minimum.

- 13 -

Pemanfaatan air secara efisien dengan mempertimbangkan kebutuhan yang rasional dan
pasokan yang makin terbatas perlu dilakukan. Setiap pengguna air harus melakukan upaya konservasi
air dan ini perlu dituangkan dalam peraturan perundangan yang mengikat dan dilaksanakan secara
konsisten. Pemerintah perlu memfasilitasi pengguna air dalam melaksanakan konservasi air.
Penerapan inovasi teknologi panen air dan konservasi air seperti embung, dam parit, sumur resapan,
dan rorak perlu dilakukan. Proporsi penggunaan air untuk setiap sektor perlu ditetapkan melalui
analisis kebutuhan air setiap sektor, identifikasi potensi sumber daya air permukaan dan bawah
permukaan, serta curah hujan efektif dalam pengisian air bawah permukaan.
Proporsi dan alokasi penggunaan air untuk masing-masing pemangku kepentingan di setiap
daerah dan mata air berbeda, bergantung seberapa besar prioritas masingmasing sektor di wilayah
tersebut. Di Kali Kuning, Sleman, Yogyakarta, misalnya, dengan memperhitungkan laju pertumbuhan
penduduk, kontribusi sektor pertanian, air minum, industri, dan lingkungan, serta potensi lestari
pemanfaatan mata air, ditetapkan bahwa sektor pertanian mendapat alokasi 50% debit dari mata air,
air minum dan industri 35%, dan sisanya 15% untuk keperluan lingkungan. Perum Jasa Tirta II yang
bertanggung jawab mengelola dan mendistribusikan kebutuhan air Waduk Jatiluhur menetapkan
alokasi air untuk sektor pertanian sebesar 78% dari
debit total, domestik 7%, industri 5%, hidro-elektrik 2%, dan sisanya masingmasing 3% untuk
perikanan dan penggelontoran (flushing). Meskipun sudah ditetapkan alokasi dan distribusi air
antarsektor/pengguna, implementasinya dilapangan sangat beragam, terutama pada musim kemarau.
Hal ini terjadi akibat alokasi yang telah direncanakan tidak selalu tepat sasaran dalam hal kuantitas dan
waktu pendistribusian, sehingga sangat merugikan sektor pertanian. Perum Jasa Tirta II, misalnya,
telah memperkirakan bahwa tidak akan terjadi defisit air sampai dengan
musim kemarau 2004, tetapi Kompas (2004) mengungkapkan bahwa sebagian besar kawasan
pertanian di pantura Jawa Barat mengalami keterlambatan tanam 1 hingga 1,5 bulan pada awal musim
tanam I (2003/2004).
UU No. 7/2004 tentang sumber daya air yang sudah disahkan DPR merupakan salah satu
bentuk manifestasi dari konsep water sharing. Namun, undang-undang sumber daya air tersebut belum
dapat melindungi dengan baik posisi air untuk pertanian rakyat akibat adanya pasal yang kontradiktif,
antara memberikan peluang investasi swasta dalam penyediaan air minum dengan pasal yang
menjamin pasokan air untuk pertanian. Bahkan lebih parah lagi, pemerintah secara sengaja membuka
peluang swasta untuk mengeksploitasi air yang menguasai hajat hidup orang banyak secara terbuka.
Dengan kontrol pemerintah yang lemah atas swasta, hak air yang diberikan kepada swasta akan
menjadi bumerang bagi masyarakat yang kebutuhan airnya terus meningkat. Apalagi di lapangan, air
untuk pertanian, industri, air minum, dan tenaga listrik sulit dibedakan, sehingga diperlukan kearifan
semua pihak dalam alokasi dan distribusinya. Untuk memberikan jaminan air untuk pertanian secara
berkelanjutan, maka UU No. 7/2004 perlu diamandemen, terutama hak guna air. Selain itu, dalam
penyusunan peraturan pemerintah perlu dilakukan penjabaran secara rinci agar penyalahgunaan dan
salah interpretasi oleh berbagai pihak untuk kepentingan terbatas dapat diantisipasi dan diminimalkan.

- 14 -

Untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam implementasi pembagian air secara


proporsional, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman negara-negara Eropa, seperti
Perancis, dalam implementasi pembagian air secara proporsional untuk berbagai sektor yang
dilengkapi dewan pengawas dan dewan pelaksana alokasi air. Komposisinya terdiri atas elemen
masyarakat yang merupakan wakil petani, pengusaha, birokrat, parlemen, cendekiawan, dan LSM.
Komposisi tersebut memungkinkan terjadinya pengawasan berlapis, baik dalam implementasi maupun
tanggung jawab dalam pendayagunaan sumber daya air. Transparansi ini dapat mengoptimalkan
akses, kontrol, dan partisipasi masyarakat dalam pendayagunaan sumber daya air. Perlu pula dibuat
perencanaan jangka panjang yang melibatkan semua pemangku kepentingan, baik yang mencakup
aspek teknis, finansial, maupun sosial budaya. Identifikasi secara cermat dan transparan sangat
diperlukan untuk mengetahui potensi sumber daya air menurut ruang dan waktu, baik yang
konvensional maupun yang nonkonvensional, dan kebutuhan riil antarsektor dan subsektor. Dengan
menggunakan persamaan matematis real time dengan data seri yang panjang dapat dibuat skenario
yang lebih akurat antara pasokan air dan alokasi penggunaannya secara terintegrasi, baik kuantitas
maupun kualitasnya. Skenario tersebut akan dapat menjawab pertanyaan bagaimana jika pasokan air
turun. Alternatif strateginya adalah: (1) menyesuaikan distribusi dan alokasi penggunaan air untuk
berbagai sektor secara proporsional; (2) melakukan penyimpanan air hujan pada saat musim hujan; (3)
memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber air tanah dalam; dan (4) mendaur ulang air yang telah
digunakan oleh berbagai sektor. Langkah 2 sampai 4 telah banyak dilakukan oleh negara-negara yang
memiliki permasalahan kelangkaan air, seperti Meksiko dan New South Wales, sehingga dengan air
yang terbatas, alokasi penggunaan air untuk berbagai sektor dapat dipertahankan. Selanjutnya,
implementasinya di lapangan harus dilengkapi dengan perangkat lunak dan perangkat keras,
mekanisme distribusi dan kontrol, serta wasit yang adil dan profesional.

II.3.b. Pengendalian Sumber Daya Air


Agar pencemaran terhadap sumber daya air tidak terus terjadi, saat ini harus sudah
mulai dilakukan berbagai macam cara pengendalian pengelolaan sumber daya air.
Dimaksudkan agar nantinya pencemaran tidak semakin memburuk dan menimbulkan
kelangkaan sumber daya air bersih.
Dalam bidang pengairan biasanya peraturan digunakan untuk mengatur penyediaan dan
pemanfaatan sumber daya air serta larangan untuk melakukan perbuatan yang menyebabkan
pengotoran air. Namun kewenangan mengaturnya belum menjangkau sampai batas yang lebih
spesifik lagi. Karena biasanya pengaturan nya hanya untuk mengatur standar kesehatan
masyarakat. Upaya untuk mengendalikan pencemaran lingkungan dan sumber daya air dapat
dilakukan berbagai cara, salah satunya adalah menetapkan baku mutu air, baik baku mutu air
buangan, maupun baku mutu air penerimaan. Teknik-teknik mengenai kualitas air juga
mempunyai kaitan yang erat dengan nilai air itu sendiri bila dilihat dari berbagai dimensi,
contohnya :
1. Zat kimia (tingkat kemurnian air)
2. Biologis (tanaman dan kehidupan rawa)
3. Mulai dari jenis binatang bersel satu (phytoplankton, 200plannkton) hingga binatang besar
yang terdapat diair.

- 15 -

4. Dimensi waktu, dimana setiap waktu terjadi perubahan yang sangat kompleks, misalnya siklus
air dan temperatur permukaan air yang dapat mengubah sifat.
5. Reaksi berantai dari fotosintesa dan proses pernafasan dari tanaman, binatang dan lain-lain.
6. Dimensi cultural, dilihat dari pentingnya nilai secara materil, maupun cita rasa. Nilai ini akan
berbeda bagi petani, perikanan kehidupan dikota, industry, perhubungan serta rekreasi sport
dan berenang di air.
Dari tanggapan air dapat dibagi atas beberapa kategori atau klasifikasi secara umum, yaitu :
1. Penggunaan rumah tangga dan pemukiman
2. Penggunaan untuk industry dan pertanian
3. Penggunaan yang mempunyai nilai estetik dan cultural ( keindahan alam dan rekreasi serta
ibadah)
4. Untuk menjaga keseimbangan ekologis daya dukung bumi kehidupan lingkungan alam yang
sehat.
Kategori tersebut sangat penting bagi pengelolaan sumber daya air untuk masa saat ini
atau dimasa yang akan datang. Karena kriteria tersebut merupakan titik tolak pengawasan
kualitas air yang telah diakui oleh WHO, walaupun tidak ada kriteria mutlak yang dipergunakan,
dikarenakan banyaknya zat pencemaran. Namun WHO telah memperkenalkan secara
internasional standar air minum yang menetukan standar minimal kualitas air minum. 5)
Menurut pengaturan Ketentuan perundang-undangan yang mengatur kualitas air juga
mengandung program nasional yang mengatur seluruh sumber-sumber air, misalnya :
a. Menetapkan standart air buangan bagi setiap kegiatan disertai keharusan adanya teknologi
tertentu untuk mengolahnya.
b. adanya ukuran yang keras mengenai air bungan yang beracun
c. Memperkeras dan mengefektifkan tatacara penindakan
d. System dan beratnya denda
e. Dasar tuntutan bagi masyarakat dan dasar tanggung jawab para pelaksana/penguasa
Undang-Undang Pokok Agraria No.5 tahun 1960 terdapat pengaturan hak-hak atas air
berupa hak guna iar dan hak pemeliharaan dan penangkapan ikan.
Dan lebih lanjut lagi diatur dalam pasal 47 mengenai hak guna air adalah hak memperoleh air
untuk keperluan tertentu dan/atau mengalirkan air itu diatas tanah orang lain. Dalam pasal 9
UUPA dijelaskan hanya warga Negara Indonesia dapat mempunyai hubungan yang
sepenuhnya dengan bumi, air, dan ruang angkasa. Sehingga dapat diambil kesimpualn warga
Negara Indonesia dapat mempergunakan sumber daya air sesuai dengan kebutuhannya, tetap
setelah mendapatkan izin dari pihak yang berwenang. Yang dimaksudkan pihak berwenang
disini adalah pemerintah. Pemerintah tidak harus memberikan izin terhadap masyarakat dalam
menggunakan sumber daya air, walaupun didalam pasal 9 UUPA dijelaskan bahwa air
termasuk hak dari warga Negara Indonesia. Karena pemberian izin harus didasarkan pada
tingkat daya rusak karena penggunaan air, adat kebiasaan masyarakat setempat dan tehnik
penyehatan kesehatan lingkungan. Dan menjadi asas landasan hak atas air adalah
kemanfaatan umum, keseimbangan dan kelestarian. Dan hak atas air adalah hak guna air.6)

5) Water Pollution Control, Report of a WHO Expert Committee Jenewa,1996


6) Pasal 2 Peraturan Pemerintah No.22 tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air
Perizinan merupakan tindakan yang penting, karena perizinan memberikan dan
melandasi seluruh masalah yang bisa timbul nantinya. Dalam pasal 7 ayat 1 UULH dimuat
ketentuan yang mengharuskan setiap orang yang menjalankan usaha memelihara kelestarian
- 16 -

kemampuan lingkungan. Setiap instansi terikat guna melakukan tindakan pelestarian


lingkungan dan sumber daya air alamnya, seperti sumber daya air dan sebagainya.7)
Di Indonesia sitem perizinan di bidang lingkungan tidak ada satu peraturan tetap yang
mengaturnya, sistim perizinannya pun masih tumpang tindih satu dengan yang lain, maka
Indonesia perlu segera mengkaji ulang Undang-Undang lingkungan Nomor 32 tahun 2009.8)
Izin lingkungan harus bersifat komprehensif yang mengatur tentang, yaitu :
1. Sistim perizinan lingkungan yang mencakup semua jenis pencemaran
2. Wewenangan untuk menetapkan baku mutu terhadap semua jenis pencemaran
3. Prosedur perizinan dan peranserta masyarakat terhadap akses informasi
4. Ketententuan tentang perlindungan hukum administrasi
5. Ketentuan tentang pengawasan, pemantauan, dan penegakan hukum lingkungan administratif
pidana.
Dan selanjutnya yang dapat membantu untuk menjaga sumber daya air bersih adalah
peran serta dari masyarakat. Karena sesungguhnya masyarakat yang akan dirugikan dari
berbagai permasalahan pencemaran sumber daya air. Peran serta masyarakat diatur didalam
pasal 70 UUPPLH Nomor 32 tahun 2009 yang memberikan hak kepada masyarakat dalam
memberikan penilaian dan perencanaan, hakekatnya peranserta ini adalah mengenai prosedur
pengambilan keputusan tata usaha Negara tentang izin usaha lingkungan. 9)
Peran serta masyarakat tersebut dapat berupa, salah satunya berbagai contoh kegiatan adalah
dengan pengawasan sosial, pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan,
dan/atau penyampaian informasi dan/atau laporan.10)
Masyarakat ikut terlibat dalam mengajukan keberatan sebelum dikeluarkannya izin usaha oleh
pejabat tata usaha Negara, yang mungkin saja izin usaha tersebut yang menjadi cikal bakal
kerusakan sumber daya air.
7)
8)
9)
10)

Lihat AMDAL dalam PP 51/93


Diktat Hukum Lingkungan oleh Afif Syarif, SH,MH hal.43
Diktat Hukum Lingkungan oleh Afif Syarif, SH,MH hal.13
Pasal 70 UUPPLH Nomor 32 Tahun 2009

Peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan cara :


a. Meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan.
b. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan
c. Menumbuh kembangkan ketanggap segeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan
sosial dan
d. Mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian fungsi
lingkungan.
Peran serta masyarakat sangat penting dalam pengelolaan lingkungan, khususnya sumber daya
air. Namun ada beberapa hal yang dianggap bahwa peran serta masyarakat tidak lah begitu
diperlukan, karena terdapat pihak yang keberatan akan hal itu. Pihak yang keberatan berpendapat
bahwa belum saatnya masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan lingkungan, karena mereka khawatir
bahwa sebagian masyarakat belum cukup dewasa untuk mengemukakan pendapat secara
terbuka. Akan tetapi pihak tersebut memberikan solusi berupa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
yang bergerak dibidang lingkungan hidup, yang diharapkan mampu membantu masyarakat dalam
mengambil keputusan yang dikeluarkan pejabat tata usaha Negara, yang bias saja nantinya dapat
merugikan masyarakat.
- 17 -

Dan hal yang terkahir yang dapat menekan pengendalain pencemaran sumber daya air
adalah memberikan sanksi terhadap pelanggar. Setiap tindakan yang merupakan pelanggaran
ketentuan-ketentuan perundang-undangan di bidang sumber daya air, dapat dikenakan sanksi
administratif (pencabutan sementara atau selama-lamanya izin) termasuk sanksi administrasi
menurut pasal 25-27 UULH-97 dan sanksi pidana (kurungan maupun denda) sebagai bagian
dari sanksi administrasi.

II.3.c. Pelestarian Sumber Daya Air


Air merupakan Sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan. Karena mempunyai
bebagai macam fungsi, antara lain untuk mandi, mencuci dan minum. Air

tanah terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum. Akan tetapi,
mungkin pula untuk keprluan yang lain dalam rumah tangga, dan bahkan untuk keperluan
industri.
Oleh

karena

itu,

sumber

daya

air

harus

dijaga

kelestariannya.

Antara Lain dengan tidak melakukan penyedotan air tanah secara berlebihan dan tidak
membuang limbah. Baik limbah industri maupun limbah rumah tangga ke dalam badan-badan
air yang dapat mengakibatkan pencemaran.
Tidak mengeksekusi air secara berlebihan
Penyedotan

air

tanah

secara

berlebihan

dapat

mengakibatkan

berbagai

permasalahan, antara lain penipisan persediaan air tanah, amblesnya permukaan tanah, dan
intrusi air laut yang menyebabkan air tanah menjadi asin. Adapun pembuangan limbah pada
badan air seperti sungai, danau, dan laut menyebabkan pencemaran air.

Pengaturan pembuangan limbah


Selain dari semua itu, Pencemaran air juga disebabkan antara lain oleh pemakaian
deterjen dan penagkapan ikan dengan obat-obatan. bahan-bahan pencemar tersebut di dalam
- 18 -

air antara lain dapat menganggu kehidupan ikan karena dapat menghabiskan oksigen di dalam
air. karena itu, pembuangan libah ke badan-badan air harus dihindarkan.

Sumber daya air merupakan kebutuhan mutlak setiap manusia. Setiap manusia
membutuhkan air yang bersih. Air yang bersih dan bebas polusi juga dibutuhkan oleh hewan
dan tumbuhan. Pelestarian sumber daya air dapat dilakukan antara lain dengan

cara tidak membuang sampah di sembarang tempat, menanam banyak pohon dan
hemat air.
Pengolahan vegetasi dan aliran air
Kebanyakan persoalan sumber daya air berkaitan dengan waktu dan penyebaran
aliran air. Kekeringan dan banjir adalah dua contoh klasik yang kontras tentang perilaku aliran
air sebagai akibat perubahan kondisi tataguna lahan dan faktor meteorologi, terutama curah
hujan.
Penelaahan masalah sumber daya air melibatakan berbagai macam pendekatan
pengolahan vegetasi dan usaha-usaha keteknikan lainnya. Sebagai contoh, waduk dapat
menampung ailairan air hujan ketika hijan deras berlangsung di daerah hulu, dan dengan
demikian, mengurangi kemungkinan terjadinya banjir di daerah hilir. Ia juga dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan aliran air selama musim kemarau sehingga dapat
menambah debit aliran air untuk irigasi pada saat-saat yang kritis tersebut.

Pengolahan vegetasi, khususnya vegetasi hutan, dapat memepengaruhi waktu dan


penyebaran aliran air. Konsekuensi logis dari adanya anggapan seperti itu adalh bahwa

- 19 -

keberadaan hutan lalu dapat menghidupakan mata-mata air yang telah lamatidak mengalirkan
air.

II.4. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)


II.4.a. Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS), dalam istilah asing disebutcatchment area, drainage
area,drainage basin, river basin, atauwatershed (Notohadiprawiro, 1981; Cech, 2005). Pengertian yang
berkembang di Indonesia, terdapat tiga terminologi sesuai dengan luas dan cakupannya
yaitu: Catchment, Watersheddan Basin. Tidak ada batasan baku, tetapi selama ini dipahami
bahwa catchmen lebih kecil dariwatershed, dan basin adalah DAS besar (Priyono dan Savitri, 2001).
Definisi mengenai DAS yang relatif beragam, sesuai tujuan masing-masing, menurut Dixon dan
Easter (1986) DAS berarti suatu area yang dibatasi secara topografis oleh punggung bukit dan air
hujan yang jatuh teratuskan oleh suatu sistem sungai. Menurut Wiersum (1979), dan Seyhan (1990),
DAS adalah suatu wilayah daratan yang dibatasi oleh batas alam berupa topografi yang berfungsi
untuk menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang diterima menuju ke sistem sungai terdekat
yang selanjutnya bermuara di waduk atau danau atau laut. Definisi lain menyatakan DAS adalah
wilayah yang terletak di suatu titik pada suatu sungai yang oleh batas-batas topografi mengalirkan air
yang jatuh di atasnya ke dalam sungai yang sama dan melalui titik yang sama pada sungai tersebut
(Brooks et al., 1992; Arsyad, 2010).
DAS merupakan suatu sistem ekologi yang kompleks, di dalamnya terjadi keseimbangan
dinamik antara energi material yang masuk (input) dan material yang keluar (output). Pada keadaan
alami perubahan keseimbangan masukan dan keluaran berjalan lambat dan tidak menimbulkan
ancaman yang membahayakan bagi manusia dan kelestarian lingkungan, namun pada sistem DAS
dengan dinamika penggunaan lahan yang berlangsung secara terus menerus dari bentuk vegetasi
rapat ke bentuk vegetasi yang jarang atau dari
bentuk vegetasi ke bentuk non vegetasi, sesuai penyebaran lokasi penggunaan lahan secara
spasial (keruangan), akan mempengaruhi fluktuasi debit aliran sungai (Asdak, 2004).

- 20 -

Selain merupakan wilayah tata air, DAS juga merupakan suatu ekosistem, disebut sebagai
ekosistem DAS. Unsur-unsur yang terdapat di dalam DAS meliputi sumberdaya alam dan manusia.
Sumberdaya alam bertindak sebagai obyek terdiri atas tanah, vegetasi, dan air, sedangkan unsur
manusia sebagai subyek atau pelaku pendayagunaan dari unsur-unsur

sumberdaya alam, antara unsur-unsur tersebut terjadi proses hubungan timbal balik dan saling
mempengaruhi. Dalam sumber daya alam antara tanah, air, dan vegetasi saling terkait sehingga
menghasilkan suatu produk tertentu dan kondisi air tertentu yang pada akhirnya berpengaruh pada
kehidupan manusia. Di pihak lain, manusia sebagai pelaku pendayagunaan sumberdaya alam banyak
melakukan aksi atau pengubahan-pengubahan pada tanah dan vegetasi, sehingga bereaksi pada
hasil produk, partisipasi maupun hasil air (Asdak, 2004).
Menurut Soerianegara (1978) pencerminan atau ukuran dari kondisi hidroorologis tersebut
ditentukan dari kemampuan penyediaan air, baik dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas dan
distribusinya menurut waktu. Kondisi hidroorologis yang baik adalah apabila DAS dapat menjamin
penyediaan air dengan kualitas yang baik, kuantitas yang cukup dan distribusi debit yang merata
sepanjang tahun.
II.4.a. Pengertian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu bentuk pengembangan dan
pemanfaatan wilayah yang menempatkan DAS sebagai satu unit pengelolaan sumber daya alam
(SDA). Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi yang ada pada DAS tersebut secara
optimum dan berkelanjutan (lestari). Upaya yang dilakukan adalah dengan menekan kerusakan
wilayahnya seminimum mungkin, agar distribusi aliran air sungai
yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun. Buku yang cukup menarik dan dikupas
secara tuntas ini terdiri dari 4 bab. Bab 1 menyoroti masalah tentang perkembangan dan tantangan
dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai, pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS), penentuan batas
Daerah Aliran Sungai (DAS) dan filosofi Daerah Aliran Sungai. Bab

- 21 -

kedua membahas tentang fungsi-fungsi pengelolaan Daerah Aliran Sungai meliputi fungsi
perencanaan (planning), fungsi organisasi dan koordinasi (organizing dan coordinating),
fungsi pelaksanaan dan pengawasan (actuating and controlling). Indikator utama keberhasilan
pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang meliputi limpasan permukaan, erosi, produktifitas lahan,
kekeringan, rasio kawasan resapan, kedalaman air tanah, perubahan

morfologi sungai, kualitas air sungai, sedimentasi, rasio debit maksimum dan minimum dan
luasan pelanggaran peruntukan sempadan sungai. Bab terakhir penutup, pada bagian ini disampaikan
hasil seminar pengelolaan DAS di Jakarta pada tanggal 02-03 Desember 2008 dengan judul
Keterpaduan Para Pihak dalam Pengelolaan DAS untuk Mencegah Bencana Tanah Longsor, Banjir
dan Kekeringan di Indonesia.
II.4.a. Identifikasi Masalah Daerah Aliran Sungai (DAS)
Berdasarkan gambaran kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan diidentifikasi beberapa
permasalahan DAS dan pengelolaannya. Hasil identifikasi masalah ini akan digunakan untuk
mendukung justifikasi penetapan tujuan, sasaran, kebijakan dan program sesuai dengan visi dan misi
yang telah ditetapkan.
Hasil analisa permasalahan pada saat ini di wilayah kerja Balai Pengelolaan DAS CitarumCiliwung dimana sebagaian besar DAS yang ada dalam kondisi rusak dengan ditandai seringnya
terjadi bencana alam banjir, longsor dan kekeringan sebagai konsekwensi dari penurunan kualitas
lingkungan sehingga menyebabkan kerugian yang sangat luas bagi kepentingan hidup manusia baik
yang hidup di daerah hulu maupun hilir DAS. Hasil analisa permasalahan adalah sebagai berikut;
a. Masalah Sosial :
- Laju pertambahan penduduk yang tinggi
- Konflik pemanfaatan sumber daya alam
- Disiplin dan budaya masyarakat
- Partisifasi dan kesadaran masyarakat dalam pelestarian lingkungan
- Kelembagaan masyarakat masih lemah
- Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah
b. Masalah Ekonomi
- Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah
- Lapangan kerja masih sempit
- Pemilikan lahan terbatas
- Produktifitas lahan rendah
- 22 -

c. Masalah Kelembagaan
- Pertentangan kepentingan dan tumpang tindih kewenangan antar instansi pemerintah
- Peran Pemerintah Daerah kurang
- Lemahnya aturan dan penegakan hukum

II.5. Tahapan Perencanaan


Perencanaan Pengembangan Sumber Daya Air diawali dengan merangkum
kebutuhan masyarakat untuk dirumuskan menjadi tujuan dari kebutuhan masyarakat pengguna
Sumber Daya Air. Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan
dilakukan secara koordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan Sumber Daya Air.
Pengembangan Sumber Daya Air pada wilayah sungai ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan
fungsi sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian,
industri, pariwisata, pertanahan, pertambangan, ketenagaan, perhubungan, dan untuk
berbagai keperluan
lainnya.
Pengembangan sumber daya air meliputi :
a) air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan
lainnya;
b) air tanah pada cekungan air tanah;
c) air hujan; dan
d) air laut yang berada di darat.
Pengembangan air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan
lainnya dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sumber air yang
bersangkutan. Ketentuan mengenai pengembangan sungai, danau, rawa, dan sumber air
permukaan lainnya diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Air tanah merupakan
salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat
mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Pengembangan air
tanah pada cekungan air tanah dilakukan secara terpadu dalam pengembangan sumber daya
air pada wilayah sungai dengan upaya
pencegahan terhadap kerusakan air tanah. Ketentuan mengenai pengembangan air tanah
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pengembangan fungsi dan manfaat air hujan
dilaksanakan dengan mengembangkan teknologi modifikasi cuaca. Badan usaha dan
perseorangan dapat melaksanakan pemanfaatan awan dengan teknologi modifikasi cuaca
setelah memperoleh izin dari Pemerintah. Ketentuan mengenai pemanfaatan awan untuk
teknologi modifikasi cuaca diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Pengembangan fungsi dan manfaat air laut yang berada di darat dilakukan dengan
memperhatikan fungsi lingkungan hidup.Badan usaha dan perseorangan dapat menggunakan
air laut yang berada di darat untuk kegiatan usaha setelah memperoleh izin pengusahaan
sumber daya
air dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Ketentuan mengenai pemanfaatan air laut
yang berada di darat diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Proyek Pengembangan
Sumber Daya Air harus diselesaikan secara khusus dan unik, karena sangat tergantung dari
- 23 -

kondisi topografi setempat, kondisi sosial, politik dan budaya setempat dan harus melibatkan
berbagai bidang keahlian secara terpadu. Dalam mempelajari pengendalian dan pengaturan
pemanfaatan air maka akan timbul berbagai pertanyaan, diantaranya adalah :
- Berapa banyak jumlah air yang dapat diharapkan? (dari aliran air minimum, maksimum, tahunan,
volume banjir, air tanah).
- Berapa banyak jumlah air yang dapat dimanfaatkan? (untuk air minum, irigasi, Pembangkit Listrik
Tenaga Air, industri, lalulintas dan sebagainya).
- Bagaimana pengendalian terhadap kelebihan air? (dengan pengaturan banjir, sistem drainase,
pengelolaan air limbah dan sebagainya).
- Bangunan apa saja yang diperlukan dalam Pengembangan Sumber Daya Air? (Waduk, Bendung,
Bendungan, Saluran, Pelimpah, Tanggul dan sebagainya).
- Bagaimana pengaruh Pengembangan Sumber Daya Air terhadap pelestarian lingkungan?
(margasatwa, tumbuhan, air tanah, budaya dan politik).
- Apakah Pengembangan Sumber Daya Air mempunyai nilai ekonomis dan finansial?
Dengan demikian dalam mempelajari Pengembangan Sumber Daya Air diperlukan
pengetahuan dan wawasan yang luas bagi perencana agar dapat diperoleh hasil harga yang
optimal.
b. Jenis dan Unsur Pengembangan Sumber Daya Air
Jenis dan unsur yang perlu diketahui dalam Pengembangan Sumber Daya Air
(PSDA) diantaranya adalah :
1) Kwantitas Air
Seberapa banyak air yang dapat diharpkan dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
tujuan kegunaannya, untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut harus melalui
penerapan Hidrologi, yaitu Ilmu yang mempelajari kejadian - kejadian serta distribusi air
alamiah dibumi. Dengan mempelajari Hidrologi, dapat diketahui : daur hidrologi (Cyclus
Hidrologi) prakiraan aliran air sungai dimasa datang, air tanah dan sebagainya.
2) Kwalitas Air
Selain jumlah air yang cukup, diperlukan mutu air sesuai dengan standard dan
kegunaannya, misal air minum, air irigasi, air industri dan pambuangan air limbah. Pengujian
kimiawi serta bakteriologis biasa dilaksanakan untuk menetapkan jumlah serta sifat - sifat
kotoran didalam air.
3) Bangunan Air
Bentuk dan ukuran bangunan air seringkali tergantung pada sifat hidrolik dan bentuk
lengkap untuk disesuaikan dengan tuntutan azas mekanika fluida sehingga memerlukan
perhitungan detail yang rumit, bahwa kadang kala diperlukan uji model didalam laboratorium
sebelum dilaksanakan pembangunannya dilapangan.
4) Lingkungan
Dalam Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA) tidak dapat terlepas dari pengaruh
lingkungan disekitarnya. Kondisi daerah aliran sungai (DAS) sangat menentukan kelestarian
sumber daya air. Pengaruh bangunan air terhadap perkembangan morfologi sungai, pengaruh
lingkungan selama pembangunan, pengelolaan dan setelah masa usia layannya selesai.
Disamping itu pengaruh terhadap perubahan kondisi sosial, politik dan budaya dilingkungan
bangunan pengembangan sumber daya air.

- 24 -

5) Unsur Ekonomis dan Finansial


Setiap pengembangan sumber daya air harus dilakukan studi kelayakan untuk
mengevaluasi dari berbagai segi terhadap keuntungan yang diperoleh. Tinjauan ekonomis
adalah tinjauan terhadap nilai keekonomian suatu pengembangan sumber daya air, bila
dibandingkan dengan pembangunan lain yang mempunyai tujuan yang sama, sedangkan
tinjauan financial adalah suatu studi / tinjauan nilai ekonomian pengembangan sumber daya air
dengan membandingkan besaran investasi yang diperlukan terhadap keuntungan yang
diperoleh selama usia layan bangunan pengembangan sumber daya air.
6) Unsur Sosial, Politik dan Budaya
Hampir semua pembangunan PSDA dibiayai oleh badan pemerintah tertentu, proyek
irigasi, pengendali banjir, pengelola air bersih, air limbah dan pembangkit listrik. Pembangunan
PSDA tergantung dari kebijakan / batasan perencana suatu daerah, peraturan dan undang undang yang ada. Pembangunan PSDA dapat tertunda karena masyarakat dan adapt budaya
setempat tidak menyetujuinya misal, merusak situs peninggalan nenek moyang, masyarakat
tidak mengijinkan daerahnya digunakan untuk PSDA dan sebagainya.
c. Problema yang ditimbulkan oleh PSDA
Mengingat air adalah merupakan bahan baku utama untuk memenuhi suatu
kehidupan, maka pemanfaatan sumber daya air berarti akan mempengaruhi seluruh tatanan
pola aliran air yang telah berlangsung lama.
Beberapa permasalahan yang mungkin timbul oleh PSDA :
- Perubahan pola pemanfaatan aliran air
- Perubahan pola hidup binatang pada aliran air (sungai)NGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
- Perubahan pola distribusi sediment transport, missal timbulnya agradasi dan degradasi pada
bagian hulu dan hilir bangunan PSDA
- Perubahan pada aliran air tanah
- Perubahan pola hidup sosial budaya masyarakat.
1) Perubahan pola pemanfaatan aliran air
Perubahan pola pemanfaatan aliran air ini dapat mempengaruhi tatanan kehidupan
pada suatu daerah, bahkan dapat mempengaruhi hubungan antar wilayah kabupaten /
propinsi, mungkin malah antar Negara. Untuk itu perlu dibuat pengaturan pola pemakaian
pemanfaatan aliran air (sungai). Dengan mulai berjalannya peraturan pemerintah tentang
otonomi daerah, maka peraturan/perundangan yang mengatur pemakaian / pemanfaatan aliran
air sungai yang melibatkan lebih dari 1 (satu) wilayah kabupaten / propinsi dirasa sangat
mendesak.
2) Perubahan pola hidup binatang pada aliran air (sungai)
Pembangunan PSDA yang memerlukan bangunan air (bendung, waduk dan
bendungan) melintang / memotong sungai sehingga memutuskan migrasi suatu binatang air,
misal ikan / binatang air pada saat reproduksi harus dibagian hulu sungai dan setelahnya hidup
dibagian hilir sungai akan
terputus, binatang air pada aliran deras harus berubah hidup pada air kolam / waduk dan
sebagainya.
3) Perubahan pola distribusi sediment transport
Sedimen transport secara alamiah dari hulu ke hilir akan menyebar sesuai kecepatan
aliran air sungai, misal sediment pasir dibagian hulu sungai yang diambil penduduk untuk
keperluan pembangunan, akan terisi ulang secara alami pada saat air besar (banjir) datang.
Apabila dibangun PSDA (Bendung atau Bendungan) maka dibagian hulu akan timbul agradasi,
yaitu penumpukan material sediment transport dibagian hulu bendung / bendungan,

- 25 -

sedangkan dibagian hilir mengalami degradasi yaitu penurunan permukaan dasar sungai
dibagian hilir bangunan PSDA, lebih lagi apabila
terjadi pengmbilan material sediment (pasir) pada sungai. Hal ini sangat membahayakan pondasi
bangunan air disepanjang daerah aliran sungai tersebut, seperti bengunan perkuatan tanggul,
kolom (pier) dan abutment jembatan dan lain-lain.
4) Perubahan pada aliran air tanah
Dengan dibangunnya PSDA maka merubah pola aliran sungai, maka dengan
sendirinya akan mempengaruhi pola rembesan / infiltrasi pada daerah aliran sungai sehingga
mempengaruhi elevasi tinggi muka air tanah. Dibagian hulu dari bendung / bendungan akan
mengalami penurunan elevasi tinggi muka air tanah dan hal ini juga akan mempengaruhi
terhadap besaran tekanan air tanah pada suatu bangunan air.
5) Perubahan pola hidup sosial budaya masyarakat
Perubahan pola ini akan terjadi apabila pembangunan PSDA yang besar, seperti
pembangunan bendungan dengan luas genangan / waduk yang cukup luas, misal Saguling,
Cirata, Jatiluhur, Karangkates, Kedung Ombo dan sebagainya. Akibat dari genangan yang
luas, maka diperlukan pemindahan penduduk, terpisahnya hubungan antar desa, perubahan
pola mata pencaharian dari pertanian menjadi usaha perikanan. Kesemua contoh tersebut
dapat menimbulkan perubahan sosial dan budaya penduduk disekitar waduk.
Perencanaan Pengembangan Sumber Daya Air diawali dengan merangkum kebutuhan
masyarakat untuk dirumuskan menjadi tujuan dari kebutuhan masyarakat pengguna Sumber Daya Air.
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara
koordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan Sumber Daya Air.
Pengembangan Sumber Daya Air pada wilayah sungai ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan
fungsi sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian,
industri, pariwisata, pertanahan, pertambangan, ketenagaan, perhubungan, dan untuk
berbagai keperluan
lainnya.
Pengembangan sumber daya air meliputi :
a) air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan
lainnya;
b) air tanah pada cekungan air tanah;
c) air hujan; dan
d) air laut yang berada di darat.
Pengembangan air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan
lainnya dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sumber air yang
bersangkutan. Ketentuan mengenai pengembangan sungai, danau, rawa, dan sumber air
permukaan lainnya diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Air tanah merupakan
salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat
mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Pengembangan air
tanah pada cekungan air tanah dilakukan secara terpadu dalam pengembangan sumber daya
air pada wilayah sungai dengan upaya
pencegahan terhadap kerusakan air tanah. Ketentuan mengenai pengembangan air tanah diatur
lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pengembangan fungsi dan manfaat air hujan
dilaksanakan dengan mengembangkan teknologi modifikasi cuaca. Badan usaha dan
perseorangan dapat melaksanakan pemanfaatan awan dengan teknologi modifikasi cuaca
setelah memperoleh izin dari Pemerintah. Ketentuan mengenai pemanfaatan awan untuk
teknologi modifikasi cuaca diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
- 26 -

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR


Pengembangan fungsi dan manfaat air laut yang berada di darat dilakukan dengan
memperhatikan fungsi lingkungan hidup.Badan usaha dan perseorangan dapat menggunakan
air laut yang berada di darat untuk kegiatan usaha setelah memperoleh izin pengusahaan
sumber daya
air dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Ketentuan mengenai pemanfaatan air laut yang
berada di darat diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Proyek Pengembangan
Sumber Daya Air harus diselesaikan secara khusus dan unik, karena sangat tergantung dari
kondisi topografi setempat, kondisi sosial, politik dan budaya setempat dan harus melibatkan
berbagai bidang keahlian secara terpadu. Dalam mempelajari pengendalian dan pengaturan
pemanfaatan air maka akan timbul berbagai pertanyaan, diantaranya adalah :
- Berapa banyak jumlah air yang dapat diharapkan? (dari aliran air minimum, maksimum, tahunan,
volume banjir, air tanah).
- Berapa banyak jumlah air yang dapat dimanfaatkan? (untuk air minum, irigasi, Pembangkit Listrik
Tenaga Air, industri, lalulintas dan sebagainya).
- Bagaimana pengendalian terhadap kelebihan air? (dengan pengaturan banjir, sistem drainase,
pengelolaan air limbah dan sebagainya).
- Bangunan apa saja yang diperlukan dalam Pengembangan Sumber Daya Air? (Waduk, Bendung,
Bendungan, Saluran, Pelimpah, Tanggul dan sebagainya).
- Bagaimana pengaruh Pengembangan Sumber Daya Air terhadap pelestarian lingkungan?
(margasatwa, tumbuhan, air tanah, budaya dan politik).
- Apakah Pengembangan Sumber Daya Air mempunyai nilai ekonomis dan finansial?
Dengan demikian dalam mempelajari Pengembangan Sumber Daya Air diperlukan
pengetahuan dan wawasan yang luas bagi perencana agar dapat diperoleh hasil harga yang
optimal.
b. Jenis dan Unsur Pengembangan Sumber Daya Air
Jenis dan unsur yang perlu diketahui dalam Pengembangan Sumber Daya Air
(PSDA) diantaranya adalah :
1) Kwantitas Air
Seberapa banyak air yang dapat diharpkan dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
tujuan kegunaannya, untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut harus melalui
penerapan Hidrologi, yaitu Ilmu yang mempelajari kejadian - kejadian serta distribusi air
alamiah dibumi. Dengan mempelajari Hidrologi, dapat diketahui : daur hidrologi (Cyclus
Hidrologi) prakiraan aliran air sungai dimasa datang, air tanah dan sebagainya.
2) Kwalitas Air
Selain jumlah air yang cukup, diperlukan mutu air sesuai dengan standard dan
kegunaannya, misal air minum, air irigasi, air industri dan pambuangan air limbah. Pengujian
kimiawi serta bakteriologis biasa dilaksanakan untuk menetapkan jumlah serta sifat - sifat
kotoran didalam air.
3) Bangunan Air
Bentuk dan ukuran bangunan air seringkali tergantung pada sifat hidrolik dan bentuk
lengkap untuk disesuaikan dengan tuntutan azas mekanika fluida sehingga memerlukan
perhitungan detail yang rumit, bahwa kadang kala diperlukan uji model didalam laboratorium
sebelum dilaksanakan pembangunannya dilapangan.

- 27 -

4) Lingkungan
Dalam Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA) tidak dapat terlepas dari pengaruh
lingkungan disekitarnya. Kondisi daerah aliran sungai (DAS) sangat menentukan kelestarian
sumber daya air. Pengaruh bangunan air terhadap perkembangan morfologi sungai, pengaruh
lingkungan selama pembangunan, pengelolaan dan setelah masa usia layannya selesai.
Disamping itu pengaruh terhadap perubahan kondisi sosial, politik dan budaya dilingkungan
bangunan pengembangan sumber daya air.
5) Unsur Ekonomis dan Finansial
Setiap pengembangan sumber daya air harus dilakukan studi kelayakan untuk
mengevaluasi dari berbagai segi terhadap keuntungan yang diperoleh. Tinjauan ekonomis
adalah tinjauan terhadap nilai keekonomian suatu pengembangan sumber daya air, bila
dibandingkan dengan pembangunan lain yang mempunyai tujuan yang sama, sedangkan
tinjauan financial adalah suatu studi / tinjauan nilai ekonomian pengembangan sumber daya air
dengan membandingkan besaran investasi yang diperlukan terhadap keuntungan yang
diperoleh selama usia layan bangunan pengembangan sumber daya air.
6) Unsur Sosial, Politik dan Budaya
Hampir semua pembangunan PSDA dibiayai oleh badan pemerintah tertentu, proyek
irigasi, pengendali banjir, pengelola air bersih, air limbah dan pembangkit listrik. Pembangunan
PSDA tergantung dari kebijakan / batasan perencana suatu daerah, peraturan dan undang undang yang ada. Pembangunan PSDA dapat tertunda karena masyarakat dan adapt budaya
setempat tidak menyetujuinya misal, merusak situs peninggalan nenek moyang, masyarakat
tidak mengijinkan daerahnya digunakan untuk PSDA dan sebagainya.
c. Problema yang ditimbulkan oleh PSDA
Mengingat air adalah merupakan bahan baku utama untuk memenuhi suatu
kehidupan, maka pemanfaatan sumber daya air berarti akan mempengaruhi seluruh tatanan
pola aliran air yang telah berlangsung lama.
Beberapa permasalahan yang mungkin timbul oleh PSDA :
- Perubahan pola pemanfaatan aliran air
- Perubahan pola hidup binatang pada aliran air (sungai)NGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
- Perubahan pola distribusi sediment transport, missal timbulnya agradasi dan degradasi pada
bagian hulu dan hilir bangunan PSDA
- Perubahan pada aliran air tanah
- Perubahan pola hidup sosial budaya masyarakat.
1) Perubahan pola pemanfaatan aliran air
Perubahan pola pemanfaatan aliran air ini dapat mempengaruhi tatanan kehidupan
pada suatu daerah, bahkan dapat mempengaruhi hubungan antar wilayah kabupaten /
propinsi, mungkin malah antar Negara. Untuk itu perlu dibuat pengaturan pola pemakaian
pemanfaatan aliran air (sungai). Dengan mulai berjalannya peraturan pemerintah tentang
otonomi daerah, maka peraturan/perundangan yang mengatur pemakaian / pemanfaatan aliran
air sungai yang melibatkan lebih dari 1 (satu) wilayah kabupaten / propinsi dirasa sangat
mendesak.
2) Perubahan pola hidup binatang pada aliran air (sungai)
Pembangunan PSDA yang memerlukan bangunan air (bendung, waduk dan
bendungan) melintang / memotong sungai sehingga memutuskan migrasi suatu binatang air,
misal ikan / binatang air pada saat reproduksi harus dibagian hulu sungai dan setelahnya hidup
dibagian hilir sungai akan

- 28 -

terputus, binatang air pada aliran deras harus berubah hidup pada air kolam / waduk dan
sebagainya.
3) Perubahan pola distribusi sediment transport
Sedimen transport secara alamiah dari hulu ke hilir akan menyebar sesuai kecepatan
aliran air sungai, misal sediment pasir dibagian hulu sungai yang diambil penduduk untuk
keperluan pembangunan, akan terisi ulang secara alami pada saat air besar (banjir) datang.
Apabila dibangun PSDA (Bendung atau Bendungan) maka dibagian hulu akan timbul agradasi,
yaitu penumpukan material sediment transport dibagian hulu bendung / bendungan,
sedangkan dibagian hilir mengalami degradasi yaitu penurunan permukaan dasar sungai
dibagian hilir bangunan PSDA, lebih lagi apabila
terjadi pengmbilan material sediment (pasir) pada sungai. Hal ini sangat membahayakan pondasi
bangunan air disepanjang daerah aliran sungai tersebut, seperti bengunan perkuatan tanggul,
kolom (pier) dan abutment jembatan dan lain-lain.
4) Perubahan pada aliran air tanah
Dengan dibangunnya PSDA maka merubah pola aliran sungai, maka dengan
sendirinya akan mempengaruhi pola rembesan / infiltrasi pada daerah aliran sungai sehingga
mempengaruhi elevasi tinggi muka air tanah. Dibagian hulu dari bendung / bendungan akan
mengalami penurunan elevasi tinggi muka air tanah dan hal ini juga akan mempengaruhi
terhadap besaran tekanan air tanah pada suatu bangunan air.
5) Perubahan pola hidup sosial budaya masyarakat
Perubahan pola ini akan terjadi apabila pembangunan PSDA yang besar, seperti
pembangunan bendungan dengan luas genangan / waduk yang cukup luas, misal Saguling,
Cirata, Jatiluhur, Karangkates, Kedung Ombo dan sebagainya. Akibat dari genangan yang
luas, maka diperlukan pemindahan penduduk, terpisahnya hubungan antar desa, perubahan
pola mata pencaharian dari pertanian menjadi usaha perikanan. Kesemua contoh tersebut
dapat menimbulkan perubahan sosial dan budaya penduduk disekitar waduk.

Proses Perencanaan Pengembangan Sumber Daya Air


b. Tahap Kebijakan
Perencanaan PSDA diawali dari masukan masyarakat tentang prioritas kebutuhan dari
masing - masing daerah atau wilayah sungai.
Semua usulan kebutuhan jangka pendek (tahunan), jangka menengah (5 tahunan) dan jangka
panjang (25 tahunan) disusun didalam suatu perencanaan Daerah (tingkat II, tingkat I) dan
perencanaan Pusat.
Untuk perencanaan tahunan atau sering disebut sebagai Rencana Anggaran Pendapatan Belanja
(RAPB - Daerah atau RAPB - Negara) yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR Pusat) atau DPRD tingkat I atau DPRD tingkat II. RAPBN atau RAPBD yang telah diputuskan
bersama antara wakil - wakil rakyat (DPR, DPRD) dengan Pemerintah (Pusat, Provinsi, atau
Daerah tingkat II / kota)
menjadi dasar tahapan perencana selanjutnya. Misal : ditetapkan menaikkan produksi pangan
dengan memperluas jaringan irigasi sebanyak 10.000 Ha, maka dalam tahapan selanjutnya
diperlukan
perencanaan lebih detail tentang studi ketersediaan air, bangunan air yang diperlukan dan jaringan
irigasi yang harus dibangun, dan seterusnya.
c. Tahap Studi Kelayakan

- 29 -

Tujuan dari studi kelayakan ini adalah untuk memperoleh hasil produksi yang layak
terhadap nilai teknis, ekonomis / finansial dan lingkungan. Untuk memperoleh hasil produk
yang paling layak maka diperlukan pemilihan alternatif - alternatif usulan sehingga
mendapatkan hasil produk terpilih yang terbaik.
Studi Kelayakan untuk PSDA diperlukan tahapan Studi Reconnaisance (Studi
Peminjaman Awal) yaitu studi alternatif didasarkan dengan tinjauan lapangan sesaat dengan
menggunakan data sekundair (Desk Study), diperoleh alternatif PSDA yang masih kasar
(belum teliti). Dari hasil rangking / Prioritas, Studi Reconnaisance dilanjutkan studi kelayakan
lebih teliti lagi dengan pengumpulan data lapangan untuk mendukung perencanaan dasar dari
alternatif - alternatif prioritas. Penyelidikan lapangan dimaksud diantaranya adalah survey
topography, survey hidrologi dan meteorology, investigasi geologi dan tes laboratorium
mekanika tanah, model tes hidrolik, dan studi kelayakan lingkungan (Studi AMDAL atau UKL /
UPL). Dengan menggunakan data primer (dan data sekunder), dilakukan studi kelayakan teliti
untuk memperoleh hasil alternatif yang paling baik atau
mempunyai bobot kelayakan teknis, finansial dan lingkungan yang paling baik. Dari hasil studi
kelayakan yang paling baik dilanjutkan dengan Perencanaan Detail.
d. Tahap Desain
Detail desain bangunan PSDA dilaksanakan untuk bangunan PSDA yang terpilih dari
hasil studi kelayakan. Pekerjaan detail desain dilaksanakan berdasarkan parameter
parameter desain sesuai dari hasil survey investigasi dilapangan dan laboratorium tes serta
model tes. Semua hasil perhitungan disajikan kedalam gambar desain dan spesifikasi teknis
sebagai acuan utama dalam pelaksanaan pembangunan.
e. Tahap pengadaan (Procurements)
Tahapan ini merupakan jembatan dari hasil tahapan detail desain untuk dapat di
implementasikan kedalam tahap pelaksanaan konstruksi. Tata cara pelaksanaan pengadaan
(Pelelangan) diatur didalam peraturan Presiden atau peraturan lain yang berlaku didalam suatu
Perusahaan (Misal : Peraturan Pelelangan yang ditetapkan oleh Direksi PT PLN (Persero).
Didalam tata cara Pengadaan harus disiapkan data atau dokumen lelang yang diantaranya
terdiri dari :
- Syarat Umum
- Syarat Administrasi
- Syarat Teknis
- Syarat Khusus
- Gambar
- Informasi untuk Peserta lelang Dari hasil evaluasi penawaran akan diperoleh Pemenang Lelang
sebagai pelaksana Pembangunan / Konstruksi.
f. Tahap Konstruksi
Pelaksana konstruksi harus membuat gambar konstruksi lebih detail dan metode
pelaksanaan secara rinci sehingga dapat menyiapkan semua kebutuhan tenaga kerja, material
dan peralatan yang diperlukan serta jadwal penyediaan biaya pelaksanaan. Pelaksanaan
konstruksi harus dimulai dari pekerjaan persiapan, uji kelaikan material dan alat, pelaksanaan
konstruksi, uji kwalitas produk konstruksi, uji keandalan mesin, uji pengoperasian, uji masa
pemeliharaan hingga serah terima hasil konstruksi.
g. Tahap Operasi
Hasil Pembangunan PSDA dioperasikan berdasarkan Buku Petunjuk Pengoperasian / Pemeliharaan,
agar menghasilkan optimum. Didalam pengoperasiannya harus tetap memperhatikan kaidah yang
- 30 -

telah ditetapkan didalam Studi Amdal atau Upaya Pemantauan dan Pengelolaan Lingkungan (UKL /
UPL). Proses PSDA diatas sebagai acuan dasar didalam perencanaan PSDA, namun didalam
kenyataan dilapangan diperlukan sedikit modifikasi untuk disesuaikan dengan tingkat keruwetan
(komplexitas) dari suatu perencanaan PSD

- 31 -

III. PENUTUP

III.1 Kesimpulan

III.2 Saran

- 32 -